MEREKATKAN TALI SILATURRAHIM OLEH : H. HERIE FENDI, S.Pd.I

Merekat Silaturrahmi

Untuk Indonesia yang Toleran dan Damai

 

HAJI HERIE

HAJI HERIE

H. Herie Fendi, S.Pd.I

Masih dalam suasana HAUL Nahdhatul Ulama (NU) yang ke-95 kalender Hijriah, 16 Rajab beberapa hari yang lalu, terlepas dari khilafiyah apakah organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dirumuskan pada siang atau malam hari. Sebagai warga negara maupun sebagai insan beragama, penulis tentu sangat bersyukur atas eksistensi NU dalam membangun, merawat, dan menjaga Islam yang ada di Nusantara ini. Teriring doa semoga NU tetap menjagi garda terdepan dalam menangkis serangan-serangan musuh Islam dan menjadi benteng terkuat demi tetap tegak dan tegarnya NKRI.

 

Perintah mewujudkan dan menjaga ukhuwwah Allah sebutkan di ayat ke-10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”

 

NU yang lahir sebelum Negeri ini berdiri, tidak sendirian dalam meraih kemedekaan sampai terwujudnya NKRI. NU bersama organisasi islam yang lain, organisasi masyarakat, juga segenap elemen umat turut mengalirkan air mata, keringat, dan darah demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia yang kita cintai. Oleh karena itulah, sebagai pewaris perjuangan para ulama, wajib hukumnya bagi kita tetap setia meneruskan cita-cita para pahlawan dengan merangkul ormas-ormas islam yang lain untuk menyebarkan Islam yang toleran dan damai.

 

Tantangan di era IT

Menjaga NKRI bukanlah perkara gampang di tengah arus globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini, terlebih dengan begitu mudahnya akses informasi, sehingga begitu sangat memungkinkan pula kita sebagai masyarakat memperoleh banyak hal yang secara sadar atau tidak bisa saja mengamcam kerukunan umat islam ini sendiri yang pada ujung pangkalnya itu sangat mungkin memicu goyahnya NKRI jika tidak diantisipasi dejak dini.

 

Taruhlah yang beberapa hari terakhir ini viral terdengar, mulai dari adanya seorang terhormat yang mengucapkan sebuah kata bejat –terlepas dari sebab dia mengucapkan kata itu; ujaran kebencian di media sosial yang seakan lepas kendali;  penipuan oleh biro umrah dan haji; sampai dengan adanya Tafsir Cocokologi. Islam sebagai umat terbesar tentu menjadi pihak yang paling bertanggungjawab atas  segala hal yang terjadi di negeri ini, apalagi ditambah dengan segelintir pihak yang hendak menggeser nilai-nilai Pancasila dengan pemahaman mereka sendiri.

 

Yang tidak kalah pentingnya, Islam sebagai agama yang satu, sebagaimana bersatunya semua elemen dalam merebut kemerdekaan negeri, maka harus bersatu juga dalam mempertahankanya. Sebagaimana Allah berfirman:

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (Q.S.4:144). Inilah yang melatarbelangi bertemunya 2 ormas Islam terbesar 23 maret yang lalu dalam rangka merekatkan kembali silaturrahmi untuk menaburkan toleransi dan menebarkan Islam yang damai.

 

Bertemunya 2 Saudara

Sebagaimana gambar-gambar yang viral beredar via broadcast WA maupun dari sources yang lain, kita bisa melihat salah satu gambar bagaimana seorang Said Aqil Siraj bermesraan di meja makan bersama Haedar Nasir. Pemandangan yang lumrah barangkali bagi kalangan intelektual yang tentu ini sudah menjadi kegiatan keseharian dalam menciptakan harmoni bersama dalam perbedaan pandangan yang biasa terjadi, namun terasa menyejukkan sekali mungkin bagi  masyarakat grassroot yang sampai tulisan ini diterbitkan masih saja memegang prinsip fanatisme sektarian.

Kalau penulis sendiri menganggap pertemuan tersebut sebagai penjelas dan sekaligus penegas bahwa kedua ormas ini bersaudara sampai mati, Bersaudara Harga Mati!.

 

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bertemu di satu forum. Hubungan keduanya bagaikan kakak dan adik. Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Pada awal berdiri, Hadlratussyekh KH Hasyim Asyari menjabat sebagai Rais Akbar dan H Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah. Sementara Muhammadiyah lahir lebih dahulu dari NU, yaitu 18 November 1912 M atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H. Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan.

 

Pertemuan yang diliput banyak wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun online tersebut berjalan dengan santai dan dipenuhi gelak tawa. Kiai Said Said yang menyambut Pengurus Muhammadiyah itu mengaku bahwa organisasi yang berpusat di Yogyakarta merupakan saudara tua NU. “Kunjungan saudara tua kita. Lebih senior daripada NU. Lahirnya tahun 12 (1912). Jadi Kakak sulung sebenarnya Muhammadiyah ini,” kata Kiai Said, diikuti gelak tawa seisi ruangan di lantai lima.

 

Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir membalas sambutan Kiai Said dengan tidak kalah membuat ruangan pertemuan bising dengan tawa. “Kami berlima mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah memang datang mengunjungi adik bungsu kami. Adik bungsu itu nakal-nakal dikit biasa. Kalau tidak nakal bukan adik bungsu,” kata Haedar, ketawa kembali meledak. (sumber: https://www.nu.or.id/post/read/87631/ketika-nu-dan-muhammadiyah-bertemu-di-satu-forum).

 

 

Menghapus Fanatisme Sektarian

Seiring perkembangan zaman, khilafiyah yang awalnya hanya muncul di wilayah furu’iyah, belakangan merembet ke ranah yang lebih luas. Sebagai contoh masalah memilih pemimpin, pemanfaatan agama menjadi kendaraan politik, sampai merembet ke paham kebangsaan. Apapun itu, penulis rasa itu semua harus kita kembalikan ke ranah persaudaraan, karena jika tidak maka pihak ke-tigalah yang memecah belah.

 

Kita sebagai warga negara sekaligus umat beragama jangan pernah memperuncing ranting-ranting khilafiyah, atau Indonesia benar-benar menjadi negara khilafah. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah ayat:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (Q.S. 3:103).

 

Pada banyak aspek, perbedaan itu justru harus dipahami sebagai pilar-pilar penguat persatuan dan kesatuan. Dalam kerangka merawat ke-bhineka-an serta merawat Islam yang damai dan toleran, kebenaran itu bukanlah milik masing-masing golongan yang saling  mengklaim pembenaran ditengah perbedaan, tetapi kebenaran itu adalah miliknya semua golongan yang saling menghormati di atas perbedaan.

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *