Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Eufemisme Seks ala Jawa

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester V; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester V; Peneliti muda IJIR []

Masyarakat Jawa begitu cerdas juga santun. Kecerdasan itu terdapat dalam ungkapan tradisional yang mereka buat melalui pengalaman hidup. Salah satu ungkapannya adalah menghaluskan pembelajaran seks di kalangan mereka. Bahkan penghalusan pembelajaran seks juga terdapat pada simbol-simbol filosofis di dalam kehidupan mereka.

Melalui ungkapan tradisional yang cerdas, membuat mereka lebih leluasa membungkus pesan seks dalam pembalajarannya. Orang Jawa lebih sering menuangkan gagasan seks secara tersamar melalui ungkapan yang halus, sebab mereka mempunyai pandangan hidup bahwa wong Jawa nggone semu.

Dalam ungkapan tradisional pembelajaran seks, secara kental dan estetis amat banyak ragamnya, antara lain berbentuk peribahasa, unen-unen, simbolis dan sebagainya. Ungkapan tersebut biasanya diajarkan dari mulut ke mulut, bersifat estetis, kultural dan filosofis. Sebagaimana di dalamnya terdapat ajaran-ajaran seks tertentu yang memikili daya sugesti.

Seks merupakan masalah kemanusiaan. Manusia merupaan mahluk berbudaya, sehingga membutuhkan pemahaman yang bijak persoalan seks (Kayam, 1982: 238-245).

Daya tersebut mengandaikan adanya efisiensi dan efektivitas sebagai media penghalusan pembelajaran seks. Mereka senggaja melakukan penghalusan pembelajaran seks, karena mereka selalu berhati-hati dalam mendidik anaknya. Melalui penghalusan pembelajaran seks seperti inilah justru berjalan dengan alamiah dan santun.

Sinergi tersebut muncul sebagai strategi penghalusan pembelajaran seks masyarakat Jawa. Dalam kerjanya, ungkapan penghalusan banyak memainkan ajaran seks yang disamarkan. Hal ini dimaksudkan untuk memunculkan ciri khas nilai estetis dan kultural, sehingga ungkapan tradisional pengajaran seks ada yang berupa ucapan sehari-hari dan ungkapan rahasia.

Realitasnya mereka lebih sering mengabungkan kedua kata yang akhirnya membentuk ungkapan khusus. Meski demikian, ungkapan tersebut sangat populer dan mereka menganggapnya sebagai sebuah kebaruan ungkapan tradisional pembelajaran seks.

Menurut Hariwijaya (2004) ada beberapa macam ungkapan tradisional yang menyuratkan pembelajaran seks, yaitu: Tembung Entar, Saloka, Pepindhan, Payandra, Piwulang dan Isbat.

Salah satu contoh dari Tembung Entar iyalah Alon-alon Waton Kelakon. Maksudnya, pasangan suami isti layaknya raja di dunia, mereka menguasai ruang waktu, mengatur ritme kerumahtanggaan, menumbuhkan benih kasih dan dilalui secara pelan-pelan.

Saloka bermaksud untuk mengungkapkan bahwasannya seluruh mahluk hidup pasti berpasangan. Hal ini direpresentasikan pada kalimat aku tanpamu bagaikan sego kucing ilang karete, ambyar. Kalimat tersebut berarti bahwa segala sesuatu pasti memiliki pasangan dan hancur bila hilang salah satunya.

Ungkapan seks yang bernuansa mistik (Isbat) dapat dilihat dari contoh kalimat Tresno kanggo manungsa mung amerga katresnane marag Gusti Allah sing Nyiptaaken manungsa. Artinya adalah cinta kepada seorang manusia hanya dikarenakan kecintaan kepada Allah Tuhan semesta alam yang telah menciptakan manusia.

Salah satu contoh dari Pepindhan adalah tresno iku ora patokan karo ganteng, ayune rupamu, akehe bondomu lan opo penggaweanmu. Maksudnya, cinta itu tidak berpatokan pada ketampanan, cantiknya parasmu, banyaknya hartamu dan pekerjaanmu.

Pyandra bisa disebut juga suatu fenomena seks. Contoh dari istilah ini yaitu Mbangun Kromo Ingkang Satuhu, Boten Cekap Bilih Ngagem Sepisan Roso Katresnan, Hananging Butuh Pirang-pirang Katresnan Lumeber ning Pasangan Uripmu Siji Kui. Bagi orang Jawa, pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama.

Piwulang dimaksutkan bahwa seks harus dilandasi dengan cinta. Hal tersebut dapat dilihat dalam kalimat kowe wis tak wanti-wanti ojo nganti ninggal janji, ojo nganti medot taline asmoro, welasno aku sing nunggu awakmu nganti awakku tinggal balung karo kulit. Maksudnya, kamu sudah aku ingatkan jangan melupakan janji, jangan sampai memutuskan ikatan cinta ini, ingatlah diriku yang menunggu dirimu sampai badanku hanya tersisa tulang dan kulit.

Begitu bermacam-macamnya ungkapan tradisional sehingga sulit untuk membedakannya secara tegas. Masyarakat Jawa langsung menggunakannya begitu saja tanpa dibedakan secara teoritik. Pasalnya bagi mereka yang terpenting adalah pesan atau pengajaran telah tersampaikan dengan baik.

Pembelajaran seks juga terdapat pada simbol-simbol filosofis yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada beberapa pembelajaran seks melalusi simbolisasi, seperti halnya sesaji kenduri, seni pedalangan, bangunan, dan nama pangilan anak mereka.

Sesaji kenduri isinya berupa; lepet-kupat, pasung-apem, gunungan kakung-gunungan putri dan tumpeng-ambeng merupakan simbol kerekatan hubungan. Seperti ketika memakan kupat kita tidak boleh langsung mengupas bungkusnya melainkan dibelah tengah. Hal ini menunjukkan bagaimana lepet (lingga) membelah kupat (yoni).

Seni pedalangan terdapat cempala-kepyek. Ketika menabuh kepyek dengan cempala tepat di tengahnya akan memunculkan suara nyaring. Suara nyaring tersebut merupakan simbol perpaduan harmonisasi antara pria-wanita. Dalam pengajaran seks orang Jawa, keharmonisan merupakan unsur terpenting demi kelangsungan rumah tangga.

Pada bangunan Jawa, ditemukan pelen-kolong, gilig-golong, emprit gantil-joglo dan  ander-ganja. Unsur bangunan rumah maupun tugu ini  melukiskan alat seks pria-wanita, yang saling menyongkong untuk menciptakan kekokohan. Busana Jawa, meliputi tusuk kondhe (gelungan), curiga-wrangka dan kancing-gelung juga menyiratkan hal demikian.

Penghalusan ekspresi seks tersebut untuk memetaforakan alat kelamin pria-wanita. Masyarakat Jawa cenderung mengajarkan pendidikan seks secara tersamarkan agar tidak terkesan jorok. Sehingga muncul juga ungkapan untuk memanggil anak laki-laki dan perempuan yang memiliki implikasi pendidikan seks yang tinggi.

Anak laki-laki biasanya dipanggil Thole, Le, Gus, Cung yang berasal dari serapan kata Konthole (linga). Sebutan untuk anak perempuan Dhenok, Nok, Wuk, Gawuk sebagai representasi (yoni). Simbolisasi ini menjadi karakteristik dunia intelektual masyarakat Jawa, membuatnya jelas-jelas memiliki derajat kultural adiluhung. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme