Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mikul Ḍuwur, Menḍem Jero

Pada pitutur urip mung mampir ngombé, tergambar begitu jelas pandangan batin orang Jawa akan asal-usul sekaligus tujuan. Pandangan teleologi seperti itu juga tercermin dari keyakinan akan diri (jagad cilik) yang selalu bertautan dengan cosmos (jagad gede). Karenanya, orang Jawa—sejauh digambarkan oleh pitutut tersebut, memiliki keterpesonaan dan penghormatan yang begitu besar pada apa saja yang dianggap melampaui dirinya.

Dalam kaitan itu, salah satu orientasi hidup paling besar bagi orang Jawa adalah menjaga hidup tetap dalam suasana rukun. Ini merupakan konsep yang mewakili keterpesonaan orang Jawa pada keharmonisan total dalam kehidupan. Rukun berarti hidup harmoni secara sosial, juga harmoni antara jagad cilik dan jagad gede. Hyang Tunggal, seluruh tata cosmos, dan diri dibingkai dalam relasi harmoni total. Itulah konsep rukun.

(more…)

Urip Mung Mampir Ngombé

Pitutur di atas merupakan falsafah hidup orang Jawa yang paling populer hingga hari ini. Sebagai pitutur yang masih hidup, ia dihafal oleh hampir semua orang Jawa tanpa peduli level dan strata sosialnya.

Saking populernya pitutur tersebut, anak-anak muda bukan hanya fasih menghafalnya, tetapi juga memlesetkannya menjadi joke dan candaan. Ada yang memlesetkan begini, urip mung mampi ngopi. Tentu itu berkembang di banyak tempat yang anak-anak mudanya hobi ngopi. Di Tulungagung contohnya. Para pengguna media sosial juga punya cara membuat plesetan yang mirip namun konyol, urip mung mampir nggawé status.

(more…)

Makna Semar bagi Masyarakat Jawa

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Semar adalah tokoh pewayangan yang sangat lekat bagi orang Jawa. Semar digambarkan sebagai sosok bijaksana dalam situasi dan kondisi apapun. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peran Semar sebagai penengah bagi setiap masalah yang muncul dalam lakon wayang.

Dalam pagelaran wayang, Semar merupakan bagian dari punakawan. Dalam punakawan selain Semar, juga ada Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka adalah anak-anak dari Semar itu sendiri, dengan berbagai makna yang melekat pada penamaan pertokohnya.

Menurut cerita, Semar adalah anak dari Sang Hyang Tunggal. Adapun asal mula Semar yaitu bersal dari sebuah telur dari istri Sang Hyang Tunggal. Bermula dari telur tersebut melahirkan tiga saudara yang diibaratkan kuning telur, putih telur, dan cangkangnya.

(more…)

Rewang, Cermin Gotong-Royong Masyarakat Jawa

Muhammad Fauzi Ridwan [] Mahasiswa Program Pascasarjana AFI, IAIN Tulungagung; Magang di IJIR []

Muhammad Fauzi Ridwan [] Mahasiswa Program Pascasarjana AFI, IAIN Tulungagung; Magang di IJIR []

Rewang adalah istilah yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membantu mempersiapkan sebuah acara atau hajatan besar. Seperti genduren, slametan, mantenan, dan hajatan lainnya. Rewang termasuk tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Istilah rewang sendiri berbeda dengan prewangan. Meskipun kata prewangan seolah-olah berasal dari kata rewang. Perewang bukan orang yang rewang, jangan sampai terkecoh. Orang yang rewang disebut tukang rewang.

Perbedaan tersebut ada dalam pengertian dan penggunaan istilah tersebut dalam bahasa keseharian di masyarakat. Istilah prewangan lebih dikenal masyarakat dengan kaitannya perihal hubungan manusia dengan jin atau hal gaib.

(more…)

Hilangnya Pujian dari Langgar

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, Peneliti Muda IJIR []

Pujian merupakan syair doa ataupun nasehat berbahasa Jawa disertai sholawat. Dulu, pujian selalu dilantunkan di langgar-langgar dan masjid tradisional, biasanya dilakukan menjelang shalat lima waktu.

Dewasa ini, praktik ini mulai sulit kita temui di langgar-langgar dan masjid karena beberapa hal. Di antaranya disebabkan karena hilangnya muda-mudi dari langgar, rendahnya penguasaan bahasa Jawa, hingga arus media sosial. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan karena, pujian adalah salah satu media dakwah yang diturunkan dari generasi ke generasi.

(more…)

Meredam Suara Pembangkangan Ludruk

Anugrah Yulianto Rachman--Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Anugrah Yulianto Rachman–Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Ludruk kerap dipahami sebagai komedi. Ia diselenggarakan untuk menghibur masyarakat yang haus seni pertunjukan. Faktanya, bila dilihat dalam sejarah, Ludruk tidak sekadar komedi. Ini merupakan teater tradisional yang juga memuat unsur-unsur kritik dalam pertunjukannya.

Pada masa kolonial, Ludruk sempat menjadi media menyampaikan pesan-pesan nasionalisme dan anti-kolonial (Hatley, 1971). Pesan tersebut biasanya berupa cerita dalam pementasan Ludruk. Pada masanya, terdapat empat cerita anti-kolonial Ludruk yang sangat populer. Cerita tersebut adalah Sarip Tambak Oso, Pak Sakera, Untung Suropati, dan Sawunggaling. Keempat cerita memiliki semangat melawan penjajah Belanda dan Jepang (Peacock, 1967b).

(more…)

Dimensi Vertikal dan Horizontal Kembar Mayang

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Saya ingin membuat kajian mendalam mengenai kembar mayang. Menurut saya, kembar mayang merupakan salah satu ciri khas budaya jawa. Temu temanten dan upacara kematian merupakan tradisi jawa yang masih menggunakan kembar mayang.

Tradisi temu temanten adat Jawa sangat lekat hubunganya dengan kembar mayang. Temu temanten adalah upacara adat yang dilangsungkan untuk menyatukan dua insan menuju kehidupan rumah tangga. Kembar mayang dalam upacara temu temanten dimaknai sebagai simbol permohonan (do’a) bagi kedua pengantin.

(more…)

Ludruk, Teater Masyarakat Urban

Anugrah Yulianto Rachman--Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Anugrah Yulianto Rachman–Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Ludruk merupakan teater masyarakat urban. James L. Peacock menggambarkan fenomena tersebut dalam artikel berjudul Comedy and Centralization in Java: The Ludruk Plays (1967). Pada artikel tersebut, Peacock ingin menunjukan bahwa Ludruk sebagai rite of separation. Ia membandingkannya dengan ritus slametan milik Geertz.

Van Gennep menyebut slametan dengan rites of incorporation. Ritus itu berfungsi menyakralkan kampung, guna meminta keselamatan. Melalui Van Gennep, Peacock membedakan antara rites of incorporation (slametan) dengan rites of separation (Ludruk). Rites of separation diartikan oleh Peacock sebagai ritus pemisahan masyarakat dari kampung.

(more…)

Filsafat Sangkan Paraning Dumadi

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III - Staf Magang IJIR []

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III – Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Salah satu ciri kereligiusannya adalah, bahwa mereka memiliki kepercayaan terhadap suatu kekuatan di luar alam yang menguasai mereka. Keadaan tersebut menjadi satu faktor  yang paling banyak mempengaruhi filsafat Jawa.

Di antara sekian banyak filsafat jawa, ada satu ajaran atau pengetahuan yang paling terkenal yakni  “sangkan paraning dumadi” ( asal mula keber-ada-an). Sebelum manusia memikirkan tujuan dan berancang-ancang akan kehidupan di dunia, seyogyanya  manusia mengerti jati dirinya terlebih dahulu, siapa mereka, berasal dari mana, baru kemudian tujuan hidupnya diarahkan kemana dan untuk apa.

(more…)

Tunas-Tunas Baru Seniman di Jumenengan Rakyat Kebudayaan Tulungagung 2018

Hajatan kebudayaan yang dilakukan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada tanggal 26 Desember 2018 minggu lalu, melibatkan berbagai elemen masyarakat Tulungagung termasuk anak-anak dan para remaja. Tak hanya ada penampilan jaranan, angklung, ansamble, dan juga paduan suara yang pemainnya didominasi oleh para remaja, pesta rakyat ini dilanjut pada malam hari dengan penampilan Kentrung kreasi yang juga ditampilkan oleh anak-anak dan juga remaja.

Penampilan Seni Kentrung kreasi ini dibawakan oleh murid-murid Sanggar Seni Gedhang Godhong (SSGG) asuhan Yayak Priasmara. Para remaja ini datang dari daerah Ngingas Campurdarat Tulungagung. Tampil dengan gaya khas anak-anak dan remaja yang ceria serta energik, kentrung dengan lakon Diah Ayu Gayatri Rajapathni disajikan dengan apik dan berbeda. (more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme