Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Agama dan Kepercayaan Orang Jawa

Zulfa Ilma Nuriana [] Pemenang II Sayembara Menulis SMA 2018; Saat ini menjadi Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Zulfa Ilma Nuriana [] Pemenang II Sayembara Menulis SMA 2018 yang diselenggarakan IJIR; Saat ini menjadi Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Sistem kepercayaan orang Jawa telah terbentuk sebelum datangnya Hindu-Buddha. Budiono Herusatoto  mengatakan kepercayaan itu animisme, yakni kepercayaan adanya roh atau jiwa pada semua benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Mereka juga memegang dinamisme, yaitu kepercayaan adanya tenaga magis pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda, termasuk kata-kata yang diucapkan atau ditulis.

Menurut Djumhur, animisme dan dinamisme tak dapat dipisahkan. Tidak ada bangsa primitif yang hanya menganut kepercayaan dinamisme dengan mengesampingkan animisme. Ataupun sebaliknya. Di Jawa apabila seseorang memiliki “ilmu tinggi” atau biasa disebut dengan orang sakti mandra guna akan sulit mati karena memiliki tenaga magis di tubuhnya.

Adanya dinamika dalam kehidupan orang Jawa utamanya unsur Kejawen, Hindu-Buddha, dan Islam mampu menarik peneliti budaya dan Antropologi. Yang paling mengemuka salah satunya adalah Clifford Geertz yang mengajinya lebih dalam. Ia telah mengategorikan orang-orang Jawa dalam beberapa golongan yaitu priyayi, santri, dan abangan. Ketiganya tentu memiliki ciri khasnya masing-masing. Pengategorian tersebut berdasarkan tiga inti struktur sosial yang berbeda: desa, pasar, dan birokrasi pemerintahan.

Penekanan di golongan priyayi ini pada unsur Hindu. Golongan santri lebih mengarah ke kepercayaan Islam. Abangan sendiri lebih menekankan pada kepercayaan tradisi lokal, terutama upacara ritual yang disebut sesajen dan slametan, kepercayaan kepada makhluk halus, dan kepercayaan akan sihir dan magi.

Penekanan terjadi karena adanya lingkungan dan sejarah kebudayaan yang berbeda. Menurut Geertz, priyayi dengan sejarah birokratik aristokratiknya yang dibangun mulai dari masa keraton hingga masa Belanda. Santri dengan pengalaman dagangnya di pasar dan pola migrasinya dari pesisir, sedangkan abangan dengan tradisi petaninya di desa. Oleh karena itulah Geertz mengaitkan agama dengan sosial, ekonomi, dan ideologi politik.

Asumsi Geertz dengan golongan priyayi adalah kaum yang menekankan aspek-aspek Hindu dan Buddha serta berasosiasi dengan unsur birokrasi. Tampak jelas dengan anggapan orang-orang Jawa sendiri. Orang-orang Jawa menganggap bahwa golongan priyayi yaitu para keluarga istana dan pejabat pemerintahan. Dimana mereka mendapat pengaruh ajaran agama Hindu dan Buddha yang sangat kuat. Namun, berbeda dengan wong cilik atau golongan petani yang masih kuat kepercayaannya dengan animisme dan dinamisme. Mungkin karena sibuknya mereka hingga tak mempelajari agama Hindu-Buddha sehingga mistik Hindu-Buddha pun tak begitu dominan dalam hidupnya.

Sebagai elite dalam masyarakat Jawa, kaum priyayi memiliki kesempatan luas untuk memperoleh pengetahuan tradisional ataupun modern, dibandingka wong cilik. Orang priyayi juga dididik tentang tata krama yang bisa dijalankan untuk meninggikan martabat mereka. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan macam-macam kepercayaan dan agama. Priyayi santri adalah sebutan untuk yang aktif melibatkan diri di dalam kegiatan agama Islam. Sedangkan Priyayi abangan adalah sebutan bagi yang tidak begitu peduli atau tahu tentang agama Islam.

Geertz berpendapat kepercayaan agama, nilai-nilai dan norma-norma priyayi, pada dasarnya tidaklah berbeda dengan kalangan bukan priyayi. Tetapi, priyayi mampu mengungkapkan kepercayaan dan nilai-nilai mereka secara lebih nyata, dan memiliki bentuk tradisi agama yang lebih maju dan sophisticated atau berpengetahuan. Sedangkan tradisi yang berkembang di kalangan rakyat biasa lebih kasar.

Bagi golongan priyayi, Islam hanyalah untuk melengkapi narasi mistik. Mistik priyayi memang sulit dikompromikan dengan ajaran tasawuf murni. Di golongan priyayi, Tuhan dengan manusia tiada beda yang mana tersirat dalam ungkapan Manunggaling Kawula-Gusti. Sedangkan dalam Islam, Tuhan dengan manusia jelaslah berbeda. Dalam mistik Priyayi, terjadinya persatuan manusia dengan yang mutlak, bergantung pada kesanggupan usaha manusia itu sendiri. Sedangkan pada golongan tasawuf, terbukanya tirai antara manusia dengan Tuhan merupakan anugerah Tuhan. Manusia hanya dan mempersiapkan diri. Golongan Priyayi memiliki ciri memperluas kehidupan batin dan rasa. Dalam hal-hal tertentu  mereka sering bersemedi atau menyepi. Jadi, tak mengherankan apabila banyak terlahir tokoh aliran kebatinan atau mistik Jawa.

Golongan kedua dalam varian budaya Jawa adalah santri. Geertz beranggapan bahwa santri dimanifestasikan dalam pelaksanaan ritual-ritual pokok agama Islam. Kewajibannya salat lima waktu, salat Jum’at di masjid, menunaikan ibadah haji, dan berpuasa selama bulan ramadhan. Santri tidak mencampur-adukkan ibadahnya dengan unsur lain. Tidak seperti kalangan abangan.

Di Indonesia sangat mudah mengenali kelompok santri. Baik santri yang beragama secara murni dan yang beragama secara campuran. Kelompok pertama umumnya memegang teguh ajaran agamanya tanpa peduli dengan hal-hal ghoib. Kelompok kedua adalah santri-santri yang melaksanakan ajaran agamanya bercampur dengan keyakinan-keyakinan Jawa. Kelompok ini selain beribadah, juga mengembangkan keyakinan selain kekuatan dari Tuhan misalnya paranormal, dukun, atau benda yang memiliki kekuatan magis.

Varian kepercayaan menurut Geertz yang ketiga yakni abangan. Abangan adalah mereka yang tidak melibatkan diri secara aktif dalam syariat agama Islam. Biasanya kalangan ini disebut dengan Islam Kejawen. Islam Kejawen ini adalah orang Islam Jawa tapi tidak begitu saleh dan alim. Adapun salat Jumat, puasa Ramadhan, tidak begitu dipedulikan. Walaupun di KTP termuat atau tercatat beragama Islam, itu hanya simbolis saja.

Kepercayaan lain kelompok abangan ini adalah sinkretisme animisme dengan Hindu-Buddha dan Islam. Orang-orang abangan yang mendominasi wilayah pedesaan menurut Clifford Geertz masih mempercayai hal-hal magis ataupun mistis yang ada di sekitarnya. Orang abangan masih percaya adanya tuyul, memedi, lelembut, demit, dan lain-lain yang berbau magis. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa ruh-ruh orang yang telah mati masih berkeliaran (gentayangan) di sekitar manusia. Untuk mencegah gangguan ruh-ruh, kalangan abangan menyelenggarakan slametan (selamatan) agar slamet (selamat).

Dari uraian di atas menampilkan bahwa agama dan kepercayaan orang Jawa sangat beragam. Hal ini mewarnai keragaman budaya di Indonesia dan mampu menarik peneliti luar negeri sehingga budaya Jawa menjadi perbendaharaan dunia. Jadi, tak bisa dipungkiri bahwa keragaman mampu membawa Indonesia menjadi lebih dikenal masyarakat dunia. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme