Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tradisi Pasang Molo

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dahulu, tiap rumah orang Jawa selalu terpasang molo. Hal ini dianggap begitu penting dimiliki tiap rumah. Pemasangan molo memiliki pengharapan besar bagi si empunya rumah, terutama demi maksud terhindar dari malapetaka. Sayangnya, seiring perkembangan zaman terutama dalam segi arsitektur bangunan, kian menggeser makna filosofis pemasangan molo.

Tradisi pemasangan molo merupakan tradisi memasang tiang tertinggi atap rumah atau blandar untuk selanjutnya dibungkus dengan kain merah. Kata molo merupakan kata turunan dari kata polo, yang berarti sirah atau kepala. Pemasangan molo biasanya dilakukan saat prosesi membangun rumah. Molo ditempatkan pada tiang tertinggi, dan tepat berada di tengah-tengah rumah.

Pemasangan molo sebenarnya tidak luput dari pandangan orang Jawa mengenai struktur bangunan rumah. Rumah orang Jawa dahulu terdiri dari tiang penting pembentuk rumah. Di antara tiang tersebut ialah papat soko guru (empat tiang utama) dan papat soko pinggir (empat tiang utama pembantu), serta tiang teratas tempat molo ditempatkan. Kesemuanya ini disebut dengan bangun tulak (bangunan penolak).

Dalam memasang molo, orang Jawa selalu memperhitungkan waktu yang tepat. Dengan  memilih hari yang dianggap baik sesuai dengan penanggalan Jawa. Kadangkala juga disesuaikan dengan weton pemilik rumah. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan orang Jawa dalam melakukan suatu kegiatan pastilah dibarengi dengan penentuan perhitungan waktu yang pas.

Sementara itu, molo yang telah terbungkus kain merah tidak diperkenankan untuk dilepas sampai kapanpun. Sehingga akan tetap terpasang dan cenderung dibiarkan bahkan sampai rusak dengan sendirinya. Apabila suatu rumah dijual dengan molo yang sudah terpasang, maka si pemilik rumah yang baru boleh untuk memperbaharuinya dengan yang baru.

Memasang molo tidak hanya sekadar membungkus tiang dengan kain. Namun, pemasangan molo memiliki makna tersendiri. Dalam molo, kain yang digunakan haruslah kain berwarna merah. Warna merah dipilih sebab merah menginterpretasikan simbol api, yang diartikan bahaya atau malapetaka. Sehingga, fungsi pemasangan molo dapat bertujuan sebagai bentuk pengharapan agar terhindar dari malapetaka. Jika orang dahulu mempercayainya sebagai penangkal dari santet, maka pada saat ini orang lebih mempercayainya sebagai simbol penangkal petir.

Adapun jenis kain yang digunakan tidak memiliki aturan khusus. Hanya saja, kebanyakan orang Jawa menggunakan kain katun. Sedangkan ukuran yang dipakai secukupnya dan memang tidak memiliki aturan pakem terkait panjang dan lebar kain yang digunakan.

Bapak Slamet, tokoh Penghayat di Desa Bago, memaparkan satu hal menarik dari tradisi molo ini. Tidak hanya sekadar membungkus blandar dengan kain merah, namun sebelum itu terdapat aturan lain yang terkait yakni pemberian tindik, semacam jarum emas sebelum kain dipasang. Jarum emas dengan kisaran 1 – 1,5 gram dimasukan dalam tiang dengan cara dilubangi kecil untuk selanjutnya ditutup kembali dengan kayu, jadi seakan-akan jarum emas tertanam dalam blandar, barulah kemudian dibungkus dengan kain merah.

Emas yang berbentuk seperti jarum, bagi orang Jawa dahulu dimaknai sebagai susuk atau pemikat. Hampir sama seperti susuk pada manusia yang bermaksud untuk mengeluarkan aura dan menarik perhatian orang-orang sekitar. Sementara susuk pada molo dimaksudkan agar rumah dapat mengeluarkan aura kedamaian dan kenyamanan. Sehingga dapat memberikan nuansa sejuk dan nyaman bagi siapapun orang yang memasukinya.

Dalam membungkus molo, cara yang digunakan tidak sembarangan. Menurut pemaparan Mbah Darsono, salah satu sesepuh Penghayat di Desa Bago, saat ditemui di kediamannya pada 20 Agustus 2019, menjelaskan bahwa proses membungkus blandar dengan kain merah harus dilakukan dengan cara menyudut. Jadi setiap ujungnya memiliki sudut. Bukan dengan model lurus atau membungkus biasa. Hal ini sebab menyudut diartikan sebagai arah atau patokan. Pada intinya arah menuju satu titik yaitu kemanunggalan (kesatuan) yang paling tinggi dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Begitu padat makna filosofis dan pengharapan yang dimiliki tradisi ini. Sayangnya, kini tidak semua rumah orang Jawa menerapkan sesuai dengan kaidahnya. Apalagi kini banyak bangunan rumah menggunakan plafon, sehingga sukar diketahui apakah si pemilik rumah memasang molo atau tidak, atau mungkin memasangnya dengan cara yang kurang tepat. Beberapa mungkin dapat ditemui di beberapa rumah, saat molo yang seharusnya dibungkus dengan kain merah, justru hanya sekedar dicat merah. Fenomena ini kadangkala ditemui di beberapa rumah yang diyakini tidak cukup detail memahaminya.

Itu sudah salah kaprah kalau dicat. Jadi bukan sekedar warna itu, harusnya kain dan nanti kan dibungkuskan gitu,tutur Bapak Slamet. Senada dengan tanggapan Bapak Slamet, Mbah Darsono turut prihatin akan pergeseran tradisi ini. “Kalau dicat sudah salah kaprah. Ndak ada makna, ndak ada tujuan itu,”  tuturnya.

Mbah Darsono mengungkapkan bahwa tradisi molo sekarang ini kian mengalami pergeseran makna. Bahkan beberapa sering ditemui hanya dicat, hal tersebut merupakan salah satu bentuk menyepelekan tradisi ini. Seringkali orang Jawa pada saat ini tidak memahami secara utuh makna yang terkandung. Selain itu, tradisi seperti ini kerapkali dianggap suatu hal klenik yang menyesatkan, oleh karena itu banyak yang mulai menyepelekan atau bahkan meninggalkannya.

Pergeseran penerapan suatu tradisi dalam masyarakat justru karena transfer pewarisan prosesi tradisi atau ritual tidak diikuti dengan penjelasan maksud, tujuan serta simbol-simbol yang terkandung di dalamnya (Wahyana Giri, 2002: 13-15). Sangat disayangkan apabila tradisi pasang kain molo ini kian disepelekan, sebab sejatinya tradisi ini memiliki makna utuh jika orang Jawa saat ini sudi untuk memelajari dan menerapkannya dengan benar. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme