Dakwah Kultural Walisongo Oleh : Fatkurrohman Nur Awalin, M. Pd

 Dakwah Kultural Walisongo

 Oleh : Fatkurrohman Nur Awalin, M. Pd

Dosen Jurusan AFI IAIN Tulungagung

 

Dosen Bahasa Jawa

Dosen Bahasa Jawa

Kewajiban untuk Berdakwah

Islam ada di Indonesia berkat kiprah Walisongo di Nusantara  dalam berdakwah. Walisongo ada karena mengemban tugas dalam berdakwah. Walaupun Walisongo sampai saat ini masih menjadi perdebatan, sebagian orang menyangsikan keberadaanya, dan peran sertanya dalam dakwah Islam di Jawa. Hal ini dikarena minimnya literatur yang membahas Walisongo secara mendetail, mendalam, dan komprehensif. Walisongo telah berjasa mengislamkan Nusantara khususnya di Jawa sehingga Islam menjadi agama mayoritas. Rasulullah SAW bersabda:

 

وَإنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ، وَإنَّ الْأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً، وَإنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat mencukupi.” ( HR. Abu Dawud )

 

Misi Dakwah Walisongo

Misi dakwah Walisongo adalah membentuk masyarakat Jawa menjadi manusia Jawa yang Islami, berdasarkan syariat Islam, dan masyarakat madani yang disesuaikan dengan akar budaya di Jawa. Upaya Islamisasi di Jawa tidak hanya mengislamkan orangnya namun mengislamkan budaya Jawa. Budaya-budaya Jawa yang sudah ada yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Jawa oleh para Walisongo dimodifikasi dijadikan media dakwah untuk menarik simpati masyarakat Jawa.

Sehingga budaya Jawa yang ada tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan syariat Islam. Semangatnya walisongo dalam kaidah fiqih adalah “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”.

 

Inti Ajaran Dakwah Walisongo

Isi ajaran Walisongo ada tiga hal yakni; (1) Fiqih, ditujukan kepada orang awam, dengan cara pengajaran di pesantren atau disurau yang dilembagakan dalam masyarakat sehingga terwujud tradisi-tradisi upacara kelahiran, perkawinan, kematian khitanan dan lainnya, (2) Tauhid/ Ilmu kalam, untuk orang awam ditempuh dengan jalan cerita-cerita wayang (Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan lain-lain, (3) Ilmu Tasawuf, menurut istilah Sunan Bonang disebut Ushul Suluk yang berwujud wirid, wejangan rahasia, dengan tertutup, tempat, dan waktunya tertentu bagi murid tertentu. Yakni bagi mereka yang sudah mempunyai pengetahuan dasar tentang Islam (syariat). Sedang ajaran tasawuf yang sangat berkesan bagi mereka adalah kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali.

 

Dakwah Kultural Walisango

Walisongo sebelum berdakwah merancang strategi dengan cara musyarah bersama anggota Walisongo lainnya. Dalam musyawarah yang dihadiri oleh anggota Walisongo membahas berbagai hal yang menyangkut umat, salah satunya menyangkut strategi dakwah yang pas untuk masyarakat Jawa. Salah satu dari anggota dewan Walisongo yang memberikan usul digunakannya budaya sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan keturunan asli orang Jawa sehingga beliau sangat hafal dengan orang Jawa. Secara paradigma berfikir memahi kultur di Jawa.

Dari musyawarah tersebut, dewan Walisongo dihasilkan suatu kesepakatan yang menjadi pijakan Walisongo dalam menjalankan dakwah. Kesepakatan yang diambil adalah menggunakan budaya sebagai media dakwah dalam menyebarluaskan agama Islam di Jawa. Dengan strategi tersebut diharapkan dapat merebut hati orang Jawa karena orang Jawa merasa diuwongke dan dihargai. Budaya dan adat tradisi Jawa warisan Walisongo yang sudah diberi warna Islam sampai saat ini masih diamini oleh masyarakat Jawa.

 

Prinsip Dakwah Walisongo

Prinsip yang di pegang Walisongo adalah: Pertama, “al-muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah” (Al-Imam An-Nawawi)

  Maksudnya adalah unsur-unsur budaya lokal yang beragam dan dianggap sesuai dengan sendir-sendi tauhid, diserap kedalam dakwah Islam.

Kedua, Maw’izhatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan. Maksudnya adalah metode penyampaian ajaran Islam melalui cara dan bertutur dengan bahasa yang baik,  sebagaimana tertulis adalam Surah An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النجل: 125)

Artinya: ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dengan demikian apa yang dilakukan Walisongo sudah melalui tahap-tahap yang benar sesuai dengan syariat Islam, apa yang ada dalam ajaran agama Islam. Walisongo dalam berdakwah dengan hikmah mengajak dengan cara yang baik. Walisongo melalui dakwah kultural memberikan pembelajaran atau pedagogik kepada masyarakat Jawa tanpa merasa di gurui. Masyarakat Jawa dibimbing pelan-pelan menuju jalan yang benar susuai dengan tuntunan dalam agama Islam.

 

Kreasi Budaya dalam Dakwah Walisongo

Diantara hasil kreasi Walisongo adalah membuat pakaian yang di desain motifnya oleh Sunan Kalijaga dinamakan baju takwo. Kata takwo berasal dari kata bahasa Arab yaitu taqwa, taqwa adalah taat serta berbakti kepada Allah. Pada perkembangannya baju takwo menjadi baju surjan.

Selain baju Walisongo mendesain motif batik dengan gambar burung. Burung dalam bahasa kawi dinamakan kukila. Dalam bahasa Arab merupakan rangkaian kata Quu dan qiila atau Quuqiiila artinya pelihara ucapanmu (mulutmu). Maka makna kain pakaian yang bermotif kukila atau burung adalah  selalu memperingatkan atau mendidik dan mengajarkan kepada manusia agar senantiasa baik dan benar dalam tutur katanya.

Walisongo juga mendesain ulang wayang sehingga wayang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Wayang menjadi tontonan sekaligus tuntunan pedagogik kepada masyarakat yang hingga saat diamini oleh masyarakat Jawa. Isi wayang diantaranya adalah tentang ketauhidan dan tasawuf, sifatnya halus perlu pencermatan dan penghayatan dalam memahami wayang.  Dan wayang menjadi tontonan yang merakyat digemari oleh semua kalangan.

Dakwah-dakwah kultural walisongo selain di atas masih banyak diantaranya adalah kenduri, slametan, pujian-pujian Jawa, tembang macapat dan lainnya. Walisongo juga menulis karya sastra yakni suluk yang isinya tentang tasawuf.

Dalam catatan sejarah Jawa mengatakan bahwa Islam di wilayah ini didakwahkan oleh walisongo. Kesembilan juru dakwah ini oleh orang-orang Jawa dipandang sebagai orang suci dengan panggilan wali, kekasih Allah. Orang-orang Jawa biasa menulis atau menceritakan kisah para wali ini dengan bahasa yang indah dan penuh hormat serta dengan uraian tentang peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan yang mereka alami. Diantara kisah tersebut adalah salah seorang dari wali ini mampu mengubah sebuah selop dari tanah liat menjadi emas ketika hendak mengislamkan seorang penguasa di Semarang. Wali lainnya mengubah beras menjadi pasir untuk member hukuman bagi penjual beras yang tidak jujur. Ada pula wali yang dikisahkan mampu berjalan di atas laut utara pulau Jawa, sementara wali lainnya mampu menyembuhkan seorang gadis yang berpenyakit kusta.

Para wali, terutama Wali Songo sangatlah berjasa dalam Islamisasi di Jawa ini sehingga kerajaan pertama di Jawa yang pertama berdiri di Demak itu atas jasa mereka.

 

Kesimpulan

Walisongo memiliki dua makna yaitu : (a) wali yang sembilan, (b) wali yang mulia, sebab tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 M/808 H. Mereka menggunakan kreasi budaya sebagi media dakwahnya.

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *