Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Tembang Macapat Sebagai Media Dakwah

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Macapat adalah suara kehidupan. Ia merupakan perjalanan serta tata cara orang Jawa dalam memaknai laju kehidupannya. Karya itu adalah warisan para bhujangga yang kemudian tetap dihidupkan oleh para wali sebagai media dakwahnya. Dengan begitu, ia adalah sastra tentang kehidupan yang  yang masih  layak dihayati hingga saat ini, karena ia adalah metafora denyut perjalanan manusia.

Poedjasoebroto (1978: 194-207) mendefinisikan tembang Macapat sebagai wawasan atau dakwah kehidupan. Menarik arti kata tembang, yaitu karangan bunga yang harum, dan Macapat terdiri dari suku kata ma, ca dan pat. Dalam ilmu jarwadhosok (otak-atik) suku kata itu menjadi iman, panca dan pathokan. Artinya rukun Iman dan Islam sebagai pedoman kehidupan. Sehingga dakwah Walisanga yang mengunakan tembang Macapat selalu identik seperti menabur bunga yang harum, yang meniadakan kemungkaran.

(more…)

Hakikat Makna Wayang

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Pirêmbagan-pirêmbagan sakdéréngipun ngrêmbag prêkawis sêjarah wayang. Generalisasinipun wayang kabudayan Jawa wontên ing pangrêmbakanipun pikantuk pangaribawaning kabudayan India (Hindu-Buddha), agami Islam lan sanésipun. Nyinauni wayang kadosdéné nyinauni kabudayan Jawa ingkang pêpak sartå aspek pamikiran Jawa ingkang mligi såhå aspek religiusipun.

Analisa Ciptoprawiro (1977) wayang mênikå pangéjawantahanipun filsafat Jawa. Rumusan filsafat Jawa asalipun saking pola pamikiran Jawa ingkang kabêntuk saking pamikiran-pamikiran Jawa wiwit jaman prasejarah dumugi jaman kamardikan. Pola pamikiran Jawa ngasilakên rumusan pola universal inggih mênikå pambudi daya manungsa Jawa supados sagêd manggihakên kasampurnan.

(more…)

Memayu Hayuning Bawana

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Memayu hayuning bawana merupakan filsafat spiritual Jawa. Ia menjadi tujuan di satu sisi, sekaligus menjadi panduan moral di sisi yang lain. Ini artinya, memayu hayuning bawana akan menjadi ruang diartikulasikannya segenap keyakinan, harapan dan kenyataan.

Sebagai keyakinan dan harapan, memayu hayuning bawana menjadi payung bagi manusia untuk mewujudkan harmoni semesta (makrokosmos). Kesadaran semacam ini sebenarnya mudah saja mendapatkan argumentasinya. Jangan lupa bahwa kesadaran masyarakat Jawa selalu menautkan dirinya (mikrokosmos) dengan semesta tempatnya mengada.

(more…)

Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Lilis Ambarwati [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester II; Staf Magang IJIR []

Lilis Ambarwati [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester II; Staf Magang IJIR []

Jawa memiliki tradisi dan budaya yang beranekaragam. Salah satunya adalah tradisi lisan berupa pitutur atau nasehat Jawa. Kata pitutur berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelajaran, nasihat, atau peringatan (Prawiroatmodjo, 1957: 507). Pitutur biasanya disampaikan melalui peribahasa, tembang macapat, dongeng, tutur-tinular dan lain sebagainya.

Salah satu pitutur adalah sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar (Hernanda Rizky, 2018: 328). Semua bentuk sifat angakara murka yang tertanam dalam diri manusia sesungguhnya dapat dihilangkan dengan sifat-sifat baik seperti lemah lembut tapi tegas, kasih sayang tapi tidak pilih kasih dan kebaikan. Setiap kata dalam pitutur tersebut memiliki makna tersendiri.

(more…)

Kesadaran Pesantren: Kiai Malati

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Kiai itu malati. Tata pikir ini diyakini kaum santri. Segala tindak tanduk santri selalu dijaga agar tidak menyebabkan kiai merasa gelo. Jika sang kiai gelo, para santri mempercayai bahwa bisa menyebabkan mereka kuwalat.

Kepercayaan seperti itu, didasarkan pada pemikiran bahwa orang yang nyantri di pesantren meyakini bahwa ‘berkah’ dan kemanfaatan ilmu bergantung pada ridho kiai. Tujuan utama santri mondok ialah memperoleh keberkahan. Sehingga, bila seorang santri tidak berhati-hati dalam berperilaku bisa membuatnya kuwalat pada kiai alias tidak slamet.

(more…)

Etika Dan Pitutur Luhur Aksara Jawa

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester Vl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Kehidupan sosial yang baik diatur dalam norma sosial setempat. Misalnya saja norma sosial masyarakat Jawa yang menekankan pentingnya rasa hormat kepada orang tua. Dalam istilah jawanya dikenal dengan unggah-ungguh atau biasa kita menyebutnya dengan etika. Dalam etika Jawa, masyarakat selalu menampakan jati dirinya yang berbudi pekerti luhur.

Selain itu, dalam berkomunikasi atau bercakap-cakap masyarakat Jawa memilih bahasa Jawa yang tepat. Maksudnya disesuaikan dengan lawan bicara mereka. Apabila lawan bicara mereka orang tua maka digunakan bahasa Jawa alus (kromo atau inggil). Namun, apabila dengan teman biasa mereka menggunakan bahasa ngoko. Hal ini merupakan ciri khas masyarakat Jawa yang berbeda dengan masyarakat lainnya.

(more…)

Gugon Tuhon dan Pembentukan Pribadi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Menjadi elegan dalam bersikap adalah prinsip orang Jawa. Konsepsi ini sangat mudah ditemukan pembenarannya dalam bingkai gugon tuhon. Melalui medium itulah, masyarakat Jawa mengajarkan prinsip-prinsip etis dalam tiap tindakan individu.

Orang Jawa memiliki banyak sekali tata nilai kepribadian, yang masih layak diterapkan hingga saat ini. Beberapa di antaranya termuat dalam gugon tuhon, seperti: aja nyangga uwang (jangan menyangga dagu dengan tangan), aja nyunggi tangan ing gulu atau  sirah, garai urip susah (jangan mengalungkan tangan di leher atau kepala), aja sedakep sak wayah-wayah (jangan sering bersedekap), aja mbondo tangan neng mburi, garai dibondo malaikat (jangan mengikat tangan di belakang).

(more…)

Kosmologi Lingga-Yoni

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Lingga-Yoni merupakan sakralitas. Dalam Serat Gatoloco, sakralitas itu merupakan simbolisasi yang menceritakan sangkaning dumadi. Cerita itu diamini oleh masyarakat Jawa, sebagai bentuk apresiasi “tumbu oleh tutup” atau kesempurnaan.

Wujud kesempurnaan manusia juga didasarkan pada kedua simbol sakral tersebut. Penyebutan Lingga-Yoni dalam Serat Gatoloco adalah representasi dari alat kelamin manusia. Lingga merujuk pada alat kelamin laki-laki, dalam berbagai istilah disebut sebagai darmogandul, totok, penis, phallus. Bentuk Lingga memiliki tiga bagian utama, yaitu bagian bawah (barahma bhaga), bagian tenggah (wisnu bhaga) dan bagian atas (siva bhaga).

(more…)

Sepasaran Bayi

Miftakul Ulum Amaliyah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Miftakul Ulum Amaliyah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Orang Jawa mengenal sepasaran bayi sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap kelahiran. Hal ini karena sepasaran bayi dianggap sebagai suatu yang diwariskan turun temurun. Dalam praktiknya, terdapat beberapa ritual penting yang harus dilaksanakan. Ritual tersebut antara lain, merapalkan doa, memotong rambut, gebrok, dan makan di lémpér.

Ritual tersebut sering ditemukan dalam keluarga Jawa. Ritual pertama adalah perapalan doa. Ritual ini adalah pembacaan doa dengan mengundangan masyarakat sekitar. Selanjutnya pemotongan rambut, yaitu ritual memotong sebagian atau seluruh rambut bayi. Kemudian gebrok, yaitu kegiatan memukul tempat tidur dengan kedua tangan. Ritual terakhir adalah makan di lémpér. Ritual ini adalah makan bersama anggota keluarga yang memiliki hajat dengan lémpér sebagai wadahnya.

(more…)

Jaman Edan dalam Serat Kalatidha

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Serat Kalatidha adalah salah satu karya sastra yang ditulis Raden Ngabehi Ronggowarsito kisaran tahun 1860-an. Ranggawarsito adalah seorang pujangga ternama yang berasal dari Kasunanan Surakarta. Karya sastra ini melukiskan suatu keadaan zaman yang rusak dengan berbagai pelanggaran atas aturan dan norma yang parah dan sistematis.  Kondisi demikian, biasanya disebut dengan jaman edan.

Ada dua versi pandangan terhadap serat ini. Pandangan pertama menurut Permana dan Nurhayati (2014) mengatakan bahwa karya ini menggambarkan keadaan sosial masyarakat pada masa itu. Konon, Ronggowarsito menulis serat ini karena suatu kekecewaan, ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti harapannya. Penyebabnya adalah ketidakadilan, krisis yang terjadi dipelbagai aspek.  Ia kemudian menyebutnya sebagai zaman gila atau edan.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme