Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mencicipi ‘Makrifat’ ala HOS Tjokroaminoto

Aktivis Peneleh Regional Tulungagung bekerja sama dengan Gusdurian Bonorowo Tulungagung menyelenggarakan Bedah Buku ‘’Memeriksai ‘Alam Kebenaran’’. Buku ini merupakan buah karya Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang kemudian ‘disyarahi’ oleh Dr. Aji Dedi Mulawarman, Ketua Yayasan Rumah Peneleh.

Ia hadir sebagai narasumber dalam diskusi dan bedah buku tersebut. Selain itu penyelenggara juga menghadirkan Akhol Firdaus, Direktur IJIR  IAIN Tulungagung, sebagai pembanding. Acara ini dihelat di Kedai Omah Asri pada Selasa, 10 September 2019. Tidak kurang dari 40 peserta memadati kedai yang berada di depan kampus Dakwah dan Peradaban ini. Sebagian besar peserta merupakan muda-mudi yang tertarik mendiskusikan pemikiran salah satu guru bangsa yang dikenal sebagai mentor bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional, tidak terkecuali proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Bedah Buku Hos Tjokro

Buku ‘Memeriksai Alam Kebenaran’ disebut-sebut merupakan magnum opus pemikiran Pak Tjokro. Tulisan dalam buku ini merupakan pidatonya dalam acara Kongres Jong Islamieten Bond ke IV di Bandung, yang kemudian diterbitkan ulang Yayasan Peneleh. Agenda dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu disusul dengan sambutan dari Dhea Alfina, Kordinator Peneleh Regional Tulungagung dan Iskandar Asmuni, Kepala Sekolah Yayasan Rumah Peneleh.

Forum berlanjut pada acara inti, yaitu bedah buku. Dr. Dedi Mulawarman menjelaskan sekelumit terkait kisah hidup dan sosok HOS Tjokroaminoto. Ahli Akutansi yang juga merupakan dosen Universitas Brawijaya ini juga menjelaskan pokok pikiran Pak Tjokro yang bermuara pada kemampuan manusia untuk mencapai status ‘insan kamil’ yang mampu menuliskan pengetahuan intuitif sehingga, menurut Dedi, mampu menembus batas-batas pengetahuan indrawi, dan mencapai ‘makrifat’.

Jalan untuk sampai ke sana, kata Dedi, bisa ditempuh melalui berbagai upaya penyucian diri. Dalam terminologi buku ini ialah ‘Boedi dan rasa Islam manembah kepada Toehan (Goesti)’. Dedi menekankan pada esensi laku ibadah itu sendiri, “…puasa tidak harus terus-menerus tetapi yang pasti kurangi makan dan minum. Tapi, rokok yang banyak gak papa karena asapnya adalah asap surga,” begitu dia berseloroh dan disambut gelak tawa hadirin.

Mengaitkan antara sisi ke-Islaman dan Kejawaan Pak Tjokro, Akhol Firdaus memberikan respon atas buku yang tengah dibedah dengan bercerita perihal kelompok tarekat ke-Jawa-an, Kaweruh Jawa Dipa yang berpusat di Trenggalek. Dosen IAIN Tulungagung ini mengaitkan tarekat Jawa ini dengan gerakan Jawa Dipa yang digagas Pak Tjokro dalam rangka melawan rasialisme kolonial dan delegitimasi atas ajaran Islam pada konteks pergerakan nasional kala itu.

Akhol menyebut banyak sekali kemiripan dalam konsep ‘makrifat’ yang ditawarkan Pak Tjokro dengan ajaran ‘makrifat’ Jawa Dipa maupun aliran tarekat tua lainnya yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Muaranya, Akhol menegaskan bahwa HOS Tjokroaminoto merupakan anak zamannya. Ia berbicara menggunakan nalar zaman yaitu dengan meminjam rasionalitas Barat, akan tetapi tetap mewakili kekayaan khazanah dan pengetahuan ke-Jawaan, lalu dicarikan titik temu sebanyak-banyak dengan pesan-pesan suci al-Qur’an maupun Hadis dalam tiap argumentasinya. [] Sulkhan Zuhdi

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme