Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pulung Lurah di Jawa

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VII, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VII, Peneliti Muda IJIR []

Dimensi spiritualitas memainkan peran penting dalam narasi kepemimpinan lurah di Jawa. Hampir bisa dipastikan bahwa seorang pemimpin di Jawa, seperti halnya Lurah harus memiliki modal spiritual yang cukup untuk mendapat kewibawaan sehingga layak memimpin suatu wilayah. Selain itu, rupanya cerita rakyat juga memainkan peran penting dalam politik Lurah di Jawa.

Di Jawa, kekuasaan bukan semata-mata gejala fenomena sosial, tetapi juga berantai dengan aspek-aspek kultural-spiritual yang dianggap besar oleh masyarakat (Sardiman AM, 1992: 84). Melalui olah batin seseorang dapat masuk ke dunia spiritual, sehingga ia bisa dipilih oleh Yang Maha Kuasa untuk memimpin makhluk empiris dan non-empiris di muka bumi. Tata cara ritual yang dilakukan setiap orangpun berbeda-beda.

Dalam naskah berjudul “Konsep Kekuasaan dalam Tradisi Jawa”, Sardiman menjelaskan bahwa laku spiritual bisa dilakukan dengan dua cara pandang, ortodoks dan heterodoks. Pandangan ortodoks ia maksudkan seperti halnya bertapa. Melalui kegiatan inilah, orang dipacu untuk mengikuti hukum kompensasi yang fundamen supaya mereka dapat mencapai keseimbangan di alam kosmos.

Selain itu, menurut Sardiman terdapat pula cara pandang heterodoks. Misalnya dalam tradisi Tantrisme, melalui mabuk-mabukan (ingat kisah Kertanegara, raja Singosari) ia ingin menghabiskan nafsu buruk sehingga memungkinkan ia dapat mencapai pemusatan diri.

Cara umum yang masih banyak dilakukan di masyarakat di berbagai daerah di Jawa, seorang spiritualis biasanya memilih bersemedi, puasa dan menjauhi hal-hal yang bisa mendekatkannya dengan hawa nafsu seperti halnya senggama dalam tujuan tertentu termasuk dalam rangka memperoleh kekuasaan. Adapun semedi, biasanya dilakukan di tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Selain itu, ziarah ke makam, petilasan keramat dan tempat pertapaan para leluhur menjadi satu dari sekian cara yang dilakukan untuk mendapat restu dari Yang Kuasa.

Sementara itu, jika seseorang berhasil dalam tirakatnya,  maka ia akan diberi isyarat. Di berbagai daerah, umumnya petanda itu berupa pulung. Kartodirjo (1974: 9) mengatakan bahwa pulung merupakan bukti dari kekharismaan seorang pemimpin. Konon, apabila seseorang tak mendapat pulung, maka ia takkan mungkin bisa menjadi pemimpin

Menariknya, pulung bukanlah satu-satunya petunjuk. Di daerah Jombok, ada beberapa batu keramat dan benda lain yang dipercayai masyarakat sebagai benda yang bisa memberi isyarat tentang sosok yang akan menjadi Lurah. Salah satu batu itu dikenal dengan sebutan Watu Giling. Apabila batu itu menghadap ke arah kediaman seorang calon lurah, maka ialah yang nantinya akan menjabat sebagai lurah.

Menurut para sesepuh,  tidak setiap orang mampu melihat arah batu keramat tersebut. Untuk dapat melihatnya diperlukan kepekaan batin dan laku spiritual. Bagi penglihatan orang awam, batu itu diam dan tak mengarah ke siapapun.

Selanjutnya, terdapat juga Watu Kurung. Dahulu, batu keramat ini merupakan tempat munajat seorang pemimpin pertama Desa Jombok, bernama Wiro Jombo. Masyarakat meyakini bahwa ketika pemilihan Lurah di gelar, maka Watu Kurung ini akan muncul pulung yang akan mengarah ke rumah seseorang yang nantinya akan terpilih menjadi lurah. Versi lain menyebutkan bahwa api akan muncul dari batu keramat tersebut.

Selain itu, di daerah Watu Ampal terdapat hal unik yang dipercayai masyarakat dapat memberi petunjuk tatkala pemilihan Lurah. Petanda itu berasal dari sarang lebah. Konon, tatkala diadakan pilihan Lurah, maka lebah itu akan bergerak ke rumah orang yang nantinya akan terpilih  menjadi Lurah. Pelbagai jenis isyarat di atas, pada prinsipnya adalah bentuk legitimasi kepemimpinan di Jawa.

Di tempat lain, barangkali terdapat benda atau suatu isyarat yang bentuknya beragam. Dalam konteks ini, Kartodirjo (1973: 8) menjelaskan bahwa wahyu, nurbuat, pulung, ngalamat dan mimpi merupakan unsur-unsur yang berperan penting baik di ranah pemilihan pemimpin dan juga legitimasi atas kepemimpinan seseorang.

Tidak hanya seputar wangsit semacam pulung, yang menarik dibahas dalam narasi kepemimpinan Lurah di Jawa. Kepercayaan kolektif  berupa cerita rakyat menjadi unsur penting yang melegitimasi Lurah di Jawa. Salah satu di antaranya adalah kepercayaan bahwa seorang Lurah harus berasal dari daerah tertentu.

Di Desa Jombok, cerita rakyat semacam itu massif diamini oleh masyarakat. Mukani seorang pendamping desa (wawancara, 19/08/19) menjelaskan beragam cerita rakyat yang memiliki kaitan dengan konsep pemimpin atau Lurah di Jombok. Untuk kawasan Jombok, terdapat keyakinan masyarakat yang sebenarnya bersumber dari sumpah seorang leluhur desa. Kala itu, seorang bernama Ki Wono Salam berujar bahwa tidak akan pernah ada seorang pemimpin yang berasal dari kawasan Dusun Sidem, kalaupun ada, maka usia kepemimpinannya hanya akan seumur jagung.

Kutukan itu sebenarnya dikarenakan pada waktu itu, daerah tersebut pernah berusaha memberontak pimpinan Jombok. Kutukan itu semakin kuat di masyarakat tatkala kutukan itu benar-benar pernah terbukti. Dahulu, terdapat Lurah bernama Mbah Gubrek yang berasal dari Sidem. Namun sayangnya, usia kepemimpinannya hanya berkisar 3-4 bulan, dikarenakan meninggal dunia.

Tercatat sejauh ini, hampir mayoritas Lurah di Desa Jombok  berasal dari Dusun Jombok, Gading atau Bakalan saja. Menurut kepercayaan setempat, 3 dusun inilah yang sangat mungkin menyumbangkan orangnya menjadi Lurah, karena ketiga wilayah ini berada di hadapan Gunung keramat bernama Abimanyu. Para pelaku spiritual menyebut bahwa dari gunung inilah  muncul semacam cahaya reflektor yang mengarah ke Barat dan  ke Utara.

Cahaya gaib itu membentuk segitiga imajiner yang mana berasal dari Gunung Abimanyu, ke Barat mengikuti bantaran jalan sebelah Utara dan lurus ke Watu Kurung. Sebab itulah wilayah yang memungkinkan orangnya magang menjadi Lurah adalah mereka yang berasal dari 3 daerah tersebut. Kepercayaan semacam ini bersumber dari sumpah serapah Ki Wono Salam juga.

Selain itu, terdapat pula keyakinan bahwa seorang Lurah harus merupakan keturunan dari Wiro Jombo. Narasi semacam ini begitu hangat didengar dari cerita turun temurun. Meskipun terdapat beberapa orang yang menyangsikannya, tetapi tak bisa menandingi kepercayaan kolektif masyarakat mengenai hal semacam itu.

Kepercayaan lain yang juga tak kalah penting ialah seorang Lurah haruslah mereka yang bisa mempertahankan adat istiadat desa. Kepercayaan ini juga berasal dari sabda Wiro Jombo. Sementara ini, wejangan darinya diterima dan dibenarkan. Mukani mengatakan bahwa memang tidak pernah ada ceritanya, seorang yang tidak menghormati serta merawat adat bisa menjadi Lurah di daerahnya.

Ia menambahkan juga bahwa dari sekian banyak Lurah yang pernah menjabat, seseorang itu biasanya berasal dari golongan NU dan Kejawen. Padahal di daerah Jombok terdapat beragam ormas selain kedua kalangan tersebut. intinya,  setiap pemimpin atau Lurah adalah mereka yang secara spiritual memiliki hubungan dengan para leluhur desa serta  memiliki kesesuaian dengan kepercayaan masyarakat setempat  yang berkembang dalam cerita lisan.

Dengan begitu, sangat benar jika Magnis Suseno menjelaskan bahwa kekuasaan merupakan ungkapan energi Illahi yang tanpa ‘bentuk’, yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos (1985: 99). Di dalam bentuknya, cara Tuhan melimpahkan kekuasaan kepada seorang bisa beragam. Di tempat lain, dengan kajian yang lebih serius, narasi seputar kepemimpinan Lurah di Jawa bisa dielaborasi lebih banyak lagi. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme