Lima Kunci Hidup Optimis Oleh : Istiqomah

 wisuda

Lima Kunci Hidup Optimis   

Oleh : Istiqomah

Mahasiswi Jurusan IAT IAIN Tulungagung

Sifat Buruk Manusia, Suka Mengeluh

Mendengar kata “mengeluh” ingatan seseorang terbawa pada firman Allah SWT yang tertulis dalam surat Al-Ma’arij ayat 19 – 20:

إن الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا  وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا

Artinya: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir”.

Ibnu Katsir menerangkan bahwa salah satu sifat tercela manusia adalah berkeluh kesah dan kikir. Manusia itu bula dtiimpa oleh suatu hal yang menyusahkan, maka dia akan gusar dan mudah mengeluh. Hatinya pun menjadi hancur karena rasa takut yang luar biasa menyeramkan dan berputus asa dari mendapat kebaikan dari Allah SWT.

 

Pelajaran Berharga dari Kisah Tsa’labah

Memang manusia diciptakan dengan mempunyai sisi positif dan negatif. Apabila ia ditimpa suatu hal yang tidak ia harapkan dan tidak diinginkan pasti akan berkeluh kesah. Tapi tatkala Allah SWT memberikan nikmat yang lebih untuknya, maka ia menjadi sombong dan kikir.

Kisah Tsa’labah bin Hatib terdapat dalam tafsir Al Azhar Surat At-Taubah: 75-78 yang menceritakan bahwa Tsa’labah Bin Hatib adalah orang miskin yang taat beribadah, ia selalu memohon kepada Allah untuk diberi kekayaan. tapi do’a itu tidak segera diijabah oleh Allah SWT. Kemudian Tsa’labah pergi untuk menemui Nabi Muhammad SAW “Wahai Nabi, aku telah taat beribadah, aku selalu berdo’a kepada Allah, tapi kenapa keadaanku masih sama seperti ini ? tolong do’akan aku supaya aku bisa kaya”. Kemudian Rasulullah menjawab “Bagaimana engkau ini Tsa’labah, apakah engkau tidak senang seperti aku saja (sederhana). Kalau seandainya aku minta kepada Tuhanku apa yang aku inginkan, niscaya itu akan mudah untuk aku dapatkan. Wahai Tsa’labah, harta sedikit yang engkau bisa mensyukurinya lebih baik daripada banyak tapi menjadikan engkau kufur”.

Tapi Tsa’labah tetap memaksa agar dido’akan oleh Rasulullah,  ia berjanji kalau ia kaya ia akan memberikan hartanya kepada orang yang berhak menerimanya. Akhirnya Nabi mendoakan Tsa’labah, dia mulai membeli seekor kambing untuk dipelihara. Allah memberkati usahanya sehingga kambing yang ia pelihara berkembang pesat sampai kambingnya memenuhi kota Madinah. Setelah kambing yang ia pelihara berkembang biak banyak ia pun menjadi orang yang kaya. Namun, ia pun lupa beribadah dan menjadi kikir.

Suatu hari Nabi mengutus seorang 2 sahabat untuk meminta shadaqah kepadanya. Tapi ia menolaknya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya “Engkau seperti ini karena engkau diperintah oleh nafsumu sehingga engkau tidak taat lagi padaku dan melupakaNya”.

 

Mengeluh disebabkan Lupa Bersyukur

Terkadang manusia masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Manusia terkadang mengeluh dengan keadaan kita saat ini, merasa iri dengan seseorang yang mempunyai harta berlebih. Contoh lainnya, seorang mahasiswa lupa bersyukur bahwa Allah SWT memberinya kesempatan untuk bisa kuliah. Sedangkan   di luar sana, masih banyak orang yang mendambakan bisa kuliah di kampus favoritnya. Bahkan banyak dari mereka tidak bisa mewujudkan mimpinya karena biaya.

Manusia Gagal Karena Pesimis

Pengertian pesimis adalah sebuah sikap atau pandangan seseorang terhadap suatu hal yang digambarkan dengan ciri-ciri tidak yakin, murung, sedih, rasa putus asa, tidak ada harapan dan seperti berada dalam masa-masa yang sangat buruk.

Contohnya, seorang mahasiswa pasti merasa jenuh saat harus duduk lama di dalam kelas menikmati presentasi teman dan penjelasan dosen. Terkadang ia sampai terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur. Ia juga kesusahan dan kebinggungan saat mengerjakan tugas dari dosen, terkadang ada 3 tugas sekaligus dalam sehari dan harus diselesaikan pada hari yang sama.

Justru, semua itu akan mudah jika ia menikmatinya. Jangan banyak mengeluh, sungguh masih banyak orang lain yang lebih miskin dan kesesahan. Mereka yang tidak bisa menikmati pendidikan karena harus membantu orang tua, mereka yang hidupnya tertatih dijalan, untuk mencari sesuap nasi pun mereka harus bersusah payah, bahkan untuk mencari tempat tidur pun mereka susah, kadang hanya numpang di depan emperan toko dengan beralas koran dan aspal jalan serta berselimut hawa dingin.

 

Hidup Optimis dan Dinamis

Optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandagan) baik dalam menghadap segala hal atau persoalan, misalnya : seorang siswa/siswi yang mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) dia berharap akan lulus dan diterima di perguruan tinggi yang ia pilih.

Sedangkan kata dinamis berasal dari bahasa Belanda “dynamisch” yang berarti giat bekerja, tidak mau tinggal diam, selalu bergerak, dan terus tumbuh. Dia akan terus berusaha secara sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah yang lebih baik dan lebih maju, misalnya : seorang petani terus bersyukur dan  berusaha agar hasil pertaniannya meningkat. Allah SWT berfirman :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنُّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat Ku) maka sungguh adzabKu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).

 

Lima Kunci Hidup Optimis

1.    Menemukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu, sepahit apapun pengalaman itu. Dalam kegagalan, sekalipun masih ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang terselip. Sepatutnya manusia mencoba untuk temukan keberhasilan dan mensyukuri keberadaannya. Upaya tersebut paling tidak akan bisa mengobati sebagian dari perasaan hancur yang telah diderita oleh manusia. “Tapi bagaimanapun saya telah gagal” Buang jauh-jauh pikiran tersebut, karena pikiran tersebut tak akan membantu seseorang dalam meraih nikmat Allah SWT yang akan datang  berikutnya. Allah SWT hanya akan menambahkan nikmatNya pada orang yang mau mensyukuri pemberianNya meskipun nikmat itu sedikit.

2.    Menata kembali target yang ingin kita capai. Jangan terbiasa membuat target yang berlebihan. Manusia memang harus optimis, tapi ia perlu juga mengukur kemampuan diri sendiri. Ia juga perlu menelaah lebih jeli cara apa yang mungkin ia lakukan untuk mencapai target tertentu dengan pilihan yang tepat dan langkah yang benar.

3.    Memecah target besar menjadi target-target kecil yang dapat segera dilihat keberhasilannya. Seringkali ada manfaatnya untuk melihat keberhasilan-keberhasilan jangka pendek dari sebuah target jangka panjang. Hal ini akan semakin menumbuhkan semangat dan optimisme dalam diri seseorang. Tentu ia harus terus mensyukuri apa yang ia peroleh dari capaian target-target kecil tersebut. Jangan pernah terbetik dalam hati, “Ah baru segini, target kita masih jauh.” Sikap ini sama sekali tak membangun rasa optimis dan rasa syukur.

4.    Bertawakal kepada Allah SWT. Menyadari adanya satu kekuatan yang dapat menolong seseorang di saat ia menghadapi rintangan merupakan modal dasar yang cukup ampuh dalam membangun optimisme. Bertawakal tentu harus dilakukan bersamaan dengan upaya seseorang dalam memperbaiki target dan strategi pencapaiannya.

5.    Menghargai diri sendiri. Manusia perlu lebih sayang dan menghargai diri sendiri. Jangan kita terus menerus mengejek diri sendiri. “Aku ini orang bodoh, tak bisa apa apa” Ini bukanlah sikap merendah, tapi merupakan sikap ingkar terhadap kelebihan yang telah Allah SWT karunikan kepada setiap manusia.

 

Kesimpulan

Mengeluh adalah sifat buruk manusia. Mengeluh hanya kepada Allah SWT. Manusia harus berusaha untuk optimis. Optimis dan dinamis akan menjadikan manusia hidup sukses dan bahagia. Semua makhluk hidup telah dijamin rejekinya oleh Allah SWT. Rejeki itu takkan pernah tertukar.

 

istiqomah

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *