Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jenang Sengkolo, Manifestasi Kesungguhan Doa

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang di IJIR []

Pengharapan selalu diwujudkan melalui doa. Meski begitu, bagi orang Jawa, doa saja tidaklah cukup. Kesungguhan harapan dalam untaian doa, juga diwujudkan dalam ragam sesaji. Ada banyak jenis makanan yang dikenal sebagai manifestasi kesungguhan doa orang Jawa, meski biasanya tidak lepas dari jenang sengkolo (bubur sengkolo).

Sebelum mengadakan acara, orang Jawa pasti melakukan doa atau panyuwunan. Menariknya, doa yang dipanjatkan tidak hanya berupa kata-kata, akan tetapi disertai dengan ragam sajian makanan. Selain sebagai bentuk kesungguhan dalam meminta, perwujudan sajian makanan dimaksudkan agar tercipta dimenasi sosial doa.

(more…)

Pamali Kabotan Jeneng

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti Muda IJIR []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti Muda IJIR []

Nama adalah kekuatan jiwa. Begitulah kira-kira sebagian orang Jawa memaknai sebuah nama. Selain sebagai identitas, bagi mereka, sebuah nama menyimpan kekuatan tersendiri. Itulah mengapa, bayi baru lahir selalu dinamai dengan nama yang baik. Dengan harapan, di balik nama yang baik, seorang manusia akan selalu dikaruniai keselamatan.

Sayangnya seringkali harapan tidak sesuai dengan realita. Nama yang mulanya diharapkan membawa kebaikan, justru membawa berbagai petaka pada si anak seperti sakit-sakitan, tertimpa sial atau malah mbeling (nakal). Untuk mengatasi kondisi semacam itu, biasanya, orang tua akan mengubah nama yang dianggap tidak cocok bagi anak mereka.

(more…)

Narasi tentang Nyai: dari Gundik hingga Istri Kiai

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Di dunia pesantren, Nyai adalah ibu. Bukan sembarang ibu, ia adalah figur sentral. Sayangnya, sedikit sekali sorotan serta seringkali sosok Bu Nyai kurang diperhitungkan, baik dalam kajian akademis maupun perannya di pesantren secara luas.

Istilah Nyai bila dilacak pada periode kolonial di Jawa cenderung berkonotasi negatif. ‘Nyai’ biasa digunakan untuk menyebut gundik atau ‘pembantu rumah tangga’ pegawai Belanda yang tidak pernah dikawini. Istilah ini mudah ditemui dalam karya sastra seperti Tjerita Njai Dasima (1896) karya G. Francis atau Nyai Ontosoroh, tokoh di roman Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (1980).

(more…)

Graono: Mitos dan Slametan

Amilatul Khasanah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV: Peneliti muda IJIR []

Amilatul Khasanah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV: Peneliti muda IJIR []

Gerhana atau sering disebut graono merupakan fenomena yang diyakini secara mistik oleh orang Jawa. Kata graono sendiri berasal dari kata candragrahana dalam bahasa Jawa Kuno. Graono dianggap membawa malapetaka, dan karenanya orang akan melakukan berbagai tindakan untuk bisa menghindari malapetaka.

Kepercayaan untuk menghindari malapetaka ini seperti pengajawentahan dalam  tradisi Jawa. Artinya pandangan yang diwariskan para leluhur terdahulu secara lisan berupa suatu larangan berisi ajaran yang disamarkan. Masyarakat Jawa melakukan berbagai tindakan sesuai dengan keyakinan saat fenomena graono terjadi.

(more…)

Jangan Pijat di Sembarang Waktu!

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Hari kelahiran adalah pijakan untuk menentukan hari baik bagi seseorang. Petungan orang Jawa menyebutnya, merupakan konsep yang masih mengakar kuat. Tidak hanya berkutat di seputar tradisi pernikahan, penentuan hari baik juga diberlakukan untuk aktivitas remeh temeh, seperti pijat.

Usut punya usut, waktu untuk melakukan pijat memiliki petungannya sendiri. Tradisi semacam itu biasanya diyakini-dipakai oleh dukun pijat ataupun dukun bayi. Hal ini disebabkan karena keduanya merupakan profesi di bidang medis tradisional. Dukun bayi biasanya membantu ibu-ibu selama proses menjelang hingga sesudah melahirkan. Selain itu, pekerjaan yang tak kalah pentingnya adalah memijat bayi, anak-anak, bahkan orang dewasa.

(more…)

Puji-Pujian dan Sastra Lisan di Langgar

Wahyu Hanafi [] Dosen di Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Wahyu Hanafi [] Dosen di Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Harmoni agama dengan budaya merupakan tradisi masyarakat Jawa. Hegemoni agama dan budaya bukanlah kesatuan non-dikotomik yang berdiri di atas bahu sendiri. Harmoni agama dan budaya masyarakat Jawa sendiri mulai tampak semenjak masa kerajaan Hindu-Buddha Tarumanegara (358-669), Kerajaan Sunda Galuh (669-1482), dan kerajaan Mataram Hindu.

Bukti empiris relasi agama dan budaya masyarakat Jawa seperti dijelaskan Mulder (1999), manusia Jawa tunduk kepada masyarakat, sebaliknya masyarakat tunduk kepada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dan halus, yang memuncak ke Tuhan. Kemudian di sisi lain Geertz (1960) mengisyaratkan masyarakat Jawa adalah manusia yang religius, meski ia menyebutnya dengan terminologi berbeda, santri-abangan-priyayi.

(more…)

Kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah dan Marwah Ulama Nusantara

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Untuk menjadi seorang muslim yang baik, seseorang tidak perlu menanggalkan kecintaannya terhadap tanah air. Inilah salah satu pesan yang hendak disampaikan oleh kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah karya Syekh Muhammad Mukhtar Al-Jawiy.

Syekh Mukhtar adalah ulama asli Indonesia kelahiran Bogor, Kamis 14 Sya’ban 1278 H, bertepatan dengan 14 Februari 1862 M (Aizid, 2016: 320).  Nama kecil beliau adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden ‘Atharid. Ayah beliau, Raden Aria Natanegara atau lebih dikenal dengan Kiai ‘Atharid, adalah putra Raden Wira Tanu Datar VI.

(more…)

Soal Wajib Jilbab di Sekolah

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Isu wajib jilbab di sekolah publik kembali merebak. Melalui Surat Edaran, SDN Karangtengah III, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, mewajibkan siswanya untuk menggunakan busana muslim alias jilbab.

Surat Edaran tertanggal 18 Juni 2019 tersebut, tersebar luas melalui media sosial. Lalu menjadi viral dan mendapat beragam respon dari netizen. Sebagian besar menyoroti isu diskriminasi yang potensial lahir dari kebijakan tersebut.

(more…)

Gugon Tuhon tentang Dalu

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa banyak memiliki gugon tuhon yang berkaitan dengan dalu. Salah satu contohnya yaitu dalu–dalu aja nyapu, mundhak kemalingan entek–entekan. Gugon tuhon yang menjelaskan tentag dalu ini merupakan larangan implisit bagi perempuan Jawa menyapu di malam hari.

Kata dalu sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti malam hari. Masyarakat Jawa meyakini adanya hal buruk yang akan terjadi jika waktu dalu tersebut tidak digunakan untuk menjalani aktivitas yang selazimnya. Malam hari memang selazimnya digunakan untuk beristirahat.

(more…)

Mulat Sarira Sang Kramadangsa

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Mulat sarira merupakan istilah Jawa yang digunakan untuk mengungkapkan gerak hidup manusia untuk mawas diri pada tataran psikologis sampai pada religius etis.

Gerak hidup manusia didasari oleh rasa hidup. Rasa hidup inilah yang memengaruhi gejolak jiwa manusia. Setiap jiwa memiliki rasa untuk mempertahankan hidup dan eksistensi hidup. Selanjutnya, mawas diri berkiprah mengelola dua rasa. Rasa bahagia dan rasa susah.

Meneliti rasa sendiri adalah kegiatan mawas diri. Hal ini berguna demi terbebasnya diri dari perbudakan rasa. Kegiatan mawas diri ini dilakukan dengan menghadirkan catatan diri. Catatan diri didapatkan dari gerak hidup yang dilakukan diri. Apabila gerak hidup dilakukan dengan rasa bahagia, catatan hidup cenderung menebal. Sebaliknya, apabila gerak hidup dilakukan dengan rasa susah, catatan hidup cenderung samar.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme