Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Situs-Ritus: Desa Sebagai Pondasi Kebudayaan

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Tapan adalan prototipe desa-desa di Tulungagung. Mungkin juga desa-desa di seluruh Jawa. Desa dalam wilayah administrasi Kedungwaru tersebut, memang bukan kategori desa adat sebagaimana kita kenal hari ini, tapi seluruh ekosistem yang menjadikannya sebagai sistem kebudayaan yang utuh masih belum sepenuhnya punah.

Seperti kecenderungan yang terjadi di mana-mana, ekosistem kebudayaan desa tidak bisa dibilang baik-baik saja. Ada banyak pergeseran—untuk tidak menyebutnya kerusakan, yang menyebabkan kesentosaan dan ekspresi-ekspresi kebudayaan tidak serenyah dulu.

(more…)

Tarekat Sunan: Pancasetya Sebagai Kesalehan Hidup

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-HKI; Staf Magang IJIR []

Pancasetya merupakan istilah Jawa yang merujuk makna prinsip melaksanakan tugas kearifan lokal yang terkait dengan lima ketaatan. Terdiri dari: setya budaya, setya wacana, setya semana, setya laksana, dan setya mitra.

Kelima istilah tersebut berarti mampu melestarikan budaya, memegang teguh ucapan, senantiasa menepati janji, bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepadanya, serta mampu menjalin persahabatan dengan prinsip kesetiakawanan.

Dapat dikatakan bahwa, pancasetya merupakan salah satu ciri di mana saat manusia wajib berusaha untuk menolak perbuatan buruk, maka pada saat yang sama ia juga harus berusaha menegakkan perbuatan baik.

(more…)

Kedungwaru Culture Village Carnival, Memotret Akar dan Potensi Desa

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V; Peneliti muda IJIR []

Di tengah persiapan menjadi Kecamatan percontohan untuk penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan berbasis Desa, Kedungwaru menyelenggarakan “Kedungwaru Culture Village Carnival” (KCVC). Agenda ini, selain dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, juga merupakan upaya meneguhkan identitas Kedungwaru sebagai desa budaya.

KCVC (25/08) dimulai sekitar pukul 1 siang. Rute Karnaval dimulai dari Pasar Senggol, Bangoan ke selatan menuju pertigaan depan Balai Desa Ringinpitu. Setelah itu, peserta pawai menuju lapangan Ringinpitu sebagai titik akhir.

(more…)

Labuh Larung Sembonyo

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungaguang; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semster I; Staf Magang IJIR []

Risma Fadlilatul Iffah [] Pemenang Sayembara Menulis SMA se-Karesidenan Kediri, IJIR IAIN Tulungagung; Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester I; Staf Magang IJIR []

Labuh Larung Sembonyo merupakan upacara adat masyarakat Prigi sebagai wujud rasa syukur atas berlimpahnya tangkapan ikan. Selain itu, upacara ini merupakan wujud syukur para nelayan atas keselamatan yang diberikan Tuhan saat melaut. Hingga saat ini upacara Labuh Larung Sembonyo masih dilestarikan oleh masyarakat Prigi.

Menurut mereka, dibukanya kawasan atau babad alas teluk Prigi menjadi cikal bakal terciptnya tradisi Labuh Larung Sembonyo, sehingga upacara ini begitu sakral. Labuh Larung Sembonyo dilaksanakan pada Senin kliwon bulan Selo sesuai penangggalan Jawa. Upacara adat ini biasanya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka atau babad alas teluk ini yaitu Tumenggung Yudho Negoro dan empat saudaranya.

(more…)

Kata-Sabda

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

“Sekali berarti // Sudah itu mati.” Bait abadi itu kita kenang milik Chairil Anwar. Sastrawan yang mendobrak-dobrak kemapanan itu dijuluki ‘Binatang Jalang’. Seolah itu pintanya sendiri dalam sebuah syair.

Usianya pendek. Hanya 26 tahun saja. Tapi warisannya dalam sastra bergema sepanjang masa. Ia adalah pelopor angkatan ’45, pelopor sastra modern Indonesia. Tulisannya selalu bergelora. Berisi pemberontakan, menembarkan aroma ‘kematian’ sekaligus membawa spirit baru bagi pergumulan kebangsaan Indonesia.

(more…)

Tradisi Pasang Molo

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang di IJIR []

Dahulu, tiap rumah orang Jawa selalu terpasang molo. Hal ini dianggap begitu penting dimiliki tiap rumah. Pemasangan molo memiliki pengharapan besar bagi si empunya rumah, terutama demi maksud terhindar dari malapetaka. Sayangnya, seiring perkembangan zaman terutama dalam segi arsitektur bangunan, kian menggeser makna filosofis pemasangan molo.

Tradisi pemasangan molo merupakan tradisi memasang tiang tertinggi atap rumah atau blandar untuk selanjutnya dibungkus dengan kain merah. Kata molo merupakan kata turunan dari kata polo, yang berarti sirah atau kepala. Pemasangan molo biasanya dilakukan saat prosesi membangun rumah. Molo ditempatkan pada tiang tertinggi, dan tepat berada di tengah-tengah rumah.

(more…)

Macan Putih Gaib Candi Mleri

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Ajeng Eka M.L. [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester III; Staf Magang IJIR []

Candi Mleri atau disebut juga Kekunaan Mleri (makam), terletak di kaki Gunung Pegat, Desa Begelen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Luas area Candi hanya berkisar 27 x 23 meter saja. Lokasi candi tergolong masih segar karena banyaknya pohon besar yang memayungi area tersebut. Selain itu lokasi ini juga cukup bersih karena peran Juru Kunci yang selalu membersihkannya, dan terkadang para pengunjung juga ikut membersihkan lokasi agar tetap indah.

Candi Mleri merupakan Candi yang bercorak Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya patung Ganesha di bagian luar makam. Di Candi Mleri ini dapat kita temukan beberapa peninggalan-peninggalan artefak, relief, makam-makam, dan prasasti.

(more…)

Ngaji Manuskrip dan Turats Nusantara Sudah Digelar

Institute For Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung menggelar pengajian. Bukan ngaji biasa, acara ini diberi nama “Ngaji Manuskrip dan Turats” lalu disingkat JIMAT Nusantara. Acara dilaksanakan pada Kamis, 22 Agustus 2019 pukul 19.00-21.00 WIB di Kantor IJIR.

Acara ini diinisiasi oleh Departemen Manuskrip Islam Jawa, sebagai perwujudan atas komitmen IJIR untuk nguri-nguri warisan para leluhur, terutama dalam bidang kajian atas manuskrip dan pengembangan tradisi turats.

(more…)

Agama dan Kepercayaan Orang Jawa

Zulfa Ilma Nuriana [] Pemenang II Sayembara Menulis SMA 2018; Saat ini menjadi Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Zulfa Ilma Nuriana [] Pemenang II Sayembara Menulis SMA 2018 yang diselenggarakan IJIR; Saat ini menjadi Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam IAIN Tulungagung; Staf Magang IJIR []

Sistem kepercayaan orang Jawa telah terbentuk sebelum datangnya Hindu-Buddha. Budiono Herusatoto  mengatakan kepercayaan itu animisme, yakni kepercayaan adanya roh atau jiwa pada semua benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Mereka juga memegang dinamisme, yaitu kepercayaan adanya tenaga magis pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda, termasuk kata-kata yang diucapkan atau ditulis.

Menurut Djumhur, animisme dan dinamisme tak dapat dipisahkan. Tidak ada bangsa primitif yang hanya menganut kepercayaan dinamisme dengan mengesampingkan animisme. Ataupun sebaliknya. Di Jawa apabila seseorang memiliki “ilmu tinggi” atau biasa disebut dengan orang sakti mandra guna akan sulit mati karena memiliki tenaga magis di tubuhnya.

(more…)

Pulung Lurah di Jawa

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VII, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VII, Peneliti Muda IJIR []

Dimensi spiritualitas memainkan peran penting dalam narasi kepemimpinan lurah di Jawa. Hampir bisa dipastikan bahwa seorang pemimpin di Jawa, seperti halnya Lurah harus memiliki modal spiritual yang cukup untuk mendapat kewibawaan sehingga layak memimpin suatu wilayah. Selain itu, rupanya cerita rakyat juga memainkan peran penting dalam politik Lurah di Jawa.

Di Jawa, kekuasaan bukan semata-mata gejala fenomena sosial, tetapi juga berantai dengan aspek-aspek kultural-spiritual yang dianggap besar oleh masyarakat (Sardiman AM, 1992: 84). Melalui olah batin seseorang dapat masuk ke dunia spiritual, sehingga ia bisa dipilih oleh Yang Maha Kuasa untuk memimpin makhluk empiris dan non-empiris di muka bumi. Tata cara ritual yang dilakukan setiap orangpun berbeda-beda.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme