Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

catatan kegiatan

Seminar Kebangsaan untuk Generasi Milenial

Seminar KebangsaanSaya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, IAIN Tulungagung, termasuk segenap jaringan alumni.

Seminar Kebangsaan bertajuk ‘Saya Remaja, Saya Indonesia, Saya Pancasila’ yang dihelat pada Selasa 17 April 2018, adalah inisiatif dan karya intelektual mereka, para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan, juga Forum Perempuan Filsafat (FPF), dan para peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR).

Acara seminar merupakan rangkaian dari sayembara esai dan cerpen yang kami selenggarakan untuk siswa Sekolah Menegah Atas (SMA) dan sederajat di ex-Karesidenan Kediri, meliputi wilayah Tulungagung dan Trenggalek. Sayembara ini disambut dengan antusias oleh sekolah-sekolah partner. Siswa-siswa mengirimkan esai dan cerpen mereka dengan tema sama, ‘Saya Remaja, Saya Indonesia, Saya Pancasila’.

(more…)

Klinik Reportase untuk Mendokumentasi Geliat Inovasi

Sesi Pembukaan Klinik Reportase

Sesi Pembukaan Klinik Reportase

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) mengelar Klinik Reportase (1), Jumat-Minggu, 6-8 April 2018 di ruang short course IJIR. Acara ini merupakan sharing program bersama dengan tiga jurusan di lingkungan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah, yakni Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Sosiologi Agama, dan Sejarah Peradaban Islam.

Selama tiga hari penuh, 22 peserta dari lintas Jurusan di IAIN Tulungagung, berlatih merencanakan dan melakukan reportase dengan tema ‘geliat inovasi di IAIN Tulungagung’. Tema ini sengaja dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk mendokumentasikan dinamika dan perkembangan yang sedang berlangsung di kampus tercinta.

Klinik Reportase difasilitasi oleh para peneliti muda IJIR sejak dari tahap perencanaan hingga penulisan. Sampai laporan ini ditulis, 22 peserta Klinik masih berlatih melakukan reportase dengan berbagai tema.

Acara dibuka oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR, pada Jumat, 6 April 2018. Sambil memperkenalkan Klinik Menulis, Akhol menyampaikah bahwa skill reportase sangat dibutuhkan oleh IAIN dalam rangka mendokumentasikan secara utuh semua transformasi yang sedang berlangsung di IAIN Tulungagung. Skill reportase juga sangat dibutuhkan oleh IJIR untuk kepentingan pendokumentasian obyek-obyek kebudayaan yang sedang dilakukan oleh lembaga ini.

Para peserta Klinik sekaligus akan dilibatkan dalam program-program jangka panjang pendokumentasian obyek-obyek kebudayaan. Hal ini terkait dengan semangat IJIR dalam rangka mengokohkan pusat data dan informasi tentang kebudayaan Islam Jawa. []

Silaturahmi dan Studi Banding P3M IAIT Kediri

Studi Banding P3M IAIT Kediri

Studi Banding P3M IAIT Kediri

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) menerima kunjungan silaturahmi dan studi banding dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Lirboyo, Kediri, Jumat, 06 April 2018.

Studi banding tersebut diwarnai diskusi yang panjang terkait dengan rencana pendirian lembaga riset pesantren dan manuskrip yang akan segera didirikan oleh P3M Tribakti. Kampus berbasis pesantren di jantung kota Kediri tersebut memiliki sumber daya yang melimpah untuk mendirikan pusat studi yang konsen pada isu pesantren dan kitab kubing.

IJIR mendapat kehormatan besar karena dipilih sebagai lembaga model yang dirujuk dalam rangka pendirian pusat studi di IAIT Kediri. Hadir dalam kegiatan studi tersebut, Edi Nurhidin, M.Ag, Sekretaris P3M bersama dengan tiga orang dosen muda IAIT Kediri. Dr. A. Rizqon Khamami, Dekan FUAD, juga terlibat dalam diskusi.

Direktur IJIR, Akhol Firdaus, berbagi pengalaman dan memberikan saran-saran terkait langkah awal pendirian pusat kajian. “Mendirikan pusat kajian harus digerakan oleh imajinasi yang besar,” begitu pesannya di sela-sela obrolan.

Ke depan, lembaga yang akan fokus pada kajian pesantren dan manuskrip tersebut, akan terus menjadi partner strategis IJIR dalam menjadikan wilayah Mataraman, Kediri dan Tulungagung, sebagai laboratorium hidup yang akan menyedot perhatian para peneliti di kedua lembaga. []

Catatan Klinik Menulis [1]: PRC, Rupanya Kepanjangan dari Pe eR Ceriuus (Banget)

Klinik Buka

Klinik Buka

Peer Review Community (PRC) menggelar kegiatan Klinik Menulis bersama Amanah Nurish, Ph.D, pada 30 Maret 2018 di ruang workshop Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung. Amanah Nurish –atau akrab disapa Djeng Nurish merupakan antropolog Agama sekaligus peneliti di Arizona State University yang fokus pada isu-isu agama minoritas di Asia Tenggara.

Pada sesi pembukaan, Akhol Firdaus selaku direktur PRC menegaskan bahwa program yang dikembangkan oleh PRC merupakan kerja panjang. Adapun klinik menulis ini merupakan satu di antara sekian banyak program yang menghadirkan ahli dalam dunia penelitian dan penulisan jurnal ilmiah.

(more…)

Sarasehan Kebudayaan: Menuju Grebeg Bhinneka Tunggal Ika

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) bersama dengan MLKI Tulungagung menggelar Sarasehan Kebudayaan di kantor Perpusatakaan Daerah Kabupaten Tulungagung. Sarasehan yang dilaksanakan pada Selasa, 28 November 2017 tersebut, diikuti oleh perwakilan lintas umat dan tokoh-tokoh masyarakat dan pelaku kebudayaan Tulungagung. Sarasehan digelar dalam rangka mematangkan agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika.

Acara dibuka dengan sambutan Ir. Sukriston, ketua MLKI Tulungagung, yang menjelaskan tentang agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, Tulungagung sudah saatnya memiliki ikon tersendiri layaknya kota-kota lain. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika diproyeksikan sebagai ikon dan identitas Tulungagung yang diyakini sebagai lokus utama pematangan ajaran Bhinneka Tunggal Ika di masa lampau. Pandangan ini tentu saja merujuk hasil penelitian IJIR bertajuk “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara”. Hasil riset tersebut sudah diterbitkan dalam bentuk buku pada 1 Juni 2017 lalu. Hematnya, penelitian IJIR telah memberikan landasan yang kokoh bagi masyarakat tentang Tulungagung sebagai Kota Bhinneka.

IMG-20171128-WA0016

Sesi berikutnya, Direktur IJIR, Akhol Firdaus, menjelaskan konteks kelahiran penelitian itu. Baginya, penelitian diilhami dari deklarasi Tulungagung sebagai Kota Bhinneka di IAIN Tulungagung pada 7 November 2016. Akhol bercerita betapa sulit mengatasi keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ia jujur bahwa bukan jebolan fakultas sejarah dan dipaksa mempelajari ilmu sejarah. Namun penelitian yang digawanginya, secara akademik bisa dipertanggungjawabkan.

Hasil penelitian, sebagaimana dijelaskan Akhol, menyuguhkan kesimpulan bahwa Tulungagung adalah lokus penting dalam pematangan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Narasi Bhinneka Tunggal Ika juga dianggap sebagai ajaran “suci” yang mata-rantainya bisa dilacak sejak zaman Raja Airlangga. Spirit ajaran itu adalah imajinasi tentang keutuhan. Akhol menjelaskan bagaimana perang kerajaan-kerajaan di Jawa tanpa akhir dan memberi inspirasi untuk bersatu. Baru di tangan Ranggah Rajasa dan Kertanegara perang itu bisa redam. Ajaran bhinneka tunggal ika dan penyatuan Nusantara itu sendiri lalu diawetkan oleh tokoh agung, putri Kertanegara, Sri Gayatri Rajapatni. Salah satu candi pendarmaan tokoh tersebut berada di Boyolangu, Tulungagung, dan masih lestari hingga saat ini.

Singkatnya, Akhol ingin menjelaskan bagaimana ajaran “suci” Bhinneka Tunggal Ika sampai di tangan Gayatri Rajapatni. Ajaran tersebut menurut Akhol dirawat dengan baik dalam tradisi ziarah. Tradisi ziarah menyiratkan upaya-upaya untuk selalu terkoneksi dengan masa lalu. Masih menurut Akhol, ajaran Bhinneka Tunggal Ika dirawat dan lestari di Tulungagung. Hal ini berasal dari bukti-bukti arkeologis dan literatur yang menegskan bahwa Tulungagung adalah kawasan Karsian atau tempat para rsi (guru spiritual) sejak zaman Airlangga hingga imperium Majapahit berkuasa.

IMG-20171128-WA0028-a

Akhol di akhir penjelasan memantapkan rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika di Tulungagung. Baginya Grebeg adalah cara untuk mengarusutamakan Tulungagung sebagai kota Bhinneka. Ia meyakini ajaran-ajaran di dalamnya bisa didistribusikan melalui festival kebudayaan, bernama Grebeg.  Acara semakin meriah, setelah Akhol selesai menjelaskan hasil dan konteks penelitian dilakukan. Lalu beberapa peserta sarasehan memberi pendapat, saran dan juga pertanyaan. Rata-rata peserta banyak mengomentari dan mengkonfirmasi konten ataupun hasil riset tersebut. Menariknya acara tersebut mempertemukan pelbagai elemen masyarakat untuk duduk bersama membicarakan Bhinneka Tunggal Ika dalam satu frame. Kemudian acara dilanjutkan dengan koordinasi rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika yang menjadikan kampus IAIN Tulungagung sebagai titik jumpa seluruh elemen masyarakat dan kebudayaan di Tulungagung dan kawasan Mataraman. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri akan dihelat pada 23 Desember 2017 []

Khoirul Fata

Kongres Mahasiswa Filsafat Pertama di Indonesia

Selama dua hari, 27-28 Oktober 2017, mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan “Kongres dan Deklarasi Mahasiswa Filsafat Nasional”. Ini hajatan penting karena inilah momentum pertama mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan kongres. Acara dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat (AFI) Institut Agama Islam Negeri Tulungagung.

Kongres dan Deklarasi sengaja diselenggarakan bertepatan dengan momentum Soempah Pemoeda. Mahasiswa-mahasiswa jurusan filsafat dari berbagai Perguruan Tinggi se-Indonesia ini sengaja mengambil spirit Soempah Pemoeda untuk membentuk wadah nasional.

(more…)

Workshop dan Kelas Menulis “Intoleransi dan Kekerasan atas Nama Agama” Qureta

Layaknya kaum Sophis Yunani kuno, sesekali perlulah kiranya untuk berkunjung melancong ke berbagai kota. Bukan mendarmakan ilmu pengetahuan demi rupiah, melainkan menengok langsung denyut ilmu pengetahuan yang bergejolak di seberang lain. Demi ilmu pengetahuanlah, saya harus menuntaskan perjalanan ini.

Pada mulanya, saya mendapatkan informasi mengenai Workshop Agama dan Intoleransi Melalui WhatsApp group Javanesse Islam Reserach. Berbekal esai sederhana 600 kata, pihak panitia dari Qureta memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti kegiatan ini. Workshop ini digelar di Hotel Onih-Bogor pada 21 hingga 23 Juli 20117. Workshop inilah yang mebuat saya rela duduk berjam-jam di kursi kereta api menuju kota Bogor.

Di antara 24 peserta lainnya, rupanya saya adalah satu-satunya peserta yang berasal dari Jawa Timur. Masih sedikit pula yang mengenal kota Tulungagung. Hal ini lantas tidak membuat saya ciut, saya cukup berbangga untuk mengenalkan Tulungagung dan Institute for Javanesse Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung. Sebagai lembaga yang menempa saya, IJIR mendapatkan sambutan yang baik. Usman Hamid selaku ketua Amnesty Internasional Indonesia juga merupakan narasumber workshop turut memberikan apresiasi bagi adanya IJIR sebagai lembaga penelitian. Banyak dari teman-teman peserta maupun panitia yang mengapresiasi, walaupun kebanyakan belum begitu mengerti mengenai kajian yang kami (IJIR) kembangkan, yakni mengenai Islam Jawa.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme