Home » Uncategorized » Memperoleh Derajat Luhur di Sisi Allah SWT., ala Alfiyyah ibn Malik

Memperoleh Derajat Luhur di Sisi Allah SWT., ala Alfiyyah ibn Malik

Oleh: Imam Nasirudin (Peneliti di Pusat Studi Pesantren (PSP) IAIN Tulungagung)
.
Memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., adalah dambaan setiap insan muslim. Siapapun akan mendambakannya, sekalipun ia hanya memiliki iman seberat Dzarah pun ia pasti mendambakannya. Lantas, bagaimana cara memperolehnya?.
.
Berikut ini akan dipaparkan bagaimana cara memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut kitab Nahwu yang sudah Fenomenal, yaitu Khulashoh Alfiyyah ibn Malik. al Syeikh al Jalal al Din ibn Abdillah ibn Malik Al Andalusiy berkata dalam kitabnya:
.
بِالجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَى وَ أَلْ #
      وَ مُسْنَدٍ لِلإِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ
Derajat luhur di sisi Allah SWT., itu dapat diperoleh melalui:
JAR (harus tunduk dan tawadlu’), TANWIN (niat yang benar mencari ridha Allah SWT.), NIDA’ (berdzikir), AL (berfikir),Musnad ilaih (beramal nyata). (Khulashoh Alfiyah Ibn Malik: hal 2)
.
Demikianlah menurut Alfiyah cara memperoleh derajat luhur. Pertama ,  harus tunduk dan tawadlu’. Yaitu merendahkan diri kepada sang pencipta juga kepada guru atau Syeikh. Hal ini, telah dilakukan dan dialami sendiri oleh muallif kitab Alfiyah ini dengan suatu kisah yang menarik.
.
Sesuai namanya, Afiyah ialah nadhom syair Nahwu-Shorf yang berjumlah seribu bait. Alfun dalam bahasa Indonesia berarti seribu. Konon seribu bait itu telah selesai beliau karang dalam ingatannya yang kuat, sebelum beliau tuliskan dalam sebuah kitab. Namun, mengapa jumlah nadhom alfiyah itu menjadi 1002 bait? Yakni seribu lebih dua bait.
.
Kedua nadhom tambahan tersebut berkaitan dengan sifat ta’dhimnya muallif kepada pendahulunya, Ibnu Mu’thi. Suatu ketika Imam ibn Malik mulai menuliskan kitabnya tersebut, bait demi bait. Sampailah beliau pada nadhom yang ke lima yang berbunyi:
.
………. # فَائِقَةً أَلْفِيَةَ إِبْنِ مُعْطِيْ.
.
(Alfiyah ku) lebih unggul dari pada alfiyahnya Ibn Mu’thi.
.
Seketika itu, beliau tidak dapat melanjutkan Alfiyahnya. Seribu nadhom yang telah beliau karang dan proyeksikan dalam ingatannya sirna seketika itu. Hal ini berlanjut hingga dua tahun lamanya. Hingga suatu ketika beliau bermimpi bertemu dengan seseorang.
.
Dalam mimpi tersebut orang itu berkata: “saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, benarkah itu?”. “Ya” jawab Ibnu Malik. “Sampai di manakah kamu mengarang kitab tersebut? “. Beliau kemudian menjawab sampai batas karangannya. “Mengapa kamu tidak melanjutkannya?”. “Semenjak hari itu, saya tidak bisa melanjutkannya lagi” jawab ibnu Malik. “Apakah kamu ingin melanjutkannya?”. “Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut”. “Kalau kamu memang masih ingin melanjutkannya, ketahuilah wahai Ibnu Malik bahwasanya seorang yang masih hidup terkadang mampu mengalahkan seribu orang mati”.
.
Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Malik merasa kaget, saat itulah beliau tersadar dengan apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait Alfiyahnya. Dalam bait tersebut jelas sekali beliau lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab alfiyah karya ibnu Mu’thi. Kemudian beliau bertanya: “apakah anda yang bernama Ibnu Mu’thi?. Orang tersebut menganggukan kepala. Seketika itu juga ibnu Malik merasa malu kepada ibnu Mu’thi. Keesokan harinya beliau meralat bait yang telah dikiaskan oleh ibnu Mu’thi dengan bait yang lain. Akhirnya beliau menambahkan dua bait berikut:
.
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِجٌ تَفْضِيْلاَ #
مُسْتَوْجِبٌ سَنَائِيَ الجَمِيْلاَ
.
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَةٍ وَافِرَةْ #
لِيْ وَلَهُ فِيْ دَرَجَاتِ الآخِرَةْ
.
Bagaimana pun dia (ibnu Mu’thi) lebih dulu yang pantas diunggulkan dan harus diberi pujian yang Bagus.
Semoga Allah memberi pahala yang sempurna untuku dan untuk beliau yakni derajat akhirat.
.
Demikianlah akhlak mulia para ‘ulama aslafuna al sholihin. Selalu menghormati dan tawadhu terhadap ulama’ lainnya. Lebih-lebih kepada gurunya, mereka selalu tawadhu kepada guru-guru mereka. (Hasyiyah al Alamah ibn Hamdun ‘ala Syarh al Makudiy lii Alfiyyah ibn Malik,  juz 1: hal 16)
.
Kedua,  tanwin atau niat yang benar mencari ridha Allah SWT. Begitu pentingnya sebuah niat, demi memperoleh derajat luhur di sisi Allah. Tanpa niat, sholat, puasa, haji tidak akan sah. Oleh karenanya, niat sangat penting adanya. Disebutkan dalam kitab Ta’lim al Muta’alim: “Betapa banyak amal yang kelihatannya bernilai akhirat, namun hasilnya menjadi amal dunia. Sebaliknya betapa banyak amal yang bernilai dunia, namun hasilnya menjadi amal akhirat. Hal ini karena ditentukan oleh baiknya niat”. Demikianlah pentingnya niat.
.
Ketiga, nida’ atau berdzikir. Berdzikir adalah upaya seseorang untuk selalu ingat kepada sang Pencipta. Adapun cara berdzikir dapat dengan membaca wirid-wirid, do’a,  dan lain sebagainya.
.
Keutaman berdzikir ini sangat banyak sekali, seperti yang telah disebutkan oleh hujjah al Islam Syeikh Abu hamid al Imam al Ghozali. Bahwasanya, keutaman dari dzikir itu dapat membahagiakan perasaan, menenangkan fikiran, mendapatkan akhir yang husnul khatimah, dan pahala surga. (Ihya’ al ‘ulum al Din, juz 1: hal 347)
.
Selain itu Allah SWT., berfirman : “yaa ayyuhal ladzina amanu udzkurulloha dzikron katsiro”… Wahai orang-orang yang beriman perbanyaklah dzikir.
.
Keempat, AL atau berfikir. Cara memperoleh derajat di sisi-Nya selanjutnya yakni dengan berfikir. Berfikir di sini adalah memikirkan ciptaan Allah, ke Esaan-Nya,  dan keagungan sifatnya.
.
Kelima, Musnad ilaih atau beramal nyata. Di sinilah pentingnya hablum minan nas, selain hablum minallah. Beramal nyata berkaitan erat dengan hubungan seseorang dengan manusia yang lainnya. Terutama manfaat yang diperuntukkan orang lain. Dalam bahasa pesantrennya sering disebut amal Muta’adi, yaitu amal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
.
Almaghfurlah KH. Ali Shodiq Umman, pendiri Pon. Pes. Hidayatul Mubtadiien pernah berkata “Almuta’adiy afdlolun minal qoshiir”. Amal yang muta’adi itu lebih baik dari pada amal yang qoshir. Dari pada duduk menyendiri lebih baik digunakan untuk belajar, mengajar murid-murid karena manfaatnya lebih dirasakan oleh orang banyak.
.
Demikian lima langkah memperoleh derajat luhur di sisi Allah SWT., menurut bait Alfiyah Ibnu Malik al Andalusiy. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.[]

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>