Home » Uncategorized » Mereguk Sang Rindu

Mereguk Sang Rindu

Oleh: Ekka Zahra Puspita Dewi

(Peneliti di Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung)

Bahagia sedang mendendangkan kasidah di dalam inti hati. Membumbung memenuhi celah-celah palung hatiku. Menyebar hingga tiba pada permukaan samudra kalbu. Berdebam, bergulung, membentuk ombak tsunami dan menyapu seluruh resah gundah gulana. Saking gegap gempitanya rasa bahagia yang memenuhi batas pandangku, aku bahkan tidak bisa melihat apa dan bagaimana bentuk serta rupa si bahagia.

Sahabat, tahukah Kalian gas helium? Gas balon udara yang mengangkat balon karet terbang ke angkasa raya itu. Hari ini, aku dijejali dengan gas itu. Penuh. Hingga menggembung tubuh hatiku. Tubuhku meringan dan wuuss terbang, tinggi sekali. Mencapai atmosfer bumi pada bagian stratosfer. Menari-nari bersama gumpalan awan putih yang berarak-arak. Terkadang menyundul-nyundul gumpalan putih yang berbaris. Sungguh. Tak ada tanda cumulunimbus akan tiba. Semua hanya hamparan putih bak samudra kapas nun empuk.

Apa yang membuatku bahagia sedemikian rupa? Begitulah mungkin yang terbesit pada angan Sahabat. Iya, kan? Tidak usah malu, aku tahu kok.

Sahabatku, hari ini yang bertepatan dengan hari Jumat, 23 Maret 2018, aku sebenarnya sedang melakukan realisasi penelitian. Terdengar keren, kan? Penelitian. Aih, akademis sekali.

Alhamdulillah, Sahabat. Aku masih berstatus sebagai mahasiswa. Saat ini, aku masih mengais-ngais ilmu di sebuah dunia akademik super keren, kampus dakwah dan peradaban, IAIN Tulungagung. Biar ilmunya semakin mengucur, juga tidak mengalami kemandegan, plus menambah saudara di sana sini, aku mengikuti sebuah organisasi yang mewadahi kegiatan ilmiah seputar pesantren. Nama organisasi ilmiah itu adalah Pusat Studi Pesantren. Santri mahasiswa-lah istilah bagi para anggotanya. Bagiku dua paduan kata itu adalah kombinasi yang tidak terbantahkan keelokannya.

Jadi ceritanya seperti ini, Kawan. Alkisah, pada suatu hari, Abah Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M.Ag., MA., selaku Direktur Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung  mengumpulkan kami. Beliau berwejang kepada para santri PSP—Pusat Studi Pesantren—untuk melakukan penelitian dengan instrumen penelitian interviu dan dokumentasi pada pondok pesantren yang tercakup dalam daerah Tulungagung.  Jadi kami akan menggali data dengan cara sowan kepada kiai-kiai yang berada di Tulungagung sesuai dengan pembagian kelompoknya.

Pada saat pembagian, aku tak bisa hadir, Kawan. Saat itu, tubuhku sedang dipeluk oleh demam dan flu. Mereka tidak mau pergi dariku. Sedih. Sebab jarang sekali bisa berdiskusi dan berkumpul bersama teman-teman PSP. Juga, jarang aku bisa menangkap ilmu yang bertebar-tebar dari tutur lisan Abah Nafis.

Malam harinya, dari grup salah satu sosial media tercantumlah nama-nama santri, kelompok, plus pondok pesantren yang menjadi objek kajian. Mataku menatap tajam pada daftar itu. Aku terbelalak, kaget bukan buatan. Namaku ada dalam jajar kelompok yang bersanding dengan seorang penulis super keren dari kampus, Mbak Jazil. Sebuah kehormatan bagi beginner macam aku ini bisa bekerja sama dengan beliau. Aku bahagia. Dan realisasi bahagia itu membuncah hingga hari ini.

Saking bahagianya, mataku masih melotot memandangi langit-langit rumah, meski tubuhku seharusnya remuk redam. Namun aku masih saja merenungi apa yang sudah kudapatkan hari ini. Sembari tersenyum-senyum, anganku melayang. Menggiring sang waktu berputar kembali pada pagi tadi.

 

~~oOo~~

 

Ya nabi Allah ya Rasulillah ya habibillah ya nabi ya nabi

Ya nabi Allah ya Rasulillah ya habibillah ya Muhammad

Ya Rasulallah Muhammad-ku rindu kami padamu rindu cahaya wajahmu

Ya Rasulallah pemimpinku semoga rahmat tercurah senantiasa padamu

Ponselku berdering-dering memekakkan telinga. Alunan lagu Opick feat Wafiq Azizah yang berjudul Ya Rasul mengalun merdu. Meski sejatinya ia adalah deru alarm, tapi sebenarnya aku malah merasa di-nina bobokan.

Aku menggeliat malas. Mencoba membuka kelopak mata yang terlanjur tertutup lengket. Kulihat layar ponsel dan kutengok jam. Pukul 03.45 pagi. Jemariku tergiring untuk mematikan alarm. Tanganku menarik selimut lagi. Terpejam lagi.

Tiba-tiba aku berada pada suatu tempat. Aku ditinggal Mbak Jazil melakukan penelitian. Abah Nafis marah padaku. Semua orang meninggalkanku. Aku berdiri sendirian, dikejar-kejar cercaan orang. Aku menangis. Napasku tersengal-sengal, sesenggukan. Telunjuk-telunjuk santri PSP menuding-nuding padaku. Tatapan mereka bagaikan peluru senapan otomatis yang langsung menembus jantungku dalam radius detik. Aku tidak tahan. Kemudian, kelopak mataku terbuka.

Gelap menyapaku. Lampu utama kamar ini masih padam. Hanya temaram berwarna jingga dari lampu tidur yang sedikit menerangi ruang ini.

Apa aku bermimpi?

Segera kusebut istigfar dalam hati.

Astaghfirullahalazim. Alhamdulillah, hanya mimpi.

Kuembuskan napasku lega. Aku tenang kembali.

Aduhai, Sahabatku, otak bawah sadarku ternyata bekerja dengan sistem kerja yang luar biasa, alhamdulillah. Sebelum tidur, pikiranku memang membayangkan bahwa hari ini, aku akan melakukan sowan penelitian penggalian data untuk biografi kiai Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung. Ternyata terbawa efeknya dalam tidurku. Segera, aku membuang selimut. Tak lagi, ya. Aku tidak mau dikejar-kejar orang seperti tadi. Aku tidak mau ditinggal Mbak Jazil. Aku tidak mau dimarahi Abah Nafis. Tidak mau! No way!

Kuseret tubuhku bangun. Kuajak dia mencumbui kesegaran air dingin yang mencambuk para setan. Terhanyutlah aku dalam arus ketenangan ruhaniah yang gelombangnya beriak-riak, membuatku terapung-apung dalam sungai ketenangan.

Seusainya, aku melakukan aktivitas pagi seperti biasa, sembari membiarkan waktu berdetak-detak. Namun hakikatnya, hatiku berharap-harap cemas.

Apa yang akan terjadi hari ini?

Jika disesuaikan dengan agenda sebelumnya, sebenarnya Sabtulah rencana kami merealisasikan agenda ini. Namun karena Mbak Jazil memiliki jadwal mengaji yang mendadak di pesantrennya pada hari Sabtu, kami harus merombak jadwal. Kebetulan agendaku Jumat hanya menyelesaikan makalah. Bisalah kuatur sendiri jadwalku. Akan tetapi, Mbak Jazil yang terikat dengan kebutuhan banyak orang tidak bisa diganggu. Alhasil, kami akan mewujudkan perencanaan kami hari ini.

Dadaku berdebar-debar. Bayangan matahari yang masih condong ke barat itu hampir tertelan benda yang dibayanginya. Hari semakin siang. Aku segera bersiap menuju Tulungagung. Menanti rajutan takdir indah dari Allah hari ini.

~~oOo~~

Pukul 10.30 WIB, aku sudah memasuki kawasan Tulungagung. Permasalahan baru menyapaku, Kawan. Aku bingung mencari-cari di mana pondok pesantren Mbak Jazil. Karena tujuanku masih buram, motorku kuajak istirahat di tepi sebuah perempatan. Aku bingung. Segera kubuka ponsel dan kubaca pesan Mbak Jazil. Otakku berputar. Sesekali jemariku menunjuk-nunjuk arah. Benar arahnya. Tapi di mana bisa kutemui gang?

Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mengenakan seragam SD lengkap bersama tas dan sepatu yang lewat di seberang jalan. Kutaksir, dia masih kelas dua atau tiga SD. Sepertinya dia baru pulang sekolah. Kucegat dia.

Adik, permisi, pintaku. Lelaki kecil itu celingukan. Pasti dia tidak menyangka akan disapa oleh orang asing yang memakai atribut perjalanan lengkap dan meneduhkan diri di pojok perempatan.

Adik? Aku menegaskan. Dia memandangku.

Ha? Iya, Mbak? Dia memastikan bahwa aku mengajaknya bicara. Aku tersenyum.

Bisa minta tolong? Sampean tahu tempat pondok pesantren di sekitar sini apa tidak? tanyaku.

Pondok? mimiknya kebingungan.

Iya, pondok pesantren, jawabku meyakinkan.

Tidak tahu, Mbak, ucapnya kemudian, sembari mengerutkan kening diikuti menggelengkan kepala.

Yah.

Oh begitu. Ya sudah, terima kasih ya, ucapku. Anak itu mengangguk, kemudian melanjutkan langkah-langkah kakinya untuk pulang.

Apa aku salah ya tanya kepada anak kecil? Ah biarlah. Tadi kan iseng-iseng berhadiah. Siapa tahu anak itu tahu di mana tempat Mbak Jazil.

Baik, Kawan. Matahari hampir mencapai puncaknya. Aku tidak mau terpanggang terus-terusan. Tidak banyak berkilah, aku segera menelepon Mbak Jazil. Dari telepon, Mbak Jazil memberikan arahan tempatnya. Setelah memastikan bahwa aku paham arahannya, ponsel kumatikan. Segera, kugiring motor putih itu menuju ke arah yang ditunjukkan Mbak Jazil.

Tiba pada tujuan, aku kikuk. Ini pesantren, Sahabat. Hatiku melompat-lompat. Aroma wangi pesantren menyeruak, menghajar hatiku yang sayu. Mataku menyapu seluruh latar pesantren ini. Di sudut sana, banyak jemuran sarung santriwati berjajar rapi tercantol di hanger-hanger.

Setelah kuparkir motorku, seorang ibu yang memakai jilbab disampirkan dan juga mata yang dihiasi celak hitam melihatku. Aku segera bersalaman dengan beliau.

Assalamualaikum, Ibu, salamku sembari mencium tangan beliau.

“Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ada yang bisa dibantu, Mbak? tanya beliau. Dadaku berdesir.

Apa beliau Ibu Nyai?

“Mbak Jazilnya wonten, Ibu? tanyaku.

Oh, Jazil. Masuk saja langsung. Monggo, pinta beliau.

Oh mengaten. Matur nuwun. Nggih mpun, monggo Ibu, pamitku pada beliau.

Kakiku kuajak melangkah ke dalam. Sebuah suasana yang sulit kujelaskan terserak, menghambur menghiasi kalbuku yang berwarna-warni. Aku kaget. Aku malu. Aku memuai dan wuuuussss meletus.

Daaarrrr

Mbak Zahra, ucap Mbak Jazil sembari melambaikan tangan dari dalam.

“Dalem, masyaallah Mbak.” Aku tersenyum karena sudah menemukannya, Sahabat. Pencarianku usai.

Ayo, Mbak. Masuk-masuk, ajaknya. Aku patuh.

Aku mengekor di belakang Mbak Jazil. Terbungkam lisanku. Terkatup hatiku. Masyaallah. Banyak santriwati yang berseliweran. Mereka memakai bawahan sarung serta jilbab yang hanya disampirkan. Sederhana namun bersahaja. Aku sungguh takjub. Ada beberapa santriwati yang mendaras hapalan Alquran. Beberapa di antara mereka menyendiri. Memojok di sebuah sudut dan memejamkan mata, sembari lisannya komat-kamit menghapal ayat demi ayat. Dadaku berdenyar. Hapalan? Allah. Astaghfirullah. Hatiku seakan disiram air dari Samudra Arktik. Serta merta ia membeku dan membiru. Juga, aku digigit rasa malu. Sakit sekali gigitannya.

Mbak Jazil mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Ada mbak santriwati juga di sana. Dia juga memegang Alquran dan hapalan. Mbak santriwati itu tersenyum padaku. Aih, ramahnya. Kubalas dengan senyuman terindahku. Kemudian, kami bersalaman.

“Maaf, ya Mbak tempatnya panas. Mbak Jazil memecah bekuku.

“Mboten, Mbak. Sebaliknya. Adem banget di sini, ucapku jujur.

Halah Mbak Zahra ini, Mbak Jazil merendah.

“Saestu, Mbak Jazil. Adem sangat. Atmosfer yang berbeda, yakinku.

Mbak Laila juga suka lo Mbak tak ajak ke pondok, kisah Mbak Jazil. Mbak Laila adalah sahabat baruku dari jurusan PGMI.

Masa? Kok bisa, Mbak? Sering ya berjumpa dengan Mbak Laila? tanyaku kagum.

Kan kami sekelas, Mbak Zahra Mbak Jazil mengingatkanku.

Oh, iya. Lupa, Mbak kalau sampean jurusan PGMI, hehe. Mbak, kan sudah jam segini. Bagaimana semisal nanti kita sowan bada Jumatan? usulku.

Boleh-boleh. Sembari menunggu, kita membuat daftar pertanyaan sesuai dengan yang sudah dirumuskan kemarin, ya? respon Mbak Jazil.

“Nggih, Mbak. Siap, jawabku.

Jemari Mbak Jazil mengambil lembaran panduan penelitian. Aku mengeluarkan pena. Kami berdua terhanyut dalam merumuskan pertanyaan yang akan diajukan dalam penggalian data pada kiai nanti.

Beberapa menit kami habiskan untuk membuat daftar pertanyaan. Serampungnya, kami berbincang kembali.

Mbak, kan kita sowan. Apa tidak butuh membawa sesuatu begitu? tanyaku.

Aku mengingat-ingat ajaran dari ‘seseorang’ yang jika sowan, sebaiknya membawa sesuatu. Seperti yang dahulu sempat beliau pinta ketika teman-teman Wiyata Bhakti mau sowan dengan hajat pamit kepada Kiai Imam Ghozali, pengasuh pondok pesantren putri di Jabung, Kabupaten Blitar. Bukan untuk apa, hanya sebagai representasi rasa terima kasih kami sebab diperkenankan sowan serta diperbolehkan meraup ilmu dari sesosok kiai.

Iya, Mbak Zahra. Kemarin aku juga tanya Umi. Beliau membalas, Lha biasanya kalau sowan bagaimana? begitu, respon mbak Jazil.

Nah, berarti bawa, Mbak. Ayo kita belanja dahulu ya? tawarku.

Iya, Mbak. Bisa, jawab Mbak Jazil.

Kami berdua bersiap. Mbak Jazil merapikan jilbabnya yang tadi hanya disampirkan menutupi kepalanya. Aku memandanginya. Kemudian mataku menelisik ruangan sederhana yang rapi ini. Bibirku masih tersenyum sembari hidung hatiku menghirup suasana pesantren yang begitu tenang. Sangat tenang. Hawa di sini sungguh berbeda. Aku nyaman di sini. Ingin berlama-lama.

 

~~oOo~~

 

Matahari menyengat dengan sengatan yang mematikan. Panasnya mampu membakar insan-insan kerdil yang terus menapaki kehidupan. Cahayanya mampu membuat pupil mata mengecil, menjaring dan menangkap intensitas cahaya secukupnya agar tidak berlebihan masuk pada retina mata.

Sayup-sayup, deru bising kendaraan berlalu-lalang di jalan Mayor Sujadi Timur ini. Tampak semuanya sibuk. Sering terlihat, beberapa mahasiswa berseliweran menuju ke pusat pendidikan sekitar sini, IAIN Tulungagung. Atau mungkin mereka pulang meninggalkan kampus sembari menaiki motor berderet-deret. Sebuah pemandangan yang menyeruak sepanjang Jalan Mayor Sujadi Timur.

Mbak Jazil dan aku sedang berada di emperan sebuah toko dekat kampus. Kami memang baru rampung belanja. Semakin kemari, rasanya aku tidak sabar menuju tempat pesantren nanti. Tapi jarum jam masih menunjuk pada angka 11.30 WIB. Waktu untuk salat Jumat masih lama. Kami harus menunggu. Memoriku tiba-tiba muncul di hadapan otakku. Demi memanfaatkan sisa waktu yang ada, alangkah baiknya jika Mbak Jazil kuajak melakukannya.

Mbak, boleh minta tolong? tanyaku kepada Mbak Jazil.

Apa Mbak Zahra? tanyanya.

Kan Zahra diminta Ibu belanja di Tulungagung. Untuk keperluan kenduri Mbah uti nanti. Beli souvenir. Boleh minta tolong Mbak untuk menemaniku membelinya? Ragu-ragu aku meminta tolong Mbak Jazil. Takut jika dia tidak berkenan.

Wah, iya tidak apa, Mbak Zahra. Di mana tempatnya, Mbak? tanyanya.

Di tengah kota, Mbak. Sambil jalan-jalan yuk, hehe, ajakku.

Iya, boleh Mbak Zahra. Ayo, responnya.

Alhamdulillah, batinku.

Kami segera meluncur dan menceburkan diri di jalan raya. Seperti yang sudah sedikit kusinggung tadi, Sahabat. Matahari sedang meningkahi bumi Tulungagung. Aku sudah mengenakan masker plus sarung tangan demi menghalau hujamannya. Roda-roda motor putih itu pun menggelinding, menuju ke pusat kota Tulungagung.

Lima belas menit, kami sudah tiba. Di tempat toko, aku segera membeli apa saja yang sudah ada dalam daftar belanja. Hanya sebentar di sana.

Di dalam toko itu, lamat-lamat terdengar azan bertalu-talu dari suaru-surau. Memanggil kaum Adam untuk bersegera menuju ke Masjid. Ini Jumat, Sahabat.

Mbak, kita ke mana sekarang? tanyaku setelah kembali dari kasir.

Ke Al-Munawar saja yuk Mbak. Tidak jauh, kan dari sini? tawar Mbak Jazil.

Tidak jauh, Mbak. Iya Zahra setuju. Nanti mampir ke Alon-alon terlebih dahulu nggih sembari menunggu orang-orang selesai salat? tanyaku.

Iya, bisa Mbak Zahra, responnya.

Tidak menanti ba-bi-bu-be-bo, kami segera menghambur lagi ke jalan raya, menuju jantung Kota Tulungagung. Jalanan sedikit lengang karena sebagian besar kaum Muslim berada di dalam masjid. Kami berdua merangkak-rangkak perlahan, meninggalkan jejak roda-roda motor yang terus tersapu suitan angin.

Tiba sudah kami di Alon-alon Tulungagung. Ada banyak memori yang bermunculan dari tempat ini. Kenangan itu terbang melayang-layang, menggentayangi diriku. Segera, aku membidik mereka satu per satu, agar berlari tunggang langgang. Aku tidak ingin mengingat-ingat perkara yang memang ingin kukubur dalam-dalam.

Motor ini kami arahkan menuju tempat parkir bagian timur. Kami terusir dari tempat parkir bagian barat yang telah penuh sesak dengan kendaraan-kendaraan milik kaum Adam. Akhirnya kami mengalah dan memilih tempat parkir bagian timur.

Kaki kami mengayun bersama, memasuki area Alon-alon Tulungagung. Mataku kutajamkan, menelisik isi jantung Kota Tulungagung ini. Ramai juga, meski siang dengan pongah memanggang, membengkakkan mata, melepuhkan kulit. Kursi-kursi taman yang teduh kebanyakan sudah penuh. Kemudian mata kami menatap sebuah bangku yang teduh. Mbak Jazil dan aku memilihnya. Sebuah kursi taman yang di depannya membentang latar luas untuk bermain skateboard ataupun skuter.

Sepoi membisik. Angin-angin siang menumpahkan panas dengan kesejukannya. Kami berdua mulai berbincang. Berkisah. Berpetualang melalui sandi-sandi berupa huruf, yang tergabung menjadi kata, yang terbingkis menjadi frasa, juga kalimat. Mbak Jazil mengisahkan pengalamannya yang membuatku melongo ternganga. Aku bukan siapapun dibanding saudari baruku ini.

Tidak pernah kuduga, Sahabat, bahwa keluar bersama Mbak Jazil siang ini akan menorehkan ilmu baru dalam benakku. Onak liku kehidupan yang tergambar, berbagai rasa getir manis yang disuguhkan oleh kehidupan, mampu menginspirasiku, membentak jantung hatiku yang selama ini banyak waktu terkikis dengan tindakan yang tidak produktif. Duh, bagaimana misal nanti aku ditanya oleh-Nya pada persidangan agung yang digelar? Untuk apa waktuku kugunakan?

Aku kagum dengan hikmah yang terkandung pada setiap butir kisah yang dihamburkan Mbak Jazil. Tak apa, ya Sahabat. Aku memang mudah merasa kagum. Jika ada orang berilmu dan membalut dirinya dengan akhlak yang mulia, aku ingin mengikutinya dan mengosongkan cawan ilmuku, demi meneguk ilmunya.

Siang ini, di Alon-alon Kota Tulungagung, Mbak Jazil dan aku saling meramu kisah. Aku mendapati banyak pengajaran dari kisah hidup Mbak Jazil yang bagiku heroik. Mbak Jazil memang mungil—peace. Namun keberaniaannya luar biasa besar. Aku mengerdil dan meleleh.

Salah satu kisah yang disuguhkan adalah ketika Dr. Zulfa—dosen FUAD IAIN Tulungagung—memberikan petuah sesekali bolehlah melanggar aturan. Dahiku kukernyitkan. Aku kurang paham—meski sebenarnya aku adalah salah satu problem maker yang mengajak orang-orang to break the rule. Misalnya dahulu waktu diminta pakai seragam kelas waktu S1, aku tidak pernah mau. Bagiku, kita kan sudah diberi kebebasan berkreasi, mengapa harus mengikat diri dengan seragam kelas?—Mbak Jazil menjelaskan bahwa dia pernah ditakzir ketika ketahuan memanjat pagar karena terlambat pulang di Mahad oleh ukhti-ukhti di sana. Dia kena hukum. Padahal sebenarnya Mbak Jazil memang ada agenda yang berada dalam tampuk pertanggungjawabannya.

Meski kena takzir, hakikatnya hal itu justru memberikan pengajaran yang sejati. Sungguh, pada bagian ini aku diam dan menyimak dengan hati terbungkam oleh lautan mawar yang merona. Hikmah yang didapatkan adalah jika kelak, ia memiliki kesempatan untuk menjadi seseorang yang memiliki otoritas, akan memiliki pertimbangan yang masak sebelum mentakzir orang. Tidak sembarangan menghakimi. Sebab kebenaran adakalanya manipulatif, adakala memang benar-benar benar, adakala hasil bongkar pasang fakta-fakta semu. Aku telak, Kawan. Sungguh. Rasa takjub hinggap dan menempel di dalam hatiku. Diam-diam aku ingin mengenal Dr. Zulfa. Karena memang aku belum mengenal beliau. Dahulu hanya sempat mengikuti kajian beliau ketika mengisi materi dengan pokok bahasan muthalaah gender di acara Workshop PSP. Dan aku tertenung oleh kepiawaian beliau dalam kapasitas khazanah keilmuan.

Kusimpulkan, Sahabat. Bahwa roda kehidupan itu terus berputar menggelinding. Ada masanya memang ketika Allah memuliakan kita. Pun pula ada suatu masa, ketika Allah menghinakan kita. Bukankah semata-mata Allah ingin mendidik kita agar menjadi insan yang lebih baik terus lebih baik? Masyaallah. Segala puja dan pujian terindah hanyalah bagi Allah.

Detik berlomba maraton, hingga mampu mengantar jarum jam pada pukul 12.30 WIB. Kaum Adam yang ada di Masjid Al-Munawar Tulungagung menghambur keluar. Wajah-wajah mereka terlihat bercahaya lantaran siraman wudu yang sudah menyegarkan badan pun ruh mereka. Kami segera masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat Dhuhur berjamaah—antara Mbak Jazil dan aku. Segera, suasana tenang dan sejuk membekukku ketika kaki-kakiku menapaki salah satu rumah Allah ini. Aku terhanyut dalam munajat pada tiap rakaat. Titik-titik salju menyebar di dalam dahan pohon imanku. Dingin. Suasana dingin membalut hatiku yang sering terpanggang oleh sengatan bara keduniawian.

 

~~oOo~~

 

Anak angin terbahak-bahak mengempas tubuhku. Jaket yang kupakai berkibar-kibar, dimainkan oleh mereka. Sahabat, kami sedang berada di jalan, bereksplorasi mencari di manakah sejatinya Pondok Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol Tulungagung berada.

Mbak, nanti kita masih mencari dan bertanya ya. Jazil terakhir ke sana kalau tidak salah saat Jazil masih semester dua atau tiga, ucap Mbak Jazil dari bangku belakang.

Wah, iya Mbak tidak apa-apa lo. Sudah lama memang. Siap berpetualang, hihi, ucapku padanya sembari tangan terus menyetir motor.

Kami berdua segera mengarungi lika-liku jalan raya ini. Anak angin masih bermain-main. Sesekali mereka menabrakku dan membuat jilbabku berkibar-kibar diulahi mereka.

Dua puluh menit bagian hidup kami—waktu— sudah terlewat. Sepertinya kami sudah tiba di daerah Sumbergempol selatan. Mbak Jazil lupa ke mana arah pasti pesantren itu. Kami sepakat untuk bertanya kepada warga sekitar.

Rem kutarik perlahan. Kami berhenti di depan sebuah toko. Mbak Jazil turun dan bertanya kepada pemilik toko. Rupa-rupanya dia tidak tahu di mana tempat pondok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berkulit hitam terpanggang, berperawakan tinggi besar lewat. Mukanya garang. Aku sedikit takut. Mbak Jazil berlari-lari menemui dan bertanya kepada lelaki itu.

Di sana, Mbak. Kau tahu pertigaan itu? Belok saja langsung ke kiri. Nanti ketemu pondok itu berada di selatan jalan, ucap Bapak itu. Aku lega. Meski terlihat garang, ternyata Bapak itu berjiwa Hello Kitty, unyu-unyu, aih. Terima kasih, Bapak. Kami tidak tersesat.

Kami segera mencebur lagi ke dalam arus keramaian jalan. Sesuai instuksi Bapaknya, kami belok kiri ketika menemui pertigaan dan mulai mencari-cari tulisan Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng.

Kulanjutkan candaku dengan anak angin. Mereka bersuit-suit bekejar-kejaran dan sesekali mengenaiku. Semakin kemari, karena barangkali semakin mendekati daerah pegunungan ya, anak angin semakin ramai dan banyak. Aku tidak merasai peluh keluar keningku karena mereka menghapus rasa panas dengan kesejukan yang bahkan mengarah pada rasa dingin.

Tiba di sebuah sekolah yang ada gang di sampingnya, kami berhenti dan memastikan bahwa tulisan yang ada di papan adalah tulisan Pondok Pesantren Al-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung. Mbak Jazil dan aku mematung dalam beberapa detik dan akhirnya sadar bahwa kita sudah tiba pada tujuan kami.

Alhamdulillah. Yee.

Motor kami segera melompat masuk ke dalam gang. Di dalam gang, hatiku was-was. Aku memasuki kawasan pesantren, Bro. Berdetak-detak dengan irama yang lebih cepat jantungku itu.

Tiba di sana, kami kebingungan memarkir motor. Karena ada tempat parkir luas plus atap dan di sampingnya ada mobil serta beberapa motor, otakku langsung menafsirkan bahwa tempat itu adalah tempat parkir. Finally, aku mengandangkan motorku di sana.

Detik-detik menegangkan dimulai. Mbak Jazil mulai menggiringku menuju ke ndalem. Aku cemas plus tidak sabar. Aku mengekor di belakang Mbak Jazil. Kaki-kaki kami mulai melangkah di tempat yang bernama pesantren ini. Di hadapan kami, ada seorang kang—santri putra—lewat. Dia memakai sarung, peci dan jaket.

Ini dia aikon pesantren, batinku.

Tiba-tiba dia membimbing kami menuju ke ndalem. Langkahnya menunduk-nunduk, sopan sekali.

Padahal kan kami tidak meminta.

Kini, kami ganti mengekor kang tersebut. Setelah melalui gang kecil, kang tersebut memanggil seorang ibu seraya menunduk-nunduk. Aku masih biasa saja. Kupikir beliau bukan bu nyai karena dandannya tidak seperti ibu nyai yang ada di tempat Mbak Jazil tadi. Namun aku tidak boleh menilik dari cover saja. Siapa tahu memang beliaulah bu nyai pondok ini.

Mbak Jazil dan aku saling bersalaman satu-satu kepada ibu itu. Kucium tangan beliau. Seusai menjabat tangan, beliau menanyakan siapa kami dan apa kepentingan kami dengan nada yang tegas. Mungkin karakter beliau memang tegas.

Pak Kiai ada di ndalem selatan, Mbak. Itu coba sampean lihat ada gang, saman lurus, terus belok saja ke kiri ya, arah beliau setelah Mbak Jazil menjelaskan siapa dan apa maksud kami ke sini. Kami—Mbak Jazil dan aku—mengangguk-angguk, kemudian berpamitan.

Mbak Jazil tampak mundur-mundur ketika menjauh dari beliau. Aku bingung melihat cara Mbak Jazil berjalan. Apa memang seperti itu adab terhadap bu nyai, Kawan? Ah, aku benar-benar belum tahu.

Mbak, itu Bu Nyai, ya? bisikku pelan setelah jauh dari beliau.

“Nggih, Mbak. Beliau Bu Nyai, jawab Mbak Jazil.

Lah, itu bukan ndalem, to? tanyaku.

Itu ndalem, Mbak Za. Tapi ada ndalem kedua juga. Kita sedang ke sana ini, jawab Mbak Jazil.

Aku mengangguk-angguk mafhum. Memang kakak Mbak Jazil pernah menjadi santri dan ustaz di pesantren ini. Pernah juga Mbak Jazil kemari. Sebab itu, Mbak Jazil sudah mengetahui tempat ini. Alhamdulillah, semoga urusan penelitian kami menjadi lebih mudah. Aku patuh pada instruksi yang diberikan Mbak Jazil. Sebab apalah aku, Kawan. Kata Mbak Dian Ndaru Purwanti—rekan sekelasku di bangku kuliah—bisa dianalogikan ibarat remah rengginang yang tersisa dan terjepit di pojok kaleng Khong Huan. Mungkin seperti itulah diriku ini.

Kami terus menyusuri jalan setapak. Rumput-rumput di kanan kiri jalan setapak ini melambai-lambai. Mereka mengucapkan selamat datang padaku.

“Selamat datang di pesantren, Zahra. Begini lo keadaan pesantren itu. Aku rumput santri. Hampir setiap hari mendengar para santri mengaji dan mendaras Alquran ataupun kitab-kitab para ulama terdahulu. Bukan hanya mendengar. Aku juga ikut mengaji seraya mengagung-agungkan Allah Sang Pencipta semesta raya.

Salah satu dari mereka mengiming-imingiku demikian. Ah, aku iri pada si rumput. Mereka bisa hidup di lingkungan pesantren. Sedangkan aku? Astaghfirullah. Segera kusibak tirai iriku, kubuang seketika. Di mana rasa syukurku? Kutanggapi para rumput santri tersebut.

“Terima kasih, ya rumput. Tidak apa jika sekarang dan dahulu aku belum mencicip pesantren. Siapa tahu, ah siapa tahu, nanti sisa hidupku kuhabiskan di lingkungan pesantren dengan seluruh gemuruh jiwa yang membuat hati melompat-lompat karena ketenangan ruh yang didapat. Doanya, ya wahai rumput santri. Semoga aku bisa mengambil ibrah hikmah yang terkandung dalam tiap rajutan takdir-Nya. Sebab sejatinya, ketetapan-Nya adalah yang terbaik dan terindah untuk semua hamba, termasuk orang fakir sepertiku.”

“Iya, Zahra. Semoga Allah melimpahimu dengan keberkahan. Semoga impian-impianmu makbul. Jangan lupa, terus meminta dan meminta pada Allah. Sebab Allah sangat suka ketika hamba-hamba-Nya meminta. Allah sangat suka jika hamba-Nya mengingat-Nya, dekat dan terus bersimpuh pada-Nya. Langitkan doamu, Zahra! Sampai jumpa di surga!”

Gerimis menitik-nitik di dalam kalbuku.

Duhai para rumput. Betapa kalian jauh lebih baik daripada aku! Aku insan yang sering lupa pada Rabbku. Padahal Allah tidak pernah lupa, sekalipun, Allah tidak pernah melupakanku meski urusan-Nya jauh lebih sibuk, mengatur seluruh semesta raya. Betapa aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya Rabbku. Meski begitu, Rabbku senantiasa mengingatiku. Betapa aku malu, wahai para rumput. Dengan kesibukan kecil saja, aku sering melupakan-Nya. Tidak pula seperti kalian yang terus bertasbih, memuji keagungan Allah. Terima kasih, para rumput santri atas pesan-pesannya. Sampai jumpa. Kita janjian di surga, ya. Aku harus sowan, karena sudah tiba di ndalem Abah.

Kami berpisah. Mereka terhuyung-huyung dibelai oleh bayi angin. Gemuruh bergemelutuk di dalam relung hatiku. Kutundukkan pandanganku.

Sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit, menghadang kami. Segera, Mbak Jazil dan aku memanggil-manggil dari tempat tanah yang terpaut cukup jauh dari pintu. Kami tidak menaiki teras rumah. Aku sempat berpikir, apakah mungkin akan terdengar suara kami? Apa ini salah satu adab dalam sowan? Aku diam dan terus mengikuti Mbak Jazil.

Assalamualaikum, teriak Mbak Jazil.

Assalamualaikum, ucapnya lagi.

Aku tidak yakin bahwa orang di dalam rumah bisa mendengar suaranya. Namun, tiba-tiba ada kang lagi muncul dari teras samping. Kami menoleh.

“Mbak, lewat mriki, ajaknya sembari jempol tangannya menunjuk ke arah samping. Kami mengikutinya.

Di teras samping rumah, sekelebat tampak beberapa santri putra tidur di lantai. Aku mendunduk, tak berani mendongak.

Kaki kami terus melewati mereka, hingga kami tiba di rumah bagian belakang. Terlihat dari luar, seorang ibu muda sedang rebahan di lantai berkarpet. Kang santri tadi memanggil beliau sembari menunduk-nunduk. Ada anak kecil pula yang menonton TV di ruang itu. Ibu muda dengan jilbab tersampir itu kemudian bangun. Rupa-rupanya beliau merupakan ibu nyai pondok ini juga.

Assalamualaikum, salam Mbak Jazil.

Waalikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Mbak. Ada yang bisa dibantu? tanya beliau.

“Bade sowan, niki Ibu, jawab Mbak Jazil sopan sekali.

Oalah, nggih silakan masuk, ayo-ayo, jawab ibu tersebut.

Kami berdua duduk di kursi yang tersedia. Meja di depan kursi tersebut tampak sedikit berantakan. Sepertinya baru saja ada tamu yang sowan tadi. Tidak lama kemudian, seorang kang santri yang lain datang membawa nampan dan dengan menunduk-nunduk membereskan meja tersebut. Selang tak lama, kang santri itu kembali membawa dua cangkir teh hangat untuk kami. Entah kang santri itu orang yang sama atau bukan, aku tak tahu pasti. Sebab aku tidak berani mendongakkan kepalaku.

Ibu nyai tersebut mengajak kami berbincang. Kami berkenalan terlebih dahulu. Ketika berkenalan, memoriku mendapatkan informasi bahwasanya beliau asli Blitar juga. Namun dari daerah Sumber, Sanan Kulon, Kabupaten Blitar. Dahulu beliau adalah ning di sana. Sekarang beliau sudah menjadi ibu nyai di Pondok Pesantren Al-Falah Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung.

Lama kami berbincang. Kemudian, datanglah seseorang lelaki sepuh. Beliau adalah kiai pengasuh pesantren ini, Kiai Arsyad. Beliau menyambut kami dengan penuh suka cita. Rupa-rupanya, beliau itu sangat mengenal Abah Mbak Jazil. Beliau berdua saling mengenal ketika dahulu sama-sama nyantri di Pondok Ploso, Kediri. Ditambah kakak Mbak Jazil pernah nyantri dan mengajar juga di pondok Al-Falah ini. Suasana menjadi cair dan mengalir.

Kami berbincang banyak sekali. Sesekali, kami mendapati hasil dari pertanyaan yang kami usung. Sesekali, perekam suara dari ponselku juga kunyalakan, demi mendapatkan data seputar penelitian. Ketika detik terus berlari, ibu nyai mafhum bahwasanya kami membutuhkan data dari pengurus yang lebih detil dan lengkap. Tak lama, ibu nyai pun berkata-kata, memanggil salah satu pengurus pondok.

Minta tolong panggilkan Luqman, ya, ucap beliau kepada salah satu kang santri.

“Nggih, Ibu, jawab si santri takzim.

Aku masih diam sembari menarik kedua ujung bibir ke atas. Sesekali ikut menimpali. Namun lebih banyak waktu kuhabiskan dalam diam, mendengarkan apa-apa yang disampaikan oleh beliau berdua.

Selang tak lama, seorang pengurus pondok yang bernama Kang Luqman tadi hadir. Beliau duduk di mulut pintu. Bersimpuh di sana. Segera, kami diminta untuk mengikuti beliau mencari data di kantor. Kami berpamitan. Kucium tangan ibu nyai. Kutelungkupkan tangan ketika akan bersalaman bersama pak kiai.

Ketika keluar, aku melihat perihal aneh yang belum pernah kulakukan selama ini. Mbak Jazil berjalan mundur, tidak membelakangi pak kiai dan ibu nyai tersebut. Aku bingung memandanginya. Kuikuti saja, tak banyak tanya. Di luar pintu, sandalku yang sudah terjajar rapi sudah menyambutku. Aih. Alangkah teduhnya tempat bernama pesantren ini. Betapa senangnya berkesempatan ditempa di tempat ini. Jiwaku melayang-layang.

Loh, Mbak kang-nya mana ya? tanyaku pada Mbak Jazil setelah tidak mendapati siapapun di halaman belakang.

Entah, to Mbak Zahra. Tadi pakai baju kotak-kotak setahu Jazil. Di mana ya? jawab Mbak Jazil.

Kami berdua celingukan. Bingung. Macam orang hilang. Akhirnya kaki-kaki kami melangkah menyusuri sekitar pondok. Ada beberapa bangunan yang menyapa kami. Pasti itu tempat para kang santri tinggal. Di balik itu, bisa kita temui berjajar-jajar kolam ikan. Lurus ke utara, ada pekarangan kosong yang ditinggali pepohonan teduh. Matahari bersembunyi di celah-celah daunnya yang menelisik, melambai-lambai. Tiba ke utaranya, langsung menyambut sebuah jalan setapak berkelok-kelok. Berjajar langsung di kiri kanannya rumah-rumah warga.

Ini rumah warga, to Mbak? tanyaku.

“Nggih, Mbak Zahra. Kata Mas dahulu poin plusnya pondok ini langsung menyatu kepada warga. Tidak ada sekat yang menghalangi antara pondok dan rumah warga. Oleh karena itu, masyarakatnya sangat welcome kepada pendirian pondok pesantren ini, papar Mbak Jazil.

Aku manggut-manggut mafhum. Kaki-kaki kami terus menjangkah menuju ke penghujung jalan setapak. Ternyata jalan ini berpapasan langsung kepada masjid pondok. Di utaranya, duduk manis sebuah ndalem dari ibu nyai pertama tadi. Kami berdua berada pada bagian utara pondok.

Dari selatan, tampak beberapa kang santri sedang menjalankan aktivitas. Kami tampak kebingungan dan di atas kepala kami muncullah gelembung-gelembung tanya di mana tempat kantor. Beberapa santri putra pun memberikan arahan kepada kami. Ternyata, kantor pondok berada di sebelah timur agak ke selatan sedikit dari tempat motorku beristirahat.

Tiba di kantor, ada seorang pemuda menyambut kami. Barangkali beliau ini yang bernama Kang Luqman. Kang Luqman segera menunjukkan papan struktur organisasi kepada kami. Kami mengganggukkan kepala.

Engkau tahu, Kawan? Masih kenyang perutku lantaran di ndalem tadi telah diberikan secangkir teh manis. Tiba-tiba saja, ada kang lain yang masuk ke dalam ruangan, dan menghidangkan teh hangat lagi. Sempat aku terbelalak dan tersipu-sipu dengan Mbak Jazil. Jujur, aku bingung Kawan. Aku malu, sungkan, merepotkan pihak pondok. Tapi di sisi lain, aku bahagia. Sebab panas sedang memanggang bumi Tulungagung wilayah Trenceng ini. Jadi bisa ya menjadi penyejuk tenggorokan yang dilanda panas membara. Hehe.

Seusainya kang pengantar teh tadi datang, kami langsung memberondong Kang Luqman dengan pertanyaan yang belum terjawab. Dari beliau, kami mengais-ngais data demi kelengkapannya. Namun, Kang Luqman belum bisa memberikan data yang lengkap. Alhasil, beliau terpontang-panting lagi mencarikan kami sumber data yang benar-benar credible. Beliau bertandang dan meminta Gus Alwi—putra pertama Kiai Arsyad dengan Ibu Nyai Hj. Nur Hidayah—untuk berkenan menjadi narasumber kami. Aku terharu melihat kegigihan beliau membantu kami. Terima kasih, ya Kang.

Kembali, kali ini Mbak Jazil dan aku benar-benar mengekor di belakang Kang Luqman. Kami digiring menuju ke ndalem Gus Alwi. Rumah beliau sederhana, namun terasa nyes ketika masuk di dalamnya. Khas ndalem barangkali ya. Tempat duduk beliau lesehan, plus berkarpet. Bersih dan bersahaja. Aku menarik ujung bibirku ke atas kembali.

Sampai di sana, Gus Alwi menyambut kami ramah sekali. Beliau memperkenalkan diri dan meminta sedikit perkenalan dari kami. Ternyata banyak relasi Gus Alwi dari kalangan dosen IAIN Tulungagung. Beliau juga mengenal Abah Nafis. Suasana menjadi cair dan sejuk. Tak menanti lama, beliau mempersilakan kami untuk melontarkan pertanyaan. Segera, satu per satu pertanyaan kami berikan kepada beliau.

Dengan gaya yang berwibawa, Gus Alwi menjawab tanya kami dengan jawaban yang komplit. Bahkan sebelum kami bertanya, beberapa pertanyaan kami yang lain sudah terbingkis dalam jawaban beliau. Mbak Jazil dan aku diam, manggut-manggut takzim menjaring ilmu-ilmu yang beterbangan dari tutur lisan beliau. Dengan ponsel on menyalakan rekaman serta pena yang terus menari membuat catatan, kami mendapatkan data yang dibutuhkan. Sesekali kami bertanya, sesekali kami tertawa, sesekali kami diminta untuk meminum teh hangat yang dibuatkan tadi.

Aku sudah tidak bisa mendefinisikan rupa hatiku, Kawan. Ilmu yang beliau berikan luar biasa. Suatu ketika, ada sebuah tanya yang mampu menenggalamkanku dalam samudra kekerdilan tak bertepi.

Mbak sudah punya calon? tanya Gus Alwi pada Mbak Jazil.

Dereng, Gus, jawab Mbak Jazil plus menggelengkan kepala sembari menunduk.

Kalau sampean? tanya beliau.

Dereng, Gus, jawabku sembari menunduk dan tersipu-sipu. Masalah ini adalah masalah super krusial, Sahabat.

Aku punya dua jago, Mbak. Satunya adalah putra mahkota di salah satu Pondok di Trenggalek. Pak Nafis mesti kenal sama beliau. Yang satunya di Jakarta. Beliau membina hampir sebelas pesantren. Bagaimana? ucap beliau.

Tiba-tiba, hatiku mendidih, meletup-letup suaranya. Bergolak-golak ia karena ucapan Gus Alwi laksana api yang merebus sekeping hati ini. Masyaallah. Dua pangeran itu ditawarkan kepada kami. Mbak Jazil sih orang hebat. La aku? Siapa aku? Insan kerdil bukan siapa-siapa. Nasabku bukan dari keturunan darah biru pun keturunan pengasuh pesantren. Aku hanya orang pinggiran. Aku tak berani menjawab apa yang Gus Alwi katakan selain dengan sebuah senyuman yang tersembul di bibir, juga rona-rona merah di pipi. Melihat kami anteng dan tersipu-sipu, Gus Alwi mafhum.

Ya, siapa tahu kan jodoh ya Mbak, ucap beliau.

Hehe, hanya itu yang keluar dari lisanku. Semua kata tiba-tiba macet mengantre di tenggorokan, tak mau keluar.

Gus Alwi memahami gemelutuk hati dua gadis di hadapan beliau itu. Kemudian beliau melanjutkan percakapan kami. Beliau memberikan kami ijazah seputar thalabul ilmi, menilik kami adalah mahasiswa yang berkiprah dalam hal menuntut ilmu. Selang tak lama, Gus Alwi mempersilakan kami untuk salat Ashar di pondok putri. Kami menurut. Pondok putri bertempat di sebelah ndalem ibu nyai pertama tadi. Di sana, para santri menyambut kami dengan ramahnya. Aku tersenyum-senyum melihat penampilan dan akhlak para santriwati itu.

Seusai salat, kami bersalaman dan berpamitan kepada para santri putri. Kemudian, Kang Luqman meminta kami untuk sowan di ndalem pertama. Ternyata ibu nyai menghidangkan santapan sore untuk kami berdua. Mbak Jazil dan aku saling pandang. Sebuah rezeki. Semoga mendapatkan keberkahan dalam tiap suap nasi yang akan mengisi perut kami nanti.

Matahari semakin tenggelam. Tampak bulan sabit menggantung di hamparan biru dan jingga di angkasa raya. Kami berpamitan kepada seluruh pihak pesantren yang luar biasa dalam membantu penelitian kami. Terima kasih tak terhingga kepada Kiai Arsyad, Ibu Nyai Hj. Nur Hidayah, Ibu Nyai Lailia Hikmatin, Gus Alwi Ihsan, Kang Luqman dan seluruh pihak yang telah memudahkan penelitian kami hari ini. Sungguh, lembar kehidupanku hari ini dipenuhi dengan warna-warni baru yang tak terkata indahnya.

Bersama anak angin yang membuai-buai, kami berdua melangkah meninggalkan Pondok Pesantren AL-Falah, Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung ini. Berat rasanya kakiku meninggalkan tempat ini. Rasanya, hatiku sudah tertambat di sana. Semoga, lain kesempatan kami bisa menyambung silaturahmi bersama para orang-orang keren tersebut. Terima kasih, Abah Nafis meminta kami, santri PSP untuk engage kepada para orang hebat tersebut. Alhamdulillah, segala puji untuk-Mu duhai Allah, Tuhan semesta yang mengizinkan insan kerdil ini untuk terus berproses dan meraup ilmu dengan cara yang indah. Alhamdulillah.

Dalam dekapan senja,

Kurasai kembali setitik luapan rindu yang tersalurkan

Dalam riang tawa sang alam,

Kupeluk kembali auman hasrat hati yang tersampaikan

Padamu, rindu

Terima kasih sudah menjalari hatiku


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>