Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

riset

Launching Hasil Riset ‘Jejak Doktrin Bhinneka di Bumi Tulungagung’

‘Jejak Doktrin Bhinneka di Bumi Tulungagung’ merupakan tema penelitian yang dilakukan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Tulungagung dan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung. Penelitian merupakan upaya rintisan untuk melihat jejak-jejak doktrin bhinneka tunggal ika dan visi penyatuan Nusantara dari benda-benda arkeologi dan oral history yang berkembang di kota ini.

Penelitian selama empat bulan tersebut akhirnya menghasilkan temuan-temuan yang dianggap mampu memberi kontribusi besar bagi upaya Tulungagung dalam menegaskan identitasnya sebagai kota bhinneka yang memiliki akar kesejarahan yang kokoh. Hasil penelitian ini dilaunching dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan pada Rabu, 5 April 2017, di Aula Gedung Rektorat IAIN. Acara launching dihadiri oleh ketua DPRD Tulungagung, Supriono, SE., M.Si, representasi Dinas Pariwisata, dan seluruh organisasi kebudayaan dan tokoh masyarakat Tulungagung.

Suasana FGD dan launching hasil riset 'jejak bhinneka'

Suasana FGD dan launching hasil riset ‘jejak bhinneka’

Acara diawali dengan pembukaan dan keynote speaker oleh Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag. Dalam ceramahnya, Rektor IAIN Tulungagung menyampaikan tentang hasil penelitian yang besar kemungkinan dapat dijadikan sebagai masukan untuk membuat kebijakan-kebijakan perlindungan situs-situs purbakala yang selama ini masih terabaikan. Situs-situs purbakala di Tulungagung, terutama di kawasan Selatan dan Barat menyimpan data dan informasi sejarah yang sangat panjang, terbentang dari masa kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit. Atas dasar ini pemerintah seharusnya mengambil langkah-langkah penting untuk melakukan penyelamatan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan hasil temuan penelitian. Akhol Firdaus, direktur IJIR sekaligus ketua tim penelitian memaparkan hasil penelitian selama kurang lebih dua jam. Hasil penelitian tersebut bisa dirangkum dalam beberapa poin berikut. Pertama, Tulungagung pada masa kuno memiliki hubungan primordial dengan doktrin bhinneka tunggal ika dan visi penyatuan Nusantara. Hal ini bisa dilacak sejak penahbisan diri Erlangga sebagai raja Mataram yang melanjutkan garis keturunan Mpu Sindhok. Jejak yang sama juga bisa ditemukan hingga masa Kadiri. Para periode berikutnya, Tulungagung bukan semata-mata memiliki hubungan dengan kekuasaan Singhasari, tetapi dengan ide besar mandala cakrawala Jawa/Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan seorang guru spiritual Sang Pamgēt Ranu Kabayan Sang Apanji Patipati sebagai penasehat ide negara federasi dan doktrin cakrawala mandala Jawa dan Nusantara yang bisa ditemukan dalam situs Penampihan, Sendang, Tulungagung kawasan Barat.

Direktur IJIR, Akhol Firdaus, memaparkan hasil riset bersama dengan Rektor IAIN dan Ketua DPRD Tulungagung

Direktur IJIR, Akhol Firdaus, memaparkan hasil riset bersama dengan Rektor IAIN dan Ketua DPRD Tulungagung

Tulungagung kawasan Selatan dan Barat juga merekam secara utuh jejak penyatuan Jawa pada periode awal kekuasaan Erlangga, pembelahan wilayah, trauma-trauma yang mengiringinya, serta peneguhan kembali ide penyatuan Nusantara pada masa Singhasari dan Majapahit awal.

Ketiga, Śrī Gayatri Rājapatni yang candi pendarmaannya ditemukan di Boyolangu Tulungagung, dianggap sebagai satu-satunya matarantai yang menghidupkan dan menyempurkan ide penyatuan Nusantara dan doktrin bhinneka tunggal ika yang diwariskan dari trah Singhasari dengan menyerap ajaran lama yang sudah diwariskan secara turun temurun sejak masa Erlangga. Pada masa Majapahir, beliaulah yang menjadi arsitektur bagi berdirinya negara federasi dan doktrin spiritual bhinneka yang memayunginya.

Adapun rekomendasi yang disampaikan dari hasil penelitian ini adalah. Pertama, Pemerintah Kabupaten Tulungagung berkewajiban merestorasi situs-situs penting di kawasan Selatan dan Barat karena menyimpan memori yang tidak ada habisnya bagi ide penyatuan Nusantara dan doktrin bhinneka sejak 1000 tahun yang lalu.

Kedua, kawasan-kawasan yang disebut dalam penelitian ini merupakan kawasan spiritual. Pada masa Majapahit, kawasan ini merupakan kawasan tujuan ziarah. Bila ingin menghidupkan kembali pariwisata sejarah, maka hendaklah dikembangkan model wisata spiritual.

Ketiga, nama Gayatri Rajapati tidak layak dijadikan sebagai nama terminal kota Tulungagung. Konsep ini harus segera diganti karena itu bentuk pelecehan. Beliau adalah prajnaparamitha, dalam tradisi Siwa-Buddha bermakna pengetahuan yang tak mendua, dalam tradisi Islam bermakna makrifat. Beliau layak menjadi simbol pendidikan dan spiritualitas bangsa.

Keempat, hari jadi kota Tulungagung seharunya tidak dinisbatkan pada Raja yang berskandal seperti sosok Kertajaya. Seharusnya ada keberanian mengaitkan Tulungagung dengan Erlangga atau Sri Gayatri Rajapatni. Bila ditarik dari angka penahbisan Erlangga di Gua Pasir pada 941/1029 maka akan genap menjadi 998 tahun. Bila ditarik dari pendarmaan Sri Gayatri Rajapatni pada 1362 maka akan genap menjadi 655 tahun.

Terkait dengan rekomendasi-rekomendasi ini, Ketua DPRD Tulungagung, Supriono, SE., M.Si berjanji akan menjadikan temuan-temuan penelitian tersebut sebagai acuan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang penting dalam pengembangan kota Tulungagung, terutama dalam membangun identitas kota tua ini sebagai lokus doktrin bhinneka tunggal ika.

Hasil penelitian belum bisa diterbitkan dan menjadi konsumsi publik lebih luas karena masih menunggu tahap uji ahli. Tahapan ini diproyeksikan akan diselenggarakan pada pertengahan tahun 2017, sehingga di akhir tahun hasil penelitian sudah dapat dipublikasikan dalam bentuk buku []

 

Agenda Penelitian Bersama Pusat Kajian Islam Jawa dan LPM Dimensi

 

Tulungagung. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dimensi IAIN Tulungagung menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) 2017 yang dihelat pada Jumat-Minggu, 27-29 Januari 2017. Acara PJTL tahun ini bertema ‘Menyibak Pola Pemberitaan Media dengan Bingkai Hak Asasi Manusia (HAM)’. Acara ini berlangsung di gedung Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah.

IMG-20170129-WA0044

PJTL diikuti 25 peserta, sebagian besarnya adalah anggota LPM Dimensi, ditambah delegasi dari IAIN Ponorogo dan STAIN Kediri. Acara difasilitasi oleh direktur Pusat Kajian Islam Jawa, Akhol Firdaus. Di samping mendalami model-model analisis wacana kritis (ciritcal discourse analysis) yang dikembangkan para ahli, pelatihan pada akhirnya dikerucutkan pada agenda-agenda penelitian media.

Pada hari terakhir, disepakati agenda penelitian bersama antara LPM Dimensi dengan Pusat Kajian Islam Jawa. Agenda riset bersama tersebut mengangkat tema ‘derajat pewacanaan penodaan agama pada kasus Ahok dan Rizieq di Media’. Riset ini diharapkan dapat membedah pola marjinalisasi dan perbedaan derajat marjinalisasi dalam dua kasus ‘penodaan agama’.

Penelitian bersama ini diharapkan sudah selesai di akhir bulan Februari tahun 2017, sehingga bisa dilaunching bersama. Hasil riset diharapkan dapat menjadi bahan untuk pendidikan publik terkait cara cerdas membaca media massa []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme