Home » Uncategorized » INDAHNYA ILMU NAHWU

INDAHNYA ILMU NAHWU

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP)  IAIN Tulungagung)
.
Yang masyhur di kalangan santri sebuah jargon yang berbunyi  ”Man tabahharo ‘ilman wahidan, tabahharo jami’al ulum”, “barangsiapa menguasai satu fan ilmu, maka ia akan menguasai seluruh fan ilmu, yakni ilmu Nahwu” . Jargon tersebut merupakan jargon andalan ulama’ Kufah, yang terkenal dengan nama Imam Kisa’i.
.
Beliau merupakan ulama’ ahli Nahwu besar yang sangat terkenal di daerah Kufah Baghdad. Selain itu beliau juga penggemar berat ilmu Nahwu, sampai-sampai beliau berkeyakinan bahwa jika dapat menguasai ilmu Nahwu, maka ia dapat menguasai seluruh ilmu.
.
Kata-kata Imam Kisa’i tersebut terkenal di berbagai daerah dan kalangan. Hingga suatu hari datanglah seorang ulama’ Fiqih kepada Imam Kisa’i. Dia bermaksud menguji apakah kata-kata Imam Kisa’i itu bisa dibuktikan, terutama dalam fan ilmu yang lainnya.
.
Benar saja, setelah ia bertemu dengan Imam Kisa’i, ia mengujinya dengan pertanyaan Fiqih. “Wahai Imam Kisa’i!  Bagaimana pendapatmu tentang dua jum’atan dalam satu desa?” tanya ulama’ fiqh kepada Imam Kisa’i. Bukannya menjawab dengan dalil Fiqih, Imam kisa’i malah melantunkan sebuah bait Alfiyyah ibn Malik,  yang berbunyi:
.
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                       إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (normal), tidak diperkenankan berpisah apabila masih dimungkinkan untuk bersatu”.
.
Jadi hukum dua jum’atan dalam satu desa tidak diperkenankan. Terutama jika masih dimungkinkan untuk bersatu dan tidak adanya udzur untuk berpisah. Demikian jawab Imam Kisa’i terhadap pertanyaan ulama’ fiqih. Ternyata jawaban tersebut sesuai dengan hukum fiqih. Di dalam hukum Fiqih Syafi’iyah tidak diperkenankan melakukan dua jum’atan dalam satu desa jika tidak ada udzur. Seperti tidak cukup menampung jama’ah dalam satu masjid, adanya permusuhan dan jarak yang saling berjauhan sehingga tidak bisa mendengar adzan. (Al Syarqawiy: Juz 1, hal: 263).
.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Imam Kisa’i, ulama Fiqih itu pun membenarkan jargon andalan dari Imam Kufah tersebut.
.
Dalam kasus yang lain, ada kisah serupa tentang seorang Kiai yang menerima pertanyaan dari tamunya.
.
Suatu hari, di rumah kiai kedatangan seorang tamu. Ia berdiskusi banyak dengan sang kiai. Kemudian diajaklah tamu tersebut makan bersama. Seperti pada umumnya kaum santri, kalau makan mesti muluk (makan tanpa sendok), melihat hal tersebut tamu tadi bertanya kepada sang kiai “maaf pak kiai, mengapa anda makan muluk,tidak memakai sendok saja. Kan sudah disediakan sendok?”. Seketika itu pak kiai melantunkan bait alfiyah,,
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيئُ المُنْفَصِلْ #
                      إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيْئَ المُتَّصِلْ
“Dalam keadaan ikhtiar (bebas), tidak dianjurkan terpisah (nyendok) apabila masih dimungkinkan untuk langsung (dengan tangan)”.
.
Oleh karenanya saya lebih suka muluk dari pada nyendok, selain itu makan dengan tangan itu juga kan termasuk sunnah nabi. Mendengar penjelasan tersebut tamu tersebut mengangguk dan membenarkannya.
.
Demikianlah kalau seseorang sudah Cinta dengan ilmu Nahwu, kemana-mana ia akan menganalogikan dengan ilmu Nahwu. Sampai-sampai menggombal pun memakai ilmu Nahwu. Demikian kata para remaja:
.
Jika kamu sebagai musnad ilaih (yang selalu bersandar), maka aku sebagai musnad (sandaran)nya yang selalu selalu setia memberikan sandaran.
.
Jika kamu man’ut (sesuatu yang diikuti sifatnya), maka aku sebagai na’atnya (sifatnya) yang akan selalu mendampingi man’ut dalam semua i’rabnya (keadaanya).
Di kala marfu’ (senang), akupun akan rofa’. Di kala kamu majrur (susah), maka aku pun jar. Susah senang aku akan selalu menyertaimu.
Jika kamu syarat (kalimat yang tidak berfaidah tanpa jawab), maka aku jawabnya. Yang akan menjawab semua keluh-kesahmu.

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>