Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

catatan kegiatan

Klinik Menulis Babad Desa

Klinik Menulis bertema “Babad Desa dan Tutur Lisan” diselenggarakan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada Jumat-Sabtu, 12-13 Oktober 2018, di Aula Rektorat IAIN Tulungagung.

Klinik diikuti oleh 92 peserta dari tiga jurusan, Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Sosiologi Agama (SA), dan Sejarah Peradaban Islam (SPI). Selama dua hari, mahasiswa semester 1 tersebut mengikuti materi Klinik yang dikawal langsung oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR.

Ini tercatat sebagai kegiatan Klinik dengan peserta terbayak. Meski begitu, setelah proses berlangsung dua hari, jumlah 92 peserta tersebut secara alamiah terseleksi tinggal 40 peserta. Mereka akan mengikuti tahapan follow-up sehingga setiap mahasiswa menghasilkan tulisan babad desa. []

1ead50d8-b827-4944-80b6-cf88fc0c4335

 

 

Kethoprak Nyiswobudoyo: Ikhtiar Menghidupkan Warisan

Upaya menghidupkan warisan Kethoprak Siswobudoyo terus dilakukan oleh Sanggar Pariangung. Di samping menjadikan Kethoprak sebagai salah satu sumber pendidikan karakter, Pariagung juga menggelar seminar dan pertunjukan Kethoprak sebagai upaya menghidupkan kembali warisan seni tradisi tersebut.

Seminar bertajuk “Kethoprak dan Kajian Sejarah Epos Panti Patipati dan Amukti Palapa” digelar pada Kamis, 27 September 2018, di Gedung Balai Rakyat Tulungagung. Seminar menghadirkan Sunarko (Seniman) dan Andy Prasetya (Seniman) dengan membedah tema “Taksonomi Tradisi Kethoprak Nyiswobudoyo”.

Istilah Nyiswobudoyo sengaja dipilih sebagai penghormatan terhadap pendiri dan para seniman Kethoprak Siswobudaya yang dianggap telah mewariskan khazanah seni tradisi yang tak ternilai harganya.

Edong

Gedong Maulana Kabir, Peneliti IJIR, didaulat untuk menjadi fasilitator acara seminar tersebut. Acara ini berhasil membangkitkan memori dan kegairahan baru di kalangan anak-anak muda untuk kembali mencintai Kethoprak, dan terutama menggali pelajaran dari lakon-lakon seni drama tradisional tersebut.

Pada Sabtu, 29 September 2018, Sanggar Pariagung benar-benar mewujudkan pagelaran Kethoprak Nyiswobudoyo dengan lakon “Panji Patipati Pu Kapat Maniti Amukti Palapa”. Menariknya, para aktor merupakan generasi lintas generasi penerus Kethoprak Tulungagung.

Lebih menarik lagi, lakon “Panji Patipati Pu Kapat Maniti Amukti Palapa” diinspirasi—salah satunya—oleh hasil penelitian Institute for Javanese Islam Research (IJIR) terkait dengan pondasi Bhinneka Tunggal Ika dan Cakrawala Mandala Nusantara yang digali dari bumi Tulungagung. []

Revitalisasi Kethoprak untuk Pendidikan Karakter

Sanggar Pariagung  bersama dengan Invira Humania—salah satu lembaga konsultan berbasis di Surabaya, menggelar seminar bertajuk “Pendidikan Karakter 100 Tahun Indonesia Merdeka”, Rabu, 26 September di Gedung Balai Rakyat, Tulungagung.

Seminar sesungguhnya merupakan upaya merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam lakon Kethoprak yang digali oleh Sanggar Pariagung. Seminar dihadiri 350 peserta dari kalangan guru Mata Pelajaran PPKn, IPS, dan Seni Tradisi di semua sekolah menengah di Tulungagung.

1. Seminar Pendidikan Karakter

Akhol Firdaus, Direktur IJIR, didaulat sebagai moderator sekaligus pembahas pokok-pokok pikiran yang berkembang dalam seminar. Acara ini di bagi dalam dua sesi. Sesi pertama (pagi hari) memaparkan eksperimen-eksperimen pendidikan karakter yang berbasis Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Menghadirkan narasumber: [1] Satriani, M.Pd (Kepala Sekolah SMP Pawiyatan Daha); [2] Agnes Purbasari (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila); [3] Eva Kusuma Sundari (Kaukus Pancasila), sekaligus sebagai keynote speaker.

Sesi kedua (siang hari) memaparkan upaya revitalisasi kebudayaan dengan memperhatikan ekosistem seni tradisi, sekaligus menjadikan kebudayaan sebagai basis utama pengembangan ekonomi. Menghadirkan narasumber: [1] Rumayya Batubara, Ph.D. (Dosen Unair); [2] Dwi Cahyono, M.Hum (Arkeolog, Dosen Universitas Negeri Malang).

Dwi Cahyono secara khusus didaulat untuk membedah riwayat Mapanji Pati-Pati sebagai tokoh utama sekaligus arsitek politik dalam epos penyatuan Nusantara, dari periode Sri Wisnuwardhana hingga keluarnya sumpah Amukti Palapa pada masa Hayam Wuruk. Inilah lakon yang sekaligus dijadikan sebagai materi pementasan Kethoprak yang digelar pada tanggal 29 September di tempat yang sama oleh Sanggar Pariagung. []

Seminar Kebangsaan untuk Generasi Milenial

Seminar KebangsaanSaya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, IAIN Tulungagung, termasuk segenap jaringan alumni.

Seminar Kebangsaan bertajuk ‘Saya Remaja, Saya Indonesia, Saya Pancasila’ yang dihelat pada Selasa 17 April 2018, adalah inisiatif dan karya intelektual mereka, para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan, juga Forum Perempuan Filsafat (FPF), dan para peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR).

Acara seminar merupakan rangkaian dari sayembara esai dan cerpen yang kami selenggarakan untuk siswa Sekolah Menegah Atas (SMA) dan sederajat di ex-Karesidenan Kediri, meliputi wilayah Tulungagung dan Trenggalek. Sayembara ini disambut dengan antusias oleh sekolah-sekolah partner. Siswa-siswa mengirimkan esai dan cerpen mereka dengan tema sama, ‘Saya Remaja, Saya Indonesia, Saya Pancasila’.

(more…)

Klinik Reportase untuk Mendokumentasi Geliat Inovasi

Sesi Pembukaan Klinik Reportase

Sesi Pembukaan Klinik Reportase

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) mengelar Klinik Reportase (1), Jumat-Minggu, 6-8 April 2018 di ruang short course IJIR. Acara ini merupakan sharing program bersama dengan tiga jurusan di lingkungan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah, yakni Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Sosiologi Agama, dan Sejarah Peradaban Islam.

Selama tiga hari penuh, 22 peserta dari lintas Jurusan di IAIN Tulungagung, berlatih merencanakan dan melakukan reportase dengan tema ‘geliat inovasi di IAIN Tulungagung’. Tema ini sengaja dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk mendokumentasikan dinamika dan perkembangan yang sedang berlangsung di kampus tercinta.

Klinik Reportase difasilitasi oleh para peneliti muda IJIR sejak dari tahap perencanaan hingga penulisan. Sampai laporan ini ditulis, 22 peserta Klinik masih berlatih melakukan reportase dengan berbagai tema.

Acara dibuka oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR, pada Jumat, 6 April 2018. Sambil memperkenalkan Klinik Menulis, Akhol menyampaikah bahwa skill reportase sangat dibutuhkan oleh IAIN dalam rangka mendokumentasikan secara utuh semua transformasi yang sedang berlangsung di IAIN Tulungagung. Skill reportase juga sangat dibutuhkan oleh IJIR untuk kepentingan pendokumentasian obyek-obyek kebudayaan yang sedang dilakukan oleh lembaga ini.

Para peserta Klinik sekaligus akan dilibatkan dalam program-program jangka panjang pendokumentasian obyek-obyek kebudayaan. Hal ini terkait dengan semangat IJIR dalam rangka mengokohkan pusat data dan informasi tentang kebudayaan Islam Jawa. []

Silaturahmi dan Studi Banding P3M IAIT Kediri

Studi Banding P3M IAIT Kediri

Studi Banding P3M IAIT Kediri

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) menerima kunjungan silaturahmi dan studi banding dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Lirboyo, Kediri, Jumat, 06 April 2018.

Studi banding tersebut diwarnai diskusi yang panjang terkait dengan rencana pendirian lembaga riset pesantren dan manuskrip yang akan segera didirikan oleh P3M Tribakti. Kampus berbasis pesantren di jantung kota Kediri tersebut memiliki sumber daya yang melimpah untuk mendirikan pusat studi yang konsen pada isu pesantren dan kitab kubing.

IJIR mendapat kehormatan besar karena dipilih sebagai lembaga model yang dirujuk dalam rangka pendirian pusat studi di IAIT Kediri. Hadir dalam kegiatan studi tersebut, Edi Nurhidin, M.Ag, Sekretaris P3M bersama dengan tiga orang dosen muda IAIT Kediri. Dr. A. Rizqon Khamami, Dekan FUAD, juga terlibat dalam diskusi.

Direktur IJIR, Akhol Firdaus, berbagi pengalaman dan memberikan saran-saran terkait langkah awal pendirian pusat kajian. “Mendirikan pusat kajian harus digerakan oleh imajinasi yang besar,” begitu pesannya di sela-sela obrolan.

Ke depan, lembaga yang akan fokus pada kajian pesantren dan manuskrip tersebut, akan terus menjadi partner strategis IJIR dalam menjadikan wilayah Mataraman, Kediri dan Tulungagung, sebagai laboratorium hidup yang akan menyedot perhatian para peneliti di kedua lembaga. []

Catatan Klinik Menulis [1]: PRC, Rupanya Kepanjangan dari Pe eR Ceriuus (Banget)

Klinik Buka

Klinik Buka

Peer Review Community (PRC) menggelar kegiatan Klinik Menulis bersama Amanah Nurish, Ph.D, pada 30 Maret 2018 di ruang workshop Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung. Amanah Nurish –atau akrab disapa Djeng Nurish merupakan antropolog Agama sekaligus peneliti di Arizona State University yang fokus pada isu-isu agama minoritas di Asia Tenggara.

Pada sesi pembukaan, Akhol Firdaus selaku direktur PRC menegaskan bahwa program yang dikembangkan oleh PRC merupakan kerja panjang. Adapun klinik menulis ini merupakan satu di antara sekian banyak program yang menghadirkan ahli dalam dunia penelitian dan penulisan jurnal ilmiah.

(more…)

Sarasehan Kebudayaan: Menuju Grebeg Bhinneka Tunggal Ika

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) bersama dengan MLKI Tulungagung menggelar Sarasehan Kebudayaan di kantor Perpusatakaan Daerah Kabupaten Tulungagung. Sarasehan yang dilaksanakan pada Selasa, 28 November 2017 tersebut, diikuti oleh perwakilan lintas umat dan tokoh-tokoh masyarakat dan pelaku kebudayaan Tulungagung. Sarasehan digelar dalam rangka mematangkan agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika.

Acara dibuka dengan sambutan Ir. Sukriston, ketua MLKI Tulungagung, yang menjelaskan tentang agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, Tulungagung sudah saatnya memiliki ikon tersendiri layaknya kota-kota lain. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika diproyeksikan sebagai ikon dan identitas Tulungagung yang diyakini sebagai lokus utama pematangan ajaran Bhinneka Tunggal Ika di masa lampau. Pandangan ini tentu saja merujuk hasil penelitian IJIR bertajuk “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara”. Hasil riset tersebut sudah diterbitkan dalam bentuk buku pada 1 Juni 2017 lalu. Hematnya, penelitian IJIR telah memberikan landasan yang kokoh bagi masyarakat tentang Tulungagung sebagai Kota Bhinneka.

IMG-20171128-WA0016

Sesi berikutnya, Direktur IJIR, Akhol Firdaus, menjelaskan konteks kelahiran penelitian itu. Baginya, penelitian diilhami dari deklarasi Tulungagung sebagai Kota Bhinneka di IAIN Tulungagung pada 7 November 2016. Akhol bercerita betapa sulit mengatasi keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ia jujur bahwa bukan jebolan fakultas sejarah dan dipaksa mempelajari ilmu sejarah. Namun penelitian yang digawanginya, secara akademik bisa dipertanggungjawabkan.

Hasil penelitian, sebagaimana dijelaskan Akhol, menyuguhkan kesimpulan bahwa Tulungagung adalah lokus penting dalam pematangan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Narasi Bhinneka Tunggal Ika juga dianggap sebagai ajaran “suci” yang mata-rantainya bisa dilacak sejak zaman Raja Airlangga. Spirit ajaran itu adalah imajinasi tentang keutuhan. Akhol menjelaskan bagaimana perang kerajaan-kerajaan di Jawa tanpa akhir dan memberi inspirasi untuk bersatu. Baru di tangan Ranggah Rajasa dan Kertanegara perang itu bisa redam. Ajaran bhinneka tunggal ika dan penyatuan Nusantara itu sendiri lalu diawetkan oleh tokoh agung, putri Kertanegara, Sri Gayatri Rajapatni. Salah satu candi pendarmaan tokoh tersebut berada di Boyolangu, Tulungagung, dan masih lestari hingga saat ini.

Singkatnya, Akhol ingin menjelaskan bagaimana ajaran “suci” Bhinneka Tunggal Ika sampai di tangan Gayatri Rajapatni. Ajaran tersebut menurut Akhol dirawat dengan baik dalam tradisi ziarah. Tradisi ziarah menyiratkan upaya-upaya untuk selalu terkoneksi dengan masa lalu. Masih menurut Akhol, ajaran Bhinneka Tunggal Ika dirawat dan lestari di Tulungagung. Hal ini berasal dari bukti-bukti arkeologis dan literatur yang menegskan bahwa Tulungagung adalah kawasan Karsian atau tempat para rsi (guru spiritual) sejak zaman Airlangga hingga imperium Majapahit berkuasa.

IMG-20171128-WA0028-a

Akhol di akhir penjelasan memantapkan rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika di Tulungagung. Baginya Grebeg adalah cara untuk mengarusutamakan Tulungagung sebagai kota Bhinneka. Ia meyakini ajaran-ajaran di dalamnya bisa didistribusikan melalui festival kebudayaan, bernama Grebeg.  Acara semakin meriah, setelah Akhol selesai menjelaskan hasil dan konteks penelitian dilakukan. Lalu beberapa peserta sarasehan memberi pendapat, saran dan juga pertanyaan. Rata-rata peserta banyak mengomentari dan mengkonfirmasi konten ataupun hasil riset tersebut. Menariknya acara tersebut mempertemukan pelbagai elemen masyarakat untuk duduk bersama membicarakan Bhinneka Tunggal Ika dalam satu frame. Kemudian acara dilanjutkan dengan koordinasi rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika yang menjadikan kampus IAIN Tulungagung sebagai titik jumpa seluruh elemen masyarakat dan kebudayaan di Tulungagung dan kawasan Mataraman. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri akan dihelat pada 23 Desember 2017 []

Khoirul Fata

Kongres Mahasiswa Filsafat Pertama di Indonesia

Selama dua hari, 27-28 Oktober 2017, mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan “Kongres dan Deklarasi Mahasiswa Filsafat Nasional”. Ini hajatan penting karena inilah momentum pertama mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan kongres. Acara dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat (AFI) Institut Agama Islam Negeri Tulungagung.

Kongres dan Deklarasi sengaja diselenggarakan bertepatan dengan momentum Soempah Pemoeda. Mahasiswa-mahasiswa jurusan filsafat dari berbagai Perguruan Tinggi se-Indonesia ini sengaja mengambil spirit Soempah Pemoeda untuk membentuk wadah nasional.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme