Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Sakralitas Ari-Ari bagi Orang Jawa

Mega Mustikasari [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi semester IV []

Mega Mustikasari [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi semester IV []

Ari-ari atau plasenta bagi orang Jawa tidak sekadar dipahami sebagai sesuatu yang keluar mengiringi kelahiran bayi. Keberadaannya dipercaya terus memiliki hubungan dengan bayi, bahkan ketika dewasa hingga meninggal dunia. Karena itu, masyarakat Jawa memberikan perlakuan khusus terhadap ari-ari bayi.

Perlakuan seperti mencuci bersih terlebih dahulu ari-ari sebelum dikuburkan. Berdasarkan informasi Clifford Geertz, ibu bayi juga memantrainya, membungkusnya dengan kain putih, dimasukkan kendi dan digarami (Geertz, 2014: 52). Sumber lain menyebutkan, kendi tersebut juga diberi alas kain mori. Dimaksudkan agar kelak nantinya anak tidak hanya memikirkan hal duniawi saja.

(more…)

Falsafah Wedang Kopi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Orang Jawa menjadikan kopi sebagai cara pandang hidup. Tentu saja, jika hal ini ditinjau dari makna filosofisnya.  Landasan filosofis ini mengendap dalam kebudayaan Jawa. Meski bukan dalam pemahaman yang detail, setidaknya, pemahaman itu mewujud dalam tradisi musyawarah.

Musyawarah menjadi salah satu model penting untuk memahami basis moral orang Jawa. Membahas moral, sama halnya dengan membicarakan konsep hidup orang Jawa. Dalam khazanah Jawa, manusia ideal adalah mereka yang mampu mengabdi kepada Tuhan, juga menghargai sesama.

(more…)

Proses Kreatif Ndamel Wayang

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Gårå-gårå wontên pagêlaran wayang kulit purwå mênikå multitafsir såhå multipersepektif nggadhahi simbolisasi kahanan Jawa rikala sêmanên. Saking sejarahipun adêgan gårå-gårå mbok mênawi mbotên wontên ing jaman kuna jaman Hindu-Buddha ing Jawa déréng dipunpanggihi data-data historisipun.

Pagêlaran wayang jaman kuna langkung monoton, dereng wontên inovasi, såhå improvisasi taksih wêtah mênåpå wontênipun. Piranti pagêlaran wayang taksih prasåjå botên pêpak kados jaman sakmênikå. Ginanipun wayang gêgayutan kalihan upåcårå religius utawi ritualisasi jaman sêmantên.

(more…)

Versi Lain, Cerita Lisan Reyog

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Sejarah Reyog versi lain merupakan cerita perlawanan Demang Surukubeng, yaitu Ketut Suryangalam/Ki Ageng Kutu kepada Majapahit. Ia menganggap bahwa raja tidak tegas karena kebijakannya banyak dipengaruhi oleh sang Permaisuri yang beragama Islam. Meskipun ia mengasingkan diri, ia membuka padepokan olah kanuragan di Surukubeng. Ia juga menganggap bahwa pasukan Majapahit lemah, tidak sekuat dan segagah dulu.

Ki Ageng Kutu sangat kecewa dengan keadaan tersebut sehingga ia menciptakan Reyog yang merupakan sindiran atas kondisi Majapahit. Ia menciptakan topeng dengan kepala harimau yang di atasnya bertengger merak yang berbulu indah. Harimau ini merupakan simbol raja dan merak merupakan simbol permaisuri, hal ini melambangkan ketundukan raja pada permaisuri dalam kebijakan-kebijakannya.

(more…)

Permainan Tradisional untuk Terapi Anak

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Terapi bermain merupakan bentuk konseling, yakni psikoterapi yang menggunakan sarana permainan untuk berkomunikasi dan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Plato dianggap orang pertama yang memperkenalkan nilai praktis  permainan. Berbasis permainan, masyarakat Jawa memiliki banyak permainan tradisional. Memainkannya seperti menjadikannya sebagai media terapi, terutama bagi anak-anak.

Seiring perkembangan ilmu jiwa, para ahli mencoba menjawab keberadaan bermain bagi manusia. Teori klasik tentang bermain, menyatakan bahwa manusia bermain disebabkan  surplus energi, untuk rekreasi, rekapitulasi dan kegunaan praktis. Perkembangan selanjutnya teori tersebut menjelaskan bahwa bermain memiliki manfaat bagi perkembangan anak-anak (Tedjasaputra, 2008: 2).

(more…)

Cerita Lisan Reyog Ponorogo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Dikisahkan sang Prabu Kelana Sewandana berkedudukan di Bantarangin. Kerajaan ini berdiri di tanah bekas Wengker Purba (986-1037 M) yang telah ditaklukkan oleh Erlangga setelah 3 kali penyerangan.

Sang Prabu merupakan penganut Tantrayana yang pantang berhubungan dengan perempuan. Sang Prabu mempunyai adik yang sekaligus patih bernama Bujangganong (Pujangga Anom), berbeda dengan kakaknya yang mempunyai paras tampan, ia justru memiliki rupa yang jelek namun dianugrahi kekuatan dan kesaktian  (Purwowijoyo: 1990, 14).

(more…)

Reyog Ponorogo yang Sudah Paten

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Reyog merupakan kesenian asal Ponorogo dan sudah menjadi ikon dari kabupaten tersebut. Penulis lebih memilih kata “Reyog” daripada “Reog”, karena kata Reog merupakan semboyan Kabupaten Ponorogo era Bupati Markoem yang dikeluarkan lewat Surat Keputusan Bupati No: 425/1995, yang merupakan akronim dari Resik, Endah, Omber, Girang-gemirang. Menurut para sesepuh, penggunaan sebutan yang benar adalah Reyog.

Kesenian ini diwariskan turun-menurun dari generasi ke generasi dan mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Ponorogo, bahkan masyarakat Ponorogo akan membawa kesenian ini dimanapun mereka berada. Mereka juga pernah membawakan tradisi ini ke negeri tetangga hingga menimbulkan polemik klaim kesenian ini.

(more…)

Surutipun Têmbang Dolanan Wontên ing Pagêlaran Wayang

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Têmbang dolanan sakmênikå sampun awis-awis dipunungêlakên wontên ing pagêlaran wayang (ringgit wacucal). Prêkawis mênikå dipunngêndikakên kalihan Ki Udreka, M.Sn., dhalang Ngayogyakarta såhå Dosen ISI (Institut Seni Indonesia) Ngayogyakarta. Pangandikanipun Ki Udreka, M.Sn., pårå dhalang sakmênikå kathah-kathahipun nêmbangakên têmbang ingkang hits utawi populer utawi ingkang booming kémawon. Nglirwakakên têmbang dolanan ingkang kêbak filosofis, simbolis lan nilai-nilai luhur kanggé pêndidikan budi pêkêrti. Têmbang ingkang asring dipunungêlakên kaliyan pårå dhalang kados ta caping gunung, sambêl kêmangi lan sakpiturutipun.

(more…)

Jaranan Safitri Putro

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Kito wargo seni jaranan dangdut kreasi; Keparingan asmo Turonggo Safitri Putro; Ngaturaken sugeng pinanti rahayu; Lir ing sambikolo amangke yuwono; Mugi pinayungan mring Yang Moho Agung; Kerso paring pasuki yuwono mugi; Safitri Putro tetep joyo salaminyo.

Inilah sepenggal lirik lagu yang dengan mudah sekali diingat para pecinta kesenian Jaranan. Lirik tersebut merupakan pambuko dalam setiap penampilan Turonggo Safitri Putro, salah satu kelompok Jaranan yang pernah melegenda di Tulungagung pada masanya. Lagu pambuko ini sejatinya merupakan doa para senimannya agar tetap eksis di tengah masyarakat pendukungnya.

(more…)

Enthik dan Punahnya Permainan Tradisional

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Enthik atau gatrik merupakan permainan tradisional yang masyhur di Jawa. Di beberapa daerah, permainan ini memiliki nama yang beragam. Ada yang menamkannya benthik’ atau ‘patil lele’, namun di daerah saya, juga wilayah Tulungagung dan sekitarnya, permainan ini dinamakan dengan ‘enthik’.

Pada masanya, enthik merupakan permainan populer dan digandrungi. Selain menghibur, permainan ini bisa dikatakan tidak memerlukan biaya. Hanya dibutuhkan ranting yang kemudian dipotong 2 bagian. Satu bagian merupakan tongkat pendek yang panjangnya kurang lebih (±) 10 cm, sedangkan bagian lain disebut tongkat panjang yang ukurannya 3 kali lipat dari tongkat pendek.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme