Home » Uncategorized » Sekilas tentang Kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim

Sekilas tentang Kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim

Tahukah Anda kitab Adab al-’Alim wa al-Muta’allim?

Dua hari ini, pusat studi pesantren dan manajemen dakwah bekerjasama dengan center of fiqh nusantara Fasih menyelenggarakan romadhon fil jamiah. Ini kali kedua dilaksanakan dengan skema interdisipliner karena dikaji oleh beberapa dosen dengan berbagai latarbelakang keilmuan. Sehingga kitabnya pun berbeda-beda funun nya. Memang belum banyak respon khususnya dari kalangan mahasiswa terlihat belum banyak yang mengikutinya. Tak ada kata menyerah dan jenuh bagi kami untuk terus meneruskan perjuangan ini, sehingga ngaji pun tetap dilanjutkan seberapapun yang mengikutinya.

Pada kesempatan kali ini, saya mengkaji kitab adabul ‘alim wal muta’allim karya ulama besar pendiri jamiyyah nahdhatul ulama (NU). Setelah saya mengkajinya paragraf per paragraf sampai kira2 tiga halaman, maka saya tertekun keheranan setelah mencoba memahaminya secara mendalam. Saya bukan memahami isinya namun kaitannya dengan kaidah literasi atau dunia tulis menulis sebagaimana karya ilmiah mahasiswa seperti skripsi, tesis, disertasi ataupun artikel jurnal. Betapa tidak, sosok yang tidak mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi, namun karyanya tersebut menurut pengamatan terbatas saya sangatlah memegangi kaidah tulis menulis.

Bisa diamati pada tiga lembar pertama dalam kitab tersebut, Mbah Hasyim memulai dengan merujuk banyak view dari berbagai sahabat dan ulama. Pada proses ini, dapatlah saya katakan bahwa referensi mbah Hasyim sangat lengkap terkait sebuah tema tertentu yakni persoalan etika atau adab. Dari mulai riwayat Aisyah sampai imam syafi’i dan banyak ulama lainnya disebutkan. Dalam istilah mahasiswa ini adalah footnote ataupun daftar pustaka. Sebuah tulisan yang baik tentu harus diperkuat dengan literatur review dan itu dipenuhi oleh beliau dalam karya tersebut.

Tidak berhenti di situ kekaguman saya, setelah selesai dengan memaparkan literatur review pandangan banyak tokoh, mbah Hasyim mulai memaparkan pandangannya guna menjelaskan relevansi kitab ini. Berbagai fenomena di masyarakat dipaparkan dengan apik dan jelas. Penjelasan mengenai kondisi masyarakat yang sangat membutuhkan etika dalam kehidupan pun juga muta’allim atau santri dan muta’allim atau guru. Hidup ini tak akan lepas dari etika, baik sisi amaliyah, badaniyah, maupun qouliyah. Semua tak ada artinya jika tak dibarengi dengan etika atau moral. Akhirnya, singkatnya Mbah Hasyim menghantarkan pembaca pada argumennya yang kuat, yang menjelaskan urgensi dan relevansi kitab ini dengan konteks masyarakat saat itu bahkan sampai sekarang. Manusia sangatlah membutuhkan etika dalam hidupnya, terlebih siswa dalam belajarnya dan guru dalam prosws belajar mengajarnya. Argumen sangatlah penting posisinya dalam sebuah karya ilmiah sebagai wujud view dari penulis sehingga tulisannya tidak hanya kutipan dari berbagai pandangan orang lain. Di sinilah akhirnya dikaranglah kitab “adab al’alim wa al muta’allim “.

Ini Cuma beberapa halaman depan dari kitab tersebut namun sudah membuktikan bahwa Mbah Hasyim bukanlah sekedar ulama namun juga pejuang literasi yang terus dijadikan rujukan ulama saat itu bahkan sampai saat ini.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>