Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

research note

Pamor Reyog Kendang [2]: Dua Versi Sejarah Lisan

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Reyog Kendang merupakan kesenian rakyat yang mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Jauh sebelum ditetapkan sebagai ‘milik’ Tulungagung, kesenian ini sudah diperagakan sebagai ekspresi folklore masyarakat Mataraman, terutama Tulungagung dan Kediri.

Saya sempat bertemu dengan beberapa seniman Reyog Kendang di daerah Ngambal, Kalidawir, dan mengaku, sudah mementaskan Reyog Kendang sejak tahun 1960an. Bahkan, kelompok kesenian ini masih lestari hingga hari ini. Para senimannya rata-rata sudah berusia di atas 60 tahun, dan mereka masih memainkan Reyog Kendang. Sebagiannya, malah mengajarkan Reyog Kendang di sekolah-sekolah.

(more…)

Pamor Reyog Kendang [1]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Reyog Kendang telah menjadi ikon Tulungagung. Jenis kesenian rakyat ini sedang mencapai pamor terbaiknya. Pernah ditampilkan secara kolosal pada 2015, melibatkan 2.400 penari dan 333 grup kesenian se-Tulungagung.

Dihelat di GOR Lembu Peteng pada 12 November 2015, tarian kolosal genderang rampak Reyog Kendang saat itu dianggap mewakili “semangat gotong-royong dan persatuan masyarakat Tulungagung dalam pembangunan.”

Terang saja, hajatan megah itu berhasil memecahkan rekor Indonesia. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai rekor ke 7.181. Itulah tarian kolosal Reyog Kendang dengan penari terbanyak yang pernah digelar. Sri Widayati, Manager MURI saat itu, bahkan menetapkan tarian kolosal tersebut telah memecahkan rekor dunia.

(more…)

Refleksi 20 Tahun Reformasi

Forum Jatim, UPC Trawas, 1-2 Juni 2018

Forum Jatim kembali digelar. Inilah satu-satunya forum paling berwibawa di Jawa Timur yang selalu mempertemukan para pemikir, akademisi, aktivis, pegiat HAM, politisi, kalangan birokrat dan NGO dalam suatu diskusi yang mewah. Bukan hanya karena semua yang terlibat adalah para ‘pendekar’ di bidangnya, tetapi diskusi dalam Forum Jatim juga selalu diproyeksikan berkontribusi pada pemikiran-pemikiran tentang kebangsaan Indonesia.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [5-Habis]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya—Basis Konflik atau Penyatuan?

Riyaya telah menjadi sarana pembauran dan integrasi, tapi jangan salah, riyaya dalam pandangan Clifford Geertz sekaligus merupakan titik keretakan dan konflik di internal santri.

Di samping soal penyelenggaraan sembahyang riyaya di lapangan atau di masjid, fakta keretakan lainnya adalah, soal penentuan hari raya berdasarkan metode yang berbeda di lingkungan kelompok-kelompok santri. Rupanya problem penetapan hari raya merupakan problem klasik .

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [4]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya

Setelah ritual puasa, tarawéh, darus, dan sahur berlangsung sebulan penuh, datanglah riyaya atau hari raya. Clifford Geertz menyebut riyaya sebagai pesta puncak dari rangkaian ritual bulan puasa. Semua orang merayakan hari itu.

Mereka semua berpakaian baru, menghidangkan makanan yang paling istimewa, saat menjalani ritual intinya. Bagi Geertz, pesta riyaya ini mirip dengan hari Paskah di Amerika. The Religion of Java (1960) sudah menyinggung soal riyaya di bagian The Santri Ritual Pattern, akan tetapi ulasan yang lebih khusus justru ditempatkan di bagian kesimpulan buku tersebut, Rijaja: The End of Fast Holiday (379-381).

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [3]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Darus

Setelah tarawéh, kalangan santri biasanya tidak langsung pulang dari langgar atau masjid. Mereka masih harus melanjutkan rangkaian ibadah lainnya, darus. Membaca al-Quran secara berjamaah yang sangat ditekankan selama bulan puasa.

Banyak sekali yang melakukan darus di langgar. Biasanya ibu-ibu mengirimkan makanan dan minuman dari rumah. Sambil melakukan darus, para santri juga makan untuk kedua kalinya—meski kali ini tidak harus ada unsur nasi. Bagi orang Jawa, tanpa nasi, tentu saja tidak bisa dihukumi sebagai makan.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [2]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Saat Tarawéh Tiba

Saat bedug magrib berbunyi, tanda berbuka tiba, kalangan santri makan sekenyang-kenyangnya—untuk tidak menyebutnya serakus-rakusnya. Momen ini tidak berlangsung lama, karena sesudah itu periode tarawéh segera menyusul.

Para santri segera berkumpul di langgar atau masjid, untuk menjalankan shalat isya’ dilanjut dengan tarawéh. Soal ini, Geertz menyebut bahwa tarawéh bukanlah suatu kewajiban, hanya ibadah tambahan yang sifatnya suka rela, akan tetapi para santri memanfaatkan momen ini sebagai momen berkumpul.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [1]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Tulisan (berseri) ini dimaksudkan sebagai catatan ringan atas The Religion of Java (1960), karya monumental Clifford Geertz. Bukan review atas teori-teori besar di dalam masterpiece tersebut, melainkan refleksi ringan (hanya) terkait tema puasa dan hari raya.

Kita akan terkesima bagaimana kedua tema tersebut, oleh Geertz, tetap ditampilkan sebagai ‘lukisan mendalam’ (thick description) pola ibadah varian santri. Pendekatan thick description  inilah ciri utama tulisan-tulisan Geertz.

(more…)

“Radikalisme Membahana, Gerakan Civil Society Makin Melemah”

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Catatan Diskusi Jatim Forum, 13 Mei 2018

Saya diberi kehormatan luar biasa untuk menjadi pemantik diskusi Jatim Forum pada Minggu, 13 Mei 2018. Diskusi itu diselenggarakan di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Jatim Forum merupakan forum yang mempertemukan para akademisi, kelompok birokrat, politisi dan aktivis. Jatim Forum bisa disebut sebagai satu-satunya forum diskusi yang paling berwibawa di Jawa Timur hari ini.

(more…)

Singotaruno alias Kiai Plosokandang

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Ini sepotong kisah tentang Singotaruno alias Kiai Plosokandang. Potongan kisahnya saya ambil dari Babad Tulungagung. Sebenarnya penulisan Babad dikaitkan dengan figur sentral Ki Siswondo Harjosoewito—populer dengan nama Pak Sis, pendiri Ketoprak Siswo Budoyo yang sangat legendaris itu.

Saya mendapatkan naskah Babad Tulungagung sudah dalam versi gubahan oleh Pemerintah Daerah. Diterbitkan dalam satu paket dengan buku sejarah Tulungagung. Naskah tersebut terbit pertama kali pada tahun 1971 disusun oleh tim peneliti sejarah yang dibentuk oleh Bupati Tulungagung saat itu, R. Soenardi.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme