Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

research note

AFI Menjemput Mahasiswa Biar Filsafat Tidak Horor

Namanya Risma Fadlilatul Iffah. Siswa SMAN 2 Trenggalek tersebut, cerdas dan sederhana. Saat bertemu saya pada 2018, ia masih duduk di kelas XI. Meski begitu, pada saat itu ia sesungguhnya telah menjadi mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) IAIN Tulungagung.

Kok bisa? Ya. Risma adalah pemenang sayembara menulis esai yang diselenggarakan oleh Jurusan AFI bersama dengan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada 2018. Sayembara itu sendiri diikuti oleh puluhan siswa Sekolah Menengah Atas se-(eks)-Karesidenan Kediri.

(more…)

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Punya Cara Menyambut Ramadhan

Ramadhan menjelang. Anak-anak Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), IAIN Tulungagung menyambutnya dengan riang.

Mereka tahu cara takzim kepada titah Banginda Rosul. “Siapa yang menyambut Ramadhan dengan (riang) gembira, maka diharamkan jasadnya masuk api neraka.”

Tentu saja, bagi anak-anak AFI yang mendalami filsafat dan pemikiran, cara paling gembira menyambut Ramadhan adalah dengan diskusi. Mengasah pikiran agar tidak beku. Itu juga merupakan sesuatu yang religius dan dianjurkan agama.

(more…)

Bhātara Sang Amurwabhumī

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Kadhiri gonjang-ganjing. Awan tebal berarak menyelimuti langitnya. Seisi kota raja dicekam ketakutan. Ini bukan ulah Bhātara Kala, melainkan prahara yang lahir akibat skandal kekuasaan.

Śrī Kṛtajaya, Raja yang mendaku sebagai trah terakhir Erlangga itu, sedang kerasukan Dewa Kāli. Demi mengabadikan kekuasaannya, ia membabi buta menciptakan rasa takut kepada semua rakyatnya. Para rṣi, pendeta Śiwa dan Budhha, serta para bhujangga, dipaksa untuk melegitimasi kepongahan itu.

(more…)

Mantra, Jawa

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Mantra-mantra adalah nyanyian langit. Ditangkap oleh para mistikus sebagai nyanyian jiwa. Di dalamnya bertumpuk rahasia langit. Mungkin rahasianya rahasia. Itulah mengapa mantra oleh para pelakunya juga dihayati sebagai bisikan Ilahiah. Betapapun rahasianya, bisikan langit itu tetap dijelmakan menjadi rapalan manusia. Sebagiannya malah dipahatkan menjadi tulisan ala bumi.

Begitulah kisah mantra. Pada awalnya, mantra berasal dari bahasa archaic, sudah lahir sejak 1500 SM. Mantra-mantra dikaitkan dengan ajaran Vedic Sanskrit, yakni bahasa Veda yang paling kuno (Frits Staal, 1996). Menjadi sangat populer di dalam sekte Tantra pada 600 M, lalu menyebar ke berbagai belahan bumi dan menjadi fenomena lintas budaya (Robert A. Yelle, 2003).

(more…)

Kisah Omah Gajah

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Inilah kisah tentang omah gajah. Bangunan eksotik itu masih tegak berdiri. Usianya sudah seabad lebih, tetapi pesonanya belum terkikis zaman. Dibangun oleh pemiliknya pada tahun 1916, bangunan sekaligus menandai kejayaan kerajinan batik Desa Simo, Kedungwaru, Tulungagung, pada masanya.

Pendiri omah gajah adalah Arjokoir. Seorang pengusaha batik paling sukses di kawasan tersebut. Meski bukan saudagar batik satu-satunya, tetapi nama Arjokoir-lah yang paling melegenda. Kesuksesan itu bahkan ia pahat di dinding depan bangunan kuno tersebut. Diwujudkan dalam relief gajah yang berhadapan, mengapit jendela angin-angin.

(more…)

Permainan Tradisional dan Kebangsaan Indonesia

Permainan tradisional telah menjadi wahana penting dalam menyimpan spirit kebangsaan Indonesia. Di dalam ragam jenis permainan, segenap kearifan dan nilai-nilai keadaban dikemas dan diwariskan kepada setiap anak yang mulai belajar memahami makna penting kebangsaan dan kemanusiaan.

Dari generasi ke generasi, jutaan anak merasakan kemewahan permainan tradisional sehingga semua potensi kemanusiaan mereka berkembang dengan sempurna. Anak-anak seperti ditimang-timang dan dimanjakan oleh ragam permainan tradisional yang memungkinkan mereka bisa melihat kehidupan begitu harmoni dan indah. Semua diserap dalam proses alamiah di masa-masa tumbuh kembang mereka.

(more…)

Sepi Ing Pamrih

Sepi ing pamrih, ramé ing gawé merupakan salah satu pitutur yang menjadi karakter orang Jawa, sekaligus pondasi kebangsaan Indonesia. Sebagaimana pitutur lainnya, sepi ing pamrih juga dijadikan sebagai tolok ukur kematangan jiwa manusia Jawa (Suseno, 2013).

Kematangan jiwa dikaitkan dengan penerimaan total seseorang atas posisinya di tengah kehidupan agung. Sepi ing pamrih, merupakan penghayatan atas peran dan tanggung jawab yang harus diambil dalam rangka menjaga harmoni. Hal ini berlaku dalam kehidupan sosial, juga dalam keseluruhan relasinya di jagad besar (cosmos).

(more…)

Bejaning Urip

Mari kembali pada serat Kalatiḍa. Kitab itu disebut-sebut memuat piwulung agung karena mengajarkan moralitas tertinggi agar orang mampu mewujudkan keutamaan hidup (kautamaning urip).

Dalam semua baitnya, serat berisi tentang nasehat utama agar orang tidak lupa akan jati diri, dan tidak larut dalam kemerosotan moral dan hidup. Salah satu piwulung yang juga nge-pop menjadi pitutur adalah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lan waspada. Sama dengan piwulung sebelumnya, semua orang Jawa pasti menghafal dan memahami pesannya.

Versi lengkapnya dalam serat Kalatiḍa seperti ini: Amenangi jaman edan // Ewuh aya ing pambudi // Melu edan nora tahan // Yen tan melu anglakoni // Boyo keduman melik // Kaliran wekasipun // Dilalah kersa Allah // Begja-begjaning kang lali // Luwih begja kang eling lan waspada.

(more…)

Nrimo Ing Pandum

Ini piwulang sederhana. Hingga saat ini, semua orang hafal dan paham maksudnya. “Menerima sekadar pemberian”. Itulah makna harfiahnya. Dianggap sebagai salah satu gambaran tentang etos orang Jawa yang paling menonjol.

Dari mana sesungguhnya sumber piwulang itu? Apakah berakar dari pitutur lisan yang diwariskan turun temurun, atau memiliki acuan sastrawi? Meskipun tidak dengan narasi yang sama persis, piwulang umumnya dikaitkan dengan serat Kalatiḍa karya bujangga Ranggawarsita [1802-1875].

Serat Kalatiḍa dianggap sebagai sindiran satir yang direfleksikan oleh bujangganya atas masa yang terus mengalami kemerosotan moral. Masa yang ditengarai sebagai zaman édan. Kala berarti masa atau keadaan, tiḍa bermakna keraguan, atau tida bermakna cacat. Zaman yang penuh kekacauan akibat kolonialisme dan kemerosotan moral yang didera oleh hampir semua lapisan masyarakat, terutama moral dan wibawa para pemimpin.

(more…)

Mikul Ḍuwur, Menḍem Jero

Pada pitutur urip mung mampir ngombé, tergambar begitu jelas pandangan batin orang Jawa akan asal-usul sekaligus tujuan. Pandangan teleologi seperti itu juga tercermin dari keyakinan akan diri (jagad cilik) yang selalu bertautan dengan cosmos (jagad gede). Karenanya, orang Jawa—sejauh digambarkan oleh pitutut tersebut, memiliki keterpesonaan dan penghormatan yang begitu besar pada apa saja yang dianggap melampaui dirinya.

Dalam kaitan itu, salah satu orientasi hidup paling besar bagi orang Jawa adalah menjaga hidup tetap dalam suasana rukun. Ini merupakan konsep yang mewakili keterpesonaan orang Jawa pada keharmonisan total dalam kehidupan. Rukun berarti hidup harmoni secara sosial, juga harmoni antara jagad cilik dan jagad gede. Hyang Tunggal, seluruh tata cosmos, dan diri dibingkai dalam relasi harmoni total. Itulah konsep rukun.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme