Home » Uncategorized » Setetes Embun Impian

Setetes Embun Impian

Setetes Embun Impian

Oleh: Ekka Zahra Puspita Dewi

(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

 

 

Rindu mencuriku

Dari lilit dunia yang mengeringkan jiwa

Cinta membelengguku

Bersama kedipan takdir yang terlukis

Ah, indahnya

Mengempas dunia yang menghanyutkan

Ah, syahdunya

Mencicip aroma sedap impian

Bolehkah, wahai Tuhan?

Kujebak diriku di dalam sejuknya cawan

Yang membuatku menari, melayang

Yang menggiringku lekat, tertawan

Bolehkah, duhai Tuhan?

 

Dingin masih menggigit tulang. Banyak manusia yang masih tenggelam di dalam selimut hangat mereka. Menyelamatkan diri dari incaran sang dingin yang meraung-raung, mengintai. Meski kehangatan ditawarkan oleh selimut itu, sejatinya ia merupakan bisikan dan buaian dari musuh yang teramat nyata, yang selalu mengincar, menggoda, membidik dengan tepatnya kepada hati insan-insan hamba Allah Yang Mahaagung. Ternyata masih ada, ya, masih ada beberapa manusia pilihan, yang memilih melawan bujukan sang syaithan dengan menggeliat, kemudian terduduk, bangun dan melangkah membuyarkan godaan syaithan melalui segarnya wudu dengan mengusap tangan, mulut, hidung, wajah, telinga, dan juga kaki mereka. Terbirit-biritlah para syaithan yang tengah menari-nari.

Pagi masih dini. Aku melihat jam dari ponsel mungilku yang serba guna ini, Samsung Star. Angka 03.15 pongah menguasai salah satu latar wallpaper ponselku. Aku mengusap-usap mataku yang masih baru saja terbuka setelah sekitar 3 jam tertidur. Di ujung sana, ada sesosok bayangan manusia yang mengenakan mukena, bermunajat kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Mengadukan resah gundah dan bahagia yang mereka rasa.

Aku mengerdipkan mataku. Menoleh dan mencoba mengumpulkan kesadaran. Samping kiriku masih terlelap. Namun samping kananku sudah kosong. Ya, sahabatku yang sudah menghilang dari sampingku adalah wanita saleha. Dia pasti sudah terbiasa terkoyak oleh dinginnya sepertiga malam, untuk mengadukan segala perkara yang ia jalani di dunia ini.

Aku segera bangkit. Kutaksir, sahabatku itu masih di kamar mandi. Semoga ia tidak segera selesai, agar aku ada kawan di sana. Lumayan membuat bulu kudukku berdiri jika aku hanya sendirian di rumah besar yang tadinya kosong ini.

Kakiku kulangkahkan perlahan, melewati manusia-manusia yang masih terbuai oleh mimpi-mimpi mereka. Kutahan sebisa mungkin agar tidak sampai menginjak jari-jari maupun rambut mereka yang terkulai. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara.

Setelah melalui ruangan serbaguna yakni kamar tidur, ruang rapat, ruang mengaji dan ruang salat ini, aku berbelok ke arah kiri. Lampu dapur yang juga mengarah kepada kamar mandi sudah menyala dengan benderang. Memecah gelap yang masih bergumul di luar sana. Namun sepi. Tak tampak satupun manusia di sana.

Srek-srek, kricik-kricik, srek-srek

Aku mendegar gemericik air di dekat sumur. Jantungku berdegup lebih kencang. Kutajamkan pandanganku. Memastikan bahwa yang membuat suara itu adalah manusia. Ragu-ragu, aku melangkah menuju ke ruang dapur. Napasku memburu. Suara itu terus saja ada. Aku terusik. Akalku menarikku bahwa sumber suara itu dari Nay, bukan makhluk lain yang mungkin tidak tampak. Analisisku berjalan. Alasan pertama lantaran dia tidak ada di tempat tidur. Alasan kedua orang yang sedang salat juga bukan dia. Aku mengenali mukena miliknya. Bukan dia. Aku yakin. Alasan ketiga, jika yang memunculkan suara bukan Nay, lantas dimana dia? Mengapa aku tidak bertanya ‘siapa dia yang memunculkan suara’ ya?

Meski akalku menolak bahwa suara itu dari makhluk lain yang tak tampak mata, namun aku tak memiliki daya untuk mencegah bulu kudukku berdiri juga. Ini masih petang, kawan. Apa saja bisa terjadi.

“My?” suaraku membuncah. Serak, tercekat di tenggorokan.

Srek-srek, krucuk-krucuk, srek-srek

Tidak ada tanggapan.

“Umy?” aku sedikit berteriak. Tetap tidak ada tanggapan. Aku tidak boleh berteriak dengan volume yang lebih lantang lagi. Bisa-bisa seluruh penghuni rumah terbangun karena teriakanku. Meski ragu, akhirnya langkahku kuseret menuju ke balik sumur itu. Sembari melafazkan Ayat Kursi di dalam hati, aku mendekati sumur itu.

Kakiku kulangkahkan perlahan. Pelan. Sangat pelan. Jantungku meloncat-loncat tak karuan.

Deg-deg-deg-deg-deg-deg

Aku semakin dekat dengan sumur. Ya Allah suara degup jantungku kudengar. Napasku kutahan. Ingin aku balik arah dengan cara berlari menuju tempat manusia lain berada. Di sisi lain, adrenalinku terpompa. Aku ingin tahu siapa dia.

Ah, kalian ini apa! Batin dan keinginan berperang di saat yang genting! Aku mencaci mereka.

Tak kusadari, pertengkaran batinku malah menuntuku mendekat ke sumur. Ayat kursi semakin cepat kulafazkan. Entah mengapa, hasilnya malah tak karuan. Akhirnya aku hanya menyebut lafaz Allah.

“Allah, Allah, Allah,” bisikku sangat pelan.

Semakin dekat, kulihat sebuah bayangan bergerak-gerak yang tampak akibat membelakangi cahaya dari sinar lampu. Dadaku rasanya hampir meledak. Aku sudah menyiapkan diri untuk terbirit-birit jika ada sesuatu yang tidak kuinginkan. Dan sekarang, aku malah berdiri tepat di utara sumur itu. Kutahan napasku. Jantungku terasa mau copot. Sosok wanita berambut panjang dikuncir sedang membungkuk, kemudian ia menoleh kepadaku dan meringis memamerkan gigi-giginya.

Refleks, kakiku mundur ke belakang satu langkah.

“Allaaaah,” aku sedikit berteriak. Tanganku kukepalkan di dadaku. Aku hampir menabrak dipan yang bertengger di belakangku. Jantungku berdenyut-denyut kurasakan dari kepalan tangan yang menyentuhnya. Napas yang tadinya kulilit kulepas begitu saja.

Fuuuhhhhh

Wahai kawan, tenanglah. Akalku yang menang. Sosok itu adalah Nay. Sahabatku itulah yang membuat suara-suara. Dia sedang mencuci baju.

“Apa Zar?” tanyanya polos sambil terkikik melihat ekspresiku yang kaget.

“Umy, ya. Tak kira apa!” protesku sebal. Dahiku kukerutkan lega. Napasku ternyata masih ngos-ngosan lantaran kutahan sedari tadi. Tanganku masih tertelungkup di dada. Jantungku yang tadinya memburu, masih tetap menderu-deru. Aku merasakannya.

Setelah mengembalikan kesadaran, aku langsung ngeloyor meninggalkan Nay yang sedang tertawa melihat ulahku. Aku tak peduli. Sungguh, kawan. Aku sebal padanya. Bisa-bisanya dia membuat malam pertamaku di tempat ini menjadi kisah horor. Hua. Boleh aku menangis? Dia tidak tahu apa yang barusan kualami. Ngeri, tahu! Hiks.

Aku mengambil salah satu handuk berwarna oranye di antara barisan handuk yang tergantung di hanger-hanger dengan rapi. Juga kuambil kotak plastik yang berisi seperangkat alat mandi. Tadinya ia duduk manis, bertengger di antara perlengkapan mandi volunteer yang lain.

Anganku kembali melayang tentang Nay yang masih berada di balik sumur. Gadis itu sedang mencuci baju sendirian. Sendirian! Sendirian, kawan. Kuulang lagi, sendirian. Cukup ya.

Aku terkagum. Bagaimana bisa gadis itu sebegitu tangguh berani memecah kelam malam sendiri tanpa ditemani siapa-siapa di tempat ini? Horor lo. Sepi, sunyi, luas, hiii. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu bermunculan di dalam kepalaku.

Lupakah? Sejatinya memang kita tidak pernah sendiri. Allah di kemanakan?” sebuah suara dari batinku menyeruak. Astaghfirullah, aku beristigfar.

Kawan, mari menjelajah ruang besar ini. Kamar mandi yang berada di rumah ini adalah kamar mandi khas Jawa. Kalian bisa menemui sebuah sumur lengkap dengan pompa air otomatis di luar kamar mandi. Ruangan itu berada di dapur yang, percayalah, kalian bisa jogging. Bahkan kalian bisa melakukan senam aerobik dengan kapasitas sekitar dua puluh orang dengan sangat leluasa di dapur ini—sangat luas.

Di samping sumur itu terdapat sebuah ruangan bertembok. Namun batas temboknya tidak sampai menyundul langit-langit rumah. Sebuah pintu seng terparkir rapi sebagai jalan keluar-masuk ruang itu. Itulah kamar mandi. Ukurannya lumayan luas. Bak airnya yang berbentuk balok tanpa atap itu sangat besar. Jika kalian berpikir untuk menjadikannya sebuah bath up, barangkali malah membuat tubuh tenggelam ketika penuh terisi air. Sering aku membayangkan bahwa bath up itu adalah liang kubur yang akan memasukkanku di dalam perut bumi. Aku selalu merinding jika membayangkannya.

“My, tunggu aku ya!” pintaku pada sahabatku itu. Aku memang memiliki panggilan khusus untuknya. Umy adalah caraku memanggilnya.

Suaraku masih terdengar serak sebab memang aku baru bangun dari tidur yang berdurasi beberapa jam saja. Sebab Niken—partner mengajarku—dan aku lembur untuk persiapan mengajar pagi ini.

“Ndak mau,” jawabnya menyebalkan. Kedua sudut bibirku ku tarik ke bawah.

“Umy, huaa…” aku merengek.

“Hahaha. Iya iya. Sana lo cepat mandi!” jawabnya.

“Mmmm… Kau sudah mandi?” tanyaku.

“Sudah dong. Sana gih. Keburu ramai lo ntar,” dia mengingatkan.

“Nunggu aku gak My?” aku memastikan.

“Gak lah. Ngapain? Tak tinggal ya,” jawabnya, menggodaku.

“Myyyy…Emoh!” aku merajuk. Maaf, ya. Aku termasuk penakut.

“Iya-iya. Jangan lama-lama. Lima menit,” dia memberikan syarat.

“Enam menit!” aku menawar.

“Hahaha. Tepat lo ya! Udah sanaa!” sahabatku itu mendorongku masuk setelah menaruh cuciannya yang rampung di dalam ember. Jika ia terus meladeniku, mungkin habislah waktu kami untuk sekadar chit-chat.

“Makasih, cuyung,[1]” jawabku sembari mengunci pintu kamar mandi yang lumayan luas itu.

Kawan, munculkah pertanyaan tentang kami siapa dan sedang apa pada benak kalian? Sabarlah, semua akan terjawab pada waktunya. Hehe. Baiklah, mari kita berkenalan kawanku. Namaku Rara. Lengkapnya ‘Aina Mardiyyati Azzahra. Aku salah satu mahasiswi IAIN Tulungagung jurusan Tadris Bahasa Inggris. Saat ini aku sudah menduduki semester ke-enam. Dan pada kali ini, aku mengikuti sebuah even Wiyata Bhakti yang diadakan oleh HMJ TBI.

Wiyata Bhakti adalah ajang pengabdian kepada masyarakat dan sekaligus mengajak kami—mahasiswa TBI—untuk practice langsung di lapangan tentang teori mengajar Bahasa Inggris yang sudah kami dapatkan ketika di bangku kuliah. Ada istilah spesial ya bagi sukarelawan yang bersedia untuk mengabdikan diri dalam even ini, yakni volunteer.

Even ini sejatinya adalah kali kedua aku mengikutinya. Dahulu, pada semester 2 awal, aku juga salah satu volunteer. Namun pada semester 4, karena beberapa hal, aku tidak mendaftar. Merasa kangen dengan suasana Wiyata Bhakti, pada semester 6 ini, aku mendaftar lagi. Jadi even ini bisa diikuti oleh seluruh mahasiwa jurusan TBI semua semester. Namun ketika sudah menjenjaki semester ke 8, jarang mahasiswa yang bersedia ikut. Maklum, ya. Kesibukannya sudah berbeda.

Even ini membuat kami ditempa dan belajar. Bukan hanya dengan mengajar, kami bisa menerapkan segala teori-teori teaching and learning yang sudah kami keep dalam memori kami, namun apa yang kami dapatkan sejatinya lebih dari itu. Misalnya saja, kami belajar hidup dengan orang asing. Hidup bersama masyarakat yang heterogen. Sungguh rupa-rupa warna sifat mereka. Aduhai sahabatku, kita tidak sedang membahas lagu Balonku lo ya. Tidak.

Selain itu, hal yang paling menarik bagiku, adalah program kali ini berada di dekat Pondok Pesantren Jabung, Kabupaten Blitar. Meski sebenarnya, setiap acara Wiyata Bhakti memang selalu berada di lingkungan Pesantren. Namun berada di lingkungan pesantren ini bisa memberikan bumbu lain yang membuat hati menjadi adem dan tenang. Ah, pesantren. Nah, inilah yang menjadi salah satu alasan utamaku untuk mengikuti even Wiyata Bhakti.

Sahabatku, jurusan kami yang cenderung bersifat umum, yakni Tadris Bahasa Inggris memang kurang mendapatkan pemaparan ilmu keislaman sebagai nutrisi kesehatan jiwa. Meski sebenarnya sudah bisa dikata cukup kurikulum yang diberikan oleh kampus. Namun, ya begitulah. Jika tidak pandai-pandai membuat menejemen yang apik dan rapi, tentu asupan gizi untuk jiwa bisa terkurangi. Nah, dengan inovasi program yang semoga penuh dengan berkah ini mampu menjadi alternatif kami untuk mereguk lezatnya madu ilmu Islam yang bisa memberikan nuansa manis di dalam ruh kami.

Jarak Pondok Pesantren dan juga ndalem[2] Abah dengan rumah yang kami tempati hanya terpaut satu rumah saja. Sangat dekat. Bahkan rumah yang sedang kami tempati ini adalah salah satu rumah saudara dari Abah pemilik pesantren itu.

Kemarin kudengar dari salah satu panitia yang merupakan rekan seangkatan. Mereka telah sowan[3] di ndalem dan meminta kepada Abah agar berkenan menuangkan teko ilmunya kepada cawan-cawan kami. Sehingga kami bisa langsung, live mengaji dengan beliau selama 2 pekan full setiap selesai salat Maghrib, hingga Adzan Isya berkumandang.

Sebuah jackpot[4] ya? Merupakan rezeki yang harus kami syukuri dengan sangat. Aku termasuk orang yang sangat beruntung bisa mengikuti acara ini. Sebab, Allah menuangkan setetes ilmu-Nya pada kesempatan ini. Aku juga bisa memuaskan dahaga akan ilmu-ilmu Pesantren yang belum pernah kusinggahi. Bagaikan embun yang menetes pada fajar yang masih ranum.

***

Sunyi masih merajai detik ini. Hamba yang bernama manusia belum banyak yang terbangun. Malah hamba-Nya yang lain yang ikut menyemarakkan suasana qiyamul lail yang syahdu.

Krik-krik-krik-krik-krik

Di dalam kamar mandi, aku tersenyum mendengarnya. Hatiku berdesir. Itu adalah lantunan zikir dari para jangkrik. Mereka senantiasa mengagung-agungkan Asma Allah. Mereka selalu bertasbih kepada Rabb al-‘Alamin.

Bagaimana denganku? Padahal, katanya manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia, bahkan lebih dimuliakan daripada para malaikat. Lantas apa mulianya jika berzikir saja tidak pernah. Dalam segar guyuran air, aku merenung.

Krik-krik-krik-krik-krik

Masih kudengar nada indah itu. Zikir para jangkrik membuatku menunduk, malu. Menyisakan kesyahduan di sepertiga malam ini. Aku bersegera untuk menyudahi mandiku. Jiwa ini semakin merindu untuk rebah kepada Sang Kekasih. Tak sabar rasanya.

Seusainya, kubuka pintu kamar mandi. Kulangkahkan kakiku menapaki area sumur yang ada pancuran di dekatnya. Belum sempat aku menaruh peralatan mandi, pintu yang baru kulewati itu tertutup kembali. Ternyata sebagian jiwa-jiwa yang tadinya terlelap sudah mulai bangun. Mereka mengantre.

Sahabatku, ada total enam puluh mahasiswi yang mengikuti program ini—panitia dan volunteer. Kamar mandinya banyak sekali, yakni satu buah saja. Jadi, bisa ya kita membayangkan bagaimana panjangnya kami berbaris? Lebih panjang dari permainan ular naga. Percayalah. Mari kita kembali.

Seusai mengambil wudu, aku menoleh ke arah utara. Kulihat Nay duduk manis di salah satu amben[5] dekat bumbu dapur. Ember di sampingnya telah kosong. Sepertinya dia sudah selesai menjemur cuciannya. Entah kapan dia menjemurnya. Mungkin ketika aku masih mandi, dia mengambil kesempatan untuk menjemur cuciannya.

Sepi mulai pudar. Satu, dua, tiga manusia mulai bangun dan mengambil nomor antrean—melakukan order kepada kawan yang mengantre untuk menjagakan alat mandinya—untuk memasuki kamar mandi. Riuh sudah keadaan dapur yang tadinya sunyi ini. Suasana semakin meriah ketika para panitia yang mengurusi masalah paling crucial, yakni tim konsumsi sudah memulai aktivitasnya di dapur.

Hatta, bisa kita bayangkan, ya bagaimana pemandangan indah yang tampak? Ada yang menggerus bumbu dapur, ada yang adang[6] nasi, ada yang memotong kangkung, ada juga yang meringis menahan pipis, ada yang masih menguap. Serba adalah pokoknya.

Seusai wudu, Nay dan aku kembali melangkah menuju ke ‘kamar’ kami. Meski suasana dapur sudah mulai semarak, namun di ruang ini, lampu masih padam. Seperti tadi, aku melangkah berjinjit-jinjit untuk menghindari injakan pada tempat yang tidak seharusnya. Zalim kan jika menempatkan sesuatu pada yang tak seharusnya? Aku bergidik. Kakiku terus menjangkah. Kuikuti Nay dengan mengekor di belakangnya menuju pojok ruangan yang lebih longgar dan memungkinkan untuk salat.

Setiba mengambil mukena, kami terhanyut dalam qiyamul lail. Dadaku bergetar. Atmosfer ini jarang sekali kujumpai ketika berada di rumah kos. Aku bersimpuh dengan jalan bersujud kepada-Nya. Rasa hatiku seperti membuncah. Aku meminta pada Tuhanku. Aku ingin suasana ini di sisa hidupku. Aku ingin tinggal di lingkungan pesantren yang selama ini belum pernah kujejaki. Aku ingin mendedikasikan ilmu serta diriku untuk umat. Masyaallah. Tidak terasa, air mata menyembul dari kelopak mataku. Jiwaku meradang. Sungguh, betapa Allah sayang. Kubiarkan jiwaku terhanyut oleh arus rindu dan cinta yang berkecipak. Aku sedang didera kerinduan yang membuat hatiku terasa sejuk. Amat sejuk.

Seusai rebah dan bersujud, aku bangun. Jemariku kugunakan untuk melakukan wirid. Beberapa menit, wiridku usai.

Kutoleh Nay. Aku terpesona. Wajahnya bersinar. Mulutku tidak sadar menganga. Ah, kawan. Maaf. Ternyata layar ponsel memberikan cahaya di dalam wajahnya.

“Ma’tsuratnya dibaca, Beb,” ucapnya setelah mendapatiku menatapnya. Aku sedikit meringis. Segera kugiring tubuh yang masih terbalut mukena ini untuk mengambil benda mungil kesayanganku—ponsel—yang teronggok di dekat bantal tidur. Setelah itu, kuseret kembali tubuhku ke tempat semula. Button on kunyalakan. Wajahku pasti bersinar juga. Hatiku cekikikan. Baiklah, kawan. Abaikan ya. Jemariku kubiarkan menari menyentuh layar si mungil. Kudapati sebuah aikon yang di  bawahnya tertulis kata ‘Ma’tsurat’. Klik. Muncullah bacaan-bacaan yang bisa menyusupkan desau angin yang merontokkan gundah hati.

Ashbahnaa wa ash bahal mulku lillahi wal hamdulillahi laa syari kalah, laa ilaaha illa huwa wa ilaihinnusyur,[7]” ucapku lirih, hampir tidak terdengar.

Zikir pagi—yang hakikatnya mengingat Allah—memang memberikan dampak dahsyat di dalam hati. Alangkah indahnya jika pagi dimulai dengan mengagung-agungkan Asma-Nya sebelum terjun dalam kubang ingar-bingar dunia. Alangkah syahdunya membuka lembar hari dengan mengingat-Nya sebelum mengingat perkara-perkara dunia. Oh, alangkah indahnya.

Sahabatku, aku sedikit berbisik boleh? Meski mungkin kalian mengatakan tidak boleh, tetap aku harus mengisahkannya. Agar tidak timbul tanya dalam benak kalian. Membuat orang penasaran itu berdosa tidak? Ah, ranahnya hukum. Tidak berani saya main-main jika tidak ada dalil naqli wa aqli yang mendukung. Kukisahkan saja, ya? Mau kan menyimak? Terima kasih—paksa.

Alkisah, Nay dan aku bukan jebolan Pondok Pesantren, kawan. Kami tidak pernah berkesempatan untuk mengenyam renyah dan gurihnya bangku pesantren. Maka, bersyukurlah jika kalian pernah mengaji memeras ilmu dari kitab-kitab para ulama terdahulu yang sungguh kuirikan. Hal itu mampu membuat dahaga di dalam benakku semakin meronta. Sungguh, aku ingin bisa mengkaji itu semua.

Namun, bukan berarti kami tidak bersyukur atas rajutan takdir terindah yang Allah berikan kepada kami. Sungguh, alhamdulillah wa bi’idznillah, Allah menuntun kami melalui jalan yang lain. Jalan terindah yang bisa mengubah haluan hidup kami. Jalan terindah yang bisa melegakan dahaga yang meraung-raung dalam batin kami. Intinya, Allah memberikan cara lain agar cawan kami basah terhadap ilmu agama yang mampu menuntun kami untuk mengenal Rabb kami. Bagaimana kisahnya? Mohon maaf, kawan. Kisah itu terlampau panjang dan pelik. Semoga Allah memudahkan jemari ini untuk merangkai bunga-bunga cerita yang masih terserak. Maaf, ya jika pada akhirnya aku tetap menyisakan tanya. Oh, sungguh mohon maafkan al-fakir ini.

Baik, kita kembali. Seusai mengkhatamkan al-Ma’tsurat, kami—Nay dan aku—duduk di tempat kami tidur tadi. Lampu masih padam. Kami saling membisu, berkutat dengan ponsel masing-masing. Sesekali kami tertawa. Kami memiliki urusan yang mengharuskan kami melakukan snorkeling[8] di dalam dunia maya. Urusan yang genting. Apakah kiranya kalian berkenan untuk menumpahkan rasa percaya perihal hal ini?

Beberapa menit kemudian, tim panitia menyalakan lampu ruang ini. Gulita pecah menjadi terang. Mataku berkedip-kedip. Pupilku mengecil, beradaptasi dengan cahaya yang berpendar di seluruh ruangan. Kawan-kawan yang tadinya masih didekap selimut mulai menggeliat. Mereka mengumpulkan nyawanya kembali. Terduduk, kemudian bangkit berdiri.

Lamat-lamat, kudengar suara tarhim yang berasal dari surau-surau. Kawan, dekat tempat tinggal kami ada sebuah masjid. Tarhim juga menggema di sana. Suara syahdu sang qori’ mampu melesatkan busur rindu tepat pada ulu hatiku. Mengapa aku mengatakan kata itu—rindu? Entahlah.

Lima belas menit kemudian, terurailah sepi yang beberapa jam sempat menguasai seantero jagat Desa Jabung itu. Syahdan, kelam malam terlipat. Semburat cahaya fajar merekah dari ufuk timur. Para mu’adzin bersahut-sahutan, berlomba untuk mengumandangkan azan Subuh pertama yang kami—volunteer—dengar di sini. Masyaallah, suaranya bertalu-talu, mendayu-dayu, merayu-rayu, menentramkan ruh-ruh manusia yang merindu puncak cahayanya, yakni Allah Rabb semesta alam.

Aku kembali mengenakan mukena yang duduk manis di dekatku. Aku menunggu rekan-rekan untuk melaksanakan salat berjamaah. Memang, kawan, salat berjamaah adalah salah satu agenda yang ada dalam acara ini. Subuh ini adalah pertama kali kami merealisasikannya.

Para kaum Hawa yang tinggal di rumah ini melakukan persiapan untuk salat berjamah. Hatiku berjingkrak-jingkrak tak karuan. Mereka mulai berdatangan dan membentuk shaf untuk melaksanakan salat. Ada desiran lembut yang menyapa batinku. Pandanganku terbias. Sekumpulan orang-orang ini bisa disatukan semua dalam salat. Masyaallah, betapa Mahaagung Allah Rabb itu.

Para panitia telah menggilir jadwal imam salat. Benakku melayang terbang di awang. Aku jadi imam salat? Apakah bisa? Ah, cita-citaku adalah mampu menjadi insan yang bermanfaat bagi umat. Lantas apa yang akan kutawarkan jika mengimami salat saja aku tidak bisa? Aku harus belajar! Tekad itu membentuk bundaran di dalam hatiku—tekad bulat.

Beberapa dari kami melakukan salat qabliyah Subuh. Aku juga berdiri untuk melakasanakannya. Seusai salam, kusempatkan melafazkan wirid beberapa kali.

Qadqa matish shalah qadqa matish shalah. Allahu akbar allaahu akbar, Lailaahaillallah.” Salah seorang dari kami mengumandangkan iqamah. Aku berdiri. Shaf segera dirapatkan. Kini, posisiku berada tepat di belakang sang imam yang merupakan sahabatku juga, Anni namanya.

Subuh yang syahdu. Kami semua seperti berada di dalam sebuah kapal yang berlayar di lautan datar bak kaca. Hening. Sepi. Rindu. Cinta. Semua rasa itu seakan berdenyar menemani subuh pertama kami di Desa Jabung.

Rasa itu semakin bergolak, kawan. Ketika seusainya, satu per satu mahasiswi IAIN Tulungagung ini mulai mengambil Mushaf Alquran yang rapi berbaris di atas dipan yang tersedia. Suara orang mendaras menggaung di dalam ruangan. Suara-suara yang menyisakan gerimis manis di tengah pancaroba hati yang dijejalkan dunia.

Aku benar-benar merasakan gemelutuk hati di dalam kalbuku. Apakah mungkin seperti ini yang disebut sebagai pesantren? Apakah begini keadaan tempat bernama pesantren itu? Sungguh, kawan. Hatiku tentram, tenang.

Gemuruh rasa yang membahana itu ternyata mampu mengundang butir air bening untuk keluar dari peraduannya. Sudut mataku basah. Allah. Aku teringat mimpiku. Betapa aku bermimpi untuk menghabiskan sisa hidupku di lingkungan Pesantren. Boleh ya diketawakan. Namun, tawa dunia tidak akan terlalu mengusikku. Aku akan berusaha menggenggam sebuah prinsip untuk tidak pernah takut dan menyerah pada impian yang sekiranya mampu mengundang rida Sang Tuhan. Meski tampak mustahil, aku tetap mengayuhkan sejengkal demi sejengkal doa. Selangkah demi selangkah ihtiyar. Juga sepetak hamparan tawakkal, demi impian itu mampu dimakbulkan Allah. Apakah ada yang tidak mungkin jika Allah yang berkehendak?

***

Matahari Senin mulai ranum mengintip di ufuk timur. Jika kata Senin yang menyapa, apa yang muncul dalam benak kalian? Ah, kalian tentu mengerti definisi Senin. Boleh sedikit kubantu? Senin berarti sibuk, lelah, penat, bising, deru, ricik, geliat, lari, napas, peluh, darah, ah apa lagi? Cukupkah? Satu lagi yang paling penting dan jangan terlupa, sahabatku. Senin berarti hari dimana kekasih tercinta, baginda Nabi yang mulia, Muhammad Saw., (allahumma shalli alaih) terlahir di dunia.

Tentu kawan paham hendak dibawa kemana pembicaraan ini. Memang belum bisa istikomah, namun insyaallah aku sedang berusaha untuk menyentuh kata istikomah dalam merayakan Senin ini. Puasa sunnah, sahabatku. Hari ini aku sedang menjalankan salah satu sunnah Rasulullah Saw., yakni berpuasa. Kata Kung Mujito (alm), salah satu guru tercinta ketika duduk di bangku MAN Kota Blitar, ibadah puasa memberikan berjuta manfaat bagi yang menjalankan. Beliau menyampaikan bahwa ibadah yang lain untuk diri sendiri. Namun puasa adalah ibadah yang langsung tertuju kepada Allah. Sebab yang mengetahui bahwa diri kita berpuasa, hanyalah Allah dan diri kita sendiri.

Jika kita mempersembahkan diri kita kepada-Nya, bukankah Allah telah berjanji untuk memberikan balasan terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang rela menahan lapar, haus, serta seluruh hal-hal yang membatalkan puasa maupun mengurangi pahala puasa, dari terbitnya fajar, hingga terbenamnya matahari—hehe, kok menjadi definisi puasa?

Namun, jika cinta yang menjadi dasarnya, maka apa yang lebih indah selain membuat Sang Kekasih merasakan bahagia sebab kekasih-Nya menjalankan ibadah lantaran cinta untuk-Nya dan tanpa mengharap secuil apapun balasan kecuali kebahagiaan Yang Dicinta? Apa yang lebih membahagiakan seorang pecinta selain patuh dan membuat Yang dicinta bahagia? Pecinta, bisakah engkau menjawabnya?

Nay sudah bisa istikomah dalam berpuasa Dawud. Levelnya tinggi. Dan di sinilah aku. Masih menginjak anak tangga di level Senin-Kamis yang bahkan sering terjungkal dan harus memulainya dari dasar kembali. Ah, dasar diriku.

Siapa coba yang tidak menginginkan menjejaki puasa sunnah yang paling utama itu? Pernah terbesit niat, namun hanya sebatas niat. Berupa-rupa alasanku itu. Yang capailah, yang pusinglah, yang tidak kuatlah, yang ini lah, yang itu lah. Sungguh menyesakkan ya? Padahal aku tidak suka alasan. Sungguh aku benci dengan orang yang selalu beralasan. Prinsip ini kupetik dari nasihat indah, Bapak Isa, suami novelis Indonesia, Ibunda Asma Nadia, untuk menerapkan no excuse[9] dalam segala hal.

Memalukan. Prinsip sendiri kok dilanggar. Aku mencaci diriku sendiri, kawan. Begitulah kawan, rumus untuk mencapai bintang kesuksesan yang berkelip-kelip merayu di langit sana. Musuhnya adalah diri sendiri. Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan untuk selalu istikomah dalam memetik impian dan senantiasa tenggelam dalam samudera nikmat untuk beribadah kepada-Nya.

Selain Nay dan aku, ternyata ada beberapa kawan yang juga sedang berpuasa. Hatiku benar-benar terasa bening. Aku mendambakan suasana seperti ini. Sangat mendamba.

Sehari-hari, lingkunganku adalah lingkungan kos. Sebab kita pluralis ya, jadinya ada banyak macam rasa yang dirasakan. Sayangnya, suasana teduh ini jarang aku miliki.

Hatiku selalu meminta, mengemis kepada Dzat Yang Mahaagung, Mahamulia, Mahasempurna. Semoga aku bisa menghabiskan sisa usiaku di tengah orang-orang shalih. Dimana Alquran mampu kudengar dengan sering dan mudahnya. Dimana semuanya berusaha untuk mematuhi aturan Allah, menjalankan perintah Allah, menghindari, bahkan membenci untuk melakukan apa yang dilarang, dilaknat oleh-Nya. Walau memang, kita tidak boleh mengharapkan atmosfer yang 100% saleh dan sempurna, sebab ini hanya dunia. Sedang semua rasa tenang, bahagia, tiada nestapa adalah definisi dari surga. Tempat itu adalah surga, bersama Rasulullah Saw., Ibunda Khadijah, para ahlul bait, para sahabat, para tabi’in, para tabi’it tabi’in, para ‘ulama, para ‘alim, hamba-hamba shaleh yang sangat beruntung bisa Allah izinkan untuk menapaki surga.

Siapa sih yang tidak mau di sana bersama para kekasih Allah itu? Allah. Walau aku tidak layak, namun hatiku tetap mengaminkan, dan aku tetap meminta kepada Rabbku. Tak tahu malu.

Jika anganku menari tentang hal itu, aku teringat sebuah syair indah yang dilantunkan oleh salah seorang sufi, Abu Nawas.

 

Ilahi lastulil firdausi ahla

Wala aqwa ‘alannaril jahimi

Fahab li taubatan waghfir dzunubi

Fainnaka gha firudz dzambil ‘adzimi

 

Wahai Tuhanku, hamba bukanlah ahli surga

Namun hamba juga tak mampu berada di neraka (Jahim)

Maka berikanlah hamba ampunan, dan ampunilah dosaku

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar

 

Hatiku merebak. Gerimis menguasainya. Rindu. Rindu. Rindu. Satu kata yang terbingkis dalam tiga paket itu menenggelamkanku. Aku rindu kepada Rabbku. Jiwaku meradang atas kerinduan ini kepada-Nya.

***

Jarum jam tanganku pongah menunjuk pada angka tujuh. Jam mengajar pertama sudah usai, sahabat. Kami memang mengajar dari jam 06.00-07.00 saja. Nanti siang, sepulang sekolah, pukul 14.00-15.00 kami akan ke kelas kembali. Tujuan kami adalah memberikan jam tambahan ekstra untuk mereka dengan tidak mengusik jam pelajaran. Jadi begitulah jam kerja kami.

Setiba di rumah, aku berganti baju yang lebih santai. Seusainya, Nay dan aku mengambil wudu. Wuduku tentu sudah hilang sebab tadi aku bersalaman dengan para siswa. Siswa yang kuajar adalah kelas dua belas. Menurut Imam Syafi’i, madzab yang kuanut di sini berarti sudah batal ya wudunya.

Tetesan air yang menyentuh kulitku menawarkan kesegaran kembali. Setelahnya, Nay dan aku menuju ke salah satu ruang tertutup yang berada di rumah itu untuk melaksanakan salat Dhuha. Kami munfarid.

Pukul 09.00 adalah waktu untuk evaluasi. Ruangan serbaguna kami, kamar tidur, tempat jamaah salat itu disulap menjadi ruang rapat. Bantal-bantal serta selimut-selimut ditaruh di pinggir, disisihkan dengan rapi. Di ruang itulah, seluruh panitia dan volunteer duduk melingkar dengan pola lingkaran besar. Para panitia dan volunteer putra juga turut hadir.

Kami melakukan rapat besar untuk evaluasi terhadap apa yang dilakukan pagi ini, juga melaporkan rencana apa yang akan direalisasikan pada peserta didik untuk siang nanti. Mulai dari kelas satu MI hingga kelas dua belas MA.

Aku menyimak mereka. Sesekali terkekeh ketika mendengar beberapa kisah kawan-kawanku. Mereka menceritakan perihal anak didik mereka yang lucu-lucu. Ada peserta didik kelas satu MI yang malah mengajak petak umpet. Katanya mereka maunya belajar sambil bermain. Ada juga yang tidak bisa diam. Ah, mengundang sebuah senyuman di wajah. Sungguh, kawan. Bermain bersama anak-anak memang bisa membuat kita kembali muda. Walau kadang gemas bukan main. Sering ya, tangan ini berkeinginan untuk mencubit pipi-pipi mereka yang masih chubby dan imut itu.

Pagi ini belum ada permasalahan yang berarti. Jadi kita semua bisa bersegera mengakhiri rapat evaluasi. Aku mengajak Niken untuk melakukan preparation untuk siang nanti. Kami memakai match game. Jadi para siswa akan diajak untuk aktif.

Teknik ini adalah salah satu teknik mengajar, yakni Total Physical Respons. Kemarin aku baru saja mempresentasikan makalah perihal teknik ini, jadi insyaallah masih segar dalam pikiranku.

Dari nama teknik ini, tentu bisa diprediksi ya bagaimana inti Total Physical Respons itu. Hakikatnya, pendidik mengajak para peserta didik untuk aktif bergerak dalam belajar. Kami memutuskan menggunakan teknik ini sebab kami akan masuk dalam kelas, ketika mereka merasakan lelah, letih, lesu. Kami berharap, teknik ini bisa membidik maksimal pada mereka.

Setelah perencanaan kami rampung, kami mengakhirinya. Aku melanjutkan aktivitasku yang lain. Menunggu takdir apa yang akan terjadi hari ini.

***

Detik berjalan. Lambat, namun pasti. Sang detik ternyata mengantar matahari untuk menampakkan rona jingga di batas cakrawala sebelah barat. Semburat senja mulai tampak. Hamparan biru terlukis oleh warna lain. Ada kelabu, putih, dan yang paling dominan, jingga yang tergambar di sana. Burung-burung tampak terbang kembali kepada sarangnya setelah seharian beribadah, mencarikan nafkah untuk anak-anaknya. Panorama semesta yang menawan.

Bersama volunteer dan beberapa panitia yang lain, aku duduk-duduk di teras rumah kediaman kami. Bercengkerama, berkisah, menikmati senja yang tampak anggun.

Jika membahas senja, maka aku akan teringat Abdullah Khairul Azzam. Kawan mengenalnya bukan? Tokoh yang diperankan oleh Kang Khalidi Asadil Alam itu adalah tokoh utama dalam kisah Ketika Cinta Bertasbih karangan Habiburrahman El-Shirazy.

Aku teringat, bahwa kisah Azzam bermula dengan panorama senja yang bertasbih di Alexandria. Disana, tergambar sahut-sahutan Azan dari negeri seribu menara yang berhasil memecah deru kesibukan manusia. Menampakkan alam yang melipat siang dengan hamparan malam. Mengajak insan-insan untuk segera mengingat Tuhan. Jika memori ini mengajakku berkelana melewati portal pikiran, maka hatiku berdesir. Azzam, ya. Pemuda impian bagi setiap wanita.

Sebagai wanita, tentu pikiran tentang hal ini sempat menyeruak. Siapa sih yang tidak ingin diimami oleh seorang lelaki yang saleh? Yang bukan hanya dunia tujuan utamanya. Melainkan hingga surga. Surga, bukan main-main, surga, sahabatku. Aku hanya menunduk melihat jemari kakiku yang beralas sandal japit ini. Aku malu mengingatinya. Sebab, aku tidak pantas mendambakan orang seperti itu. Meski aku merasa tidak pantas, aku tetap meminta kepada Tuhanku. Hingga kelak, suratan takdir terindah-Nya mampu menyapaku.

Azan mulai terdengar di Desa Jabung ini. Kami semua bersegera masuk ke dalam rumah, persiapan salat Maghrib dan mengaji dengan Abah. Dadaku membuncah.

Sesampainya di dalam, hatiku terharu melihat perhatian dari para panitia yang membuatku speechless. Masyaallah sungguh. Para panitia mengetahui bahwa Nay dan aku berpuasa. Mereka menyediakan teh hangat khusus untuk kami. Hatiku bersyukur sekali. Semoga mereka mendapatkan barakah dari puasa kami lantaran menyediakan minuman terbaik untuk kami ketika kami berbuka. Fabiyyi aalaa irabbikuma tukadzdziban?[10]

Setelah membatalkan puasa, aku ikut bersiap-siap untuk salat jamaah Maghrib. Belum tiba giliranku untuk menjadi imam. Namun hatiku sedikit berdebar. Setelah Maghrib, kami akan mendapatkan ilmu baru dari Abah. Aku mendengar dari beberapa rekanku, bahwa Abah pengasuh Pondok Pesantren Jabung itu tidak mau dipanggil Abah. Beliau lebih suka dan berkenan dipanggil dengan sebutan Pak Poh. Aku mengikuti kawan-kawanku.

Iqamah sudah dikumandangkan. Aku, alhamdulillah masih berdiri di shaf depan, belakang imam. Kami melakukan salat Maghrib.

Selepas salat Maghrib, beberapa dari kami mengamalkan salat sunnah Ba’dliyah, kemudian mengambil mushaf-mushaf milik kami yang berjajar rapi di sebuah buffet lemari. Kami memang membawa mushaf dari rumah. Tidak lama kemudian, lantunan ayat-ayat suci Alquran membahana di seluruh ruangan serbaguna kami. Kami menunggu Pak Poh Imam Ghazali—nama pengasuh Pon. Pes. Jabung—untuk datang.

Panitia sudah menyiapkan sebuah meja kecil yang terpampang sajadah di atasnya. Ditata serapi mungkin, dan ada secangkir kopi yang bertengger di atasnya.

Aku masih duduk di tempatku salat. Sembari memegang Mushaf Marwah berwarna pink, hadiah ulang tahun dari rekan-rekan sekelasku, sewaktu aku menduduki bangku MAN di MAN Kota Blitar.

Tidak lama, sosok itu datang. Seorang Kyai. Beliau mengenakan sarung, berpeci hitam dan berbaju batik. Sederhana penampilan beliau. Kami menyudahi bacaan kami dan mulai berfokus kepada beliau. Hatiku ndredek. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang begitu teduh.

Pak Poh Imam Ghazali terlihat sudah sepuh. Namun berwibawa. Beliau mengucapkan salam lengkap. Kami menjawab. Kemudian beliau mengajak kami berdoa sebelum mulai mengaji. Hatiku terhanyut dalam suasana yang amat tenang. Allah. Hanya itu yang ingin aku dengung-dengungkan.

Beliau memberikan beberapa lembar materi bertuliskan Arab. Hanya beberapa, sebab beliau belum mengetahui jumlah total kami. Jadi kami diminta untuk menggandakan materi beliau sesuai jumlah total kami.

Aku berdesir. Aku belum mendapatkan salah satu selebaran itu. Masih bergabung dengan rekan sampingku, kubaca tulisan berlafaz Arab itu. Nawaitutta ‘aluma wa ta’liima. Sepertinya tema kali ini adalah perihal niat menuntut ilmu. Tema yang beliau pilih benar-benar sesuai dengan kami yang sedang berkecimpung dalam dunia thalabul ‘ilmi.

Pak Poh telah selesai memberikan tawassul. Aku mengosongkan cawan ilmuku. Kuharap, aku bisa mengisi penuh cawan ilmu ini kata demi kata yang beliau lontarkan kelak. Aku ingin mereguk, menenggak ilmu yang beliau tuangkan. Sebanyak-banyaknya ingin kureguk.

“Ini ijazah buat mbak-mbak dari IAIN. Sebisa mungkin, sebelum belajar ataupun mengajar, ijazah ini diamalkan. Bacaannya memang lumayan panjang. Tapi insyaallah, banyak fadhilah manfaatnya. Agar bisa mendapatkan kebaikan karena Allah. Niat mengajar belajar, hanya untuk mencari rida Allah.”, Pak Poh memulai memberikan mukaddimah. Hatiku melojak-lonjak, berjingkrak-jingkrak.

“Jadi nanti, dua pekan ke depan, sebelum kita mengaji, kita membaca doa ini dahulu nggih?” ajak Pak Poh.

“Nggih, Pak Poh,” jawab kami serempak.

“Ayo dibaca bersama. Bismillahirrahmaanirrahim.” Pak Poh mulai membimbing kami. Sungguh, kawanku. Aku tidak bisa menggambarkan deburan bahagia yang membuat hatiku merasakan sesuatu yang luar biasa. Aku ingin menangis. Air mataku merebak. Ya, lingkungan pesantren seperti ini yang aku damba. Aku sangat mendamba. Kurasakan dekapan hangat Allah pada jiwaku. Allah. Allah. Allahu Rabbi.

Semenjak pertemuan kami dengan Pak Poh Imam Ghazali malam itu, hatiku bermusim semi dengan bunga-bunga syukur. Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah ‘alaa kulli hal sebab Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mereguk nikmatnya ilmu di acara ini. Meski aku memang belum pernah menjadi santri, ternyata aku berkesempatan sedikit mencicip madu pesantren yang mampu menenangkan rona jiwa yang gersang.

Kembali aku teringat impian utamaku. Kuingin bisa menghabiskan sisa usia di lingkungan pesantren yang mulia. Kuingin menghirup aroma pesantren yang harum dan sarat akan ketenangan jiwa. Kuingin mendekap hangat jiwa-jiwa yang sedang mengais dan mengaji kalam-kalam Ilahi, hadis-hadis Nabi, dan karangan para ulama yang ‘alim. Kuingin melihat kibaran jilbab panjang para santriwati, serta kibaran sarung yang dikenakan kang-kang santri. Dadaku bergemuruh, mendidih dan bergolak membayangkannya.

Beginilah, kawan. Seutas impian yang kurasakan. Impianku seperti terwujud saja untuk menenggak dan mengenal apa itu Pesantren. Meski ia hanya setetes. Ya, bagaikan setetes embun impian yang aku damba selama ini. Setetes itu sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan hatiku yang tandus. Pepohon iman, semoga semakin tumbuh subur di hatiku. Bunga-bunga iman, semoga selalu bersemi di dalam kalbuku.

 


[1]Bahasa slank dari kata ‘sayang’. Menyebutkan ‘sayang’ memang sebutan akrab untuk saudari sesama Muslim. Bukan bermaksud LGBT ya. Naudzubillah.

[2]Sebutan untuk rumah yang tempat tinggal Kyai.

[3]Bertandang

[4]Hadiah terbesar dalam sebuah kompetisi.

[5]Seperti tempat tidur, namun tidak ada kasurnya. Biasanya digunakan untuk duduk dan menaruh bumbu-bumbu dapur ketika memasak.

[6]Menanak nasi menggunakan panci besar di tungku karena biasanya digunakan untuk porsi yang besar juga.

[7]“Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali.”

[8]Menyelam

[9]Tidak ada alasan

[10]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan? QS. Ar-Rahman


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>