Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Prosesi Ritual Tiban

Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Desa Sawentar, Kanigoro, Blitar mengadakan ritual Tiban. Para warga sudah menunggu sekitar satu tahun lamanya untuk bisa menyaksikan agenda ini. Tidak hanya dari masyarakat Desa Sawentar saja yang ikut berpartisipasi, tetapi dari desa-desa lain juga turut andil dalam ritual ini.

Pagelaran Tiban di Desa Sawentar biasanya dimulai dari siang hari sampai sore hari. Ini merupakan waktu yang tepat guna pertunjukan Tiban, mengingat banyak petani-petani di wilayah ini sudah senggang aktivitasnya. Selama berhari-hari lamanya, pagelaran semacam ini akan terus dihelat sesuai dengan izin dari pihak terkait dan ketentuan yang dibuat panitia penyelenggara-Paguyuban Seni Tiban.

(more…)

Tiban, Ritual Memohon Hujan

Jawa kaya akan tradisi-tradisi ritualnya, salah satunya ialah Tiban. Pada hakikatnya, ritual tersebut diyakini masyarakat sebagai permohonan meminta hujan kepada Sang Maha Kuasa. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga.

Sama seperti halnya yang dilakukan masyarakat Desa Sawentar, Kanigoro, Blitar. Tiban sampai sekarang ternyata masih dilestarikan dan baru saja diselenggarakan di desa ini. Acara dihelat meriah dan berlangsung mulai 19 September 2018.

Umumnya, Tiban berkembang pesat di wilayah Selatan Jawa. Penyebarannya meliputi Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Kediri bahkan Banyuwangi. Tak heran, bila undangan untuk para pemain ditunjukan ke segala penjuru wilayah ini.

(more…)

Kampung Seni Ngingas #2

Kidung Kentrung ngusap mendung ing langit Tulungagung,” begitu Romo Wiji Paminto Rahayu memulai geguritan dalam acara Kampung Seni Ngingas #2. Ini adalah acara keren yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Gedhang Godhog (SSGG) pada Jum’at-Minggu, 12-14 Oktober 2018 di Dusun Ngingas, Desa Campurdarat, Kec. Campurdarat, Kab. Tulungagung.

Acara melibatkan secara aktif para warga dusun dan dibantu oleh ‘pasukan’ Blero Universitas Negeri Malang (UKM yang concern pada Kentrung). Yayak Priasmara, Romo-nya SSGG sekaligus ketua pelaksana, mengatakan bahwa selama proses persiapan kegiatan ada banyak bantuan dari para warga dusun. Ini benar-benar acara yang lahir dari rahim masyarakat sendiri.

(more…)

Grebeg Wilis Buceng Robyong, Simbol Penghambaan

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Grebeg Wilis Buceng Robyong kembali dirayakan masyarakat Geger, Sendang pada tanggal 13 September 2018. Ritual ini dilaksanakan dalam rangka memperingati 1 Sura. Dinamakan Buceng Robyong karena dalam pelaksanaannya terdapat Buceng Robyong, yaitu tumpeng besar berisikan sayur-mayur, buah-buahan dan umbi-umbian.

Hingga sekarang, masyarakat masih melakukannya. Terlebih karena, ritual ini diyakini sebagai wujud rasa syukur kepada sang Maha Tunggal atas melimpahnya hasil bumi dan sumber air. Tidaklah heran jika ritual ini begitu istimewa, khususnya bagi masyarakat lereng Wilis.

(more…)

Jaranan Bangkit dari Kematian

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seni lahir dari hati nurani masyarakat”, demikian ungkap Sujito pada Rabu, 10 Oktober 2018. Dengan mempertimbangkan bukti-bukti sejarah, kiranya ungkapan Sujito tidaklah berlebihan.

Sebelumnya, telah digambarkan bagaimana sejarah kelam Jaranan paska tragedi kemanusiaan 1965 (lihat kembali Senjakala Jaranan). Jaranan pada periode itu telah sampai pada jurang kepunahan. Namun faktanya, kini Jaranan telah hidup kembali, bangkit dari kematian. Bagaimana ini bisa terjadi?

Penjelasan paling sederhana atas fakta ini bisa dilihat sebagaimana ungkapan Sujito di atas. Seni (spesifik dalam konteks ini adalah Jaranan) yang lahir dari hati nurani masyarakat, maka akan tetap hidup di dalam hati nurani masyarakat tersebut.

(more…)

Benarkah Ndadi itu Kesurupan?

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Ndadi merupakan pertunjukkan khas ala Jaranan. Kebanyakan orang selama ini memahami ndadi dalam perspektif tunggal yakni kesurupan. Lalu, apakah teori ini benar-benar sudah final? Tentu saja tidak. Pada bulan September lalu, saya berbincang-bincang dengan salah seorang pegiat Jaranan, namanya Yahmi. Salah satu obrolan seriusnya adalah membahas soal ndadi dalam pagelaran Jaranan.

Menurut Yahmi, ndadi bukanlah pertunjukkan yang murni diidentifikasi sebagai kesurupan. Menurutnya, ndadi adalah kegiatan sadar peraganya. Ia menegaskan lagi bahwa ndadi ibarat akting dalam seni Jaranan. Pandangan ini bukan tanpa sebab, pasalnya terdapat beberapa hal yang bisa dijadikan pertanggungjawaban argumentasinya.

(more…)

Royalan, Ritual Masyarakat Manding, Pucanglaban

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III - Staf Magang IJIR []

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III – Staf Magang IJIR []

Royalan adalah kegiatan turun menurun yang dilakukan masyarakat dengan maksud slametan, sedekah desa dan ungkapan syukur kepada Tuhan. Rasa syukur ini dilakukan oleh masyarakat atas melimpahnya air yang selalu mengaliri desa Manding, Pucanglaban.

Hal tersebut sangat berbeda dengan desa-desa lain di daerah Pucanglaban yang terdampak kekeringan di kala kemarau tiba. Masyarakat Manding tetap dapat menikmati air bersih di segala musim, sehingga masyarakat di sini terutama para petani sangat bersyukur atas situasi ini. Petani di Manding bahkan bisa sampai panen raya hingga tiga kali per-tahunnya.

(more…)

Trance (Jaranan) dalam Ragam Perspektif

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Kehidupan masyarakat Jawa selalu lekat dengan unsur mistis. Salah satunya keberadaan trance atau ndadi dalam Jaranan. Sebagai bagian dari Jaranan, ndadi menjadi unsur menegangkan dalam pertunjukan kesenian tersebut. Karena saat ndadi para pemain mampu melakukan sesuatu yang ekstrem dan terkadang berbahaya. Seperti memakan ayam hidup-hidup, makan tanaman senthe, dan bahkan bermain api.

Tidak hanya sebagai hiburan, keberadaan ndadi di Jaranan bisa juga menjadi sarana berhubungan dengan dunia gaib. Karenanya Jaranan terkadang diadakan untuk bersih desa, terutama pada bulan purnama. Saat-saat dilanda wabah penyakit, gagal panen, serangan hama dan kesulitan yang bersifat komunal lainnya (Mauricio, 2002: 32).

(more…)

Senjakala Jaranan

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Ini adalah sepotong catatan di balik layar dalam Seminar Budaya bertajuk “Kethoprak dan Kajian Sejarah Ephos Panji Patipati dan Amukti Palapa” pada 27 September 2018 kemarin. Seminar diadakan sebelum pagelaran Kethoprak Nyiswobudoyo dengan lakon “Panji Patipati Maniti Amukti Palapa” pada Sabtu, 29 September 2018.

Sunarko yang menjadi pembicara dalam seminar tersebut menyatakan, Kethoprak akan dipentaskan dengan menyertakan unsur-unsur Jaranan dan Reog. Hal ini memantik obrolan ringan soal ingatan masa lalu tentang Jaranan.

Dulu pada periode 1960-an, komunitas-komunitas seniman Jaranan banyak berkembang di desa-desa. Mereka menjamur di mana-mana.

(more…)

Prosesi Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Staf magang di IJIR. []

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Staf magang di IJIR. []

Tulungagung punya gawe. Setiap bulan Suro, Tulungagung menghelat ritual Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas.  Ritual ini lazim dilaksanakan setiap hari Jum’at di atas tanggal 10 Suro. Menurut banyak kalangan, ritual ini merupakan hajat rutin yang tidak boleh ditinggalkan.

Kanjeng Kyai Upas ialah pusaka berbentuk tombak. Pusaka ini di simpan dan diamankan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung yang ada di Kelurahan Kepatihan. Di tempat ini pula, ritual Jamasan Kanjeng Kyai Upas digelar.

Kini, pusaka Kanjeng Kyai Upas telah menjadi identitas Tulungagung. Pandangan ini bukan semata klaim kosong. Bukti sahihnya adalah masyarakat selalu berbondong-bondong untuk turut serta menjadi bagian dari ritual Jamasan Pusaka Kyai Upas.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme