Home » Uncategorized » Senandung Cinta Maryam

Senandung Cinta Maryam

Oleh: Rahmawati Agustin
(Pegiat Literasi Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Di sebuah desa kecil daerah sleman Yogyakarta, terdapat sebuah bangunan kokoh berdiri ditengah hamparan sawah nan hijau. Di dalamnya terlihat seorang gadis kecil yang sedari tadi berdiri mematung didekat jendela, sepasang bola matanya berputar  ke arah kanan dan kiri sambil sesekali ia memperhatikan ibunya yang sedang tertidur pulas diranjang. Didekapnya boneka taddy bear kesayangannya sambil mengamati bintang – bintang di langit, rupanya  ia  sudah tidak sabar menyambut datangnya matahari pagi  untuk segera bermain bersama teman sebayanya.

10 Tahun kemudian

Gadis kecil itu kini tumbuh menjadi remaja yang manis, cerdas, dan  mandiri. Sayyidah Maryam namanya, biasa di panggil Maryam gadis desa berparas ayu ini tinggal bersama Ibunya yang biasa ia panggil dengan sebutan Bunda. Layaknya gadis Jawa pada umumnya ia memiliki sifat  lemah lembut juga kepribadiannya yang santun.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi gadis berlesung pipih ini. Ternyata hidup memang tak semanis hayalan masa kecilnya. 5 Tahun yang lalu saat dia duduk dibangku sekolah dasar, sang Ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Meskipun ia merasa begitu terpukul ditinggal oleh sang Ayah tercinta dalam waktu yang begitu singkat namun, tidak menjadikannya terus terpuruk dalam kesedihan.

Ia sadar bahwa hidup harus terus berlanjut. Separah apapun  kondisi kita, tak perduli harus  berapa kali ia terjatuh dan berkali- kali ia harus bangkit. Namun, ia tetap bersyukur karena memiliki Ibu yang berhati malaikat. Meskipun ayahnya telah pergi, sang Bunda selalu memberikan kasih sayang yang cukup untuknya.
Akan tetapi kondisi kesehatan Bunda akhir-akhir ini semakin memburuk,  ditambah dengan beban pikiran yang ia tanggung sendirian membuatnya menderita penyakit jantung koroner. Mulai saat itu Maryam mulai mengambil alih semua pekerjaan Bunda mulai dari mengurus ternak, ladang, dan perkebunan.

Awalnya Bunda keberatan dengan  usulannya, mungkin karena beliau merasa terlalu membebani putrinya. Meskipun sebenarnya Maryam tidak merasa terbebani sama sekali.
Dan beruntung Maryam memiliki dua sahabat yang berhati malaikat,  seperti Azam dan Azmi, dua bersaudara berparas tampan ini berasal dari keluarga priyai. Kebetulan mereka berdua satu sekolahan dengan Maryam. Singkat kata mereka bertiga memang sudah bersahabat sejak duduk dibangku sekolah dasar. Bagi Maryam mereka lebih dari sekedar sahabatnya, ia sudah menganggap Azam dan Azmi layaknya saudaranya sendiri. karena ketika ia dan Bundanya mengalami kesusahan mereka berdualah orang pertama yang selalu menolongnya tanpa pamrih.

Kedua sahabanya, Azam dan Azmi walaupun mereka notabennya adalah kakak beradik tetapi sifat mereka sangat berlawanan Azam sebagai kakak  malah lebih kekanak-kanakan,  jail, dan penakut, dibandingkan Azmi sang adik yang cenderung lebih pendiam, dan tegas dalam berpendirian. Meskipun begitu, selamanya mereka adalah sahabat terbaik yang dikirimkan Allah untuk Maryam.

Tengah hari tepat ketika matahari transit melewati meridian langit pada saat pusat titik tertinggi diatas cakrawala tepat diatas ubun-ubun kepala. Di- tengah suasana yang begitu panas,  Maryam seolah tak perdulikan hawa panas yang menyengat tumbuh gadis berjilbab ini, ia dibantu kedua sahabatanya, ia tetap bersemangat mencari rumput untuk makanan ternak sapi perah miliknya. Maryam dan kedua sahabatnya Azam dan Azmi sedang mencari rumput diladang. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang sedang   mengamati mereka  dari kejauhan.

Orang itu tidak lain adalah Zainab. Gadis yang sudah sejak lama menaruh hati kepada Azmi, dia juga orang yang diam-diam menyelipkan suratnya kedalam tas Azmi tempo hari yang lalu. Saat ini perasaannya sedang gundah karena cintanya yang tak kunjung terbalas, apalagi melihat kedekatan Maryam dan Azmi yang semakin  lama semakin menjadi. Membuat hatinya semakin dilanda kegalauan.

”Maryam sepertinya rumput yang kita cari sudah cukup banyak!” Seru Azam. Lalu memasukan rumput-rumputnya kedalam karung.” Sama karungku  juga sudah terisi penuh.” Timpal Maryam.

“Bagaimana dengan punyamu Azmi?” Tanya Maryam.

“Punya ku juga sudah penuh.” Jawab Azmi .

”Tunggu apa lagi yaudah kalau begitu ayo kita pulang!” Ujar Azam.

“Ayo!” seru Maryam.

Merekapun segera membereskan barang bawaan mereka ke atas gerobak, lalu  mereka dorong bersama-sama.

”Eh tunggu sebentar!” Seru Maryam menghentikan dorongannya.

“Sepertinya itu Zainab, sedang apa dia disana?” Tanya Maryam menunjuk kearah semak-semak.

”Kita samperin aja yuk!” jawab Azam. Menyadari bahwa keberadaannya di ketahui oleh mereka, Zainab pun segera menjauh.

”Gawat sepertinya mereka memperhatikanku aku harus cepat pergi.”   Gumang Zainab. Ia mempercepat langkahnya menjauh dari mereka.

”Si Zainab kok malah pergi gitu aja sih? aneh!” Timpal Maryam.  Dengan mengrenyitkan alisnya

“Yaudah kita langsung pulang aja!” Seru Maryam.

Setibanya dirumah Zainab langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, Zainab tampak begitu resah, matanya sulit untuk terpejam dikepalanya selalu terbayang-bayang wajah Azmi lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati akan tetapi malah berpaling tak membalas cintanya.

“Tolong pak jangan bawa barang-barang saya!” Pinta wanita paruh baya itu kepada salah seorang lelaki berbadan kekar. Sesekali lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang beringas bah  srigala yang siap menerkam siapa saja yang menghalangi langkahnya.

Mereka seolah-olah tidak menggubris rintihan wanita tua itu, Kemudian wanita tua itu berlutut kepada salah seorang dari mereka yang sedang duduk manis diatas kursi dengan posisi duduk menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kiri sehingga membentuk sudut lancip 25 derajat.
Dia sendang menikmati sensasi merokok dari pipa hookah lengkap dengan sepasang air bicirculation bah seorang bangsawan. Wajahnya memang rupawan, sepertinya dia seorang yang berdarah indo campuran, karena wajahnya sedikit kebarat-baratan. Pria itu memakai topi koboy hitam, juga jas hitam yang membalut badannya, perawakannya cukup kekar mirip seorang ajudan, bisa jadi dia adalah pemimpin dari komplotan orang berbadan kekar itu.

“Tuan apa salah saya sehingga anda tega mengambil harta seorang janda miskin beranak satu seperti saya?”Tanya wanita tua itu kepada si pria bertopi hitam sambil berlutut dibawah kursi.

“Tuan tolong jawab saya, saya butuh kejelasan!” Protes wanita paruh baya itu dengan nada bicara meninggi.

Tampaknya ia memang sudah hampir habis kesabarannya, kemudian ia beranjak bangkit dan berdiri.

Tetapi pria itu tetap diam seribu bahasa.

“Tuan jawab kenapa tuan hanya diam saja?” Desak wanita itu.

“Saya hanya menjalankan amanah dari seseorang, dan sebelum suami anda meninggal dia menitipkan ini kepada saya!” Jawabnya singkat .

Kemudian dia  mensodorkan sebuah amplop putih kepada si wanita.

Buru-buru ia buka amplop itu karena begitu penasaran dengan isi dari  pesan terakhir  suaminya. Seiring dengan perginya Pria itu dari hadapannya, wanita itu merasakan kepalanya teramat pusing, badanya mulai lemas, akhirnya ia  jatuh tersungkur ke lantai dan  ia mulai kehilangan kesadarannya. Assalamu’alaikum…’

“Bunda, Bunda Maryam pulang!”Seru Maryam dari depan pintu. Karena tidak mendapatkan jawaban apapun  ia dan kedua sahabatnya segera masuk kedalam rumah. Maryam benar- benar syok melihat keadaan rumahnya yg tak beraturan seperti kapal pecah. Dari kejauhan iya melihat Ibunya  sudah tergeletak di lantai

“Bunda…. Maryam berlari kearah ibunya yang sudah tergeletak lemas.

“Bunda kenapa ? apa yang terjadi bunda ? Tanyanya ketakutan.

“Maryam maafkan bunda!Seru Ibunya lirih.

Melihat kondisi Ibunya yang sudah lemas tak berdaya ia pun langsung membopong Ibunya ke atas kursi dibantu oleh kedua sahabatnya. Kemudian Maryam mengampil segelas air putih dari dapur.

”Bunda minum dulu!”Seru maryam.  ia membantu Bunda meminum air perlahan-lahan.

”Maryam sayang maafkan Bunda ya nak!” Pinta Bunda lirih. Maryam  memandangi kedua mata sang Bunda berharap mendapat jawaban yang jelas darinya.

“ Sebenarnya ada apa Bunda? kenapa Bunda terus-terusan meminta maaf?” Tanya maryam tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

” Tadi ada seorang pria memakai topi hitam bersama 4 bodiguardnya datang kesini nak!”Seru Bunda terbata-bata.

“Ayahmu nak ternyata dulu sebelum dia meninggal , dia meninggalkan hutang!”lanjut sang Bunda

“Dan akhirnya dia terpaksa menggadaikan seluruh atsetnya kepada seorang juragan kaya raya karena ia bangkrut dalam bisnisnya!

”Maafkan Bunda nak,  Bunda tidak bisa menjaga harta peninggalan Ayahmu nak!”Pinta Bunda dengan raut muka penuh penyesalan.

Maryam sangat syok begitu mendengarkan penjelasan dari Bunda, tetapi ia   juga tidak sanggub jika harus melihat ibunya terus merasa bersalah

“Bunda jangan sedih ini semua bukan salah bunda! Jawab Maryam menenangkan sang bunda

Astagfirullahhalngazim….

“Maryam harus minta penjelasan dari mereka Bunda! Mereka harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini! Seru Maryam geram.

“Untuk apa nak? kamu meminta penjelasan dari mereka?Tanya Bunda penasaran.

“Maryam tidak bisa terima mereka memperlakukan Bunda seperti ini!

“Bunda tidak apa-apa nak! kamu disini saja ya!” Seru Bunda membujuk Maryam. Ia  tak ingin putrinya berurusan dengan komplotan lelaki itu

“Enggak Bunda, Maryam harus menemui mereka!

Sudah Bunda istirahat saja  dirumah ya!” Jawab Maryam masih bersikeras

Dengan air mata bercucuran dipipi merahnya, Maryam segera berlari keluar rumah berharap ia masih bisa mendapati pria bertopi hitam itu. Tidak mau putrinya gelap mata Bu Halimah langsung mengejar Maryam ke sebrang jalan. Melihat Bu Halimah yang masih lemas mengejar Maryam  kedua sahabat Maryam, Azam dan Azmi langsung membantunya berjalan. Sedangkan Maryam masih terus berlari mengejar mobil pria itu.

“Tunggu jangan pergi dulu!” kamu harus bertanggung jawab!” Seru Maryam berlari mengejar pria yang sudah berada didalam sedan.

“Berhenti! Seru Maryam menggedor –gedor jendela mobil pria itu. Tetapi sedan itu melaju dengan kecepatan tinggi sehingga Maryam terjatuh karena tak sampai mengejarnya.

“Maryam sudah nak sudah!” Seru Bunda menghampiri Maryam. ia memeluk putrinya yang kini sedang duduk lemas di tengah jalan raya

“ Bunda Maryam gak rela jerih payah kita selama ini dirampas oleh mereka begitu saja!seru Maryam dengan isakan tangis.

”Bunda ini semua gak benar kan? Ayah gak mungkin melakukan semua ini? Seru Maryam menangis seenggutan“nak dengarkan Bunda,!”Seru bu halimah. Ia membelai jilbab putrinya sembari  memberi nasehat.

“Kamu tidak mau kan  melihat Ayah kamu tersiksa di dalam kuburnya, karena menangguh hutang!”Seru Bunda sembari menatap Maryam. Oleh sebab itu kita harus mengikhlaskan harta kita, semua yang kita miliki supaya Ayahmu bisa tenang disana! seru Bu Halimah menenangkan Maryam.

Seketika tangis kedua ibu dan anak itu pecah.

“Bundaaaa!”…..rintih Maryam.

“ Sabar nak, dibalik semua ujian Allah pasti akan memberi jalan! “Seru Bu Halimah tegar.

Setelah kejadian itu Maryam dan Sang Bunda tinggal dirumah sederhana berukuran 30 meter persegi memang rumah yang sekarang mereka tempati itu jauh lebih sempit dari pada rumah mereka yang dulu. Rumah itu sebenarnya milik saudara Azmi yang sudah tidak ditempati oleh mereka, beruntung karena kedermawanannya, mereka mengizinkan Maryam dan bundanya tinggal disana tanpa membayar uang seperserpun. Sekarang Maryam dan bundanya harus mulai menata lagi kehidupan mereka yang baru mulai dari awal, mereka juga harus berkerja extra keras lagi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bunda sekarang berkerja disalah satu perusahan  konfeksi tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sementara Maryam setiap pagi sebelum berangkat kesekolah harus membantu ibunya membuat kue terlebih dahulu sebelum kemudian ia titipkan dikantin sekolah.

5 Bulan Kemudian

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Maryam, Azam, dan Azmi juga teman-teman lainnya di Madrasah Aliyah. Bagaimana tidak hari ini kepala sekolah akan mengumumkan secara resmi kelulusan siswa-siswi kelas 3 seangkatan. Setelah mereka menyelesaikan ujian nasional bulan lalu. Setelah amplop hasil ujian sudah berada ditangan mereka masing-masing.
Mereka pun segera membuka amplop mereka. Dan betapa bahagianya hati Maryam melihat hasil ujiannya yang begitu memuaskan dan ternyata setelah itu ia dipanggil Bapak Kepala Sekolah untuk menerima penghargaan beserta murid berprestasi lainnya termasuk Azam dan Azmi untuk menerima sertifikat dan beasiswa dari salah satu perguruan tinggi yang sudah mereka pilih melalui jalur SNPTN. Diantara mereka bertiga Maryam lah yang paling beruntung karena sebelum ujian nasional dulu dia sempat mengikuti seleksi untuk masuk ke salah satu  PTKIN di luar negeri.

“Subhanallah Azam, Azmi aku bener –bener gak nyangka, aku bisa kuliah diluar negeri sekarang!” Seru Maryam kegirangan.

“Iya selamat ya Maryam! akhirnya cita-cita kamu bisa terwujudkan!” Jawab Azam. Ia juga turut berbahagia atas pencapaian yang diraih sahabatnya.

“Lihat Azmi, Maryam hebat ya bisa kuliah ke luar negeri!

pake beasiswa lagi!” seru azam bangga.

Tetapi melihat saudara laki-lakinya yang sedari tadi diam saja. Azam langsung menyenggol tangan Azmi.

“Azmi kenapa kamu diam saja  harusnya kamu beri selamat juga kepada maryam!”Seru Azam heran.Tetapi bukannya memberi selamat kepada Maryam, Azmi malah pergi begitu saja.

Sontak Azam dan Maryam dibuat bingung dengan perubahan  sikap Azmi yang tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti itu.

Azmi kenapa?kok malah pergi gitu aja?”Tanya Maryam. Ia ingin memastikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja.

“ah sudahlah Maryam mungkin dia kecapean! kayak gak tau aja kamu, kalau si azmi itu aneh. “Timpal azam dengan santainya

“azam gak boleh gitu ah!”  Tegur Maryam.

“Udah gak usah dipikirin!yang penting cita – cita kamu buat kuliah keluar negeri sekarang sudah tercapai!” Hibur Azam.

“Iya azam alhamdulillah, aku bener-bener gak nyangka sebenarnya! Jawab Maryam kembali antusias.

“Yaudah kamu cepet pulang kasih tau Bundamu, pasti beliau seneng banget

denger kabar ini!”

“yaudah aku pulang dulu azam, oh ya besok lusa aku tunggu kalian di bandara!”ucap Maryam bersemangat.

~ Di Bandara

Pagi ini Bu Halimah mengantarkan Maryam kebandara, sesampainya mereka dibandara tidak lupa ia memberikan wejangan – wejangan kepada  putri semata wayangnya itu sebelum ia berangkat untuk menumtut ilmu ke negeri orang. Setelah mereka menunggu hampir satu jam . Akhirnya mereka menerima instruksi bahwa pesawat akan diberangkatkan 20 menit lagi. Maryam mulai gusar, kenapa Azam dan Azmi belum juga datang padahal ia sebentar lagi harus take off, berkali-kali ia memerikasa ponselnya untuk memakstikan apakah ada pesan atau telefon dari mereka. Ia juga berusaha menghubungi keduanya secara bergantian tetapi hasilnya nihil, kedua-duanya sangat sulit di hubungi.

“ Bunda sepertinya Maryam harus segera berangkat!” Serunya putus asa.

“Tapi bagaimana dengan Azam dan Azmi nak?” Tanya Bunda khawatir.

“Mungkin mereka masih diperjalanan!”Seru Maryam dengan raut muka sedih.

“ Kalaupun tidak sempat bertemu, sampaikan salam Maryam  kepada mereka ya bunda! “Seru Maryam dengan mengembangkan senyum tipisnya.

” Pasti bunda sampaikan! Seru sang Bunda lalu ia melepas  putri semata wayanya dengan pelukan dan berkali-kali mencium pipi putrinya itu secara bergantian.

”Maryam berangkat dulu ya bunda! Bunda jaga kesehatan ya selama maryam pergi!” Seru Maryam meneteskan air mata.

“ Iya hati-hati nak!” Seru Bu Halimah tegar.

“Assalammualaikum Bunda! “Seru Maryam dengan mencium tangan Ibunya

“Walaikumsallam nak!”Seru Bu Halimah. ia mengelus-elus kepala putri semata wayangnya itu kemudian memeluknya untuk terakhir kali.

Kemudian Maryam membawa kopernya berjalan menuju area boarding lounge, tidak lama setelah itu datanglah kedua sahabatnya,  Azam dan Azmi mereka berusaha menemui Maryam untuk mengucapkan salam perpisahan tetapi dihadang oleh petugas. Tetapi berkat kecerdikan mereka, mereka bisa bernegosiasi dengan petugas dan akhirnya mereka diizinkan masuk. “Maryam, Maryam tunggu!”  Mendengar suara kedua sahabatnya Maryampun berbalik kearah mereka. Betapa bahagianya hati Maryam mendapati kedua sahabatnya itu akhirnya datang juga.

Maryampun langsung lari kearah mereka. Akhirnya kalian datang juga! Seru Maryam girang.

“ Pasti datanglah! Seru Azam percaya diri. “ oh ya Maryam ada yang mau ngomong sesuatu nih sama kamu!” Seru azam menyenggol pundak Azmi ia berusaha memberikan isyarat kepada saudaranya itu untuk segera berbicara. “Ada apa Azmi? Tanya Maryam penasaran. “Eem, kamu hati-hati disana ya Maryam,  jaga kesehatan, jangan lupa sholat !” Seru Azmi tampak gugup.

“ Iya Azmi, kalian juga jaga kesehatan ya! Timpal Maryam.

Jangan nagis mulu  kalau aku tinggal hahaha! Candanya

Azmi ayo ngomong! desak Azam. Ia mengisyaratkan kepada adiknya untuk segera mengutarakan isi hatinya kepada Maryam.

“ Ngomong apa lagi  barusan juga aku ngomong !

” Kok cuma itu  ? heran deh sama kamu!” Ujar Azam jengkel.

Habis mau ngomong apa lagi! Seru Azmi berbisik kearah Azam. Maryam tampak bingung dengan tingkah kedua sahabatnya itu.

“Oh ya Maryam ini aku punya sesuatu buat kamu! Seru Azmi menyodorkan sebuah bingkisan kearah maryam. Itu kenang-kenagan dari kita berdua.” Makasih ya Azmi, Azam! Kayakknya aku gak bisa lama-lama pesawatku sebentar lagi  akan berangkat! Seru Maryam tergesa-gesa.

Bunda Maryam berangkat! “Serunya melambaikan tangan kearah ibunya yang berdiri didekat kaca.

“Oh ya Azam, Azmi, aku bakalan rindu sama kalian!” Seru Maryam sambil berlari menuju pesawatnya.

Dari dalam pesawat Maryam membuka sebuah bingkisan kotak merah yang diberikan azmi tadi ternyata isinya adalah boneka tedy bear pink favoritnya ia tersenyum tipis  sambil memeluk boneka itu sembari mengingat wajah kedua sahabatnya itu. Kemudian dia mengambil sebuah amplop berwarna merah hati yang diletakkan disamping boneka. Ternyata surat itu dari Azmi.

Assalammualaikum….

Teruntuk sahabatku tercinta, yang kini telah jauh dimata. Aku selalu berdoa semoga kamu selalu berada dalam lindunganNya. Maryam melalui surat ini kiranya engkau sudi mendengarkan suara hati dari seorang lelaki tak tau diri seperti aku.“Maryam aku bukanlah lelaki yang pandai merangkai kata- kata seperti Azam, aku juga selalu bersikap dingin kepada semua teman perempuanku.  Maka saat aku menulis surat ini  diatas bukit candi abang, disaksikan rumput-rumput liar dan ilalang diatas bumi ciptaan sang Maha Agung , maka kuutarakan seluruh rasa yang selama ini telah berkecambung di dada. Aku menyayangi mu dan aku ingin menjagamu , juga menjadi bagian dari hidupmu suatu hari nanti. Aku akan sangat maklum jika kau masih ragu dengan pernyataanku, aku juga tidak memaksa jika kiranya kau tak membalasnya. Tapi sungguh aku sama sekali tidak berdusta,semua ini murni dari lupuk hatiku yang paling dalam. Semoga Allah swt akan selalu menyertai disetiap langkah kakimu.

Wassalamualaikum.

Sebenarnya Maryam terkejut dengan ungkapan Azmi sahabatnya, namun tidak dapat dipungkiri ia juga sudah sejak lama menyimpan rasa yang sama kepada sahabatnya itu, tetapi rasa itu buru –buru ditepisnya karena ia sadar ia harus sungguh-sungguh dalam belajar supaya tidak mengecawakan Bundanya, ia percaya bahwa rencana Allah pasti jauh lebih indah dari apa yang ia harapkan. Biarlah rasa itu saat ini ia simpan dalam hati supaya kelak bila  ia dan Azmi berjodoh semoga dapat dipertemukan kembali dalam suatu ikatan yang suci dan abadi


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>