Tiga Tipologi Silaturahim (Mister Budi)

 

 

 

 

Tiga Tipologi Silaturahim

 

Oleh : Budi Harianto, M.Fil.I

Kajur Sosiologi Agama IAIN Tulungagung


 

Perintah untuk Bersilaturahim

Manusia sebagai makhluk sosial, selamanya tidak bisa lepas dari hubungan silaturahim. Makna silaturahmi secara harfiah adalah “menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan”. Adapun secara istilah maknanya dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-Maraghi :“ Silaturahim ialah menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan seseorang”. Sedangkan Imam As-Shon’ani menegaskan bahwa silaturahim adalah perbuatan baik kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab dengan bersikap lembut, menyayangi dan memperhatikan kondisi mereka. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjaga tali  silaturahim :

 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا- النساء


Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ( QS. An-Nisa ; 1 )

 

Tiga Tipologi Silaturahim

Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW tentang silaturahim amat banyak jumlahnya. Penulis mengelompokkan ada tiga tipologi Silaturahim yaitu:

1)      Al-Washil (الواصل/ Penyambung)

2)      Al-Mukafi’ (المكافئ/ Pembalas)

3)      Al-Qothi’ (القاطع/ Pemutus)

Pertama, Al-Washil (الواصل/ Penyambung) Maknanya adalah orang yang menyambung tali silaturahim yang putus sekalipun kepada orang yang jahat pada dirinya. Tanda-tanda orang yang bersifat Al-Washil adalah ia tetap berbuat baik kepada semua orang, walaupun ia dimusuhi oleh orang lain sekalipun.

Kedua, Al-Mukafi’ (المكافئ/ Pembalas) Maknanya adalah orang yang menyambung tali silaturahim hanya kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Adapun kepada orang lain yang tidak baik kepada dirinya, maka ia tidak menyambung tali silaturahim.

Ketiga, Al-Qothi’ (القاطع/ Pemutus) Maknanya adalah orang yang memutus tali silaturahim kepada orang lain. Tanda-tanda orang yang bersifat Al-Qothi’ adalah ia tidak mampu berbuat baik kepada semua orang, hidupnya penuh kebencian.

 

Bahaya Memutus Silaturahim

Orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang dilaknat oleh Allah. Dosa yang dipercepat oleh Allah untuk diberi siksa di dunia dan akhirat adalah memutuskan silaturahmi (selain berbuat zalim).

Orang yang memutuskan silaturahmi doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Orang yang memutuskan silaturahmi tidak akan masuk surga. Bila dalam suatu kaum terdapat orang yang memutus silaturahmi, maka kaum itu tidak akan mendapat rahmat dari Allah.

هَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ  أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Artinya: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan  Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad :22-23)

 

Beberapa Hikmah Silaturahim

  1. 1.      Do’a yang Terkabul .

Rasulullah SAW bersabda:

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُ يصرف عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا »

Artinya: Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.”

  1. 2.        Tanda / ciri orang beriman.

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghubungkan kasih sayang/tali persaudaraan/ silaturahim, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam (HR Bukhari dan Muslim, di dalam kitab Riyadushalihin).

  1. 3.    Digolongkan sebagai Ulil Albab. Di dalam surat Ar Ra’du ayat 19- 21, Allah menjelaskan, bahwa di antara kriteria orang yang berakal dan dapat mengambil pelajaran, adalah “orang yang senantiasa bersilaturahim”, yakni yang menghubungkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menghubungkan. Jadi, kalau kita merasa sebagai orang yang punya akal, tidak ada pilihan lain, wajib silaturahim. Sebaliknya? Jawabannya silakan diuraikan sendiri.
  2. 4.    Risalah Terpenting yang dibawa Nabi Muhammad.
    Sahabat Amr bin Abasah r.a pernah menyampaikan, saya datang kepada Nabi saw di Mekkah, awal kenabian, kemudian saya bertanya kepada beliau, “Apakah kedudukan tuan? Beliau menjawab,” Nabi” Apakah Nabi itu? Jawab beliau “Allah mengutus aku” saya bertanya kembali, untuk apa Allah mengutus tuan? Beliau/Rasulullah saw menjawab: “Allah Mengutus Aku Untuk Menyambungkan Tali Persahabatan/ Kasih Sayang, menghancurkan berhala dan mengesakan Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatupun.
  3. 5.    Menyebabkan pelakunya masuk surga.
    Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Alansharyra, bahwasanya ada seseorang bertanya:” wahai rasulullah, beritahukan kepada saya sesuatu amal yang dapat memasukkan saya ke surga. “Rasul menjawab. Yaitu kamu menyembah Allah dan jangan mempersekutukannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menghubungkan silaturahim.
  4. 6.      Dipanjangkan umurnya. Manusia hidup sebagai makhluk sosial, ia tidak bisa hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain. Orang yang sering bertemu dan bertatap muka dengan banyak orang, suka berinteraksi dan tidak menyendiri, insya Allah memiliki potensi lebih sehat dibandingkan yang tidak mau bergaul, menyendiri dan tak mau bergerak. Paling tidak, dengan berinteraksi dengan berbagai kalangan, ia makin menyadari bahwa ternyata setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, setiap manusia memiliki permasalahan hidupnya masing-masing, sehingga dia tidak berpikir bahwa “dialah yang paling menderita hidupnya” Ternyata banyak orang lain yang juga punya masalah. Kesadaran ini membuat rasa syukur makin muncul dan sekaligus belajar sabar kepada orang lain. Mata batin dan jiwa pun tenteram, peluang sehat menjadi lebih dekat.
  5. 7.    Dimurahkan rejekinyaDari Anas bin Malik RA, katanya, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang ingin supaya dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (HR Bukhari). Dengan silaturahim makin banyak teman dan relasi, itu maknanya makin banyak akses informasi, akses dan peluang pasar untuk bisnis, dan akses2 kebaikan yang lainnya.
  6. 8.    Menumbuhkan jiwa persatuan dan semangat tolong menolong. “Tangan Allah berada dia atas jamaah/bersatu. Persatuan adalah rahmat, dan perpecahan adalah ahzab. Tidak dapat dipungkiri, salah satu yang menumbuhkan menyatu dan bersaudara adalah aktivitas menyambungkan kasih sayang/silaturahim. Dengan ini juga bisa dibangun kesamaan visi dan pemahaman tentang suatu hal. Jika visi dan pemahaman sudah searah, tentang berbagai solusi, menjadi sesuatu yang mudah

 

Kesimpulan

Silaturahim hukumnya wajib bagi umat Islam. Tujuannya adalah untuk menebarkan kedamaian di atas bumi. Silaturahim perlu dipupuk agar terjalin keharmonisan hidup bermasyarakat. Seseorang akan memperoleh iman sempurna dengan silaturahim.

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *