Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Dimensi Vertikal dan Horizontal Kembar Mayang

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Saya ingin membuat kajian mendalam mengenai kembar mayang. Menurut saya, kembar mayang merupakan salah satu ciri khas budaya jawa. Temu temanten dan upacara kematian merupakan tradisi jawa yang masih menggunakan kembar mayang.

Tradisi temu temanten adat Jawa sangat lekat hubunganya dengan kembar mayang. Temu temanten adalah upacara adat yang dilangsungkan untuk menyatukan dua insan menuju kehidupan rumah tangga. Kembar mayang dalam upacara temu temanten dimaknai sebagai simbol permohonan (do’a) bagi kedua pengantin.

(more…)

Ludruk, Teater Masyarakat Urban

Anugrah Yulianto Rachman--Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Anugrah Yulianto Rachman–Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Ludruk merupakan teater masyarakat urban. James L. Peacock menggambarkan fenomena tersebut dalam artikel berjudul Comedy and Centralization in Java: The Ludruk Plays (1967). Pada artikel tersebut, Peacock ingin menunjukan bahwa Ludruk sebagai rite of separation. Ia membandingkannya dengan ritus slametan milik Geertz.

Van Gennep menyebut slametan dengan rites of incorporation. Ritus itu berfungsi menyakralkan kampung, guna meminta keselamatan. Melalui Van Gennep, Peacock membedakan antara rites of incorporation (slametan) dengan rites of separation (Ludruk). Rites of separation diartikan oleh Peacock sebagai ritus pemisahan masyarakat dari kampung.

(more…)

Filsafat Sangkan Paraning Dumadi

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III - Staf Magang IJIR []

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III – Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Salah satu ciri kereligiusannya adalah, bahwa mereka memiliki kepercayaan terhadap suatu kekuatan di luar alam yang menguasai mereka. Keadaan tersebut menjadi satu faktor  yang paling banyak mempengaruhi filsafat Jawa.

Di antara sekian banyak filsafat jawa, ada satu ajaran atau pengetahuan yang paling terkenal yakni  “sangkan paraning dumadi” ( asal mula keber-ada-an). Sebelum manusia memikirkan tujuan dan berancang-ancang akan kehidupan di dunia, seyogyanya  manusia mengerti jati dirinya terlebih dahulu, siapa mereka, berasal dari mana, baru kemudian tujuan hidupnya diarahkan kemana dan untuk apa.

(more…)

Merawat Yasinan, Merawat Islam Jawa

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Yasinan merupakan bingkai indah pemersatu masyarakat. Tradisi ini menjadi dua simbol sekaligus dalam struktur masyarakat islam Jawa. Pelakunya memaknainya sebagai simbol ketaatan beragama di satu sisi, juga simbol keharmonisan sosial. Tradisi ini menjadi penting karena, selama beberapa tahun belakangan terdapat inovasi yang sengaja dicipta oleh masyarakat untuk kepentingan awetnya tradisi tersebut.

Yasinan hingga saat ini masih menjadi salah satu kegiatan yang begitu familiar dalam masyarakat pedesaan. Ini membuktikan bahwa praktik semacam ini sangat penting untuk selalu ada dalam ruang masyarakat. Bagaimana tidak, melalui pergumulan demikian, masyarakat  dapat bercengkerama dalam satu wadah dengan latar belakang yang beragam.

(more…)

Makna Moralitas Andhap Asor

Rista Syafrillatul Laila [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Rista Syafrillatul Laila [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Masyarakat Jawa tidak asing dengan pitutur-pitutur Jawa. Pitutur tersebut bukanlah sekadar nasehat biasa tetapi merupakan nasehat yang mengandung makna moral kehidupan. Salah satunya pitutur itu adalah andhap asor, yang berarti rendah hati.

Sifat rendah hati bertujuan untuk menghormati dan menghargai sesama manusia, sehingga berdampak pada kehidupan yang harmonis. Masyarakat Jawa sudah identik memiliki sifat tersebut sebab, sudah diajarkan orang tuanya sejak kecil untuk bekal menuju dewasa.

(more…)

Filsafat Memayu Hayuning Bawana

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Orang Jawa memiliki pandangan adiluhung dalam falsafah memayu hayuning bawana. Itu merupakan sebuah falsafah kuno yang mengajarkan budi luhur bagi masyarakat Jawa. Dalam kepercayaannya, sebagai bentuk harapan akan harmoni kehidupan yang dapat memberikan kedamaian kepada seluruh alam.

Wujud memayu hayuning bawana adalah manusia harus sudah mengerti akan kebaikan yang terdapat pada dirinya, dan juga kebaikan jagat raya. Inilah telos masyarakat Jawa yang menciptakan makna bersosial, dan memberikan keselarasan bagi seluruh kehidupan.

(more…)

Kopiah: Antara Simbol Religius dan Nasionalis

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti muda IJIR []

Dalam tradisi pesantren, kopiah menjadi salah satu identitas penting. Kopiah menandai seorang  laki-laki yang selalu menempatkan diri pada tingkat derajat kemuliaan yang tinggi. Selain itu, kopiah juga disepakati sebagai simbol sikap nasionalis.

Kopiah biasa diartikan dengan songkok atau peci. Ia berasal dari bahasa Arab yaitu kufiya, kafieh, dan kafiyeh yang berarti penutup kepala. Walaupun kafiyeh dalam tradisi Arab merujuk pada benda yang berbeda dengan kopiah yang kita kenal, yaitu sejenis syal berbentuk kain persegi bermotif jaring yang dilipat umumnya terbuat dari kain katun.

(more…)

Ritual Ontang-Anting sebagai Identitas Orang Jawa

Umi Nadhiroh [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Umi Nadhiroh [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Jawa seolah tak pernah lepas dari kepercayaan yang berbau metafisika. Seperti halnya ritual ontang-anting yang pelaksanaannya dipengaruhi oleh mitos-mitos. Ritual Ontang-anting merupakan ritual yang dilaksanakan untuk meruwat anak semata wayang. Ritual ini biasannya dilakukan untuk anak laki-laki semata wayang, sedangkan untuk anak perempuan disebut unting-unting. Namun sebagian orang Jawa menyamakan istilah ontang-anting untuk anak laki-laki dan perempuan.

Ritual ini sangat erat dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Mereka mempercayai bahwa ritual ontang-anting mampu membebaskan seorang anak dari ancaman bathara kala (digambarkan sebagai sesosok raksasa yang mengerikan dan berwajah seram). Sebab menurut mitos di Jawa, bathara kala menyukai anak-anak yang memiliki jumlah hitungan tertentu dalam keluarga.

(more…)

Apem Simbol Permohonan Ampun

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Apem bagi orang Jawa merupakan lambang perwujudan permohonan ampun. Mengapa demikian? Karena ini berkaitan dengan sejarah awal mula kehadiran apem. Diperkirakan sudah ada sejak masa Sunan Kalijaga. Mulanya apem diberikan untuk kaum dzuafa oleh Ki Ageng Gribik atau lebih akrab disebut Sunan Gesang di daerah Jatinom, Klaten.

Ketika itu Sunan Gesang tengah mengadakan perjalanan pulang dari ibadah haji, di desa Jatinom tersebut, ia melihat banyak orang kelaparan. Namun, pada saat itu dia hanya membawa tiga buah kue. Hal itu membuat istri Sunan Gesang meminta untuk membuat ulang kue apem yang lebih banyak untuk diberikan kepada penduduk yang kelaparan.

(more…)

Tradisi Midak Tigan dalam Ritual Pernikahan Jawa

Farida Ayu Khumairo [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Farida Ayu Khumairo [] Mahasiswa AFI Semester III; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Nama midak tigan berasal dari bahasa Jawa. Midak dalam bahasa Jawa bermakna menginjak dan tigan bermakna telur. Istilah tersebut merujuk pada makna harfiah menginjak telur.

Tradisi midak tigan di dalam prespektif masyarakat Jawa tidak hanya merupakan suatu tradisi tanpa makna. Masyarakat Jawa percaya bahwa, makna tigan merupakan simbol awal permulaan memasuki hubungan rumah tangga. Hal menarik lainnya, tigan juga disimbolkan sebagai keperawanan bagi seorang perempuan.

Tradisi midak tigan biasa dilakukan pada saat acara pernikahan atau mantenan. Tradisi ini, biasanya dilakukan oleh pengantin laki-laki. Ritual ini dilakukan tanpa menggunakan alas kaki atau dengan kaki telanjang.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme