Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

manuskrip Islam Jawa

Tārīkh al-Auliā’ [5]: Keruntuhan Majapahit, Pemberontakan atau Penyelamatan?

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Sirna-ilang-kěrtaning-bumi, itulah candrasengkala yang dipercayai sebagai tanda keruntuhan kerajaan Majapahit. Merujuk pada berita tradisi, kerajaan  Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M) karena serangan Demak di bawah kendali Raden Patah.

Jika ditinjau lebih lanjut, informasi itu tentu berseberangan dengan bukti-bukti sejarah, setidaknya versi Poesponegoro  dan Notosusanto.

Prasasti-prasati dari tahun 1486 telah memberikan kesaksian tentang masih adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Raja yang berkuasa kala itu adalah Dyah Ranawijaya yang bergelar Girīndrawarddhana. Begitu juga, berita Cina dari dinasti Ming (1368-1643) masih merekam adanya hubungan diplomatik antara Cina dengan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [4]: Menepis Prasangka Hurgronje tentang Islamisasi

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Bangsa dan masyarakat muslim Nusantara adalah komunitas rendahan dibandingkan dengan komunitas muslin lainnya. Itulah maksud implisit yang disuguhkan C. Snouck Hurgronje saat membangun teorinya tentang Islamisasi di Indonesia. Teori itu, terpapar pada tulisannya berjudul “De Islam in nederlandsch-Indie”  dalam Groote Godsdienten, seri II (S. Gunawan, 1973).

Pada prinsipnya, teori tersebut menyatakan bahwa proses Islamisasi di Indonesia berlangsung sejak abad 13 Masehi. Proses Islamisasi berlangsung tanpa campur tangan kekuasaan Negara dan sentuhan kelompok intelektual. Islamisasi di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya semata-mata merupakan usaha dari para saudagar dan pedagang dari negara-negara di kawasan India. Inilah yang menjadikan kelompok muslim Nusantara ditetapkan sebagai bangsa rendahan secara intelektual.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [3]: Leluhur Para Wali, Antara Nasab dan Ngunduh Wohing Pakerti

 

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Yen kang tuwa karya becik, saturune manggih arja, yen kang tuwa karya awon, turune kasurang-surang, pramilane wong gesang, den enget pitutur luhung, ing wuri tan wurung panggya” (Naskah Sanguloro, bait 36)

Itulah salah satu falsafah hidup orang Jawa. Mereka menyakini bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya. “Ngunduh Wohing Pakerti”.  Begitulah orang Jawa menyebutnya. Balasan dari perbuatan itu tak selalu diterima oleh pelakunya, tapi bisa saja diterima oleh oleh anak-cucunya, seperti kisah para Wali tanah Jawa.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [2]: Garis Keturunan dan Penafsiran

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

“Sejak Erlangga, kita mewarisi ajaran luhur, bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa terus dibingkai dalam konsep kosmologi yang khas. Kerajaan dianggap sebagai replika semesta. Raja dianggap sebagai titisan dewa-dewa”.

Begitulah Akhol Firdaus memaparkan pendapatnya tentang penyelenggaraan kekuasaan di Jawa dalam “Titisan Wisnu”.

Pandangan semacam itu tampaknya masih berlaku, bahkan saat di Jawa telah muncul kerajaan Islam. Para raja dan penyebar agama, selalu menegaskan diri sebagai keturunan orang suci. Tak hanya dewa, seringkali garis keturunannya dipertemukan dengan para Nabi. Secara implisit, kitab Tārīkh al-Auliā’ memberi penggambaran semua ini.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’: Serpihan Kisah Wali Sanga dan Sejarah Indonesia

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Tārīkh al-Auliā’: Tārīkh Wali Sanga, adalah kitab sejarah yang ditulis seorang Kiai. Membaca judulnya, sekilas kita akan berpikir bahwa kitab itu hanya membahas Wali Sanga. Namun persepsi itu akan hilang saat membaca sambul dalamnya. Tertulis, “Nerangaken babad ipun Wali tanah Jawi, dipun tambah cathetan-cathetan tarikh Indonesia kanthi ringkes”.

Kitab itu ditulis oleh Kiai Bisri Musthofa, Rembang, Jawa Tengah kurang lebih 66 tahun lalu. Tertulis di bagian akhir kitab tanggal 12 Rabiul Awal 1372 H, bertepatan dengan tanggal 19 November 1952 M. Adapaun latar belakang penulisan kitab itu, dapat kita simak sebagai berikut:

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [9]: Menakar Ulang “Ghair Al-Maghdlubi ‘Alaihim Wala Al-Dlāāllīn”

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Ada ragam penafsiran terhadap lafadz Ghair al-Maghdlubi ‘Alaihim Wala al-Dlāāllīn.  Meski, tentu tidak semua penafsiran itu sesuai dengan konteks toleransi dan kerukunan umat bergama di Indonesia. Hal ini misalnya dapat kita lihat pada dua tafsir yang populer di Indonesia, yakni tafsir Al-Jalālain dan tafsir Murāḥ Labīd.

Dalam tafsir Al-Jalālain karya as-Suyuthi dan al-Mahalliy, lafadz al-Maghdlubi ‘Alaihim yang berarti orang-orang yang dimurka Allah ditafsirkan dengan lafadz “Hum al-Yahūd” (mereka adalah orang Yahudi), sedangkan al-Dlāāllīn yang berarti orang-orang yang tersesat ditafsirkan dengan “Wa Hum al-Naṣārā” (dan mereka adalah orang-orang Nasrani).

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [8]: Nikmat Hakiki dalam Ṣirāṭ al-Ladhīna An’amta ‘Alaihim

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kecenderungan manusia untuk mengejar kebahagiaan serta kenikmatan adalah kelaziman. Namun, seringkali kenikmatan tersebut disamakan dengan kesenangan, terlebih kesenangan duniawi. Tak mengherankan jika akhirnya manusia berbondong-bondong mengumpulkan harta. Ironisnya, hal semacam itu seringkali dilakukan dengan cara yang tidak pantas, semisal dalam maraknya kasus korupsi.

Mengingat semua itu, perlulah kita belajar dari Tafsir Kiai Shaleh Darat ini terkait apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat. Hal ini perlu dilakukan agar kita mengenal apa itu hakikat nikmat, tidak lupa diri dan menghalalkan segala cara dalam mengejar kenikmatan baik yang duniawi maupun ukhrawi.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [2-Habis]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Mempertimbangkan penafsiran Kiai Mustojo yang penuh dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, maka penafsirannya akan selalu ingin mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah yang sesuai dengan ajaran yang beliau anut tersebut.

Meski memiliki makna yang lebih dari makna literal (makna konotatif), bukan berarti makna literal (makna denotatif) yang ada dalam al-Qur’an tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna-makna lainnya.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [1]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia lewat Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an haruslah bersifat ṣāliḥ likulli zamān wa makān. Al-Qur’an juga menjadi sebuah pondasi dan pijakan kehidupan teologi umat manusia maupun kehidupan sosial kemasyarakatan manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 2, 183).

Al-Qur’an hanyalah sebuah teks yang bisu ketika tidak adanya sebuah dialog antara teks, mufasir dan realitas. Karena teks begitu rigid dan statis, sedangkan realitas selalu dinamis dan fleksibel, sehingga dibutuhkan sebuah proses dialektika antara teks, akal dan realitas secara terus-menerus.

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [7]: Mengenal Hidayah dan Jalan Kebenaran dalam Ihdinā aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Hidayah atau petunjuk, merupakan hal mewah bak permata bagi umat beragama, termasuk umat Islam. Karena alasan hidayah, manusia berorientasi pada jalan yang lurus atau kebenaran. Sayangnya, orientasi pada jalan lurus itu malah seringkali membuat manusia lupa, bahwa sebenarnya keduanya (baik hidayah maupun jalan lurus) sesungguhnya merupakan hak prerogatif Tuhan.

Pada taraf kesalehan tertentu, manusia bahkan memiliki kecenderungan menghakimi sesamanya karena merasa memiliki hak atas hidayah. Manusia seperti ini, mudah merasa punya hak atas sesamanya, seakan-akan dialah pemberi hidayah bagi orang lain untuk menuju jalan kebenaran yaitu aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme