Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tarekat Sunan: Pancasetya Sebagai Kesalehan Hidup

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Pancasetya merupakan istilah Jawa yang merujuk makna prinsip melaksanakan tugas kearifan lokal yang terkait dengan lima ketaatan. Terdiri dari: setya budaya, setya wacana, setya semana, setya laksana, dan setya mitra.

Kelima istilah tersebut berarti mampu melestarikan budaya, memegang teguh ucapan, senantiasa menepati janji, bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepadanya, serta mampu menjalin persahabatan dengan prinsip kesetiakawanan.

Dapat dikatakan bahwa, pancasetya merupakan salah satu ciri di mana saat manusia wajib berusaha untuk menolak perbuatan buruk, maka pada saat yang sama ia juga harus berusaha menegakkan perbuatan baik.

Pertama, setya budaya. Yang berarti bahwa dalam kehidupan ini, kita sebagai makhluk sosial harus menaati dan menghormati budaya yang telah ada sebelumnya. Karena budaya merupakan rahim bagi munculnya suatu masyarakat atau etnik. Tanpa adat dan budaya, suatu etnik atau bangsa niscaya akan punah. Karena budaya merupakan proses belajar untuk mengatasi alam di lingkungan di mana manusia hidup, sehingga suatu masyarakat mampu mencapai keluhurannya yang kemudian nilai-nilai itu diwariskan (Bakker: 1994).

Budaya memang tidak statis atau tidak mandeg oleh kemungkinan munculnya budaya baru yang beragam. Oleh karenanya, bukan berarti kemudian kita akan memusnahkan budaya lama yang telah mengakar dengan menggantikannya dengan budaya baru, melainkan menyaring kembali apakah budaya itu sesuai dengan nilai kepatuhan yang telah diwariskan oleh para leluhur kita.

Begitu pula dengan agama yang memiliki kaitan rapat dengan budaya. Oleh karenanya beberapa sunan seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri memilih jalan budaya sebagai medium dakwah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya masyarakat Jawa dan Nusantara. Seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam mengkreasikan atau mengakulturasi pentas wayang kulit yang induk ceritanya bernuansa India, yang diambil dari kisah Mahabharata tetapi kisah itu disisipi dengan nilai-nilai ke-Islaman (Chodjim: 2015).

Pandawa disimbolkan sebagai rukun Islam. Penokohan Yudishtira dilambangkan sebagai syahadat dengan diberikannya jimat kalimasada yang berarti kalimat syahadat. Bima yang selalu berdiri tegak dan kokoh dilambangkan sebagai shalat. Arjuna yang senang bertapa dilambangkan sebagai puasa. Serta Nakula dan Sadewa yang dermawan dilambangkan sebagai zakat dan haji. Sehingga dapat disimpulkan bahwa para sunan pun sesungguhnya sangat menghargai budaya yang ada sebelumnya. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor daya tarik Islam yang baru datang. Masyarakatpun secara suka rela memeluk Islam di kemudian hari.

Kedua, setya wacana. Yang berarti bahwa manusia harus mampu memegang teguh ucapannya, yakni apa yang diperbuat sesuai dengan apa yang diucapkan. Bukan manusia plin-plan tidak teguh pendirian, yang seperti diistilahkan isuk  tahu, sore tempe. Karena setya wacana merupakan wujud ketulusan hidup seseorang.

Dalam perjalanan dakwahnya, tentu para sunan menjadikan hal ini sebagai pedoman hidup mereka. Karena dalam kitab suci umat Islam sendiri pun telah dijelaskan “Kabura maktan ‘indzallahi an taquuluu maa laa taf’aluu” yang berarti bahwa, sangat besar dosa manusia di hadapan Allah bagi mereka yang mengucapkan sesuatu sedangkan ia sendiri tidak melakukan (apa yang diucapkannya).

Hal ini pun menjadi faktor ketidakmungkinan pendakwah mampu dipercaya oleh orang lain bila ia tidak mampu jujur pada dirinya sendiri.

Ketiga, setya semaya, yang berarti bahwa manusia harus senantiasa menepati janji. Karena dalam kehidupan ini, janji merupakan bentuk ucapan kesediaan untuk memberikan sesuatu. Para sunan pun sangat berhati-hati dalam mengucapkan janji, (kemungkinan) mereka hanya mengucapkan insya Allah yang berarti jika Allah menghendaki. Hal ini diperlukan mengingat manusia seringkali lupa atau lalai dengan apa yang telah diucapkan. Dengan menucapkan insya Allah, yang bersangkutan bukan berarti melalaikan, namun mengupayakan untuk pemenuhan janji yang telah diberikan.

Keempat, setya laksana. Yang berarti bahwa manusia harus mampu bertanggungjawab terhadap tugas yang dipikulnya. Sebagai khalifah di bumi, tentu manusia memiliki tugas dengan porsi berbeda antara satu sama lan. Manusia harus mampu menanggung apa yang telah dilimpahkan kepadanya. Bukan sekadar melaksanakannya, melainkan juga mampu bertanggungjawab terhadap apa yang diperbuatnya dengan cara menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan sebaik-baiknya.

Kelima, setya mitra, yang berarti bahwa manusia perlu untuk membangun persahabatan dengan siapapun, tanpa kecuali. Terutama dengan orang-orang baik yang senantiasa membawa diri kita kepada kebaikan. Para sunan pun tidak segan-segan berusaha menjalin keakraban dengan sesama, dari kalangan atas maupun terbawah. Bahkan kepada mereka yang memusuhipun, mereka menggunakan etos Muhammad sebagai pedoman dakwah, yakni dengan memaafkan dan mendoakan agar para pembenci itu mendapatkan hidayah.

Dengan modal nilai-nilai luhur tersebut, para sunan berdakwah dengan memanfaatkan budaya-buyaya lokal. Dan oleh karenanya banyak masyarakat tertarik masuk agama Islam disebabkan oleh nilai-nilai Islam yang mampu diterapkan oleh para sunan dalam ajaran penyebaran Islam di Nusantara (Jawa khususnya) dengan menggunakan prinsip pancasetya sebagai nilai. Wallahu a’lam []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme