Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Ngaji Filologi: Komunikasi Linguistik Roman Jakobson

Kamis, 04 September 2019, acara ‘Ngaji Filologi’ kembali digelar.  Acara ini merupakan salah satu progam yang diadakan oleh Departemen Manuskrip Islam Jawa, Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung.  Bertempat di kantor IJIR, Ngaji Filologi diadakan setelah selesainya Ngaji Manuskrip dan Turats (JIMAT) Nusantara. Acara ini diikuti oleh 20-an mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), IAIN Tulungagung.

Pada pertemuan ketiga ini, acara ini dipandu oleh Hamim Musthofa sebagai pemateri dan Mochammad Chafidz Baihaqi sebagai moderator. Keduanya merupakan mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) IAIN Tulungagung, sekaligus staf IJIR. Tema yang diusung kali ini adalah “Formalisme Rusia dan Komunikasi Roman Jakobson”.

Ngaji Filologi 3

Dalam paparannya, Hamim mengemukakan bahwa Roman Jakobson merupakan pemikir paling berpengaruh dalam bidang lingustik dan kritik sastra. Selain itu, ia juga merupakan perwakilan paling brilian dari gerakan Formalis yang mampu memberikan penjelasan prinsip-prinsip fundamental tentang ide Formalisme.

Diskusi beralih pada pembahasan mengenai Formalisme Rusia dan pengaruhnya terhadap teori sastra. Pembahasan mengenai hal itu berpijak pada dua pertanyaan: “apa yang baru tentang Formalisme?; dan Bagaimana kaum Formalis memengaruhi jalannya teori sastra?”

Berangkat dari dua pertanyaan itu, Hamim menjelaskan bahwa Formalisme Rusia lahir karena ketidakpuasan terhadap para penstudi satra di awal Abad 20. Saat itu para kritikus sastra di Rusia lebih tertarik pada dogma-dogma filosofis dan religius yang dapat diambil dari teks-teks sastra daripada teks-teks itu sendiri, atau mereka lebih tertarik pada penulis sastra daripada karya sastranya.

Menyikapi hal itu, kalangan Formalis menekankan tentang pentingnya pengkalsifikasian antara karya satra dan karya non-sastra dalam kajian literatur. Pembedaan antara keduanya dapat dilakukan dengan melakukan pembedaan antara bahasa (kosakata) satra dan bahasa biasa. Perbedaan antara keduanya tidak terletak pada bentuk materialnya, melainkan pada fungsinya. Bahasa biasa memiliki tujuan khusus dan tepat, misalnya untuk menyampaikan informasi. Sedangkan bahasa puisi memiliki tujuan pada dirinya sendiri, autotelic atau otonom.

Hal itu mungkin sedikit samar, namun akan menjadi lebih terang  dengan mengalihkan fokus pada  komunikasi linguistik yang diusulkan oleh Roman Jakobson. Dalam hal ini ia telah berhasil merangkum dan mengembangkan ide-ide yang dibawa para Formalis beberapa dekade sebelumnya.

Jakobson membedakan beberapa set yang terdapat dalam sebuah pesan linguistik. Sebagian besar dari set-set tersebut terdapat dalam tindakan komunikasi. Set-set sebagaimana peta konsep yang dibuatnya (dapat dilihat pada ilustrasi).

Pada lapis pertama skema tersebut berisi berbagai bagian yang terkandung dalam komunikasi verbal. Di tengah, kita melihat pesan yang tepat. Pesan itu disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) kepada penerima (adressee). Hal ini terjadi konteks komunikasi spesifik, semisal komunikatif percakapan pribadi, wacana publik, atau membaca buku.

Bagian kedua dari desain Jakobson menyatakan fungsi yang berhubungan dengan elemen komunikasi verbal. Jika sebuah pesan berpusat pada addresser, ia memiliki fungsi emotif. Jika pesan berkonsentrasi pada adressee, ia memiliki memiliki fungsi konatif untuk memengaruhi. Jika pesan berputar di sekitar konteksnya, fungsinya referensial. Tujuannya adalah untuk menggambarkan fakta seakurat mungkin.

Komunikasi disebut metalingual ketika berkaitan dengan kode sendiri. Selain itu, komunikasi verbal juga memiliki fungsi phatic. Fungsi terakhir ini menjadi lebih dominan dalam keadaan tertentu, semisal ketika kita memiliki saluran telepon yang buruk dan terus-menerus harus bertanya, “Apakah Anda mendengar saya?” Atau ketika kita mencoba memastikan apakah lawan bicara kita telah memahami apa yang kita katakan.

Berbeda dengan itu, bahasa puisi (sastra) tidak memiliki fungsi-fungsi sebagaimana komunikasi verbal. Komunikaasi verbal karya sastra (semisal puisi) tidak bersifat referensia, konatif, menyampaikan informasi dan lain sebagainya. Sebaliknya, poin utama dari pesan verbal karya sastra adalah untuk menampilkan kualitas estetika sendiri.

Kata-kata puisi (karya satra) tidak melayani tujuan apapun di luar tujuannya sendiri. Ia tidak mengundang pembaca atau penerima pesan dengan cara menggunakan kosakata yang lazim digunakan untuk menyampaikan makna secara transparan. Sebaliknya, kosakata sastra itu sendirilah yang menjadi pusat perhatian pembaca.  Inilah yang dimaksud dengan bahasa sastra bersifat otonom.

Konsentrasi dan perhatian penerima pesan dalam komunikasi verbal karya sastra tidak berpusat pada konteks atau emosi penulisnya, melainkan pada aspek linguistik semisal irama. Dengan begitu, apa yang dicapai oleh komunikasi puitis karya sastra sangat berbeda dengan komunikasi biasa.

Berikutnya, kaum Formalis mengamati bahwa bahasa sehari-hari mengikuti kebutuhan layaknya sistem ekonomi. Bahasa sehari-hari mencoba memfasilitasi kebutuhan komunikasi sebanyak mungkin. Oleh karena itu, bahasa sehari-hari kita cenderung untuk turun dan meninggalkan aspek kebahasaan yang disebut ‘elips’, yaitu apa pun yang terbukti dengan sendirinya.

Kita juga bisa mengatakan bahwa bahasa sehari-hari berusaha menjadikan dirinya tidak mengganggu dan setransparan mungkin. Dalam komunikasi biasa, kita peduli dengan hal-hal yang kita bicarakan, bukan tentang sarana linguistik yang digunakan untuk menggambarkannya. Kata-kata hanyalah alat yang kita gunakan.

Dalam bentuk komunikasi seperti itu, kita tidak menyadari bunyi bahasa kita. Fenomena ini, para Formalis menyebutnya dengan “otomatisasi”. Berbeda dengan itu, bahasa satra bertindak melawan otomatisasi tersebut.  Dengan begitu, bahasa satra berusaha untuk menyadarkan kita akan nilai dan kualitas bahan linguistik yang tampak begitu akrab dan biasa, dan ia melakukan ini bukan dengan membuat komunikasi menjadi mudah, tetapi lebih sulit.

Dengan efek ini, seni sastra menawarkan kita persepsi segar tentang segala sesuatu yang biasanya kita anggap remeh, untuk “melihat” objek yang menjadi tujuan kita dan mencegah kita dari “mengenali” sesuatu tanpa memerhatikan.

Terkait Ngaji Filologi, di akhir acara, moderator mengingatkan peserta bahwa acara tersebut akan terus diselenggarakan secara rutin setiap malam Jum’at , di kantor IJIR – IAIN Tulungagung. Tema-tema yang diusung masih seputar teori dan pendekatan filologi modern serta studi teks. [] Heru Setiawan

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme