Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Sisa Kentrung di Tulungagung

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Kentrung, kebanyakan masyarakat mengetahuinya sebagai salah satu alat musik—serupa gitar namun memiliki ukuran lebih kecil dengan empat senar kunci atau biasa kita menyebutnya ukulele. Faktanya Kentrung merupakan salah satu kesenian asli Indonesia, utamanya khas dari pulau Jawa. Banyak di antara masyarakat kita tidak lagi mengenal Kentrung. Kentrung merupakan salah satu kesenian yang dimainkan oleh sekelompok orang (grup/paguyuban) dengan seperangkat alat musik khasnya.

Kesenian Kentrung menyebar hampir seluruh di kawasan Jawa. Menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara, Blora, Tuban, hingga Tulungagung. Kesenian Kentrung merupakan salah satu kesenian dengan ciri khas sama dengan wayang, yaitu kesenian bertutur (bercerita). Namun Kentrung tidak disertai dengan adegan wayang.

(more…)

Kawah Candradimuka itu Bernama, Siswo Budoyo

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Jika hendak menengok kemasyhuran kesenian kethoprak di Jawa, Siswo Budoyo menjadi salah satu riwayat yang patut diabadikan. Di masanya, kelompok asal Tulungagung ini mampu memelopori kethoprak wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Banyak bintang lawak papan atas Indonesia lahir dari rahim Siswo Budoyo.

Siswo Budoyo Lahir

Siswo Budoyo lahir dari kecintaan pendirinya, Siswondho Hardjosoewito (akrab disapa Pak Sis) akan dunia seni. Ia mendapatkan banyak ilmu kesenian, mulai dari tari, gamelan, dan karawitan, melalui sekolah Taman Dewasa.

(more…)

Tulungagung, Bumi Kethoprak

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Kethoprak merupakan seni teater tradisional yang berjaya di masanya. Kesenian ini berasal dari kata “ketho” yang artinya pertunjukan, lalu diiringi dengan keplak yang bunyinya “prakprakprak”.

Kethoprak jarwo doso nipun pertunjukan sing dikeplak omongan saking Gatholoco. Lajeng keprak meniko kentongan. Pramilo Kethoprak meniko kedah mawi kentongan. Menawi tiyang jawi dodokan cempolo meniko,” demikian penjelasan Soenardi—salah seorang anggota Kethoprak Siswo Budoyo.

Seni pertunjukan ini merupakan teater tradisional yang memiliki kekhasan dalam lawakan. Karenanya Kethoprak menjadi tontonan yang begitu digandrungi. Hal ini dibuktikan dengan popularitas Kethoprak Pesisiran khas Tulungagung yang dimotori oleh Ki Siswondho Hardjosoewito pada tahun 1958 hingga sekarang.

(more…)

Wage Keramat, Ritual Tolak Balak Sumpah Lembu Sura

Muna Roidatul Hanifah [] mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam semester III; staf magang di IJIR []

Muna Roidatul Hanifah [] mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam semester III; staf magang di IJIR []

Wage Keramat mungkin belum cukup familiar bagi masyarakat di luar Kediri. Bagi masyarakat di sekitar lereng gunung Kelud, ritual tersebut bukanlah hal baru. Upacara adat tersebut dikaitkan dengan sosok Lembu Sura yang tersohor di hampir semua masyarakat di lereng Kelud.

Wage Keramat dan Lembu Sura ibarat dua sisi mata koin, sebab keduanya miliki benang merah terkait gunung Kelud, salah satu gunung api paling aktif di Jawa Timur.

Wilayah gunung tersebut meliputi tiga kabupaten yaitu Kediri, Blitar dan Malang. Di Kediri, gunung Kelud merupakan salah satu objek wisata paling digandrungi oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan gunung Kelud tak hanya memiliki pemandangan eksotis, namun juga kental akan  kisahnya yang melegenda.

(more…)

Kili Suci dalam Sejarah Reog Ponorogo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Kili Suci atau Dyah Sanggramawijaya merupakan wanita dengan pesona tiada tara. Banyak lamaran raja yang ditolak olehnya. Lembusura, Jatasura, Raja Bugis yang kisahnya dikaitkan dengan beberapa kesenian di daerah Tulungagung, yaitu Reyog Kendang.

Sejarah Reog Ponorogo pun juga tidak terlepas dari drama penolakan lamaran Dewi Kili Suci. Prabu Kelana Sewandana–Raja Bantarangin (Somoroto, Ponorogo), ditolak lamarannya oleh Dewi Kili Suci. Seperti yang diterangkan dalam Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo dalam Pentas Bangsa, kisah penolakan ini kemudian digubah oleh Ki Ageng Mirah dalam lakon Klana Wuyung.

(more…)

Modin, Pendiri Pertama Masjid Desa

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR; mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Semester VIII []

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR; mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Semester VIII []

Setelah Islamisasi yang dilakukan oleh penghulu, kini giliran jejaring di bawahnya mulai melancarkan kekuatannya. Di bawah penghulu, jabatan keagaaman yang melekat serta mengawal pesan agama sampai ke pedalaman setiap desa di Jawa ialah modin. Tanpa hadirnya modin, pekerjaan seorang penghulu dalam memperluas gelombang Islamisasi secara besar-besaran akan mengalami kendala dan tantangan.

Rekam jejak itu nampak di dalam melihat modin di Tanggunggunung awal abad 20 M. Seorang yang menjadi modin di setiap wilayah di Tanggunggunung awal mulanya bukan penduduk asli desa tersebut. Mereka keseluruhan berasal dari wilayah yang lebih rendah dari Pegunungan Tanggunggunung dan menetap karena berbagai alasan sosial ekonomi dan politik.

(more…)

Joko Kandung Alias Adipati Aryo Blitar III

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Hutan kandung atau yang lebih populer bernama alam kandung berada di desa Tanen, Rejotangan Tulungagung. Siapa sangka, di balik keindahan alam yang memukau dengan air terjun dan hutannya ini, ternyata tempat ini memiliki sejarah penting. Nama alam Kandung pun tak jauh dari sosok sang Joko Kandung yang terkenal itu.

Konon menurut kesaksian juru kunci dari Situs Aryo Jeding, Joko Kandung pernah berburu burung di daerah hutan tersebut. Kelak dari perjalanannya inilah ia bertemu dengan sosok yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Adipati Aryo Blitar (I).

(more…)

Edisi Ulur-Ulur [3]: Jigang Jaya Penunggu Telaga Madirda

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Jigang Jaya adalah sosok yang selalu dikaitkan dengan upacara ulur-ulur di Buret. Meski hanya disebut sebagai legenda oleh masyarakat 4 desa, sosoknya begitu diluhurkan hingga saat ini. Sesuai wasiatnya, masyarakat 4 desa tidak pernah absen untuk melakukan ruwat dan syukuran di Madirda; sebuah telaga yang dipercaya sebagai tempat pesanggrahan Jigang Jaya.

Legenda mengenai sosoknya diceritakan langsung dalam catatan Yayasan Kasepuhan Handono Warih (perwakilan Paguyuban Kasepuhan Sendang Tirto Mulya). Catatan lainnya juga dapat ditemukan dalam buku “Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur” dokumen daerah 1982-1983 serta dalam naskah Sejarah & Babad Tulungagung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung.

(more…)

Edisi Ulur-Ulur [2]: Tradisi Lisan yang Menyertai Ritual

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Mbok Sri wes boyong, Mbok Sri telah pergi. Kepergianya mendatangkan kemarau panjang dan penyakit mematikan. Hasil panen padi juga kian memburuk.

Masyarakat desa mencari dengan berbagai cara untuk mendatangkan kembali dewi padi tersebut. Salah seorang Demang di sebuah Kademangan bernama Demang Glagah Wangen, setelah mendapatkan wangsit ia melakukan pencarian terhadap Dewi Sri. Karena tidak mampu, ia meminta pertolongan Demang Talun dan Demang Popoh untuk menggerakkan masyarakatnya. Tujuannya adalah, membawa pulang kembali Dewi Sri hingga ketentraman desa kembali seperti sedia kala.

(more…)

Edisi Ulur-Ulur [1]: Ulur-Ulur Sebagai Ritual Syukur

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seli Muna Ardiani [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Kabuncang ing maruta. Tandesna mring jalanedi.  Hasta seni pamadyaning langgeng. Jagad kang paring kuwat. Bumi kang paring rejeki. Surya, candra, kartika, kang pinangka saksi. Tinebihna tulak sarik, tingkakna  sak kersane. Piantun desa, Sawo, Ngentrong, Gedangan, Gamping. Sumawana sak kabupaten Tulungagung. Minggah sak Negari Nusantara, Pinaringan Hayam, Hayem, Tentrem, Rahayu, Rahayu, Rahayu. Saking kersaning kang murbeng jagat.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme