Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tradisi Ngitung Batih

Risma Fadlilatul Iffah []  Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Risma Fadlilatul Iffah [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Satu Suro tahun Saka penanggalan Jawa menjadi hari yang sakral bagi masyarakat Jawa. Berbagai upacara adat maupun tradisi diadakan untuk menyambut kedatangan bulan Suro. Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan dan diuri-uri masyarakat yaitu upacara adat Ngitung Batih. Salah satunya bisa ditemukan di masyarakat Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

Tradisi Ngitung Batih menjadi wujud kearifan lokal Bumi Menak Sopal. Ngitung Batih berasal dari kata Ngitung atau Ngetung yang berarti menghitung dan Batih yang bermakna anggota keluarga.

Jadi, Ngitung Batih merupakan adat istiadat yang digunakan untuk menghitung jumlah saudara. Tradisi ini dilakukan oleh semua elemen masyarakat tanpa terikat umur, jenis kelamin, jabatan dan perbedaan latar belakang. Ngitung Batih sendiri merupakan upaya pelestarian budaya adiluhung yang ada di tanah Jawa.

Filosofi Ngitung Batih merupakan sarana doa bagi masyarakat yang berharap jumlah saudara mereka bisa tetap sama pada tahun depannya dengan tetap diberikan keselamatan, kesejahteraan, murah rezeki dan terhindar dari mara bahaya.

Awal mula dilaksakannya tradisi ini diketahui sejak masa kerajaan Mataram. Dahulu di Kecamatan Dongko terjadi peperangan yang mengakibatkan jumlah warga Dongko semakin berkurang. Hal ini diduga lantaran warga Dongko menghilang pada malam hari atau emboh parane dalam bahasa masyarakat sekitar.

Menyikapi hal tersebut Sultan Hanyokrokusumo mengajak warga untuk memohon doa kepada Tuhan melalui sebuah ritual. Ritual doa tersebut berwujud lewat berbagai macam sesaji seperti takir plontang, jenang sengkolo, tumpeng, jenang waras, mule metri dan lainnya.

Yang mendasari diadakannya ritual doa tersebut karena warga setempat mayoritas tidak bisa membaca dan menulis, oleh karena itu perwujudan doa kepada Tuhan direalisasikan dalam bentuk sesaji untuk mempermudah warga dalam meminta pertolongan kepada Tuhan. Doa yang dipanjatkan bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar terhindar dari mara bahaya sekaligus menghitung jumlah keluarga yang masih tersisa akibat terjadinya perang.

Ngitung Batih menjadi tradisi yang memiliki makna mendalam dan begitu disakralkan oleh masyarakat sekitar. Ngitung Batih dilakukan dengan mengarak 40 takir plontang berupa biji-bijian, umbi-umbian dan sebagainya yang dibawa oleh dayang-dayang yang merupakan simbol dari anggota keluarga yang turut ikut serta dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Takir adalah tempat menaruh nasi lengkap dengan lauk-pauk, yang terbuat dari daun  pisang. Biasanya berbentuk kotak persegi panjang dan dihiasi janur kuning.

Selain takir plontang, jodang hasil bumi yang saat ini disimbolkan dalam bentuk jajanan pasar turut menjadi sarana tradisi ini yang nanti dalam perjalanan akan diperebutkan oleh warga masyarakat yang berjejer di rute arak-arakan. Selain itu, masyarakat Dongko juga merayakan gebyar Suro dengan memasang panjang Ilang di setiap rumah yang menggambarkan prosesi upacara sedang berlangsung.

Panjang Ilang adalah nama keranjang yang terbuat dari anyaman janur. Di dalam Panjang Ilang terdapat takir plontang yang merupakan simbol keanekaragaman alam. Ini menjadi cerminan bahwa tradisi Ngitung Batih tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat dengan sangat antusias.

Antusiasme masyarakat sangat kentara, terlihat saat mereka turut ikut serta dalam prosesi berebut hasil sedekah bumi dan hewan ternak yang dibagikan dengan berharap agar mendapat keberkahan. Satu lagi prosesi dari acara Ngitung Batih yaitu tradisi pelepasan hewan ternak. Pelepasan hewan ternak dilakukan oleh pemimpin masyarakat, kemudian hewan ternak tersebut akan diperebutkan dan dinikmati bersama-sama. Hewan ternak yang digunakan biasanya adalah ayam. Pelepasan hewan ternak bermakna agar kegiatan yang dilakukan tiap tahun mendapat berkah.

Pelaksanaan ritual diawali dengan diaraknya sarana ritual atau sesaji yaitu takir plontang, jenang waras, jenang sengkolo, mule metri, serta tumpeng yang berisi biji-bijian dan hasil bumi. Sarana ritual tersebut menyimpan makna masing-masing. Jenang Sengkolo yaitu jenang abang putih merupakan ungkapan sebuah doa atau penyerahan diri kepada Tuhan agar selalu diberi keberkahan dan keselamatan. Jenang Sengkolo merupakan simbol bahwa manusia dari sari pati bumi yang melalui darah ibu (berwarna merah dari gula jawa) dan darah putih dari ayah (warna putih dari santan).

Adapun mule metri merupakan bentuk sarana memuliakan arwah para leluhur yang dilakukan untuk memohon akan keberhasilan keberlangsungan suatu acara. Sarana ritual ini diarak dari balai Desa Dongko mengelilingi Kecamatan Dongko dan berakhir di Pendopo Kecamatan Dongko. Setelah tiba di Kecamatan Dongko tradisi Ngitung Batih dilaksanakan dengan disaksikan langsung oleh pejabat pemerintahan seperti Bupati.

Di sini tali persaudaraan dan kekerabatan terjalin melalui suatu interaksi secara langsung. Acara diakhiri dengan prosesi pelemparan hewan ternak. Bukan hanya itu, berbagai kesenian daerah seperti tari tradisional yaitu tari Turonggo Yakso yang merupakan salah satu kesenian khas Dongko juga turut ditampilkan serta wayang, kembang api dan beberapa acara keagamaan lainnya.

Tradisi ini disambut baik oleh semua kalangan, termasuk kalangan muda. Interaksi secara langsung bahkan kepada orang terdekat seperti tetangga sudah jarang dilakukan pada masa kini. Dengan tradisi ini masyarakat bisa berbagi pengalaman, cerita atau bahkan ilmu yang berguna satu dengan yang lainnya.

Budaya leluhur mengajarkan untuk hidup gotong royong saling bahu membahu. Melestarikan kearifan lokal menjadi salah satu sarana bagi kita untuk mempertahankan identitas diri yang sebenarnya. Zaman yang semakin maju mampu menggerus nilai-nilai dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang agar tetap dijaga dan dirawat. Generasi berikutnya yang akan menjadi penentu bagaimana identitas diri akan tetap lestari. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme