Sekilas tentang Kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim

Tahukah Anda kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim?

Dua hari ini, pusat studi pesantren dan manajemen dakwah bekerjasama dengan center of fiqh nusantara Fasih menyelenggarakan romadhon fil jamiah. Ini kali kedua dilaksanakan dengan skema interdisipliner karena dikaji oleh beberapa dosen dengan berbagai latarbelakang keilmuan. Sehingga kitabnya pun berbeda-beda funun nya. Memang belum banyak respon khususnya dari kalangan mahasiswa terlihat belum banyak yang mengikutinya. Tak ada kata menyerah dan jenuh bagi kami untuk terus meneruskan perjuangan ini, sehingga ngaji pun tetap dilanjutkan seberapapun yang mengikutinya.

Pada kesempatan kali ini, saya mengkaji kitab adabul ‘alim wal muta’allim karya ulama besar pendiri jamiyyah nahdhatul ulama (NU). Setelah saya mengkajinya paragraf per paragraf sampai kira2 tiga halaman, maka saya tertekun keheranan setelah mencoba memahaminya secara mendalam. Saya bukan memahami isinya namun kaitannya dengan kaidah literasi atau dunia tulis menulis sebagaimana karya ilmiah mahasiswa seperti skripsi, tesis, disertasi ataupun artikel jurnal. Betapa tidak, sosok yang tidak mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi, namun karyanya tersebut menurut pengamatan terbatas saya sangatlah memegangi kaidah tulis menulis.

Bisa diamati pada tiga lembar pertama dalam kitab tersebut, Mbah Hasyim memulai dengan merujuk banyak view dari berbagai sahabat dan ulama. Pada proses ini, dapatlah saya katakan bahwa referensi mbah Hasyim sangat lengkap terkait sebuah tema tertentu yakni persoalan etika atau adab. Dari mulai riwayat Aisyah sampai imam syafi’i dan banyak ulama lainnya disebutkan. Dalam istilah mahasiswa ini adalah footnote ataupun daftar pustaka. Sebuah tulisan yang baik tentu harus diperkuat dengan literatur review dan itu dipenuhi oleh beliau dalam karya tersebut.

Tidak berhenti di situ kekaguman saya, setelah selesai dengan memaparkan literatur review pandangan banyak tokoh, mbah Hasyim mulai memaparkan pandangannya guna menjelaskan relevansi kitab ini. Berbagai fenomena di masyarakat dipaparkan dengan apik dan jelas. Penjelasan mengenai kondisi masyarakat yang sangat membutuhkan etika dalam kehidupan pun juga muta’allim atau santri dan muta’allim atau guru. Hidup ini tak akan lepas dari etika, baik sisi amaliyah, badaniyah, maupun qouliyah. Semua tak ada artinya jika tak dibarengi dengan etika atau moral. Akhirnya, singkatnya Mbah Hasyim menghantarkan pembaca pada argumennya yang kuat, yang menjelaskan urgensi dan relevansi kitab ini dengan konteks masyarakat saat itu bahkan sampai sekarang. Manusia sangatlah membutuhkan etika dalam hidupnya, terlebih siswa dalam belajarnya dan guru dalam prosws belajar mengajarnya. Argumen sangatlah penting posisinya dalam sebuah karya ilmiah sebagai wujud view dari penulis sehingga tulisannya tidak hanya kutipan dari berbagai pandangan orang lain. Di sinilah akhirnya dikaranglah kitab “adab al’alim wa al muta’allim “.

Ini Cuma beberapa halaman depan dari kitab tersebut namun sudah membuktikan bahwa Mbah Hasyim bukanlah sekedar ulama namun juga pejuang literasi yang terus dijadikan rujukan ulama saat itu bahkan sampai saat ini.

Mereguk Sang Rindu

Oleh: Ekka Zahra Puspita Dewi

(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Bahagia sedang mendendangkan kasidah di dalam inti hati. Membumbung memenuhi celah-celah palung hatiku. Menyebar hingga tiba pada permukaan samudra kalbu. Berdebam, bergulung, membentuk ombak tsunami dan menyapu seluruh resah gundah gulana. Saking gegap gempitanya rasa bahagia yang memenuhi batas pandangku, aku bahkan tidak bisa melihat apa dan bagaimana bentuk serta rupa si bahagia.

Sahabat, tahukah Kalian gas helium? Gas balon udara yang mengangkat balon karet terbang ke angkasa raya itu. Hari ini, aku dijejali dengan gas itu. Penuh. Hingga menggembung tubuh hatiku. Tubuhku meringan dan wuuss terbang, tinggi sekali. Mencapai atmosfer bumi pada bagian stratosfer. Menari-nari bersama gumpalan awan putih yang berarak-arak. Terkadang menyundul-nyundul gumpalan putih yang berbaris. Sungguh. Tak ada tanda cumulunimbus akan tiba. Semua hanya hamparan putih bak samudra kapas nun empuk.

Apa yang membuatku bahagia sedemikian rupa? Begitulah mungkin yang terbesit pada angan Sahabat. Iya, kan? Tidak usah malu, aku tahu kok.

Sahabatku, hari ini yang bertepatan dengan hari Jumat, 23 Maret 2018, aku sebenarnya sedang melakukan realisasi penelitian. Terdengar keren, kan? Penelitian. Aih, akademis sekali.

Alhamdulillah, Sahabat. Aku masih berstatus sebagai mahasiswa. Saat ini, aku masih mengais-ngais ilmu di sebuah dunia akademik super keren, kampus dakwah dan peradaban, IAIN Tulungagung. Biar ilmunya semakin mengucur, juga tidak mengalami kemandegan, plus menambah saudara di sana sini, aku mengikuti sebuah organisasi yang mewadahi kegiatan ilmiah seputar pesantren. Nama organisasi ilmiah itu adalah Pusat Studi Pesantren. Santri mahasiswa-lah istilah bagi para anggotanya. Bagiku dua paduan kata itu adalah kombinasi yang tidak terbantahkan keelokannya.

Jadi ceritanya seperti ini, Kawan. Alkisah, pada suatu hari, Abah Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M.Ag., MA., selaku Direktur Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung  mengumpulkan kami. Beliau berwejang kepada para santri PSP—Pusat Studi Pesantren—untuk melakukan penelitian dengan instrumen penelitian interviu dan dokumentasi pada pondok pesantren yang tercakup dalam daerah Tulungagung.  Jadi kami akan menggali data dengan cara sowan kepada kiai-kiai yang berada di Tulungagung sesuai dengan pembagian kelompoknya.

Pada saat pembagian, aku tak bisa hadir, Kawan. Saat itu, tubuhku sedang dipeluk oleh demam dan flu. Mereka tidak mau pergi dariku. Sedih. Sebab jarang sekali bisa berdiskusi dan berkumpul bersama teman-teman PSP. Juga, jarang aku bisa menangkap ilmu yang bertebar-tebar dari tutur lisan Abah Nafis.

Malam harinya, dari grup salah satu sosial media tercantumlah nama-nama santri, kelompok, plus pondok pesantren yang menjadi objek kajian. Mataku menatap tajam pada daftar itu. Aku terbelalak, kaget bukan buatan. Namaku ada dalam jajar kelompok yang bersanding dengan seorang penulis super keren dari kampus, Mbak Jazil. Sebuah kehormatan bagi beginner macam aku ini bisa bekerja sama dengan beliau. Aku bahagia. Dan realisasi bahagia itu membuncah hingga hari ini.

Saking bahagianya, mataku masih melotot memandangi langit-langit rumah, meski tubuhku seharusnya remuk redam. Namun aku masih saja merenungi apa yang sudah kudapatkan hari ini. Sembari tersenyum-senyum, anganku melayang. Menggiring sang waktu berputar kembali pada pagi tadi.

 

~~oOo~~

 

Ya nabi Allah ya Rasulillah ya habibillah ya nabi ya nabi

Ya nabi Allah ya Rasulillah ya habibillah ya Muhammad

Ya Rasulallah Muhammad-ku rindu kami padamu rindu cahaya wajahmu

Ya Rasulallah pemimpinku semoga rahmat tercurah senantiasa padamu

Ponselku berdering-dering memekakkan telinga. Alunan lagu Opick feat Wafiq Azizah yang berjudul Ya Rasul mengalun merdu. Meski sejatinya ia adalah deru alarm, tapi sebenarnya aku malah merasa di-nina bobokan.

Aku menggeliat malas. Mencoba membuka kelopak mata yang terlanjur tertutup lengket. Kulihat layar ponsel dan kutengok jam. Pukul 03.45 pagi. Jemariku tergiring untuk mematikan alarm. Tanganku menarik selimut lagi. Terpejam lagi.

Tiba-tiba aku berada pada suatu tempat. Aku ditinggal Mbak Jazil melakukan penelitian. Abah Nafis marah padaku. Semua orang meninggalkanku. Aku berdiri sendirian, dikejar-kejar cercaan orang. Aku menangis. Napasku tersengal-sengal, sesenggukan. Telunjuk-telunjuk santri PSP menuding-nuding padaku. Tatapan mereka bagaikan peluru senapan otomatis yang langsung menembus jantungku dalam radius detik. Aku tidak tahan. Kemudian, kelopak mataku terbuka.

Gelap menyapaku. Lampu utama kamar ini masih padam. Hanya temaram berwarna jingga dari lampu tidur yang sedikit menerangi ruang ini.

Apa aku bermimpi?

Segera kusebut istigfar dalam hati.

Astaghfirullahalazim. Alhamdulillah, hanya mimpi.

Kuembuskan napasku lega. Aku tenang kembali.

Aduhai, Sahabatku, otak bawah sadarku ternyata bekerja dengan sistem kerja yang luar biasa, alhamdulillah. Sebelum tidur, pikiranku memang membayangkan bahwa hari ini, aku akan melakukan sowan penelitian penggalian data untuk biografi kiai Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung. Ternyata terbawa efeknya dalam tidurku. Segera, aku membuang selimut. Tak lagi, ya. Aku tidak mau dikejar-kejar orang seperti tadi. Aku tidak mau ditinggal Mbak Jazil. Aku tidak mau dimarahi Abah Nafis. Tidak mau! No way!

Kuseret tubuhku bangun. Kuajak dia mencumbui kesegaran air dingin yang mencambuk para setan. Terhanyutlah aku dalam arus ketenangan ruhaniah yang gelombangnya beriak-riak, membuatku terapung-apung dalam sungai ketenangan.

Seusainya, aku melakukan aktivitas pagi seperti biasa, sembari membiarkan waktu berdetak-detak. Namun hakikatnya, hatiku berharap-harap cemas.

Apa yang akan terjadi hari ini?

Jika disesuaikan dengan agenda sebelumnya, sebenarnya Sabtulah rencana kami merealisasikan agenda ini. Namun karena Mbak Jazil memiliki jadwal mengaji yang mendadak di pesantrennya pada hari Sabtu, kami harus merombak jadwal. Kebetulan agendaku Jumat hanya menyelesaikan makalah. Bisalah kuatur sendiri jadwalku. Akan tetapi, Mbak Jazil yang terikat dengan kebutuhan banyak orang tidak bisa diganggu. Alhasil, kami akan mewujudkan perencanaan kami hari ini.

Dadaku berdebar-debar. Bayangan matahari yang masih condong ke barat itu hampir tertelan benda yang dibayanginya. Hari semakin siang. Aku segera bersiap menuju Tulungagung. Menanti rajutan takdir indah dari Allah hari ini.

~~oOo~~

Pukul 10.30 WIB, aku sudah memasuki kawasan Tulungagung. Permasalahan baru menyapaku, Kawan. Aku bingung mencari-cari di mana pondok pesantren Mbak Jazil. Karena tujuanku masih buram, motorku kuajak istirahat di tepi sebuah perempatan. Aku bingung. Segera kubuka ponsel dan kubaca pesan Mbak Jazil. Otakku berputar. Sesekali jemariku menunjuk-nunjuk arah. Benar arahnya. Tapi di mana bisa kutemui gang?

Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mengenakan seragam SD lengkap bersama tas dan sepatu yang lewat di seberang jalan. Kutaksir, dia masih kelas dua atau tiga SD. Sepertinya dia baru pulang sekolah. Kucegat dia.

Adik, permisi, pintaku. Lelaki kecil itu celingukan. Pasti dia tidak menyangka akan disapa oleh orang asing yang memakai atribut perjalanan lengkap dan meneduhkan diri di pojok perempatan.

Adik? Aku menegaskan. Dia memandangku.

Ha? Iya, Mbak? Dia memastikan bahwa aku mengajaknya bicara. Aku tersenyum.

Bisa minta tolong? Sampean tahu tempat pondok pesantren di sekitar sini apa tidak? tanyaku.

Pondok? mimiknya kebingungan.

Iya, pondok pesantren, jawabku meyakinkan.

Tidak tahu, Mbak, ucapnya kemudian, sembari mengerutkan kening diikuti menggelengkan kepala.

Yah.

Oh begitu. Ya sudah, terima kasih ya, ucapku. Anak itu mengangguk, kemudian melanjutkan langkah-langkah kakinya untuk pulang.

Apa aku salah ya tanya kepada anak kecil? Ah biarlah. Tadi kan iseng-iseng berhadiah. Siapa tahu anak itu tahu di mana tempat Mbak Jazil.

Baik, Kawan. Matahari hampir mencapai puncaknya. Aku tidak mau terpanggang terus-terusan. Tidak banyak berkilah, aku segera menelepon Mbak Jazil. Dari telepon, Mbak Jazil memberikan arahan tempatnya. Setelah memastikan bahwa aku paham arahannya, ponsel kumatikan. Segera, kugiring motor putih itu menuju ke arah yang ditunjukkan Mbak Jazil.

Tiba pada tujuan, aku kikuk. Ini pesantren, Sahabat. Hatiku melompat-lompat. Aroma wangi pesantren menyeruak, menghajar hatiku yang sayu. Mataku menyapu seluruh latar pesantren ini. Di sudut sana, banyak jemuran sarung santriwati berjajar rapi tercantol di hanger-hanger.

Setelah kuparkir motorku, seorang ibu yang memakai jilbab disampirkan dan juga mata yang dihiasi celak hitam melihatku. Aku segera bersalaman dengan beliau.

Assalamualaikum, Ibu, salamku sembari mencium tangan beliau.

“Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ada yang bisa dibantu, Mbak? tanya beliau. Dadaku berdesir.

Apa beliau Ibu Nyai?

“Mbak Jazilnya wonten, Ibu? tanyaku.

Oh, Jazil. Masuk saja langsung. Monggo, pinta beliau.

Oh mengaten. Matur nuwun. Nggih mpun, monggo Ibu, pamitku pada beliau.

Kakiku kuajak melangkah ke dalam. Sebuah suasana yang sulit kujelaskan terserak, menghambur menghiasi kalbuku yang berwarna-warni. Aku kaget. Aku malu. Aku memuai dan wuuuussss meletus.

Daaarrrr

Mbak Zahra, ucap Mbak Jazil sembari melambaikan tangan dari dalam.

“Dalem, masyaallah Mbak.” Aku tersenyum karena sudah menemukannya, Sahabat. Pencarianku usai.

Ayo, Mbak. Masuk-masuk, ajaknya. Aku patuh.

Aku mengekor di belakang Mbak Jazil. Terbungkam lisanku. Terkatup hatiku. Masyaallah. Banyak santriwati yang berseliweran. Mereka memakai bawahan sarung serta jilbab yang hanya disampirkan. Sederhana namun bersahaja. Aku sungguh takjub. Ada beberapa santriwati yang mendaras hapalan Alquran. Beberapa di antara mereka menyendiri. Memojok di sebuah sudut dan memejamkan mata, sembari lisannya komat-kamit menghapal ayat demi ayat. Dadaku berdenyar. Hapalan? Allah. Astaghfirullah. Hatiku seakan disiram air dari Samudra Arktik. Serta merta ia membeku dan membiru. Juga, aku digigit rasa malu. Sakit sekali gigitannya.

Mbak Jazil mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Ada mbak santriwati juga di sana. Dia juga memegang Alquran dan hapalan. Mbak santriwati itu tersenyum padaku. Aih, ramahnya. Kubalas dengan senyuman terindahku. Kemudian, kami bersalaman.

“Maaf, ya Mbak tempatnya panas. Mbak Jazil memecah bekuku.

“Mboten, Mbak. Sebaliknya. Adem banget di sini, ucapku jujur.

Halah Mbak Zahra ini, Mbak Jazil merendah.

“Saestu, Mbak Jazil. Adem sangat. Atmosfer yang berbeda, yakinku.

Mbak Laila juga suka lo Mbak tak ajak ke pondok, kisah Mbak Jazil. Mbak Laila adalah sahabat baruku dari jurusan PGMI.

Masa? Kok bisa, Mbak? Sering ya berjumpa dengan Mbak Laila? tanyaku kagum.

Kan kami sekelas, Mbak Zahra Mbak Jazil mengingatkanku.

Oh, iya. Lupa, Mbak kalau sampean jurusan PGMI, hehe. Mbak, kan sudah jam segini. Bagaimana semisal nanti kita sowan bada Jumatan? usulku.

Boleh-boleh. Sembari menunggu, kita membuat daftar pertanyaan sesuai dengan yang sudah dirumuskan kemarin, ya? respon Mbak Jazil.

“Nggih, Mbak. Siap, jawabku.

Jemari Mbak Jazil mengambil lembaran panduan penelitian. Aku mengeluarkan pena. Kami berdua terhanyut dalam merumuskan pertanyaan yang akan diajukan dalam penggalian data pada kiai nanti.

Beberapa menit kami habiskan untuk membuat daftar pertanyaan. Serampungnya, kami berbincang kembali.

Mbak, kan kita sowan. Apa tidak butuh membawa sesuatu begitu? tanyaku.

Aku mengingat-ingat ajaran dari ‘seseorang’ yang jika sowan, sebaiknya membawa sesuatu. Seperti yang dahulu sempat beliau pinta ketika teman-teman Wiyata Bhakti mau sowan dengan hajat pamit kepada Kiai Imam Ghozali, pengasuh pondok pesantren putri di Jabung, Kabupaten Blitar. Bukan untuk apa, hanya sebagai representasi rasa terima kasih kami sebab diperkenankan sowan serta diperbolehkan meraup ilmu dari sesosok kiai.

Iya, Mbak Zahra. Kemarin aku juga tanya Umi. Beliau membalas, Lha biasanya kalau sowan bagaimana? begitu, respon mbak Jazil.

Nah, berarti bawa, Mbak. Ayo kita belanja dahulu ya? tawarku.

Iya, Mbak. Bisa, jawab Mbak Jazil.

Kami berdua bersiap. Mbak Jazil merapikan jilbabnya yang tadi hanya disampirkan menutupi kepalanya. Aku memandanginya. Kemudian mataku menelisik ruangan sederhana yang rapi ini. Bibirku masih tersenyum sembari hidung hatiku menghirup suasana pesantren yang begitu tenang. Sangat tenang. Hawa di sini sungguh berbeda. Aku nyaman di sini. Ingin berlama-lama.

 

~~oOo~~

 

Matahari menyengat dengan sengatan yang mematikan. Panasnya mampu membakar insan-insan kerdil yang terus menapaki kehidupan. Cahayanya mampu membuat pupil mata mengecil, menjaring dan menangkap intensitas cahaya secukupnya agar tidak berlebihan masuk pada retina mata.

Sayup-sayup, deru bising kendaraan berlalu-lalang di jalan Mayor Sujadi Timur ini. Tampak semuanya sibuk. Sering terlihat, beberapa mahasiswa berseliweran menuju ke pusat pendidikan sekitar sini, IAIN Tulungagung. Atau mungkin mereka pulang meninggalkan kampus sembari menaiki motor berderet-deret. Sebuah pemandangan yang menyeruak sepanjang Jalan Mayor Sujadi Timur.

Mbak Jazil dan aku sedang berada di emperan sebuah toko dekat kampus. Kami memang baru rampung belanja. Semakin kemari, rasanya aku tidak sabar menuju tempat pesantren nanti. Tapi jarum jam masih menunjuk pada angka 11.30 WIB. Waktu untuk salat Jumat masih lama. Kami harus menunggu. Memoriku tiba-tiba muncul di hadapan otakku. Demi memanfaatkan sisa waktu yang ada, alangkah baiknya jika Mbak Jazil kuajak melakukannya.

Mbak, boleh minta tolong? tanyaku kepada Mbak Jazil.

Apa Mbak Zahra? tanyanya.

Kan Zahra diminta Ibu belanja di Tulungagung. Untuk keperluan kenduri Mbah uti nanti. Beli souvenir. Boleh minta tolong Mbak untuk menemaniku membelinya? Ragu-ragu aku meminta tolong Mbak Jazil. Takut jika dia tidak berkenan.

Wah, iya tidak apa, Mbak Zahra. Di mana tempatnya, Mbak? tanyanya.

Di tengah kota, Mbak. Sambil jalan-jalan yuk, hehe, ajakku.

Iya, boleh Mbak Zahra. Ayo, responnya.

Alhamdulillah, batinku.

Kami segera meluncur dan menceburkan diri di jalan raya. Seperti yang sudah sedikit kusinggung tadi, Sahabat. Matahari sedang meningkahi bumi Tulungagung. Aku sudah mengenakan masker plus sarung tangan demi menghalau hujamannya. Roda-roda motor putih itu pun menggelinding, menuju ke pusat kota Tulungagung.

Lima belas menit, kami sudah tiba. Di tempat toko, aku segera membeli apa saja yang sudah ada dalam daftar belanja. Hanya sebentar di sana.

Di dalam toko itu, lamat-lamat terdengar azan bertalu-talu dari suaru-surau. Memanggil kaum Adam untuk bersegera menuju ke Masjid. Ini Jumat, Sahabat.

Mbak, kita ke mana sekarang? tanyaku setelah kembali dari kasir.

Ke Al-Munawar saja yuk Mbak. Tidak jauh, kan dari sini? tawar Mbak Jazil.

Tidak jauh, Mbak. Iya Zahra setuju. Nanti mampir ke Alon-alon terlebih dahulu nggih sembari menunggu orang-orang selesai salat? tanyaku.

Iya, bisa Mbak Zahra, responnya.

Tidak menanti ba-bi-bu-be-bo, kami segera menghambur lagi ke jalan raya, menuju jantung Kota Tulungagung. Jalanan sedikit lengang karena sebagian besar kaum Muslim berada di dalam masjid. Kami berdua merangkak-rangkak perlahan, meninggalkan jejak roda-roda motor yang terus tersapu suitan angin.

Tiba sudah kami di Alon-alon Tulungagung. Ada banyak memori yang bermunculan dari tempat ini. Kenangan itu terbang melayang-layang, menggentayangi diriku. Segera, aku membidik mereka satu per satu, agar berlari tunggang langgang. Aku tidak ingin mengingat-ingat perkara yang memang ingin kukubur dalam-dalam.

Motor ini kami arahkan menuju tempat parkir bagian timur. Kami terusir dari tempat parkir bagian barat yang telah penuh sesak dengan kendaraan-kendaraan milik kaum Adam. Akhirnya kami mengalah dan memilih tempat parkir bagian timur.

Kaki kami mengayun bersama, memasuki area Alon-alon Tulungagung. Mataku kutajamkan, menelisik isi jantung Kota Tulungagung ini. Ramai juga, meski siang dengan pongah memanggang, membengkakkan mata, melepuhkan kulit. Kursi-kursi taman yang teduh kebanyakan sudah penuh. Kemudian mata kami menatap sebuah bangku yang teduh. Mbak Jazil dan aku memilihnya. Sebuah kursi taman yang di depannya membentang latar luas untuk bermain skateboard ataupun skuter.

Sepoi membisik. Angin-angin siang menumpahkan panas dengan kesejukannya. Kami berdua mulai berbincang. Berkisah. Berpetualang melalui sandi-sandi berupa huruf, yang tergabung menjadi kata, yang terbingkis menjadi frasa, juga kalimat. Mbak Jazil mengisahkan pengalamannya yang membuatku melongo ternganga. Aku bukan siapapun dibanding saudari baruku ini.

Tidak pernah kuduga, Sahabat, bahwa keluar bersama Mbak Jazil siang ini akan menorehkan ilmu baru dalam benakku. Onak liku kehidupan yang tergambar, berbagai rasa getir manis yang disuguhkan oleh kehidupan, mampu menginspirasiku, membentak jantung hatiku yang selama ini banyak waktu terkikis dengan tindakan yang tidak produktif. Duh, bagaimana misal nanti aku ditanya oleh-Nya pada persidangan agung yang digelar? Untuk apa waktuku kugunakan?

Aku kagum dengan hikmah yang terkandung pada setiap butir kisah yang dihamburkan Mbak Jazil. Tak apa, ya Sahabat. Aku memang mudah merasa kagum. Jika ada orang berilmu dan membalut dirinya dengan akhlak yang mulia, aku ingin mengikutinya dan mengosongkan cawan ilmuku, demi meneguk ilmunya.

Siang ini, di Alon-alon Kota Tulungagung, Mbak Jazil dan aku saling meramu kisah. Aku mendapati banyak pengajaran dari kisah hidup Mbak Jazil yang bagiku heroik. Mbak Jazil memang mungil—peace. Namun keberaniaannya luar biasa besar. Aku mengerdil dan meleleh.

Salah satu kisah yang disuguhkan adalah ketika Dr. Zulfa—dosen FUAD IAIN Tulungagung—memberikan petuah sesekali bolehlah melanggar aturan. Dahiku kukernyitkan. Aku kurang paham—meski sebenarnya aku adalah salah satu problem maker yang mengajak orang-orang to break the rule. Misalnya dahulu waktu diminta pakai seragam kelas waktu S1, aku tidak pernah mau. Bagiku, kita kan sudah diberi kebebasan berkreasi, mengapa harus mengikat diri dengan seragam kelas?—Mbak Jazil menjelaskan bahwa dia pernah ditakzir ketika ketahuan memanjat pagar karena terlambat pulang di Mahad oleh ukhti-ukhti di sana. Dia kena hukum. Padahal sebenarnya Mbak Jazil memang ada agenda yang berada dalam tampuk pertanggungjawabannya.

Meski kena takzir, hakikatnya hal itu justru memberikan pengajaran yang sejati. Sungguh, pada bagian ini aku diam dan menyimak dengan hati terbungkam oleh lautan mawar yang merona. Hikmah yang didapatkan adalah jika kelak, ia memiliki kesempatan untuk menjadi seseorang yang memiliki otoritas, akan memiliki pertimbangan yang masak sebelum mentakzir orang. Tidak sembarangan menghakimi. Sebab kebenaran adakalanya manipulatif, adakala memang benar-benar benar, adakala hasil bongkar pasang fakta-fakta semu. Aku telak, Kawan. Sungguh. Rasa takjub hinggap dan menempel di dalam hatiku. Diam-diam aku ingin mengenal Dr. Zulfa. Karena memang aku belum mengenal beliau. Dahulu hanya sempat mengikuti kajian beliau ketika mengisi materi dengan pokok bahasan muthalaah gender di acara Workshop PSP. Dan aku tertenung oleh kepiawaian beliau dalam kapasitas khazanah keilmuan.

Kusimpulkan, Sahabat. Bahwa roda kehidupan itu terus berputar menggelinding. Ada masanya memang ketika Allah memuliakan kita. Pun pula ada suatu masa, ketika Allah menghinakan kita. Bukankah semata-mata Allah ingin mendidik kita agar menjadi insan yang lebih baik terus lebih baik? Masyaallah. Segala puja dan pujian terindah hanyalah bagi Allah.

Detik berlomba maraton, hingga mampu mengantar jarum jam pada pukul 12.30 WIB. Kaum Adam yang ada di Masjid Al-Munawar Tulungagung menghambur keluar. Wajah-wajah mereka terlihat bercahaya lantaran siraman wudu yang sudah menyegarkan badan pun ruh mereka. Kami segera masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat Dhuhur berjamaah—antara Mbak Jazil dan aku. Segera, suasana tenang dan sejuk membekukku ketika kaki-kakiku menapaki salah satu rumah Allah ini. Aku terhanyut dalam munajat pada tiap rakaat. Titik-titik salju menyebar di dalam dahan pohon imanku. Dingin. Suasana dingin membalut hatiku yang sering terpanggang oleh sengatan bara keduniawian.

 

~~oOo~~

 

Anak angin terbahak-bahak mengempas tubuhku. Jaket yang kupakai berkibar-kibar, dimainkan oleh mereka. Sahabat, kami sedang berada di jalan, bereksplorasi mencari di manakah sejatinya Pondok Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol Tulungagung berada.

Mbak, nanti kita masih mencari dan bertanya ya. Jazil terakhir ke sana kalau tidak salah saat Jazil masih semester dua atau tiga, ucap Mbak Jazil dari bangku belakang.

Wah, iya Mbak tidak apa-apa lo. Sudah lama memang. Siap berpetualang, hihi, ucapku padanya sembari tangan terus menyetir motor.

Kami berdua segera mengarungi lika-liku jalan raya ini. Anak angin masih bermain-main. Sesekali mereka menabrakku dan membuat jilbabku berkibar-kibar diulahi mereka.

Dua puluh menit bagian hidup kami—waktu— sudah terlewat. Sepertinya kami sudah tiba di daerah Sumbergempol selatan. Mbak Jazil lupa ke mana arah pasti pesantren itu. Kami sepakat untuk bertanya kepada warga sekitar.

Rem kutarik perlahan. Kami berhenti di depan sebuah toko. Mbak Jazil turun dan bertanya kepada pemilik toko. Rupa-rupanya dia tidak tahu di mana tempat pondok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berkulit hitam terpanggang, berperawakan tinggi besar lewat. Mukanya garang. Aku sedikit takut. Mbak Jazil berlari-lari menemui dan bertanya kepada lelaki itu.

Di sana, Mbak. Kau tahu pertigaan itu? Belok saja langsung ke kiri. Nanti ketemu pondok itu berada di selatan jalan, ucap Bapak itu. Aku lega. Meski terlihat garang, ternyata Bapak itu berjiwa Hello Kitty, unyu-unyu, aih. Terima kasih, Bapak. Kami tidak tersesat.

Kami segera mencebur lagi ke dalam arus keramaian jalan. Sesuai instuksi Bapaknya, kami belok kiri ketika menemui pertigaan dan mulai mencari-cari tulisan Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng.

Kulanjutkan candaku dengan anak angin. Mereka bersuit-suit bekejar-kejaran dan sesekali mengenaiku. Semakin kemari, karena barangkali semakin mendekati daerah pegunungan ya, anak angin semakin ramai dan banyak. Aku tidak merasai peluh keluar keningku karena mereka menghapus rasa panas dengan kesejukan yang bahkan mengarah pada rasa dingin.

Tiba di sebuah sekolah yang ada gang di sampingnya, kami berhenti dan memastikan bahwa tulisan yang ada di papan adalah tulisan Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung. Mbak Jazil dan aku mematung dalam beberapa detik dan akhirnya sadar bahwa kita sudah tiba pada tujuan kami.

Alhamdulillah. Yee.

Motor kami segera melompat masuk ke dalam gang. Di dalam gang, hatiku was-was. Aku memasuki kawasan pesantren, Bro. Berdetak-detak dengan irama yang lebih cepat jantungku itu.

Tiba di sana, kami kebingungan memarkir motor. Karena ada tempat parkir luas plus atap dan di sampingnya ada mobil serta beberapa motor, otakku langsung menafsirkan bahwa tempat itu adalah tempat parkir. Finally, aku mengandangkan motorku di sana.

Detik-detik menegangkan dimulai. Mbak Jazil mulai menggiringku menuju ke ndalem. Aku cemas plus tidak sabar. Aku mengekor di belakang Mbak Jazil. Kaki-kaki kami mulai melangkah di tempat yang bernama pesantren ini. Di hadapan kami, ada seorang kang—santri putra—lewat. Dia memakai sarung, peci dan jaket.

Ini dia aikon pesantren, batinku.

Tiba-tiba dia membimbing kami menuju ke ndalem. Langkahnya menunduk-nunduk, sopan sekali.

Padahal kan kami tidak meminta.

Kini, kami ganti mengekor kang tersebut. Setelah melalui gang kecil, kang tersebut memanggil seorang ibu seraya menunduk-nunduk. Aku masih biasa saja. Kupikir beliau bukan bu nyai karena dandannya tidak seperti ibu nyai yang ada di tempat Mbak Jazil tadi. Namun aku tidak boleh menilik dari cover saja. Siapa tahu memang beliaulah bu nyai pondok ini.

Mbak Jazil dan aku saling bersalaman satu-satu kepada ibu itu. Kucium tangan beliau. Seusai menjabat tangan, beliau menanyakan siapa kami dan apa kepentingan kami dengan nada yang tegas. Mungkin karakter beliau memang tegas.

Pak Kiai ada di ndalem selatan, Mbak. Itu coba sampean lihat ada gang, saman lurus, terus belok saja ke kiri ya, arah beliau setelah Mbak Jazil menjelaskan siapa dan apa maksud kami ke sini. Kami—Mbak Jazil dan aku—mengangguk-angguk, kemudian berpamitan.

Mbak Jazil tampak mundur-mundur ketika menjauh dari beliau. Aku bingung melihat cara Mbak Jazil berjalan. Apa memang seperti itu adab terhadap bu nyai, Kawan? Ah, aku benar-benar belum tahu.

Mbak, itu Bu Nyai, ya? bisikku pelan setelah jauh dari beliau.

“Nggih, Mbak. Beliau Bu Nyai, jawab Mbak Jazil.

Lah, itu bukan ndalem, to? tanyaku.

Itu ndalem, Mbak Za. Tapi ada ndalem kedua juga. Kita sedang ke sana ini, jawab Mbak Jazil.

Aku mengangguk-angguk mafhum. Memang kakak Mbak Jazil pernah menjadi santri dan ustaz di pesantren ini. Pernah juga Mbak Jazil kemari. Sebab itu, Mbak Jazil sudah mengetahui tempat ini. Alhamdulillah, semoga urusan penelitian kami menjadi lebih mudah. Aku patuh pada instruksi yang diberikan Mbak Jazil. Sebab apalah aku, Kawan. Kata Mbak Dian Ndaru Purwanti—rekan sekelasku di bangku kuliah—bisa dianalogikan ibarat remah rengginang yang tersisa dan terjepit di pojok kaleng Khong Huan. Mungkin seperti itulah diriku ini.

Kami terus menyusuri jalan setapak. Rumput-rumput di kanan kiri jalan setapak ini melambai-lambai. Mereka mengucapkan selamat datang padaku.

“Selamat datang di pesantren, Zahra. Begini lo keadaan pesantren itu. Aku rumput santri. Hampir setiap hari mendengar para santri mengaji dan mendaras Alquran ataupun kitab-kitab para ulama terdahulu. Bukan hanya mendengar. Aku juga ikut mengaji seraya mengagung-agungkan Allah Sang Pencipta semesta raya.

Salah satu dari mereka mengiming-imingiku demikian. Ah, aku iri pada si rumput. Mereka bisa hidup di lingkungan pesantren. Sedangkan aku? Astaghfirullah. Segera kusibak tirai iriku, kubuang seketika. Di mana rasa syukurku? Kutanggapi para rumput santri tersebut.

“Terima kasih, ya rumput. Tidak apa jika sekarang dan dahulu aku belum mencicip pesantren. Siapa tahu, ah siapa tahu, nanti sisa hidupku kuhabiskan di lingkungan pesantren dengan seluruh gemuruh jiwa yang membuat hati melompat-lompat karena ketenangan ruh yang didapat. Doanya, ya wahai rumput santri. Semoga aku bisa mengambil ibrah hikmah yang terkandung dalam tiap rajutan takdir-Nya. Sebab sejatinya, ketetapan-Nya adalah yang terbaik dan terindah untuk semua hamba, termasuk orang fakir sepertiku.”

“Iya, Zahra. Semoga Allah melimpahimu dengan keberkahan. Semoga impian-impianmu makbul. Jangan lupa, terus meminta dan meminta pada Allah. Sebab Allah sangat suka ketika hamba-hamba-Nya meminta. Allah sangat suka jika hamba-Nya mengingat-Nya, dekat dan terus bersimpuh pada-Nya. Langitkan doamu, Zahra! Sampai jumpa di surga!”

Gerimis menitik-nitik di dalam kalbuku.

Duhai para rumput. Betapa kalian jauh lebih baik daripada aku! Aku insan yang sering lupa pada Rabbku. Padahal Allah tidak pernah lupa, sekalipun, Allah tidak pernah melupakanku meski urusan-Nya jauh lebih sibuk, mengatur seluruh semesta raya. Betapa aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya Rabbku. Meski begitu, Rabbku senantiasa mengingatiku. Betapa aku malu, wahai para rumput. Dengan kesibukan kecil saja, aku sering melupakan-Nya. Tidak pula seperti kalian yang terus bertasbih, memuji keagungan Allah. Terima kasih, para rumput santri atas pesan-pesannya. Sampai jumpa. Kita janjian di surga, ya. Aku harus sowan, karena sudah tiba di ndalem Abah.

Kami berpisah. Mereka terhuyung-huyung dibelai oleh bayi angin. Gemuruh bergemelutuk di dalam relung hatiku. Kutundukkan pandanganku.

Sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit, menghadang kami. Segera, Mbak Jazil dan aku memanggil-manggil dari tempat tanah yang terpaut cukup jauh dari pintu. Kami tidak menaiki teras rumah. Aku sempat berpikir, apakah mungkin akan terdengar suara kami? Apa ini salah satu adab dalam sowan? Aku diam dan terus mengikuti Mbak Jazil.

Assalamualaikum, teriak Mbak Jazil.

Assalamualaikum, ucapnya lagi.

Aku tidak yakin bahwa orang di dalam rumah bisa mendengar suaranya. Namun, tiba-tiba ada kang lagi muncul dari teras samping. Kami menoleh.

“Mbak, lewat mriki, ajaknya sembari jempol tangannya menunjuk ke arah samping. Kami mengikutinya.

Di teras samping rumah, sekelebat tampak beberapa santri putra tidur di lantai. Aku mendunduk, tak berani mendongak.

Kaki kami terus melewati mereka, hingga kami tiba di rumah bagian belakang. Terlihat dari luar, seorang ibu muda sedang rebahan di lantai berkarpet. Kang santri tadi memanggil beliau sembari menunduk-nunduk. Ada anak kecil pula yang menonton TV di ruang itu. Ibu muda dengan jilbab tersampir itu kemudian bangun. Rupa-rupanya beliau merupakan ibu nyai pondok ini juga.

Assalamualaikum, salam Mbak Jazil.

Waalikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Mbak. Ada yang bisa dibantu? tanya beliau.

“Bade sowan, niki Ibu, jawab Mbak Jazil sopan sekali.

Oalah, nggih silakan masuk, ayo-ayo, jawab ibu tersebut.

Kami berdua duduk di kursi yang tersedia. Meja di depan kursi tersebut tampak sedikit berantakan. Sepertinya baru saja ada tamu yang sowan tadi. Tidak lama kemudian, seorang kang santri yang lain datang membawa nampan dan dengan menunduk-nunduk membereskan meja tersebut. Selang tak lama, kang santri itu kembali membawa dua cangkir teh hangat untuk kami. Entah kang santri itu orang yang sama atau bukan, aku tak tahu pasti. Sebab aku tidak berani mendongakkan kepalaku.

Ibu nyai tersebut mengajak kami berbincang. Kami berkenalan terlebih dahulu. Ketika berkenalan, memoriku mendapatkan informasi bahwasanya beliau asli Blitar juga. Namun dari daerah Sumber, Sanan Kulon, Kabupaten Blitar. Dahulu beliau adalah ning di sana. Sekarang beliau sudah menjadi ibu nyai di Pondok Pesantren Al-Falah Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung.

Lama kami berbincang. Kemudian, datanglah seseorang lelaki sepuh. Beliau adalah kiai pengasuh pesantren ini, Kiai Arsyad. Beliau menyambut kami dengan penuh suka cita. Rupa-rupanya, beliau itu sangat mengenal Abah Mbak Jazil. Beliau berdua saling mengenal ketika dahulu sama-sama nyantri di Pondok Ploso, Kediri. Ditambah kakak Mbak Jazil pernah nyantri dan mengajar juga di pondok Al-Falah ini. Suasana menjadi cair dan mengalir.

Kami berbincang banyak sekali. Sesekali, kami mendapati hasil dari pertanyaan yang kami usung. Sesekali, perekam suara dari ponselku juga kunyalakan, demi mendapatkan data seputar penelitian. Ketika detik terus berlari, ibu nyai mafhum bahwasanya kami membutuhkan data dari pengurus yang lebih detil dan lengkap. Tak lama, ibu nyai pun berkata-kata, memanggil salah satu pengurus pondok.

Minta tolong panggilkan Luqman, ya, ucap beliau kepada salah satu kang santri.

“Nggih, Ibu, jawab si santri takzim.

Aku masih diam sembari menarik kedua ujung bibir ke atas. Sesekali ikut menimpali. Namun lebih banyak waktu kuhabiskan dalam diam, mendengarkan apa-apa yang disampaikan oleh beliau berdua.

Selang tak lama, seorang pengurus pondok yang bernama Kang Luqman tadi hadir. Beliau duduk di mulut pintu. Bersimpuh di sana. Segera, kami diminta untuk mengikuti beliau mencari data di kantor. Kami berpamitan. Kucium tangan ibu nyai. Kutelungkupkan tangan ketika akan bersalaman bersama pak kiai.

Ketika keluar, aku melihat perihal aneh yang belum pernah kulakukan selama ini. Mbak Jazil berjalan mundur, tidak membelakangi pak kiai dan ibu nyai tersebut. Aku bingung memandanginya. Kuikuti saja, tak banyak tanya. Di luar pintu, sandalku yang sudah terjajar rapi sudah menyambutku. Aih. Alangkah teduhnya tempat bernama pesantren ini. Betapa senangnya berkesempatan ditempa di tempat ini. Jiwaku melayang-layang.

Loh, Mbak kang-nya mana ya? tanyaku pada Mbak Jazil setelah tidak mendapati siapapun di halaman belakang.

Entah, to Mbak Zahra. Tadi pakai baju kotak-kotak setahu Jazil. Di mana ya? jawab Mbak Jazil.

Kami berdua celingukan. Bingung. Macam orang hilang. Akhirnya kaki-kaki kami melangkah menyusuri sekitar pondok. Ada beberapa bangunan yang menyapa kami. Pasti itu tempat para kang santri tinggal. Di balik itu, bisa kita temui berjajar-jajar kolam ikan. Lurus ke utara, ada pekarangan kosong yang ditinggali pepohonan teduh. Matahari bersembunyi di celah-celah daunnya yang menelisik, melambai-lambai. Tiba ke utaranya, langsung menyambut sebuah jalan setapak berkelok-kelok. Berjajar langsung di kiri kanannya rumah-rumah warga.

Ini rumah warga, to Mbak? tanyaku.

“Nggih, Mbak Zahra. Kata Mas dahulu poin plusnya pondok ini langsung menyatu kepada warga. Tidak ada sekat yang menghalangi antara pondok dan rumah warga. Oleh karena itu, masyarakatnya sangat welcome kepada pendirian pondok pesantren ini, papar Mbak Jazil.

Aku manggut-manggut mafhum. Kaki-kaki kami terus menjangkah menuju ke penghujung jalan setapak. Ternyata jalan ini berpapasan langsung kepada masjid pondok. Di utaranya, duduk manis sebuah ndalem dari ibu nyai pertama tadi. Kami berdua berada pada bagian utara pondok.

Dari selatan, tampak beberapa kang santri sedang menjalankan aktivitas. Kami tampak kebingungan dan di atas kepala kami muncullah gelembung-gelembung tanya di mana tempat kantor. Beberapa santri putra pun memberikan arahan kepada kami. Ternyata, kantor pondok berada di sebelah timur agak ke selatan sedikit dari tempat motorku beristirahat.

Tiba di kantor, ada seorang pemuda menyambut kami. Barangkali beliau ini yang bernama Kang Luqman. Kang Luqman segera menunjukkan papan struktur organisasi kepada kami. Kami mengganggukkan kepala.

Engkau tahu, Kawan? Masih kenyang perutku lantaran di ndalem tadi telah diberikan secangkir teh manis. Tiba-tiba saja, ada kang lain yang masuk ke dalam ruangan, dan menghidangkan teh hangat lagi. Sempat aku terbelalak dan tersipu-sipu dengan Mbak Jazil. Jujur, aku bingung Kawan. Aku malu, sungkan, merepotkan pihak pondok. Tapi di sisi lain, aku bahagia. Sebab panas sedang memanggang bumi Tulungagung wilayah Trenceng ini. Jadi bisa ya menjadi penyejuk tenggorokan yang dilanda panas membara. Hehe.

Seusainya kang pengantar teh tadi datang, kami langsung memberondong Kang Luqman dengan pertanyaan yang belum terjawab. Dari beliau, kami mengais-ngais data demi kelengkapannya. Namun, Kang Luqman belum bisa memberikan data yang lengkap. Alhasil, beliau terpontang-panting lagi mencarikan kami sumber data yang benar-benar credible. Beliau bertandang dan meminta Gus Alwi—putra pertama Kiai Arsyad dengan Ibu Nyai Hj. Nur Hidayah—untuk berkenan menjadi narasumber kami. Aku terharu melihat kegigihan beliau membantu kami. Terima kasih, ya Kang.

Kembali, kali ini Mbak Jazil dan aku benar-benar mengekor di belakang Kang Luqman. Kami digiring menuju ke ndalem Gus Alwi. Rumah beliau sederhana, namun terasa nyes ketika masuk di dalamnya. Khas ndalem barangkali ya. Tempat duduk beliau lesehan, plus berkarpet. Bersih dan bersahaja. Aku menarik ujung bibirku ke atas kembali.

Sampai di sana, Gus Alwi menyambut kami ramah sekali. Beliau memperkenalkan diri dan meminta sedikit perkenalan dari kami. Ternyata banyak relasi Gus Alwi dari kalangan dosen IAIN Tulungagung. Beliau juga mengenal Abah Nafis. Suasana menjadi cair dan sejuk. Tak menanti lama, beliau mempersilakan kami untuk melontarkan pertanyaan. Segera, satu per satu pertanyaan kami berikan kepada beliau.

Dengan gaya yang berwibawa, Gus Alwi menjawab tanya kami dengan jawaban yang komplit. Bahkan sebelum kami bertanya, beberapa pertanyaan kami yang lain sudah terbingkis dalam jawaban beliau. Mbak Jazil dan aku diam, manggut-manggut takzim menjaring ilmu-ilmu yang beterbangan dari tutur lisan beliau. Dengan ponsel on menyalakan rekaman serta pena yang terus menari membuat catatan, kami mendapatkan data yang dibutuhkan. Sesekali kami bertanya, sesekali kami tertawa, sesekali kami diminta untuk meminum teh hangat yang dibuatkan tadi.

Aku sudah tidak bisa mendefinisikan rupa hatiku, Kawan. Ilmu yang beliau berikan luar biasa. Suatu ketika, ada sebuah tanya yang mampu menenggalamkanku dalam samudra kekerdilan tak bertepi.

Mbak sudah punya calon? tanya Gus Alwi pada Mbak Jazil.

Dereng, Gus, jawab Mbak Jazil plus menggelengkan kepala sembari menunduk.

Kalau sampean? tanya beliau.

Dereng, Gus, jawabku sembari menunduk dan tersipu-sipu. Masalah ini adalah masalah super krusial, Sahabat.

Aku punya dua jago, Mbak. Satunya adalah putra mahkota di salah satu Pondok di Trenggalek. Pak Nafis mesti kenal sama beliau. Yang satunya di Jakarta. Beliau membina hampir sebelas pesantren. Bagaimana? ucap beliau.

Tiba-tiba, hatiku mendidih, meletup-letup suaranya. Bergolak-golak ia karena ucapan Gus Alwi laksana api yang merebus sekeping hati ini. Masyaallah. Dua pangeran itu ditawarkan kepada kami. Mbak Jazil sih orang hebat. La aku? Siapa aku? Insan kerdil bukan siapa-siapa. Nasabku bukan dari keturunan darah biru pun keturunan pengasuh pesantren. Aku hanya orang pinggiran. Aku tak berani menjawab apa yang Gus Alwi katakan selain dengan sebuah senyuman yang tersembul di bibir, juga rona-rona merah di pipi. Melihat kami anteng dan tersipu-sipu, Gus Alwi mafhum.

Ya, siapa tahu kan jodoh ya Mbak, ucap beliau.

Hehe, hanya itu yang keluar dari lisanku. Semua kata tiba-tiba macet mengantre di tenggorokan, tak mau keluar.

Gus Alwi memahami gemelutuk hati dua gadis di hadapan beliau itu. Kemudian beliau melanjutkan percakapan kami. Beliau memberikan kami ijazah seputar thalabul ilmi, menilik kami adalah mahasiswa yang berkiprah dalam hal menuntut ilmu. Selang tak lama, Gus Alwi mempersilakan kami untuk salat Ashar di pondok putri. Kami menurut. Pondok putri bertempat di sebelah ndalem ibu nyai pertama tadi. Di sana, para santri menyambut kami dengan ramahnya. Aku tersenyum-senyum melihat penampilan dan akhlak para santriwati itu.

Seusai salat, kami bersalaman dan berpamitan kepada para santri putri. Kemudian, Kang Luqman meminta kami untuk sowan di ndalem pertama. Ternyata ibu nyai menghidangkan santapan sore untuk kami berdua. Mbak Jazil dan aku saling pandang. Sebuah rezeki. Semoga mendapatkan keberkahan dalam tiap suap nasi yang akan mengisi perut kami nanti.

Matahari semakin tenggelam. Tampak bulan sabit menggantung di hamparan biru dan jingga di angkasa raya. Kami berpamitan kepada seluruh pihak pesantren yang luar biasa dalam membantu penelitian kami. Terima kasih tak terhingga kepada Kiai Arsyad, Ibu Nyai Hj. Nur Hidayah, Ibu Nyai Lailia Hikmatin, Gus Alwi Ihsan, Kang Luqman dan seluruh pihak yang telah memudahkan penelitian kami hari ini. Sungguh, lembar kehidupanku hari ini dipenuhi dengan warna-warni baru yang tak terkata indahnya.

Bersama anak angin yang membuai-buai, kami berdua melangkah meninggalkan Pondok Pesantren AL-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung ini. Berat rasanya kakiku meninggalkan tempat ini. Rasanya, hatiku sudah tertambat di sana. Semoga, lain kesempatan kami bisa menyambung silaturahmi bersama para orang-orang keren tersebut. Terima kasih, Abah Nafis meminta kami, santri PSP untuk engage kepada para orang hebat tersebut. Alhamdulillah, segala puji untuk-Mu duhai Allah, Tuhan semesta yang mengizinkan insan kerdil ini untuk terus berproses dan meraup ilmu dengan cara yang indah. Alhamdulillah.

Dalam dekapan senja,

Kurasai kembali setitik luapan rindu yang tersalurkan

Dalam riang tawa sang alam,

Kupeluk kembali auman hasrat hati yang tersampaikan

Padamu, rindu

Terima kasih sudah menjalari hatiku

Bedah Buku “Pesantren Pluralis” di Jakarta

IMG_20180407_141942_108

 

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sejarah panjang tradisi pesantren menghadirkan nilai-nilai penting bagaimana pluralisme dan toleransi dipraktikkan. Hal ini menjadi pembahasan dalam diskusi dan bedah buku ‘Pesantren Pluralis’ karya Dr. Muntahibus Nafis, di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (06/04/2018).

 

Agenda ini yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta ini, dihadiri oleh Dr. Muntahibus Nafis (IAIN Tulungagung), Ahmad Baso (Lakpesdam PBNU), dan Yanwar Pribadi, Ph.D (UIN Banten), serta Dr. Moh. Adlin Sila (Kepala Balitbang Agama Jakarta).

 

Moh. Adlin Sila, Ph.D, Kepala Balitbang Agama Jakarta, menjelaskan pentingnya periset terus memproduksi gagasan dan mempublikasi ide. “Dalam dunia akademik, publikasi atau tenggelam. Karya Muntahibun Nafis ini memberi nilai tentang pluralisme dari khazanah pesantren,” jelasnya.

 

Penulis buku, Muntahibun Nafis, menjelaskan bagaimana proses berkembangnya nilai pluralisme di pesantren. “Pesantren Ngalah ini sangat menarik, proses pengembangan pluralisme belum berhenti sampai sekarang. Kita bisa melihat ke depan bagaimana proses pengembangan nilai-nilainya,” ungkap dosen IAIN Tulungagung.

 

Baca selengkapnya di:

https://m.timesindonesia.co.id/read/172425/20180406/190721/bedah-disertasi-telusuri-khazanah-pluralisme-dari-pesantren/

 

https://duta.co/bedah-disertasi-telusuri-khazanah-pluralisme-dari-pesantren/

KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Oleh: Imam Nasirudin
(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT., di antara bulan-bulan yang lain. Jika bulan Ramadhan adalah bulan bagi ummat Nabi Muhammad, maka bulan Rajab adalah bulan bagi Allah SWT., karena dalam bulan ini Allah SWT., akan memberikan banyak ampunan bagi hamba-Nya.

Kata “Rajab” atau رجب terdiri dari tiga huruf, yakni ro’, jim dan ba’. Huruf ro bermakna rahmatullah memiliki arti Kasih sayang Allah. Huruf jim bermakna Jurmul ‘Abdi yang memiliki arti dosa-dosa atau kesalahan hamba. Sedangkan ba’ bermakna birrullah yang memiliki arti kebaikan Allah. Oleh karenanya, kata Rajab memiliki maksud bulan di mana Allah memberikan kebaikan atau ampunan bagi kesalahan-kesalahan hambanya dengan lantaran sifat rahmat-Nya. (Duroh al Nashihin, hal: 40)

Diriwayatkan dari Nabi SAW., bahwasanya beliau bersabda:
“من احياء أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا، وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه و يشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد يستوجبوا النار”
“barangsiapa menghidupkan malam pertama di bulan Rajab maka hatinya tidak akan mati, dan jikapun hati itu mati maka Allah akan menuangkan kebaikan dari atas kepalnya dan mengeluarkan dosa-dosanya hingga bersih seperti halnya ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Selain itu juga ia dapat menolong tujuh puluh ribu orang ahli maksiat yang berhak masuk neraka”. Subhanallah, begitu besar Rahmat Allah yang diberikan kepada hambanya. (Durroh al Nashihin, hal : 40).

Tak heran jika di bulan rajab ini banyak kaum muslim memperingatinya dengan berbagai macam amal. Di antaranya dengan bersedekah, mengadakan majelis dzikir, mengadakan majelis shalawat, mengadakan pengajian akbar dan lain sebagainya. Ada juga yang mengamalkannya dengan menjalankan puasa-puasa sunnah, hal ini karena ada keutamaan tersendiri bagi yang mau berpuasa di dalamnya sesuai dengan jumlah hari ia menjalankan puasa.

Disebutkan pula dalam kitab Durroh al Nashihin bahwasnya barangsiapa berpuasa sehari maka ia akan mendapatkan ridha Allah yang mulia. Barangsiapa berpuasa selama 2 hari maka ia akan mendapatkan pujian ahli langit dan bumi sebagai orang yang mulia di sisi Allah SWT. Barangsiapa berpuasa selama 3 hari, maka ia akan dijaga dari bencana alam, siksa akhirat, sifat gila dan fitnah dajjal. Barangsiapa berpuasa selama 7 hari, maka akan dikunci baginya 7 pintu neraka jahannam. Barangsiapa berpuasa selama 8 hari, maka ia akan dibukakan 8 pintu surga. Barangsiapa berpuasa selama 10 hari, maka Allah akan mengabulkan segala permintaannya. Barang siapa yang berpuasa selama 15 hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan mengganti keburukannya dengan kebaikan-kebaikan.

Diriwayatkan dari Sahabat Abu bakar Ash Shiddiq, bahwasanya beliau pernah berkata: Tatkala sepertiga malam jum’at pertama di bulan rajab telah berlalu, para malaikat di langit dan di bumi semuanya berkumpul di dalam Ka’bah. Maka, Allah melihatnya dan berkata “Wahai para malaikat, mintalah sesuatu sesukamu!” kemudian para malaikat menjawab “Wahai tuhanku, kebutuhan kami hanyalah ingin memintakan ampun bagi orang yang berpuasa di bulan Rajab”, maka Allah pun menjawab “qod ghoffartu lahum. Aku telah mengampuni mereka”. (Durroh al Nashihin, hal : 41)

Demikianlah beberapa keutamaan dari berbagai macam keutamaan bulan Rajab. Semoga kita semua mendapatkan kesempatan beribadah di bulan rajab dan sya’ban, serta di pertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Aamiin.[]

Senandung Cinta Maryam

Oleh: Rahmawati Agustin
(Pegiat Literasi Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Di sebuah desa kecil daerah sleman Yogyakarta, terdapat sebuah bangunan kokoh berdiri ditengah hamparan sawah nan hijau. Di dalamnya terlihat seorang gadis kecil yang sedari tadi berdiri mematung didekat jendela, sepasang bola matanya berputar  ke arah kanan dan kiri sambil sesekali ia memperhatikan ibunya yang sedang tertidur pulas diranjang. Didekapnya boneka taddy bear kesayangannya sambil mengamati bintang – bintang di langit, rupanya  ia  sudah tidak sabar menyambut datangnya matahari pagi  untuk segera bermain bersama teman sebayanya.

10 Tahun kemudian

Gadis kecil itu kini tumbuh menjadi remaja yang manis, cerdas, dan  mandiri. Sayyidah Maryam namanya, biasa di panggil Maryam gadis desa berparas ayu ini tinggal bersama Ibunya yang biasa ia panggil dengan sebutan Bunda. Layaknya gadis Jawa pada umumnya ia memiliki sifat  lemah lembut juga kepribadiannya yang santun.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi gadis berlesung pipih ini. Ternyata hidup memang tak semanis hayalan masa kecilnya. 5 Tahun yang lalu saat dia duduk dibangku sekolah dasar, sang Ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Meskipun ia merasa begitu terpukul ditinggal oleh sang Ayah tercinta dalam waktu yang begitu singkat namun, tidak menjadikannya terus terpuruk dalam kesedihan.

Ia sadar bahwa hidup harus terus berlanjut. Separah apapun  kondisi kita, tak perduli harus  berapa kali ia terjatuh dan berkali- kali ia harus bangkit. Namun, ia tetap bersyukur karena memiliki Ibu yang berhati malaikat. Meskipun ayahnya telah pergi, sang Bunda selalu memberikan kasih sayang yang cukup untuknya.
Akan tetapi kondisi kesehatan Bunda akhir-akhir ini semakin memburuk,  ditambah dengan beban pikiran yang ia tanggung sendirian membuatnya menderita penyakit jantung koroner. Mulai saat itu Maryam mulai mengambil alih semua pekerjaan Bunda mulai dari mengurus ternak, ladang, dan perkebunan.

Awalnya Bunda keberatan dengan  usulannya, mungkin karena beliau merasa terlalu membebani putrinya. Meskipun sebenarnya Maryam tidak merasa terbebani sama sekali.
Dan beruntung Maryam memiliki dua sahabat yang berhati malaikat,  seperti Azam dan Azmi, dua bersaudara berparas tampan ini berasal dari keluarga priyai. Kebetulan mereka berdua satu sekolahan dengan Maryam. Singkat kata mereka bertiga memang sudah bersahabat sejak duduk dibangku sekolah dasar. Bagi Maryam mereka lebih dari sekedar sahabatnya, ia sudah menganggap Azam dan Azmi layaknya saudaranya sendiri. karena ketika ia dan Bundanya mengalami kesusahan mereka berdualah orang pertama yang selalu menolongnya tanpa pamrih.

Kedua sahabanya, Azam dan Azmi walaupun mereka notabennya adalah kakak beradik tetapi sifat mereka sangat berlawanan Azam sebagai kakak  malah lebih kekanak-kanakan,  jail, dan penakut, dibandingkan Azmi sang adik yang cenderung lebih pendiam, dan tegas dalam berpendirian. Meskipun begitu, selamanya mereka adalah sahabat terbaik yang dikirimkan Allah untuk Maryam.

Tengah hari tepat ketika matahari transit melewati meridian langit pada saat pusat titik tertinggi diatas cakrawala tepat diatas ubun-ubun kepala. Di- tengah suasana yang begitu panas,  Maryam seolah tak perdulikan hawa panas yang menyengat tumbuh gadis berjilbab ini, ia dibantu kedua sahabatanya, ia tetap bersemangat mencari rumput untuk makanan ternak sapi perah miliknya. Maryam dan kedua sahabatnya Azam dan Azmi sedang mencari rumput diladang. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang sedang   mengamati mereka  dari kejauhan.

Orang itu tidak lain adalah Zainab. Gadis yang sudah sejak lama menaruh hati kepada Azmi, dia juga orang yang diam-diam menyelipkan suratnya kedalam tas Azmi tempo hari yang lalu. Saat ini perasaannya sedang gundah karena cintanya yang tak kunjung terbalas, apalagi melihat kedekatan Maryam dan Azmi yang semakin  lama semakin menjadi. Membuat hatinya semakin dilanda kegalauan.

”Maryam sepertinya rumput yang kita cari sudah cukup banyak!” Seru Azam. Lalu memasukan rumput-rumputnya kedalam karung.” Sama karungku  juga sudah terisi penuh.” Timpal Maryam.

“Bagaimana dengan punyamu Azmi?” Tanya Maryam.

“Punya ku juga sudah penuh.” Jawab Azmi .

”Tunggu apa lagi yaudah kalau begitu ayo kita pulang!” Ujar Azam.

“Ayo!” seru Maryam.

Merekapun segera membereskan barang bawaan mereka ke atas gerobak, lalu  mereka dorong bersama-sama.

”Eh tunggu sebentar!” Seru Maryam menghentikan dorongannya.

“Sepertinya itu Zainab, sedang apa dia disana?” Tanya Maryam menunjuk kearah semak-semak.

”Kita samperin aja yuk!” jawab Azam. Menyadari bahwa keberadaannya di ketahui oleh mereka, Zainab pun segera menjauh.

”Gawat sepertinya mereka memperhatikanku aku harus cepat pergi.”   Gumang Zainab. Ia mempercepat langkahnya menjauh dari mereka.

”Si Zainab kok malah pergi gitu aja sih? aneh!” Timpal Maryam.  Dengan mengrenyitkan alisnya

“Yaudah kita langsung pulang aja!” Seru Maryam.

Setibanya dirumah Zainab langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, Zainab tampak begitu resah, matanya sulit untuk terpejam dikepalanya selalu terbayang-bayang wajah Azmi lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati akan tetapi malah berpaling tak membalas cintanya.

“Tolong pak jangan bawa barang-barang saya!” Pinta wanita paruh baya itu kepada salah seorang lelaki berbadan kekar. Sesekali lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang beringas bah  srigala yang siap menerkam siapa saja yang menghalangi langkahnya.

Mereka seolah-olah tidak menggubris rintihan wanita tua itu, Kemudian wanita tua itu berlutut kepada salah seorang dari mereka yang sedang duduk manis diatas kursi dengan posisi duduk menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kiri sehingga membentuk sudut lancip 25 derajat.
Dia sendang menikmati sensasi merokok dari pipa hookah lengkap dengan sepasang air bicirculation bah seorang bangsawan. Wajahnya memang rupawan, sepertinya dia seorang yang berdarah indo campuran, karena wajahnya sedikit kebarat-baratan. Pria itu memakai topi koboy hitam, juga jas hitam yang membalut badannya, perawakannya cukup kekar mirip seorang ajudan, bisa jadi dia adalah pemimpin dari komplotan orang berbadan kekar itu.

“Tuan apa salah saya sehingga anda tega mengambil harta seorang janda miskin beranak satu seperti saya?”Tanya wanita tua itu kepada si pria bertopi hitam sambil berlutut dibawah kursi.

“Tuan tolong jawab saya, saya butuh kejelasan!” Protes wanita paruh baya itu dengan nada bicara meninggi.

Tampaknya ia memang sudah hampir habis kesabarannya, kemudian ia beranjak bangkit dan berdiri.

Tetapi pria itu tetap diam seribu bahasa.

“Tuan jawab kenapa tuan hanya diam saja?” Desak wanita itu.

“Saya hanya menjalankan amanah dari seseorang, dan sebelum suami anda meninggal dia menitipkan ini kepada saya!” Jawabnya singkat .

Kemudian dia  mensodorkan sebuah amplop putih kepada si wanita.

Buru-buru ia buka amplop itu karena begitu penasaran dengan isi dari  pesan terakhir  suaminya. Seiring dengan perginya Pria itu dari hadapannya, wanita itu merasakan kepalanya teramat pusing, badanya mulai lemas, akhirnya ia  jatuh tersungkur ke lantai dan  ia mulai kehilangan kesadarannya. Assalamu’alaikum…’

“Bunda, Bunda Maryam pulang!”Seru Maryam dari depan pintu. Karena tidak mendapatkan jawaban apapun  ia dan kedua sahabatnya segera masuk kedalam rumah. Maryam benar- benar syok melihat keadaan rumahnya yg tak beraturan seperti kapal pecah. Dari kejauhan iya melihat Ibunya  sudah tergeletak di lantai

“Bunda…. Maryam berlari kearah ibunya yang sudah tergeletak lemas.

“Bunda kenapa ? apa yang terjadi bunda ? Tanyanya ketakutan.

“Maryam maafkan bunda!Seru Ibunya lirih.

Melihat kondisi Ibunya yang sudah lemas tak berdaya ia pun langsung membopong Ibunya ke atas kursi dibantu oleh kedua sahabatnya. Kemudian Maryam mengampil segelas air putih dari dapur.

”Bunda minum dulu!”Seru maryam.  ia membantu Bunda meminum air perlahan-lahan.

”Maryam sayang maafkan Bunda ya nak!” Pinta Bunda lirih. Maryam  memandangi kedua mata sang Bunda berharap mendapat jawaban yang jelas darinya.

“ Sebenarnya ada apa Bunda? kenapa Bunda terus-terusan meminta maaf?” Tanya maryam tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

” Tadi ada seorang pria memakai topi hitam bersama 4 bodiguardnya datang kesini nak!”Seru Bunda terbata-bata.

“Ayahmu nak ternyata dulu sebelum dia meninggal , dia meninggalkan hutang!”lanjut sang Bunda

“Dan akhirnya dia terpaksa menggadaikan seluruh atsetnya kepada seorang juragan kaya raya karena ia bangkrut dalam bisnisnya!

”Maafkan Bunda nak,  Bunda tidak bisa menjaga harta peninggalan Ayahmu nak!”Pinta Bunda dengan raut muka penuh penyesalan.

Maryam sangat syok begitu mendengarkan penjelasan dari Bunda, tetapi ia   juga tidak sanggub jika harus melihat ibunya terus merasa bersalah

“Bunda jangan sedih ini semua bukan salah bunda! Jawab Maryam menenangkan sang bunda

Astagfirullahhalngazim….

“Maryam harus minta penjelasan dari mereka Bunda! Mereka harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini! Seru Maryam geram.

“Untuk apa nak? kamu meminta penjelasan dari mereka?Tanya Bunda penasaran.

“Maryam tidak bisa terima mereka memperlakukan Bunda seperti ini!

“Bunda tidak apa-apa nak! kamu disini saja ya!” Seru Bunda membujuk Maryam. Ia  tak ingin putrinya berurusan dengan komplotan lelaki itu

“Enggak Bunda, Maryam harus menemui mereka!

Sudah Bunda istirahat saja  dirumah ya!” Jawab Maryam masih bersikeras

Dengan air mata bercucuran dipipi merahnya, Maryam segera berlari keluar rumah berharap ia masih bisa mendapati pria bertopi hitam itu. Tidak mau putrinya gelap mata Bu Halimah langsung mengejar Maryam ke sebrang jalan. Melihat Bu Halimah yang masih lemas mengejar Maryam  kedua sahabat Maryam, Azam dan Azmi langsung membantunya berjalan. Sedangkan Maryam masih terus berlari mengejar mobil pria itu.

“Tunggu jangan pergi dulu!” kamu harus bertanggung jawab!” Seru Maryam berlari mengejar pria yang sudah berada didalam sedan.

“Berhenti! Seru Maryam menggedor –gedor jendela mobil pria itu. Tetapi sedan itu melaju dengan kecepatan tinggi sehingga Maryam terjatuh karena tak sampai mengejarnya.

“Maryam sudah nak sudah!” Seru Bunda menghampiri Maryam. ia memeluk putrinya yang kini sedang duduk lemas di tengah jalan raya

“ Bunda Maryam gak rela jerih payah kita selama ini dirampas oleh mereka begitu saja!seru Maryam dengan isakan tangis.

”Bunda ini semua gak benar kan? Ayah gak mungkin melakukan semua ini? Seru Maryam menangis seenggutan“nak dengarkan Bunda,!”Seru bu halimah. Ia membelai jilbab putrinya sembari  memberi nasehat.

“Kamu tidak mau kan  melihat Ayah kamu tersiksa di dalam kuburnya, karena menangguh hutang!”Seru Bunda sembari menatap Maryam. Oleh sebab itu kita harus mengikhlaskan harta kita, semua yang kita miliki supaya Ayahmu bisa tenang disana! seru Bu Halimah menenangkan Maryam.

Seketika tangis kedua ibu dan anak itu pecah.

“Bundaaaa!”…..rintih Maryam.

“ Sabar nak, dibalik semua ujian Allah pasti akan memberi jalan! “Seru Bu Halimah tegar.

Setelah kejadian itu Maryam dan Sang Bunda tinggal dirumah sederhana berukuran 30 meter persegi memang rumah yang sekarang mereka tempati itu jauh lebih sempit dari pada rumah mereka yang dulu. Rumah itu sebenarnya milik saudara Azmi yang sudah tidak ditempati oleh mereka, beruntung karena kedermawanannya, mereka mengizinkan Maryam dan bundanya tinggal disana tanpa membayar uang seperserpun. Sekarang Maryam dan bundanya harus mulai menata lagi kehidupan mereka yang baru mulai dari awal, mereka juga harus berkerja extra keras lagi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bunda sekarang berkerja disalah satu perusahan  konfeksi tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sementara Maryam setiap pagi sebelum berangkat kesekolah harus membantu ibunya membuat kue terlebih dahulu sebelum kemudian ia titipkan dikantin sekolah.

5 Bulan Kemudian

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Maryam, Azam, dan Azmi juga teman-teman lainnya di Madrasah Aliyah. Bagaimana tidak hari ini kepala sekolah akan mengumumkan secara resmi kelulusan siswa-siswi kelas 3 seangkatan. Setelah mereka menyelesaikan ujian nasional bulan lalu. Setelah amplop hasil ujian sudah berada ditangan mereka masing-masing.
Mereka pun segera membuka amplop mereka. Dan betapa bahagianya hati Maryam melihat hasil ujiannya yang begitu memuaskan dan ternyata setelah itu ia dipanggil Bapak Kepala Sekolah untuk menerima penghargaan beserta murid berprestasi lainnya termasuk Azam dan Azmi untuk menerima sertifikat dan beasiswa dari salah satu perguruan tinggi yang sudah mereka pilih melalui jalur SNPTN. Diantara mereka bertiga Maryam lah yang paling beruntung karena sebelum ujian nasional dulu dia sempat mengikuti seleksi untuk masuk ke salah satu  PTKIN di luar negeri.

“Subhanallah Azam, Azmi aku bener –bener gak nyangka, aku bisa kuliah diluar negeri sekarang!” Seru Maryam kegirangan.

“Iya selamat ya Maryam! akhirnya cita-cita kamu bisa terwujudkan!” Jawab Azam. Ia juga turut berbahagia atas pencapaian yang diraih sahabatnya.

“Lihat Azmi, Maryam hebat ya bisa kuliah ke luar negeri!

pake beasiswa lagi!” seru azam bangga.

Tetapi melihat saudara laki-lakinya yang sedari tadi diam saja. Azam langsung menyenggol tangan Azmi.

“Azmi kenapa kamu diam saja  harusnya kamu beri selamat juga kepada maryam!”Seru Azam heran.Tetapi bukannya memberi selamat kepada Maryam, Azmi malah pergi begitu saja.

Sontak Azam dan Maryam dibuat bingung dengan perubahan  sikap Azmi yang tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti itu.

Azmi kenapa?kok malah pergi gitu aja?”Tanya Maryam. Ia ingin memastikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja.

“ah sudahlah Maryam mungkin dia kecapean! kayak gak tau aja kamu, kalau si azmi itu aneh. “Timpal azam dengan santainya

“azam gak boleh gitu ah!”  Tegur Maryam.

“Udah gak usah dipikirin!yang penting cita – cita kamu buat kuliah keluar negeri sekarang sudah tercapai!” Hibur Azam.

“Iya azam alhamdulillah, aku bener-bener gak nyangka sebenarnya! Jawab Maryam kembali antusias.

“Yaudah kamu cepet pulang kasih tau Bundamu, pasti beliau seneng banget

denger kabar ini!”

“yaudah aku pulang dulu azam, oh ya besok lusa aku tunggu kalian di bandara!”ucap Maryam bersemangat.

~ Di Bandara

Pagi ini Bu Halimah mengantarkan Maryam kebandara, sesampainya mereka dibandara tidak lupa ia memberikan wejangan – wejangan kepada  putri semata wayangnya itu sebelum ia berangkat untuk menumtut ilmu ke negeri orang. Setelah mereka menunggu hampir satu jam . Akhirnya mereka menerima instruksi bahwa pesawat akan diberangkatkan 20 menit lagi. Maryam mulai gusar, kenapa Azam dan Azmi belum juga datang padahal ia sebentar lagi harus take off, berkali-kali ia memerikasa ponselnya untuk memakstikan apakah ada pesan atau telefon dari mereka. Ia juga berusaha menghubungi keduanya secara bergantian tetapi hasilnya nihil, kedua-duanya sangat sulit di hubungi.

“ Bunda sepertinya Maryam harus segera berangkat!” Serunya putus asa.

“Tapi bagaimana dengan Azam dan Azmi nak?” Tanya Bunda khawatir.

“Mungkin mereka masih diperjalanan!”Seru Maryam dengan raut muka sedih.

“ Kalaupun tidak sempat bertemu, sampaikan salam Maryam  kepada mereka ya bunda! “Seru Maryam dengan mengembangkan senyum tipisnya.

” Pasti bunda sampaikan! Seru sang Bunda lalu ia melepas  putri semata wayanya dengan pelukan dan berkali-kali mencium pipi putrinya itu secara bergantian.

”Maryam berangkat dulu ya bunda! Bunda jaga kesehatan ya selama maryam pergi!” Seru Maryam meneteskan air mata.

“ Iya hati-hati nak!” Seru Bu Halimah tegar.

“Assalammualaikum Bunda! “Seru Maryam dengan mencium tangan Ibunya

“Walaikumsallam nak!”Seru Bu Halimah. ia mengelus-elus kepala putri semata wayangnya itu kemudian memeluknya untuk terakhir kali.

Kemudian Maryam membawa kopernya berjalan menuju area boarding lounge, tidak lama setelah itu datanglah kedua sahabatnya,  Azam dan Azmi mereka berusaha menemui Maryam untuk mengucapkan salam perpisahan tetapi dihadang oleh petugas. Tetapi berkat kecerdikan mereka, mereka bisa bernegosiasi dengan petugas dan akhirnya mereka diizinkan masuk. “Maryam, Maryam tunggu!”  Mendengar suara kedua sahabatnya Maryampun berbalik kearah mereka. Betapa bahagianya hati Maryam mendapati kedua sahabatnya itu akhirnya datang juga.

Maryampun langsung lari kearah mereka. Akhirnya kalian datang juga! Seru Maryam girang.

“ Pasti datanglah! Seru Azam percaya diri. “ oh ya Maryam ada yang mau ngomong sesuatu nih sama kamu!” Seru azam menyenggol pundak Azmi ia berusaha memberikan isyarat kepada saudaranya itu untuk segera berbicara. “Ada apa Azmi? Tanya Maryam penasaran. “Eem, kamu hati-hati disana ya Maryam,  jaga kesehatan, jangan lupa sholat !” Seru Azmi tampak gugup.

“ Iya Azmi, kalian juga jaga kesehatan ya! Timpal Maryam.

Jangan nagis mulu  kalau aku tinggal hahaha! Candanya

Azmi ayo ngomong! desak Azam. Ia mengisyaratkan kepada adiknya untuk segera mengutarakan isi hatinya kepada Maryam.

“ Ngomong apa lagi  barusan juga aku ngomong !

” Kok cuma itu  ? heran deh sama kamu!” Ujar Azam jengkel.

Habis mau ngomong apa lagi! Seru Azmi berbisik kearah Azam. Maryam tampak bingung dengan tingkah kedua sahabatnya itu.

“Oh ya Maryam ini aku punya sesuatu buat kamu! Seru Azmi menyodorkan sebuah bingkisan kearah maryam. Itu kenang-kenagan dari kita berdua.” Makasih ya Azmi, Azam! Kayakknya aku gak bisa lama-lama pesawatku sebentar lagi  akan berangkat! Seru Maryam tergesa-gesa.

Bunda Maryam berangkat! “Serunya melambaikan tangan kearah ibunya yang berdiri didekat kaca.

“Oh ya Azam, Azmi, aku bakalan rindu sama kalian!” Seru Maryam sambil berlari menuju pesawatnya.

Dari dalam pesawat Maryam membuka sebuah bingkisan kotak merah yang diberikan azmi tadi ternyata isinya adalah boneka tedy bear pink favoritnya ia tersenyum tipis  sambil memeluk boneka itu sembari mengingat wajah kedua sahabatnya itu. Kemudian dia mengambil sebuah amplop berwarna merah hati yang diletakkan disamping boneka. Ternyata surat itu dari Azmi.

Assalammualaikum….

Teruntuk sahabatku tercinta, yang kini telah jauh dimata. Aku selalu berdoa semoga kamu selalu berada dalam lindunganNya. Maryam melalui surat ini kiranya engkau sudi mendengarkan suara hati dari seorang lelaki tak tau diri seperti aku.“Maryam aku bukanlah lelaki yang pandai merangkai kata- kata seperti Azam, aku juga selalu bersikap dingin kepada semua teman perempuanku.  Maka saat aku menulis surat ini  diatas bukit candi abang, disaksikan rumput-rumput liar dan ilalang diatas bumi ciptaan sang Maha Agung , maka kuutarakan seluruh rasa yang selama ini telah berkecambung di dada. Aku menyayangi mu dan aku ingin menjagamu , juga menjadi bagian dari hidupmu suatu hari nanti. Aku akan sangat maklum jika kau masih ragu dengan pernyataanku, aku juga tidak memaksa jika kiranya kau tak membalasnya. Tapi sungguh aku sama sekali tidak berdusta,semua ini murni dari lupuk hatiku yang paling dalam. Semoga Allah swt akan selalu menyertai disetiap langkah kakimu.

Wassalamualaikum.

Sebenarnya Maryam terkejut dengan ungkapan Azmi sahabatnya, namun tidak dapat dipungkiri ia juga sudah sejak lama menyimpan rasa yang sama kepada sahabatnya itu, tetapi rasa itu buru –buru ditepisnya karena ia sadar ia harus sungguh-sungguh dalam belajar supaya tidak mengecawakan Bundanya, ia percaya bahwa rencana Allah pasti jauh lebih indah dari apa yang ia harapkan. Biarlah rasa itu saat ini ia simpan dalam hati supaya kelak bila  ia dan Azmi berjodoh semoga dapat dipertemukan kembali dalam suatu ikatan yang suci dan abadi

Setetes Embun Impian

Setetes Embun Impian

Oleh: Ekka Zahra Puspita Dewi

(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

 

 

Rindu mencuriku

Dari lilit dunia yang mengeringkan jiwa

Cinta membelengguku

Bersama kedipan takdir yang terlukis

Ah, indahnya

Mengempas dunia yang menghanyutkan

Ah, syahdunya

Mencicip aroma sedap impian

Bolehkah, wahai Tuhan?

Kujebak diriku di dalam sejuknya cawan

Yang membuatku menari, melayang

Yang menggiringku lekat, tertawan

Bolehkah, duhai Tuhan?

 

Dingin masih menggigit tulang. Banyak manusia yang masih tenggelam di dalam selimut hangat mereka. Menyelamatkan diri dari incaran sang dingin yang meraung-raung, mengintai. Meski kehangatan ditawarkan oleh selimut itu, sejatinya ia merupakan bisikan dan buaian dari musuh yang teramat nyata, yang selalu mengincar, menggoda, membidik dengan tepatnya kepada hati insan-insan hamba Allah Yang Mahaagung. Ternyata masih ada, ya, masih ada beberapa manusia pilihan, yang memilih melawan bujukan sang syaithan dengan menggeliat, kemudian terduduk, bangun dan melangkah membuyarkan godaan syaithan melalui segarnya wudu dengan mengusap tangan, mulut, hidung, wajah, telinga, dan juga kaki mereka. Terbirit-biritlah para syaithan yang tengah menari-nari.

Pagi masih dini. Aku melihat jam dari ponsel mungilku yang serba guna ini, Samsung Star. Angka 03.15 pongah menguasai salah satu latar wallpaper ponselku. Aku mengusap-usap mataku yang masih baru saja terbuka setelah sekitar 3 jam tertidur. Di ujung sana, ada sesosok bayangan manusia yang mengenakan mukena, bermunajat kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Mengadukan resah gundah dan bahagia yang mereka rasa.

Aku mengerdipkan mataku. Menoleh dan mencoba mengumpulkan kesadaran. Samping kiriku masih terlelap. Namun samping kananku sudah kosong. Ya, sahabatku yang sudah menghilang dari sampingku adalah wanita saleha. Dia pasti sudah terbiasa terkoyak oleh dinginnya sepertiga malam, untuk mengadukan segala perkara yang ia jalani di dunia ini.

Aku segera bangkit. Kutaksir, sahabatku itu masih di kamar mandi. Semoga ia tidak segera selesai, agar aku ada kawan di sana. Lumayan membuat bulu kudukku berdiri jika aku hanya sendirian di rumah besar yang tadinya kosong ini.

Kakiku kulangkahkan perlahan, melewati manusia-manusia yang masih terbuai oleh mimpi-mimpi mereka. Kutahan sebisa mungkin agar tidak sampai menginjak jari-jari maupun rambut mereka yang terkulai. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara.

Setelah melalui ruangan serbaguna yakni kamar tidur, ruang rapat, ruang mengaji dan ruang salat ini, aku berbelok ke arah kiri. Lampu dapur yang juga mengarah kepada kamar mandi sudah menyala dengan benderang. Memecah gelap yang masih bergumul di luar sana. Namun sepi. Tak tampak satupun manusia di sana.

Srek-srek, kricik-kricik, srek-srek

Aku mendegar gemericik air di dekat sumur. Jantungku berdegup lebih kencang. Kutajamkan pandanganku. Memastikan bahwa yang membuat suara itu adalah manusia. Ragu-ragu, aku melangkah menuju ke ruang dapur. Napasku memburu. Suara itu terus saja ada. Aku terusik. Akalku menarikku bahwa sumber suara itu dari Nay, bukan makhluk lain yang mungkin tidak tampak. Analisisku berjalan. Alasan pertama lantaran dia tidak ada di tempat tidur. Alasan kedua orang yang sedang salat juga bukan dia. Aku mengenali mukena miliknya. Bukan dia. Aku yakin. Alasan ketiga, jika yang memunculkan suara bukan Nay, lantas dimana dia? Mengapa aku tidak bertanya ‘siapa dia yang memunculkan suara’ ya?

Meski akalku menolak bahwa suara itu dari makhluk lain yang tak tampak mata, namun aku tak memiliki daya untuk mencegah bulu kudukku berdiri juga. Ini masih petang, kawan. Apa saja bisa terjadi.

“My?” suaraku membuncah. Serak, tercekat di tenggorokan.

Srek-srek, krucuk-krucuk, srek-srek

Tidak ada tanggapan.

“Umy?” aku sedikit berteriak. Tetap tidak ada tanggapan. Aku tidak boleh berteriak dengan volume yang lebih lantang lagi. Bisa-bisa seluruh penghuni rumah terbangun karena teriakanku. Meski ragu, akhirnya langkahku kuseret menuju ke balik sumur itu. Sembari melafazkan Ayat Kursi di dalam hati, aku mendekati sumur itu.

Kakiku kulangkahkan perlahan. Pelan. Sangat pelan. Jantungku meloncat-loncat tak karuan.

Deg-deg-deg-deg-deg-deg

Aku semakin dekat dengan sumur. Ya Allah suara degup jantungku kudengar. Napasku kutahan. Ingin aku balik arah dengan cara berlari menuju tempat manusia lain berada. Di sisi lain, adrenalinku terpompa. Aku ingin tahu siapa dia.

Ah, kalian ini apa! Batin dan keinginan berperang di saat yang genting! Aku mencaci mereka.

Tak kusadari, pertengkaran batinku malah menuntuku mendekat ke sumur. Ayat kursi semakin cepat kulafazkan. Entah mengapa, hasilnya malah tak karuan. Akhirnya aku hanya menyebut lafaz Allah.

“Allah, Allah, Allah,” bisikku sangat pelan.

Semakin dekat, kulihat sebuah bayangan bergerak-gerak yang tampak akibat membelakangi cahaya dari sinar lampu. Dadaku rasanya hampir meledak. Aku sudah menyiapkan diri untuk terbirit-birit jika ada sesuatu yang tidak kuinginkan. Dan sekarang, aku malah berdiri tepat di utara sumur itu. Kutahan napasku. Jantungku terasa mau copot. Sosok wanita berambut panjang dikuncir sedang membungkuk, kemudian ia menoleh kepadaku dan meringis memamerkan gigi-giginya.

Refleks, kakiku mundur ke belakang satu langkah.

“Allaaaah,” aku sedikit berteriak. Tanganku kukepalkan di dadaku. Aku hampir menabrak dipan yang bertengger di belakangku. Jantungku berdenyut-denyut kurasakan dari kepalan tangan yang menyentuhnya. Napas yang tadinya kulilit kulepas begitu saja.

Fuuuhhhhh

Wahai kawan, tenanglah. Akalku yang menang. Sosok itu adalah Nay. Sahabatku itulah yang membuat suara-suara. Dia sedang mencuci baju.

“Apa Zar?” tanyanya polos sambil terkikik melihat ekspresiku yang kaget.

“Umy, ya. Tak kira apa!” protesku sebal. Dahiku kukerutkan lega. Napasku ternyata masih ngos-ngosan lantaran kutahan sedari tadi. Tanganku masih tertelungkup di dada. Jantungku yang tadinya memburu, masih tetap menderu-deru. Aku merasakannya.

Setelah mengembalikan kesadaran, aku langsung ngeloyor meninggalkan Nay yang sedang tertawa melihat ulahku. Aku tak peduli. Sungguh, kawan. Aku sebal padanya. Bisa-bisanya dia membuat malam pertamaku di tempat ini menjadi kisah horor. Hua. Boleh aku menangis? Dia tidak tahu apa yang barusan kualami. Ngeri, tahu! Hiks.

Aku mengambil salah satu handuk berwarna oranye di antara barisan handuk yang tergantung di hanger-hanger dengan rapi. Juga kuambil kotak plastik yang berisi seperangkat alat mandi. Tadinya ia duduk manis, bertengger di antara perlengkapan mandi volunteer yang lain.

Anganku kembali melayang tentang Nay yang masih berada di balik sumur. Gadis itu sedang mencuci baju sendirian. Sendirian! Sendirian, kawan. Kuulang lagi, sendirian. Cukup ya.

Aku terkagum. Bagaimana bisa gadis itu sebegitu tangguh berani memecah kelam malam sendiri tanpa ditemani siapa-siapa di tempat ini? Horor lo. Sepi, sunyi, luas, hiii. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu bermunculan di dalam kepalaku.

Lupakah? Sejatinya memang kita tidak pernah sendiri. Allah di kemanakan?” sebuah suara dari batinku menyeruak. Astaghfirullah, aku beristigfar.

Kawan, mari menjelajah ruang besar ini. Kamar mandi yang berada di rumah ini adalah kamar mandi khas Jawa. Kalian bisa menemui sebuah sumur lengkap dengan pompa air otomatis di luar kamar mandi. Ruangan itu berada di dapur yang, percayalah, kalian bisa jogging. Bahkan kalian bisa melakukan senam aerobik dengan kapasitas sekitar dua puluh orang dengan sangat leluasa di dapur ini—sangat luas.

Di samping sumur itu terdapat sebuah ruangan bertembok. Namun batas temboknya tidak sampai menyundul langit-langit rumah. Sebuah pintu seng terparkir rapi sebagai jalan keluar-masuk ruang itu. Itulah kamar mandi. Ukurannya lumayan luas. Bak airnya yang berbentuk balok tanpa atap itu sangat besar. Jika kalian berpikir untuk menjadikannya sebuah bath up, barangkali malah membuat tubuh tenggelam ketika penuh terisi air. Sering aku membayangkan bahwa bath up itu adalah liang kubur yang akan memasukkanku di dalam perut bumi. Aku selalu merinding jika membayangkannya.

“My, tunggu aku ya!” pintaku pada sahabatku itu. Aku memang memiliki panggilan khusus untuknya. Umy adalah caraku memanggilnya.

Suaraku masih terdengar serak sebab memang aku baru bangun dari tidur yang berdurasi beberapa jam saja. Sebab Niken—partner mengajarku—dan aku lembur untuk persiapan mengajar pagi ini.

“Ndak mau,” jawabnya menyebalkan. Kedua sudut bibirku ku tarik ke bawah.

“Umy, huaa…” aku merengek.

“Hahaha. Iya iya. Sana lo cepat mandi!” jawabnya.

“Mmmm… Kau sudah mandi?” tanyaku.

“Sudah dong. Sana gih. Keburu ramai lo ntar,” dia mengingatkan.

“Nunggu aku gak My?” aku memastikan.

“Gak lah. Ngapain? Tak tinggal ya,” jawabnya, menggodaku.

“Myyyy…Emoh!” aku merajuk. Maaf, ya. Aku termasuk penakut.

“Iya-iya. Jangan lama-lama. Lima menit,” dia memberikan syarat.

“Enam menit!” aku menawar.

“Hahaha. Tepat lo ya! Udah sanaa!” sahabatku itu mendorongku masuk setelah menaruh cuciannya yang rampung di dalam ember. Jika ia terus meladeniku, mungkin habislah waktu kami untuk sekadar chit-chat.

“Makasih, cuyung,[1]” jawabku sembari mengunci pintu kamar mandi yang lumayan luas itu.

Kawan, munculkah pertanyaan tentang kami siapa dan sedang apa pada benak kalian? Sabarlah, semua akan terjawab pada waktunya. Hehe. Baiklah, mari kita berkenalan kawanku. Namaku Rara. Lengkapnya ‘Aina Mardiyyati Azzahra. Aku salah satu mahasiswi IAIN Tulungagung jurusan Tadris Bahasa Inggris. Saat ini aku sudah menduduki semester ke-enam. Dan pada kali ini, aku mengikuti sebuah even Wiyata Bhakti yang diadakan oleh HMJ TBI.

Wiyata Bhakti adalah ajang pengabdian kepada masyarakat dan sekaligus mengajak kami—mahasiswa TBI—untuk practice langsung di lapangan tentang teori mengajar Bahasa Inggris yang sudah kami dapatkan ketika di bangku kuliah. Ada istilah spesial ya bagi sukarelawan yang bersedia untuk mengabdikan diri dalam even ini, yakni volunteer.

Even ini sejatinya adalah kali kedua aku mengikutinya. Dahulu, pada semester 2 awal, aku juga salah satu volunteer. Namun pada semester 4, karena beberapa hal, aku tidak mendaftar. Merasa kangen dengan suasana Wiyata Bhakti, pada semester 6 ini, aku mendaftar lagi. Jadi even ini bisa diikuti oleh seluruh mahasiwa jurusan TBI semua semester. Namun ketika sudah menjenjaki semester ke 8, jarang mahasiswa yang bersedia ikut. Maklum, ya. Kesibukannya sudah berbeda.

Even ini membuat kami ditempa dan belajar. Bukan hanya dengan mengajar, kami bisa menerapkan segala teori-teori teaching and learning yang sudah kami keep dalam memori kami, namun apa yang kami dapatkan sejatinya lebih dari itu. Misalnya saja, kami belajar hidup dengan orang asing. Hidup bersama masyarakat yang heterogen. Sungguh rupa-rupa warna sifat mereka. Aduhai sahabatku, kita tidak sedang membahas lagu Balonku lo ya. Tidak.

Selain itu, hal yang paling menarik bagiku, adalah program kali ini berada di dekat Pondok Pesantren Jabung, Kabupaten Blitar. Meski sebenarnya, setiap acara Wiyata Bhakti memang selalu berada di lingkungan Pesantren. Namun berada di lingkungan pesantren ini bisa memberikan bumbu lain yang membuat hati menjadi adem dan tenang. Ah, pesantren. Nah, inilah yang menjadi salah satu alasan utamaku untuk mengikuti even Wiyata Bhakti.

Sahabatku, jurusan kami yang cenderung bersifat umum, yakni Tadris Bahasa Inggris memang kurang mendapatkan pemaparan ilmu keislaman sebagai nutrisi kesehatan jiwa. Meski sebenarnya sudah bisa dikata cukup kurikulum yang diberikan oleh kampus. Namun, ya begitulah. Jika tidak pandai-pandai membuat menejemen yang apik dan rapi, tentu asupan gizi untuk jiwa bisa terkurangi. Nah, dengan inovasi program yang semoga penuh dengan berkah ini mampu menjadi alternatif kami untuk mereguk lezatnya madu ilmu Islam yang bisa memberikan nuansa manis di dalam ruh kami.

Jarak Pondok Pesantren dan juga ndalem[2] Abah dengan rumah yang kami tempati hanya terpaut satu rumah saja. Sangat dekat. Bahkan rumah yang sedang kami tempati ini adalah salah satu rumah saudara dari Abah pemilik pesantren itu.

Kemarin kudengar dari salah satu panitia yang merupakan rekan seangkatan. Mereka telah sowan[3] di ndalem dan meminta kepada Abah agar berkenan menuangkan teko ilmunya kepada cawan-cawan kami. Sehingga kami bisa langsung, live mengaji dengan beliau selama 2 pekan full setiap selesai salat Maghrib, hingga Adzan Isya berkumandang.

Sebuah jackpot[4] ya? Merupakan rezeki yang harus kami syukuri dengan sangat. Aku termasuk orang yang sangat beruntung bisa mengikuti acara ini. Sebab, Allah menuangkan setetes ilmu-Nya pada kesempatan ini. Aku juga bisa memuaskan dahaga akan ilmu-ilmu Pesantren yang belum pernah kusinggahi. Bagaikan embun yang menetes pada fajar yang masih ranum.

***

Sunyi masih merajai detik ini. Hamba yang bernama manusia belum banyak yang terbangun. Malah hamba-Nya yang lain yang ikut menyemarakkan suasana qiyamul lail yang syahdu.

Krik-krik-krik-krik-krik

Di dalam kamar mandi, aku tersenyum mendengarnya. Hatiku berdesir. Itu adalah lantunan zikir dari para jangkrik. Mereka senantiasa mengagung-agungkan Asma Allah. Mereka selalu bertasbih kepada Rabb al-‘Alamin.

Bagaimana denganku? Padahal, katanya manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia, bahkan lebih dimuliakan daripada para malaikat. Lantas apa mulianya jika berzikir saja tidak pernah. Dalam segar guyuran air, aku merenung.

Krik-krik-krik-krik-krik

Masih kudengar nada indah itu. Zikir para jangkrik membuatku menunduk, malu. Menyisakan kesyahduan di sepertiga malam ini. Aku bersegera untuk menyudahi mandiku. Jiwa ini semakin merindu untuk rebah kepada Sang Kekasih. Tak sabar rasanya.

Seusainya, kubuka pintu kamar mandi. Kulangkahkan kakiku menapaki area sumur yang ada pancuran di dekatnya. Belum sempat aku menaruh peralatan mandi, pintu yang baru kulewati itu tertutup kembali. Ternyata sebagian jiwa-jiwa yang tadinya terlelap sudah mulai bangun. Mereka mengantre.

Sahabatku, ada total enam puluh mahasiswi yang mengikuti program ini—panitia dan volunteer. Kamar mandinya banyak sekali, yakni satu buah saja. Jadi, bisa ya kita membayangkan bagaimana panjangnya kami berbaris? Lebih panjang dari permainan ular naga. Percayalah. Mari kita kembali.

Seusai mengambil wudu, aku menoleh ke arah utara. Kulihat Nay duduk manis di salah satu amben[5] dekat bumbu dapur. Ember di sampingnya telah kosong. Sepertinya dia sudah selesai menjemur cuciannya. Entah kapan dia menjemurnya. Mungkin ketika aku masih mandi, dia mengambil kesempatan untuk menjemur cuciannya.

Sepi mulai pudar. Satu, dua, tiga manusia mulai bangun dan mengambil nomor antrean—melakukan order kepada kawan yang mengantre untuk menjagakan alat mandinya—untuk memasuki kamar mandi. Riuh sudah keadaan dapur yang tadinya sunyi ini. Suasana semakin meriah ketika para panitia yang mengurusi masalah paling crucial, yakni tim konsumsi sudah memulai aktivitasnya di dapur.

Hatta, bisa kita bayangkan, ya bagaimana pemandangan indah yang tampak? Ada yang menggerus bumbu dapur, ada yang adang[6] nasi, ada yang memotong kangkung, ada juga yang meringis menahan pipis, ada yang masih menguap. Serba adalah pokoknya.

Seusai wudu, Nay dan aku kembali melangkah menuju ke ‘kamar’ kami. Meski suasana dapur sudah mulai semarak, namun di ruang ini, lampu masih padam. Seperti tadi, aku melangkah berjinjit-jinjit untuk menghindari injakan pada tempat yang tidak seharusnya. Zalim kan jika menempatkan sesuatu pada yang tak seharusnya? Aku bergidik. Kakiku terus menjangkah. Kuikuti Nay dengan mengekor di belakangnya menuju pojok ruangan yang lebih longgar dan memungkinkan untuk salat.

Setiba mengambil mukena, kami terhanyut dalam qiyamul lail. Dadaku bergetar. Atmosfer ini jarang sekali kujumpai ketika berada di rumah kos. Aku bersimpuh dengan jalan bersujud kepada-Nya. Rasa hatiku seperti membuncah. Aku meminta pada Tuhanku. Aku ingin suasana ini di sisa hidupku. Aku ingin tinggal di lingkungan pesantren yang selama ini belum pernah kujejaki. Aku ingin mendedikasikan ilmu serta diriku untuk umat. Masyaallah. Tidak terasa, air mata menyembul dari kelopak mataku. Jiwaku meradang. Sungguh, betapa Allah sayang. Kubiarkan jiwaku terhanyut oleh arus rindu dan cinta yang berkecipak. Aku sedang didera kerinduan yang membuat hatiku terasa sejuk. Amat sejuk.

Seusai rebah dan bersujud, aku bangun. Jemariku kugunakan untuk melakukan wirid. Beberapa menit, wiridku usai.

Kutoleh Nay. Aku terpesona. Wajahnya bersinar. Mulutku tidak sadar menganga. Ah, kawan. Maaf. Ternyata layar ponsel memberikan cahaya di dalam wajahnya.

“Ma’tsuratnya dibaca, Beb,” ucapnya setelah mendapatiku menatapnya. Aku sedikit meringis. Segera kugiring tubuh yang masih terbalut mukena ini untuk mengambil benda mungil kesayanganku—ponsel—yang teronggok di dekat bantal tidur. Setelah itu, kuseret kembali tubuhku ke tempat semula. Button on kunyalakan. Wajahku pasti bersinar juga. Hatiku cekikikan. Baiklah, kawan. Abaikan ya. Jemariku kubiarkan menari menyentuh layar si mungil. Kudapati sebuah aikon yang di  bawahnya tertulis kata ‘Ma’tsurat’. Klik. Muncullah bacaan-bacaan yang bisa menyusupkan desau angin yang merontokkan gundah hati.

Ashbahnaa wa ash bahal mulku lillahi wal hamdulillahi laa syari kalah, laa ilaaha illa huwa wa ilaihinnusyur,[7]” ucapku lirih, hampir tidak terdengar.

Zikir pagi—yang hakikatnya mengingat Allah—memang memberikan dampak dahsyat di dalam hati. Alangkah indahnya jika pagi dimulai dengan mengagung-agungkan Asma-Nya sebelum terjun dalam kubang ingar-bingar dunia. Alangkah syahdunya membuka lembar hari dengan mengingat-Nya sebelum mengingat perkara-perkara dunia. Oh, alangkah indahnya.

Sahabatku, aku sedikit berbisik boleh? Meski mungkin kalian mengatakan tidak boleh, tetap aku harus mengisahkannya. Agar tidak timbul tanya dalam benak kalian. Membuat orang penasaran itu berdosa tidak? Ah, ranahnya hukum. Tidak berani saya main-main jika tidak ada dalil naqli wa aqli yang mendukung. Kukisahkan saja, ya? Mau kan menyimak? Terima kasih—paksa.

Alkisah, Nay dan aku bukan jebolan Pondok Pesantren, kawan. Kami tidak pernah berkesempatan untuk mengenyam renyah dan gurihnya bangku pesantren. Maka, bersyukurlah jika kalian pernah mengaji memeras ilmu dari kitab-kitab para ulama terdahulu yang sungguh kuirikan. Hal itu mampu membuat dahaga di dalam benakku semakin meronta. Sungguh, aku ingin bisa mengkaji itu semua.

Namun, bukan berarti kami tidak bersyukur atas rajutan takdir terindah yang Allah berikan kepada kami. Sungguh, alhamdulillah wa bi’idznillah, Allah menuntun kami melalui jalan yang lain. Jalan terindah yang bisa mengubah haluan hidup kami. Jalan terindah yang bisa melegakan dahaga yang meraung-raung dalam batin kami. Intinya, Allah memberikan cara lain agar cawan kami basah terhadap ilmu agama yang mampu menuntun kami untuk mengenal Rabb kami. Bagaimana kisahnya? Mohon maaf, kawan. Kisah itu terlampau panjang dan pelik. Semoga Allah memudahkan jemari ini untuk merangkai bunga-bunga cerita yang masih terserak. Maaf, ya jika pada akhirnya aku tetap menyisakan tanya. Oh, sungguh mohon maafkan al-fakir ini.

Baik, kita kembali. Seusai mengkhatamkan al-Ma’tsurat, kami—Nay dan aku—duduk di tempat kami tidur tadi. Lampu masih padam. Kami saling membisu, berkutat dengan ponsel masing-masing. Sesekali kami tertawa. Kami memiliki urusan yang mengharuskan kami melakukan snorkeling[8] di dalam dunia maya. Urusan yang genting. Apakah kiranya kalian berkenan untuk menumpahkan rasa percaya perihal hal ini?

Beberapa menit kemudian, tim panitia menyalakan lampu ruang ini. Gulita pecah menjadi terang. Mataku berkedip-kedip. Pupilku mengecil, beradaptasi dengan cahaya yang berpendar di seluruh ruangan. Kawan-kawan yang tadinya masih didekap selimut mulai menggeliat. Mereka mengumpulkan nyawanya kembali. Terduduk, kemudian bangkit berdiri.

Lamat-lamat, kudengar suara tarhim yang berasal dari surau-surau. Kawan, dekat tempat tinggal kami ada sebuah masjid. Tarhim juga menggema di sana. Suara syahdu sang qori’ mampu melesatkan busur rindu tepat pada ulu hatiku. Mengapa aku mengatakan kata itu—rindu? Entahlah.

Lima belas menit kemudian, terurailah sepi yang beberapa jam sempat menguasai seantero jagat Desa Jabung itu. Syahdan, kelam malam terlipat. Semburat cahaya fajar merekah dari ufuk timur. Para mu’adzin bersahut-sahutan, berlomba untuk mengumandangkan azan Subuh pertama yang kami—volunteer—dengar di sini. Masyaallah, suaranya bertalu-talu, mendayu-dayu, merayu-rayu, menentramkan ruh-ruh manusia yang merindu puncak cahayanya, yakni Allah Rabb semesta alam.

Aku kembali mengenakan mukena yang duduk manis di dekatku. Aku menunggu rekan-rekan untuk melaksanakan salat berjamaah. Memang, kawan, salat berjamaah adalah salah satu agenda yang ada dalam acara ini. Subuh ini adalah pertama kali kami merealisasikannya.

Para kaum Hawa yang tinggal di rumah ini melakukan persiapan untuk salat berjamah. Hatiku berjingkrak-jingkrak tak karuan. Mereka mulai berdatangan dan membentuk shaf untuk melaksanakan salat. Ada desiran lembut yang menyapa batinku. Pandanganku terbias. Sekumpulan orang-orang ini bisa disatukan semua dalam salat. Masyaallah, betapa Mahaagung Allah Rabb itu.

Para panitia telah menggilir jadwal imam salat. Benakku melayang terbang di awang. Aku jadi imam salat? Apakah bisa? Ah, cita-citaku adalah mampu menjadi insan yang bermanfaat bagi umat. Lantas apa yang akan kutawarkan jika mengimami salat saja aku tidak bisa? Aku harus belajar! Tekad itu membentuk bundaran di dalam hatiku—tekad bulat.

Beberapa dari kami melakukan salat qabliyah Subuh. Aku juga berdiri untuk melakasanakannya. Seusai salam, kusempatkan melafazkan wirid beberapa kali.

Qadqa matish shalah qadqa matish shalah. Allahu akbar allaahu akbar, Lailaahaillallah.” Salah seorang dari kami mengumandangkan iqamah. Aku berdiri. Shaf segera dirapatkan. Kini, posisiku berada tepat di belakang sang imam yang merupakan sahabatku juga, Anni namanya.

Subuh yang syahdu. Kami semua seperti berada di dalam sebuah kapal yang berlayar di lautan datar bak kaca. Hening. Sepi. Rindu. Cinta. Semua rasa itu seakan berdenyar menemani subuh pertama kami di Desa Jabung.

Rasa itu semakin bergolak, kawan. Ketika seusainya, satu per satu mahasiswi IAIN Tulungagung ini mulai mengambil Mushaf Alquran yang rapi berbaris di atas dipan yang tersedia. Suara orang mendaras menggaung di dalam ruangan. Suara-suara yang menyisakan gerimis manis di tengah pancaroba hati yang dijejalkan dunia.

Aku benar-benar merasakan gemelutuk hati di dalam kalbuku. Apakah mungkin seperti ini yang disebut sebagai pesantren? Apakah begini keadaan tempat bernama pesantren itu? Sungguh, kawan. Hatiku tentram, tenang.

Gemuruh rasa yang membahana itu ternyata mampu mengundang butir air bening untuk keluar dari peraduannya. Sudut mataku basah. Allah. Aku teringat mimpiku. Betapa aku bermimpi untuk menghabiskan sisa hidupku di lingkungan Pesantren. Boleh ya diketawakan. Namun, tawa dunia tidak akan terlalu mengusikku. Aku akan berusaha menggenggam sebuah prinsip untuk tidak pernah takut dan menyerah pada impian yang sekiranya mampu mengundang rida Sang Tuhan. Meski tampak mustahil, aku tetap mengayuhkan sejengkal demi sejengkal doa. Selangkah demi selangkah ihtiyar. Juga sepetak hamparan tawakkal, demi impian itu mampu dimakbulkan Allah. Apakah ada yang tidak mungkin jika Allah yang berkehendak?

***

Matahari Senin mulai ranum mengintip di ufuk timur. Jika kata Senin yang menyapa, apa yang muncul dalam benak kalian? Ah, kalian tentu mengerti definisi Senin. Boleh sedikit kubantu? Senin berarti sibuk, lelah, penat, bising, deru, ricik, geliat, lari, napas, peluh, darah, ah apa lagi? Cukupkah? Satu lagi yang paling penting dan jangan terlupa, sahabatku. Senin berarti hari dimana kekasih tercinta, baginda Nabi yang mulia, Muhammad Saw., (allahumma shalli alaih) terlahir di dunia.

Tentu kawan paham hendak dibawa kemana pembicaraan ini. Memang belum bisa istikomah, namun insyaallah aku sedang berusaha untuk menyentuh kata istikomah dalam merayakan Senin ini. Puasa sunnah, sahabatku. Hari ini aku sedang menjalankan salah satu sunnah Rasulullah Saw., yakni berpuasa. Kata Kung Mujito (alm), salah satu guru tercinta ketika duduk di bangku MAN Kota Blitar, ibadah puasa memberikan berjuta manfaat bagi yang menjalankan. Beliau menyampaikan bahwa ibadah yang lain untuk diri sendiri. Namun puasa adalah ibadah yang langsung tertuju kepada Allah. Sebab yang mengetahui bahwa diri kita berpuasa, hanyalah Allah dan diri kita sendiri.

Jika kita mempersembahkan diri kita kepada-Nya, bukankah Allah telah berjanji untuk memberikan balasan terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang rela menahan lapar, haus, serta seluruh hal-hal yang membatalkan puasa maupun mengurangi pahala puasa, dari terbitnya fajar, hingga terbenamnya matahari—hehe, kok menjadi definisi puasa?

Namun, jika cinta yang menjadi dasarnya, maka apa yang lebih indah selain membuat Sang Kekasih merasakan bahagia sebab kekasih-Nya menjalankan ibadah lantaran cinta untuk-Nya dan tanpa mengharap secuil apapun balasan kecuali kebahagiaan Yang Dicinta? Apa yang lebih membahagiakan seorang pecinta selain patuh dan membuat Yang dicinta bahagia? Pecinta, bisakah engkau menjawabnya?

Nay sudah bisa istikomah dalam berpuasa Dawud. Levelnya tinggi. Dan di sinilah aku. Masih menginjak anak tangga di level Senin-Kamis yang bahkan sering terjungkal dan harus memulainya dari dasar kembali. Ah, dasar diriku.

Siapa coba yang tidak menginginkan menjejaki puasa sunnah yang paling utama itu? Pernah terbesit niat, namun hanya sebatas niat. Berupa-rupa alasanku itu. Yang capailah, yang pusinglah, yang tidak kuatlah, yang ini lah, yang itu lah. Sungguh menyesakkan ya? Padahal aku tidak suka alasan. Sungguh aku benci dengan orang yang selalu beralasan. Prinsip ini kupetik dari nasihat indah, Bapak Isa, suami novelis Indonesia, Ibunda Asma Nadia, untuk menerapkan no excuse[9] dalam segala hal.

Memalukan. Prinsip sendiri kok dilanggar. Aku mencaci diriku sendiri, kawan. Begitulah kawan, rumus untuk mencapai bintang kesuksesan yang berkelip-kelip merayu di langit sana. Musuhnya adalah diri sendiri. Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan untuk selalu istikomah dalam memetik impian dan senantiasa tenggelam dalam samudera nikmat untuk beribadah kepada-Nya.

Selain Nay dan aku, ternyata ada beberapa kawan yang juga sedang berpuasa. Hatiku benar-benar terasa bening. Aku mendambakan suasana seperti ini. Sangat mendamba.

Sehari-hari, lingkunganku adalah lingkungan kos. Sebab kita pluralis ya, jadinya ada banyak macam rasa yang dirasakan. Sayangnya, suasana teduh ini jarang aku miliki.

Hatiku selalu meminta, mengemis kepada Dzat Yang Mahaagung, Mahamulia, Mahasempurna. Semoga aku bisa menghabiskan sisa usiaku di tengah orang-orang shalih. Dimana Alquran mampu kudengar dengan sering dan mudahnya. Dimana semuanya berusaha untuk mematuhi aturan Allah, menjalankan perintah Allah, menghindari, bahkan membenci untuk melakukan apa yang dilarang, dilaknat oleh-Nya. Walau memang, kita tidak boleh mengharapkan atmosfer yang 100% saleh dan sempurna, sebab ini hanya dunia. Sedang semua rasa tenang, bahagia, tiada nestapa adalah definisi dari surga. Tempat itu adalah surga, bersama Rasulullah Saw., Ibunda Khadijah, para ahlul bait, para sahabat, para tabi’in, para tabi’it tabi’in, para ‘ulama, para ‘alim, hamba-hamba shaleh yang sangat beruntung bisa Allah izinkan untuk menapaki surga.

Siapa sih yang tidak mau di sana bersama para kekasih Allah itu? Allah. Walau aku tidak layak, namun hatiku tetap mengaminkan, dan aku tetap meminta kepada Rabbku. Tak tahu malu.

Jika anganku menari tentang hal itu, aku teringat sebuah syair indah yang dilantunkan oleh salah seorang sufi, Abu Nawas.

 

Ilahi lastulil firdausi ahla

Wala aqwa ‘alannaril jahimi

Fahab li taubatan waghfir dzunubi

Fainnaka gha firudz dzambil ‘adzimi

 

Wahai Tuhanku, hamba bukanlah ahli surga

Namun hamba juga tak mampu berada di neraka (Jahim)

Maka berikanlah hamba ampunan, dan ampunilah dosaku

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar

 

Hatiku merebak. Gerimis menguasainya. Rindu. Rindu. Rindu. Satu kata yang terbingkis dalam tiga paket itu menenggelamkanku. Aku rindu kepada Rabbku. Jiwaku meradang atas kerinduan ini kepada-Nya.

***

Jarum jam tanganku pongah menunjuk pada angka tujuh. Jam mengajar pertama sudah usai, sahabat. Kami memang mengajar dari jam 06.00-07.00 saja. Nanti siang, sepulang sekolah, pukul 14.00-15.00 kami akan ke kelas kembali. Tujuan kami adalah memberikan jam tambahan ekstra untuk mereka dengan tidak mengusik jam pelajaran. Jadi begitulah jam kerja kami.

Setiba di rumah, aku berganti baju yang lebih santai. Seusainya, Nay dan aku mengambil wudu. Wuduku tentu sudah hilang sebab tadi aku bersalaman dengan para siswa. Siswa yang kuajar adalah kelas dua belas. Menurut Imam Syafi’i, madzab yang kuanut di sini berarti sudah batal ya wudunya.

Tetesan air yang menyentuh kulitku menawarkan kesegaran kembali. Setelahnya, Nay dan aku menuju ke salah satu ruang tertutup yang berada di rumah itu untuk melaksanakan salat Dhuha. Kami munfarid.

Pukul 09.00 adalah waktu untuk evaluasi. Ruangan serbaguna kami, kamar tidur, tempat jamaah salat itu disulap menjadi ruang rapat. Bantal-bantal serta selimut-selimut ditaruh di pinggir, disisihkan dengan rapi. Di ruang itulah, seluruh panitia dan volunteer duduk melingkar dengan pola lingkaran besar. Para panitia dan volunteer putra juga turut hadir.

Kami melakukan rapat besar untuk evaluasi terhadap apa yang dilakukan pagi ini, juga melaporkan rencana apa yang akan direalisasikan pada peserta didik untuk siang nanti. Mulai dari kelas satu MI hingga kelas dua belas MA.

Aku menyimak mereka. Sesekali terkekeh ketika mendengar beberapa kisah kawan-kawanku. Mereka menceritakan perihal anak didik mereka yang lucu-lucu. Ada peserta didik kelas satu MI yang malah mengajak petak umpet. Katanya mereka maunya belajar sambil bermain. Ada juga yang tidak bisa diam. Ah, mengundang sebuah senyuman di wajah. Sungguh, kawan. Bermain bersama anak-anak memang bisa membuat kita kembali muda. Walau kadang gemas bukan main. Sering ya, tangan ini berkeinginan untuk mencubit pipi-pipi mereka yang masih chubby dan imut itu.

Pagi ini belum ada permasalahan yang berarti. Jadi kita semua bisa bersegera mengakhiri rapat evaluasi. Aku mengajak Niken untuk melakukan preparation untuk siang nanti. Kami memakai match game. Jadi para siswa akan diajak untuk aktif.

Teknik ini adalah salah satu teknik mengajar, yakni Total Physical Respons. Kemarin aku baru saja mempresentasikan makalah perihal teknik ini, jadi insyaallah masih segar dalam pikiranku.

Dari nama teknik ini, tentu bisa diprediksi ya bagaimana inti Total Physical Respons itu. Hakikatnya, pendidik mengajak para peserta didik untuk aktif bergerak dalam belajar. Kami memutuskan menggunakan teknik ini sebab kami akan masuk dalam kelas, ketika mereka merasakan lelah, letih, lesu. Kami berharap, teknik ini bisa membidik maksimal pada mereka.

Setelah perencanaan kami rampung, kami mengakhirinya. Aku melanjutkan aktivitasku yang lain. Menunggu takdir apa yang akan terjadi hari ini.

***

Detik berjalan. Lambat, namun pasti. Sang detik ternyata mengantar matahari untuk menampakkan rona jingga di batas cakrawala sebelah barat. Semburat senja mulai tampak. Hamparan biru terlukis oleh warna lain. Ada kelabu, putih, dan yang paling dominan, jingga yang tergambar di sana. Burung-burung tampak terbang kembali kepada sarangnya setelah seharian beribadah, mencarikan nafkah untuk anak-anaknya. Panorama semesta yang menawan.

Bersama volunteer dan beberapa panitia yang lain, aku duduk-duduk di teras rumah kediaman kami. Bercengkerama, berkisah, menikmati senja yang tampak anggun.

Jika membahas senja, maka aku akan teringat Abdullah Khairul Azzam. Kawan mengenalnya bukan? Tokoh yang diperankan oleh Kang Khalidi Asadil Alam itu adalah tokoh utama dalam kisah Ketika Cinta Bertasbih karangan Habiburrahman El-Shirazy.

Aku teringat, bahwa kisah Azzam bermula dengan panorama senja yang bertasbih di Alexandria. Disana, tergambar sahut-sahutan Azan dari negeri seribu menara yang berhasil memecah deru kesibukan manusia. Menampakkan alam yang melipat siang dengan hamparan malam. Mengajak insan-insan untuk segera mengingat Tuhan. Jika memori ini mengajakku berkelana melewati portal pikiran, maka hatiku berdesir. Azzam, ya. Pemuda impian bagi setiap wanita.

Sebagai wanita, tentu pikiran tentang hal ini sempat menyeruak. Siapa sih yang tidak ingin diimami oleh seorang lelaki yang saleh? Yang bukan hanya dunia tujuan utamanya. Melainkan hingga surga. Surga, bukan main-main, surga, sahabatku. Aku hanya menunduk melihat jemari kakiku yang beralas sandal japit ini. Aku malu mengingatinya. Sebab, aku tidak pantas mendambakan orang seperti itu. Meski aku merasa tidak pantas, aku tetap meminta kepada Tuhanku. Hingga kelak, suratan takdir terindah-Nya mampu menyapaku.

Azan mulai terdengar di Desa Jabung ini. Kami semua bersegera masuk ke dalam rumah, persiapan salat Maghrib dan mengaji dengan Abah. Dadaku membuncah.

Sesampainya di dalam, hatiku terharu melihat perhatian dari para panitia yang membuatku speechless. Masyaallah sungguh. Para panitia mengetahui bahwa Nay dan aku berpuasa. Mereka menyediakan teh hangat khusus untuk kami. Hatiku bersyukur sekali. Semoga mereka mendapatkan barakah dari puasa kami lantaran menyediakan minuman terbaik untuk kami ketika kami berbuka. Fabiyyi aalaa irabbikuma tukadzdziban?[10]

Setelah membatalkan puasa, aku ikut bersiap-siap untuk salat jamaah Maghrib. Belum tiba giliranku untuk menjadi imam. Namun hatiku sedikit berdebar. Setelah Maghrib, kami akan mendapatkan ilmu baru dari Abah. Aku mendengar dari beberapa rekanku, bahwa Abah pengasuh Pondok Pesantren Jabung itu tidak mau dipanggil Abah. Beliau lebih suka dan berkenan dipanggil dengan sebutan Pak Poh. Aku mengikuti kawan-kawanku.

Iqamah sudah dikumandangkan. Aku, alhamdulillah masih berdiri di shaf depan, belakang imam. Kami melakukan salat Maghrib.

Selepas salat Maghrib, beberapa dari kami mengamalkan salat sunnah Ba’dliyah, kemudian mengambil mushaf-mushaf milik kami yang berjajar rapi di sebuah buffet lemari. Kami memang membawa mushaf dari rumah. Tidak lama kemudian, lantunan ayat-ayat suci Alquran membahana di seluruh ruangan serbaguna kami. Kami menunggu Pak Poh Imam Ghazali—nama pengasuh Pon. Pes. Jabung—untuk datang.

Panitia sudah menyiapkan sebuah meja kecil yang terpampang sajadah di atasnya. Ditata serapi mungkin, dan ada secangkir kopi yang bertengger di atasnya.

Aku masih duduk di tempatku salat. Sembari memegang Mushaf Marwah berwarna pink, hadiah ulang tahun dari rekan-rekan sekelasku, sewaktu aku menduduki bangku MAN di MAN Kota Blitar.

Tidak lama, sosok itu datang. Seorang Kyai. Beliau mengenakan sarung, berpeci hitam dan berbaju batik. Sederhana penampilan beliau. Kami menyudahi bacaan kami dan mulai berfokus kepada beliau. Hatiku ndredek. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang begitu teduh.

Pak Poh Imam Ghazali terlihat sudah sepuh. Namun berwibawa. Beliau mengucapkan salam lengkap. Kami menjawab. Kemudian beliau mengajak kami berdoa sebelum mulai mengaji. Hatiku terhanyut dalam suasana yang amat tenang. Allah. Hanya itu yang ingin aku dengung-dengungkan.

Beliau memberikan beberapa lembar materi bertuliskan Arab. Hanya beberapa, sebab beliau belum mengetahui jumlah total kami. Jadi kami diminta untuk menggandakan materi beliau sesuai jumlah total kami.

Aku berdesir. Aku belum mendapatkan salah satu selebaran itu. Masih bergabung dengan rekan sampingku, kubaca tulisan berlafaz Arab itu. Nawaitutta ‘aluma wa ta’liima. Sepertinya tema kali ini adalah perihal niat menuntut ilmu. Tema yang beliau pilih benar-benar sesuai dengan kami yang sedang berkecimpung dalam dunia thalabul ‘ilmi.

Pak Poh telah selesai memberikan tawassul. Aku mengosongkan cawan ilmuku. Kuharap, aku bisa mengisi penuh cawan ilmu ini kata demi kata yang beliau lontarkan kelak. Aku ingin mereguk, menenggak ilmu yang beliau tuangkan. Sebanyak-banyaknya ingin kureguk.

“Ini ijazah buat mbak-mbak dari IAIN. Sebisa mungkin, sebelum belajar ataupun mengajar, ijazah ini diamalkan. Bacaannya memang lumayan panjang. Tapi insyaallah, banyak fadhilah manfaatnya. Agar bisa mendapatkan kebaikan karena Allah. Niat mengajar belajar, hanya untuk mencari rida Allah.”, Pak Poh memulai memberikan mukaddimah. Hatiku melojak-lonjak, berjingkrak-jingkrak.

“Jadi nanti, dua pekan ke depan, sebelum kita mengaji, kita membaca doa ini dahulu nggih?” ajak Pak Poh.

“Nggih, Pak Poh,” jawab kami serempak.

“Ayo dibaca bersama. Bismillahirrahmaanirrahim.” Pak Poh mulai membimbing kami. Sungguh, kawanku. Aku tidak bisa menggambarkan deburan bahagia yang membuat hatiku merasakan sesuatu yang luar biasa. Aku ingin menangis. Air mataku merebak. Ya, lingkungan pesantren seperti ini yang aku damba. Aku sangat mendamba. Kurasakan dekapan hangat Allah pada jiwaku. Allah. Allah. Allahu Rabbi.

Semenjak pertemuan kami dengan Pak Poh Imam Ghazali malam itu, hatiku bermusim semi dengan bunga-bunga syukur. Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah ‘alaa kulli hal sebab Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mereguk nikmatnya ilmu di acara ini. Meski aku memang belum pernah menjadi santri, ternyata aku berkesempatan sedikit mencicip madu pesantren yang mampu menenangkan rona jiwa yang gersang.

Kembali aku teringat impian utamaku. Kuingin bisa menghabiskan sisa usia di lingkungan pesantren yang mulia. Kuingin menghirup aroma pesantren yang harum dan sarat akan ketenangan jiwa. Kuingin mendekap hangat jiwa-jiwa yang sedang mengais dan mengaji kalam-kalam Ilahi, hadis-hadis Nabi, dan karangan para ulama yang ‘alim. Kuingin melihat kibaran jilbab panjang para santriwati, serta kibaran sarung yang dikenakan kang-kang santri. Dadaku bergemuruh, mendidih dan bergolak membayangkannya.

Beginilah, kawan. Seutas impian yang kurasakan. Impianku seperti terwujud saja untuk menenggak dan mengenal apa itu Pesantren. Meski ia hanya setetes. Ya, bagaikan setetes embun impian yang aku damba selama ini. Setetes itu sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan hatiku yang tandus. Pepohon iman, semoga semakin tumbuh subur di hatiku. Bunga-bunga iman, semoga selalu bersemi di dalam kalbuku.

 


[1]Bahasa slank dari kata ‘sayang’. Menyebutkan ‘sayang’ memang sebutan akrab untuk saudari sesama Muslim. Bukan bermaksud LGBT ya. Naudzubillah.

[2]Sebutan untuk rumah yang tempat tinggal Kyai.

[3]Bertandang

[4]Hadiah terbesar dalam sebuah kompetisi.

[5]Seperti tempat tidur, namun tidak ada kasurnya. Biasanya digunakan untuk duduk dan menaruh bumbu-bumbu dapur ketika memasak.

[6]Menanak nasi menggunakan panci besar di tungku karena biasanya digunakan untuk porsi yang besar juga.

[7]“Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali.”

[8]Menyelam

[9]Tidak ada alasan

[10]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan? QS. Ar-Rahman

Memperoleh Derajat Luhur di Sisi Allah SWT., ala Alfiyyah ibn Malik

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP) IAIN Tulungagung)
.
Memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., adalah dambaan setiap insan muslim. Siapapun akan mendambakannya, sekalipun ia hanya memiliki iman seberat Dzarah pun ia pasti mendambakannya. Lantas, bagaimana cara memperolehnya?.
.
Berikut ini akan dipaparkan bagaimana cara memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut kitab Nahwu yang sudah Fenomenal, yaitu Khulashoh Alfiyyah ibn Malik. al Syeikh al Jalal al Din ibn Abdillah ibn Malik Al Andalusiy berkata dalam kitabnya:
.
بِالجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَى وَ أَلْ #
      وَ مُسْنَدٍ لِلإِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ
Derajat luhur di sisi Allah SWT., itu dapat diperoleh melalui:
JAR (harus tunduk dan tawadlu’), TANWIN (niat yang benar mencari ridha Allah SWT.), NIDA’ (berdzikir), AL (berfikir),Musnad ilaih (beramal nyata). (Khulashoh Alfiyah Ibn Malik: hal 2)
.
Demikianlah menurut Alfiyah cara memperoleh derajat luhur. Pertama ,  harus tunduk dan tawadlu’. Yaitu merendahkan diri kepada sang pencipta juga kepada guru atau Syeikh. Hal ini, telah dilakukan dan dialami sendiri oleh muallif kitab Alfiyah ini dengan suatu kisah yang menarik.
.
Sesuai namanya, Afiyah ialah nadhom syair Nahwu-Shorf yang berjumlah seribu bait. Alfun dalam bahasa Indonesia berarti seribu. Konon seribu bait itu telah selesai beliau karang dalam ingatannya yang kuat, sebelum beliau tuliskan dalam sebuah kitab. Namun, mengapa jumlah nadhom alfiyah itu menjadi 1002 bait? Yakni seribu lebih dua bait.
.
Kedua nadhom tambahan tersebut berkaitan dengan sifat ta’dhimnya muallif kepada pendahulunya, Ibnu Mu’thi. Suatu ketika Imam ibn Malik mulai menuliskan kitabnya tersebut, bait demi bait. Sampailah beliau pada nadhom yang ke lima yang berbunyi:
.
………. # فَائِقَةً أَلْفِيَةَ إِبْنِ مُعْطِيْ.
.
(Alfiyah ku) lebih unggul dari pada alfiyahnya Ibn Mu’thi.
.
Seketika itu, beliau tidak dapat melanjutkan Alfiyahnya. Seribu nadhom yang telah beliau karang dan proyeksikan dalam ingatannya sirna seketika itu. Hal ini berlanjut hingga dua tahun lamanya. Hingga suatu ketika beliau bermimpi bertemu dengan seseorang.
.
Dalam mimpi tersebut orang itu berkata: “saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, benarkah itu?”. “Ya” jawab Ibnu Malik. “Sampai di manakah kamu mengarang kitab tersebut? “. Beliau kemudian menjawab sampai batas karangannya. “Mengapa kamu tidak melanjutkannya?”. “Semenjak hari itu, saya tidak bisa melanjutkannya lagi” jawab ibnu Malik. “Apakah kamu ingin melanjutkannya?”. “Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut”. “Kalau kamu memang masih ingin melanjutkannya, ketahuilah wahai Ibnu Malik bahwasanya seorang yang masih hidup terkadang mampu mengalahkan seribu orang mati”.
.
Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Malik merasa kaget, saat itulah beliau tersadar dengan apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait Alfiyahnya. Dalam bait tersebut jelas sekali beliau lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab alfiyah karya ibnu Mu’thi. Kemudian beliau bertanya: “apakah anda yang bernama Ibnu Mu’thi?. Orang tersebut menganggukan kepala. Seketika itu juga ibnu Malik merasa malu kepada ibnu Mu’thi. Keesokan harinya beliau meralat bait yang telah dikiaskan oleh ibnu Mu’thi dengan bait yang lain. Akhirnya beliau menambahkan dua bait berikut:
.
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِجٌ تَفْضِيْلاَ #
مُسْتَوْجِبٌ سَنَائِيَ الجَمِيْلاَ
.
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَةٍ وَافِرَةْ #
لِيْ وَلَهُ فِيْ دَرَجَاتِ الآخِرَةْ
.
Bagaimana pun dia (ibnu Mu’thi) lebih dulu yang pantas diunggulkan dan harus diberi pujian yang Bagus.
Semoga Allah memberi pahala yang sempurna untuku dan untuk beliau yakni derajat akhirat.
.
Demikianlah akhlak mulia para ‘ulama aslafuna al sholihin. Selalu menghormati dan tawadhu terhadap ulama’ lainnya. Lebih-lebih kepada gurunya, mereka selalu tawadhu kepada guru-guru mereka. (Hasyiyah al Alamah ibn Hamdun ‘ala Syarh al Makudiy lii Alfiyyah ibn Malik,  juz 1: hal 16)
.
Kedua,  tanwin atau niat yang benar mencari ridha Allah SWT. Begitu pentingnya sebuah niat, demi memperoleh derajat luhur di sisi Allah. Tanpa niat, sholat, puasa, haji tidak akan sah. Oleh karenanya, niat sangat penting adanya. Disebutkan dalam kitab Ta’lim al Muta’alim: “Betapa banyak amal yang kelihatannya bernilai akhirat, namun hasilnya menjadi amal dunia. Sebaliknya betapa banyak amal yang bernilai dunia, namun hasilnya menjadi amal akhirat. Hal ini karena ditentukan oleh baiknya niat”. Demikianlah pentingnya niat.
.
Ketiga, nida’ atau berdzikir. Berdzikir adalah upaya seseorang untuk selalu ingat kepada sang Pencipta. Adapun cara berdzikir dapat dengan membaca wirid-wirid, do’a,  dan lain sebagainya.
.
Keutaman berdzikir ini sangat banyak sekali, seperti yang telah disebutkan oleh hujjah al Islam Syeikh Abu hamid al Imam al Ghozali. Bahwasanya, keutaman dari dzikir itu dapat membahagiakan perasaan, menenangkan fikiran, mendapatkan akhir yang husnul khatimah, dan pahala surga. (Ihya’ al ‘ulum al Din, juz 1: hal 347)
.
Selain itu Allah SWT., berfirman : “yaa ayyuhal ladzina amanu udzkurulloha dzikron katsiro”… Wahai orang-orang yang beriman perbanyaklah dzikir.
.
Keempat, AL atau berfikir. Cara memperoleh derajat di sisi-Nya selanjutnya yakni dengan berfikir. Berfikir di sini adalah memikirkan ciptaan Allah, ke Esaan-Nya,  dan keagungan sifatnya.
.
Kelima, Musnad ilaih atau beramal nyata. Di sinilah pentingnya hablum minan nas, selain hablum minallah. Beramal nyata berkaitan erat dengan hubungan seseorang dengan manusia yang lainnya. Terutama manfaat yang diperuntukkan orang lain. Dalam bahasa pesantrennya sering disebut amal Muta’adi, yaitu amal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
.
Almaghfurlah KH. Ali Shodiq Umman, pendiri Pon. Pes. Hidayatul Mubtadiien pernah berkata “Almuta’adiy afdlolun minal qoshiir”. Amal yang muta’adi itu lebih baik dari pada amal yang qoshir. Dari pada duduk menyendiri lebih baik digunakan untuk belajar, mengajar murid-murid karena manfaatnya lebih dirasakan oleh orang banyak.
.
Demikian lima langkah memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut bait Alfiyah Ibnu Malik al Andalusiy. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.[]

INDAHNYA ILMU NAHWU

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP)  IAIN Tulungagung)
.
Yang masyhur di kalangan santri sebuah jargon yang berbunyi  ”Man tabahharo ‘ilman wahidan, tabahharo jami’al ulum”, “barangsiapa menguasai satu fan ilmu, maka ia akan menguasai seluruh fan ilmu, yakni ilmu Nahwu” . Jargon tersebut merupakan jargon andalan ulama’ Kufah, yang terkenal dengan nama Imam Kisa’i.
.
Beliau merupakan ulama’ ahli Nahwu besar yang sangat terkenal di daerah Kufah Baghdad. Selain itu beliau juga penggemar berat ilmu Nahwu, sampai-sampai beliau berkeyakinan bahwa jika dapat menguasai ilmu Nahwu, maka ia dapat menguasai seluruh ilmu.
.
Kata-kata Imam Kisa’i tersebut terkenal di berbagai daerah dan kalangan. Hingga suatu hari datanglah seorang ulama’ Fiqih kepada Imam Kisa’i. Dia bermaksud menguji apakah kata-kata Imam Kisa’i itu bisa dibuktikan, terutama dalam fan ilmu yang lainnya.
.
Benar saja, setelah ia bertemu dengan Imam Kisa’i, ia mengujinya dengan pertanyaan Fiqih. “Wahai Imam Kisa’i!  Bagaimana pendapatmu tentang dua jum’atan dalam satu desa?” tanya ulama’ fiqh kepada Imam Kisa’i. Bukannya menjawab dengan dalil Fiqih, Imam kisa’i malah melantunkan sebuah bait Alfiyyah ibn Malik,  yang berbunyi:
.
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                       إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (normal), tidak diperkenankan berpisah apabila masih dimungkinkan untuk bersatu”.
.
Jadi hukum dua jum’atan dalam satu desa tidak diperkenankan. Terutama jika masih dimungkinkan untuk bersatu dan tidak adanya udzur untuk berpisah. Demikian jawab Imam Kisa’i terhadap pertanyaan ulama’ fiqih. Ternyata jawaban tersebut sesuai dengan hukum fiqih. Di dalam hukum Fiqih Syafi’iyah tidak diperkenankan melakukan dua jum’atan dalam satu desa jika tidak ada udzur. Seperti tidak cukup menampung jama’ah dalam satu masjid, adanya permusuhan dan jarak yang saling berjauhan sehingga tidak bisa mendengar adzan. (Al Syarqawiy: Juz 1, hal: 263).
.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Imam Kisa’i, ulama Fiqih itu pun membenarkan jargon andalan dari Imam Kufah tersebut.
.
Dalam kasus yang lain, ada kisah serupa tentang seorang Kiai yang menerima pertanyaan dari tamunya.
.
Suatu hari, di rumah kiai kedatangan seorang tamu. Ia berdiskusi banyak dengan sang kiai. Kemudian diajaklah tamu tersebut makan bersama. Seperti pada umumnya kaum santri, kalau makan mesti muluk (makan tanpa sendok), melihat hal tersebut tamu tadi bertanya kepada sang kiai “maaf pak kiai, mengapa anda makan muluk,tidak memakai sendok saja. Kan sudah disediakan sendok?”. Seketika itu pak kiai melantunkan bait alfiyah,,
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                      إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (bebas), tidak dianjurkan terpisah (nyendok) apabila masih dimungkinkan untuk langsung (dengan tangan)”.
.
Oleh karenanya saya lebih suka muluk dari pada nyendok, selain itu makan dengan tangan itu juga kan termasuk sunnah nabi. Mendengar penjelasan tersebut tamu tersebut mengangguk dan membenarkannya.
.
Demikianlah kalau seseorang sudah Cinta dengan ilmu Nahwu, kemana-mana ia akan menganalogikan dengan ilmu Nahwu. Sampai-sampai menggombal pun memakai ilmu Nahwu. Demikian kata para remaja:
.
Jika kamu sebagai musnad ilaih (yang selalu bersandar), maka aku sebagai musnad (sandaran)nya yang selalu selalu setia memberikan sandaran.
.
Jika kamu man’ut (sesuatu yang diikuti sifatnya), maka aku sebagai na’atnya (sifatnya) yang akan selalu mendampingi man’ut dalam semua i’rabnya (keadaanya).
Di kala marfu’ (senang), akupun akan rofa’. Di kala kamu majrur (susah), maka aku pun jar. Susah senang aku akan selalu menyertaimu.
Jika kamu syarat (kalimat yang tidak berfaidah tanpa jawab), maka aku jawabnya. Yang akan menjawab semua keluh-kesahmu.

IAIN Tulungagung dan PCINU Belanda Adakan Pelatihan Menulis

Screenshot_2018-02-08-08-38-37_com.UCMobile.intl_1518053948909

Tiga puluh santri dari Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung mengikuti kegiatan Ayo Menulis, Ayo Sekolah di Belanda. Acara ini diadakan di salah satu ruang kelas yang berada di gedung Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Selasa, (6/2).

 

Dalam pembukaan, Direktur Pusat Studi Pesantren, Muntahibun Nafis mengatakan bahwa peserta kegiatan adalah orang-orang yang sangat beruntung.

 

“Menjadi peserta kegiatan PSP merupakan sebuah berkah dari Allah sebab memiliki kesempatan untuk duduk manis dan mereguk ilmu dari para narasumber yang luar biasa. Di Indonesia, hanya ada 10 tempat yang diadakan kegiatan yang sama. Salah satunya di kampus IAIN Tulungagung ini.” tuturnya.

 

Selain itu, Direktur PSP juga menegaskan bahwa sebuah berkah jika kita mampu memiliki tali silaturahmi dengan cara memperbanyak jaringan. Salah satu narasumber sudah berpengalaman menulis dan memiliki banyak jaringan.

 

Dito Alif Pratama, alumnus Vrije University Belanda mengajak seluruh peserta untuk berkenalan dengan menyebutkan nama, fokus studi dan pengalaman menulis.

 

“Saya sampaikan kepada seluruh peserta, bahwa kami bukanlah pesulap yang mampu menyulap seluruh peserta untuk menjadi ahli menulis seusai mengikuti acara ini.” ucapnya.

 

Rizal Mubit menyampaikan materi tentang pentingnya budaya membaca bagi penulis.

 

“Membaca adalah sebuah nutrisi untuk bisa memiliki tulisan yang kaya akan gizi.”

 

Di sela kegiatan, peserta sangat aktif dalam tanya jawab dan mengerjakan tugas dari para pemateri. Direktur PSP memberikan saran bahwa kedepannya, PSP mampu terjun ke masyarakat dan mengkaji langsung bagaimana pesantren tersebut dengan cara menulis profil pesantren, ataupun pengasuhnya.

 

Para peserta berpendapat kegiatan ini memberikan banyak ilmu.

 

“Meski singkat, namun banyak ilmu yang dapat ditampung oleh kami para peserta. Tidak sabar rasanya kami menunggu ilmu baru yang akan disampaikan oleh para narasumber pada sesi selanjutnya.” ucap Zahra, salah satu peserta. (Red: Kendi Setiawan)

 

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/85957/iain-tulungagung-dan-pcinu-belanda-adakan-pelatihan-menulis

“Pesantren Iku Opo Jare Kyai”

Screenshot_2018-01-31-19-56-25_com.instagram.android_1517403419306

 

 

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang di negeri ini. Eksistensi pesantren dilihat dari sejarah terbukti menjadi lembaga penjaga negara bahkan ikut berjuang meraih kemerdekaan. Pemerintah memberikan apresiasi jasa para ulama dan pesantren ini dengan menjadikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Riuh gemuruh perayaan hari santri menggema ke seluruh pelosok negri, pun itu pula yang terjadi di kampus tercinta IAIN Tulungagung. Dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional 2017, juga meneruskan cita-cita utama para ulama, FUAD (Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah) IAIN Tulungagung menggelar acara launching Pusat Studi Pesantren (PSP) dengan salah satu acaranya yaitu bedah buku “Pesantren Pluralis”. Launching dan bedah buku ini didukung dan dihadiri langsung oleh berbagai pihak terkait seperti Kementerian Agama Kab. Tulungagung, Pimpinan Muhammadiyah Kab. Tulungagung, PCNU Kab. Tulungagung, PCNU Kab. Trenggalek, PTKI di Tulungagung, RMI Jawa Timur, RMI Tulungagung, RMI Trenggalek, RMI Blitar, RMI Kediri, ASPARAGUS (Asosiasi Para Gus), Pimpinan berbagai pesantren, FKUB Kab. Tulungagung, Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara, santri dari berbagai pondok pesantren, dosen, dan mahasiswa baik dari IAIN Tulungagung ataupun dari kampus di sekitarnya.

 

Acara ini menghadirkan narasumber: (1) KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A. selaku pimpinan PP. Al-Mahrusiyyah Lirboyo dan Wakil Rektor 1 IAI Tribakti Kediri sekaligus Ketua RMI Jawa Timur, (2) Dr. Ngainun Naim selaku penggerak literasi yang produktif, (3) Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M.Ag, selaku penulis buku “Pesantren Pluralis”. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. K.H. A. Rizqon Khamami, MA selaku dosen Filsafat IAIN Tulungagung. Sebelum bedah buku dimulai, Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku Rektor IAIN Tulungagung memberikan sambutan, arahan dan sekaligus membuka dengan resmi PSP. Dalam sambutannya, rektor berpesan, “PSP ini nantinya jangan hanya “ngincengi” pondok pesantren, namun juga harus memberikan kontribusi nyata dalam membangun dakwah dan peradaban dengan bersinergi bersama lembaga terkait. Seperti  RMI dan pesantren yang ada di Nusantara.”

 

Gus Reza (panggilan akrab K.H. Reza Ahmad Zahid) menyatakan bahwa pesantren jika dianalisa dari sisi nama saja sudah mencerminkan cintanya terhadap NKRI. Terbukti dari banyak nama yang diambil dari daerah di mana pesantren itu didirikan. Misalnya: Lirboyo, Ploso, Tebu Ireng, Ngawen. Hal itu lah yang menjadi ciri khas pesantren di Nusantara. Salah satu di antaranya yaitu Pondok Pesantren Ngawen. Ini bukan berarti santrinya suka kawin karena kata Ngawen berasal dari kata kawin, melainkan kata Ngawen tersebut diambil dari nama daerah/ lokasinya. Begitu juga Pondok Pesantren Ngalah ini, kata Ngalah juga diambil dari nama daerah/ lokasinya. Jadi, jangan pernah meragukan rasa nasionalisme pesantren. Pesantren akan terus menjadi benteng kesatuan dan persatuan rakyat tanpa diminta sekalipun. Semangat cinta tanah air msialnya dibuktikan dari syair lagu “ya lal wathon” yang menjadi salah satu ikon pesantren saat ini hasil karya salah satu ulama besar negeri ini, yakni K.H. Wahab Hasbullah.

 

Selain itu, Gus reza memaparkan bahwa dari awal munculnya pesantren sudah mencerminkan nilai pluralisme, namun sering terlupakan untuk dikaji. Misalnya saja, nama pesantren diambil dari bahasa arab “فندوق”. Pesantren diambil dari kata “sastra-yestri-pesantren”, begitu istilah I’lal  pesantrennya. “Sastra” artinya kitab suci, Isim failnya “sastri” yakni orang belajar kitab suci. Dan Isim makannya “pesantren” yang berarti tempat orang-orang yang belajar kitab suci. Semua ini diserap dari istilah agama Budha.

 

Sementara diamati dari pakaian, Gus Reza menyatakan pesantren mengambil model dari berbagai agama, seperti Hindu, dari negara Yaman; konon sudah sejak Nabi Sulaiman dengan istilah “futhoh/ فوطة”. Setelah Islam datang istilah tersebut berganti dengan “izar/إيزار”, sedangkan dari kebiasaan negera Oman disebut “nizar/نيزار”. Perbedaan ini menunjukkan keragaman yang diakui di pesantren atau istilahnya adanya nilai pluralisme. Lebih dari baju dan nama, diamati dari perlengkapan yang digunakan di masjid dan pesantren juga mengandung nilai pluralisme. Gus Reza menyebutkan “bedhug”. Alat ini sebenarnya bukan dari Indonesia terlebih Jawa. Gus Reza membuktikan sendiri tatkala berkunjung ke Cina, di sana terdapat tempat yang disebut dengan Forbidden city. Dalam penelusurannya, bedhug ini sudah ada sejak Dinasty Yuan abad ke-12 yang selanjutnya pada Dinasty Ming. Menurut keyakinan di sana, “bedhug” merupakan pertanda waktu, atau untuk menandai satu kejadian dan untuk memahaminya butuh alat agar memudahkan masyarakat. Kalau dalam Islam, ada dalil ” يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قل هي مواقت للناس “  (terdapat pertanda untuk waktu-waktu sholat), maka dalam tradisi mereka ada يَسْأَلُونَكَ عَنِ البدوك (mereka bertanya pada bedhug). Selain “bedhug”, ada “kenthongan”. Alat ini dalam pandangan Gus Reza berasal dari tradisi Hindu masa Majapahit. Di NTB, untuk mengumpulkan banyak orang menggunakan “kenthongan”. Ada juga “menoro” masjid, itu berasal dari kepercayaan agama Zoroaster, sebagai tempat api. Ketika berkunjung ke Teheran, ditemukan menara tertua di dunia, yang konon pernah padam di saat rasulullah lahir ke muka bumi ini. Dalam kepercayaan Zoroaster, kekuatan api ini representasi sebagai perantara manusia dengan Sang Azura.

Semua yang dicontohkan ini merupakan bukti bahwa pesantren telah mengadopsi banyak hal, sejak awal sejarahnya sudah megandung nilai pluralisme dan semangat keragaman.

 

Merespon keberadaan PSP (Pusat Studi Pesanten), Gus Reza mendahului dengan penjelasan bahwa pesantren bisa diamati dari dua perbedaan; Pesantren Indonesia dan pesantren di Indonesia. Pesantren Indonesia ialah pesantren yang asli muncul dari masyarakat Indonesia dan sesuai dengan ideologi dan praktek masyarakat Indonesia. Sedangkan pesantren di Indonesia, maksudnya adalah pesantren yang mengembangkan ideologi dan budaya yang berbeda dengan masyarakat Indonesia, berasal dari luar Indonesia atau sering disebut trans-nasional. Mereka mengajarkan ideologi, nilai, praktek-praktek yang berbeda dengan yang selama ini berkembang di masyarakat Indonesia. Dengan istilah lain menurutnya inilah pesantren jadi-jadian. Jumlah pesantren di Indonesia jika mengikuti data Kementerian Agama selalu meningkat tajam. Jumlah tersebut berbeda dengan jumlah yang dimiliki RMI. Hal ini dikarenakan RMI punya standar sendiri, yang berbeda dengan Kemenag dalam mendefinisikan pesantren.

 

Inilah perkembangan dan dinamika pesantren sampai saat ini. Devinisi pesantren sendiri sulit untuk dijelaskan. Pesantren adalah lembaga yang diasuh oleh kiai, dengan haluan Ahlussunnah wal jamaah. Gus Reza memiliki definisi sendiri tentang pesantren, beliau mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam “opo jare kiai”. Kalau Kiai nya pengamal thariqah ya itu pesantren tariqah, kalau pesantren “kejadukan” ya itu pesantren “kejadukan”, dan seterusnya. Pesan Gus reza, pesantren itu dibangun oleh: Ridho kiai, ikhtiar, riyadhoh, dan ketundukan kepada kiai. Banyak santri atau pencari ilmu tidak mendapatkan keberkahan ilmunya karena tidak ada kepatuhan kepada kiainya dengan tidak memperhatikan penghormatan kepada ahli ilmu yakni kiai.

 

(Disarikan dari acara launching PSP dan bedah buku “Pesantren Pluralis” tanggal 30 Oktober 2017, di Aula Utama IAIN Tulungagung)

 

Dr. M. Muntahibun Nafis, M.Ag.

 

(Direktur PSP)