Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

opini peneliti muda

Transformasi Trikotomi Geertz

Khoirul Fata [] Peneliti IJIR; Sedang Menempuh Program Pascasarjana Jurusan Sosiologi, Universita Airlangga []

Khoirul Fata [] Peneliti IJIR; Sedang Menempuh Program Pascasarjana Jurusan Sosiologi, Universitas Airlangga []

Trikotomi Clifford Geertz terus mendapat perhatian sejak dipublikasikan melalui buku legendarisnya, the Religion of Java (1960). Para Ilmuwan kerap menjadikan trikotomi Geertz sebagai acuan mendasar dalam memahami masyarakat Jawa.

Rekam jejak ilmuwan yang mengacu Trikotomi Geertz dideskripsikan secara lengkap oleh Najib Burhani dalam tulisannya berjudul “Geert’z Trichotomy of Abangan, Santri, and Priyayi: Controversy and Continuity”  yang dimuat di Journal of Indonesian Islam Vol. 11 No. 02 (2017). Tulisan ini merupakan review atas karya tersebut.

(more…)

Dimensi Sosial Rumah Adat Jawa

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Orang Jawa gemar bersosial. Kegemaran ini terwujud dalam bangunan ruang tamu yang luas, sehingga menampung dan memudahkan komunikasi bersama banyak orang.

Bale merupakan salah satu ruangan dalam rumah adat Jawa sebagai lambang dimensi sosial. Tempat tersebut mewakili karakter orang Jawa yang bersifat terbuka terhadap orang lain. Ruangan yang didesain dengan luas memudahkan pemilik rumah untuk menampung dan menjembatani komunikasi dengan banyak orang orang.

(more…)

Dua Kisah tentang Sunan Bonang

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Sunan Bonang dikenal sebagai salah satu anggota Walisanga. Ia menjadi tokoh penyebar agama Islam di bumi Ronggolawe, Tuban, dan sekitarnya. Beliau menyiarkan ajaran agama Islam dengan cara mengakulturasikannya dengan budaya Jawa. Menariknya, model akulturasi semacam ini masih dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 M. Merupakan putra sulung Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Nyi Ageng Manila yang merupakan putri Adipati Tuban yaitu Arya Teja. Dari perkawinan inilah Sunan Ampel memiliki dua putera yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin adalah adiknya.

(more…)

Situs Panji di Candi Mirigambar

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Pada 11 Juli 2019 di Candi Mirigambar, Tulungagung, digelar acara Festival Budaya Panji Nusantara dalam rangka Indonesiana. Ini merupakan program yang diinisiasi oleh Dirjen Kebudayaan dengan melibatkan stakeholders kesenian dan kebudayaan. Festival Panji Nusantara adalah bentuk apresiasi kebudayaan Panji. Candi Mirigambar dipilih karena merupakan situs Panji yang sangat penting.

Candi Mirigambar dibangun pada kisaran 1292 M pada akhir kerajaan Singasari. Pada sebagian batu candi terdapat angka tahun 1214 Saka atau 1292 M dan tahun 1310/1428 M. Berdasarkan data tersebut, dapat dipastikan bahwa masa pembangunan dan penggunaannya berlangsung pada akhir abad XII hinga akhir abad XIV, yakni masa pemerintahan Wikrama Warddhana (1389 M – 1429 M).

(more…)

Falsafah Tukon Pasar

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa terbiasa dengan sinamun ing samudana atau menyampaikan nasihat melalui simbol. Salah satunya melalui makanan tradisional, yaitu tukon pasar atau biasa dikenal dengan jajanan pasar. Terdapat makna tersirat yang mendalam di setiap tukon pasar. Bahkan jika makna ini diresapi, akan membuat hidup menjadi lebih baik.

Pada awalnya, tukon pasar memang hanya dijual di pasar. Ini menjadikan jajanan pasar sebagai simbol sesrawungan atau silaturahmi. Sebab, pasar dianggap sebagai tempat bertemunya orang banyak dan hiruk pikuk berbagai urusan. Lebih dari itu, tukon pasar sekaligus menjadi sarana untuk mengingat pada kehidupan dunia.

(more…)

Menelusuri Jejak Islam Jawa

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Islam Jawa sebenarnya tidak pernah ada. Setidaknya, jika mengacu pada realitas sosial-agama di Jawa, masyarakat tidak mendaku diri secara tegas sebagai orang yang beragama Islam Jawa. Yang bisa ditemukan adalah masyarakat Jawa yang beragama Islam. Bukan Islam Jawa.

Meski demikian, dalam jagad akademik—terutama kajian Antropolgi maupun Sosiologi Agama—istilah Islam Jawa terlanjur menggema. Dari mana datangnya istilah ini? Joachem van den Boogert dengan percaya diri menyebut konsep Islam Jawa sebenarnya merujuk pada pengalaman Barat.

(more…)

Nyai Lidah Item dari Tawangsari

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Alkisah, seorang ulama yang sering berkelana untuk berdakwah di segala penjuru daerah memantapkan diri bermukim di daerah yang ditumbuhi pohong tawang dengan pohon nagasari yang melingkupinya. Masyarakat setempat mengenal beliau dengan nama Kiai Haji Abu Manshur.

Pohon tawang dan nagasari inilah yang menjadi asal muasal nama Desa Tawangsari. Desa tersebut berada di sisi barat sungai Ngrowo, merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kedungwaru, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

(more…)

Seluk-Beluk Tradisi Jawa Usai Lahiran

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Tradisi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Saking tidak bisa lepasnya, tradisi juga berpengaruh pada setiap laku mereka. Tanpa terkecuali pada kebiasaan perempuan Jawa usai lahiran.

Dalam bahasa Jawa, lahiran berarti melahirkan. Di Jawa, perempuan usai lahiran haruslah menjalani beberapa kebiasaan yang telah diajarkan oleh para leluhur mereka. Hal ini guna untuk menjaga dan memulihkan kesehatan mereka. Tradisi tersebut antara lain mulai dari penggunaan jamu tradisional, kain stagen, pijet, dan senden. Selain itu, terdapat berbagai pantangan yang harus dihindari. Mitosnya jika perempuan Jawa usai lahiran melanggar pantangan tersebut, maka akan berakibat buruk pada bayi mereka.

(more…)

Mantra dan Waktu Sakral Mandi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Di Jawa, hampir seluruh aktivitasnya berkaitan dengan doa. Keselamatan dan keberkahan tersemat dalam untaian doa atau mantra dalam praktik remeh temeh seperti  mandi. Bahkan, mandi juga dipandang menjadi sarana pengobatan bagi pelakunya.

Fenomena semacam itu, kian memperjelas bahwa aspek spiritualitas terpatri juga dalam kegiatan keseharian orang Jawa. Nampaknya, mandi adalah hal sepele jika dibandingkan dengan upacara ataupun ritual peribadatan. Sehingga, sangat umum kalau seseorang mandi hanya dengan ala kadarnya, asalkan bersih.

(more…)

Gugon Tuhon soal Makan

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Gugoh tuhon sebagai panduan etika hidup dalam sistem keluarga. Itulah alasan mengapa banyak hal terkait etika tetap lestari dalam sistem keluarga Jawa. Salah satu contoh sederhana adalah gugon tuhon yang berisi etika makan.

Bagaimanapun, di masyarakat Jawa soal makan saja menjadi sarana untuk menilai kadar etika seseorang. Melalui gugon tuhon yang hidup dalam keluarga, nilai-nilai etis makan senantiasa ditanamkan.

Keluarga adalah suatu institusi pendidikan moral paling utama. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan dan minum, dan sebagainya. Dalam kacamata Sosiologi, tujuan terbentuknya keluarga adalah sebagai suatu struktur yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anggotanya dan untuk memelihara masyarakat yang lebih luas.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme