Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Tradisi Ngitung Batih

Risma Fadlilatul Iffah []  Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Risma Fadlilatul Iffah [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Satu Suro tahun Saka penanggalan Jawa menjadi hari yang sakral bagi masyarakat Jawa. Berbagai upacara adat maupun tradisi diadakan untuk menyambut kedatangan bulan Suro. Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan dan diuri-uri masyarakat yaitu upacara adat Ngitung Batih. Salah satunya bisa ditemukan di masyarakat Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

Tradisi Ngitung Batih menjadi wujud kearifan lokal Bumi Menak Sopal. Ngitung Batih berasal dari kata Ngitung atau Ngetung yang berarti menghitung dan Batih yang bermakna anggota keluarga.

(more…)

Lebur dalam Tahlil Naluri Mbah Hasan Mimbar

Lina Linsa Azizah [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi Semester VII; Peneliti IJIR []

Lina Linsa Azizah [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi Semester VII; Peneliti IJIR []

Emosi memiliki peran penting dalam pembentukan masyarakat di Jawa. Tradisi Islam masuk ke pedalaman tanpa melawan Jawa lokal, demikian menurut Geertz (1960) dan Anderson (1972). Hal tersebut tidak terlepas dari tradisi Timur yang menekankan pada rasa. Maka, di pedalaman Jawa banyak dijumpai tradisi yang menjadi identitas baru, sebab bergumulnya budaya lokal dengan budaya baru. Misalnya, pada tradisi Tahlil Naluri Tegalsaren.

Rutinan Tahlil dilaksanakan di Masjid Hasan Mimbar Majan setiap hari Kamis setelah jamaah shalat Isya’. Kamis, 22 Agustus 2019, saya berkunjung untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pasalnya Tahlil Naluri adalah kristalisasi proses Islamisasi kerajaan Mataram yang dibawa oleh Mbah Hasan Mimbar. Beliau merupakan utusan Sri Sultan Pakubuwono II Mataram yang ditempatkan di Kadipaten Ngrowo pada tahun 1727 M. Demikian penuturan sejarah dari salah satu Dzuriah Mbah Hasan Mimbar, M. Ali Sodiq.

(more…)

Mbah Hasan Mimbar dan Pusaka Kiai Golok

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester III; Staf Magang IJIR []

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester III; Staf Magang IJIR []

Majan merupakan salah satu daerah di Tulungagung yang memiki budaya yang khas. Salah satu tradisi dan budaya di desa Majan adalah kirab Pusaka Kiai Golok. Pusaka merupakan simbol penyebaran agama Islam di Tulungagung, tepatnya di bumi Perdikan Majan.

Penyebaran agama Islam di daerah tersebut dilakukan oleh Kiai Hasan Mimbar, ketika beliau melakukan syiar Islam pada abad 18 M, ketika kabupaten Tulungagung masih bernama Ngrowo atau Bonorowo.

Gus Muhammad Ali Sodiq menuturkan bahwa pada tahun 1727, Bupati Raden Ngabei Mangundirono memerintahkan Kiai Hasan Mimbar untuk menyebarkan agama Islam di Ngrowo. Perintah tersebut juga merupakan perintah Raja Mataram Sinuhun Pakubuwono II. Atas alasan ini Mbah Hasan Mimbar lalu mendapatkan sebidang tanah yang hari ini dikenali dengan nama Majan. Inilah cikal bakal wilayah tersebut ditetapkan sebagai bumi Perdikan.

(more…)

Keris Sebagai Budaya Asli Indonesia

Zulfa Ilma Nuriana [] Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Semester I, IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Zulfa Ilma Nuriana [] Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Semester I, IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Budaya di Indonesia sangatlah menarik untuk dipelajari. Salah satunya Keris. Keris telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2005. Keris adalah senjata tajam khas Indonesia. Kata Keris sendiri berasal dari kata “ke” dan kata “iris”, apabila digabungkan memiliki arti alat untuk memotong sesuatu. Keris memiliki bentuk yang berlekuk-lekuk maupun lurus dan memiliki kedua sisi yang tajam. Senjata tajam tradisional ini berada di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, Madura, Bali, Sumatra, dan Sulawesi Selatan.

Keris memiliki arti yang luas. Namun pada hakikatnya memiliki persamaan. Sebagaimana dapat dilihat artinya dalam bahasa Jawa dan bahasa Arab. Jarwadhasa kata Keris dalam bahasa Jawa adalah ‘kekeranaris’. ‘Kekeran’ berarti penghalang dan pengendalian. ‘Aris’ berarti tenang. Keris dapat dikaitkan dengan kehidupan manusia, yakni seseorang harus saling mengingatkan dan mengendalikan diri secara bijak sehingga tidak menjadi manusia yang sombong (Sutrisna, 2009: 50).

(more…)

Mistisisme Jawa

Chandra Halim Perdana [] Mahasiswa Pascasarjana Prodi AFI IAIN Tulungagung; Peneliti  di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Mahasiswa Pascasarjana Prodi AFI IAIN Tulungagung; Peneliti di Institute for Javanese Islam Research []

Orang Jawa memiliki pandangannya sendiri terhadap dunia, disebut sebagai Javanisme. Tulisan ini merupakan review atas karya Niels Mulder, Javanism: The Background of Kebatinan. Melalui tulisan tersebut, kita bisa mengetahui pola mendasar cara berpikir orang Jawa.

Saat pandangan tersebut terorganisir, semacam gerakan mistisisme, dikenal dengan nama aliran. Keberadaanya lebih banyak dianggap mengancam. Selain itu, kebatinan terus menerus menjadi sasaran utama peng-agama-an. Padahal, javanisme merupakan jati diri. Sekaligus produk intelektual orang Jawa sendiri.

(more…)

Tarekat Sunan: Pancasetya Sebagai Kesalehan Hidup

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Pancasetya merupakan istilah Jawa yang merujuk makna prinsip melaksanakan tugas kearifan lokal yang terkait dengan lima ketaatan. Terdiri dari: setya budaya, setya wacana, setya semana, setya laksana, dan setya mitra.

Kelima istilah tersebut berarti mampu melestarikan budaya, memegang teguh ucapan, senantiasa menepati janji, bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepadanya, serta mampu menjalin persahabatan dengan prinsip kesetiakawanan.

Dapat dikatakan bahwa, pancasetya merupakan salah satu ciri di mana saat manusia wajib berusaha untuk menolak perbuatan buruk, maka pada saat yang sama ia juga harus berusaha menegakkan perbuatan baik.

(more…)

Kedungwaru Culture Village Carnival, Memotret Akar dan Potensi Desa

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Di tengah persiapan menjadi Kecamatan percontohan untuk penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan berbasis Desa, Kedungwaru menyelenggarakan “Kedungwaru Culture Village Carnival” (KCVC). Agenda ini, selain dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, juga merupakan upaya meneguhkan identitas Kedungwaru sebagai desa budaya.

KCVC (25/08) dimulai sekitar pukul 1 siang. Rute Karnaval dimulai dari Pasar Senggol, Bangoan ke selatan menuju pertigaan depan Balai Desa Ringinpitu. Setelah itu, peserta pawai menuju lapangan Ringinpitu sebagai titik akhir.

(more…)

Labuh Larung Sembonyo

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungaguang; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungagung; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester I; Staf Magang IJIR []

Labuh Larung Sembonyo merupakan upacara adat masyarakat Prigi sebagai wujud rasa syukur atas berlimpahnya tangkapan ikan. Selain itu, upacara ini merupakan wujud syukur para nelayan atas keselamatan yang diberikan Tuhan saat melaut. Hingga saat ini upacara Labuh Larung Sembonyo masih dilestarikan oleh masyarakat Prigi.

Menurut mereka, dibukanya kawasan atau babad alas teluk Prigi menjadi cikal bakal terciptnya tradisi Labuh Larung Sembonyo, sehingga upacara ini begitu sakral. Labuh Larung Sembonyo dilaksanakan pada Senin kliwon bulan Selo sesuai penangggalan Jawa. Upacara adat ini biasanya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka atau babad alas teluk ini yaitu Tumenggung Yudho Negoro dan empat saudaranya.

(more…)

Tradisi Pasang Molo

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dahulu, tiap rumah orang Jawa selalu terpasang molo. Hal ini dianggap begitu penting dimiliki tiap rumah. Pemasangan molo memiliki pengharapan besar bagi si empunya rumah, terutama demi maksud terhindar dari malapetaka. Sayangnya, seiring perkembangan zaman terutama dalam segi arsitektur bangunan, kian menggeser makna filosofis pemasangan molo.

Tradisi pemasangan molo merupakan tradisi memasang tiang tertinggi atap rumah atau blandar untuk selanjutnya dibungkus dengan kain merah. Kata molo merupakan kata turunan dari kata polo, yang berarti sirah atau kepala. Pemasangan molo biasanya dilakukan saat prosesi membangun rumah. Molo ditempatkan pada tiang tertinggi, dan tepat berada di tengah-tengah rumah.

(more…)

Macan Putih Gaib Candi Mleri

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Candi Mleri atau disebut juga Kekunaan Mleri (makam), terletak di kaki Gunung Pegat, Desa Begelen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Luas area Candi hanya berkisar 27 x 23 meter saja. Lokasi candi tergolong masih segar karena banyaknya pohon besar yang memayungi area tersebut. Selain itu lokasi ini juga cukup bersih karena peran Juru Kunci yang selalu membersihkannya, dan terkadang para pengunjung juga ikut membersihkan lokasi agar tetap indah.

Candi Mleri merupakan Candi yang bercorak Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya patung Ganesha di bagian luar makam. Di Candi Mleri ini dapat kita temukan beberapa peninggalan-peninggalan artefak, relief, makam-makam, dan prasasti.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme