Home » 2018 » March

Monthly Archives: March 2018

KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Oleh: Imam Nasirudin
(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT., di antara bulan-bulan yang lain. Jika bulan Ramadhan adalah bulan bagi ummat Nabi Muhammad, maka bulan Rajab adalah bulan bagi Allah SWT., karena dalam bulan ini Allah SWT., akan memberikan banyak ampunan bagi hamba-Nya.

Kata “Rajab” atau رجب terdiri dari tiga huruf, yakni ro’, jim dan ba’. Huruf ro bermakna rahmatullah memiliki arti Kasih sayang Allah. Huruf jim bermakna Jurmul ‘Abdi yang memiliki arti dosa-dosa atau kesalahan hamba. Sedangkan ba’ bermakna birrullah yang memiliki arti kebaikan Allah. Oleh karenanya, kata Rajab memiliki maksud bulan di mana Allah memberikan kebaikan atau ampunan bagi kesalahan-kesalahan hambanya dengan lantaran sifat rahmat-Nya. (Duroh al Nashihin, hal: 40)

Diriwayatkan dari Nabi SAW., bahwasanya beliau bersabda:
“من احياء أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا، وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه و يشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد يستوجبوا النار”
“barangsiapa menghidupkan malam pertama di bulan Rajab maka hatinya tidak akan mati, dan jikapun hati itu mati maka Allah akan menuangkan kebaikan dari atas kepalnya dan mengeluarkan dosa-dosanya hingga bersih seperti halnya ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Selain itu juga ia dapat menolong tujuh puluh ribu orang ahli maksiat yang berhak masuk neraka”. Subhanallah, begitu besar Rahmat Allah yang diberikan kepada hambanya. (Durroh al Nashihin, hal : 40).

Tak heran jika di bulan rajab ini banyak kaum muslim memperingatinya dengan berbagai macam amal. Di antaranya dengan bersedekah, mengadakan majelis dzikir, mengadakan majelis shalawat, mengadakan pengajian akbar dan lain sebagainya. Ada juga yang mengamalkannya dengan menjalankan puasa-puasa sunnah, hal ini karena ada keutamaan tersendiri bagi yang mau berpuasa di dalamnya sesuai dengan jumlah hari ia menjalankan puasa.

Disebutkan pula dalam kitab Durroh al Nashihin bahwasnya barangsiapa berpuasa sehari maka ia akan mendapatkan ridha Allah yang mulia. Barangsiapa berpuasa selama 2 hari maka ia akan mendapatkan pujian ahli langit dan bumi sebagai orang yang mulia di sisi Allah SWT. Barangsiapa berpuasa selama 3 hari, maka ia akan dijaga dari bencana alam, siksa akhirat, sifat gila dan fitnah dajjal. Barangsiapa berpuasa selama 7 hari, maka akan dikunci baginya 7 pintu neraka jahannam. Barangsiapa berpuasa selama 8 hari, maka ia akan dibukakan 8 pintu surga. Barangsiapa berpuasa selama 10 hari, maka Allah akan mengabulkan segala permintaannya. Barang siapa yang berpuasa selama 15 hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan mengganti keburukannya dengan kebaikan-kebaikan.

Diriwayatkan dari Sahabat Abu bakar Ash Shiddiq, bahwasanya beliau pernah berkata: Tatkala sepertiga malam jum’at pertama di bulan rajab telah berlalu, para malaikat di langit dan di bumi semuanya berkumpul di dalam Ka’bah. Maka, Allah melihatnya dan berkata “Wahai para malaikat, mintalah sesuatu sesukamu!” kemudian para malaikat menjawab “Wahai tuhanku, kebutuhan kami hanyalah ingin memintakan ampun bagi orang yang berpuasa di bulan Rajab”, maka Allah pun menjawab “qod ghoffartu lahum. Aku telah mengampuni mereka”. (Durroh al Nashihin, hal : 41)

Demikianlah beberapa keutamaan dari berbagai macam keutamaan bulan Rajab. Semoga kita semua mendapatkan kesempatan beribadah di bulan rajab dan sya’ban, serta di pertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Aamiin.[]

Senandung Cinta Maryam

Oleh: Rahmawati Agustin
(Pegiat Literasi Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Di sebuah desa kecil daerah sleman Yogyakarta, terdapat sebuah bangunan kokoh berdiri ditengah hamparan sawah nan hijau. Di dalamnya terlihat seorang gadis kecil yang sedari tadi berdiri mematung didekat jendela, sepasang bola matanya berputar  ke arah kanan dan kiri sambil sesekali ia memperhatikan ibunya yang sedang tertidur pulas diranjang. Didekapnya boneka taddy bear kesayangannya sambil mengamati bintang – bintang di langit, rupanya  ia  sudah tidak sabar menyambut datangnya matahari pagi  untuk segera bermain bersama teman sebayanya.

10 Tahun kemudian

Gadis kecil itu kini tumbuh menjadi remaja yang manis, cerdas, dan  mandiri. Sayyidah Maryam namanya, biasa di panggil Maryam gadis desa berparas ayu ini tinggal bersama Ibunya yang biasa ia panggil dengan sebutan Bunda. Layaknya gadis Jawa pada umumnya ia memiliki sifat  lemah lembut juga kepribadiannya yang santun.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi gadis berlesung pipih ini. Ternyata hidup memang tak semanis hayalan masa kecilnya. 5 Tahun yang lalu saat dia duduk dibangku sekolah dasar, sang Ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Meskipun ia merasa begitu terpukul ditinggal oleh sang Ayah tercinta dalam waktu yang begitu singkat namun, tidak menjadikannya terus terpuruk dalam kesedihan.

Ia sadar bahwa hidup harus terus berlanjut. Separah apapun  kondisi kita, tak perduli harus  berapa kali ia terjatuh dan berkali- kali ia harus bangkit. Namun, ia tetap bersyukur karena memiliki Ibu yang berhati malaikat. Meskipun ayahnya telah pergi, sang Bunda selalu memberikan kasih sayang yang cukup untuknya.
Akan tetapi kondisi kesehatan Bunda akhir-akhir ini semakin memburuk,  ditambah dengan beban pikiran yang ia tanggung sendirian membuatnya menderita penyakit jantung koroner. Mulai saat itu Maryam mulai mengambil alih semua pekerjaan Bunda mulai dari mengurus ternak, ladang, dan perkebunan.

Awalnya Bunda keberatan dengan  usulannya, mungkin karena beliau merasa terlalu membebani putrinya. Meskipun sebenarnya Maryam tidak merasa terbebani sama sekali.
Dan beruntung Maryam memiliki dua sahabat yang berhati malaikat,  seperti Azam dan Azmi, dua bersaudara berparas tampan ini berasal dari keluarga priyai. Kebetulan mereka berdua satu sekolahan dengan Maryam. Singkat kata mereka bertiga memang sudah bersahabat sejak duduk dibangku sekolah dasar. Bagi Maryam mereka lebih dari sekedar sahabatnya, ia sudah menganggap Azam dan Azmi layaknya saudaranya sendiri. karena ketika ia dan Bundanya mengalami kesusahan mereka berdualah orang pertama yang selalu menolongnya tanpa pamrih.

Kedua sahabanya, Azam dan Azmi walaupun mereka notabennya adalah kakak beradik tetapi sifat mereka sangat berlawanan Azam sebagai kakak  malah lebih kekanak-kanakan,  jail, dan penakut, dibandingkan Azmi sang adik yang cenderung lebih pendiam, dan tegas dalam berpendirian. Meskipun begitu, selamanya mereka adalah sahabat terbaik yang dikirimkan Allah untuk Maryam.

Tengah hari tepat ketika matahari transit melewati meridian langit pada saat pusat titik tertinggi diatas cakrawala tepat diatas ubun-ubun kepala. Di- tengah suasana yang begitu panas,  Maryam seolah tak perdulikan hawa panas yang menyengat tumbuh gadis berjilbab ini, ia dibantu kedua sahabatanya, ia tetap bersemangat mencari rumput untuk makanan ternak sapi perah miliknya. Maryam dan kedua sahabatnya Azam dan Azmi sedang mencari rumput diladang. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang sedang   mengamati mereka  dari kejauhan.

Orang itu tidak lain adalah Zainab. Gadis yang sudah sejak lama menaruh hati kepada Azmi, dia juga orang yang diam-diam menyelipkan suratnya kedalam tas Azmi tempo hari yang lalu. Saat ini perasaannya sedang gundah karena cintanya yang tak kunjung terbalas, apalagi melihat kedekatan Maryam dan Azmi yang semakin  lama semakin menjadi. Membuat hatinya semakin dilanda kegalauan.

”Maryam sepertinya rumput yang kita cari sudah cukup banyak!” Seru Azam. Lalu memasukan rumput-rumputnya kedalam karung.” Sama karungku  juga sudah terisi penuh.” Timpal Maryam.

“Bagaimana dengan punyamu Azmi?” Tanya Maryam.

“Punya ku juga sudah penuh.” Jawab Azmi .

”Tunggu apa lagi yaudah kalau begitu ayo kita pulang!” Ujar Azam.

“Ayo!” seru Maryam.

Merekapun segera membereskan barang bawaan mereka ke atas gerobak, lalu  mereka dorong bersama-sama.

”Eh tunggu sebentar!” Seru Maryam menghentikan dorongannya.

“Sepertinya itu Zainab, sedang apa dia disana?” Tanya Maryam menunjuk kearah semak-semak.

”Kita samperin aja yuk!” jawab Azam. Menyadari bahwa keberadaannya di ketahui oleh mereka, Zainab pun segera menjauh.

”Gawat sepertinya mereka memperhatikanku aku harus cepat pergi.”   Gumang Zainab. Ia mempercepat langkahnya menjauh dari mereka.

”Si Zainab kok malah pergi gitu aja sih? aneh!” Timpal Maryam.  Dengan mengrenyitkan alisnya

“Yaudah kita langsung pulang aja!” Seru Maryam.

Setibanya dirumah Zainab langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, Zainab tampak begitu resah, matanya sulit untuk terpejam dikepalanya selalu terbayang-bayang wajah Azmi lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati akan tetapi malah berpaling tak membalas cintanya.

“Tolong pak jangan bawa barang-barang saya!” Pinta wanita paruh baya itu kepada salah seorang lelaki berbadan kekar. Sesekali lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang beringas bah  srigala yang siap menerkam siapa saja yang menghalangi langkahnya.

Mereka seolah-olah tidak menggubris rintihan wanita tua itu, Kemudian wanita tua itu berlutut kepada salah seorang dari mereka yang sedang duduk manis diatas kursi dengan posisi duduk menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kiri sehingga membentuk sudut lancip 25 derajat.
Dia sendang menikmati sensasi merokok dari pipa hookah lengkap dengan sepasang air bicirculation bah seorang bangsawan. Wajahnya memang rupawan, sepertinya dia seorang yang berdarah indo campuran, karena wajahnya sedikit kebarat-baratan. Pria itu memakai topi koboy hitam, juga jas hitam yang membalut badannya, perawakannya cukup kekar mirip seorang ajudan, bisa jadi dia adalah pemimpin dari komplotan orang berbadan kekar itu.

“Tuan apa salah saya sehingga anda tega mengambil harta seorang janda miskin beranak satu seperti saya?”Tanya wanita tua itu kepada si pria bertopi hitam sambil berlutut dibawah kursi.

“Tuan tolong jawab saya, saya butuh kejelasan!” Protes wanita paruh baya itu dengan nada bicara meninggi.

Tampaknya ia memang sudah hampir habis kesabarannya, kemudian ia beranjak bangkit dan berdiri.

Tetapi pria itu tetap diam seribu bahasa.

“Tuan jawab kenapa tuan hanya diam saja?” Desak wanita itu.

“Saya hanya menjalankan amanah dari seseorang, dan sebelum suami anda meninggal dia menitipkan ini kepada saya!” Jawabnya singkat .

Kemudian dia  mensodorkan sebuah amplop putih kepada si wanita.

Buru-buru ia buka amplop itu karena begitu penasaran dengan isi dari  pesan terakhir  suaminya. Seiring dengan perginya Pria itu dari hadapannya, wanita itu merasakan kepalanya teramat pusing, badanya mulai lemas, akhirnya ia  jatuh tersungkur ke lantai dan  ia mulai kehilangan kesadarannya. Assalamu’alaikum…’

“Bunda, Bunda Maryam pulang!”Seru Maryam dari depan pintu. Karena tidak mendapatkan jawaban apapun  ia dan kedua sahabatnya segera masuk kedalam rumah. Maryam benar- benar syok melihat keadaan rumahnya yg tak beraturan seperti kapal pecah. Dari kejauhan iya melihat Ibunya  sudah tergeletak di lantai

“Bunda…. Maryam berlari kearah ibunya yang sudah tergeletak lemas.

“Bunda kenapa ? apa yang terjadi bunda ? Tanyanya ketakutan.

“Maryam maafkan bunda!Seru Ibunya lirih.

Melihat kondisi Ibunya yang sudah lemas tak berdaya ia pun langsung membopong Ibunya ke atas kursi dibantu oleh kedua sahabatnya. Kemudian Maryam mengampil segelas air putih dari dapur.

”Bunda minum dulu!”Seru maryam.  ia membantu Bunda meminum air perlahan-lahan.

”Maryam sayang maafkan Bunda ya nak!” Pinta Bunda lirih. Maryam  memandangi kedua mata sang Bunda berharap mendapat jawaban yang jelas darinya.

“ Sebenarnya ada apa Bunda? kenapa Bunda terus-terusan meminta maaf?” Tanya maryam tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

” Tadi ada seorang pria memakai topi hitam bersama 4 bodiguardnya datang kesini nak!”Seru Bunda terbata-bata.

“Ayahmu nak ternyata dulu sebelum dia meninggal , dia meninggalkan hutang!”lanjut sang Bunda

“Dan akhirnya dia terpaksa menggadaikan seluruh atsetnya kepada seorang juragan kaya raya karena ia bangkrut dalam bisnisnya!

”Maafkan Bunda nak,  Bunda tidak bisa menjaga harta peninggalan Ayahmu nak!”Pinta Bunda dengan raut muka penuh penyesalan.

Maryam sangat syok begitu mendengarkan penjelasan dari Bunda, tetapi ia   juga tidak sanggub jika harus melihat ibunya terus merasa bersalah

“Bunda jangan sedih ini semua bukan salah bunda! Jawab Maryam menenangkan sang bunda

Astagfirullahhalngazim….

“Maryam harus minta penjelasan dari mereka Bunda! Mereka harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini! Seru Maryam geram.

“Untuk apa nak? kamu meminta penjelasan dari mereka?Tanya Bunda penasaran.

“Maryam tidak bisa terima mereka memperlakukan Bunda seperti ini!

“Bunda tidak apa-apa nak! kamu disini saja ya!” Seru Bunda membujuk Maryam. Ia  tak ingin putrinya berurusan dengan komplotan lelaki itu

“Enggak Bunda, Maryam harus menemui mereka!

Sudah Bunda istirahat saja  dirumah ya!” Jawab Maryam masih bersikeras

Dengan air mata bercucuran dipipi merahnya, Maryam segera berlari keluar rumah berharap ia masih bisa mendapati pria bertopi hitam itu. Tidak mau putrinya gelap mata Bu Halimah langsung mengejar Maryam ke sebrang jalan. Melihat Bu Halimah yang masih lemas mengejar Maryam  kedua sahabat Maryam, Azam dan Azmi langsung membantunya berjalan. Sedangkan Maryam masih terus berlari mengejar mobil pria itu.

“Tunggu jangan pergi dulu!” kamu harus bertanggung jawab!” Seru Maryam berlari mengejar pria yang sudah berada didalam sedan.

“Berhenti! Seru Maryam menggedor –gedor jendela mobil pria itu. Tetapi sedan itu melaju dengan kecepatan tinggi sehingga Maryam terjatuh karena tak sampai mengejarnya.

“Maryam sudah nak sudah!” Seru Bunda menghampiri Maryam. ia memeluk putrinya yang kini sedang duduk lemas di tengah jalan raya

“ Bunda Maryam gak rela jerih payah kita selama ini dirampas oleh mereka begitu saja!seru Maryam dengan isakan tangis.

”Bunda ini semua gak benar kan? Ayah gak mungkin melakukan semua ini? Seru Maryam menangis seenggutan“nak dengarkan Bunda,!”Seru bu halimah. Ia membelai jilbab putrinya sembari  memberi nasehat.

“Kamu tidak mau kan  melihat Ayah kamu tersiksa di dalam kuburnya, karena menangguh hutang!”Seru Bunda sembari menatap Maryam. Oleh sebab itu kita harus mengikhlaskan harta kita, semua yang kita miliki supaya Ayahmu bisa tenang disana! seru Bu Halimah menenangkan Maryam.

Seketika tangis kedua ibu dan anak itu pecah.

“Bundaaaa!”…..rintih Maryam.

“ Sabar nak, dibalik semua ujian Allah pasti akan memberi jalan! “Seru Bu Halimah tegar.

Setelah kejadian itu Maryam dan Sang Bunda tinggal dirumah sederhana berukuran 30 meter persegi memang rumah yang sekarang mereka tempati itu jauh lebih sempit dari pada rumah mereka yang dulu. Rumah itu sebenarnya milik saudara Azmi yang sudah tidak ditempati oleh mereka, beruntung karena kedermawanannya, mereka mengizinkan Maryam dan bundanya tinggal disana tanpa membayar uang seperserpun. Sekarang Maryam dan bundanya harus mulai menata lagi kehidupan mereka yang baru mulai dari awal, mereka juga harus berkerja extra keras lagi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bunda sekarang berkerja disalah satu perusahan  konfeksi tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sementara Maryam setiap pagi sebelum berangkat kesekolah harus membantu ibunya membuat kue terlebih dahulu sebelum kemudian ia titipkan dikantin sekolah.

5 Bulan Kemudian

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Maryam, Azam, dan Azmi juga teman-teman lainnya di Madrasah Aliyah. Bagaimana tidak hari ini kepala sekolah akan mengumumkan secara resmi kelulusan siswa-siswi kelas 3 seangkatan. Setelah mereka menyelesaikan ujian nasional bulan lalu. Setelah amplop hasil ujian sudah berada ditangan mereka masing-masing.
Mereka pun segera membuka amplop mereka. Dan betapa bahagianya hati Maryam melihat hasil ujiannya yang begitu memuaskan dan ternyata setelah itu ia dipanggil Bapak Kepala Sekolah untuk menerima penghargaan beserta murid berprestasi lainnya termasuk Azam dan Azmi untuk menerima sertifikat dan beasiswa dari salah satu perguruan tinggi yang sudah mereka pilih melalui jalur SNPTN. Diantara mereka bertiga Maryam lah yang paling beruntung karena sebelum ujian nasional dulu dia sempat mengikuti seleksi untuk masuk ke salah satu  PTKIN di luar negeri.

“Subhanallah Azam, Azmi aku bener –bener gak nyangka, aku bisa kuliah diluar negeri sekarang!” Seru Maryam kegirangan.

“Iya selamat ya Maryam! akhirnya cita-cita kamu bisa terwujudkan!” Jawab Azam. Ia juga turut berbahagia atas pencapaian yang diraih sahabatnya.

“Lihat Azmi, Maryam hebat ya bisa kuliah ke luar negeri!

pake beasiswa lagi!” seru azam bangga.

Tetapi melihat saudara laki-lakinya yang sedari tadi diam saja. Azam langsung menyenggol tangan Azmi.

“Azmi kenapa kamu diam saja  harusnya kamu beri selamat juga kepada maryam!”Seru Azam heran.Tetapi bukannya memberi selamat kepada Maryam, Azmi malah pergi begitu saja.

Sontak Azam dan Maryam dibuat bingung dengan perubahan  sikap Azmi yang tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti itu.

Azmi kenapa?kok malah pergi gitu aja?”Tanya Maryam. Ia ingin memastikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja.

“ah sudahlah Maryam mungkin dia kecapean! kayak gak tau aja kamu, kalau si azmi itu aneh. “Timpal azam dengan santainya

“azam gak boleh gitu ah!”  Tegur Maryam.

“Udah gak usah dipikirin!yang penting cita – cita kamu buat kuliah keluar negeri sekarang sudah tercapai!” Hibur Azam.

“Iya azam alhamdulillah, aku bener-bener gak nyangka sebenarnya! Jawab Maryam kembali antusias.

“Yaudah kamu cepet pulang kasih tau Bundamu, pasti beliau seneng banget

denger kabar ini!”

“yaudah aku pulang dulu azam, oh ya besok lusa aku tunggu kalian di bandara!”ucap Maryam bersemangat.

~ Di Bandara

Pagi ini Bu Halimah mengantarkan Maryam kebandara, sesampainya mereka dibandara tidak lupa ia memberikan wejangan – wejangan kepada  putri semata wayangnya itu sebelum ia berangkat untuk menumtut ilmu ke negeri orang. Setelah mereka menunggu hampir satu jam . Akhirnya mereka menerima instruksi bahwa pesawat akan diberangkatkan 20 menit lagi. Maryam mulai gusar, kenapa Azam dan Azmi belum juga datang padahal ia sebentar lagi harus take off, berkali-kali ia memerikasa ponselnya untuk memakstikan apakah ada pesan atau telefon dari mereka. Ia juga berusaha menghubungi keduanya secara bergantian tetapi hasilnya nihil, kedua-duanya sangat sulit di hubungi.

“ Bunda sepertinya Maryam harus segera berangkat!” Serunya putus asa.

“Tapi bagaimana dengan Azam dan Azmi nak?” Tanya Bunda khawatir.

“Mungkin mereka masih diperjalanan!”Seru Maryam dengan raut muka sedih.

“ Kalaupun tidak sempat bertemu, sampaikan salam Maryam  kepada mereka ya bunda! “Seru Maryam dengan mengembangkan senyum tipisnya.

” Pasti bunda sampaikan! Seru sang Bunda lalu ia melepas  putri semata wayanya dengan pelukan dan berkali-kali mencium pipi putrinya itu secara bergantian.

”Maryam berangkat dulu ya bunda! Bunda jaga kesehatan ya selama maryam pergi!” Seru Maryam meneteskan air mata.

“ Iya hati-hati nak!” Seru Bu Halimah tegar.

“Assalammualaikum Bunda! “Seru Maryam dengan mencium tangan Ibunya

“Walaikumsallam nak!”Seru Bu Halimah. ia mengelus-elus kepala putri semata wayangnya itu kemudian memeluknya untuk terakhir kali.

Kemudian Maryam membawa kopernya berjalan menuju area boarding lounge, tidak lama setelah itu datanglah kedua sahabatnya,  Azam dan Azmi mereka berusaha menemui Maryam untuk mengucapkan salam perpisahan tetapi dihadang oleh petugas. Tetapi berkat kecerdikan mereka, mereka bisa bernegosiasi dengan petugas dan akhirnya mereka diizinkan masuk. “Maryam, Maryam tunggu!”  Mendengar suara kedua sahabatnya Maryampun berbalik kearah mereka. Betapa bahagianya hati Maryam mendapati kedua sahabatnya itu akhirnya datang juga.

Maryampun langsung lari kearah mereka. Akhirnya kalian datang juga! Seru Maryam girang.

“ Pasti datanglah! Seru Azam percaya diri. “ oh ya Maryam ada yang mau ngomong sesuatu nih sama kamu!” Seru azam menyenggol pundak Azmi ia berusaha memberikan isyarat kepada saudaranya itu untuk segera berbicara. “Ada apa Azmi? Tanya Maryam penasaran. “Eem, kamu hati-hati disana ya Maryam,  jaga kesehatan, jangan lupa sholat !” Seru Azmi tampak gugup.

“ Iya Azmi, kalian juga jaga kesehatan ya! Timpal Maryam.

Jangan nagis mulu  kalau aku tinggal hahaha! Candanya

Azmi ayo ngomong! desak Azam. Ia mengisyaratkan kepada adiknya untuk segera mengutarakan isi hatinya kepada Maryam.

“ Ngomong apa lagi  barusan juga aku ngomong !

” Kok cuma itu  ? heran deh sama kamu!” Ujar Azam jengkel.

Habis mau ngomong apa lagi! Seru Azmi berbisik kearah Azam. Maryam tampak bingung dengan tingkah kedua sahabatnya itu.

“Oh ya Maryam ini aku punya sesuatu buat kamu! Seru Azmi menyodorkan sebuah bingkisan kearah maryam. Itu kenang-kenagan dari kita berdua.” Makasih ya Azmi, Azam! Kayakknya aku gak bisa lama-lama pesawatku sebentar lagi  akan berangkat! Seru Maryam tergesa-gesa.

Bunda Maryam berangkat! “Serunya melambaikan tangan kearah ibunya yang berdiri didekat kaca.

“Oh ya Azam, Azmi, aku bakalan rindu sama kalian!” Seru Maryam sambil berlari menuju pesawatnya.

Dari dalam pesawat Maryam membuka sebuah bingkisan kotak merah yang diberikan azmi tadi ternyata isinya adalah boneka tedy bear pink favoritnya ia tersenyum tipis  sambil memeluk boneka itu sembari mengingat wajah kedua sahabatnya itu. Kemudian dia mengambil sebuah amplop berwarna merah hati yang diletakkan disamping boneka. Ternyata surat itu dari Azmi.

Assalammualaikum….

Teruntuk sahabatku tercinta, yang kini telah jauh dimata. Aku selalu berdoa semoga kamu selalu berada dalam lindunganNya. Maryam melalui surat ini kiranya engkau sudi mendengarkan suara hati dari seorang lelaki tak tau diri seperti aku.“Maryam aku bukanlah lelaki yang pandai merangkai kata- kata seperti Azam, aku juga selalu bersikap dingin kepada semua teman perempuanku.  Maka saat aku menulis surat ini  diatas bukit candi abang, disaksikan rumput-rumput liar dan ilalang diatas bumi ciptaan sang Maha Agung , maka kuutarakan seluruh rasa yang selama ini telah berkecambung di dada. Aku menyayangi mu dan aku ingin menjagamu , juga menjadi bagian dari hidupmu suatu hari nanti. Aku akan sangat maklum jika kau masih ragu dengan pernyataanku, aku juga tidak memaksa jika kiranya kau tak membalasnya. Tapi sungguh aku sama sekali tidak berdusta,semua ini murni dari lupuk hatiku yang paling dalam. Semoga Allah swt akan selalu menyertai disetiap langkah kakimu.

Wassalamualaikum.

Sebenarnya Maryam terkejut dengan ungkapan Azmi sahabatnya, namun tidak dapat dipungkiri ia juga sudah sejak lama menyimpan rasa yang sama kepada sahabatnya itu, tetapi rasa itu buru –buru ditepisnya karena ia sadar ia harus sungguh-sungguh dalam belajar supaya tidak mengecawakan Bundanya, ia percaya bahwa rencana Allah pasti jauh lebih indah dari apa yang ia harapkan. Biarlah rasa itu saat ini ia simpan dalam hati supaya kelak bila  ia dan Azmi berjodoh semoga dapat dipertemukan kembali dalam suatu ikatan yang suci dan abadi

Setetes Embun Impian

Setetes Embun Impian

Oleh: Ekka Zahra Puspita Dewi

(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

 

 

Rindu mencuriku

Dari lilit dunia yang mengeringkan jiwa

Cinta membelengguku

Bersama kedipan takdir yang terlukis

Ah, indahnya

Mengempas dunia yang menghanyutkan

Ah, syahdunya

Mencicip aroma sedap impian

Bolehkah, wahai Tuhan?

Kujebak diriku di dalam sejuknya cawan

Yang membuatku menari, melayang

Yang menggiringku lekat, tertawan

Bolehkah, duhai Tuhan?

 

Dingin masih menggigit tulang. Banyak manusia yang masih tenggelam di dalam selimut hangat mereka. Menyelamatkan diri dari incaran sang dingin yang meraung-raung, mengintai. Meski kehangatan ditawarkan oleh selimut itu, sejatinya ia merupakan bisikan dan buaian dari musuh yang teramat nyata, yang selalu mengincar, menggoda, membidik dengan tepatnya kepada hati insan-insan hamba Allah Yang Mahaagung. Ternyata masih ada, ya, masih ada beberapa manusia pilihan, yang memilih melawan bujukan sang syaithan dengan menggeliat, kemudian terduduk, bangun dan melangkah membuyarkan godaan syaithan melalui segarnya wudu dengan mengusap tangan, mulut, hidung, wajah, telinga, dan juga kaki mereka. Terbirit-biritlah para syaithan yang tengah menari-nari.

Pagi masih dini. Aku melihat jam dari ponsel mungilku yang serba guna ini, Samsung Star. Angka 03.15 pongah menguasai salah satu latar wallpaper ponselku. Aku mengusap-usap mataku yang masih baru saja terbuka setelah sekitar 3 jam tertidur. Di ujung sana, ada sesosok bayangan manusia yang mengenakan mukena, bermunajat kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Mengadukan resah gundah dan bahagia yang mereka rasa.

Aku mengerdipkan mataku. Menoleh dan mencoba mengumpulkan kesadaran. Samping kiriku masih terlelap. Namun samping kananku sudah kosong. Ya, sahabatku yang sudah menghilang dari sampingku adalah wanita saleha. Dia pasti sudah terbiasa terkoyak oleh dinginnya sepertiga malam, untuk mengadukan segala perkara yang ia jalani di dunia ini.

Aku segera bangkit. Kutaksir, sahabatku itu masih di kamar mandi. Semoga ia tidak segera selesai, agar aku ada kawan di sana. Lumayan membuat bulu kudukku berdiri jika aku hanya sendirian di rumah besar yang tadinya kosong ini.

Kakiku kulangkahkan perlahan, melewati manusia-manusia yang masih terbuai oleh mimpi-mimpi mereka. Kutahan sebisa mungkin agar tidak sampai menginjak jari-jari maupun rambut mereka yang terkulai. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara.

Setelah melalui ruangan serbaguna yakni kamar tidur, ruang rapat, ruang mengaji dan ruang salat ini, aku berbelok ke arah kiri. Lampu dapur yang juga mengarah kepada kamar mandi sudah menyala dengan benderang. Memecah gelap yang masih bergumul di luar sana. Namun sepi. Tak tampak satupun manusia di sana.

Srek-srek, kricik-kricik, srek-srek

Aku mendegar gemericik air di dekat sumur. Jantungku berdegup lebih kencang. Kutajamkan pandanganku. Memastikan bahwa yang membuat suara itu adalah manusia. Ragu-ragu, aku melangkah menuju ke ruang dapur. Napasku memburu. Suara itu terus saja ada. Aku terusik. Akalku menarikku bahwa sumber suara itu dari Nay, bukan makhluk lain yang mungkin tidak tampak. Analisisku berjalan. Alasan pertama lantaran dia tidak ada di tempat tidur. Alasan kedua orang yang sedang salat juga bukan dia. Aku mengenali mukena miliknya. Bukan dia. Aku yakin. Alasan ketiga, jika yang memunculkan suara bukan Nay, lantas dimana dia? Mengapa aku tidak bertanya ‘siapa dia yang memunculkan suara’ ya?

Meski akalku menolak bahwa suara itu dari makhluk lain yang tak tampak mata, namun aku tak memiliki daya untuk mencegah bulu kudukku berdiri juga. Ini masih petang, kawan. Apa saja bisa terjadi.

“My?” suaraku membuncah. Serak, tercekat di tenggorokan.

Srek-srek, krucuk-krucuk, srek-srek

Tidak ada tanggapan.

“Umy?” aku sedikit berteriak. Tetap tidak ada tanggapan. Aku tidak boleh berteriak dengan volume yang lebih lantang lagi. Bisa-bisa seluruh penghuni rumah terbangun karena teriakanku. Meski ragu, akhirnya langkahku kuseret menuju ke balik sumur itu. Sembari melafazkan Ayat Kursi di dalam hati, aku mendekati sumur itu.

Kakiku kulangkahkan perlahan. Pelan. Sangat pelan. Jantungku meloncat-loncat tak karuan.

Deg-deg-deg-deg-deg-deg

Aku semakin dekat dengan sumur. Ya Allah suara degup jantungku kudengar. Napasku kutahan. Ingin aku balik arah dengan cara berlari menuju tempat manusia lain berada. Di sisi lain, adrenalinku terpompa. Aku ingin tahu siapa dia.

Ah, kalian ini apa! Batin dan keinginan berperang di saat yang genting! Aku mencaci mereka.

Tak kusadari, pertengkaran batinku malah menuntuku mendekat ke sumur. Ayat kursi semakin cepat kulafazkan. Entah mengapa, hasilnya malah tak karuan. Akhirnya aku hanya menyebut lafaz Allah.

“Allah, Allah, Allah,” bisikku sangat pelan.

Semakin dekat, kulihat sebuah bayangan bergerak-gerak yang tampak akibat membelakangi cahaya dari sinar lampu. Dadaku rasanya hampir meledak. Aku sudah menyiapkan diri untuk terbirit-birit jika ada sesuatu yang tidak kuinginkan. Dan sekarang, aku malah berdiri tepat di utara sumur itu. Kutahan napasku. Jantungku terasa mau copot. Sosok wanita berambut panjang dikuncir sedang membungkuk, kemudian ia menoleh kepadaku dan meringis memamerkan gigi-giginya.

Refleks, kakiku mundur ke belakang satu langkah.

“Allaaaah,” aku sedikit berteriak. Tanganku kukepalkan di dadaku. Aku hampir menabrak dipan yang bertengger di belakangku. Jantungku berdenyut-denyut kurasakan dari kepalan tangan yang menyentuhnya. Napas yang tadinya kulilit kulepas begitu saja.

Fuuuhhhhh

Wahai kawan, tenanglah. Akalku yang menang. Sosok itu adalah Nay. Sahabatku itulah yang membuat suara-suara. Dia sedang mencuci baju.

“Apa Zar?” tanyanya polos sambil terkikik melihat ekspresiku yang kaget.

“Umy, ya. Tak kira apa!” protesku sebal. Dahiku kukerutkan lega. Napasku ternyata masih ngos-ngosan lantaran kutahan sedari tadi. Tanganku masih tertelungkup di dada. Jantungku yang tadinya memburu, masih tetap menderu-deru. Aku merasakannya.

Setelah mengembalikan kesadaran, aku langsung ngeloyor meninggalkan Nay yang sedang tertawa melihat ulahku. Aku tak peduli. Sungguh, kawan. Aku sebal padanya. Bisa-bisanya dia membuat malam pertamaku di tempat ini menjadi kisah horor. Hua. Boleh aku menangis? Dia tidak tahu apa yang barusan kualami. Ngeri, tahu! Hiks.

Aku mengambil salah satu handuk berwarna oranye di antara barisan handuk yang tergantung di hanger-hanger dengan rapi. Juga kuambil kotak plastik yang berisi seperangkat alat mandi. Tadinya ia duduk manis, bertengger di antara perlengkapan mandi volunteer yang lain.

Anganku kembali melayang tentang Nay yang masih berada di balik sumur. Gadis itu sedang mencuci baju sendirian. Sendirian! Sendirian, kawan. Kuulang lagi, sendirian. Cukup ya.

Aku terkagum. Bagaimana bisa gadis itu sebegitu tangguh berani memecah kelam malam sendiri tanpa ditemani siapa-siapa di tempat ini? Horor lo. Sepi, sunyi, luas, hiii. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu bermunculan di dalam kepalaku.

Lupakah? Sejatinya memang kita tidak pernah sendiri. Allah di kemanakan?” sebuah suara dari batinku menyeruak. Astaghfirullah, aku beristigfar.

Kawan, mari menjelajah ruang besar ini. Kamar mandi yang berada di rumah ini adalah kamar mandi khas Jawa. Kalian bisa menemui sebuah sumur lengkap dengan pompa air otomatis di luar kamar mandi. Ruangan itu berada di dapur yang, percayalah, kalian bisa jogging. Bahkan kalian bisa melakukan senam aerobik dengan kapasitas sekitar dua puluh orang dengan sangat leluasa di dapur ini—sangat luas.

Di samping sumur itu terdapat sebuah ruangan bertembok. Namun batas temboknya tidak sampai menyundul langit-langit rumah. Sebuah pintu seng terparkir rapi sebagai jalan keluar-masuk ruang itu. Itulah kamar mandi. Ukurannya lumayan luas. Bak airnya yang berbentuk balok tanpa atap itu sangat besar. Jika kalian berpikir untuk menjadikannya sebuah bath up, barangkali malah membuat tubuh tenggelam ketika penuh terisi air. Sering aku membayangkan bahwa bath up itu adalah liang kubur yang akan memasukkanku di dalam perut bumi. Aku selalu merinding jika membayangkannya.

“My, tunggu aku ya!” pintaku pada sahabatku itu. Aku memang memiliki panggilan khusus untuknya. Umy adalah caraku memanggilnya.

Suaraku masih terdengar serak sebab memang aku baru bangun dari tidur yang berdurasi beberapa jam saja. Sebab Niken—partner mengajarku—dan aku lembur untuk persiapan mengajar pagi ini.

“Ndak mau,” jawabnya menyebalkan. Kedua sudut bibirku ku tarik ke bawah.

“Umy, huaa…” aku merengek.

“Hahaha. Iya iya. Sana lo cepat mandi!” jawabnya.

“Mmmm… Kau sudah mandi?” tanyaku.

“Sudah dong. Sana gih. Keburu ramai lo ntar,” dia mengingatkan.

“Nunggu aku gak My?” aku memastikan.

“Gak lah. Ngapain? Tak tinggal ya,” jawabnya, menggodaku.

“Myyyy…Emoh!” aku merajuk. Maaf, ya. Aku termasuk penakut.

“Iya-iya. Jangan lama-lama. Lima menit,” dia memberikan syarat.

“Enam menit!” aku menawar.

“Hahaha. Tepat lo ya! Udah sanaa!” sahabatku itu mendorongku masuk setelah menaruh cuciannya yang rampung di dalam ember. Jika ia terus meladeniku, mungkin habislah waktu kami untuk sekadar chit-chat.

“Makasih, cuyung,[1]” jawabku sembari mengunci pintu kamar mandi yang lumayan luas itu.

Kawan, munculkah pertanyaan tentang kami siapa dan sedang apa pada benak kalian? Sabarlah, semua akan terjawab pada waktunya. Hehe. Baiklah, mari kita berkenalan kawanku. Namaku Rara. Lengkapnya ‘Aina Mardiyyati Azzahra. Aku salah satu mahasiswi IAIN Tulungagung jurusan Tadris Bahasa Inggris. Saat ini aku sudah menduduki semester ke-enam. Dan pada kali ini, aku mengikuti sebuah even Wiyata Bhakti yang diadakan oleh HMJ TBI.

Wiyata Bhakti adalah ajang pengabdian kepada masyarakat dan sekaligus mengajak kami—mahasiswa TBI—untuk practice langsung di lapangan tentang teori mengajar Bahasa Inggris yang sudah kami dapatkan ketika di bangku kuliah. Ada istilah spesial ya bagi sukarelawan yang bersedia untuk mengabdikan diri dalam even ini, yakni volunteer.

Even ini sejatinya adalah kali kedua aku mengikutinya. Dahulu, pada semester 2 awal, aku juga salah satu volunteer. Namun pada semester 4, karena beberapa hal, aku tidak mendaftar. Merasa kangen dengan suasana Wiyata Bhakti, pada semester 6 ini, aku mendaftar lagi. Jadi even ini bisa diikuti oleh seluruh mahasiwa jurusan TBI semua semester. Namun ketika sudah menjenjaki semester ke 8, jarang mahasiswa yang bersedia ikut. Maklum, ya. Kesibukannya sudah berbeda.

Even ini membuat kami ditempa dan belajar. Bukan hanya dengan mengajar, kami bisa menerapkan segala teori-teori teaching and learning yang sudah kami keep dalam memori kami, namun apa yang kami dapatkan sejatinya lebih dari itu. Misalnya saja, kami belajar hidup dengan orang asing. Hidup bersama masyarakat yang heterogen. Sungguh rupa-rupa warna sifat mereka. Aduhai sahabatku, kita tidak sedang membahas lagu Balonku lo ya. Tidak.

Selain itu, hal yang paling menarik bagiku, adalah program kali ini berada di dekat Pondok Pesantren Jabung, Kabupaten Blitar. Meski sebenarnya, setiap acara Wiyata Bhakti memang selalu berada di lingkungan Pesantren. Namun berada di lingkungan pesantren ini bisa memberikan bumbu lain yang membuat hati menjadi adem dan tenang. Ah, pesantren. Nah, inilah yang menjadi salah satu alasan utamaku untuk mengikuti even Wiyata Bhakti.

Sahabatku, jurusan kami yang cenderung bersifat umum, yakni Tadris Bahasa Inggris memang kurang mendapatkan pemaparan ilmu keislaman sebagai nutrisi kesehatan jiwa. Meski sebenarnya sudah bisa dikata cukup kurikulum yang diberikan oleh kampus. Namun, ya begitulah. Jika tidak pandai-pandai membuat menejemen yang apik dan rapi, tentu asupan gizi untuk jiwa bisa terkurangi. Nah, dengan inovasi program yang semoga penuh dengan berkah ini mampu menjadi alternatif kami untuk mereguk lezatnya madu ilmu Islam yang bisa memberikan nuansa manis di dalam ruh kami.

Jarak Pondok Pesantren dan juga ndalem[2] Abah dengan rumah yang kami tempati hanya terpaut satu rumah saja. Sangat dekat. Bahkan rumah yang sedang kami tempati ini adalah salah satu rumah saudara dari Abah pemilik pesantren itu.

Kemarin kudengar dari salah satu panitia yang merupakan rekan seangkatan. Mereka telah sowan[3] di ndalem dan meminta kepada Abah agar berkenan menuangkan teko ilmunya kepada cawan-cawan kami. Sehingga kami bisa langsung, live mengaji dengan beliau selama 2 pekan full setiap selesai salat Maghrib, hingga Adzan Isya berkumandang.

Sebuah jackpot[4] ya? Merupakan rezeki yang harus kami syukuri dengan sangat. Aku termasuk orang yang sangat beruntung bisa mengikuti acara ini. Sebab, Allah menuangkan setetes ilmu-Nya pada kesempatan ini. Aku juga bisa memuaskan dahaga akan ilmu-ilmu Pesantren yang belum pernah kusinggahi. Bagaikan embun yang menetes pada fajar yang masih ranum.

***

Sunyi masih merajai detik ini. Hamba yang bernama manusia belum banyak yang terbangun. Malah hamba-Nya yang lain yang ikut menyemarakkan suasana qiyamul lail yang syahdu.

Krik-krik-krik-krik-krik

Di dalam kamar mandi, aku tersenyum mendengarnya. Hatiku berdesir. Itu adalah lantunan zikir dari para jangkrik. Mereka senantiasa mengagung-agungkan Asma Allah. Mereka selalu bertasbih kepada Rabb al-‘Alamin.

Bagaimana denganku? Padahal, katanya manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia, bahkan lebih dimuliakan daripada para malaikat. Lantas apa mulianya jika berzikir saja tidak pernah. Dalam segar guyuran air, aku merenung.

Krik-krik-krik-krik-krik

Masih kudengar nada indah itu. Zikir para jangkrik membuatku menunduk, malu. Menyisakan kesyahduan di sepertiga malam ini. Aku bersegera untuk menyudahi mandiku. Jiwa ini semakin merindu untuk rebah kepada Sang Kekasih. Tak sabar rasanya.

Seusainya, kubuka pintu kamar mandi. Kulangkahkan kakiku menapaki area sumur yang ada pancuran di dekatnya. Belum sempat aku menaruh peralatan mandi, pintu yang baru kulewati itu tertutup kembali. Ternyata sebagian jiwa-jiwa yang tadinya terlelap sudah mulai bangun. Mereka mengantre.

Sahabatku, ada total enam puluh mahasiswi yang mengikuti program ini—panitia dan volunteer. Kamar mandinya banyak sekali, yakni satu buah saja. Jadi, bisa ya kita membayangkan bagaimana panjangnya kami berbaris? Lebih panjang dari permainan ular naga. Percayalah. Mari kita kembali.

Seusai mengambil wudu, aku menoleh ke arah utara. Kulihat Nay duduk manis di salah satu amben[5] dekat bumbu dapur. Ember di sampingnya telah kosong. Sepertinya dia sudah selesai menjemur cuciannya. Entah kapan dia menjemurnya. Mungkin ketika aku masih mandi, dia mengambil kesempatan untuk menjemur cuciannya.

Sepi mulai pudar. Satu, dua, tiga manusia mulai bangun dan mengambil nomor antrean—melakukan order kepada kawan yang mengantre untuk menjagakan alat mandinya—untuk memasuki kamar mandi. Riuh sudah keadaan dapur yang tadinya sunyi ini. Suasana semakin meriah ketika para panitia yang mengurusi masalah paling crucial, yakni tim konsumsi sudah memulai aktivitasnya di dapur.

Hatta, bisa kita bayangkan, ya bagaimana pemandangan indah yang tampak? Ada yang menggerus bumbu dapur, ada yang adang[6] nasi, ada yang memotong kangkung, ada juga yang meringis menahan pipis, ada yang masih menguap. Serba adalah pokoknya.

Seusai wudu, Nay dan aku kembali melangkah menuju ke ‘kamar’ kami. Meski suasana dapur sudah mulai semarak, namun di ruang ini, lampu masih padam. Seperti tadi, aku melangkah berjinjit-jinjit untuk menghindari injakan pada tempat yang tidak seharusnya. Zalim kan jika menempatkan sesuatu pada yang tak seharusnya? Aku bergidik. Kakiku terus menjangkah. Kuikuti Nay dengan mengekor di belakangnya menuju pojok ruangan yang lebih longgar dan memungkinkan untuk salat.

Setiba mengambil mukena, kami terhanyut dalam qiyamul lail. Dadaku bergetar. Atmosfer ini jarang sekali kujumpai ketika berada di rumah kos. Aku bersimpuh dengan jalan bersujud kepada-Nya. Rasa hatiku seperti membuncah. Aku meminta pada Tuhanku. Aku ingin suasana ini di sisa hidupku. Aku ingin tinggal di lingkungan pesantren yang selama ini belum pernah kujejaki. Aku ingin mendedikasikan ilmu serta diriku untuk umat. Masyaallah. Tidak terasa, air mata menyembul dari kelopak mataku. Jiwaku meradang. Sungguh, betapa Allah sayang. Kubiarkan jiwaku terhanyut oleh arus rindu dan cinta yang berkecipak. Aku sedang didera kerinduan yang membuat hatiku terasa sejuk. Amat sejuk.

Seusai rebah dan bersujud, aku bangun. Jemariku kugunakan untuk melakukan wirid. Beberapa menit, wiridku usai.

Kutoleh Nay. Aku terpesona. Wajahnya bersinar. Mulutku tidak sadar menganga. Ah, kawan. Maaf. Ternyata layar ponsel memberikan cahaya di dalam wajahnya.

“Ma’tsuratnya dibaca, Beb,” ucapnya setelah mendapatiku menatapnya. Aku sedikit meringis. Segera kugiring tubuh yang masih terbalut mukena ini untuk mengambil benda mungil kesayanganku—ponsel—yang teronggok di dekat bantal tidur. Setelah itu, kuseret kembali tubuhku ke tempat semula. Button on kunyalakan. Wajahku pasti bersinar juga. Hatiku cekikikan. Baiklah, kawan. Abaikan ya. Jemariku kubiarkan menari menyentuh layar si mungil. Kudapati sebuah aikon yang di  bawahnya tertulis kata ‘Ma’tsurat’. Klik. Muncullah bacaan-bacaan yang bisa menyusupkan desau angin yang merontokkan gundah hati.

Ashbahnaa wa ash bahal mulku lillahi wal hamdulillahi laa syari kalah, laa ilaaha illa huwa wa ilaihinnusyur,[7]” ucapku lirih, hampir tidak terdengar.

Zikir pagi—yang hakikatnya mengingat Allah—memang memberikan dampak dahsyat di dalam hati. Alangkah indahnya jika pagi dimulai dengan mengagung-agungkan Asma-Nya sebelum terjun dalam kubang ingar-bingar dunia. Alangkah syahdunya membuka lembar hari dengan mengingat-Nya sebelum mengingat perkara-perkara dunia. Oh, alangkah indahnya.

Sahabatku, aku sedikit berbisik boleh? Meski mungkin kalian mengatakan tidak boleh, tetap aku harus mengisahkannya. Agar tidak timbul tanya dalam benak kalian. Membuat orang penasaran itu berdosa tidak? Ah, ranahnya hukum. Tidak berani saya main-main jika tidak ada dalil naqli wa aqli yang mendukung. Kukisahkan saja, ya? Mau kan menyimak? Terima kasih—paksa.

Alkisah, Nay dan aku bukan jebolan Pondok Pesantren, kawan. Kami tidak pernah berkesempatan untuk mengenyam renyah dan gurihnya bangku pesantren. Maka, bersyukurlah jika kalian pernah mengaji memeras ilmu dari kitab-kitab para ulama terdahulu yang sungguh kuirikan. Hal itu mampu membuat dahaga di dalam benakku semakin meronta. Sungguh, aku ingin bisa mengkaji itu semua.

Namun, bukan berarti kami tidak bersyukur atas rajutan takdir terindah yang Allah berikan kepada kami. Sungguh, alhamdulillah wa bi’idznillah, Allah menuntun kami melalui jalan yang lain. Jalan terindah yang bisa mengubah haluan hidup kami. Jalan terindah yang bisa melegakan dahaga yang meraung-raung dalam batin kami. Intinya, Allah memberikan cara lain agar cawan kami basah terhadap ilmu agama yang mampu menuntun kami untuk mengenal Rabb kami. Bagaimana kisahnya? Mohon maaf, kawan. Kisah itu terlampau panjang dan pelik. Semoga Allah memudahkan jemari ini untuk merangkai bunga-bunga cerita yang masih terserak. Maaf, ya jika pada akhirnya aku tetap menyisakan tanya. Oh, sungguh mohon maafkan al-fakir ini.

Baik, kita kembali. Seusai mengkhatamkan al-Ma’tsurat, kami—Nay dan aku—duduk di tempat kami tidur tadi. Lampu masih padam. Kami saling membisu, berkutat dengan ponsel masing-masing. Sesekali kami tertawa. Kami memiliki urusan yang mengharuskan kami melakukan snorkeling[8] di dalam dunia maya. Urusan yang genting. Apakah kiranya kalian berkenan untuk menumpahkan rasa percaya perihal hal ini?

Beberapa menit kemudian, tim panitia menyalakan lampu ruang ini. Gulita pecah menjadi terang. Mataku berkedip-kedip. Pupilku mengecil, beradaptasi dengan cahaya yang berpendar di seluruh ruangan. Kawan-kawan yang tadinya masih didekap selimut mulai menggeliat. Mereka mengumpulkan nyawanya kembali. Terduduk, kemudian bangkit berdiri.

Lamat-lamat, kudengar suara tarhim yang berasal dari surau-surau. Kawan, dekat tempat tinggal kami ada sebuah masjid. Tarhim juga menggema di sana. Suara syahdu sang qori’ mampu melesatkan busur rindu tepat pada ulu hatiku. Mengapa aku mengatakan kata itu—rindu? Entahlah.

Lima belas menit kemudian, terurailah sepi yang beberapa jam sempat menguasai seantero jagat Desa Jabung itu. Syahdan, kelam malam terlipat. Semburat cahaya fajar merekah dari ufuk timur. Para mu’adzin bersahut-sahutan, berlomba untuk mengumandangkan azan Subuh pertama yang kami—volunteer—dengar di sini. Masyaallah, suaranya bertalu-talu, mendayu-dayu, merayu-rayu, menentramkan ruh-ruh manusia yang merindu puncak cahayanya, yakni Allah Rabb semesta alam.

Aku kembali mengenakan mukena yang duduk manis di dekatku. Aku menunggu rekan-rekan untuk melaksanakan salat berjamaah. Memang, kawan, salat berjamaah adalah salah satu agenda yang ada dalam acara ini. Subuh ini adalah pertama kali kami merealisasikannya.

Para kaum Hawa yang tinggal di rumah ini melakukan persiapan untuk salat berjamah. Hatiku berjingkrak-jingkrak tak karuan. Mereka mulai berdatangan dan membentuk shaf untuk melaksanakan salat. Ada desiran lembut yang menyapa batinku. Pandanganku terbias. Sekumpulan orang-orang ini bisa disatukan semua dalam salat. Masyaallah, betapa Mahaagung Allah Rabb itu.

Para panitia telah menggilir jadwal imam salat. Benakku melayang terbang di awang. Aku jadi imam salat? Apakah bisa? Ah, cita-citaku adalah mampu menjadi insan yang bermanfaat bagi umat. Lantas apa yang akan kutawarkan jika mengimami salat saja aku tidak bisa? Aku harus belajar! Tekad itu membentuk bundaran di dalam hatiku—tekad bulat.

Beberapa dari kami melakukan salat qabliyah Subuh. Aku juga berdiri untuk melakasanakannya. Seusai salam, kusempatkan melafazkan wirid beberapa kali.

Qadqa matish shalah qadqa matish shalah. Allahu akbar allaahu akbar, Lailaahaillallah.” Salah seorang dari kami mengumandangkan iqamah. Aku berdiri. Shaf segera dirapatkan. Kini, posisiku berada tepat di belakang sang imam yang merupakan sahabatku juga, Anni namanya.

Subuh yang syahdu. Kami semua seperti berada di dalam sebuah kapal yang berlayar di lautan datar bak kaca. Hening. Sepi. Rindu. Cinta. Semua rasa itu seakan berdenyar menemani subuh pertama kami di Desa Jabung.

Rasa itu semakin bergolak, kawan. Ketika seusainya, satu per satu mahasiswi IAIN Tulungagung ini mulai mengambil Mushaf Alquran yang rapi berbaris di atas dipan yang tersedia. Suara orang mendaras menggaung di dalam ruangan. Suara-suara yang menyisakan gerimis manis di tengah pancaroba hati yang dijejalkan dunia.

Aku benar-benar merasakan gemelutuk hati di dalam kalbuku. Apakah mungkin seperti ini yang disebut sebagai pesantren? Apakah begini keadaan tempat bernama pesantren itu? Sungguh, kawan. Hatiku tentram, tenang.

Gemuruh rasa yang membahana itu ternyata mampu mengundang butir air bening untuk keluar dari peraduannya. Sudut mataku basah. Allah. Aku teringat mimpiku. Betapa aku bermimpi untuk menghabiskan sisa hidupku di lingkungan Pesantren. Boleh ya diketawakan. Namun, tawa dunia tidak akan terlalu mengusikku. Aku akan berusaha menggenggam sebuah prinsip untuk tidak pernah takut dan menyerah pada impian yang sekiranya mampu mengundang rida Sang Tuhan. Meski tampak mustahil, aku tetap mengayuhkan sejengkal demi sejengkal doa. Selangkah demi selangkah ihtiyar. Juga sepetak hamparan tawakkal, demi impian itu mampu dimakbulkan Allah. Apakah ada yang tidak mungkin jika Allah yang berkehendak?

***

Matahari Senin mulai ranum mengintip di ufuk timur. Jika kata Senin yang menyapa, apa yang muncul dalam benak kalian? Ah, kalian tentu mengerti definisi Senin. Boleh sedikit kubantu? Senin berarti sibuk, lelah, penat, bising, deru, ricik, geliat, lari, napas, peluh, darah, ah apa lagi? Cukupkah? Satu lagi yang paling penting dan jangan terlupa, sahabatku. Senin berarti hari dimana kekasih tercinta, baginda Nabi yang mulia, Muhammad Saw., (allahumma shalli alaih) terlahir di dunia.

Tentu kawan paham hendak dibawa kemana pembicaraan ini. Memang belum bisa istikomah, namun insyaallah aku sedang berusaha untuk menyentuh kata istikomah dalam merayakan Senin ini. Puasa sunnah, sahabatku. Hari ini aku sedang menjalankan salah satu sunnah Rasulullah Saw., yakni berpuasa. Kata Kung Mujito (alm), salah satu guru tercinta ketika duduk di bangku MAN Kota Blitar, ibadah puasa memberikan berjuta manfaat bagi yang menjalankan. Beliau menyampaikan bahwa ibadah yang lain untuk diri sendiri. Namun puasa adalah ibadah yang langsung tertuju kepada Allah. Sebab yang mengetahui bahwa diri kita berpuasa, hanyalah Allah dan diri kita sendiri.

Jika kita mempersembahkan diri kita kepada-Nya, bukankah Allah telah berjanji untuk memberikan balasan terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang rela menahan lapar, haus, serta seluruh hal-hal yang membatalkan puasa maupun mengurangi pahala puasa, dari terbitnya fajar, hingga terbenamnya matahari—hehe, kok menjadi definisi puasa?

Namun, jika cinta yang menjadi dasarnya, maka apa yang lebih indah selain membuat Sang Kekasih merasakan bahagia sebab kekasih-Nya menjalankan ibadah lantaran cinta untuk-Nya dan tanpa mengharap secuil apapun balasan kecuali kebahagiaan Yang Dicinta? Apa yang lebih membahagiakan seorang pecinta selain patuh dan membuat Yang dicinta bahagia? Pecinta, bisakah engkau menjawabnya?

Nay sudah bisa istikomah dalam berpuasa Dawud. Levelnya tinggi. Dan di sinilah aku. Masih menginjak anak tangga di level Senin-Kamis yang bahkan sering terjungkal dan harus memulainya dari dasar kembali. Ah, dasar diriku.

Siapa coba yang tidak menginginkan menjejaki puasa sunnah yang paling utama itu? Pernah terbesit niat, namun hanya sebatas niat. Berupa-rupa alasanku itu. Yang capailah, yang pusinglah, yang tidak kuatlah, yang ini lah, yang itu lah. Sungguh menyesakkan ya? Padahal aku tidak suka alasan. Sungguh aku benci dengan orang yang selalu beralasan. Prinsip ini kupetik dari nasihat indah, Bapak Isa, suami novelis Indonesia, Ibunda Asma Nadia, untuk menerapkan no excuse[9] dalam segala hal.

Memalukan. Prinsip sendiri kok dilanggar. Aku mencaci diriku sendiri, kawan. Begitulah kawan, rumus untuk mencapai bintang kesuksesan yang berkelip-kelip merayu di langit sana. Musuhnya adalah diri sendiri. Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan untuk selalu istikomah dalam memetik impian dan senantiasa tenggelam dalam samudera nikmat untuk beribadah kepada-Nya.

Selain Nay dan aku, ternyata ada beberapa kawan yang juga sedang berpuasa. Hatiku benar-benar terasa bening. Aku mendambakan suasana seperti ini. Sangat mendamba.

Sehari-hari, lingkunganku adalah lingkungan kos. Sebab kita pluralis ya, jadinya ada banyak macam rasa yang dirasakan. Sayangnya, suasana teduh ini jarang aku miliki.

Hatiku selalu meminta, mengemis kepada Dzat Yang Mahaagung, Mahamulia, Mahasempurna. Semoga aku bisa menghabiskan sisa usiaku di tengah orang-orang shalih. Dimana Alquran mampu kudengar dengan sering dan mudahnya. Dimana semuanya berusaha untuk mematuhi aturan Allah, menjalankan perintah Allah, menghindari, bahkan membenci untuk melakukan apa yang dilarang, dilaknat oleh-Nya. Walau memang, kita tidak boleh mengharapkan atmosfer yang 100% saleh dan sempurna, sebab ini hanya dunia. Sedang semua rasa tenang, bahagia, tiada nestapa adalah definisi dari surga. Tempat itu adalah surga, bersama Rasulullah Saw., Ibunda Khadijah, para ahlul bait, para sahabat, para tabi’in, para tabi’it tabi’in, para ‘ulama, para ‘alim, hamba-hamba shaleh yang sangat beruntung bisa Allah izinkan untuk menapaki surga.

Siapa sih yang tidak mau di sana bersama para kekasih Allah itu? Allah. Walau aku tidak layak, namun hatiku tetap mengaminkan, dan aku tetap meminta kepada Rabbku. Tak tahu malu.

Jika anganku menari tentang hal itu, aku teringat sebuah syair indah yang dilantunkan oleh salah seorang sufi, Abu Nawas.

 

Ilahi lastulil firdausi ahla

Wala aqwa ‘alannaril jahimi

Fahab li taubatan waghfir dzunubi

Fainnaka gha firudz dzambil ‘adzimi

 

Wahai Tuhanku, hamba bukanlah ahli surga

Namun hamba juga tak mampu berada di neraka (Jahim)

Maka berikanlah hamba ampunan, dan ampunilah dosaku

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar

 

Hatiku merebak. Gerimis menguasainya. Rindu. Rindu. Rindu. Satu kata yang terbingkis dalam tiga paket itu menenggelamkanku. Aku rindu kepada Rabbku. Jiwaku meradang atas kerinduan ini kepada-Nya.

***

Jarum jam tanganku pongah menunjuk pada angka tujuh. Jam mengajar pertama sudah usai, sahabat. Kami memang mengajar dari jam 06.00-07.00 saja. Nanti siang, sepulang sekolah, pukul 14.00-15.00 kami akan ke kelas kembali. Tujuan kami adalah memberikan jam tambahan ekstra untuk mereka dengan tidak mengusik jam pelajaran. Jadi begitulah jam kerja kami.

Setiba di rumah, aku berganti baju yang lebih santai. Seusainya, Nay dan aku mengambil wudu. Wuduku tentu sudah hilang sebab tadi aku bersalaman dengan para siswa. Siswa yang kuajar adalah kelas dua belas. Menurut Imam Syafi’i, madzab yang kuanut di sini berarti sudah batal ya wudunya.

Tetesan air yang menyentuh kulitku menawarkan kesegaran kembali. Setelahnya, Nay dan aku menuju ke salah satu ruang tertutup yang berada di rumah itu untuk melaksanakan salat Dhuha. Kami munfarid.

Pukul 09.00 adalah waktu untuk evaluasi. Ruangan serbaguna kami, kamar tidur, tempat jamaah salat itu disulap menjadi ruang rapat. Bantal-bantal serta selimut-selimut ditaruh di pinggir, disisihkan dengan rapi. Di ruang itulah, seluruh panitia dan volunteer duduk melingkar dengan pola lingkaran besar. Para panitia dan volunteer putra juga turut hadir.

Kami melakukan rapat besar untuk evaluasi terhadap apa yang dilakukan pagi ini, juga melaporkan rencana apa yang akan direalisasikan pada peserta didik untuk siang nanti. Mulai dari kelas satu MI hingga kelas dua belas MA.

Aku menyimak mereka. Sesekali terkekeh ketika mendengar beberapa kisah kawan-kawanku. Mereka menceritakan perihal anak didik mereka yang lucu-lucu. Ada peserta didik kelas satu MI yang malah mengajak petak umpet. Katanya mereka maunya belajar sambil bermain. Ada juga yang tidak bisa diam. Ah, mengundang sebuah senyuman di wajah. Sungguh, kawan. Bermain bersama anak-anak memang bisa membuat kita kembali muda. Walau kadang gemas bukan main. Sering ya, tangan ini berkeinginan untuk mencubit pipi-pipi mereka yang masih chubby dan imut itu.

Pagi ini belum ada permasalahan yang berarti. Jadi kita semua bisa bersegera mengakhiri rapat evaluasi. Aku mengajak Niken untuk melakukan preparation untuk siang nanti. Kami memakai match game. Jadi para siswa akan diajak untuk aktif.

Teknik ini adalah salah satu teknik mengajar, yakni Total Physical Respons. Kemarin aku baru saja mempresentasikan makalah perihal teknik ini, jadi insyaallah masih segar dalam pikiranku.

Dari nama teknik ini, tentu bisa diprediksi ya bagaimana inti Total Physical Respons itu. Hakikatnya, pendidik mengajak para peserta didik untuk aktif bergerak dalam belajar. Kami memutuskan menggunakan teknik ini sebab kami akan masuk dalam kelas, ketika mereka merasakan lelah, letih, lesu. Kami berharap, teknik ini bisa membidik maksimal pada mereka.

Setelah perencanaan kami rampung, kami mengakhirinya. Aku melanjutkan aktivitasku yang lain. Menunggu takdir apa yang akan terjadi hari ini.

***

Detik berjalan. Lambat, namun pasti. Sang detik ternyata mengantar matahari untuk menampakkan rona jingga di batas cakrawala sebelah barat. Semburat senja mulai tampak. Hamparan biru terlukis oleh warna lain. Ada kelabu, putih, dan yang paling dominan, jingga yang tergambar di sana. Burung-burung tampak terbang kembali kepada sarangnya setelah seharian beribadah, mencarikan nafkah untuk anak-anaknya. Panorama semesta yang menawan.

Bersama volunteer dan beberapa panitia yang lain, aku duduk-duduk di teras rumah kediaman kami. Bercengkerama, berkisah, menikmati senja yang tampak anggun.

Jika membahas senja, maka aku akan teringat Abdullah Khairul Azzam. Kawan mengenalnya bukan? Tokoh yang diperankan oleh Kang Khalidi Asadil Alam itu adalah tokoh utama dalam kisah Ketika Cinta Bertasbih karangan Habiburrahman El-Shirazy.

Aku teringat, bahwa kisah Azzam bermula dengan panorama senja yang bertasbih di Alexandria. Disana, tergambar sahut-sahutan Azan dari negeri seribu menara yang berhasil memecah deru kesibukan manusia. Menampakkan alam yang melipat siang dengan hamparan malam. Mengajak insan-insan untuk segera mengingat Tuhan. Jika memori ini mengajakku berkelana melewati portal pikiran, maka hatiku berdesir. Azzam, ya. Pemuda impian bagi setiap wanita.

Sebagai wanita, tentu pikiran tentang hal ini sempat menyeruak. Siapa sih yang tidak ingin diimami oleh seorang lelaki yang saleh? Yang bukan hanya dunia tujuan utamanya. Melainkan hingga surga. Surga, bukan main-main, surga, sahabatku. Aku hanya menunduk melihat jemari kakiku yang beralas sandal japit ini. Aku malu mengingatinya. Sebab, aku tidak pantas mendambakan orang seperti itu. Meski aku merasa tidak pantas, aku tetap meminta kepada Tuhanku. Hingga kelak, suratan takdir terindah-Nya mampu menyapaku.

Azan mulai terdengar di Desa Jabung ini. Kami semua bersegera masuk ke dalam rumah, persiapan salat Maghrib dan mengaji dengan Abah. Dadaku membuncah.

Sesampainya di dalam, hatiku terharu melihat perhatian dari para panitia yang membuatku speechless. Masyaallah sungguh. Para panitia mengetahui bahwa Nay dan aku berpuasa. Mereka menyediakan teh hangat khusus untuk kami. Hatiku bersyukur sekali. Semoga mereka mendapatkan barakah dari puasa kami lantaran menyediakan minuman terbaik untuk kami ketika kami berbuka. Fabiyyi aalaa irabbikuma tukadzdziban?[10]

Setelah membatalkan puasa, aku ikut bersiap-siap untuk salat jamaah Maghrib. Belum tiba giliranku untuk menjadi imam. Namun hatiku sedikit berdebar. Setelah Maghrib, kami akan mendapatkan ilmu baru dari Abah. Aku mendengar dari beberapa rekanku, bahwa Abah pengasuh Pondok Pesantren Jabung itu tidak mau dipanggil Abah. Beliau lebih suka dan berkenan dipanggil dengan sebutan Pak Poh. Aku mengikuti kawan-kawanku.

Iqamah sudah dikumandangkan. Aku, alhamdulillah masih berdiri di shaf depan, belakang imam. Kami melakukan salat Maghrib.

Selepas salat Maghrib, beberapa dari kami mengamalkan salat sunnah Ba’dliyah, kemudian mengambil mushaf-mushaf milik kami yang berjajar rapi di sebuah buffet lemari. Kami memang membawa mushaf dari rumah. Tidak lama kemudian, lantunan ayat-ayat suci Alquran membahana di seluruh ruangan serbaguna kami. Kami menunggu Pak Poh Imam Ghazali—nama pengasuh Pon. Pes. Jabung—untuk datang.

Panitia sudah menyiapkan sebuah meja kecil yang terpampang sajadah di atasnya. Ditata serapi mungkin, dan ada secangkir kopi yang bertengger di atasnya.

Aku masih duduk di tempatku salat. Sembari memegang Mushaf Marwah berwarna pink, hadiah ulang tahun dari rekan-rekan sekelasku, sewaktu aku menduduki bangku MAN di MAN Kota Blitar.

Tidak lama, sosok itu datang. Seorang Kyai. Beliau mengenakan sarung, berpeci hitam dan berbaju batik. Sederhana penampilan beliau. Kami menyudahi bacaan kami dan mulai berfokus kepada beliau. Hatiku ndredek. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang begitu teduh.

Pak Poh Imam Ghazali terlihat sudah sepuh. Namun berwibawa. Beliau mengucapkan salam lengkap. Kami menjawab. Kemudian beliau mengajak kami berdoa sebelum mulai mengaji. Hatiku terhanyut dalam suasana yang amat tenang. Allah. Hanya itu yang ingin aku dengung-dengungkan.

Beliau memberikan beberapa lembar materi bertuliskan Arab. Hanya beberapa, sebab beliau belum mengetahui jumlah total kami. Jadi kami diminta untuk menggandakan materi beliau sesuai jumlah total kami.

Aku berdesir. Aku belum mendapatkan salah satu selebaran itu. Masih bergabung dengan rekan sampingku, kubaca tulisan berlafaz Arab itu. Nawaitutta ‘aluma wa ta’liima. Sepertinya tema kali ini adalah perihal niat menuntut ilmu. Tema yang beliau pilih benar-benar sesuai dengan kami yang sedang berkecimpung dalam dunia thalabul ‘ilmi.

Pak Poh telah selesai memberikan tawassul. Aku mengosongkan cawan ilmuku. Kuharap, aku bisa mengisi penuh cawan ilmu ini kata demi kata yang beliau lontarkan kelak. Aku ingin mereguk, menenggak ilmu yang beliau tuangkan. Sebanyak-banyaknya ingin kureguk.

“Ini ijazah buat mbak-mbak dari IAIN. Sebisa mungkin, sebelum belajar ataupun mengajar, ijazah ini diamalkan. Bacaannya memang lumayan panjang. Tapi insyaallah, banyak fadhilah manfaatnya. Agar bisa mendapatkan kebaikan karena Allah. Niat mengajar belajar, hanya untuk mencari rida Allah.”, Pak Poh memulai memberikan mukaddimah. Hatiku melojak-lonjak, berjingkrak-jingkrak.

“Jadi nanti, dua pekan ke depan, sebelum kita mengaji, kita membaca doa ini dahulu nggih?” ajak Pak Poh.

“Nggih, Pak Poh,” jawab kami serempak.

“Ayo dibaca bersama. Bismillahirrahmaanirrahim.” Pak Poh mulai membimbing kami. Sungguh, kawanku. Aku tidak bisa menggambarkan deburan bahagia yang membuat hatiku merasakan sesuatu yang luar biasa. Aku ingin menangis. Air mataku merebak. Ya, lingkungan pesantren seperti ini yang aku damba. Aku sangat mendamba. Kurasakan dekapan hangat Allah pada jiwaku. Allah. Allah. Allahu Rabbi.

Semenjak pertemuan kami dengan Pak Poh Imam Ghazali malam itu, hatiku bermusim semi dengan bunga-bunga syukur. Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah ‘alaa kulli hal sebab Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mereguk nikmatnya ilmu di acara ini. Meski aku memang belum pernah menjadi santri, ternyata aku berkesempatan sedikit mencicip madu pesantren yang mampu menenangkan rona jiwa yang gersang.

Kembali aku teringat impian utamaku. Kuingin bisa menghabiskan sisa usia di lingkungan pesantren yang mulia. Kuingin menghirup aroma pesantren yang harum dan sarat akan ketenangan jiwa. Kuingin mendekap hangat jiwa-jiwa yang sedang mengais dan mengaji kalam-kalam Ilahi, hadis-hadis Nabi, dan karangan para ulama yang ‘alim. Kuingin melihat kibaran jilbab panjang para santriwati, serta kibaran sarung yang dikenakan kang-kang santri. Dadaku bergemuruh, mendidih dan bergolak membayangkannya.

Beginilah, kawan. Seutas impian yang kurasakan. Impianku seperti terwujud saja untuk menenggak dan mengenal apa itu Pesantren. Meski ia hanya setetes. Ya, bagaikan setetes embun impian yang aku damba selama ini. Setetes itu sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan hatiku yang tandus. Pepohon iman, semoga semakin tumbuh subur di hatiku. Bunga-bunga iman, semoga selalu bersemi di dalam kalbuku.

 


[1]Bahasa slank dari kata ‘sayang’. Menyebutkan ‘sayang’ memang sebutan akrab untuk saudari sesama Muslim. Bukan bermaksud LGBT ya. Naudzubillah.

[2]Sebutan untuk rumah yang tempat tinggal Kyai.

[3]Bertandang

[4]Hadiah terbesar dalam sebuah kompetisi.

[5]Seperti tempat tidur, namun tidak ada kasurnya. Biasanya digunakan untuk duduk dan menaruh bumbu-bumbu dapur ketika memasak.

[6]Menanak nasi menggunakan panci besar di tungku karena biasanya digunakan untuk porsi yang besar juga.

[7]“Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali.”

[8]Menyelam

[9]Tidak ada alasan

[10]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan? QS. Ar-Rahman