Melawan Disintegrasi Bangsa dengan Ukhuwwah Oleh : Thoriqul Aziz

 thoriqul

Melawan Disintegrasi Bangsa

dengan Ukhuwwah

Oleh : Thoriqul Aziz

Mahasiswa IAT Pascasarjana IAIN Tulungagung

 

 

 

Indonesia adalah Negeri Multikultural

Indonesia adalah negeri multikultural, wilayah yang kaya akan ras, suku, bahasa, adat istiadat, keyakinan (agama), dan  budaya. Selain kaya akan budaya, Indonesia juga kaya akan sumber daya baik sumber daya manusianya maupun sumber daya alamnya. Sumber daya manusia, ada 200 juta jiwa lebih yang tinggal di Indonesia. Penduduk yang tinggal di Indonesia mempunyai latar belakang suku yang berbeda-beda sehingga dapat melahirkan budaya-budaya yang berbeda. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi  salah satu penyebab dari ancaman disintegrasi. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Hujurat: 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ

 

 

لِتَعَارَفُوا ۚإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  (الحجرات 13)

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

 

Pancasila Menyatukan Pluralitas Bangsa

Pluralitas bangsa Indonesia tak dapat di hindarkan. Dari berbagai macam perbedaan tersebut di atas yang dapat mengancam terjadinya disintegrasi adalah perbedaan keyakinan setiap orang (agama). Di Indonesia tercatat ada enam agama yang di jadikan sebagai agama resmi Negara Indonesia.

Agama-agama tersebut antara lain Hindu dan Budha merupakan agama pertama yang tersebar di Indonesia. Setelah itu datang agama Islam yang disebarkan oleh para wali, dan kemudian agama Kristen yang di bawa oleh para penjajah. Agama Kristen di Indonesia  ada dua kelompok, katolik dan protestan. Dan yang terakhir agama Konghucu yang telah diresmikan oleh “bapak pluralisme” Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika menjabat sebagai presiden. Dengan adanya pluralitas agama tersebut juga yang semakin membuat ancaman disintegrasi bangsa Indonesia.

Sudah sejak dahulu bangsa ini berdaulat tujuh abad lamanya dengan berlandaskan pancasila tanpa nama dan dengan hanya bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu. Berbeda ras, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda adat istiadat, dan berbeda agama, akan tetapi bangsa Indonesia tetap bersatu.

Kemudian diperkuat kembali dalam “Sumpah Pemuda” pada tahun 1928 dengan bertumpah darah yang satu, tanah-air Indonesia. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Dan berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.

 

Ancaman Disintegrasi Bangsa

Selain itu rintangan yang harus di hadapi bangsa Indonesia adalah ancaman disintegrasi. Akhir-akhir ini di Indonesia di uji akan disintegrasi seperti halnya peristiwa beberapa waktu lalu. Bangsa Indonesia (umat Islam khususya)  dengan mudah terprovokasi oleh suatu kelompok yang ingin memecah belah bangsa ini. Semua itu adalah akibat dari politik di Indonesia sekarang ini yang lagi memanas. Disintegrasi adalah musuh terbesar bangsa Indonesia, yang harus dilawan agar kesatuan tetap terjaga.

Propaganda Disintegrasi Bangsa

Ancaman disintregasi tidak berasal dari luar negri sendiri (ekstern) saja melainkan setiap saat juga datang dari dalam negri (intern).  Dari dalam negri sendiri seperti halnya yang penulis paparkan di atas dengan munculnya sebagian kelompok yang ingin mewujudkan pengaruhnya di Indonesia. Sedangkan dari kalangan luar seperti halnya propaganda-propaganda yang di lancarkan oleh Negara luar di Indonesia.

Perlu kita sadari bahwasanya Indonesia sudah sejak lama menjadi sasaran banyak bangsa-bangsa di dunia ini, terutama Negara-negara adi daya yang saat ini berkuasa. Mereka melaksanakan propaganda-propaganda dengan berbagai cara agar Indonesia tercerai berai (Seperti halnya Negara-negara yang ada di Timur Tengah) dengan begitu mereka akan mudah untuk menguasai Indonesia

 

Jihad Melawan Disintegrasi

Kata jihad dalam al-Qur’an, menurut Muhammad Fu’ad Abd al-Baqiy dengan segala derivasinya sebanyak 41 kali  yang terletak dalam berbagai surat. Kata  Jihad (جِهَادٖ) berasal dari  akar kata jahada-yajhadu-jahdan/juhdan, yang diartikan sebagai al-t}aqah, al-masaqqah, mubalaqah yang berarti “kesungguhan”, “kekuatan”, dan “kelapangan”. Jihad mempunyai makna yang sangat luas sehingga dari makna tersebut jihad dapat diaplikasikan terhadap beragam perbuatan.

Jihad laiknya “restorasi meiji” seperti di Jepang yang dijalankan dalam setiap sektor, baik ekonomi, politik, budaya ataupun yang lainnya. Sementara dalam kaitannya ancaman disintegrasi di atas, bangsa Indonesia harus segera bertindak, berjihad dengan sekuat tenaga untuk selalu merawat keutuhan dan kesatuan bangsa. Dengan tetap berpegang teguh pada pancasila, UUD ’45, dan bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika”. KH. Hasyim Asy’ari pernah berkata,: ”Kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan, sementara kebatilan akan menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan.”

Jihad sudah selayaknya ditanamkan pada diri setiap warga Negara Indonesia. Dengan berpegang pada arti jihad di atas, warga negara Indonesia akan mempunyai semangat juang yang gigih untuk selalu dan setia merawat kedaulatan dan keutuhan Negara. Allah berfirman  QS. Ali Imran: 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا   (ال عمران: 103 )

“Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…” Qs. ‘Ali Imran: 103

Melawan Disintegrasi dengan Ukhuwah

Untuk menjaga keutuhan NKRI dan menghindari disintegrasi, dalam Islam telah diajarkan akan ukhuwah Islamiyah. Banyak orang salah memahami apa yang disebut dengan ukhuwah Islamiyah tersebut. Sebagian orang beranggapan menyebut ukhuwah Islamiyah dengan persaudaraan antar sesame Muslim. Pemahaman tersebut kurang tepat. Adapun yang dimaksud dengan ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang diatur dengan cara Islam.

Dalam ukhuwah Islamiyah terbagi menjadi beberapa macam, 1) ukhuwah wathaniyah (persaudaraan antar bangsa), 2) ukhuwah insaniyah (persaudaran antar sesama manusia). Yang pertama, ukhuwah wat}aniyah atau persaudaraan antar bangsa. Dari sini dapat dipahami, persaudaraan tersebut terbingkai dalam sebuah bangsa atau Negara. Sehingga menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh warga Negara untuk selalu menjaga tali persaudaraan di antara warganya. Meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Karena perbedaan merupakan sunnatullah yang tak dapat dihindarkan. Oleh karena itu ancaman disintegrasi merupakan musuh yang harus dilawan secara bersama.

Seorang warga Negara yang baik akan memperhatikan persaudaraan tersebut. Karena mereka tahu akan pentingnya tali persaudaraan tersebut. Dan ketika mereka tahu akan pentingnya hal tersebut yang terjadi akan timbul rasa cinta terhadap tanah airnya. Cinta tanah air merupakan anjuran agama. hal demikian dipahami oleh mayoritas ulama’ yang membuat ungkapan

حب الوطان من الايمان

Artinya: “cinta tanah air merupakan sebagian dari iman”

Sementara bentuk persudaraan yang kedua, ukhuwah insaniyah atau persaudaran antar sesama manusia. Persaudaraan ini haruslah dimiliki oleh setiap manusia, meski mereka berbeda keyakinan. Umat muslim diajarkan untuk menjaga persaudaraan ini. Kalaupun tidak memiliki rasa cinta persaudaraan antar sebangsa, persaudaraan sesama manusia ini menjadi alternatif terakhir. Bukankan Rasulullah pernah mendoakan seseorang yang beragama Yahudi, ketika ditanya oleh para sahabatnya: “bukankah mayat ini beragama Yahudi wahai Rasul?”. Jawab rasul: “ya, bukankah ia juga seorang manusia?”.

Dari peristiwa itu cukuplah mengisyaratkan pada kita bahwa meskipun seseorang berbeda dengan kita tetaplah kita harus menjaga  persaudaraan dan menjauhi perpecahan. Dengan berlandaskan toleransi dan menghargai dengan antar sesama manusia.

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *