Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kedungwaru Culture Village Carnival, Memotret Akar dan Potensi Desa

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Di tengah persiapan menjadi Kecamatan percontohan untuk penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan berbasis Desa, Kedungwaru menyelenggarakan “Kedungwaru Culture Village Carnival” (KCVC). Agenda ini, selain dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, juga merupakan upaya meneguhkan identitas Kedungwaru sebagai desa budaya.

KCVC (25/08) dimulai sekitar pukul 1 siang. Rute Karnaval dimulai dari Pasar Senggol, Bangoan ke selatan menuju pertigaan depan Balai Desa Ringinpitu. Setelah itu, peserta pawai menuju lapangan Ringinpitu sebagai titik akhir.

Total sebanyak 19 desa di seluruh Kedungwaru ikut ambil bagian dalam perhelatan KCVC. Yaitu, desa Mangunsari, Majan, Bangoan, Ketanon, Ringinpitu, Plosokandang, Bulusari, Winong, Gendingan, Kedungwaru, Simo, Plandaan, Tawangsari, Loderesan, Ngujang, Boro, Tapan, Rejoagung dan Tunggulsari.

Peserta pawai Karnaval sendiri terdiri dari para punggawa desa, berbagai kelompok kesenian, pengusaha lokal, lembaga pendidikan setempat serta kelompok adat di semua desa. Bila ditelisik lebih dalam, semuanya memiliki kultur yang berbeda bahkan saling bertolak-belakang, namun dapat menyatu dalam satu harmoni yang utuh dalam satu desa.

Keselarasan ini nampak dalam menyatunya simbol-simbol yang kerap dianggap milik kalangan santri dengan simbol yang dibawa abangan. Kedua kelompok masyarakat yang kerap dibenturkan ini nyatanya mampu ditampilkan bersamaan. Ini menegaskan bahwa terdapat beragam penghayatan di dalam masyarakat dan sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Anang Pratistianto, selaku Camat Kedungwaru, menyebutkan bahwa selain menampilkan kesenian desa masing-masing, dalam gelaran Karnaval ini tiap-tiap desa juga didorong untuk menampilkan asal-usul desa sekaligus potensi apa saja yang memungkinkan untuk dikembangkan.

Upaya menampilkan sejarah lokal diwujudkan melalui beragam medium. Setiap desa menerjemahkannya secara berbeda-beda. Misalnya, beberapa desa menampilkan foto-foto Lurah atau Kepala Desanya dari periode ke periode.

Selain itu, ada juga yang menampilkannya dalam bentuk materiil seperti yang ditunjukkan Bumi Pardikan Tawangsari dengan membuat miniatur Masjid Jami’ Tawangsari. Bangunan ini disebut-sebut sebagai Masjid tertua di Tulungagung.

Ada juga yang menceritakan babad desanya melalui kegiatan seni Kethoprak, salah satunya ialah Sanggar Kethoprak Ageng Budoyo dari Desa Plosokandang. Mereka menampilkan pentas teatrikal beberapa episode sejarah yang mendasari nama beberapa tempat di sekitaran Tulunagung, seperti kisah Adipati Kalang, asal-usul perempatan Cuiri, tentang siapa itu Lembu Petheng dan banyak lagi lainnya.

Di samping menampilkan babad desa, KCVC juga berusaha menyuguhkan potensi-potensi desa. Baik dalam bentuk kekayaan budayanya maupun beragam usaha berbasis desa.

Potensi-potensi ini penting untuk disosialisasikan bila merujuk pada upaya pengembangan desa yang dilakukan negara melalui Peraturan Bupati  Tulungagung No. 35 tahun 2018 tentang Kewenangan berdasarkan Hak Asal Usul Desa dan Kewenangan Lokal berskala Desa. Sehingga nantinya tiap potensi desa bisa dibangun ekosistem serta skema pemajuannya.

Seperti desa Winong, mereka menampilkan diri sebagai desa wisata religi melalui Paguyupan Sentono Dalem. Pun, upaya ini juga dilakukan desa Mangunsari, Majan dan Tawangsari. Semuanya menampilkan potret-potret sejarah yang menegaskan diri sebagai tempat cikal bakal Islam hadir di Tulungagung.

Tidak ketinggalan beragam paguyuban seni budaya seperti Reyog Kendang, Kethoprak, Jaranan, Enggek, Jedhor Campursari, Jamiyah Sholawat, Seni Genjring, perguruan silat dan drumband.

Potensi ekonomi juga tidak ketinggalan. Sebagai basis keberlangsungan budaya, kekayaan ekonomi desa-desa juga terpotret dalam pawai KCVC. Mulai dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), hasil bumi masyarakat seperti hasil pertanian dan peternak ikan, lalu juga pelaku usaha mikro seperti rias manten, produsen batik, produsen alat kebutuhan rumah tangga seperti sapu, cikrak, perkakas dapur dan lain-lainnya.

Sebagai panggung kebudayaan yang hidup di masyarakat, Kedungwaru Culture Village Carnival menyuguhkan tontonan, tuntunan sekaligus tatanan seni budaya lokal. Caranya yaitu dengan menampilkan cerita desa sebagai representasi upaya pemajuan kebudayaan desa agar tercapai cita-cita Indonesia Unggul. Harapan yang tengah berupaya diejawantahkan dalam bentuk yang paling konkrit. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme