Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Forum Perempuan Filsafat

Narasi tentang Rumah Tangga Jawa

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Jawa masih menyimpan kekayaan khasanahnya dari berbagai kegiatan sosial masyarakatnya. Aktifitas sosial selalu menarik banyak Antropolog untuk menggali lebih dalam tentang relasi kompleks yang ditampilkannya, termasuk kehidupan yang lebih sempit yakni rumah. Melalui upaya para Antropolog itu, kita dapat melihat masyarakat Jawa melalui potret kehidupan rumah tangganya. Hal ini seperti yang ditemukan Newberry dalam penelitian etnografinya tentang rumah tangga masyarakat Jawa (Newberry, 2013: 13).

(more…)

Prajurit Perempuan dalam Kuasa Politik Raja

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Sosok prajurit selalu dinisbatkkan kepada laki-laki. Pandangan ini saya amini, tetapi saya tercengang ketika mendapati narasi yang menyebutkan bahwa sosok prajurit perempuan pernah ada di Jawa. Bahkan, mereka menjadi prajurit tempur dan sebagai ajudan Raja.

Perempuan-perempuan tangguh dan mematikan ini diketahui sebagai Prajurit Estri Pangeran Sambernyowo di wilayah Mataram. Mereka dikerahkan sebagai prajurit perang pada abad ke-18. Para aristokrat Jawa ini diketahui sebagai prajurit perang sekaligus ajudan Raja.

(more…)

Perempuan dalam Arus Radikalisme

Fatimatuz Zahro [] Peneliti muda IJIR; Pengurus Forum Perempuan Filsafat []

Fatimatuz Zahro [] Peneliti muda IJIR; Pengurus Forum Perempuan Filsafat []

Radikalisme dan ekstremisme telah berkembang menjadi isu global. Isu ini juga dikaitkan secara stigmatik dengan Islam. Disadari ataupun tidak, isu radikalisme, sesungguhnya bermula dari ekplorasi ekstrem atas ‘maskulinitas’ agama. Maskulinitas tersebut diekspresikan dalam wujud keberagamaan yang kolot, keras, memaksa, dan intoleran.

Tidak hanya itu, aksi-aksi radikalisme yang selama ini meledak-ledak, mayoritas pelakunya adalah laki-laki. Bisa dilihat dalam aksi-aksi radikalisme dan terorisme yang semakin menciptakan arus baru dalam keberagamaan. Radikalisme merupakan cara beragama dari nalar laki-laki dan untuk kepentingan laki-laki.

Lalu di mana posisi perempuan?

(more…)

Drupadi: Sebuah Narasi yang di-Islamkan

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Forum Perempuan Filsafat [FPF]; Penulis sedang melakukan riset tentang dalang perempuan di Mataraman)

SELLY

Perempuan berparas cantik putra Drupada itu bernama Drupadi. Ia terlahir dari api Putrakama Yajnya, sebuah ritual para Brahmana untuk memohon keturunan kepada sang Dewa Api.

Kelahiran itu tak sesuai harapan Drupada, yang ia inginkan adalah putra laki-laki guna membalaskan dendam raja-raja Pancala selatan terhadap Drona–raja kerajaan Pancala Utara. Atas kekecewaan ini, ia menyumpahi Drupadi akan tumbuh beserta dendam para raja. Ia akan hidup dengan penuh liku dan ketidakadilan. Betapapun sumpah-serapah dari ayahandanya, sudah menjadi suratan baginya untuk menjadi pilar keadilan bagi daerah Arya, menumpas keburukan dan menyucikannya.

(more…)

Pamor Redup Bu Nyai

Oleh Masruroh

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Pengurus Forum Perempuan Filsafat)

ruroh

Pesona Nyai di masyarakat Jawa sebagai seorang tokoh agama yang memiliki banyak pengetahuan agama jarang sekali disorot. Segala urusan, utamanya urusan agama selalu dilimpahkan kepada seorang Kiai semata-mata karena alasan, ia laki-laki. Nyai hanya mendapatkan ruang sempit dalam masyarakat. Pengabdiannya banyak dihabiskan di dapur dan mengurus anak-anaknya. Jika diberikan ruang ekspresi dalam masyarakat, mereka akan lebih diberikan rubrik khusus dan disibukkan dengan aktivitas di dalamnya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, keberadaan Kiai diposisikan dalam kelompok masyarakat kelas atas. Ia diposisikan sebagai tokoh yang dianggap memiliki kelebihan dalam bidang agama dan kebijaksanaan. Tidak jarang Kiai didatangi oleh masyarakat untuk dimintai pendapat dan juga nasihat. Kiai juga berperan sebagai guru agama Islam dan juga alim ulama yang pendapatnya ditaati dan dijadikan pedoman hidup masyarakat. Meskipun secara teknis seseorang bisa disebut Kiai apabila memiliki pesantren, tidak menutup kemungkinan seseorang juga bisa mendapatkan gelar Kiai di tengah masyarakat dengan berbagai alasan lain semisal pemangku masjid atau mushalla (Dhofier, 1982).

(more…)

Ulama, Atribut Religio-Patriarki

Oleh Fitria Rizka Nabelia

(Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Semester II, sedang magang di Institute for Javanese Islam Research)

IJIR-FOTO BELLA 2 SMALL

 

Gelar ulama sebenarnya universal. Gelar ini diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas ilmu agama, tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tetapi, jarang kita ketahui gelar itu disematkan pada ulama perempuan. Padahal perkembangan muslimah di Indonesia saat ini semakin marak, bahkan mendapat angin segar dalam ranah keagamaan. Konstribusi mereka dalam ranah religius pun tidak diragukan lagi. Sebagai contohnya, banyak perempuan menjadi penyi’ar Islam di berbagai pondok pesantren dan stasiun televisi.

Citra ulama perempuan sebagai tokoh agama bahkan cenderung dinomorduakan, karena banyak anggapan bahwa laki-laki merupakan tokoh sentral penyebar Islam. Mereka selalu terpinggirkan, bahkan gerak mereka jarang terpotret dalam sejarah keberadaan Islam di Jawa. Seiring berkembangnya Islam di Jawa, istilah ulama pun hanya berkonotasi kepada kaum laki-laki.

(more…)

Langgar yang Berkelamin Laki-Laki

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Forum Perempuan Filsafat [FPF])

SELLY

 

Langgar sebagai tempat ibadah tidak memiliki jenis kelamin atau gender. Meski begitu, langgar selalu beraroma laki-laki atau dalam bahasa feminis disebut malesentris. Hampir-hampir semua urusan langgar ditentukan oleh laki-laki. Perempuan dalam konteks ini tidak mendapat ruang memadai untuk berpartisipasi menjadi bagian penting tempat ibadah tersebut.

Bila kita amati, struktur penting langgar selama ini didominasi oleh laki-laki, misalnya takmir atau pengurus langgar. Sangat jarang—atau bahkan tidak ada, perempuan yang masuk dalam badan penting ini. Akibatnya, arah gerak langgar menjadi sangat malesentris. Ini tampak pada difungsikannya langgar oleh sistem pen-gender-an yang timpang.

(more…)

Simbol Phallus pada Langgar

Oleh Dian Kurnia

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF])

 EMAK

 

Jawa selalu khas dengan kosmologinya, seperti jagad gedhe maupun jagad cilik dalam memaknai sebuah ruang. Pemaknaan ini mencerminkan ruang sebagai pengalaman luar manusia (Cassier, 1987: 74). Ruang merupakan tanda suatu kesakralan yang merepresentasikan wadah berinteraksi masyarakat, yang dapat diamati melalui suatu bangunan tertentu. Salah satunya langgar (surau)—tempat ibadah masyarakat muslim Jawa.

Langgar merupakan sebuah tanda atau simbol yang menyimpan pemikiran masyarakat. Herbert Mead menegaskan bahwa anatomi dalam interaksi sosial terkecil dapat tercermin melalui bahasa. Bahasa yang di dalamnya memiliki sistem dan tanda (Ritzer, 2014: 629). Layaknya bangunan merupakan sebuah simbol kebudayaan tertentu, langgar menjadi simbol ruang ibadah masyarakat muslim. Simbol ini menjadi sebuah kesadaran suatu masyarakat.

(more…)

Jawa Semakin Islam atau Islam Semakin Menegara?

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Forum Perempuan Filsafat [FPF])

SELLY

 

“Masyarakat Jawa semakin ter-Islamkan,” begitu kesimpulan M. C. Ricklefs. Barangkali kesimpulan ini ada benarnya. Namun tunggu dulu, tunda kesimpulan tersebut. Dalam tradisi fenomenologi, upaya ini disebut epoche (menaruh tanda kurung). Prinsipnya adalah menunda pemahaman realitas yang telah terberi. Begitupun dengan masyarakat Jawa yang menurut Ricklefs semakin terislamkan. Melalui epoche kita akan dihantarkan kepada bentangan berbagai kemungkinan makna.

Mungkin saja masyarakat Jawa tidak benar-benar semakin ter-Islamkan. Kemungkinan ini bisa diketahui dengan membaca landasan amatan Ricklefs. Dalam  bukunya Mengislamkan Jawa, Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang, Islamisasi di Jawa oleh Indonesianis ini diamati dari panggung politik kekuasaan. Pada bab-bab akhir, dengan jelas ia sampaikan bahwa bentuk masyarakat Jawa yang lebih Islami akan diamati melalui para pembela berbagai interpretasi Islam yang saling bertentangan, bukan lagi pada pembedaan antara santri dan abangan. (Ricklefs, 2013: 429)

(more…)

Menyemai Keadilan Melalui Pelatihan Gender dan Analisis Kebijakan

Forum Perempuan Filsafat (FPF) telah menggelar Pelatihan Gender dan Analisis Kebijakan. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, 24-26 November 2017. Ini adalah kali pertama FPF menggelar pelatihan dasar gender guna memahami problem keadilan dan perempuan, setelah sebelumnya menggelar Sekolah Feminis 2016. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini pelatihan dilakukan dalam waktu berurutan. Cara ini dipandang lebih optimal bagi pelatihan juga capaian peserta yang telah dirancang.

Kegiatan yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kota ini bermaksud menyajikan problem ketimpangan perempuan secara mendasar. Dasar pemahaman ini juga dimaksudkan sebagai upaya dalam menganalisa kebijakan-kebijakan yang tidak sensitif gender. Keduanya sangat terkait.  Adapun fasilitator materi disampaikan oleh Dian Kurnia Sari, S.Ag, Fatimatuz Zahro, S.Ag,  Masruroh, S.Ag, dan Seli Muna Ardiani.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme