Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

research note

Jayabhayalañchana

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Śrī Jayabhaya masih bersama kita. Raja megah itu namanya harum semerbak kembang Padma. Kharismanya abadi—menembus dimensi ruang dan waktu. Titah-titahnya sakral, diugemi hingga kini. Masa depan Jawa, sejauh diyakini orang Jawa, selalu dikaitkan dengan petuah Jayabhaya.

Entahlah. Raja ini seperti masih memimpin Jawa. Jongko-jongkonya masih terus menyelimuti memori kolektif manusia Jawa. ‘Ramalan-ramalan’ itu terus mendidik orang Jawa agar tetap ‘ingat’ (iling) dan ‘waspada’ (waspodo). Jayabhaya telah menjelma menjadi citra diri orang Jawa itu sendiri.

Meski begitu, sejarah sesungguhnya hanya menyuguhkan sekelumit kisah tentang siapa Jayabhaya sebenarnya. Tiga prasasti yang ia wariskan hampir tidak menggambarkan apapun. Hantang tahun 1057 Śaka (1135 M), Talan 1058 Śaka (1136 M), dan Jepun 1066 Śaka (1144 M), hanyalah catatan ringan tentang kemurahan sang Raja atas kesetiaan penduduk di tiga desa itu selama periode pergolakan.

(more…)

Demi Kentrung

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Seperti sudah diatur oleh alam, saya akhirnya benar-benar bisa sowan ke rumah Mbok Gimah pada peringatan 100 hari kepergian beliau. Suatu perjumpaan yang layak saya tangisi karena, pada akhirnya saya harus puas hanya diperkenankan menelusuri ‘jejak’ beliau.

Sang Maestro Kentrung Tradisi itu telah menjalani tugas hidupnya dengan sempurna. Beliau telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk perkembangan Kentrung.

Sepanjang itu pula, Mbok Gimah dikenal sebagai satu-satunya dalang Kentrung yang tunduk pada pakem. Tak tertandingi piawainya dalam menyajikan sejarah dan nilai keadaban yang dikandung oleh seni tutur tingkat dewa itu. Meski telah berpulang, pesona dan kemegahan Mbok Gimah tak akan habis untuk diarungi.

(more…)

Pamor Reyog Kendang [2]: Dua Versi Sejarah Lisan

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Reyog Kendang merupakan kesenian rakyat yang mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Jauh sebelum ditetapkan sebagai ‘milik’ Tulungagung, kesenian ini sudah diperagakan sebagai ekspresi folklore masyarakat Mataraman, terutama Tulungagung dan Kediri.

Saya sempat bertemu dengan beberapa seniman Reyog Kendang di daerah Ngambal, Kalidawir, dan mengaku, sudah mementaskan Reyog Kendang sejak tahun 1960an. Bahkan, kelompok kesenian ini masih lestari hingga hari ini. Para senimannya rata-rata sudah berusia di atas 60 tahun, dan mereka masih memainkan Reyog Kendang. Sebagiannya, malah mengajarkan Reyog Kendang di sekolah-sekolah.

(more…)

Pamor Reyog Kendang [1]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Reyog Kendang telah menjadi ikon Tulungagung. Jenis kesenian rakyat ini sedang mencapai pamor terbaiknya. Pernah ditampilkan secara kolosal pada 2015, melibatkan 2.400 penari dan 333 grup kesenian se-Tulungagung.

Dihelat di GOR Lembu Peteng pada 12 November 2015, tarian kolosal genderang rampak Reyog Kendang saat itu dianggap mewakili “semangat gotong-royong dan persatuan masyarakat Tulungagung dalam pembangunan.”

Terang saja, hajatan megah itu berhasil memecahkan rekor Indonesia. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai rekor ke 7.181. Itulah tarian kolosal Reyog Kendang dengan penari terbanyak yang pernah digelar. Sri Widayati, Manager MURI saat itu, bahkan menetapkan tarian kolosal tersebut telah memecahkan rekor dunia.

(more…)

Refleksi 20 Tahun Reformasi

Forum Jatim, UPC Trawas, 1-2 Juni 2018

Forum Jatim kembali digelar. Inilah satu-satunya forum paling berwibawa di Jawa Timur yang selalu mempertemukan para pemikir, akademisi, aktivis, pegiat HAM, politisi, kalangan birokrat dan NGO dalam suatu diskusi yang mewah. Bukan hanya karena semua yang terlibat adalah para ‘pendekar’ di bidangnya, tetapi diskusi dalam Forum Jatim juga selalu diproyeksikan berkontribusi pada pemikiran-pemikiran tentang kebangsaan Indonesia.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [5-Habis]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya—Basis Konflik atau Penyatuan?

Riyaya telah menjadi sarana pembauran dan integrasi, tapi jangan salah, riyaya dalam pandangan Clifford Geertz sekaligus merupakan titik keretakan dan konflik di internal santri.

Di samping soal penyelenggaraan sembahyang riyaya di lapangan atau di masjid, fakta keretakan lainnya adalah, soal penentuan hari raya berdasarkan metode yang berbeda di lingkungan kelompok-kelompok santri. Rupanya problem penetapan hari raya merupakan problem klasik .

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [4]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya

Setelah ritual puasa, tarawéh, darus, dan sahur berlangsung sebulan penuh, datanglah riyaya atau hari raya. Clifford Geertz menyebut riyaya sebagai pesta puncak dari rangkaian ritual bulan puasa. Semua orang merayakan hari itu.

Mereka semua berpakaian baru, menghidangkan makanan yang paling istimewa, saat menjalani ritual intinya. Bagi Geertz, pesta riyaya ini mirip dengan hari Paskah di Amerika. The Religion of Java (1960) sudah menyinggung soal riyaya di bagian The Santri Ritual Pattern, akan tetapi ulasan yang lebih khusus justru ditempatkan di bagian kesimpulan buku tersebut, Rijaja: The End of Fast Holiday (379-381).

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [3]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Darus

Setelah tarawéh, kalangan santri biasanya tidak langsung pulang dari langgar atau masjid. Mereka masih harus melanjutkan rangkaian ibadah lainnya, darus. Membaca al-Quran secara berjamaah yang sangat ditekankan selama bulan puasa.

Banyak sekali yang melakukan darus di langgar. Biasanya ibu-ibu mengirimkan makanan dan minuman dari rumah. Sambil melakukan darus, para santri juga makan untuk kedua kalinya—meski kali ini tidak harus ada unsur nasi. Bagi orang Jawa, tanpa nasi, tentu saja tidak bisa dihukumi sebagai makan.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [2]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Saat Tarawéh Tiba

Saat bedug magrib berbunyi, tanda berbuka tiba, kalangan santri makan sekenyang-kenyangnya—untuk tidak menyebutnya serakus-rakusnya. Momen ini tidak berlangsung lama, karena sesudah itu periode tarawéh segera menyusul.

Para santri segera berkumpul di langgar atau masjid, untuk menjalankan shalat isya’ dilanjut dengan tarawéh. Soal ini, Geertz menyebut bahwa tarawéh bukanlah suatu kewajiban, hanya ibadah tambahan yang sifatnya suka rela, akan tetapi para santri memanfaatkan momen ini sebagai momen berkumpul.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [1]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Tulisan (berseri) ini dimaksudkan sebagai catatan ringan atas The Religion of Java (1960), karya monumental Clifford Geertz. Bukan review atas teori-teori besar di dalam masterpiece tersebut, melainkan refleksi ringan (hanya) terkait tema puasa dan hari raya.

Kita akan terkesima bagaimana kedua tema tersebut, oleh Geertz, tetap ditampilkan sebagai ‘lukisan mendalam’ (thick description) pola ibadah varian santri. Pendekatan thick description  inilah ciri utama tulisan-tulisan Geertz.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme