Home » Uncategorized » “Pesantren Iku Opo Jare Kyai”

“Pesantren Iku Opo Jare Kyai”

Screenshot_2018-01-31-19-56-25_com.instagram.android_1517403419306

 

 

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang di negeri ini. Eksistensi pesantren dilihat dari sejarah terbukti menjadi lembaga penjaga negara bahkan ikut berjuang meraih kemerdekaan. Pemerintah memberikan apresiasi jasa para ulama dan pesantren ini dengan menjadikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Riuh gemuruh perayaan hari santri menggema ke seluruh pelosok negri, pun itu pula yang terjadi di kampus tercinta IAIN Tulungagung. Dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional 2017, juga meneruskan cita-cita utama para ulama, FUAD (Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah) IAIN Tulungagung menggelar acara launching Pusat Studi Pesantren (PSP) dengan salah satu acaranya yaitu bedah buku “Pesantren Pluralis”. Launching dan bedah buku ini didukung dan dihadiri langsung oleh berbagai pihak terkait seperti Kementerian Agama Kab. Tulungagung, Pimpinan Muhammadiyah Kab. Tulungagung, PCNU Kab. Tulungagung, PCNU Kab. Trenggalek, PTKI di Tulungagung, RMI Jawa Timur, RMI Tulungagung, RMI Trenggalek, RMI Blitar, RMI Kediri, ASPARAGUS (Asosiasi Para Gus), Pimpinan berbagai pesantren, FKUB Kab. Tulungagung, Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara, santri dari berbagai pondok pesantren, dosen, dan mahasiswa baik dari IAIN Tulungagung ataupun dari kampus di sekitarnya.

 

Acara ini menghadirkan narasumber: (1) KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A. selaku pimpinan PP. Al-Mahrusiyyah Lirboyo dan Wakil Rektor 1 IAI Tribakti Kediri sekaligus Ketua RMI Jawa Timur, (2) Dr. Ngainun Naim selaku penggerak literasi yang produktif, (3) Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M.Ag, selaku penulis buku “Pesantren Pluralis”. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. K.H. A. Rizqon Khamami, MA selaku dosen Filsafat IAIN Tulungagung. Sebelum bedah buku dimulai, Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku Rektor IAIN Tulungagung memberikan sambutan, arahan dan sekaligus membuka dengan resmi PSP. Dalam sambutannya, rektor berpesan, “PSP ini nantinya jangan hanya “ngincengi” pondok pesantren, namun juga harus memberikan kontribusi nyata dalam membangun dakwah dan peradaban dengan bersinergi bersama lembaga terkait. Seperti  RMI dan pesantren yang ada di Nusantara.”

 

Gus Reza (panggilan akrab K.H. Reza Ahmad Zahid) menyatakan bahwa pesantren jika dianalisa dari sisi nama saja sudah mencerminkan cintanya terhadap NKRI. Terbukti dari banyak nama yang diambil dari daerah di mana pesantren itu didirikan. Misalnya: Lirboyo, Ploso, Tebu Ireng, Ngawen. Hal itu lah yang menjadi ciri khas pesantren di Nusantara. Salah satu di antaranya yaitu Pondok Pesantren Ngawen. Ini bukan berarti santrinya suka kawin karena kata Ngawen berasal dari kata kawin, melainkan kata Ngawen tersebut diambil dari nama daerah/ lokasinya. Begitu juga Pondok Pesantren Ngalah ini, kata Ngalah juga diambil dari nama daerah/ lokasinya. Jadi, jangan pernah meragukan rasa nasionalisme pesantren. Pesantren akan terus menjadi benteng kesatuan dan persatuan rakyat tanpa diminta sekalipun. Semangat cinta tanah air msialnya dibuktikan dari syair lagu “ya lal wathon” yang menjadi salah satu ikon pesantren saat ini hasil karya salah satu ulama besar negeri ini, yakni K.H. Wahab Hasbullah.

 

Selain itu, Gus reza memaparkan bahwa dari awal munculnya pesantren sudah mencerminkan nilai pluralisme, namun sering terlupakan untuk dikaji. Misalnya saja, nama pesantren diambil dari bahasa arab “فندوق”. Pesantren diambil dari kata “sastra-yestri-pesantren”, begitu istilah I’lal  pesantrennya. “Sastra” artinya kitab suci, Isim failnya “sastri” yakni orang belajar kitab suci. Dan Isim makannya “pesantren” yang berarti tempat orang-orang yang belajar kitab suci. Semua ini diserap dari istilah agama Budha.

 

Sementara diamati dari pakaian, Gus Reza menyatakan pesantren mengambil model dari berbagai agama, seperti Hindu, dari negara Yaman; konon sudah sejak Nabi Sulaiman dengan istilah “futhoh/ فوطة”. Setelah Islam datang istilah tersebut berganti dengan “izar/إيزار”, sedangkan dari kebiasaan negera Oman disebut “nizar/نيزار”. Perbedaan ini menunjukkan keragaman yang diakui di pesantren atau istilahnya adanya nilai pluralisme. Lebih dari baju dan nama, diamati dari perlengkapan yang digunakan di masjid dan pesantren juga mengandung nilai pluralisme. Gus Reza menyebutkan “bedhug”. Alat ini sebenarnya bukan dari Indonesia terlebih Jawa. Gus Reza membuktikan sendiri tatkala berkunjung ke Cina, di sana terdapat tempat yang disebut dengan Forbidden city. Dalam penelusurannya, bedhug ini sudah ada sejak Dinasty Yuan abad ke-12 yang selanjutnya pada Dinasty Ming. Menurut keyakinan di sana, “bedhug” merupakan pertanda waktu, atau untuk menandai satu kejadian dan untuk memahaminya butuh alat agar memudahkan masyarakat. Kalau dalam Islam, ada dalil ” يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قل هي مواقت للناس “  (terdapat pertanda untuk waktu-waktu sholat), maka dalam tradisi mereka ada يَسْأَلُونَكَ عَنِ البدوك (mereka bertanya pada bedhug). Selain “bedhug”, ada “kenthongan”. Alat ini dalam pandangan Gus Reza berasal dari tradisi Hindu masa Majapahit. Di NTB, untuk mengumpulkan banyak orang menggunakan “kenthongan”. Ada juga “menoro” masjid, itu berasal dari kepercayaan agama Zoroaster, sebagai tempat api. Ketika berkunjung ke Teheran, ditemukan menara tertua di dunia, yang konon pernah padam di saat rasulullah lahir ke muka bumi ini. Dalam kepercayaan Zoroaster, kekuatan api ini representasi sebagai perantara manusia dengan Sang Azura.

Semua yang dicontohkan ini merupakan bukti bahwa pesantren telah mengadopsi banyak hal, sejak awal sejarahnya sudah megandung nilai pluralisme dan semangat keragaman.

 

Merespon keberadaan PSP (Pusat Studi Pesanten), Gus Reza mendahului dengan penjelasan bahwa pesantren bisa diamati dari dua perbedaan; Pesantren Indonesia dan pesantren di Indonesia. Pesantren Indonesia ialah pesantren yang asli muncul dari masyarakat Indonesia dan sesuai dengan ideologi dan praktek masyarakat Indonesia. Sedangkan pesantren di Indonesia, maksudnya adalah pesantren yang mengembangkan ideologi dan budaya yang berbeda dengan masyarakat Indonesia, berasal dari luar Indonesia atau sering disebut trans-nasional. Mereka mengajarkan ideologi, nilai, praktek-praktek yang berbeda dengan yang selama ini berkembang di masyarakat Indonesia. Dengan istilah lain menurutnya inilah pesantren jadi-jadian. Jumlah pesantren di Indonesia jika mengikuti data Kementerian Agama selalu meningkat tajam. Jumlah tersebut berbeda dengan jumlah yang dimiliki RMI. Hal ini dikarenakan RMI punya standar sendiri, yang berbeda dengan Kemenag dalam mendefinisikan pesantren.

 

Inilah perkembangan dan dinamika pesantren sampai saat ini. Devinisi pesantren sendiri sulit untuk dijelaskan. Pesantren adalah lembaga yang diasuh oleh kiai, dengan haluan Ahlussunnah wal jamaah. Gus Reza memiliki definisi sendiri tentang pesantren, beliau mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam “opo jare kiai”. Kalau Kiai nya pengamal thariqah ya itu pesantren tariqah, kalau pesantren “kejadukan” ya itu pesantren “kejadukan”, dan seterusnya. Pesan Gus reza, pesantren itu dibangun oleh: Ridho kiai, ikhtiar, riyadhoh, dan ketundukan kepada kiai. Banyak santri atau pencari ilmu tidak mendapatkan keberkahan ilmunya karena tidak ada kepatuhan kepada kiainya dengan tidak memperhatikan penghormatan kepada ahli ilmu yakni kiai.

 

(Disarikan dari acara launching PSP dan bedah buku “Pesantren Pluralis” tanggal 30 Oktober 2017, di Aula Utama IAIN Tulungagung)

 

Dr. M. Muntahibun Nafis, M.Ag.

 

(Direktur PSP)


1 Comment

  1. franksini says:

    Hey guys, my name is Sinister!

    I`m an academic writer and I`m going to change your lifes onсe and for all
    Most of my works were sold throughout Canada, USA, China and even Australia. Also I`m working with services that help people to save their time.
    People ask me “Mr, Sinister, I need your professional help” and I always accept the request, `cause I know, that only I can solve all their problems!

    Professional Writer – Sinister – Developing Thesis Writing Tips

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>