Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Labuh Larung Sembonyo

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungaguang; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungagung; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester I; Staf Magang IJIR []

Labuh Larung Sembonyo merupakan upacara adat masyarakat Prigi sebagai wujud rasa syukur atas berlimpahnya tangkapan ikan. Selain itu, upacara ini merupakan wujud syukur para nelayan atas keselamatan yang diberikan Tuhan saat melaut. Hingga saat ini upacara Labuh Larung Sembonyo masih dilestarikan oleh masyarakat Prigi.

Menurut mereka, dibukanya kawasan atau babad alas teluk Prigi menjadi cikal bakal terciptnya tradisi Labuh Larung Sembonyo, sehingga upacara ini begitu sakral. Labuh Larung Sembonyo dilaksanakan pada Senin kliwon bulan Selo sesuai penangggalan Jawa. Upacara adat ini biasanya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka atau babad alas teluk ini yaitu Tumenggung Yudho Negoro dan empat saudaranya.

Konon masyarakat percaya apabila upacara ini tidak dilaksanakan, maka akan timbul bencana seperti gangguan di laut, kesulitan menangkap ikan, gagal panen dan beberapa masalah lainnya.

Mengutip dari buku informasi Pariwisata dan  Budaya Kabupaten Trenggalek, upacara  Labuh  Larung Sembonyo dimulai pada tahun 1985 yang dilaksanakan di Teluk Prigi, Desa Tasik Madu atau Karanggongso Kecamatan Watulimo. Sedangkan upacara adat atau upacara tradisional lainnya dilaksanakan di desa Tasik Madu, Prigi, Margomulya, Karanggandu, dan Karanggongso. Upacara adat ini memiliki beberapa istilah lain seperti sedekah laut, larung sembonyo, upacara adat larung sambonyo, mbucal sembonyo dan bersih laut.

Kata Larung berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti menghayutkan. Sedangkan Sembonyo merupakan sepasang boneka tiruan pengantin dari tepung beras ketan. Adonan tepung ini dibentuk seperti sepasang mempelai yang sedang bersanding. Boneka ini didudukan di atas perahu lengkap dengan peralatan satang. Satang yaitu alat untuk menjalankan dan mengemudikan perahu. Karena sembonyo menggambarkan mempelai, maka perlengkapan upacara adat dilengkapi dengan seserahan atau sesaji seperti upacara pernikahan tradisi Jawa.

Secara garis besar tahap upacara adat Larung Sembonyo dibagi menjadi tiga tahap, yang pertama tahap persiapan. Tahap persiapan meliputi malam widodaren untuk membuat sembonyo, kembar mayang (kembang kantil, kembang purwo sejati, kembang temu, kembang jambe, janur berbentuk  payung, janur  berbentuk  burung,  janur berbentuk belalang, janur berbentuk seperti keras, segimane, lancur, daun  puring, andong, beringin, dan batang pohon pisang (debok) berjumlah 2), menyiapkan encek/ sesaji.

Tahap persiapan pembuatan sesaji ubo rampe terdiri dari kemenyan, rokok klobot, minyak wangi (lengo wangi), upet (mancung pohon kelapa), dan candu. Sesaji yang berupa makanan dan minuman yaitu sembonyo, lodho sego gurih, mule metri, nasi punar, buceng kuwat, boceng towo, buceng robyong, buceng kendit, buceng mas, jenang sengkolo, jenang abang, jenang moncowarno, cengkaruk, kupat luwer, paes agung, keleman, jajanan pasar.

Dan sesaji yang berupa tumbuhan yaitu buah kelapa (4 biji), pisang raja setangkep, bunga (kembang) setanam, nyambung tuwoh. Sesaji perlengkapan berupa pecok bakal, yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk dan kedua ujungnya diberi janur kuning yang di dalamnya terdapat bunga, telur, bumbu dapur, korek, rokok, sirih, uang, badhek ketan hitam dan kendi kecil. Perlengkapan untuk menaruh sesaji yaitu takir, tampah/tampir, kendhi, jodhangyang, gethek dan perahu motor. Dan yang terakhir menyiapkan kesenian Jaranan untuk penggiring. Pada malam sebelum acara pelarungan, terdapat agenda yang disebut dengan malam tirakatan atau melekan.

Yang kedua tahap pelaksanaan, diawali dengan arak-arakan yang diberangkatkan dari kantor kecamatan Watulimo menuju tempat pelelangan ikan. Kemudian, sembonyo dan segala perlengkapannya dilarung ke tengah laut menggunakan perahu nelayan. Pelarungan tumpeng beserta sesajinya menjadi acara inti yang dilanjutkan dengan pementasan kesenian Tayuban. Yang terakhir adalah tahap penutupan yaitu doa bersama yang dipimpin oleh tokoh dan pemuka agama.

Tradisi ini berawal dari suatu peristiwa yang diyakini ada pada masa itu. Merujuk pada pernikahan Raden Nganten Gambar Inten atau yang terkenal dengan nama Raden Nganten Tengahan dengan Raden Tumenggung Kadipaten Andong Biru atau Tumenggung Yodho Negoro.

Penyelenggaraan upacara tradisional ditunjukkan sebagai media untuk memperlancar komunikasi antar warga agar terjalin rasa persatuan dan kesatuan. Dalam upacara itu terkandung nilai-nilai luhur yang sebenarnya ditunjukkan untuk menuntun masyarakat agar menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya, sebagai generasi penerus bangsa yang baik untuk mewujudkan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis (Budiono Herususanto, 1984: 100).

Tradisi Labuh Larung Sembonyo dari apek sosial budaya mengajarkan masyarakat untuk bekerja sama dalam mengerjakan tugas dan saling bergotong royong. Dalam persiapannya, tradisi ini membutuhkan banyak tenaga sehingga hanya dengan bekerja sama persiapan pelaksanaan tradisi budaya ini dapat terlaksana. Sedangkan dalam aspek keagamaan tradisi ini menimbulkan dua opsi yang berbeda. Sebagian masyarakat percaya bahwa pelaksanaan Larung Sembonyo merupakan bentuk permintaan keselamatan dan berkah kepada penunggu atau makhluk ghoib di laut. Dan sebagian masyarakat lain percaya bahwa semua tidak akan terjadi tanpa adanya kuasa Allah SWT.

Terlepas dari pengertian di atas, tradisi dan budaya Labuh Larung Sembonyo merupakan alat untuk menjalin tali silaturahmi masyarakat bahkan masyarakat luar dari Watulimo. Selain itu, juga sebagai bentuk sedekah atas rasa syukur kepada Tuhan karena telah memeberikan rezeki dan berkah yang melimpah melalui kekayaan laut. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme