Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Rutinan Jimat Nusantara dan Shalawat Nāriyah

Kamis, malam Jumat wage, 04 September 2019, Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung untuk kali ketiga menghelat rutinan Ngaji Manuskrip dan Turats (JIMAT) Nusantara.

Acara dimulai ba’da Maghrib, bertempat di kantor IJIR dan diikuti 30-an santri kalong dari berbagai jurusan IAIN Tulungagung. Pertemuan kali ini membahas tentang Shalawat Nāriyah yang ada di dalam kitab Al-haqibah karya KH. Bisri Musthafa, Rembang.

Tulisan selalu punya daya magisnya sendiri. Ia adalah titah. Mungkin juga sabda.

Ada beberapa versi nama  dan pengarang yang disematkan pada shalawat ini, yakni sholawat At-Tafrījiyyah Sebagaimana dalam kitab Afḍāl al-Ṣalawāt ‘alā Sayyid as-Sadāt. Istilah ini diambil dari kata yang ada pada shalawat tersebut (Wa Tanfariju!) Berarti mengurai hal-hal yang sulit/rupek. Ada pula yang menyebut shalawat ini dengan At-Tāziyyah, karena dikarang oleh  Syaikh At-Tāzy. Namun shalawat ini masyhur dikenal dengan nama An-Nāriyyah dan dikarang Syaikh Ahmad Rifa’i Kubro.

Dua versi nama terakhir yang disematkan pada shalawat ini mengandung perdebatan filologis. Dalam versi Arab kata At-Tāziyyah (التازية) dan An-Nāriyyah (النارية) hanya dibedakan oleh titik, sehingga keduanya mirip. Para peneliti manuskrip berabjad Arab memang sering mengalami kesalahpahaman dalam penyebutan kata perkatanya, terutama jika tidak menggunakan disiplin keilmuan lain. Agak berbeda dengan huruf Jawa (carakan) yang  tidak menggunakan titik—yang rawan hilang atau terhapus—di dalam abjadnya sehingga kemungkinan munculnya perdebatan tekstologi lebih terminimalisir.

Ngaji dimulai dengan merapal doa yang dipimpin oleh Bang Heru Setiawan, M.Ag,  mahasiswa program Doktoral Studi Islam Pascasarjana IAIN Tulungagung, sekaligus staf  Departemen Manuskrip IJIR. Do’a pembuka ini dimaksudkan agar dilimpahkannya rahmat, hikmah dan terkhusus memohon agar selalu diingatkan apabila dibutuhkannya pengetahuan baru yang akan dikaji.

Rutinan JIMAT Nusantara digelar dengan menggunakan metode Bandongan ala pesantren. Dalam metode seperti ini,  ia membacakan teks sekaligus makna khas Jawa (makna gandul) terlebih dahulu, kemudian santri mencatat makna dengan huruf pegon di bawah baris teks Arab.

Menginjak ke dalam teks shalawat yang kira-kira artinya seperti ini: “Tuhan, limpahkanlah shalawat serta keagungan rahmatmu yang sempurna pada junjungan kami Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yaitu seorang bajik yang atas ridhamu memberi petunjuk atas kebuntuan, menghilangkan kesusahan dan membantu mengabulkan hajat kami dan menjanjikan kami akhir yang baik. Dengan shalawat ini  Engkau menurunkan rahmat alam semesta selayaknya air hujan yang kau turunkan ke dunia. Shalawat ini kami haturkan kepadamu untuk Kanjeng Nabi di setiap nafas dan kedipan mata, sebanyak pengetahuanMu yang tak terbatas dan tanpa batasan.”

Seperti yang tertulis dalam kitab Al-Ḥaqībah, KH. Bisri Mustofa mendapatkan ijazah shalawat tersebut dari KH. Makhrus Ali Lirboyo. Sesuai petunjuk beliau, shalawat ini memiliki beberapa faedah, di antaranya saat seseorang mengalami kebuntuan (karupekan) atau mendapat masalah, maka ia dapat membacanya. Jika problem tersebut sangat berat, hendaknya shalawat tersebut dibaca sebanyak 4444 kali.  Jika problem tersebut bersifat umum (bukan personal), hendaknya dibaca dengan berjamaah dan hitungan 4444 tadi dibagi dengan jumlah orang yang hadir.

Shalawat Nariyah sangat familiar bagi masyarakat Islam di Jawa. Shalawat ini juga sering dilantunkan sebagai puji-pujian setelah dikumandangkannya adzan. Namun terdapat sedikit perbedaan antara shalawat Nariyah versi Jawa dan versi aslinya sebagaimana dalam kitab Khāzinah al-Asrār.

Versi asli dari shalawat tersebut tidak terdapat lafadz Allaiy (الّذِي), sedangkan pada versi Jawa terdapat lafadz Allaiy. Sebagaimana tertera dalam kitab Al-Ḥaqībah, lafadz Allaiy diselipkan setelah lafadz Muhammad. Penambahan lafadz Allaẓiy (الّذِي) ini dikarenakan sebuah keyakinan panasnya tabiat shalawat tersebut. Namun jika ditambahkan lafadz Allaẓiy, maka tabiatnya menjadi dingin.

Sebelum menutup pengajian doa akhir majelis kembali didengungkan. Doa tersebut jika diartikan sebagai berikut: “Tuhan, kutitipkan padaMu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan kembalikanlah ketika aku butuh (sewaktu-waktu).” Doa ini mengingatkan kita bahwa segalanya milik Tuhan dan setiap sesuatu akan kembali pula padaNya. Selanjutnya membaca surat Al-Asr sebanyak tiga kali di mana saripatinya mengingatkan pada pitutur Jawa; “Sak beja-bejane wong kang lali, iseh beja wong kang ileng lan waspadha.”

Pengajian ditutup. Tanpa berpindah duduk, dilanjutkan serangkaian acara Tahlilan berjamaah dalam rangka pitung dinoan seraya mengheningkan cipta atas kembalinya kolega IJIR, Siti Zulaikah ke Rahmatullah. Doa dan tahlil dipimpin Hamim Musthofa (peneliti muda IJIR). Rangkaian acara terakhir adalah ngaji filologi yang membahas Formalisme Rusia yang diampu kembali oleh Hamim Musthofa. [] Ahmad Zaini

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme