Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Lebur dalam Tahlil Naluri Mbah Hasan Mimbar

Lina Linsa Azizah [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi Semester VII; Peneliti IJIR []

Lina Linsa Azizah [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi Semester VII; Peneliti IJIR []

Emosi memiliki peran penting dalam pembentukan masyarakat di Jawa. Tradisi Islam masuk ke pedalaman tanpa melawan Jawa lokal, demikian menurut Geertz (1960) dan Anderson (1972). Hal tersebut tidak terlepas dari tradisi Timur yang menekankan pada rasa. Maka, di pedalaman Jawa banyak dijumpai tradisi yang menjadi identitas baru, sebab bergumulnya budaya lokal dengan budaya baru. Misalnya, pada tradisi Tahlil Naluri Tegalsaren.

Rutinan Tahlil dilaksanakan di Masjid Hasan Mimbar Majan setiap hari Kamis setelah jamaah shalat Isya’. Kamis, 22 Agustus 2019, saya berkunjung untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pasalnya Tahlil Naluri adalah kristalisasi proses Islamisasi kerajaan Mataram yang dibawa oleh Mbah Hasan Mimbar. Beliau merupakan utusan Sri Sultan Pakubuwono II Mataram yang ditempatkan di Kadipaten Ngrowo pada tahun 1727 M. Demikian penuturan sejarah dari salah satu Dzuriah Mbah Hasan Mimbar, M. Ali Sodiq.

Uniknya, Tahlil Naluri Tegalsaren berlafadz bahasa Arab dengan menggunakan langgam Jawa. Sebagai cara untuk mendekatkan emosi kepada masyarakat Kadipaten Ngrowo yang waktu itu didominasi oleh model kepercayaan Hindu, pelan-pelan unsur tauhid dimasukkan dalam setiap ritual bersama, misalnya diakhir prosesi Tahlil Naluri dilakukan pembagian nasi ratipan dibungkus daun pisang berisi nasi dan kulupan.

Hal ini selaras dengan slametan, ritual shaleh disertai makan bersama versi Jawa. Menurut kepercayaan jamaah, pembagian nasi ratipan akan membawa barokah karena mengandung doa.

Secara teks hampir tidak ada perbedaan antara Tahlil Naluri dan pembacaan Tahlil yang biasa kita jumpai. Namun, ada tambahan lafadz asma’ul husna dan pelafadzan Laillahaillallah menjadi Laillahaillallah 33x  – Illallah – Allahu – Huwallah – Huwa – Huwa Khayyu – Huwa ‘Alim – Huwa Qodir – Huwa Murid – Huwa Sami’ – Huwa Basyir – Huwa Mutakallim – Huwa Baqq – Laillhaillallah.

Ciri khas dari ritual Tahlil ini, seluruh jamaah melafalkan dengan suara keras dari awal sampai akhir, hingga orang yang tidak hafal lafadznyapun psikisnya turut merespon langgam Jawa dengan menggoyangkan badan.

Menurut penuturan Abah M. Yasin selaku pimpinan jamaah tersebut, lafadz Tahlil Naluri didapatkan Mbah Hasan Mimbar saat nyantri di desa Tegalsari Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo atau Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari. Pesantren tersebut didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari selaku guru langsung dari Mbah Hasan Mimbar. Setelah penugasannya di Kadipaten Ngrowo pada abad 18 M, Tahlil tersebut ditetapkan menjadi ritual rutin pada Kamis malam Jumat di Masjid Hasan Mimbar Majan sebagai Masjid pusat dan langgar-langgar kecil mengikuti ketetapan pada Masjid pusat.

Penetapan ritual tersebut diterima begitu saja oleh sebagian masyarakat. Merujuk pada penjelasan transformasi tradisi oleh Muhammad Ali (2011), bahwa masyarakat Jawa bersifat lebih terbuka terhadap tradisi-tradisi baru. Keterbukaan tersebut melalui proses sangat panjang: dibentuk, disosialisasikan, dikonstruksi, dan diulang, hingga pada titik tanpa disadari sudah menjadi identitas baru dalam tatanan masyarakat jawa. Demikian, pada masa selanjutnya, identitas tersebut akan menjadi ketidaksadaran kolektif yang termanifestasi dalam komplek emosi.

Menurut Uichol Kim, “Esensi manusia pada dasarnya relasional dan dapat didefinisikan dalam kaitannya dengan emosi-emosi yang dirasakan manusia satu sama lainnya”  (Uichol Kim, 2010: 62). Pemberian cinta, kasih sayang, pengabdian, pengorbanan, dan kebajikan lain sangat diperlukan dalam pengenalan sistem baru, dalam kasus ini adalah pengenalan sistem agama Islam. Sebab perlakuan demikian, sistem baru akan lebih mudah disuntikkan dalam budaya yang sudah ada.

Proses Islamisasi semacam ini tidak hanya menyentuh tataran normalitas, melainkan sudah menyentuh tataran batiniah. Masyarakat Jawa memiliki tujuan dalam kehidupannya yakni membagikan kebahagiaan dengan menularkan pengetahuan mikrokosmos, sering disebut kawruh jiwa atau kawruh beja. Dalam kasus ini, pada akhir prosesi Tahlil Naluri, sebagian jamaah bergerombol sekadar berbincang membagikan pengetahuan tersebut. Selaras dengan pendapat Ki Ageng Suryo Mentaram (1989: 35), “Tiyang ingkang kraos beja, jalaran mangertos dhateng kawruh beja, lajeng kraos betah nandhes njembaraken lan nular-nularaken”.

Ditambah lagi sistem Islam yang dibawa oleh Mbah Hasan Mimbar bersifat fleksibel, lebih menekankan pada praktik Islam. Menurut penuturan Abah M. Yasin, “Sarene kene biyen akeh tradisi Hindu, mongko digawekno acara Islam sing ora nentang tradisi sing enek”. Demikian, berarti emosi yang dibawa oleh sistem agama Islam dan tradisi yang sudah ada dapat dipersatukan tanpa mengurangi esensi ritual sebelumnya. Dalam ritual berjamaah seperti ini, individu akan mengalami frekuensi emosi yang sama dengan individu lainnya.

Pada akhirnya,Tahlil Naluri Tegalsaren merupakan wujud keragaman budaya yang terbentuk dari komplek emosi tradisi yang sudah ada dan tradisi baru. Pada ritual ini setiap jamaah dapat mengalami diri yang transenden, terlepas psikis merespon karena lafadz, langgam Jawa, atau pendalaman makna terhadap lafadz. Kedua sistem tersebut sudah membaur dan tidak dapat dipisahkan sebagai identitas. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme