Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

jaringan peneliti

Seksualitas: dari Parrhesia menuju Tabu

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Kehadiran seksualitas terjadi bersamaan dengan kelahiran peradaban manusia. Wacana seksualitas akan selalu ada, hadir, dan berkelindan di setiap zamannya. Seksualitas bukan sekedar wacana. Ia hadir dengan sejarah yang cukup panjang. Menempati wilayahnya sendiri, dan memiliki dinamikanya sendiri.  Sebagai variabel budaya, seks adalah kebudayaan tertua dalam sejarah peradaban umat manusia.

Perlu dipahami bahwa seksualitas tidak sama dengan seks. Ia lebih rumit ketimbang sekedar hubungan jasmaniah atau kegiatan reproduksi semata. Seksualitas dipahami sebagai realitas manusia yang lebih luas dan mendalam ketimbang seks. Seksualitas tidak hanya sekadar realitas reproduksi dan kelakuan genital, tetapi lebih menekankan pada siapakah kita (who I am). Misalnya, bagaimana kita memaknai tubuh kita sendiri, bagaimana kita memahami feminitas dan maskulinitas dalam diri kita, atau bagaimana kita memahami hasrat seksual kita. Dengan kata lain, seksualitas adalah cara manusia dalam memaknai seks itu sendiri. Foucault sendiri memaknai seksualitas sebagai cara orang menggunakan energi manusiawi ddan kenikmatan manusiawinya demi menghasilkan kebenaran (Bernard S. Hayong, 2013).

(more…)

Puji-Pujian dan Sastra Lisan di Langgar

Wahyu Hanafi [] Dosen di Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Wahyu Hanafi [] Dosen di Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Harmoni agama dengan budaya merupakan tradisi masyarakat Jawa. Hegemoni agama dan budaya bukanlah kesatuan non-dikotomik yang berdiri di atas bahu sendiri. Harmoni agama dan budaya masyarakat Jawa sendiri mulai tampak semenjak masa kerajaan Hindu-Buddha Tarumanegara (358-669), Kerajaan Sunda Galuh (669-1482), dan kerajaan Mataram Hindu.

Bukti empiris relasi agama dan budaya masyarakat Jawa seperti dijelaskan Mulder (1999), manusia Jawa tunduk kepada masyarakat, sebaliknya masyarakat tunduk kepada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dan halus, yang memuncak ke Tuhan. Kemudian di sisi lain Geertz (1960) mengisyaratkan masyarakat Jawa adalah manusia yang religius, meski ia menyebutnya dengan terminologi berbeda, santri-abangan-priyayi.

(more…)

Nalar Hukum yang Meniadakan Liyan

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Ilmu hukum tidak pernah berterus-terang pada dunia. Ia berlagak suci, murni, dan otentik, tetapi faktanya ia justru menjadi alat untuk mendefinisikan apa-apa saja di luarnya sebagai liyan. Ia dibangun demi kepentingan penguasa, dan menumbalkan yang liyan.

Tujuan normatifnya memang terlihat megah: keadilan. Namun justru melalui tujuan itulah ilmu hukum menjalankan peran delegitimasinya terhadap yang lyan. Keadilan dan kepastian hukum didefinisikan sedemikian rupa oleh konstruksi ilmu hukum, dan menciptakan standar-standar tertentu yang me-liyan­-kan gagasan di luar konstruksi mainstream.

(more…)

Ludruk, Teater Masyarakat Urban

Anugrah Yulianto Rachman--Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Anugrah Yulianto Rachman–Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Ludruk merupakan teater masyarakat urban. James L. Peacock menggambarkan fenomena tersebut dalam artikel berjudul Comedy and Centralization in Java: The Ludruk Plays (1967). Pada artikel tersebut, Peacock ingin menunjukan bahwa Ludruk sebagai rite of separation. Ia membandingkannya dengan ritus slametan milik Geertz.

Van Gennep menyebut slametan dengan rites of incorporation. Ritus itu berfungsi menyakralkan kampung, guna meminta keselamatan. Melalui Van Gennep, Peacock membedakan antara rites of incorporation (slametan) dengan rites of separation (Ludruk). Rites of separation diartikan oleh Peacock sebagai ritus pemisahan masyarakat dari kampung.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [2-Habis]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Mempertimbangkan penafsiran Kiai Mustojo yang penuh dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, maka penafsirannya akan selalu ingin mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah yang sesuai dengan ajaran yang beliau anut tersebut.

Meski memiliki makna yang lebih dari makna literal (makna konotatif), bukan berarti makna literal (makna denotatif) yang ada dalam al-Qur’an tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna-makna lainnya.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [1]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia lewat Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an haruslah bersifat ṣāliḥ likulli zamān wa makān. Al-Qur’an juga menjadi sebuah pondasi dan pijakan kehidupan teologi umat manusia maupun kehidupan sosial kemasyarakatan manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 2, 183).

Al-Qur’an hanyalah sebuah teks yang bisu ketika tidak adanya sebuah dialog antara teks, mufasir dan realitas. Karena teks begitu rigid dan statis, sedangkan realitas selalu dinamis dan fleksibel, sehingga dibutuhkan sebuah proses dialektika antara teks, akal dan realitas secara terus-menerus.

(more…)

Kartini Bukan Model Pakaian Adat Jawa

Ahmad Zainul Hamdi []Ketua Prodi Studi Agama-agama, UIN Sunan Ampel Suarabaya; Direktur Eksekutif CMARs (Center for Marginalized Communities Studies) Surabaya []

Ahmad Zainul Hamdi [] Ketua Prodi Studi Agama-agama, UIN Sunan Ampel Surabaya; Direktur Eksekutif CMARs (Center for Marginalized Communities Studies) Surabaya []

Dalam tulisannya tentang desain dokumen yang menganalisis hubungan antara teks dan gambar, Aliisa Makynen (2012) memulai tulisannya dengan sebuah pepatah lama yang banyak dikenal orang: “Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata”.

Di sini hendak dinyatakan bahwa sebuah gambar bisa lebih menjelaskan gagasan daripada deretan kalimat dalam sebuah tulisan. Pepatah ini mengandung kebenaran yang nyaris tak terbantahkan. Rambu-rambu lalu lintas hingga buku resep masakan telah membuktikan kebenaran ini.

(more…)

Gembrung, Satu Lagi Model Seni Islam-Jawa

Oleh Muhammad Masrofiqi Maulana

(Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR)

Vikie2

 

Secara etimologi kata “gembrung” tidak memliki makna yang jelas dan baku. Istilah ini mengacu pada kesenian dari daerah Madiun dan sekitarnya. Bentuknya sya’iran berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh beberapa orang, diiringi (disenggaki) oleh penjawab sya’ir, sekaligus ada iringan seperangkat alat musik tradisional. Alat terdiri dari terbang, ketipung, dan kendang. Kesenian ini biasanya ditampilkan selama tiga jam.

Istilah “gembrung” sendiri berasal dari bunyi musik tersebut, ketika terbang ditabuh menghasilkan bunyi: brung.  Konon, model shalawat gembrung sudah ada sejak masa ke-Wali-an sekitar abad 14-15 M. Kemungkinan besar kesenian ini dirintis oleh Sunan Bonang, mungkin juga oleh Sunan Kalijaga. Pendapat tersebut didukung oleh bukti bahwa alat-alat musik gembrung kemungkinan merupakan modifikasi dari bedug.

(more…)

Astro-Arkeologi dan Makna Gunung Bagi Orang Jawa

Oleh Ahmad Musonnif

(Penulis adalah dosen di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung)

Jpeg

 

Myths can’t be translated as they did in their ancient soil.

We can only find our own meaning in our own time.

Margaret Atwood

 

Awalnya saya merasa aneh dengan istilah astro-arkeologi, sebuah perpaduan dua bidang ilmu yang berbeda, astronomi dan arkeologi. Saya jadi membayangkan makanan khas Banyuwangi rujak soto, bagaimana rasanya perpaduan antara rujak dan soto?

Seperti dibayangkan arkeologi mempelajari artefak, prasasti, relief, dan lainnya yang terkait dengan hal-hal dari masa lampau. Setelah mempelajari benda-benda purbakala tersebut, para arkeolog banyak dibuat kagum dengan narasi dalam prasasti, relief-relief pada candi dan benda-benda purbakala lainnya yang menunjukkan kepiawaian orang-orang zaman dulu dalam bidang astronomi. Hingga akhirnya memunculkan minat para arkeolog mengajak para astronom untuk bekerja sama hingga muncullah ilmu baru yang keren ini. Untuk melihat betapa kerennya ilmu ini bisa lihat film Indiana Jones dan Tomb Rider: Lara Croft.

Sebenarnya saya pernah mengenal ilmu ini tapi tidak tahu namanya. Saya pernah baca karya Mahmud Pasha (tt), Nataij al-Afham fi Taqwim al-Arab Qabl al-Islam, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dari bahasa Perancis. Betapa kagumnya saya ketika astronom kita ini menunjukkan bahwa Ibrahim, putra Nabi Muhammad dari Mariayatul Qibtiyah meninggalnya diiringi gerhana matahari dan dengan perhitungan astronomi dia menunjukkan itu terjadi pada tanggal 27 Januari 632.

Kalau dirunut ke belakang astro-arkeologi dicetuskan oleh Norman Lockyer melalui bukunya yang cukup memukau, The Dawn of Astronomy: A Study of Temple Worship and Mythology of the Ancient Egyptians (1894). Dalam buku ini ia mengajak kita melihat bagaimama cara kerja astronomi dalam membantu arkeologi dalam penentuan usia bangunan-bangunan kuno di Mesir. Kita akan manggut—manggut setelah membaca model pengukuran azimut Piramida Cheops dan posisi bintang Pleiades, hingga Lockyer dapat menyimpulkan bahwa Piramida Cheops dibangun sekitar tahun 1750 SM. Gerald Hawkins dengan bukunya Stonehenge Decode (1965) mengajak kita untuk berhitung hingga menyimpulkan bahwa Stonehenge dibangun sekitar tahun 2000-1500 SM dan Stonehenge merupakan observatorium kuno untuk observasi matahari dan bulan. Selanjutnya, jika kita mengaji buku J Eric  Thompson, Maya Astronomy (1974), kita akan dapati bahwa suku Maya di Cuzco mematok  musim tanam peredaran matahari.

(more…)

Menilik Astronomi Jawa

Oleh Ahmad Musonnif

(Penulis adalah dosen di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung)

Jpeg

Setelah saya mengampu Ilmu falak, saya masih belum memiliki ekspektasi apapun pada ilmu ini kecuali memenuhi kewajiban mengajar. Hingga suatu hari saya mulai berkenalan pada suatu ilmu yang boleh dikata relatif baru ‘etnoastronomi’ yang mengeksplorasi astronomi dengan sudut pandang lokalitas. Sejak saat itu, salah satu hal yang menarik perhatian saya saat melihat surat kabar di hari minggu adalah rubrik astrologi yang biasanya berisi zodiak Yunani atau shio Tiongkok. Bagaimana dengan astrologi Jawa?

Benak saya mulai menerawang menelisik alam pikir orang Jawa terkait perbintangan. Akhirnya jalan menelusuri jejak astronomi Jawa sedikit menampakkan titik terang. Saya melihat pada kalender yang dicetak dengan keterangan Pranoto Mongso, terdapat kata ‘Wuku’. Kata ini sebenarnya merujuk pada siklus 7 harian dalam budaya Jawa yang berkaitan dengan horoskop masyarakat Jawa. Berdasarkan ‘wuku’ orang Jawa menebak karakter seseorang dan juga waktu beci’ dan nahas.

Belum jelas dari nama asal-usul pawukon ( ilmu tentang wuku) ini. Namun menurut Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam serat Pustoko Rojo Purwo, nama-nama Wuku (zodiak dalam astrologi Jawa) berasal dari tokoh-tokoh pewayangan dalam lakon ‘Watugunung’ di mana nama-nama Wuku ini merupakan nama dari prabu Watugunung raja dari kerajaan Gilingwesi beserta keluarganya.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme