Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

catatan kegiatan

Studi Banding Institut Agama Islam (IAI) Uluwiyah Mojokerto

Institut Agama Islam (IAI) Uluwiyah Mojokerto melakukan studi banding di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, Jumat, 28 Desember 2018, di kantor IJIR. Studi banding dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang secara khusus membahas soal manajemen penelitian dan pengabdian masyarakat yang sudah dikembangkan oleh IJIR.

Delapan dosen dari lintas jurusan bersama dengan wakil Yayasan Uluwiyah diterima oleh Budi Harianto (Kajur Sosiologi Agama) dan Gedong Maulana Kabir (peneliti IJIR) dalam FGD yang berlangsung selama dua sesi tersebut. Hasil FGD diharapkan bisa menjadi pengayaan atas upaya penting melahirkan Pusat Studi yang akan berkontribusi bagi kekhasan IAI Uluwiyah Mojokerto.

Direktur IJIR, Akhol Firdaus, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tinggi kepada IAI Uluwiyah atas berbagai inisiatif untuk membangun kerja sama di bidang penelitian, khususnya terkait dengan isu Islam lokal. []

FOTO

‘Patah Tumbuh Hilang Berganti’: Dinamika Seni Tradisi

Itulah tema Jagongan Budaya edisi perdana yang diselenggarakan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, Senin, 10 Desember 2018, pukul 19.00 WIB. Jagongan Budaya sendiri dirancang sebagai forum yang mempertemukan budayawan dan pekerja seni di Tulungagung, dan akan digelar secara berkala.

Hadir sebagai pembicara, Drs. Untung Mulyono, M.Hum, pakar seni tradisi asli Tulungagung dan dosen senior di ISI Yogyakarta. Pembicara juga dikenal sebagai pendiri Sanggar Tari Kembang Sore. Berbekal pengalaman sebagai pelaku seni tradisi sejak usia belia, Untung Mulyono berbagi perspektif tentang fenomena seni tradisi yang ‘patah tumbuh hilang berganti’, di hadapan 40an peserta Jagongan Budaya.

(more…)

Membumikan Pancasila di Sekolah

Kaukus Pancasila, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, mengambil langkah penting mendorong sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan. Langkah penting tersebut diwujudkan dalam One Day Workshop “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Integrasi Nilai Pancasila dalam Kurikulum 2013”.

Workshop tersebut pertama kali diujicobakan untuk 250an guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh Kabupaten Tulungagung, pada Senin 19 November 2018, di Aula Gedung KH. Saifuddin Zuhri, IAIN Tulungagung. Kegiatan tersebut dilakukan secara kolegial bersama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rumah Belajar Pariagung, dan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung.

Hadir sebagai keynote speaker, Eva Kusuma Sundari, Ketua Kaukus Pancasila, MPR-RI. Workshop sekaligus menghadirkan Dr. Rima Agristina, Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Erma Susanti—pemerhati isu perempuan dan anak Jawa Timur, serta Satriani, M.Pd, Kepala SMP Pawiyatan Daha Kediri. Acara workshop dimoderatori oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR.

(more…)

Pentas Kethoprak Kolosal “Banjaran Penangsang”

Inilah suasana pegelaran kolosal Kethoprak Siswo Budoyo yang mengangkat lakon “Banjaran Penangsang”. Pentas digelar di lapangan IAIN Tulungagung, Sabtu, 10 November 2018, mulai pukul 20.00 –  02.00 WIB, dini hari. Penyelenggara hajatan ini adalah PT Forum Indonesia Pers bekerja sama dengan Keluarga Besar Siswo Budoyo.

foto 3

Photo 1. Suasana meriah pentas kolosal Kethoprak Siswo Budoyo yang mengangkat lakon “Banjaran Penangsang;

Photo 2. Salah satu adegan ketika Sunan Giri mengangkat Trenggono sebagai Sultan Demak yang akan melahirkan berbagai reaksi pembangkangan Aryo Penangsang;

Photo 3 dan 4. Adegan-adegan peperangan antara Aryo Penangsang bersama pasukan Jipang terhadap Hadiwijaya bersama pasukan Pajang;

Photo 5. Retno Kencono alias Ratu Kalinyamat berhadapan dengan Aryo Penangsang sebelum melakukan topo wudo sinjang rambut untuk mendapatkan keadilan dari Tuhan karena kematian saudara dan suaminya di tangan Aryo Penangsang;

Photo 6. Aryo Penangsang tewas oleh kerisnya sendiri, keris Setan Kober, setelah sebelumnya terkena tombak Kyai Pleret (Photo 5.) milik Surawijaya.

 

Klarifikasi

Sekadar catatan, IAIN Tulungagung bukanlah panitia penyelenggara pentas kolosal tersebut. PT Forum Indonesia mengajukan permohonan kepada IAIN agar pihak kampus memberikan fasilitas tempat untuk pagelaran. Sesuai dengan visi pengembangan kampus IAIN yang terbuka terhadap pegembangan kebudayaan, pentas tersebut akhirnya benar-benar digelar di lapangan kampus.

Ini sekaligus mengklarifikasi bahwa pihak IAIN Tulungagung bukan bagian dari managemen acara. Bila beredar informasi terkait dengan penjualan tiket di berbagai kalangan masyarakat dan lembaga pendidikan, hal tersebut di luar tanggung jawab IAIN Tulungagung. []

Sarasehan Budaya “Revitalisasi Kethoprak”

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung bersama dengan Keluarga Besar Siswo Budoyo menggelar Sarasehan Budaya bertajuk “Revitalisasi Kethoprak: Siswo Budoyo dan Masa Depan Kethoprak di Indonesia” pada Sabtu, 10 November 2018, di Aula Utama IAIN Tulungagung. Acara ini menjadi sangat spesial karena dihadiri oleh para seniman Siswo Budoyo dan keluarga Ki Siswondho Hardjosoewito, pendiri Siswo Budoyo.

Hadir sebagai wakil keluarga Pak Sis, Dr. Endang Warianti putri Ki Siswondo yang kini menjalani profesi sebagai akademisi di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Sedianya, Endang Wijayanti—istri mendiang Ki Siswondo juga diagendakan hadir, akan tetapi karena alasan kesehatan, beliau akhirnya tidak bisa bergabung di dalam Sarasehan.

Selain itu, hadir sebagai nara sumber Sarasehan, Yati Pesek dan Budi Prayitno. Keduanya adalah murid sekaligus sahabat Ki Siswondo di Siswo Budoyo. Yati Pesek dan Budi Prayitno juga membawa 20an orang seniman Kethoprak Siswo Budoyo dari Yogyakarta dan Solo.

PKIJ-SARASEHAN BUDAYA

Sarasehan Budaya dipandu oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR. Suasana Sarasehan sengaja dibikin lebih informal sehingga tampak seperti jagongan budaya.

Di samping itu, Sarasehan seakan-akan juga menjadi forum reuni diantara para seniman Siswo Budoyo. Terakhir mereka pentas bareng pada tahun 1998, dan mereka tidak lagi dipertemukan dalam momen pagelaran Kethoprak. Tak urung, momen ini menjadi momen reuni sekaligus curah hati setelah 20 tahun lamanya Siswo Budoyo mengalami masa surut.

Yati Pesek dan Budi Prayitno juga didukung oleh semua seniman Siswo Budoyo yang hadir di acara tersebut, lebih banyak menceritakan tentang sejarah Siswo Budoyo dan kiprah Ki Siswondo hingga kelompok ini menjadi legenda hidup yang terus dikenang oleh masyarakat pecinta seni tradisi. Sementara itu, Endang Warianti memberikan perspektif tentang pentingnya menjadikan Kethoprak sebagai seni tradisi yang tetap hidup di hati masyarakat.

Melampaui semua itu, semua yang hadir pada acara Sarasehan memiliki harapan yang besar agar di masa yang akan datang Siswo Budoyo dan kelompok-kelompok Kethoprak lainnya mampu bangkit kembali dan hadir di hadapan masyarakatnya dalam rangka menyuguhkan tontontan yang sarat akan tuntunan dan tatanan. []

Anak Muda dan Pilar Kebangsaan

Dalam rangka peringatan Milad ke-3, Jurusan Hukum Tata Negara (HTN) Fasih, IAIN Tulungagung, menggelar seminar bertajuk “Pilar Kebangsaan dalam Revolusi Industri 4.0”, Kamis, 25 Oktober 2018 di Aula utama IAIN Tulungagung.

Seminar tersebut diikuti oleh hampir semua mahasiswa HTN juga mahasiwa di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum Islam (FASIH). Hadir sebagai narasumber,  Akhol Firdaus, Direktur Institute for Javanese Islam Research-IJIR, bersama dengan Gelora Mahardika, dosen FASIH.

Dalam kesempatan itu, Akhol Firdaus membawakan materi “Historio-Antropologi Kebangsaan Indonesia”. Materi disarikan dari hasil kajian IJIR terkait dengan akar pembentukan narasi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika hingga menjadi pondasi Indonesia modern. Pondasi itulah yang harus tetap dijaga, terutama bagi kalangan muda dalam menghadapi berbagai arus perubahan. []

842fab09-d197-4375-86d0-2dffe92444ab

Kuliah Umum Hak Asasi Manusia

Kuliah Umum bertema “Pemajuan dan Penegakan HAM di Indonesia” diselenggarakan di Aula Utama IAIN Tulungagung, Selasa, 23 Oktober 2018. Kuliah menghadirkan Hairansyah Akhmad, Wakil Ketua Internal Komnas HAM RI. Kuliah umum diselenggarakan berkat kerja sama Komnas HAM bersama dengan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung.

Pada saat kuliah berlangsung, Komnas HAM juga membuka Posko Pengaduan Pro-Aktif Pelanggaran HAM. Meski hanya menjaring satu-dua kasus pelanggaran, akan tetapi kedua kegiatan tersebut telah menjadi sarana penting untuk mengarusutamakan isu Hak Asasi Manusia, terutama di lingkungan mahasiswa IAIN Tulungagung.

d8c84ccb-dbdc-40e9-8cd6-be0679052b38

Kuliah diikuti tidak kurang dari 200 mahasiswa dari lima jurusan: Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Sosiologi Agama, Sejarah Peradaban Islam, Tasawuf Psikoterapi, dan Hukum Tata Negara. Mahasiswa tampak sangat antusias mengikuti perkembangan isu HAM di Indonesia.

Secara umum, kuliah memaparkan tentang: dasar-dasar pemahaman tentang HAM, instrumen HAM Internasional dan Nasional, kewajiban dan pelanggaran HAM, serta sejarah lahirnya Komnas HAM dan proses perkembangannya. []

Klinik Menulis Babad Desa

Klinik Menulis bertema “Babad Desa dan Tutur Lisan” diselenggarakan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada Jumat-Sabtu, 12-13 Oktober 2018, di Aula Rektorat IAIN Tulungagung.

Klinik diikuti oleh 92 peserta dari tiga jurusan, Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Sosiologi Agama (SA), dan Sejarah Peradaban Islam (SPI). Selama dua hari, mahasiswa semester 1 tersebut mengikuti materi Klinik yang dikawal langsung oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR.

Ini tercatat sebagai kegiatan Klinik dengan peserta terbayak. Meski begitu, setelah proses berlangsung dua hari, jumlah 92 peserta tersebut secara alamiah terseleksi tinggal 40 peserta. Mereka akan mengikuti tahapan follow-up sehingga setiap mahasiswa menghasilkan tulisan babad desa. []

1ead50d8-b827-4944-80b6-cf88fc0c4335

 

 

Kethoprak Nyiswobudoyo: Ikhtiar Menghidupkan Warisan

Upaya menghidupkan warisan Kethoprak Siswobudoyo terus dilakukan oleh Sanggar Pariangung. Di samping menjadikan Kethoprak sebagai salah satu sumber pendidikan karakter, Pariagung juga menggelar seminar dan pertunjukan Kethoprak sebagai upaya menghidupkan kembali warisan seni tradisi tersebut.

Seminar bertajuk “Kethoprak dan Kajian Sejarah Epos Panti Patipati dan Amukti Palapa” digelar pada Kamis, 27 September 2018, di Gedung Balai Rakyat Tulungagung. Seminar menghadirkan Sunarko (Seniman) dan Andy Prasetya (Seniman) dengan membedah tema “Taksonomi Tradisi Kethoprak Nyiswobudoyo”.

Istilah Nyiswobudoyo sengaja dipilih sebagai penghormatan terhadap pendiri dan para seniman Kethoprak Siswobudaya yang dianggap telah mewariskan khazanah seni tradisi yang tak ternilai harganya.

Edong

Gedong Maulana Kabir, Peneliti IJIR, didaulat untuk menjadi fasilitator acara seminar tersebut. Acara ini berhasil membangkitkan memori dan kegairahan baru di kalangan anak-anak muda untuk kembali mencintai Kethoprak, dan terutama menggali pelajaran dari lakon-lakon seni drama tradisional tersebut.

Pada Sabtu, 29 September 2018, Sanggar Pariagung benar-benar mewujudkan pagelaran Kethoprak Nyiswobudoyo dengan lakon “Panji Patipati Pu Kapat Maniti Amukti Palapa”. Menariknya, para aktor merupakan generasi lintas generasi penerus Kethoprak Tulungagung.

Lebih menarik lagi, lakon “Panji Patipati Pu Kapat Maniti Amukti Palapa” diinspirasi—salah satunya—oleh hasil penelitian Institute for Javanese Islam Research (IJIR) terkait dengan pondasi Bhinneka Tunggal Ika dan Cakrawala Mandala Nusantara yang digali dari bumi Tulungagung. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme