Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Dimensi Sosial Rumah Adat Jawa

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Orang Jawa gemar bersosial. Kegemaran ini terwujud dalam bangunan ruang tamu yang luas, sehingga menampung dan memudahkan komunikasi bersama banyak orang.

Bale merupakan salah satu ruangan dalam rumah adat Jawa sebagai lambang dimensi sosial. Tempat tersebut mewakili karakter orang Jawa yang bersifat terbuka terhadap orang lain. Ruangan yang didesain dengan luas memudahkan pemilik rumah untuk menampung dan menjembatani komunikasi dengan banyak orang orang.

(more…)

Dua Kisah tentang Sunan Bonang

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Sunan Bonang dikenal sebagai salah satu anggota Walisanga. Ia menjadi tokoh penyebar agama Islam di bumi Ronggolawe, Tuban, dan sekitarnya. Beliau menyiarkan ajaran agama Islam dengan cara mengakulturasikannya dengan budaya Jawa. Menariknya, model akulturasi semacam ini masih dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 M. Merupakan putra sulung Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Nyi Ageng Manila yang merupakan putri Adipati Tuban yaitu Arya Teja. Dari perkawinan inilah Sunan Ampel memiliki dua putera yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin adalah adiknya.

(more…)

Situs Panji di Candi Mirigambar

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Pada 11 Juli 2019 di Candi Mirigambar, Tulungagung, digelar acara Festival Budaya Panji Nusantara dalam rangka Indonesiana. Ini merupakan program yang diinisiasi oleh Dirjen Kebudayaan dengan melibatkan stakeholders kesenian dan kebudayaan. Festival Panji Nusantara adalah bentuk apresiasi kebudayaan Panji. Candi Mirigambar dipilih karena merupakan situs Panji yang sangat penting.

Candi Mirigambar dibangun pada kisaran 1292 M pada akhir kerajaan Singasari. Pada sebagian batu candi terdapat angka tahun 1214 Saka atau 1292 M dan tahun 1310/1428 M. Berdasarkan data tersebut, dapat dipastikan bahwa masa pembangunan dan penggunaannya berlangsung pada akhir abad XII hinga akhir abad XIV, yakni masa pemerintahan Wikrama Warddhana (1389 M – 1429 M).

(more…)

Falsafah Tukon Pasar

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa terbiasa dengan sinamun ing samudana atau menyampaikan nasihat melalui simbol. Salah satunya melalui makanan tradisional, yaitu tukon pasar atau biasa dikenal dengan jajanan pasar. Terdapat makna tersirat yang mendalam di setiap tukon pasar. Bahkan jika makna ini diresapi, akan membuat hidup menjadi lebih baik.

Pada awalnya, tukon pasar memang hanya dijual di pasar. Ini menjadikan jajanan pasar sebagai simbol sesrawungan atau silaturahmi. Sebab, pasar dianggap sebagai tempat bertemunya orang banyak dan hiruk pikuk berbagai urusan. Lebih dari itu, tukon pasar sekaligus menjadi sarana untuk mengingat pada kehidupan dunia.

(more…)

Seksualitas: dari Parrhesia menuju Tabu

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Kehadiran seksualitas terjadi bersamaan dengan kelahiran peradaban manusia. Wacana seksualitas akan selalu ada, hadir, dan berkelindan di setiap zamannya. Seksualitas bukan sekedar wacana. Ia hadir dengan sejarah yang cukup panjang. Menempati wilayahnya sendiri, dan memiliki dinamikanya sendiri.  Sebagai variabel budaya, seks adalah kebudayaan tertua dalam sejarah peradaban umat manusia.

Perlu dipahami bahwa seksualitas tidak sama dengan seks. Ia lebih rumit ketimbang sekedar hubungan jasmaniah atau kegiatan reproduksi semata. Seksualitas dipahami sebagai realitas manusia yang lebih luas dan mendalam ketimbang seks. Seksualitas tidak hanya sekadar realitas reproduksi dan kelakuan genital, tetapi lebih menekankan pada siapakah kita (who I am). Misalnya, bagaimana kita memaknai tubuh kita sendiri, bagaimana kita memahami feminitas dan maskulinitas dalam diri kita, atau bagaimana kita memahami hasrat seksual kita. Dengan kata lain, seksualitas adalah cara manusia dalam memaknai seks itu sendiri. Foucault sendiri memaknai seksualitas sebagai cara orang menggunakan energi manusiawi ddan kenikmatan manusiawinya demi menghasilkan kebenaran (Bernard S. Hayong, 2013).

(more…)

Menelusuri Jejak Islam Jawa

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Islam Jawa sebenarnya tidak pernah ada. Setidaknya, jika mengacu pada realitas sosial-agama di Jawa, masyarakat tidak mendaku diri secara tegas sebagai orang yang beragama Islam Jawa. Yang bisa ditemukan adalah masyarakat Jawa yang beragama Islam. Bukan Islam Jawa.

Meski demikian, dalam jagad akademik—terutama kajian Antropolgi maupun Sosiologi Agama—istilah Islam Jawa terlanjur menggema. Dari mana datangnya istilah ini? Joachem van den Boogert dengan percaya diri menyebut konsep Islam Jawa sebenarnya merujuk pada pengalaman Barat.

(more…)

Kitab Syi’iran Naṣīḥāt KHR. Asnawi: Aku Islam, Aku Jawa, Aku Indonesia

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kiai-Kiai Jawa terus menjaga keseimbangan antara kehidupan beragama dan bernegara. Inilah kabar yang dilayangkan oleh kitab ‘Shi’iran Naṣīḥāt’, karya Kiai Haji Raden Asnawi atau KHR. Asnawi Kudus.

K.H.R. Asnawi lahir di Damaran, sebuah wilayah di belakang menara Kudus, pada tahun 1861 M. Beliau merupakan keturunan ke-5 dari KH. Mutamakin, sekaligus keturunan ke-14 dari Sunan Kudus. Oleh sebab itulah, gelar ‘Raden’ disematkan pada namanya (Mas’ud, 2004: 20).

(more…)

Nyai Lidah Item dari Tawangsari

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Alkisah, seorang ulama yang sering berkelana untuk berdakwah di segala penjuru daerah memantapkan diri bermukim di daerah yang ditumbuhi pohong tawang dengan pohon nagasari yang melingkupinya. Masyarakat setempat mengenal beliau dengan nama Kiai Haji Abu Manshur.

Pohon tawang dan nagasari inilah yang menjadi asal muasal nama Desa Tawangsari. Desa tersebut berada di sisi barat sungai Ngrowo, merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kedungwaru, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

(more…)

Professor

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Konon, istilah professor pertama kali digunakan di Inggris untuk menyebut gelar tertinggi akademik. Sebelum 1485, penggunaan istilah tersebut bersifat cair. Digunakan untuk menyebut orang-orang yang dianggap pantas karena dedikasinya dalam pendidikan dan literasi.

Baru pada masa dinasti Tudor—periode monarki Inggris, sejak masa Raja Henry VII, selama periode 1485-1603, gelar professor menjadi nomenklatur resmi kerajaan. Pada 1540, Henry VIII tercatat sebagai raja pertama yang mengukuhkan lima kursi professor kerajaan untuk bidang ilmu berbeda-beda, meski semua terkait dengan teologi Katolik.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme