Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Keris Sebagai Budaya Asli Indonesia

Zulfa Ilma Nuriana [] Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Semester I, IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Zulfa Ilma Nuriana [] Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Semester I, IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Budaya di Indonesia sangatlah menarik untuk dipelajari. Salah satunya Keris. Keris telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2005. Keris adalah senjata tajam khas Indonesia. Kata Keris sendiri berasal dari kata “ke” dan kata “iris”, apabila digabungkan memiliki arti alat untuk memotong sesuatu. Keris memiliki bentuk yang berlekuk-lekuk maupun lurus dan memiliki kedua sisi yang tajam. Senjata tajam tradisional ini berada di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, Madura, Bali, Sumatra, dan Sulawesi Selatan.

Keris memiliki arti yang luas. Namun pada hakikatnya memiliki persamaan. Sebagaimana dapat dilihat artinya dalam bahasa Jawa dan bahasa Arab. Jarwadhasa kata Keris dalam bahasa Jawa adalah ‘kekeranaris’. ‘Kekeran’ berarti penghalang dan pengendalian. ‘Aris’ berarti tenang. Keris dapat dikaitkan dengan kehidupan manusia, yakni seseorang harus saling mengingatkan dan mengendalikan diri secara bijak sehingga tidak menjadi manusia yang sombong (Sutrisna, 2009: 50).

Menurut Moesa Al Mahfoed, Keris berasal dari kata ‘haris’ (bahasa Arab) berarti penjaga keselamatan diri. Dari kedua pendapat itu dapat diketahui bahwa Keris menjadi penjaga diri untuk selalu bertindak baik agar selamat hidupnya.

Pada prasasti kuno istilah Keris telah dijumpai. Prasasti yang menunjukkan tahun 748 Saka atau 842 M berbentuk lempengan perunggu yang ditemukan di Karangtengah menyebut beberapa jenis sesaji. Sesajinya antara lain kres, wangkiul, tewek punukan, wesi penghatap. Kres itu adalah Keris (Harsrinuksmo, 2004: 24).

Abad Kelima atau Keenam Masehi, Keris diperkirakan sudah mulai dibuat di Jawa dengan bentuk yang sederhana. Bentuk Keris yang saat ini kita ketahui diperkirakan pembuatannya baru sekitar abad ke-12 atau abad ke-13 M. Puncak dari dudaya Keris pada zaman Majapahit. Karena budaya Keris kala itu telah tersebar ke daerah Riau, Semenanjung Malaya, Palembang, Kamboja, Brunei Darussalam, Filipina Selatan, hingga ke daerah Surathani dan Pathani di Thailand bagian selatan (Harsrinuksmo, 2004: 27).

Keris adalah budaya asli Indonesia, walaupun nenek moyang bangsa Indonesia umumnya beragama Hindu-Buddha. Karena memang kenyatannya tidak ada bukti kuat adanya Keris di agama Hindu-Budha. Bukti lain yakni adanya relief yang menggambarkan senjata berbentuk Keris pada candi di Jawa yang mana pada candi di India ataupun negara lain tidak terdapat relief seperti itu.

Dalam kehidupan orang Jawa, Keris memiliki peranan penting dan bermakna. Tidak hanya sebagai pusaka tetapi juga senjata tajam yang sakti. Istilah yang biasa digunakan terkait Keris ini adalah luk, dhapur, dan pamor. Luk berarti kelokan. Dhapur dan pamor menampilkan kekuatan sugestif dari si empu. Tidak bisa dipungkiri juga kalau Keris ini banyak macamnya. Sehingga corak Keris pada masing-masing jenis memiliki arti dan fungsi yang berbeda-beda.

Ketika saya mewawancarai Slamet Suwondo di Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Senin (25/8/19) beliau mengatakan bahwa fungsi Keris bisa dijelaskan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yakni diberitahukan secara lisan. Sedangkan yang tidak langsung ini menggunakan syarat baik bersemedi ataupun berguru.

Fungsi Keris ini pun dari zaman ke zaman mengalami perubahan. Pada masa Singhasari sampai Mataram Sultan Agung, Keris sebagai benda yang multifungsi dan multimakna. Keris ini sering ditemui sebagai senjata pamungkas dan pertanda atas suatu kejadian penting.

Keris dimaknai begitu dalam oleh orang Jawa, karena bukan hanya dilihat dari fungsi luar saja melainkan arti simbolik di balik wujud fisiknya. Makna simbolik ini dikaitkan dengan perilaku hidup dan pola pikir orang Jawa. Adanya Keris berkaitan erat dengan aspek ekonomi, politik, kepercayaan, waktu, dan tempat seorang empu pembuat Keris dibesarkan (Gustami, 2007: 56).

Orang Jawa menggunakan Keris sebagai pembelaan diri, sarana upacara ritual keagamaan dan kesuburan, meraih kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup. Keris juga dipandang sakral yang memiliki karisma bersifat gaib dan sakti (Gustami, 2007: 57).

Keris menjadi misteri di kehidupan orang Jawa. Bentuk transformasi nilai dan norma hidup telah tertanam kuat atau meresap dalam lubuk hati masyarakat. Hal ini berkaitan erat dengan adanya kekuatan supranatural.

Kedudukan Keris unik dan khas tercermin dalam kehidupan masyarakat Jawa dalam  perilaku dan sikap orang Jawa terhadap sebuah Keris. Penghormatan terhadap Keris diwujudkan secara nyata oleh orang Jawa. Hal ini berkaitan dengan etika per-Keris-an.

Pada masa modern, Keris mengalami banyak pergeseran. Namun, bagi orang Jawa yang Njawani tetap menjaga terjaga eksistensi Keris. Hingga, Keris tetap berpengaruh secara mendalam di kehidupan mereka.

Keris bukan hanya sebagai wujud kebudayaan semata melainkan hasil karya manusia dari sistem gagasan dan tindakan dalam rangka kehidupan masyarakat. Sehingga, Keris ini patut kita syukuri dan lestarikan karena telah dianggap memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Serta, menghargai kreasi cipta karsa  sang empu yang disertai dengan doa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme