The Power of “Tafakur” Oleh : Ekka Zahra Puspita Dewi, S. Pd

 The Power of “Tafakur”

 Oleh : Ekka Zahra Puspita Dewi, S. Pd

Researcher at PSP; Student of Magister Degree of TBI IAIN Tulungagung

 

ekka

ekka

Perintah untuk Ber-Tafakur

Mengambil referensi dari salah satu karya Sayyid ‘Abdullah Al-Haddad dalam buku Tasawuf Kebahagiaan, tafakur didefinisikan sebagai “merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.” Dari apa yang beliau jabarkan, bisa diperluas maknanya dengan mencoba mencerabuti sari-sari yang menyusun tafakur itu sendiri. Sehingga bisa dibangun sebuah simpulan bahwa hakikatnya, bertafakur adalah merenungi, memikirkan, memperhati kan apa-apa yang telah Allah berikan dalam hidup seorang hamba dengan tujuan untuk menambah kadar kecintaan seorang hamba kepada Tuannya..

Perintah tafakur telah termaktub dalam Alquran Al-Karim. Dalam salah satu ayat, tepatnya pada QS. Al-Dzariyat [51]: 20-21, Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَفِى الْأَرْضِ ءَا يَتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ وَفِى أَنْفُسَهُمْ أَفَلَا تُبْصِرُنَ (الذاريات : 20-21)

 

Artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikannya.”

Selain ayat itu, ada pula QS. Yunus [10]: 101 dengan lafaz:

 

قُلِ انْظُرُوْا مَا ذَا فِى السَّموَا تِ وَالْأَرْضِ

 

Artinya: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”

Karena memang jika seseorang bertafakur, akan ia temui banyak sekali nikmat, hikmah, karunia yang bisa membuat hati seorang hamba meleleh sebab merasai betapa Maha Agung dan Maha Sempurna cinta yang Allah berikan kepada diri manusia. Padahal Dia adalah Penguasa Semesta, sedangkan manusia adalah hamba-hamba-Nya.

Berangkat dari dua perintah di atas, maka sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan   hamba-Nya agar memperhatikan, merenungi segala sesuatu di langit pun di bumi juga beragam kekuasaan Allah yang tentu saja mampu menambah manifestasi kesalehan  kepada Allah SWT. Pada hakikatnya, tafakur memang telah diperintahkan oleh Allah Swt., Sang Pemilik semesta raya kepada hamba-hamba-Nya untuk menjaga cahaya di dalam qalbunya. Bertafakur menjadikan manusia memahami hakikat penciptaaan diri dan alam semesta.

Raung Lingkup dalam Bertafakur

Ketika membahas perihal ruang lingkup, tentu saja bisa ditemukan banyak sisi yang bisa digunakan sebagai jalan untuk bertafakur. Pertama, tentang segala karunia serta nikmat yang Allah berikan kepada  hamba-Nya. Bukankah menjadi seorang Muslim adalah sebuah karunia yang begitu besar? Kemudian memiliki keluarga yang lengkap dan hangat, yang senantiasa siap juga menunggu kepulangan suami/istri setelah seharian bekerja atau thalabul ‘ilmi dengan tatapan kasih sayang yang tiada duanya, juga termasuk sebuah nikmat yang tak bisa dinominalkan dengan uang, bukan? Ditambah lagi beragam nikmat serta karunia lainnya berupa napas, kesempurnaan organ tubuh dan lain sebagainya yang tentu tak akan habis manusia untuk membahasnya, hingga napas manusia telah tiada.

Kedua, adalah bertafakur tentang cela-cela diri sebagai hamba. Penting untuk melakukan muhasabah diri, sebab bisa digunakan sebagai sebuah proyeksi cerminan amal yang sudah diri lakukan. Melalui evaluasi diri, bukankah manusia menjadi tahu, di mana cacat diri sebagai seorang hamba, sehingga kemudian memberikan celah dan ruang untuk memperbaiki diri. Misalnya tentang hubungan vertikal antara Tuhan dengan dirinya sendiri. Salat fardhu sering sekali lalai. Lebih mementingkan kepentingan duniawi yang fana daripada bercengkerama dengan Tuhan-Nya melalui salat. Dunia memang penting, bahkan sebisa mungkin seseorang harus menjadi manusia yang berdiri pada garda terdepan di gelanggang dunia. Namun, untuk urusan salat, sebisa mungkin jangan sampai ditunda. Sebab di situlah letak keberkahan yang tidak bisa tersentuh oleh kelogisan dalam berpikir.

Ketiga, bertafakur tentang kematian. Poin ketiga ini tentu saja juga memiliki urgenitas demi menjadi hamba yang selalu mengingat kematian. Bukankah semua ini bukan rumah abadi? Bukankah orang senantiasa merindukan kampung halamannya? Rumah sejati ada di sana, kampung akhirat. Sebisa mungkin, sebelum Izrail datang menjemput, manusia selama hidupnya  diharapkan telah berkiprah dan berguna bagi seluruh umat dan bangsa. Agar karunia Allah SWT jauh dari kata sia-sia.

Selain tiga poin ini, tentu saja ruang lingkup tafakur bisa Pembaca temui dari beragam sisi yang lain. Sebab apa-apa tentang Allah begitu luas. Karena kerdilnya si penulis, juga limitasi yang ada, maka untuk poin yang lain bisa Pembaca temui atau tafakurkan untuk menambal apa yang berlubang, dan untuk memantapkan segala keraguan serta menemukan tujuan hidup manusia.

Manfaat-Manfaat Bertafakur

Dari beberapa penjabaran di atas, maka dapat Pembaca mafhumi bukan bahwa bertafakur ternyata bisa melalui cara mana saja. Sebagai seorang hamba yang terlahir di zaman Milenia, sering seseorang lebih mencondongkan diri dengan kehidupan modernis yang malah menuntun diri menjadi insan yang kering. Ibarat air hujan yang membasahi juga menyegarkan tanaman iman, tafakur bisa menjadi penyubur iman yang kering. Sebab dengan merenungi semua nikmat-Nya, jika tabir-Nya terbuka, diri bisa jadi melebur dan terus bersujud ingin berzikir melafalkan hamdalah, alhamdulillah ‘ala kulli hal beribu-ribu kali. Lantaran merasakan saking banyaknya nikmat yang Allah beri.

Tafakur bisa diibaratkan hujan yang menyuburkan di tengah kemarau panjang. Bukankah hujan yang tiba di musim kemarau adalah hujan yang sangat dinanti kehadirannya? Oleh karenanya, mari membiasakan diri untuk bertafakur dalam semua bidang kehidupan.

Tafakur di sini bisa saja dijalankan di mana saja. Namanya merenungi, tentu memiliki relevansi yang erat dengan berzikir, mengingat. Namun tafakur di sini lebih dalam, mencapai fase perenungan, bukan sekadar mengingat saja.

Misalnya ketika mau berangkat kerja. Di tengah deru deram kendaraan yang sibuk dan lalu lalang, maka manusia bisa menyibukkan diri dengan bertafakur. Menyadari betapa kerdilnya diri ini sebenarnya dibandingkan dengan Allah pun semesta raya. Hanya setitik debu, mungkin lebih kecil. Dengan menggaungkan tafakur tersebut, bisa melatih hati untuk tidak mengaplikasikan sikap ujub, riya, takabur. Sebab memang tidak memiliki apapun bahkan secuilpun untuk bisa disombongkan. Bukankah innalillahi wa inna ilaihi rajiun? Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah?

Bagaimana misal semua yang melekat dalam diri manusia serta merta diambil oleh Allah. Maka tidak akan tersisa sikap sombong itu dalam dirinya. Maka dari itu, mari terus melatih diri untuk membiasakan bertafakur, merenungi semua lini kehidupan yang telah dilimpahkan oleh Tuhan, Allah SWT. Agar hati yang barangkali legam dan hitam bisa kembali menuai cahaya. Bahkan bisa memancar memberikan penerangan kepada kalbu-kalbu yang lain.

 

Menyeimbangkan antara Dzikir dan Tafakur

Dzikir dan tafakur harus seimbang. Dzikir dilakukan oleh hati, sedangkan tafakur dilakukan oleh pikiran sehat manusia. Dengan dzikir orang bisa tenang jiwanya, sedangkan tafakur menjadikan manusia mampu memahami hakekat alam semesta.

Bisa saja bertafakur ketika jam istirahat kerja pun kuliah, atau ketika kaki melangkah untuk menuju ke dalam kelas, mata tidak sengaja menangkap awan-awan putih di langit yang berarak. Dengan serta merta mengundang hati kagum pada Pelukisnya yang menggiring lisan untuk mengucap lafaz masyaallah. Sepatutnya, selalu membiasakan diri bertafakur. Agar tanaman iman semakin tumbuh subur, pun hati semakin bercahaya. Semata-mata, semua ditujukan untuk meraih cinta dari Sang Maha Cinta. Semoga bermanfaat untuk semua.

 

Kesimpulan

Dari beberapa point yang dipaparkan, sepatutnya manusia selalu mengamalkan salah satu amalan yang recommended ini, yaitu bertafakur. Sebab apa sebenarnya tujuan hidup di dunia bila tidak merenungi tentang kebesaran Allah SWT. Biar hidup lebih berkah serta bermakna, sepatutnya membiasakan diri untuk bertafakur.

Alquran Al Karim pun juga telah perintahkan manusia untuk selalu merenung, memperhatikan sekitar. Sebab tafakur semakin dibutuhka untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan juga akhirat.

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *