Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kata-Sabda

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

“Sekali berarti // Sudah itu mati.” Bait abadi itu kita kenang milik Chairil Anwar. Sastrawan yang mendobrak-dobrak kemapanan itu dijuluki ‘Binatang Jalang’. Seolah itu pintanya sendiri dalam sebuah syair.

Usianya pendek. Hanya 26 tahun saja. Tapi warisannya dalam sastra bergema sepanjang masa. Ia adalah pelopor angkatan ’45, pelopor sastra modern Indonesia. Tulisannya selalu bergelora. Berisi pemberontakan, menembarkan aroma ‘kematian’ sekaligus membawa spirit baru bagi pergumulan kebangsaan Indonesia.

Spirit itu salah satunya kita temukan dalam puisi berjudul Diponegoro. Ditulis pada Februari 1943. Menjadi puisi yang paling populer dalam kumpulan “Aku Ini Binatang Jalang” (Koleksi Sajak 1942-1929). Sudah pasti puisi itu disesaki gelora perlawanan dan sikap anti-penjajahan. Gelora perlawanan ‘Diponegoro’ yang “Sekali berarti // Sudah itu mati.”

Tapi siapa menyangka, bait abadi itu lalu identik dengan ‘Si Binatang Jalang’ sendiri. Gaya hidup eksentrik dan bohemian, berdampak pada kesehatannya. Sang penyair mati muda. Tujuh tahun berselang sesudahnya. Lalu, “Sekali berarti // Sudah itu mati” seolah menjadi sabda bagi hidup Chairil Anwar sendiri.

Ia sudah mendarmakan semua pikiran dan kata-kata, dan di situlah tonggak keberadaan dirinya.

***

Begitulah daya magis kata-kata. Terutama kata-kata yang ditempa oleh permenungan dan pergolakan hidup. Kata-kata menjadi tidak sepele. Ia menjelma menjadi titah bahkan sabda yang bakal terwujud kapan saja.

Soal kata-kata yang menjelma menjadi sabda, Chairil Anwar tidak sendirian. Ada Soe Hok-Gie (1942-1969) yang tak kalang garangnya dalam mendobrak-dobrak kemapanan. Kritiknya pedas dan membuat marah penguasa. Pemuda berdarah Tionghoa itu tidak berhenti menuliskan semua gejolak batin dan pikirannya. Ada banyak dalam bentuk esesi. Sebagiannya dalam catatan harian.

Ia begitu progresif, mungkin melampaui zamannya. Catatan hariannya telah menjadi guru bagi jutaan anak muda. Juga karena versi filmnya sukses menjadi referensi anak-anak muda.

Pada suatu momen di tanggal 22 Januari 1962, seperti biasa ia menuliskan sesuatu dengan jiwa. Begini tulisnya, “Seorang filsuf Yunani pernah menulis… Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Kalimat bertenaga itu dimuat lagi dalam “Soe Hok-Gie (Sekali Lagi): Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya” (2009). Dan, kebahagiaan seperti yang disabdakannya sendiri itulah yang dilakoni oleh Gie. Ia meninggal dalam proses pendakian di Semeru pada 16 Desember 1969. Saat itu usianya belum genap 27 tahun.

***

Tentu masih banyak kisah lain, bagaimana syair-syair yang ditempa dalam pergulatan pikiran dan jiwa, menjelma menjadi kehidupan itu sendiri. Saya tidak sedang mendramatisir kata-kata dan kematian. Tapi sekali lagi, tulisan yang digoreskan dengan totalitas penghayatan, punya daya jelma yang tidak biasa.

Saya kembali mendapati daya magis kata-kata, pada goresan ‘pena’ mahasiswa saya sendiri. Staf magang di Institute for Javanese Islam Research (IJIR), yang tengah menggembleng dirinya sendiri menjadi penulis dan calon peneliti. Siti Zulaikhah namanya. Usianya belum genap 20 tahun. Masih duduk di Semester V Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam.

1 September 2019, IJIR sedang menjalankan aktivitas ‘Ziarah Peradaban’ yang digelar saban Minggu Wage. Agendanya berkunjung ke Candi Simping dan Gua Selomangleng. Saya sendiri tetap bertahan di kantor karena sedang tidak sehat. Jenis sakit yang lazim diderita banyak orang. Di tengah istirahat, tiba-tiba datang kabar bahwa Ikha—panggilan akbar Siti Zulaikhah, berpulang.

Enam bulan yang lalu, saya tahu dia menjalani operasi usus buntu. Tetapi tidak lama sesudah itu, operasi harus dilakukan kembali karena ada benjolan di lambungnya. Berbulan-bulan tidak ada perkembangan. Bahkan, ia harus menjalani operasi yang ketiga dan keempat. Entah komplikasi apa yang dideritanya, tapi sehari sebelum meninggal, kepada orang tuanya, Ikha mengaku “sudah tidak kuat” menahan sakit yang begitu panjangnya.

Ketika pertama kali kabar Ikha meninggal saya ketahui, sepontas saya beranjak dari pembaringan menuju komputer. Saya hanya memastikan, tulisan apa yang terakhir ia kirim dan saya muat di weblog IJIR. Saya tidak sempat berpikir mengapa saya harus mencari tulisannya. Mungkin, itulah sarana terbaik bagi saya untuk mengingat satu per-satu mahasiswa saya.

Sesaat membaca kembali tulisannya, seketika itu pula kepala saya hanya dipenuhi oleh sajak Chairil Anwar dan kisah tentang Soe Hok-Gie. Siti Zulaikhah. Kamu mengulang kembali persaksian para penulis tentang hidup dan kematian.

Ikha menulis tentang “Sedelo Katon Banjur Ilang”. Ini merupakan salah satu pitutur Jawa berisi tentang panduan hidup benar dan kebijaksanaan. Itulah alasan mengapa tulisannya begitu kontemplatif, tidak meledak-ledak seperti Chairil Anwar atau Soe Hok-Gie.

Begini penggalan tulisannya, “Pitutur sedelo katon banjur ilang bila dikaji lebih dalam, banyak mengandung makna filosofis yang penting. Mungkin secara sederhana pitutur tersebut mengandung arti bahwa hidup kita itu layaknya seperti asap yang sebentar terlihat kemudian hilang. Kita hidup di dunia ini hanyalah sementara, kemudian akhir dari kehidupan kita juga akan kembali kepada Tuhan.”

Semakin membaca tulisannya, saya semakin tak memiliki tenaga. Bila berlebihan saya membandingkannya dengan Chairil Anwar dan Soe Hok-Gie, maka saya pasti tidak berlebihan bila menegaskan bahwa pada akhirnya persaksian ketiganya sama soal hidup dan kematian.

Tentu saja, proses yang dilalui oleh Ikha belum apa-apa. Masih segar ingatan saya, saat itu di pertengahan Oktober 2018, saya menantang seisi kelas Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) semester III—kelasnya Ikha, untuk menulis esei. Tidak main-main, mengiringi tantangan itu saya harus menyiapkan Rp. 50.000 untuk tiap mahasiswa. Bila sekelas berisi 20 orang saja, saya sudah mengeluarkan sejuta rupiah.

Itu tidak masalah. Saya hanya harus bertindak seperti debt collector. Membagi uang di kelas untuk dibayar dengan tulisan. Ikha termasuk yang sangat bersemangat menyelesaikan tulisannya. Dan asyiknya, tulisan dia layak. Saya membaca dengan seksama tulisan tersebut karena pitutur yang dia tulis, termasuk yang belum saya ketahui.

Sesaat sesudah tulisan tersebut saya muat di weblog IJIR, tampak sekali wajahnya sumringah. Saya sempat menantangnya kembali, “menulis lagi ya!” Sambil tersenyum dia menjawab, “pasti Cak, masih mencari ide.”

Saya tahu dia serius. Lama saya menunggu kesembuhannya untuk mendapatkan tulisannya lagi. Dan, hari ini saya harus mengikhlaskan, tulisan itulah pesan terakhirnya yang begitu komtemplatif dan sakral. []

Selamat Jalan Ikha.

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme