Home » 2018 » February

Monthly Archives: February 2018

Memperoleh Derajat Luhur di Sisi Allah SWT., ala Alfiyyah ibn Malik

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP) IAIN Tulungagung)
.
Memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., adalah dambaan setiap insan muslim. Siapapun akan mendambakannya, sekalipun ia hanya memiliki iman seberat Dzarah pun ia pasti mendambakannya. Lantas, bagaimana cara memperolehnya?.
.
Berikut ini akan dipaparkan bagaimana cara memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut kitab Nahwu yang sudah Fenomenal, yaitu Khulashoh Alfiyyah ibn Malik. al Syeikh al Jalal al Din ibn Abdillah ibn Malik Al Andalusiy berkata dalam kitabnya:
.
بِالجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَى وَ أَلْ #
      وَ مُسْنَدٍ لِلإِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ
Derajat luhur di sisi Allah SWT., itu dapat diperoleh melalui:
JAR (harus tunduk dan tawadlu’), TANWIN (niat yang benar mencari ridha Allah SWT.), NIDA’ (berdzikir), AL (berfikir),Musnad ilaih (beramal nyata). (Khulashoh Alfiyah Ibn Malik: hal 2)
.
Demikianlah menurut Alfiyah cara memperoleh derajat luhur. Pertama ,  harus tunduk dan tawadlu’. Yaitu merendahkan diri kepada sang pencipta juga kepada guru atau Syeikh. Hal ini, telah dilakukan dan dialami sendiri oleh muallif kitab Alfiyah ini dengan suatu kisah yang menarik.
.
Sesuai namanya, Afiyah ialah nadhom syair Nahwu-Shorf yang berjumlah seribu bait. Alfun dalam bahasa Indonesia berarti seribu. Konon seribu bait itu telah selesai beliau karang dalam ingatannya yang kuat, sebelum beliau tuliskan dalam sebuah kitab. Namun, mengapa jumlah nadhom alfiyah itu menjadi 1002 bait? Yakni seribu lebih dua bait.
.
Kedua nadhom tambahan tersebut berkaitan dengan sifat ta’dhimnya muallif kepada pendahulunya, Ibnu Mu’thi. Suatu ketika Imam ibn Malik mulai menuliskan kitabnya tersebut, bait demi bait. Sampailah beliau pada nadhom yang ke lima yang berbunyi:
.
………. # فَائِقَةً أَلْفِيَةَ إِبْنِ مُعْطِيْ.
.
(Alfiyah ku) lebih unggul dari pada alfiyahnya Ibn Mu’thi.
.
Seketika itu, beliau tidak dapat melanjutkan Alfiyahnya. Seribu nadhom yang telah beliau karang dan proyeksikan dalam ingatannya sirna seketika itu. Hal ini berlanjut hingga dua tahun lamanya. Hingga suatu ketika beliau bermimpi bertemu dengan seseorang.
.
Dalam mimpi tersebut orang itu berkata: “saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, benarkah itu?”. “Ya” jawab Ibnu Malik. “Sampai di manakah kamu mengarang kitab tersebut? “. Beliau kemudian menjawab sampai batas karangannya. “Mengapa kamu tidak melanjutkannya?”. “Semenjak hari itu, saya tidak bisa melanjutkannya lagi” jawab ibnu Malik. “Apakah kamu ingin melanjutkannya?”. “Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut”. “Kalau kamu memang masih ingin melanjutkannya, ketahuilah wahai Ibnu Malik bahwasanya seorang yang masih hidup terkadang mampu mengalahkan seribu orang mati”.
.
Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Malik merasa kaget, saat itulah beliau tersadar dengan apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait Alfiyahnya. Dalam bait tersebut jelas sekali beliau lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab alfiyah karya ibnu Mu’thi. Kemudian beliau bertanya: “apakah anda yang bernama Ibnu Mu’thi?. Orang tersebut menganggukan kepala. Seketika itu juga ibnu Malik merasa malu kepada ibnu Mu’thi. Keesokan harinya beliau meralat bait yang telah dikiaskan oleh ibnu Mu’thi dengan bait yang lain. Akhirnya beliau menambahkan dua bait berikut:
.
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِجٌ تَفْضِيْلاَ #
مُسْتَوْجِبٌ سَنَائِيَ الجَمِيْلاَ
.
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَةٍ وَافِرَةْ #
لِيْ وَلَهُ فِيْ دَرَجَاتِ الآخِرَةْ
.
Bagaimana pun dia (ibnu Mu’thi) lebih dulu yang pantas diunggulkan dan harus diberi pujian yang Bagus.
Semoga Allah memberi pahala yang sempurna untuku dan untuk beliau yakni derajat akhirat.
.
Demikianlah akhlak mulia para ‘ulama aslafuna al sholihin. Selalu menghormati dan tawadhu terhadap ulama’ lainnya. Lebih-lebih kepada gurunya, mereka selalu tawadhu kepada guru-guru mereka. (Hasyiyah al Alamah ibn Hamdun ‘ala Syarh al Makudiy lii Alfiyyah ibn Malik,  juz 1: hal 16)
.
Kedua,  tanwin atau niat yang benar mencari ridha Allah SWT. Begitu pentingnya sebuah niat, demi memperoleh derajat luhur di sisi Allah. Tanpa niat, sholat, puasa, haji tidak akan sah. Oleh karenanya, niat sangat penting adanya. Disebutkan dalam kitab Ta’lim al Muta’alim: “Betapa banyak amal yang kelihatannya bernilai akhirat, namun hasilnya menjadi amal dunia. Sebaliknya betapa banyak amal yang bernilai dunia, namun hasilnya menjadi amal akhirat. Hal ini karena ditentukan oleh baiknya niat”. Demikianlah pentingnya niat.
.
Ketiga, nida’ atau berdzikir. Berdzikir adalah upaya seseorang untuk selalu ingat kepada sang Pencipta. Adapun cara berdzikir dapat dengan membaca wirid-wirid, do’a,  dan lain sebagainya.
.
Keutaman berdzikir ini sangat banyak sekali, seperti yang telah disebutkan oleh hujjah al Islam Syeikh Abu hamid al Imam al Ghozali. Bahwasanya, keutaman dari dzikir itu dapat membahagiakan perasaan, menenangkan fikiran, mendapatkan akhir yang husnul khatimah, dan pahala surga. (Ihya’ al ‘ulum al Din, juz 1: hal 347)
.
Selain itu Allah SWT., berfirman : “yaa ayyuhal ladzina amanu udzkurulloha dzikron katsiro”… Wahai orang-orang yang beriman perbanyaklah dzikir.
.
Keempat, AL atau berfikir. Cara memperoleh derajat di sisi-Nya selanjutnya yakni dengan berfikir. Berfikir di sini adalah memikirkan ciptaan Allah, ke Esaan-Nya,  dan keagungan sifatnya.
.
Kelima, Musnad ilaih atau beramal nyata. Di sinilah pentingnya hablum minan nas, selain hablum minallah. Beramal nyata berkaitan erat dengan hubungan seseorang dengan manusia yang lainnya. Terutama manfaat yang diperuntukkan orang lain. Dalam bahasa pesantrennya sering disebut amal Muta’adi, yaitu amal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
.
Almaghfurlah KH. Ali Shodiq Umman, pendiri Pon. Pes. Hidayatul Mubtadiien pernah berkata “Almuta’adiy afdlolun minal qoshiir”. Amal yang muta’adi itu lebih baik dari pada amal yang qoshir. Dari pada duduk menyendiri lebih baik digunakan untuk belajar, mengajar murid-murid karena manfaatnya lebih dirasakan oleh orang banyak.
.
Demikian lima langkah memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut bait Alfiyah Ibnu Malik al Andalusiy. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.[]

INDAHNYA ILMU NAHWU

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP)  IAIN Tulungagung)
.
Yang masyhur di kalangan santri sebuah jargon yang berbunyi  ”Man tabahharo ‘ilman wahidan, tabahharo jami’al ulum”, “barangsiapa menguasai satu fan ilmu, maka ia akan menguasai seluruh fan ilmu, yakni ilmu Nahwu” . Jargon tersebut merupakan jargon andalan ulama’ Kufah, yang terkenal dengan nama Imam Kisa’i.
.
Beliau merupakan ulama’ ahli Nahwu besar yang sangat terkenal di daerah Kufah Baghdad. Selain itu beliau juga penggemar berat ilmu Nahwu, sampai-sampai beliau berkeyakinan bahwa jika dapat menguasai ilmu Nahwu, maka ia dapat menguasai seluruh ilmu.
.
Kata-kata Imam Kisa’i tersebut terkenal di berbagai daerah dan kalangan. Hingga suatu hari datanglah seorang ulama’ Fiqih kepada Imam Kisa’i. Dia bermaksud menguji apakah kata-kata Imam Kisa’i itu bisa dibuktikan, terutama dalam fan ilmu yang lainnya.
.
Benar saja, setelah ia bertemu dengan Imam Kisa’i, ia mengujinya dengan pertanyaan Fiqih. “Wahai Imam Kisa’i!  Bagaimana pendapatmu tentang dua jum’atan dalam satu desa?” tanya ulama’ fiqh kepada Imam Kisa’i. Bukannya menjawab dengan dalil Fiqih, Imam kisa’i malah melantunkan sebuah bait Alfiyyah ibn Malik,  yang berbunyi:
.
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                       إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (normal), tidak diperkenankan berpisah apabila masih dimungkinkan untuk bersatu”.
.
Jadi hukum dua jum’atan dalam satu desa tidak diperkenankan. Terutama jika masih dimungkinkan untuk bersatu dan tidak adanya udzur untuk berpisah. Demikian jawab Imam Kisa’i terhadap pertanyaan ulama’ fiqih. Ternyata jawaban tersebut sesuai dengan hukum fiqih. Di dalam hukum Fiqih Syafi’iyah tidak diperkenankan melakukan dua jum’atan dalam satu desa jika tidak ada udzur. Seperti tidak cukup menampung jama’ah dalam satu masjid, adanya permusuhan dan jarak yang saling berjauhan sehingga tidak bisa mendengar adzan. (Al Syarqawiy: Juz 1, hal: 263).
.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Imam Kisa’i, ulama Fiqih itu pun membenarkan jargon andalan dari Imam Kufah tersebut.
.
Dalam kasus yang lain, ada kisah serupa tentang seorang Kiai yang menerima pertanyaan dari tamunya.
.
Suatu hari, di rumah kiai kedatangan seorang tamu. Ia berdiskusi banyak dengan sang kiai. Kemudian diajaklah tamu tersebut makan bersama. Seperti pada umumnya kaum santri, kalau makan mesti muluk (makan tanpa sendok), melihat hal tersebut tamu tadi bertanya kepada sang kiai “maaf pak kiai, mengapa anda makan muluk,tidak memakai sendok saja. Kan sudah disediakan sendok?”. Seketika itu pak kiai melantunkan bait alfiyah,,
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                      إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (bebas), tidak dianjurkan terpisah (nyendok) apabila masih dimungkinkan untuk langsung (dengan tangan)”.
.
Oleh karenanya saya lebih suka muluk dari pada nyendok, selain itu makan dengan tangan itu juga kan termasuk sunnah nabi. Mendengar penjelasan tersebut tamu tersebut mengangguk dan membenarkannya.
.
Demikianlah kalau seseorang sudah Cinta dengan ilmu Nahwu, kemana-mana ia akan menganalogikan dengan ilmu Nahwu. Sampai-sampai menggombal pun memakai ilmu Nahwu. Demikian kata para remaja:
.
Jika kamu sebagai musnad ilaih (yang selalu bersandar), maka aku sebagai musnad (sandaran)nya yang selalu selalu setia memberikan sandaran.
.
Jika kamu man’ut (sesuatu yang diikuti sifatnya), maka aku sebagai na’atnya (sifatnya) yang akan selalu mendampingi man’ut dalam semua i’rabnya (keadaanya).
Di kala marfu’ (senang), akupun akan rofa’. Di kala kamu majrur (susah), maka aku pun jar. Susah senang aku akan selalu menyertaimu.
Jika kamu syarat (kalimat yang tidak berfaidah tanpa jawab), maka aku jawabnya. Yang akan menjawab semua keluh-kesahmu.

IAIN Tulungagung dan PCINU Belanda Adakan Pelatihan Menulis

Screenshot_2018-02-08-08-38-37_com.UCMobile.intl_1518053948909

Tiga puluh santri dari Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung mengikuti kegiatan Ayo Menulis, Ayo Sekolah di Belanda. Acara ini diadakan di salah satu ruang kelas yang berada di gedung Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Selasa, (6/2).

 

Dalam pembukaan, Direktur Pusat Studi Pesantren, Muntahibun Nafis mengatakan bahwa peserta kegiatan adalah orang-orang yang sangat beruntung.

 

“Menjadi peserta kegiatan PSP merupakan sebuah berkah dari Allah sebab memiliki kesempatan untuk duduk manis dan mereguk ilmu dari para narasumber yang luar biasa. Di Indonesia, hanya ada 10 tempat yang diadakan kegiatan yang sama. Salah satunya di kampus IAIN Tulungagung ini.” tuturnya.

 

Selain itu, Direktur PSP juga menegaskan bahwa sebuah berkah jika kita mampu memiliki tali silaturahmi dengan cara memperbanyak jaringan. Salah satu narasumber sudah berpengalaman menulis dan memiliki banyak jaringan.

 

Dito Alif Pratama, alumnus Vrije University Belanda mengajak seluruh peserta untuk berkenalan dengan menyebutkan nama, fokus studi dan pengalaman menulis.

 

“Saya sampaikan kepada seluruh peserta, bahwa kami bukanlah pesulap yang mampu menyulap seluruh peserta untuk menjadi ahli menulis seusai mengikuti acara ini.” ucapnya.

 

Rizal Mubit menyampaikan materi tentang pentingnya budaya membaca bagi penulis.

 

“Membaca adalah sebuah nutrisi untuk bisa memiliki tulisan yang kaya akan gizi.”

 

Di sela kegiatan, peserta sangat aktif dalam tanya jawab dan mengerjakan tugas dari para pemateri. Direktur PSP memberikan saran bahwa kedepannya, PSP mampu terjun ke masyarakat dan mengkaji langsung bagaimana pesantren tersebut dengan cara menulis profil pesantren, ataupun pengasuhnya.

 

Para peserta berpendapat kegiatan ini memberikan banyak ilmu.

 

“Meski singkat, namun banyak ilmu yang dapat ditampung oleh kami para peserta. Tidak sabar rasanya kami menunggu ilmu baru yang akan disampaikan oleh para narasumber pada sesi selanjutnya.” ucap Zahra, salah satu peserta. (Red: Kendi Setiawan)

 

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/85957/iain-tulungagung-dan-pcinu-belanda-adakan-pelatihan-menulis