Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

manuskrip Islam Jawa

Tafsir Kiai Shaleh Darat [9]: Menakar Ulang “Ghair Al-Maghdlubi ‘Alaihim Wala Al-Dlāāllīn”

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Ada ragam penafsiran terhadap lafadz Ghair al-Maghdlubi ‘Alaihim Wala al-Dlāāllīn.  Meski, tentu tidak semua penafsiran itu sesuai dengan konteks toleransi dan kerukunan umat bergama di Indonesia. Hal ini misalnya dapat kita lihat pada dua tafsir yang populer di Indonesia, yakni tafsir Al-Jalālain dan tafsir Murāḥ Labīd.

Dalam tafsir Al-Jalālain karya as-Suyuthi dan al-Mahalliy, lafadz al-Maghdlubi ‘Alaihim yang berarti orang-orang yang dimurka Allah ditafsirkan dengan lafadz “Hum al-Yahūd” (mereka adalah orang Yahudi), sedangkan al-Dlāāllīn yang berarti orang-orang yang tersesat ditafsirkan dengan “Wa Hum al-Naṣārā” (dan mereka adalah orang-orang Nasrani).

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [8]: Nikmat Hakiki dalam Ṣirāṭ al-Ladhīna An’amta ‘Alaihim

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kecenderungan manusia untuk mengejar kebahagiaan serta kenikmatan adalah kelaziman. Namun, seringkali kenikmatan tersebut disamakan dengan kesenangan, terlebih kesenangan duniawi. Tak mengherankan jika akhirnya manusia berbondong-bondong mengumpulkan harta. Ironisnya, hal semacam itu seringkali dilakukan dengan cara yang tidak pantas, semisal dalam maraknya kasus korupsi.

Mengingat semua itu, perlulah kita belajar dari Tafsir Kiai Shaleh Darat ini terkait apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat. Hal ini perlu dilakukan agar kita mengenal apa itu hakikat nikmat, tidak lupa diri dan menghalalkan segala cara dalam mengejar kenikmatan baik yang duniawi maupun ukhrawi.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [2-Habis]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Mempertimbangkan penafsiran Kiai Mustojo yang penuh dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, maka penafsirannya akan selalu ingin mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah yang sesuai dengan ajaran yang beliau anut tersebut.

Meski memiliki makna yang lebih dari makna literal (makna konotatif), bukan berarti makna literal (makna denotatif) yang ada dalam al-Qur’an tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna-makna lainnya.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [1]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia lewat Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an haruslah bersifat ṣāliḥ likulli zamān wa makān. Al-Qur’an juga menjadi sebuah pondasi dan pijakan kehidupan teologi umat manusia maupun kehidupan sosial kemasyarakatan manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 2, 183).

Al-Qur’an hanyalah sebuah teks yang bisu ketika tidak adanya sebuah dialog antara teks, mufasir dan realitas. Karena teks begitu rigid dan statis, sedangkan realitas selalu dinamis dan fleksibel, sehingga dibutuhkan sebuah proses dialektika antara teks, akal dan realitas secara terus-menerus.

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [7]: Mengenal Hidayah dan Jalan Kebenaran dalam Ihdinā aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Hidayah atau petunjuk, merupakan hal mewah bak permata bagi umat beragama, termasuk umat Islam. Karena alasan hidayah, manusia berorientasi pada jalan yang lurus atau kebenaran. Sayangnya, orientasi pada jalan lurus itu malah seringkali membuat manusia lupa, bahwa sebenarnya keduanya (baik hidayah maupun jalan lurus) sesungguhnya merupakan hak prerogatif Tuhan.

Pada taraf kesalehan tertentu, manusia bahkan memiliki kecenderungan menghakimi sesamanya karena merasa memiliki hak atas hidayah. Manusia seperti ini, mudah merasa punya hak atas sesamanya, seakan-akan dialah pemberi hidayah bagi orang lain untuk menuju jalan kebenaran yaitu aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

(more…)

Ngaji Serat Wedatama [5]: Epistemologi Menurut Alam Pikiran Jawa

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Pokok bahasan dari Serat Wedatama, bagi orang yang menuntut ilmu atau yang sedang tholabul ‘ilmu sikap yang harus dimiliki adalah perilaku wajar demi terbukanya hati sanubari. Perilaku yang wajar adalah perilaku yang semestinya dimiliki oleh orang yang mencari ilmu. Sesuai dengan koridornya tidak berbuat yang aneh-aneh, fokus, yakin, mantap, dan tawadlu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Orang yang sedang menuntut ilmu tidak berperilaku yang bisa membuyarkan konsentrasinya, sehingga cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang semena-mena dalam mencari ilmu. Ketika orang mau berperilaku wajar dalam mencari ilmu, pada waktunya nanti hati sanubarinya akan terbuka. Maka orang tersebut akan bertambah martabat kehidupannya atau naik derajatnya karena ilmunya. Penjabaran Serat Wedatama pupuh pucung bait ke-09 sebagai berikut.

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [6]: Manusia dalam Bingkai Iyyāka Na’budu Wa Iyyāka Nasta’īn

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Manusia memang makhluk yang unik. Sejauh apapun pembahasan tentang manusia, hakikatnya tetap masih menyisakan misteri. Di satu sisi, merupakan ‘hewan yang berkakal’, seperti kata Aristoteles. Berbeda dengan itu, Plato mengatakan bahwa hakikat manusia adalah jiwanya.  Pembahasan tentang hakikat manusia, rupanya juga tak luput dari pandangan Kiai Shaleh Darat saat membahas penafsiran ayat Iyyāka Na’budu Wa Iyyāka Nasta’īn.

Pembahasan itu sebenarnya bermula dari sebuah pertanyaan tentang huruf Nun (ن) pada lafadz Na’budu (نَعْبُدُ). Kurang lebih pertanyaan itu adalah, mengapa orang yang shalat sendiri (tidak secara jama’h) mengucapkan Iyyāka Na’budu (إِيَّاكَ نَعْبُدُ)? padahal Nun (ن) mutakallim –pada lafadz نَعْبُد – seharusnya menunjukkan arti jamak?”

(more…)

Ngaji Serat Wedatama [4]: Konsepsi Durung Pecus, Kesusu Kaselak Besus

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Pemikiran Mangkunegara IV yang tertuang dalam Serat Wedatama pupuh pucung bait ke-06 adalah sebagai berikut:

06.   Durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendak-pendak angendak gunaning janma.

[sesungguhnya Ilmu agama mereka belum memadai, tetapi tergesa-gesa merasa diri mereka sudah seperti ulama, tergesa-gesa merasa diri mereka seperti ulama, sehingga memaknakan doa-doa dan ayat-ayat suci, seperti sayid lulusan Mesir. Setiap kali menyalahkan kepandaian orang.]

(more…)

Ngaji Serat Wedatama [3]: Siapa yang Pantas Tinulad-Tulad Tinurut?

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Sebelum membahas kelanjutan mensyarahi serat Wedatama, yakni kelanjutan dari wedharipun hawa nafsu, ada hal yang wigati namun belum sempat dijelaskan secara mendetail yakni ikhwal triloka. Statement Mangkunegara IV tempat hawa nafsu ada di triloka.

Konsep triloka, secara kebahasaan dari bahasa sansekerta. Maknanya adalah “tri” itu tiga, “loka” itu dunia, tempat, dan digunakan untuk menyebutkan nama surga sebagai dunia lain. Surga dalam bahasa sansekerta disebut svarga (svarga-loka), dinamakan juga trinaka, trivishtapa, nakapristha, dan indraloka.

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [5]: Iyyāka Na’budu Wa Iyyāka Nasta’īn, Shalat Daim dan Hakikat Ibadah

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Makrifat, kata yang yang tak asing lagi dalam dunia spiritual. Makrifat akan dicapai saat seseorang telah menempuh sulūk. Tingkatan-tingkatan itu telah diisyaratkan dalam surat-al-Fatihah. Dalam kerangka inilah, tafsir Kiai Shaleh Darat pada kali ini akan kita tinjau.

Dalam kerangka ini, ibadah ternyata juga tidak hanya sekedar dipandang sebagai ritual keagamaan semata dalam ayat  Iyyāka Na’budu Wa Iyyāka Nasta’īn.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme