Ekofeminisme dalam Tafsir Faid al-Rahman Kyai Sholeh Darat As-Samarani : Gagasan Berkeadilan Sosial dalam Bermasyarakat

saleh daratOleh: Ahmad Tisngi Hanani

Interaksi seseorang dalam memahami kitab suci tidak hanya terbatas pada tekstual ayat semata, lebih dari itu seseorang membawa aspek-aspek di luar al-Qur’an sebagai media menemukan makna al-Qur’an. Hal demikian tidak lain hanyalah usaha untuk membumikan al-Qur’an salih li kulli zaman wa makan yang diekspresikan sesuai cara tersendiri oleh seorang mufasir. Kemunculan problematika kehidupan semakin luas seiring berkembangnya pola interaksi sosial yang terjadi dan melebur dalam masyarakat.

Ekofeminisme bukanlah hal yang baru dan terasa tidak asing terdengar di telinga para akademisi. Ada hal yang menarik dari ekofeminisme bahwa aliran ini membawa nafas baru membuat desain dan konsep yang memandang manusia perlu menjalin hubungan dengan makhluk hidup lain. Selain itu, paham ini terbagi menjadi tiga yaitu: ekofeminisme alam, ekofeminisme spiritualis, dan ekofeminisme sosialis. Ekofeminisme alam berpandangan perempuan dan alam mempunyai kesetaraan sama halnya dengan laki-laki dan kebudayaan.

Paham ini melawan laki-laki dipandang sebagai superioritas dan menolak adanya inferioritas kaum perempuan. Ekofeminisme spiritualis dengan membawa paham antroposentris berbicara mengenai kerusakan alam akibat ulah manusia yang berjiwa patriar berbuat semena-mena, begitu juga sikap laki-laki yang membawa perempuan pada kerugian, kekurangan, bahkan kepunahan.

Ekofeminisme ini juga memandang perempuan mempunyai peran biologis sebagaimana alam yang menumbuhkan berbagai macam tumbuhan bagi kelangsungan kehidupan. Sedangkan ekofeminisme sosialis mencoba untuk menghilangkan degradasi sosial dan sekat-sekat yang menghalangi hubungan sosial perempuan dan alam dengan laki-laki dan kebudayaan (Wiyatmi, dkk, 2017:11-13).

Sholeh Darat menyinggung ekofeminisme dalam kitab tafsirnya yang berjudul Fayd al-Rahman, sebagaimana yang tercantum pada penafsirannya ketika memandang ayat-ayat kauniyah. Sesuai kategorisasi ekofeminisme di atas, ada beberapa ayat yang disinyalir memiliki nilai-nilai ekofeminisme yaitu:

1. Ekofeminisme alam

Macam ekofeminisme ini dapat kita temukan dalam QS. al-Baqarah (2):22 sebagai berikut:
Lan malih aweh isyarat iki ayat marang kedadeyane menungsa kabeh meka nyerupaaken Allah ing badane menungsa den serupaaken kelawan bumi, lan ruh al-Insan den serupaaken langit ing dalem luhure lan mulyanelan sucine, lan ngakale menungsa den serupaaken kelawan banyu kang tumurun saking langit, lan utawi pira-pira ngamale menungsa ngamal sholeh dhohir utawa batin iku den serupaaken kelawan woh-wohan kang metu saking kayu-kayune bumi” (al-Samarani, Jilid 1, 1903:67)

Penjelasan Sholeh Darat di atas berkesesuain dengan macam ekofeminisme yang memandang laki-laki dan perempuan sama dan setara. Jika dilihat dari awal penciptaannya mereka berasal dari sumber yang sama yaitu tercipta dari mani. Hal yang membedakan mereka adalah buah dari perilaku yang dalam bahasa Sholeh Darat diistilahkan dengan “woh-wohan kang metu saking kayu-kayune bumi” Sebab ia memandang setiap manusia semua adalah sama seperti bumi yang memiliki komponen sama hanya saja tekstur dan macam tanah yang ada di bumi yang mempengaruhi hasil tumbuhan.

2. Ekofeminisme spiritualis

Ketika Sholeh Darat menafsirkan QS. al-Baqarah (2):21 mengenai perintah beribadah kepada Tuhan yang telah menciptakan, dia memberi penjelasan berikut:
Wa’lam, setuhune Allah SWT iku wus prentah ing menungso kabeh kelawan ngibadah, lan ora sah ngibadah tegese nyembah anging arep weruh ingkang den sembah. Ora biso weruh barang ingkang den sembah anging kudu kelawan nadhor lan kudu ngalap dalil ingkang qat’i kang tetep. Arah mengkono, nurunaken Allah SWT limo dalil. Sewijine, qauluhu Ta’ala الَّذِي خَلَقَكُمْ, lan kapindone qauluhu وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ, lan kaping telu qauluhu جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا, lan kaping pate qauluhu وَالسَّمَاءَ بِنَاءً, lan kaping limo qauluhu وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً. Mengko ono wujude langit lan bumi kabeh kang limo iku dadi ngeyakinaken kang wujude Allah SWT kelawan yakin mantep” (al-Samarani, Jilid 1, 1903:65)

Daya spiritualitas dalam ekofeminisme membawa seseorang dapat menempatkan posisinya sebagai hamba, ketika dia paham akan kedudukannya, maka dia akan menyadari dirinya untuk tidak buat semena-mena atas makhluk lain, tidak menindas, meyakiti, bahkan memusnahkannya. Spiritualitas di sini mempunyai kaitan dengan ketakwaan seseorang. Predikat takwa akan diperoleh sesudah menjalankan ibadah dan menjadikan manusia lebih dekat dengan Tuhannya. Untuk dapat memahami tersebut, Sholeh Darat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengerti kunci yang berjumlah lima, الَّذِي خَلَقَكُمْ, وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ, جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا, وَالسَّمَاءَ بِنَاءً, وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً.

Kemudian dia memperkuat penafsiran dengan memberikan penjelasan:
“Lan asrore setuhune wujude langit meniko zauj (suami), bumi meniko zaujah, lan barang kang metu saking bumi sebab wujude udan iku mengko wujude anak. Mengko kabeh watune bumi iku krono ono wujude menungso. Ono bumi marang menungso kabeh iku lewih welas lan lewih pinter tinimbang biyung marang anake, krono biyung marang anake namung nyusoni sa’werno sewiji lan iku powan. Anapun bumi oleh nyusoni menungso mengko kelawan pirang-pirang werno. Bumi nuruti nukulaken iku kabeh saking hirmane Pangeran iro marang siro lan saking welas kaieh Pangeran marang siro. Onoto wong kang den pulosoro bendorone koyo mengkono den paringi kelawan piro-piro peparing lan piro-piro nikmat dhohiron wa bathinan. Sawise mengkono, mengko nuli mrentah Pangeran marang menungso kabeh meko kok ra miturut prentahe bendorone lan mbangkang prentahe bendorone, onoto wong mengkono iku ora keno den arani insan ora keno ora balik koyo kewan lan kesasar dalane” (al-Samarani, Jilid 1, 1903:65).

Penafsiran Sholeh Darat di atas mengarah pada pemahaman mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, keduanya merupakan pasangan yang saling melengkapi. Menurut Sholeh Darat, laki-laki diibaratkan sebagai langit, perempuan sebagai bumi (tanah), dan hasil yang tumbuh dari bumi dinamakan dengan anak. Kita dapat pahami sebab adanya laki-laki dan perempuan akan melahirkan seorang anak. Dari penjelasan tersebut, kita dapat mengambil hikmahnya yaitu:

a. Perumpamaan langit merujuk pada laki-laki dan bumi mengarah pada perempuan, memberikan pendidikan dan pelajaran kepada kita untuk senantiasa menghormati kedua orang tua khususnya dan bagi setiap laki-laki pada umumnya.

b. Kualitas seorang anak dipengaruhi dari pendidikan, pembelajaran, penngawasan seorang ibu, anak tidak bisa terlepas dari ibunya. Begitu juga hasil tanaman terletak pada kualitas bibit dan bumi (tanah yang menjadi tempat bercocok tanam). Hal ini senada dengan pernyataan yang mengatakan bahwa ibu atau perempuan merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya.

c. Melahirkan pemahaman pada perlunya kesesuaian, adanya koneksi dan saling menyadari akan kedudukan sebagai manusia, dan memenuhi posisi sebagaimana pasangan yang saling melengkapi dengan yang lain.

Sholeh Darat menambahkan, jika seseorang tidak menyadari akan isi dari perintah Allah di atas, bisa dikatakan orang tersebut bukanlah seorang manusia melainkan seperti hewan dan dia telah tersesat pada jalan yang salah.

3. Ekofeminisme sosialis

Mengenai macam dari ekofeminisme ini, pemikiran Sholeh Darat tertuang dalam QS. al-Baqarah (2): 11 yang berbunyi:
Setuhune pengucape mu’minin la tufsidu fi al-Ard artine aja pada gawe sira kabeh kelawan rusake bumi badan ira kelawan ngelakoni ma’siyat lan isyrak (musyrik), lan ngadawah (permusuhan). Marang mu’minin krana rusake badan jasmaniyah ira iku sebab ma’siyat, semangsa rusak jasmaniyah ira meka rusak ruhaniyah ira, meka dadi mati ruh sebab miturut hawa nepsu nira” (al-Samarani, Jilid 1, 1903:45).

Penjelasan Sholeh Darat mengindikasikan pada hubungan sosial, dia mengatakan untuk tidak merusak bumi. Jika seseorang merusak bumi, sesungguhnya dia merusak tatanan sosial baik sosial terhadap sesama manusia maupun makhluk yang lain. Perusakan terhadap bumi memberikan efek yang lebih hebat sebab berakibat pada habitat, ekosistem, dan tatanan kehidupan di bumi. Sedangkan pada tataran sosial lain, Sholeh Darat memberi peringatan untuk tidak merusak sosial dengan melakukan maksiat, berbuat syirik, dan membuat permusuhan dengan yang lain.

Sholeh Darat menyatakan bahwa jika seorang melakukan maksiat, maka orang tersebut secara tidak langsung dia merusak jasmaniahnya, ketika jasmaniah rusak maka ruhnya rusak pula. Pernyataan ini masuk akal, kita dapat melihat fenomena ini misal ketika seseorang yang berkeingnan untuk mencapai tujuannya (minum-minuman keras, judi, dan sebagainya) apapun akan dia kerjakan untuk bisa mendaptkan uang sebagai alat untuk membeli miras dengan pemerasan kepada orang lain, merampok, korupsi, merusak alam dengan menebang pohon-pohon kemudian menjualnya, dan lain-lain.

Demikian penjelasan sedikit dari penulis mengenai ekofeminisme dalam pandangan Sholeh Darat yang tercantum dalam tafsirnya Fayd al-Rahman.

 

 Post details 

 Leave a comment 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


 © 2019 - Pusat Studi Al-Qur'an dan Hadis