Hijrah Sebagai Semangat Revolusi

Hijrah Sebagai Semangat Revolusi

Thoriqul Aziz

Mahasiswa IAT Pascasarjana IAIN Tulungagung

 

photoHakekat Hijrah dalam Islam

Sebagian besar umat Islam mungkin akan berkata, pengertian tentang hijrah adalah berpindahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari kota Makkah menuju kota Madinah. Dalam sejarah Islam, hijrah pertama kali dilakukan oleh umat Islam pada bulan Rajab tahun kelima nubuwah dari kota Makkah menuju kota Habasyah yang dipimpin oleh raja Asshamah al-Najasyi, seorang raja yang beragama Nasrani.

Dari realitas di atas, kiranya dapat kita pahami bahwa hijrah adalah berpindahnya sesuatu dari tempat ke tempat yang lain dengan sebab sesuatu yang kurang menguntungkan bagi sebagian orang atau kelompok. Secara bahasa hijrah berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti perpindahan dan imigrasi. Di dalam Alquran perintah hijrah kepada Nabi SAW sejak awal-awal wahyu diturunkan, “dan perbuatan dosa, tinggalkannlah” (QS. al-Muddatsir: 5).


Hijrah Sebagai Semangat Revolusi Individual

Dalam kehidupan bermasyarakat hubungan manusia terdiri dari dua dimensi, yaitu individual dan sosial. Dalam hubungannya dengan personal atau individual, setiap manusia mempunyai tuntutan-tuntutan baik duniawi maupun ukhrawi yang harus terpenuhi. Selain itu setiap individu telah terbebani sebagai khalifah fi al-ard. Hal ini sebagaimana tujuan diciptakannya manusia di bumi, yang terekam dalam Qs. al-Baqarah: 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya:”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“(QS. al-Baqarah: 30)

Perlu kita bahas apa itu khalifah. Secara bahasa kata khalifah, menurut pakar tafsir kontemporer dari Indonesia M. Quraish Shihab, berarti pengganti, pemelihara, pengayoman, dan pengarahan kepada seluruh makhluk agar mencapai tujuan penciptaan. Dari sebagian makna tersebut, kita telah mengetahuinya bahwa sebagai seorang pengganti atau pemelihara haruslah bertindak lebih baik dari yang sebelumnya. Oleh karena itu, sudah sebagai seorang muslim yang baik menjadi sebuah kewajiban bagi setiap individu untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya.

Hijrah dari Akhlaq Tercela menuju Akhlaq Terpuji

Tujuan utama Allah mengutus Nabi Muhammad saw adalah sebagai penyempurna akhlaq manusia, hal ini sebagaimana yang di sabdakan oleh Nabi saw sendiri, Artinya: “Sesungguhnya aku diutus kedunia ini hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq“.

Akhlaq adalah sesuatu perilaku yang terlahir atau muncul dari dalam diri kita tanpa ada yang terpikirkan sebelumnya. Akhlaq dapat terwujud dengan sendirinya karena adanya ‘gerak reflek’ terhadap realitas yag ada disekelilingnya. Akhlaq terbagi menjadi dua yaitu akhlaq mahmudah dan akhlaq mazmumah. Akhlaq mahmudah adalah akhlaq yang baik, sementara akhlaq mazmumah adalah akhlaq yang tercela.

Yang namanya manusia pastilah ia pernah berbuat salah baik itu terhadap Allah maupun dengan sesamanya. Kesalahan inilah yang menjadi akhlaq tercela. Akhlaq seperti inilah yang akan merusak ‘cermin’ diri kita. Ketika kita telah banyak melakukan perbuatan tercela maka cermin tersebut akan menjadi gelap karena tercoret-coret oleh amal atau perilaku kita sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi suatu keharusan bagi muslim untuk berhijrah dari akhlaq madzmumah menuju akhlaq yang akhlaq mahmudah.

Hijrah sebagai Semangat Revolusi Sosial

Di atas kita telah membahas tentang bagaimana hijrah secara individual dari kegelapan akhlaq yang buruk menuju kesalehan individual. Seorang muslim tidak cukup berhenti pada tataran tersebut. Kesalehan individual harus di wujudkan melalui kesalehan sosial. Dalam ranah sosial lebih banyak lagi aspek-aspek yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini perlu diperhatikan adanya semangat untuk berhijrah. Hijrah disini dijadikan sebagai semangat revolusi sosial, yang mana semangat tersebut harus dimiliki oleh suatu komunitas atau bangsa demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran. Dalam hal ini Allah telah berpesan dalam Qs. Al-Ra’du: 11

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri

 

Hijrah dari Kemiskinan Menuju Kemakmuran

Di dunia ini, dalam negara dunia ketiga di huni oleh negara-negara yang sedang berkembang. Dalam posisi ini negara berpenganut muslimlah yang paling banyak warganya. Negara tercinta kita, Indonesia termasuk dalam posisi ini. Dikatakan sebagai negara berkembang karena masih banyak problem-problem sosial yang harus diselesaikan.

Salah satu problem di Indonesia dan pada masyarakat Islam umumnya kemiskinan menjadi problem akut yang belum terselesaikan. Masalah ekonomi di dunia Islam masih jauh dari kata layak. Problem ini merupakan problem sosial yang harus di atasi secara bersama-sama. Pada dasarnya agama telah mengajarkan penganutnya untuk selalu ada progres ke arah yang positif. Oleh karena itu, haruslah ada semangat untuk hijrah dari keterpurukan menuju kemakmuran.

Untuk mengatasi problem ekonomi komunitas Islam umumnya adalah dengan bekerja. Ya, bekerja merupakan suatu tuntutan bagi setiap muslim. Bukankan ada maqalah yang mengatakan, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok“. Dari hal ini kita tidak dapat menafikan adanya persaingan di dunia. Dunia merupakan sarana untuk menuju keberlangsungan hidup abadi di akhirat nanti. Oleh karena itu, harta atau benda yang telah disediakan oleh Sang Pencipta harus kita cari dan dapatkan, asalkan yang kita cari sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan.

Dari maqalah di atas pula dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus menjadi orang yang “kaya”. Meski banyak pengertian dari kata “kaya”, kita tidak dapat menafikan adanya kekayaan harta dunia. Karena dengan kekayaan yang kita miliki tersebut, paling tidak kita mempunyai sarana untuk sebagai bekal beribadah kepada Allah swt. Bahkan kaya merupakan suatu tuntutan agama, karena kefakiran -lawan kata dari kekayaan- akan mendekatkan dengan kefakiran, Kadza al-faqru ayyakuna kufran.

Memahami makna dan keadaan di atas, lagi-lagi kita sebagai seorang muslim harus mempunyai ghirah (semangat) untuk berhijrah, berhijrah dari kefakiran menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat, selagi hal tersebut masih dalam horizon dan tidak keluar dari rel agama, niscaya segala sesuatu yang di cita-citakan pasti terkabulkan.

 

Hijrah dari Kelamnya Kebodohan menuju Sinar Keilmuan

Selain problem ekonomi, pendidikan juga menjadi problem yang akut dalam negara dunia ketiga. Pendidikan merupakan barometer untuk menentukan maju atau mundurnya suatu negara. Dalam Islam, pendidikan adalah sarana dalam pengkajian suatu keilmuan.

Ilmu merupakan suatu hal yang sangat urgent bagi setiap manusia. Seseorang tidak dapat hidup jika tanpa ilmu. Ilmu cakupannya sangat luas sekali. Sehingga ia dapat dikatakan “pisau bermata dua”. Maksudnya, ilmu itu netral sehingga terserah bagaimana seseorang untuk memperlakukannya. Dalam membangun suatu peradaban, keilmuan merupakan suatu keniscayaan yang harus dijadikan suatu acuan. Dengan mengembangkan semangat ilmu pengetahuan dengan di barengi iman dan taqwa niscaya umat manusia –Islam khususnya- akan mecapai peradaban yang fenomenal.

Sudah tidak asing terdengar di telinga kita, sebuah hadis yang mewajibkan umat Islam untuk pergi mencari ilmu. “mencari ilmu wajib bagi setiap muslim” selain itu ada ungkapan yang mewajibkan mencari ilmu sepanjang hayat, “carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Kedua perintah tersebut mengisyaratkan betapa penting dan perlunya untuk mencari ilmu. Karena sekali lagi ilmu merupakan acuan sekaligus cermin dari seorang muslim sejati yang menghiasi dalam setiap tingkah lakunya.

 

Kesimpulan

Hijrah adalah syariat Islam yang abadi. Tidak akan terhapus selamanya. Sebab esensi Hijrah adalah revolusi individual dan revolusi sosial. Islam mengharapkan umatnya untuk tidak statis akan tetapi dinamis.

Dinamis maknanya mampu belajar dari kesalahan, bangkit dari kegagalan, instropeksi diri dan tranformasi diri.

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *