Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mistisisme Jawa

Chandra Halim Perdana [] Mahasiswa Pascasarjana Prodi AFI IAIN Tulungagung; Peneliti  di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Mahasiswa Pascasarjana Prodi AFI IAIN Tulungagung; Peneliti di Institute for Javanese Islam Research []

Orang Jawa memiliki pandangannya sendiri terhadap dunia, disebut sebagai Javanisme. Tulisan ini merupakan review atas karya Niels Mulder, Javanism: The Background of Kebatinan. Melalui tulisan tersebut, kita bisa mengetahui pola mendasar cara berpikir orang Jawa.

Saat pandangan tersebut terorganisir, semacam gerakan mistisisme, dikenal dengan nama aliran. Keberadaanya lebih banyak dianggap mengancam. Selain itu, kebatinan terus menerus menjadi sasaran utama peng-agama-an. Padahal, javanisme merupakan jati diri. Sekaligus produk intelektual orang Jawa sendiri.

Tulisan Niels Mulder, memberi kita pemahaman, bahwa yang terpenting bagi orang Jawa adalah spiritualitas. Spiritualitas atau spirituality, merupakan istilah yang awalnya dikenal dalam tradisi agama Kristen. Spiritualitas merujuk pada jalan pencapaian nilai fundamental dalam hidup, gaya hidup, suatu praktik demi memahami Tuhan, diri dan kehidupan dunia dipandang sebagai sebuah usaha transformasi diri (Philip Sheldrake, 2007: 2).

Bagi orang Jawa, nilai terpenting kehidupan ini adalah keselarasan. Manusia dianggap baik, jika mampu mewujudkan keselarasan itu. Karenanya, peraturan diselenggarakan demi terwujudnya keadaan selaras dalam kehidupan. Sebab segala hal, dilihat sebagai sesuatu yang telah tertata dan bersifat hirarkies. Segalanya juga dipandang sebagai Tuhan.

Sedangkan, gaya hidup orang Jawa ditujukan hanya untuk mewujudkan keadaan harmoni, dalam diri dan diluar dirinya. Sebab kenyataan sejati ada pada sisi batin. mengedepankan sikap-sikap penerimaan diri, keharmonisan, stabilitas, tidak berlebihan dengan hal yang sifatnya materi. Gaya hidupnya juga seperti seorang filosof Heidegger, melihat yang “Ada” dari pengalaman hidup yang banal.

Inti Javanisme, menurut Niels Mulder, ada pada kebatinan. Suatu istilah yang dipadankan dengan mistisisme. Karena tujuan utamanya, menjalin hubungan langsung individu dengan Tuhan. Bahwa kebatinan secara luas menjadi ekspresi beragama bagi orang Jawa, meskipun terdapat perbedaan persepsi antara santri dan abangan.

Tulisan Niels Mulder, selanjutnya berfokus terhadap Javanisme yang terorganisir, disebut sebagai aliran. Semacam gerakan mistisisme, dalam Islam disebut tarekat, tapi tanpa berafiliasi dengan agama apapun. Memiliki seorang guru untuk diikuti. Hanya saja tanpa piranti seperti agama. Tujuan utamanya mengarahkan diri pada persatuan dengan Tuhan.

Meski aliran kebatinan merupakan kebiasaan yang menekankan pada unsur batiniah. Praktiknya berbeda dengan orang Buddha yang berlandaskan pada disiplin fisik dan rasionalitas. Kebatinan menekankan pada pengosongan diri, agar dapat diisi dengan kehadiran yang maha kuasa. Karena itu, praktik ini tidak menyebutnya sebagai meditasi. Karena bagi orang Jawa, hal itu dapat menghambat persekutuan dengan realitas tertinggi.

Filsafatnya tentang manusia, hampir semua aliran kebatinan, memiliki pandangan yang sama. Bahwa manusia esensinya adalah percikan dari Illahi. Manusia terdiri dari aspek lahir dan aspek batin. Sedangkan, sisi terpenting manusia adalah aspek batinnya. Sebab aspek inilah yang dapat mencapai persatuan dengan Tuhan. Setelah dapat mengatasi aspek jasmaniahnya. Sebab inilah yang mengikat manusia di dunia, mirip seperti konsep Plato dengan analogi kereta yang ditarik dua kuda.

Seperti halnya praktik dalam tarekat, kebatinan juga memiliki metode tersendiri. Berupa penyerahan diri, dilakukan dengan jalan membersihkan batin terlebih dahulu. Mengosongkan diri dari semua keinginan dan kesadaran pikiran. Agar nanti dapat diisi dengan Yang Maha Kuasa dalam batin manusia.

Bagi penganut kebatinan, perjalanan spiritual tersebut sekaligus harus memiliki aspek sosial. Dikenal dengan ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe. Karena bukan hanya persekutuan dengan Tuhan sebagai tujuan utama. Sebab kualitas persekutuan tesebut harus tercermin di kondisi dunia ini. Dengan jalan, sekali lagi terus menerus menjaga keseimbangan atau harmonis dengan alam semesta. Terus bekerja bagi kemanfaatan untuk seluruh masyarakat.

Layaknya praktik mistisisme pada umumnya, kebanyakan menganggap mereka melakukan praktik klenik. Padahal penganut kebatinan murni, sangat berhati-hati menggunakan kelebihan supranatural yang mereka dapatkan. Karena penyalahgunaannya, dapat menjauhkan diri dari Tuhan. Pelakunya juga dianggap hanya menjadi alat bagi makhluk supranatural yang lebih rendah.

Sejak zaman kolonial, keadaan sulit terus dialami oleh aliran kebatinan. Keberadaanya disejajarkan dengan kelompok yang dianggap mistik, klenik, metafisik, sihir. Karena dianggap mengancam dan memicu pemberontakan. Karenanya dibentuklah PAKEM (Pengawasan Aliran Kepertjajaan Masjarakat). Melalui lembaga ini, dilakukanlah pengaturan kelompok-kelompok yang dianggap menyesatkan, mengancam ketertiban, menghina Tuhan, dan sebagai benih komunisme.

Beranjak dari politisasi kebatinan, bahwa sebagian besar praktik aliran kebatinan digambarkan seperti pertemuan yang sifatnya sangat informal. Praktik tersebut biasanya diawali dengan menciptakan iklim sama rasa sama rata di antara anggotanya. Dilanjutkan, latihan sudjud atau penyerahan diri kepada Tuhan. Setelah itu, diisi dengan khotbah dan diskusi. Pertemuan diakhiri dengan sudjud berulang.

Latar belakang Javanisme menurut Niels Mulder dianggap sebagai fantasi anak-anak yang terbawa hingga dewasa. Orang Jawa dinilai tidak mampu memandang realitas secara objektif. Kesibukanya hanya mengaitkan segala hal dengan sesuatu yang sifatnya supranatural. Terlebih lagi, terlalu menggantungkan hidup pada ramalan. Serta menyerahkan sepenuhnya pada tatanan yang sudah ada.

Sedangkan secara Psikologi, menurutnya, Javanisme dianggap bermanfaat bagi kesehatan mental. Sedangkan secara sosial, kebatinan sebagai sarana berlakunya kembali budaya Jawa berkaitan dengan harmoni. Kebatinan juga menjadi bukti ketergantungan manusia terhadap otoritas tertinggi. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme