Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Forum Perempuan Filsafat

Dalang Perempuan dalam Arus Islamisasi

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Pengurus administrasi di Forum Perempuan Filsafat [FPF])

seli

 

Saya berjumpa dengan dalang perempuan di Tulungagung hampir satu tahun yang lalu. Ny. Hj Siti Fathonah namanya. Ia memiliki nama dalang Nyai Arum Asmarani. Sembilan belas tahun sudah ia menekuni dunia pedalangan. Sepanjang itu pula, ia menjadi satu-satunya dalang wayang kulit perempuan di Tulungagung.

Saat pertama kali berjumpa, saya menduga akan menemukan sosok perempuan yang begitu kental menghayati tradisi Jawa dalam kesehariannya. Penghayatan tradisi Jawa yang saya maksud adalah  karakteristik kehidupan Kejawen yang tercermin dalam napas keseharian orang Jawa.

Sebagaimana stigma Antropologi kuno, karakteristik Kejawen bermula dari sistem berpikir. Orang Kejawen menyandarkan pikirannya pada mitos. Sistem berpikir mistis akan selalu mendominasi perilaku hidup orang Jawa. Saya kemudian membayangkan, dalang adalah subyek yang lahir dalam tradisi berpikir mistis Jawa. Tradisi mistis yang di dalamnya terdapat tindak spiritual berupa pemujaan kekuatan adikodrati. Pengagungan terhadap nilai-nilai lokal Jawa seperti terpraktikkan dalam tradisi perhitungan hari, primbon, sesajen, dan bentuk pengagungan terhadap roh-roh leluhur.

Sebagai dalang, pada masanya Nyai Arum Asmarani mungkin menyatu dengan spiritualitas tersebut. Posisinya sebagai dalang mengharuskannya menjalani semua laku spiritual Kejawaan itu. Sayangnya, setelah sembilan belas tahun berlangsung kini Nyai Arum berbalik arah. Ia tidak lagi mengagung-agungkan nilai-nilai Kejawaan. Sebaliknya, ia telah memilih identitas barunya sebagai pemeluk Islam ortodoks.

(more…)

Feminitas dalam Mistik Kejawen

Oleh Fatimatuz Zahro

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Pengurus Forum Perempuan Filsafat [FPF])

fatim

Di kalangan masyarakat Jawa, mistik Kejawen sudah mendarah daging dalam sikap serta perilaku keseharian. Masyarakat percaya pada hari-hari ‘keramat’ (seperti malam Jum’at kliwon atau malam Satu Sura). Pada malam-malam itu, masyarakat sering melakukan berbagai ritual lengkap dengan uba rampen, seperti sesajen, kembang, dupa, kemenyan, dan sebagainya. Ada beberapa benda dan mantra khas Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantra, penggunaan bunga-bunga yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Semua hal itu digunakan dalam simbol-simbol laku spiritual.

Praktik mistik Kejawen yang dilakukan mayoritas masyarakat Jawa sering disalahpahami oleh kalangan Islam ortodoks. Akibatnya, muncul banyak anggapan dan pemahaman negatif atas praktik tersebut. Sebagian besar orang masih mengasosiasikan praktik mistik hanya sebagai praktik klenik dan perdukunan. Padahal, praktik mistik Jawa bisa dipandang sebagai agama, kepercayaan, keyakinan, tarekat, spiritualitas, dan sebagainya.

Praktik mistik kejawen, sebagaimana didefinisikan oleh Suwardi Endraswara, merupakan bentuk spiritual seseorang untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan oleh masyarakat Jawa. Dalam hal-hal tertentu, mistik Kejawen tentu berbeda dengan praktik mistik lainnya. Hal ini karena mistik Kejawen selalu memiliki kekhasannya tersendiri dalam setiap ritualnya (Suwardi Endraswara, 2003: 135).

(more…)

Cina Muslim dalam Catatan Tahunan Melayu

Oleh Tri Rohmawati Setiyorini

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam Semester IV, IAIN Tulungagung; anggota Forum Perempuan Filsafat [FPF])

rahma

Ketika saya melihat buku de Graaf dan Pigeaud yang berjudul “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: antara historisitas dan mitos” untuk pertama kalinya, saya membayangkan di dalam buku ini akan membahas bagaimana masyarakat Muslim Cina yang hidup di tanah Jawa. Namun sedikit melenceng dari perkiraan saya, buku ini tidak hanya membahas kehidupan Masyarakat Muslim Cina yang hanya tinggal di Jawa akan tetapi sedikit dikaitkan dengan asal-usul mereka yang berasal dari berbagai daerah di Nan Yang (Asia Tenggara). Buku ini merujuk pada Catatan Tahunan Melayu yang disunting oleh Ir. Mangaradja Onggan Parlindungan. Catatan Tahunan Melayu ini lebih banyak membahas tentang Cina Semarang dan Cirebon. Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1994 dengan judul asli “Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries: The Malay Annals of Semarang And Cerbon”.

De Graaf dalam bukunya menjelaskan tentang Catatan Tahunan Melayu teks Parlindungan. pada awal catatan ia menjelaskan bahwa di Tiongkok, sedang berkuasa Dinasti Ming yang banyak menggunakan pegawai Tionghoa beragama Islam dengan mazhab Hanafi yang berasal dari Yunnan (hlm. 1).  Catatan ini didukung oleh sejarawan P. Dabry de Thiersant, yang menyatakan di antara empat mazhab Sunni paling terkenal di kalangan masyarakat Cina Muslim adalah mazhab Imam al-A’zam (Imam Besar) Abu Hanifah. M. Rafiq Khan dari Akademi Nasional, New Delhi, menyatakan bahwa Muslim di Cina menamakan dirinya sebagai orang Hanafi. Mereka tidak mengenal istilah Syi’ah dan Sunni. Menurutnya, Islam yang berkembang di Provinsi Yunnan dipengaruhi oleh Sai Tien Enih, tokoh dengan nama Islam Syed ‘Ajal Syamsuddin Umar. Ia adalah seorang menteri Kerajaan Mongol di bawah Kubilai Khan yang berasal dari Dinasti Yuan (1260-1360).

Dalam buku tersebut diceritakan, awal ekspansi Cina ke wilayah Nusantara terjadi pada tahun 1407.  Armada Tiongkok Dinasti Ming merebut Kukang (daerah Palembang), yang sudah turun-temurun menjadi sarang perampok Tionghoa non-muslim dari Hokkian. Ce Tsu Yi kepala perampok di Kukang, ditawan, dirantai dan dibawa ke Peking, lalu disana dia mati dipancung di depan umum. Ini sekaligus peringatan bagi orang-orang Hokkian di seluruh Nan Yang. Kemudian di Kukang dibentuklah komunitas Cina Muslim Hanafi pertama di Kepulauan Indonesia. Pada tahun yang sama terbentuk satu lagi komunitas Cina Muslum di Sambas, Kalimantan. Hingga tahun 1411-1416 terbentuk pula komunitas yang sama di Semenanjung Malaya, pulau Jawa dan Filipina. Dalam Catatan Melayu menekankan bahwa asal perampok itu dari Hokkian, namun demikian Ma Huan (terj. Mills hlm. 98-99) menyatakan bahwa semua orang Cina di Jawa berasal dari Kuang Tung, Chang Chou dan Chuang Chou (Daerah Hokkian).

(more…)

Spiritualitas Laku Tapa Wudo Ratu Kalinyamat

Oleh Maulidya Rahmatul Umamah

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Pengurus Forum Perempuan Filsafat [FPF]).

15781663_1623399274623101_6449995174294720456_n

Retna Kencana atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Kalinyamat adalah  tokoh yang terkenal dalam lembar sejarah Jawa. Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Trenggono yang kemudian menjadi pemimpin Jepara yang berpusat di daerah Kalinyamat setelah suaminya, Pangeran Hadlirin, tewas di tangan Arya Penangsang. Peristiwa diangkatnya Ratu Kalinyamat menjadi pemimpin kemudian diabadikan dalam candra sengkala bertuliskan Trus Karya Tataning Bumi pada 15 April 1549.

Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579) Jepara menjadi pusat perekonomian dan memegang peranan penting untuk kegiatan keagamaan, politik dan pertahanan. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai pemimpin perempuan cantik yang gagah perkasa,  mempunyai jiwa patriotisme anti-kolonialisme yang pantang menyerah. Hal ini dibuktikan dengan usaha Ratu Kalinyamat yang tidak menyerah memberikan bantuan armada perang untuk memerangi Portugis walaupun harus mengalami kekalahan sebanyak dua kali. Sebagai bentuk apresiasi atas semangat Ratu Kalinyamat, bangsa Portugis bahkan memberi julukan Rainha de Japara Senora de Rica yang berarti seorang wanita Jepara yang sangat berkuasa dan kaya.

Pada masa sepeninggal Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II), terjadilah perebutan kekuasaan Demak, antara Pangeran Sekar dan Raden Trenggono. Sunan Prawoto, putra Raden Trenggono sekaligus kakak Ratu Kalinyamat lalu membunuh Pangeran Sekar dengan harapan kelak dialah yang akan mewarisi tahta kerajaan. Terbunuhnya Pangeran Sekar secara otomatis membuat tampuk kepemimpinan diwarisi oleh Raden Trenggono. Dan setelah Sultan Trenggono wafat, kekuasaan diambil alih oleh Sunan Prawoto.

(more…)

Bias Patriarkisme dalam Pewayangan

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Pengurus administrasi di Forum Perempuan Filsafat [FPF]).

seli

 

Cerita wayang di Indonesia memang selalu merujuk pada serat Ramayana dan Mahabaratha dari India. Kendati demikian, cerita tersebut diolah oleh winasis Indonesia sehingga terciptalah  cerita wayang yang memiliki nilai adi-luhung, edi-peni, serta menggambarkan kehidupan manusia sebelum dilahirkan hingga meninggal dunia (S. Padmosoekotjo, 1984: 15).

Sejatinya, wayag purwa (kulit) telah mengalami perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat Jawa dari waktu ke waktu. Wayang merupakan produk budaya Jawa yang usianya sangat tua, diperkirakan telah ada sejak 3.500 tahun yang lalu.  Burhan Nurgiyantoro sebagaimana dikutip oleh Robby Hidyat mengemukakan bahwa wayang purwa pada hakikatnya merupakan presentasi lambang-lambang yang bersifat religius-mistis, yaitu lambang kehidupan manusia lahir hingga mati (Robby Hidayat, 2009).

Presentasi lambang religius-mistis dalam pewayangan salah satunya tercermin pada pementasan wayang. Srtuktur pementasan wayang ditandai dengan adanya gunungan atau kayon serta iringan pathet (musik gamelan). Panggung wayang kulit adalah batang pohon pisang (bermakna bantala, bumi) yang di atasnya terbentang kain putih (layar/geber, bermakna angkasa, langit), di samping kanan dan kirinya berjajar sejumlah wayang (simpingan). Tepat di bagian tengah ditancapkanlah kayon atau gunungan (menggambarkan kehidupan, khayun= urip).

Rentangan kelir atau layar secara imajinatif melukiskan jagad (dunia). Melalui struktur pementasan wayang tersebut dapat kita tarik busur sehingga menggambarkan perjalanan surya (matahari dan rembulan). Sementara kedua wilayah yang dibatasi oleh gunungan tadi menggambarkan daerah yang memiliki arti simbolis tertentu dan bersifat kontradiktif – kanan-kiri, baik-buruk, kuat-lemah, benar-salah.

(more…)

Senyawa Nasionalisme dan Ide Religius

Oleh Dian Kurnia

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF])

mak

 

Nasionalisme merupakan produk kolonialisme. Dalam karya legendarsinya, Imagine Communities: Reflections on the origin and spread of Nasionalism (1991), Benedict Anderson menyakini bahwa definisi bangsa lahir bersama dengan hirarki-hirarki kekuasaan kaum borjuis. Chatterjee dalam bukunya The Nations and Its Fragments, melanjutkan tesis Anderson dengan menegaskan bahwa konsep nasionalisme di seluruh dunia (bekas jajahan) disediakan oleh proyek kolonialisme dengan menciptakan komunitas imajiner. Meski begitu bangsa terjajah juga punya kebebasan untuk berimajinasi tentang adanya akar nasionalisme yang disediakan oleh bangsa ‘ibu’nya.

Sejarah telah menetapkan bahwa dunia bekas jajahan hanya akan menjadi konsumen abadi proyek modernitas. Dapat dikatakan, sejarah suatu bangsa terjajah (colonized), telah diselesaikan lebih dahulu oleh penjajahnya (colonizer). Buku sejarah itu begitu komplit, penjajah tidak hanya menuliskan skenerio sejarah dan eksploitasi proyek kolonial, tetapi juga menuliskan scenario perlawanan anti-kolonial, bahkan imajinasi-imajinasi yang menyertainya. Hal demikian juga berlaku pada konsep nasionalisme untuk kaum pribumi yang dikuasainya. Definisi nasionalisme memang tekah disuguhkan oleh bangsa-bangsa penjajah dalam rangka mengedukasi koloninya.

(more…)

Perempuan Spiritualis dalam Tradisi Dua Agama

Oleh Fatimatuz Zahro

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Pengurus Forum Perempuan Filsafat [FPF])

fatim

Setiap agama, tak terkecuali Islam, selalu menawarkan suatu pencapaian kesempurnaan jiwa melalui jalan mistisisme [tasawuf]. Dalam Islam, tradisi demikian dikenal dengan sufisme. Sejarah semua agama, selalu melahirkan sosok-sosok spiritualis, para sufi. Siapakah mereka? Para spiritualis umumnya dikenal sebagai sosok yang bukan hanya percaya , tetapi juga melakoni dan mencicipi dimensi transenden yang berhubungan hakikat kebenaran. Maslow menyebutnya sebagai pengalaman tertinggi (peak experiences) [Elkin dkk, 1988].

Sayangnya, dalam tradisi agama dunia, pengalaman mistis seperti dipaparkan di atas umumnya tidak banyak dicicipi oleh perempuan. Sederhana saja, perempuan biasanya selalu disituasikan menempati posisi kelas kedua (the second sex) dalam urusan spiritualitas. Agama dunia yang saya maksud adalah tiga agama monotheis terbesar di dunia yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam [Karen Armstrong: 1993]. Dalam tiga tradisi agama besar tersebut, sejarah dan wacana agama seaka-akan hanya disediakan untuk laki-laki.

Di ruang agama diskriminasi model demikian kerap terjadi. Perempuan diposisikan sebagai kelas kedua, bukan hanya dalam urusan hukum formal [syariah], namun juga dalam hal spiritualitas. Dimensi transenden yang ditawarkan suatu agama dengan segenap pengalaman eskatologinya, seakan-akan tidak memberi tempat bagi perempuan.

(more…)

Pembagian Kerja — opini peneliti muda

Oleh Seli Muna Ardiani

Penulis adalah mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung dan pengurus administrasi di Forum Perempuan Filsafat.

seli

Sambil menunggui ibuku yang sedang berkemas aku duduk di teras masjid. Hari ini bertepatan dengan hari raya qurban, seperti biasa, setelah bapak-bapak dan remaja laki-laki  bersiap dengan bilah pisau yang sudah diasah sedemikian rupa ritual penyembelihan pun dimulai. Nampak juga dari tempat ku bersila, ibu-ibu di sebelah utara berkerumun, tertawa, berbincang, dengan bayi-bayi digendongan mereka. Kehadiran ibu-ibu ini bukan tanpa sebab, memasak dan mempersiapkan jamuan bagi para pemotong dan pembagi daging qurban menjadi tugasnya. Keakraban ini terasa lengkap, kami, semua keluarga menjadi bagian di dalamnya. Anak-anak kecil pun tak mau kalah ikut serta, laki-lakinya saling menantang nyali untuk melihat langsung penyembelihan sementara perempuan-perempuan kecilnya penasaran  namun bersembunyi karena ketakutan. Aku terkekeh sejenak ketika salah satu anak laki-laki mengejek sebayanya “alah…cemen we, lek nggak wani ndelok wedus dibeleh, kono ndelikko mbi cah wedok!

(more…)

Perempuan Karir di Tengah Kemajuan Zaman — opini peneliti muda

Oleh Setiamin

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Al-qur’an dan Tafsir IAIN Tulungagung  dan koordinator divisi intelektual di Forum Perempuan Filsafat (FPF).

setiamin-2

Munculnya perempuan karir di tengah-tengah budaya masyarakat masih banyak menuai kontroversi. Ada yang beranggapan bahwa wanita karir merupakan hal yang dilarang dalam Islam dengan alasan perempuan memiliki tugas di sektor domestik. Tetapi ada juga yang membolehkan dengan beberapa pertimbangan, seperti upaya untuk meringankan beban suami yang harus memberi nafkah kepada keluarga dan lain sebagainya. Perbedaan tersebut sama-sama menghendaki adanya kemaslahatan dalam kehidupan yang semakin hari semakin kompleks ini.

(more…)

Penutupan Sekolah Feminisme Ke-2 — FPF 2016

 

15220067_1047094258752115_6162592941241651843_n

Malam tadi adalah penutup dari seri ke dua sekolah feminis yang diagendakan oleh Forum Perempuan Filsafat, kebetulan bahasannya adalah feminisme gelombang ke tiga yang nampaknya menghasilkan identitas gender yang abstrak. Menurut feminis postmodern, kebudayaan modern membuat identitas yang baku mengenai laki laki dan perempuan yang awalnya sangat cair. Karena itulah, feminis ini mengajak perempuan kembali pada kebudayaan yang cair. Selamat berproses dan mentradisikan menulis.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme