Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tapan, Menuju Pekan Kebudayaan Nasional

Kisah sukses menjadikan Tapan sebagai proyek percontohan desa berhulu kebudayaan, tidak lepas dari orkestrasi gerakan kebudayaan di level akar rumput. Ada keterlibatan aktor-aktor kunci, dukungan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Juga proses yang dipupuk secara terus menerus.

Pada awalnya, hajatan kebudayaan ini bermula dari penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) pada pertengahan 2018. Tulungagung terpilih menjadi salah satu dari lima (5) kabupaten/kota percontohan.

Bermodal dukungan masyarakat yang melimpah ruah, juga peran pemerintah, penyusunan PPKD Kabupaten Tulungagung tergolong yang paling sukses dari sekitar 300an kabupaten/kota se-Indonesia. Setidaknya, Tim Perumus PPKD saat itu berhasil mendokumentasi tidak kurang dari 1030 obyek kebudayaan.

Sukses ini berlanjut dengan keterlibatan aktif delegasi Tulungagung dalam kegiatan pra-kongres maupun Kongres Kebudayaan yang dihelat di Jakarta pada 5-9 Desember 2018. Kongres sukses.  Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo seperti hendak menggarisbawahi bahwa “inti dari kebudayaan adalah kegembiraan.” Pemajuan kebudayaan harus mewujud menjadi kebahagiaan segenap tumpah darah Indonesia.

Sesudah periode itu, semangat pemajuan kebudayaan tidak lantas kendur. Dalam konteks Tulungagung, kesuksesan PPKD disusul dengan rangkaian program yang pada intinya berporos pada spirit pemajuan kebudayaan.

Pada 26 Desember 2018, bersama segenap elemen kebudayaan di Tulunggagung menggelar “Jumenengan Rakyat Kebudayaan 2018” sebagai wujud syukur atas suksesnya Kongres Kebudayaan. Acara yang dihelat di IAIN Tulungagung tersebut menampilkan ragam kesenian tradisional, juga orasi kebudayaan oleh Prof. Dr. Maftukhin (Rektor IAIN) bersama dengan Eva K. Sundari (Kaukus Pancasila).

Tidak lama berselang, pada 23-24 Februari 2019, seluruh elemen masyarakat kebudayaan Tulungagung kembali menghelat Kemah Kebangsaan. Kali ini, kegiatan dilaksanakan bersama dengan aliansi organisasi masyarakat sipil Jawa Timur “1 untuk Indonesia” bersama dengan Dalem Tawangsari. Acara tersebut berlangsung di Kedhaton Tawangsari Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.

Pada momen inilah, Kedungwaru juga dipilih sebagai kecamatan percontohan untuk menyelenggarakan “Festival Permainan Tradisional” sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan. Festival dihelat di Desa Simo, Kedungwaru. Tidak tanggung-tanggung Dirjen Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid, sendiri yang langsung membuka dan mengikuti seluruh rangkaian Festival tersebut.

Di samping peran aliansi masyarakat sipil sebagai faktor kunci kesuksesan, hal lain yang tidak kalah menentukan adalah faktor kepemimpinan Camat, Anang Pratistianto, Kedungwaru yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menggerakan sumber daya yang dimilikinya, sehingga menjadikan Kedungwaru sebagai rumah bagi ragam kesenian tradisional.

Hampir tidak berselang lama, pada pertengahan Juli 2019, Tulungagung kembali menjadi salah satu tuan rumah Festival Budaya Panji Nusantara dalam rangka program Indonesiana. Ini merupakan program yang diinisiasi oleh Dirjen Kebudayaan dengan melibatkan stakeholders kesenian dan kebudayaan.

Festival Panji Nusantara adalah bentuk apresiasi kebudayaan Panji, terutama yang berkembang di wilayah Mataraman dan Malang. Candi Mirigambar menjadi salah satu lokasi Festival karena dianggap sebagai situs Panji yang sangat penting. Meski pelaksanaan Festival ini tidak sesukses Festival Permainan Tradisional, akan tetapi rangkaian di atas cukup menggambarkan bagaimana keterlibatan Tulungagung dalam skema pemajuan kebudayaan.

Hajatan berikutnya yang tergolong prestisius adalah, penetapan Desa Tapan Kecamatan Kedungwaru, sebagai satu dari delapan (8) depan di seluruh Indonesia sebagai percontohan desa berhulu kebudayaan. Sesungguhnya ini merupakan program yang mirip dengan penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah, tapi berbasis desa.

Mengapa Tapan dipilih? Hal ini tidak lepas dari geliat pemajuan kebudayaan di seluruh Kecamatan Kedungwaru. Dengan visi kepemimpinan yang beriorientasi pada pemajuan kebudayaan, Camat Kedungwaru dianggap sukses mendorong desa-desa untuk menjadi bagian dari program pemajuan kebudayaan.

Atas pertimbangan Camat pula, Tapan dipilih sebagai desa percontohan. Seperti saya refleksikan dalam tulisan pendek “Situs-Ritus: Desa sebagai Pondasi Kebudayaan”, Tapan adalah prototipe desa-desa di Tulungagung. Pemilihan Tapan sebagai desa percontohan bukan semata-mata karena ketercukupan syarat modal sosial dan modal budaya. Sekali lagi, faktor kepemimpinan juga sangat menentukan.

Pak Mugiono, Kepada Desa Tapan (terpilih kembali), memainkan peran yang sangat menentukan dalam menggali dan mengolah semua sumber daya yang dimiliki, untuk menyukseskan proyek percontohan tersebut.

Acara kebudayaan yang digelar di Tapan berlangsung 7-10 September, bersamaan dengan rangkaian Grebeg Suran di situs Mbah Gilang, salah satu Danyangan yang masih sangat dihormati di desa tersebut.

Acara sudah dimulai pada 7 September 2019, dengan menggelar kesenian Jaranan di Dusun Melikan. Tidak kurang dari 1000 warga ikut menjadi bagian dari acara tersebut. Lalu, pada Mingggu, 8 September 2019, jam 09.00 WIB digelar Sarasehan Kebudayaan. Acara ini dimaksudkan untuk membedah jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk suatu ekosistem yang sehat di Tapan. Saya diminta untuk membedah dengan menggunakan perspektif Antropologi, sementara Mas Dwi Cahyono (Arkeolog Universitas Negeri Malang) melengkapi aspek kesejarahan. Sayangnya, Mas Dwi Cahyono berhalangan datang, sehingga perannya lebih banyak diwakili oleh Pak Hariadi, Kepala Museum Wajakensis Tulungagung.

Sarasehan semakin memberi pondasi yang kokoh bagi semangat yang besar dalam ‘memulihkan’ Tapan menjadi desa kebudayaan. Siang harinya, pada pukul 13.00 WIB, acara dilanjutkan dengan Grebeg Suran dengan melibatkan semua RT/RW di Tapan dan partisipasi tidak kurang dari 3000 warga.

Melihat geliat yang sedang berkembang di Tapan, saya semakin yakin dengan praanggapan saya sebelumnya, bahwa suatu desa yang masih memiliki Danyangan dengan segenap ritualnya, maka itulah tonggak pemajuan kebudayaan di desa. Seluruh ekspresi kesenian dan kegembiraan warga Tapan tumpah ruah di hajatan Grebeg Suran tersebut.

Rangkaian program desa berhulu kebudayaan ini ditutup dengan Pagelaran Wayang, mengangkat lakon “Wisanggeni Krido”, pada 10 September 2019. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Disbudpar Tulungagung, Heru Santoso. Hadir pula Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo. Juga perwakilan Dirjen Kebudayan, Dr. Restu Gunawan, M. Hum (Direktur Kesenian).

Kesuksesan menjadikan Tapan sebagai proyek percontohan, mendapat apresiasi yang besar dari segenap masyarakat. Juga dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Camat Kedungwaru bersama dengan Kepala Desa Tapan dengan segenap aktor-aktor kebudayaan, diundang secara khusus untuk menghadiri Pekan Kebudayaan Nasional, yang akan dihelat di Istora Senayan Jakarta, pada 7-13 Oktober 2013. Seluruh kesenian yang berkembang di Tapan juga akan ditampilkan dalam hajatan tersebut.

Kisah sukses ini juga tidak lepas dari keterlibatan Tim Perumus Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Tulungagung, terutama Mas Endin Didik Handoko, yang melakukan pendampingan tanpa henti terhadap komunitas-komunitas kesenian di Kecamatan Kedungwaru.

Begitulah, orkestrasi gerakan kebudayaan di level akar rumput yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah, telah menjadikan Tapan sebagai prototipe desa berhulu kebudayaan. Kesuksesan Tapan adalan kesuksesan Tulungagung. Juga kesuksesan Indonesia. Kisah sukses demikian tidak lagi bisa dipandang sebelah mata, apalagi ditertawakan, terutama bila yang menertawakan adalah para pemangku kebijakan di Tulungagung sendiri.

 

17 September 2019

Akhol Firdaus [Tim Perumus PPKD Tulungagung]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme