Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Macan Putih Gaib Candi Mleri

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Candi Mleri atau disebut juga Kekunaan Mleri (makam), terletak di kaki Gunung Pegat, Desa Begelen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Luas area Candi hanya berkisar 27 x 23 meter saja. Lokasi candi tergolong masih segar karena banyaknya pohon besar yang memayungi area tersebut. Selain itu lokasi ini juga cukup bersih karena peran Juru Kunci yang selalu membersihkannya, dan terkadang para pengunjung juga ikut membersihkan lokasi agar tetap indah.

Candi Mleri merupakan Candi yang bercorak Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya patung Ganesha di bagian luar makam. Di Candi Mleri ini dapat kita temukan beberapa peninggalan-peninggalan artefak, relief, makam-makam, dan prasasti.

Menurut Mbah Nami, sang Juru Kunci, Candi Mleri merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari, dan merupakan Candi tertua yang ada di Blitar. Hal ini didasarkan pada Prasasti yang bertuliskan aksara Pallawa dan ditemukan tulisan berisi angka 1102 Śaka di balik arca Durga, serta makam yang diyakini adalah makam raja Singhasari yang bergelar Sri Wisnuwardhana (Ranggawuni) yang bersebelahan dengan makam selirnya dan enam pengawal beliau. Sebagai tempat pendharmaan abu raja, tentu kesan sakral tidak dapat dipisahkan dari pandangan kita.

Selain itu dalam kitab Nāgarakṛtagama dan Pararaton disebutkan, bahwa Wisnuwardana dicandikan di Waleri (Candi Mleri di Blitar) sebagai Śiwa, dan di Jejagu (Candi Jago di Malang) sebagai Buddha. Namun sayangnya kini Candi yang ada Mleri sudah tidak ada karena kerusakan yang parah dan sebagian ornamennya dicuri. Tentu saja, candi pendharmaan Wisnuwardana yang masih itu hanya tersisa Candi yang ada di Malang.

Tidak dijelaskan siapa nama-nama selir yang dimakamkan di lokasi tersebut. Dan juga dalam prasasti yang berupa tulisan aksara Pallawa tersebut, tidak ditemukan informasi yang utuh karena aus. Namun menurut Juru Kunci, ada seorang warga negara asing yang berasal dari Kanada datang dan mencoba meneliti dan menerjemahkan aksara tersebut selama 15 hari. Menurut penuturan Mbah Nami, peneliti tersebut hanya memberi tahu bagian awalnya yang berupa salam saja, tanpa mengatakan lebih lanjut apa isi prasasti tersebut.

Selain makam dan tulisan, di dalam Candi Mleri terdapat relief bergambar seorang ibu dan anak yang bermakna kasih sayang ibu kepada anaknya, lalu ada juga relief berbentuk orang yang bertapa, dan terdapat beberapa patung dewa.

Sedangkan di luar rungan makam, terdapat batu relief Kala, lalu batu berlambang lingga (laki-laki) dan yoni (perempuan), ada pula bak mandi yang difungsikan untuk pitonan bayi. Batu Kalamakara yang berada di depan yang bermakna sebagai penjaga.

Hingga sekarang, Candi Mleri masih terasa hidup dengan datangnya beberapa warga, baik warga sekitar atau warga dari luar daerah yang berkunjung untuk berziarah atau sekedar berhajat (menginginkan berkah) ataupun nyadran. Mereka yang datang terkadang hanya berdoa, namun ada pula yang membawa kembang staman dan dupa. Maka tidak heran jika ketika kita masuk ke area Kekunaan Mleri, kita akan melihat sisa dupa yang terpakai dan aroma dupa yang sesekali tercium. Selain untuk orang berdoa atau berhajat, Candi Mleri juga pernah digunakan untuk Kirab Pusaka Bung Karno.

Di Candi Mleri ada aturan yang wajib ditaati, salah satunya adalah ketika kita ingin berkunjung, kita hendaklah dalam keadaan suci, atau tidak sedang berhalangan serta bersikap sopan (sebagai wujud menghargai terhadap leluhur). Jika kita tidak menaati terkadang akan membawa pamali atau kesialan.

Seperti yang pernah dikatakan Mbah Nami, bahwa pernah ada kejadian seseorang yang mengencingi salah satu patung yang dianggap sakral, akibatnya ketika meninggalkan Candi, yang bersangkutan mengalami sakit di kemaluannya. Setelah menyadari kesalahannya, yang bersangkutan kembali ke Candi Mleri untuk meminta tebusan atau meminta maaf kepada para leluhur, hingga akhirnya sembuh.

Ada juga mitos macan putih yang menampakkan diri di setiap hari Jumat. Warga masyarakat percaya bahwa macan putih tersebut adalah salah satu penjaga gaib yang menjaga Candi Mleri. Menurut Mbah Nami, macan tersebut adalah macan gaib yang mendiami relief patung yang ada di depan makam raja Ranggawuni. Namun, tidak semua warga dapat melihat macan putih gaib tersebut, hanyalah orang tertentu saja yang mampu melihatnya.

Mitos lain yang beredar adalah penampakan seorang putri yang diyakini adalah selir Raja Wisnuwardana. Ada juga cerita bahwa setiap ada bencana seperti gunung meletus dan angin kencang, di area Candi selalu selalu tidak terkena pasir dari letusan gunung ataupun tiupan angin kencang.

Terlepas dari sejarah dan mitos yang berkembang, kita tetaplah harus menjaga dan senantiasa menghargai setiap karya leluhur. Selain itu, saya begitu berharap, kita semua dapat belajar dan terus belajar untuk memahami karya-karya leluhur yang jika kita dapat memahami maksudnya mungkin kita akan menemukan makna yang lebih besar. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme