Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

manuskrip Islam Jawa

Kitab Panyirèp Gemuruh Karya KH. Abdul Wahab Chasbulloh

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Staf di Departemen Manuskrip Islam Jawa, IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Staf di Departemen Manuskrip Islam Jawa, IJIR []

Pesantren merupakan salah satu subkultur masyarakat muslim Indonesia, begitu kata Gusdur (Wahid, 2001: 3). Dalam keberadaannya itu, pesantren tak dapat dipisahkan dengan kitab kuning. Di Indonesia, keduanya menjadi elemen kunci untuk melakukan transformasi keilmuan, khususnya keilmuan Islam. Tak berlebihan jika Martin van Bruinessen menyebut keduanya sebagai pemelihara dan pelanjut tradisi keilmuan Islam.

DI balik peran seperti itu, selama ini kitab kuning hanya dianggap sebagai sumber acuan pembelajaran. Faktanya, anggapan itu tidalah selalu benar. Terbukti ada sebuah kitab yang lahir dalam rangka menjawab problematika sosial, yaitu kitab “Panyirèp Gemuruh” karya KH. Abdul Wahab Chasbullah.

(more…)

Al-Ḥaqībah: Kumpulan Mantra Pesantren KH. Bisri Musthofa

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Masyarakat Jawa tak hanya meyakini apa saja yang nampak, melainkan juga apa yang gaib.  Dalam pikiran masyarakat Jawa, perasaan bahagia, sedih, kemudahan, kesulitan, dan segalanya tak lepas campur tangan dunia ghaib.

Karena itu, di samping melakukan ikhtiar, manusia Jawa juga berusaha mengakses dunia ghaib tersebut dalam memenuhi kebutuhan atau menyelasikan suatu permasalahan.

Sayangnya, upaya mengakses dunia ghaib tidaklah bisa dilakukan olah sembarang orang. Diperlukan adanya suatu perantara untuk menuju ke sana. Perantara itu bisa berupa doa, sesaji, jimat, mantra, rajah dan lain-lain (Dwiatmojo: 2018: 76). Tak hanya itu, tiarakat pun juga sering dilakukan guna membuka pintu dunia ghaib itu.

(more…)

Kitab Syi’iran Naṣīḥāt KHR. Asnawi: Aku Islam, Aku Jawa, Aku Indonesia

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kiai-Kiai Jawa terus menjaga keseimbangan antara kehidupan beragama dan bernegara. Inilah kabar yang dilayangkan oleh kitab ‘Shi’iran Naṣīḥāt’, karya Kiai Haji Raden Asnawi atau KHR. Asnawi Kudus.

K.H.R. Asnawi lahir di Damaran, sebuah wilayah di belakang menara Kudus, pada tahun 1861 M. Beliau merupakan keturunan ke-5 dari KH. Mutamakin, sekaligus keturunan ke-14 dari Sunan Kudus. Oleh sebab itulah, gelar ‘Raden’ disematkan pada namanya (Mas’ud, 2004: 20).

(more…)

Waṣāyā Al-Abā’ li Al-Abnā’ Karya KH. Bisri Musthofa

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Sejak berabad-abad lalu, kitab kuning telah turut serta menjaga tradisi keilmuan Islam di Nusantara, khususnya di pesantren. Oleh karena itu, perbincangan mengenai Islam Jawa kiranya belum lengkap tanpa merujuknya.

Istilah kitab kuning merupakan sesuatu yang khas Indonesia. Kata kitab merupakan  sebutan untuk buku-buku yang ditulis dengan bahasa Arab. Disebut kuning karena mengacu pada kertas buku yang dibawa dari Timur Tengah, yang kebetulan saat itu berwarna kuning (Bruinessen, 1990: 146).

Di Nusantara, keberadaan kitab kuning menjadi salah satu unsur terpenting dalam pendidikan pesantren. Hal ini dikarenakan, kitab kuning dijadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran. Kebanyakan kitab yang digunakan adalah karya ulama abad pertengahan /Abad 12-17 (Dhofir, 1982: 138).

(more…)

Kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah dan Marwah Ulama Nusantara

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Untuk menjadi seorang muslim yang baik, seseorang tidak perlu menanggalkan kecintaannya terhadap tanah air. Inilah salah satu pesan yang hendak disampaikan oleh kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah karya Syekh Muhammad Mukhtar Al-Jawiy.

Syekh Mukhtar adalah ulama asli Indonesia kelahiran Bogor, Kamis 14 Sya’ban 1278 H, bertepatan dengan 14 Februari 1862 M (Aizid, 2016: 320).  Nama kecil beliau adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden ‘Atharid. Ayah beliau, Raden Aria Natanegara atau lebih dikenal dengan Kiai ‘Atharid, adalah putra Raden Wira Tanu Datar VI.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [5]: Keruntuhan Majapahit, Pemberontakan atau Penyelamatan?

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Sirna-ilang-kěrtaning-bumi, itulah candrasengkala yang dipercayai sebagai tanda keruntuhan kerajaan Majapahit. Merujuk pada berita tradisi, kerajaan  Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M) karena serangan Demak di bawah kendali Raden Patah.

Jika ditinjau lebih lanjut, informasi itu tentu berseberangan dengan bukti-bukti sejarah, setidaknya versi Poesponegoro  dan Notosusanto.

Prasasti-prasati dari tahun 1486 telah memberikan kesaksian tentang masih adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Raja yang berkuasa kala itu adalah Dyah Ranawijaya yang bergelar Girīndrawarddhana. Begitu juga, berita Cina dari dinasti Ming (1368-1643) masih merekam adanya hubungan diplomatik antara Cina dengan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [4]: Menepis Prasangka Hurgronje tentang Islamisasi

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Bangsa dan masyarakat muslim Nusantara adalah komunitas rendahan dibandingkan dengan komunitas muslin lainnya. Itulah maksud implisit yang disuguhkan C. Snouck Hurgronje saat membangun teorinya tentang Islamisasi di Indonesia. Teori itu, terpapar pada tulisannya berjudul “De Islam in nederlandsch-Indie”  dalam Groote Godsdienten, seri II (S. Gunawan, 1973).

Pada prinsipnya, teori tersebut menyatakan bahwa proses Islamisasi di Indonesia berlangsung sejak abad 13 Masehi. Proses Islamisasi berlangsung tanpa campur tangan kekuasaan Negara dan sentuhan kelompok intelektual. Islamisasi di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya semata-mata merupakan usaha dari para saudagar dan pedagang dari negara-negara di kawasan India. Inilah yang menjadikan kelompok muslim Nusantara ditetapkan sebagai bangsa rendahan secara intelektual.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [3]: Leluhur Para Wali, Antara Nasab dan Ngunduh Wohing Pakerti

 

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Yen kang tuwa karya becik, saturune manggih arja, yen kang tuwa karya awon, turune kasurang-surang, pramilane wong gesang, den enget pitutur luhung, ing wuri tan wurung panggya” (Naskah Sanguloro, bait 36)

Itulah salah satu falsafah hidup orang Jawa. Mereka menyakini bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya. “Ngunduh Wohing Pakerti”.  Begitulah orang Jawa menyebutnya. Balasan dari perbuatan itu tak selalu diterima oleh pelakunya, tapi bisa saja diterima oleh oleh anak-cucunya, seperti kisah para Wali tanah Jawa.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’ [2]: Garis Keturunan dan Penafsiran

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

“Sejak Erlangga, kita mewarisi ajaran luhur, bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa terus dibingkai dalam konsep kosmologi yang khas. Kerajaan dianggap sebagai replika semesta. Raja dianggap sebagai titisan dewa-dewa”.

Begitulah Akhol Firdaus memaparkan pendapatnya tentang penyelenggaraan kekuasaan di Jawa dalam “Titisan Wisnu”.

Pandangan semacam itu tampaknya masih berlaku, bahkan saat di Jawa telah muncul kerajaan Islam. Para raja dan penyebar agama, selalu menegaskan diri sebagai keturunan orang suci. Tak hanya dewa, seringkali garis keturunannya dipertemukan dengan para Nabi. Secara implisit, kitab Tārīkh al-Auliā’ memberi penggambaran semua ini.

(more…)

Tārīkh al-Auliā’: Serpihan Kisah Wali Sanga dan Sejarah Indonesia

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Tārīkh al-Auliā’: Tārīkh Wali Sanga, adalah kitab sejarah yang ditulis seorang Kiai. Membaca judulnya, sekilas kita akan berpikir bahwa kitab itu hanya membahas Wali Sanga. Namun persepsi itu akan hilang saat membaca sambul dalamnya. Tertulis, “Nerangaken babad ipun Wali tanah Jawi, dipun tambah cathetan-cathetan tarikh Indonesia kanthi ringkes”.

Kitab itu ditulis oleh Kiai Bisri Musthofa, Rembang, Jawa Tengah kurang lebih 66 tahun lalu. Tertulis di bagian akhir kitab tanggal 12 Rabiul Awal 1372 H, bertepatan dengan tanggal 19 November 1952 M. Adapaun latar belakang penulisan kitab itu, dapat kita simak sebagai berikut:

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme