Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra, Jawa

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Mantra-mantra adalah nyanyian langit. Ditangkap oleh para mistikus sebagai nyanyian jiwa. Di dalamnya bertumpuk rahasia langit. Mungkin rahasianya rahasia. Itulah mengapa mantra oleh para pelakunya juga dihayati sebagai bisikan Ilahiah. Betapapun rahasianya, bisikan langit itu tetap dijelmakan menjadi rapalan manusia. Sebagiannya malah dipahatkan menjadi tulisan ala bumi.

Begitulah kisah mantra. Pada awalnya, mantra berasal dari bahasa archaic, sudah lahir sejak 1500 SM. Mantra-mantra dikaitkan dengan ajaran Vedic Sanskrit, yakni bahasa Veda yang paling kuno (Frits Staal, 1996). Menjadi sangat populer di dalam sekte Tantra pada 600 M, lalu menyebar ke berbagai belahan bumi dan menjadi fenomena lintas budaya (Robert A. Yelle, 2003).

(more…)

Menelusuri Jejak Dakwah Sunan Sendang Duwur

Noviya Anggreani N [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Noviya Anggreani N [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Sunan Sendang Duwur merupakan salah satu dari sekian sunan yang ada di Lamongan. Ia menjadi tokoh penyebar Islam yang juga berkawan dengan Sunan Drajat. Keduanya, menyiarkan ajaran Islam dengan mengakulturasikannya dengan budaya Jawa. Menariknya, akulturasi semacam ini, masih dihayati dan dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai salah satu tokoh yang berjasa di daerah Lamongan tersebut.

Sunan Sendang Duwur, lahir di Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan pada tahun 1520 M. Nama aslinya adalah Raden Noer Rahmat.  Ia adalah seorang wali berdarah keturuan Bagdad dan Jawa. Meski demikian, ia menghabiskan seluruh umurnya di Lamongan.

(more…)

Santri-Abangan dalam Ritual Bersih Desa

Syafik Saifulloh F. [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Syafik Saifulloh F. [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Bersih deso adalah bentuk slametan bercorak Jawa kuno. Ritual ini berbeda-beda di tiap kampung, namun memiliki tujuan sama seperti slametan. Menurut pandangan orang Jawa, bersih deso merupakan ritual Jawa yang bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha Esa dari pengaruh mistis.

Pengaruh mistis yang dimaksudkan adalah kekuatan makhluk halus yang bersifat negatif (membahayakan atau mengganggu ketentraman desa). Oleh sebab itu, masyarakat percaya bahwa dengan melakukan ritual bersih deso mereka akan terbebas dari malapetaka yang disebabkan makhluk halus.

(more…)

Mewujudkan Pemilu yang Bermartabat

Polres Tulungagung bersama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Bawaslu Tulungagung, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Upaya meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Menyukseskan Pemilihan Umum 2019” di Hotel Crown Victoria, Kamis, 4 April 2019. Hadir sebagai narasumber, Mustofo (Ketua KPU), Suyitno Arman (Bawaslu Tulungagung), Rudi Cristianto (Kepala Bakesbang), dan Akhol Firdaus (Direktur IJIR, IAIN Tulungagung).

FGD melibatkan semua perwakilan tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan di Tulungagung. Melalui kegiatan ini, Polres Tulungagung telah mengambil langkah penting untuk terus melibatkan semua unsur masyarakat dalam upaya mewujudkan Pemilu berkualitas dan bermartabat. Salah satunya adalah mengambil langkah-langkah pencegahan atas terjadinya gangguan terhadap Pemilu. “Masyarakat harus menyambut Pemilu dengan bahagia dan tidak boleh ada ketakutan yang disebabkan oleh teror dalam bentuk apapun yang menciderai pesta demokrasi ini,” begitu Pesan Bupati Tulungagung yang disampaikan oleh Rudi Cristianto.

(more…)

Kendurian Bagi Sapi

Khusnul Khotimah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Khusnul Khotimah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Sapi perah sangat dihormati oleh masyarakat Geger, Sendang, Tulungagung. Hal ini tampak dalam perayaan kendurian wuyenan dan berokohan. Kendurian ini menjadi perayaan besar untuk para sapi. Karena menurut keyakinan masyarakat Geger keberadaannya melimpahkan banyak manfaat bagi masyarakat.

Di antara manfaat sapi perah yakni menghasilkan susu dan daging. Tetapi di desa Geger, Sendang, sapi juga dimanfaatkan susunya untuk mendapatkan penghasilan. Setiap harinya susu diperah untuk disetor ke pengumpul.

(more…)

Mengenang Sakralitas Alun-Alun Blitar

Rina Dewi Umayah [] Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir Semester IV; Staf Magang IJIR []

Rina Dewi Umayah [] Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir Semester IV; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Blitar dahulu menjadikan alun-alun sebagai tempat yang sakral. Karena di tempat ini upacara keagamaan biasanya dilakukan. Alun-alun juga merupakan pusat pemerintahan masa lalu.

Pada dasarnya alun-alun merupakan sebuah halaman depan rumah seorang penguasa dengan ukuran yang luas. Kediaman penguasa dianggap sebagai miniatur makrokosmos. Karena itu wilayah ini biasanya dianggap sakral. Hal ini merupakan perwujudan dari pusat orientasi atau pusat kota dalam konsep kota di Jawa (Handinoto, 2010: 219).

(more…)

Melestarikan Tradisi Megengan

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester IV; Staf magang di IJIR []

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester IV; Staf magang di IJIR []

Megengan merupakan suatu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan  masyarakat Jawa. Karena pada dasarnya megengan telah mendarah daging sejak dahulu hingga sekarang. Tradisi ini tetap utuh tidak mengalami sebuah perubahan meskipun zaman telah berganti.

Istilah megengan berasal dari bahasa Jawa, megeng berarti menahan. Maksudnya yaitu menahan dari dari hawa nafsu. Bagi masyarakat Jawa, hawa nafsu merupakan perkara yang wajib untuk dihindari karena kedekatannya dengan keburukan. Hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi tradisi sufistik atau kemurnian hati dari hawa nafsu.

(more…)

Filosofi Paes Pengantin Jawa

Anggun Sintya [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR []

Anggun Sintya [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR []

Paes ageng dalam tradisi orang Jawa dikenal sebagai tradisi rias manten. Namun, masuknya Islam ke tanah Jawa mengikis paes ageng sebagai tradisi pengantin Jawa.

Sejak dulu, paes ageng merupakan simbol kecantikan dan kedewasaan perempuan Jawa. Tradisi ini menjadi simbol dimulainya hidup baru dan tanda dewasanya seorang perempuan Jawa. Di samping itu, hal tersebut menyimbolkan kewibawaan mereka.

Makna kedewasaan yang terkandung mewakili transformasi seorang perempuan Jawa menjadi hidup bermartabat. Dengan menjalani kehidupan baru dan mempunyai gelar perempuan yang bersuami. Karena perempuan yang menikah dengan ritual adat jawa, salah satunya paes ageng memberikan kesan perempuan yang terhormat.

(more…)

Prasasti Sumber Sejarah Wayang ingkang Akurat

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Wayang wiwit taun 907 M sampun manggihakên wujud ingkang sampurnå, sampun sagêd dipun identifikasi såhå sampun sagêd dipunpirsani minångkå pagêlaran wayang. Dadosipun miturut pamanggih kulå mlebetipun agami Hindu-Buddha utawi kabudayan saking India mangaribawani kabudayan Jawa tumuju kabudayan ingkang adiluhung. Mênawi jaman prasejarah mênika taksih abstrak, agami Hindu-Buddha utawi kabudayan India nyêthakakên ingkang abstrak saking jaman prasejarah.

Sêmantên ugi kaliyan wayang mênikå cêtha nalikå pikantuk pangaribawaning agami Hindu-Buddha utawi kabudayan India. Wayang dipunginakakên upåcårå réligius agami Hindu-Buddha, fungsinipun magis-mitis-religius. Cariyos wayang ingkang aslinipun saking cariyos nénék moyang dipungantos ngginakakên cariyos saking India inggih mênikå épos Ramayana-Mahabharata. Samangké épos Ramayana-Mahabharata kaliyan ilmuwan Jawa (pujangga Jawa) digubah dados raos Jawa sêlaras kaliyan kabudayan Jawa såhå dipunginakakên dumugi sakmênikå. Såhå dados pakêming pagêlaran wayang utawi pagêlaran ringgit wacucal.

(more…)

Aspek Magis Ketupat

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II [] Staf magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II [] Staf magang di IJIR []

Masyarakat Jawa mengenal ketupat sebagai salah satu kudapan khas Idhul Fitri. Di samping itu, ketupat bagi orang Jawa juga dikenal sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur. Hal tersebut diwujudkan dengan menggantung beberapa ikat ketupat di atas pintu depan rumah.

Ketupat yang digantung di atas pintu rumah dapat disebut sebagai sajen. Sejian keramat ini dalam pandangan orang Jawa merupakan bentuk sesembahan kepada arwah leluhur. Kata sajen berakar dari kata saji yang berarti menghidangkan sesuatu, dan berubah maknanya dengan akhiran -en yang berarti menghidangkan sesuatu berupa makanan (Mukhlas, 2013: 212).

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme