Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

research note

Kisah Omah Gajah

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Inilah kisah tentang omah gajah. Bangunan eksotik itu masih tegak berdiri. Usianya sudah seabad lebih, tetapi pesonanya belum terkikis zaman. Dibangun oleh pemiliknya pada tahun 1916, bangunan sekaligus menandai kejayaan kerajinan batik Desa Simo, Kedungwaru, Tulungagung, pada masanya.

Pendiri omah gajah adalah Arjokoir. Seorang pengusaha batik paling sukses di kawasan tersebut. Meski bukan saudagar batik satu-satunya, tetapi nama Arjokoir-lah yang paling melegenda. Kesuksesan itu bahkan ia pahat di dinding depan bangunan kuno tersebut. Diwujudkan dalam relief gajah yang berhadapan, mengapit jendela angin-angin.

(more…)

Permainan Tradisional dan Kebangsaan Indonesia

Permainan tradisional telah menjadi wahana penting dalam menyimpan spirit kebangsaan Indonesia. Di dalam ragam jenis permainan, segenap kearifan dan nilai-nilai keadaban dikemas dan diwariskan kepada setiap anak yang mulai belajar memahami makna penting kebangsaan dan kemanusiaan.

Dari generasi ke generasi, jutaan anak merasakan kemewahan permainan tradisional sehingga semua potensi kemanusiaan mereka berkembang dengan sempurna. Anak-anak seperti ditimang-timang dan dimanjakan oleh ragam permainan tradisional yang memungkinkan mereka bisa melihat kehidupan begitu harmoni dan indah. Semua diserap dalam proses alamiah di masa-masa tumbuh kembang mereka.

(more…)

Sepi Ing Pamrih

Sepi ing pamrih, ramé ing gawé merupakan salah satu pitutur yang menjadi karakter orang Jawa, sekaligus pondasi kebangsaan Indonesia. Sebagaimana pitutur lainnya, sepi ing pamrih juga dijadikan sebagai tolok ukur kematangan jiwa manusia Jawa (Suseno, 2013).

Kematangan jiwa dikaitkan dengan penerimaan total seseorang atas posisinya di tengah kehidupan agung. Sepi ing pamrih, merupakan penghayatan atas peran dan tanggung jawab yang harus diambil dalam rangka menjaga harmoni. Hal ini berlaku dalam kehidupan sosial, juga dalam keseluruhan relasinya di jagad besar (cosmos).

(more…)

Bejaning Urip

Mari kembali pada serat Kalatiḍa. Kitab itu disebut-sebut memuat piwulung agung karena mengajarkan moralitas tertinggi agar orang mampu mewujudkan keutamaan hidup (kautamaning urip).

Dalam semua baitnya, serat berisi tentang nasehat utama agar orang tidak lupa akan jati diri, dan tidak larut dalam kemerosotan moral dan hidup. Salah satu piwulung yang juga nge-pop menjadi pitutur adalah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lan waspada. Sama dengan piwulung sebelumnya, semua orang Jawa pasti menghafal dan memahami pesannya.

Versi lengkapnya dalam serat Kalatiḍa seperti ini: Amenangi jaman edan // Ewuh aya ing pambudi // Melu edan nora tahan // Yen tan melu anglakoni // Boyo keduman melik // Kaliran wekasipun // Dilalah kersa Allah // Begja-begjaning kang lali // Luwih begja kang eling lan waspada.

(more…)

Nrimo Ing Pandum

Ini piwulang sederhana. Hingga saat ini, semua orang hafal dan paham maksudnya. “Menerima sekadar pemberian”. Itulah makna harfiahnya. Dianggap sebagai salah satu gambaran tentang etos orang Jawa yang paling menonjol.

Dari mana sesungguhnya sumber piwulang itu? Apakah berakar dari pitutur lisan yang diwariskan turun temurun, atau memiliki acuan sastrawi? Meskipun tidak dengan narasi yang sama persis, piwulang umumnya dikaitkan dengan serat Kalatiḍa karya bujangga Ranggawarsita [1802-1875].

Serat Kalatiḍa dianggap sebagai sindiran satir yang direfleksikan oleh bujangganya atas masa yang terus mengalami kemerosotan moral. Masa yang ditengarai sebagai zaman édan. Kala berarti masa atau keadaan, tiḍa bermakna keraguan, atau tida bermakna cacat. Zaman yang penuh kekacauan akibat kolonialisme dan kemerosotan moral yang didera oleh hampir semua lapisan masyarakat, terutama moral dan wibawa para pemimpin.

(more…)

Mikul Ḍuwur, Menḍem Jero

Pada pitutur urip mung mampir ngombé, tergambar begitu jelas pandangan batin orang Jawa akan asal-usul sekaligus tujuan. Pandangan teleologi seperti itu juga tercermin dari keyakinan akan diri (jagad cilik) yang selalu bertautan dengan cosmos (jagad gede). Karenanya, orang Jawa—sejauh digambarkan oleh pitutut tersebut, memiliki keterpesonaan dan penghormatan yang begitu besar pada apa saja yang dianggap melampaui dirinya.

Dalam kaitan itu, salah satu orientasi hidup paling besar bagi orang Jawa adalah menjaga hidup tetap dalam suasana rukun. Ini merupakan konsep yang mewakili keterpesonaan orang Jawa pada keharmonisan total dalam kehidupan. Rukun berarti hidup harmoni secara sosial, juga harmoni antara jagad cilik dan jagad gede. Hyang Tunggal, seluruh tata cosmos, dan diri dibingkai dalam relasi harmoni total. Itulah konsep rukun.

(more…)

Urip Mung Mampir Ngombé

Pitutur di atas merupakan falsafah hidup orang Jawa yang paling populer hingga hari ini. Sebagai pitutur yang masih hidup, ia dihafal oleh hampir semua orang Jawa tanpa peduli level dan strata sosialnya.

Saking populernya pitutur tersebut, anak-anak muda bukan hanya fasih menghafalnya, tetapi juga memlesetkannya menjadi joke dan candaan. Ada yang memlesetkan begini, urip mung mampi ngopi. Tentu itu berkembang di banyak tempat yang anak-anak mudanya hobi ngopi. Di Tulungagung contohnya. Para pengguna media sosial juga punya cara membuat plesetan yang mirip namun konyol, urip mung mampir nggawé status.

(more…)

Kelahiran dan Peringatan Atasnya

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Tidak terasa, Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, telah genap berusia dua tahun. Tanggal 3 Januari 2019 adalah ulang tahun kedua lembaga ini. Kelahiran dan peringatan atasnya, masih saya rasakan sebagai hal sakral.

Kami orang Jawa, dan terus berupaya bisa berpikir dan bertindak layaknya orang Jawa. Kelahiran menjadi sakralitas tersendiri bagi orang Jawa karena kelahiran dianggap sebagai perwujudan Sang Hyang Tunggal di jagad wadag, mungkin juga di jagad intelek. Begitulah cara saya memahami semua kelahiran, tidak terkecuali kelahiran IJIR dua tahun lalu. Ia menjadi hal sakral karena mewakili yang Ilahiah. (more…)

25.000 Obyek Cagar Budaya, Hanya Ada 4 Fakultas Arkeologi se-Indonesia

Oleh Akhol Firdaus [] Direktur IJIR []

Ini merupakan salah satu catatan penting PraKongres Kebudayaan Indonesia 2018.

Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) sebagai dokumen pokok perumusan strategi kebudayaan nasional kini sudah mencapai 50 persen dari total jumlah Kota/Kabupaten se-Indonesia. Sudah lebih dari 200 Kota/Kabupaten yang berhasil merumuskan PPKD.

Dari jumlah itu saja, khusus obyek cagar budaya, tercatat sekitar 25.000 obyek di seluruh wilayah Indonesia. Data ini menjadi basis pandangan tentang betapa tidak berimbangnya jumlah obyek dengan ketercukupan tenaga ahli dan Perguruan Tinggi yang siap memanfaatkan obyek cagar budaya tersebut. Bisa dibayangkan, data obyek kebudayaan sebanyak itu sementara hanya ada 4 Fakultas Arkeologi di seluruh Indonesia.

(more…)

Strategi Kebudayaan Nasional dan Banalitas Birokrasi Daerah

Oleh Akhol Firdaus [] Direktur IJIR []

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 adalah puncak hajatan perumusan strategi kebudayaan Nasional yang sudah dimulai sejak pertengahan April 2018.

Ini ibarat lari maraton. Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam sambutan Pra Kongres Kebudayaan Indonesia, 4 – 6 November 2018 di Jakarta, menegaskan bahwa ini merupakan proses perumusan strategi kebudayaan yang memakan waktu paling panjang dalam sejarah.

Kongres Kebudayaan sendiri akan dihelat pada 7 – 9 Desember 2018 yang ditandai dengan penyerahan dokumen strategi kebudayaan nasional kepada Presiden RI, Joko Widodo. Ini merupakan dokumen negara yang dihasilkan melalui proses yang sangat panjang dengan menyerap hampir seluruh pikiran kebudayaan yang tumbuh di seluruh Kota/Kabupaten se-Indonesia melalui penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme