Prinsip Moral dalam Tafsir Faid al-Rahman Kyai Sholeh Darat As-Samarani : Meneguhkan Sinergitas Harmonisasi Masyarakat Oleh: Ahmad Tisngi Hanani

Untitled-1

Kehidupan manusia sangat komplek, terkadang seseorang menjadi sorotan masyarakat dipandang dari segi perilaku dirinya sehari-hari. Setelah dia dikenal banyak orang, orang akan menilai dirinya baik atau buruk terhadap hubungan bermasyarakat. Maka dari itu dalam masyarakat dibuatlah norma dan aturan dalam kehidupan bersama dengan tujuan untuk menjalin harmonisasi sesama makhluk sosial.

Etika sendiri dapat dipahami sebagai ilmu terhadap baik dan buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Pengertian lain mengenai etika menyatakan bahwa etika merupakan sistematika prinsip-prinsip dalam berperilaku dengan benar (Handoyo, 2016:1). Menurut Wibawa yang mengutip dari Barthen menyatakan bahwa etika dapat melebur ke dalam norma kemudian menjadi sebuah moralitas dapat diketahui melalui tiga pendekatan yaitu: etika deskriptif, etika normatif, dan etika metaetika.

Pertama, etika dekriptif bisa dikatakan sebagai visualisasi perilaku dalam moral seperti adat-istiadat, kebiasaan, dan penilaian baik buruk yang melingkupi personal dalam kebudayaan.

Kedua, etika ini membicarakan mengenai penilaian perilaku seseorang yang mana perilaku tersebut menumbuhkan prinsip-prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan diaktualisasikan dalam bentuk perilaku.

Ketiga, metaetika tercipta dengan tujuan untuk menunjukkan daya tinggi akan ucapan dalam moralitas yang dipakai dalam bidang moral (Wibawa, 2013:11-12).

Lebih lanjut, Wibawa menukil dari Magnis-Suseno yang berpendapat bahwa prinsip dasar dari moral ada tiga, yaitu: prinsip sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip hormat kepada diri sendiri. Prinsip baik secara umum adalah membawa seseorang bersikap baik untuk tidak merugikan orang lain. Adapun prinsip keadilan dimaknai memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang sesuai proporsinya masing-masing. Sedangkan prinsip yang terakhir bertujuan menegaskan perlunya perlakuan yang bernilai bagi diri sendiri (Wibawa, 2013:6)

Prinsip moral yang tertuang dalam tafsir Faid al-Rahman, dapat kita lihat sebagai berikut:

1. Prinsip baik

Prinsip pertama dapat kita telisik dari ayat-ayat yang terkandung di dalamnya mengenai prinsip baik, semisal QS. al-Baqarah (2): 112:

“Meka sapa-sapa wonge ilkhas ing dalem ngamale muhung lillah lan ikhlas ing dalem agamane muhung lillah sartane pasrah jasmaniyah lan ruhaniyah marang prentahe Allah lan ing hale sartane tauhid iku tetep keduwe wong iku ganjarane ngamale. Setuhune kelakuane wong kang munkir lan wong kang Maghrur Jahilun iku padha nyana kelawan selamete awake. Lan ora ana wong kang selamet lan oleh derajat kang luhur ungguh ing Allah namung kabeh padha sasar ora bener kabeh padha fasik dholim (al-Samarani, Jilid I, 1903:161).

Berbuat baik perlu dilandasi dengan sikap rela dan kepasrahan baik pasrah jasmaniah maupun pasrah secara ruhaniah. Orang yang mempunyai prinsip kebaikan dalam hidupnya akan senantiasa berusaha berbuat kebaikan baik aspek dhohir maupun batin, muhasabah diri, dan menaati perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Sebaliknya, orang yang tidak patuh akan perintah Allah dinamakan dengan ingkar. Sholeh Darat menjelaskan, orang yang ingkar dan Maghrur Jahilun merasa dirinya akan selamat dan akan  mendapatkan derajat yang mulia. Padahal sesungguhnya mereka termasuk dalam golongan orang yang fasik dan dzalim.

2. Prinsip keadilan

Aspek mengenai keadilan dapat kita lihat QS. Ali Imran (3): 135 pada penafsiran di bawah ini:

Lan podo netepi sio kabeh kelawan adil lan malih ono siro kan iku podo nekseni siro kabeh kelawan haq ing hale ingkang ikhlas lan ojo ono g}ard} sewiji-wiji senajan iku madhorot. Lan nekseni siro kabeh kelawan yento iqra>r siro kelawan haq lan ojo ngumpetaken siro ing hak dumeh bakal madhoroti awak Iro. Ojo podo madu senajan ono topo syahadah (kesaksian) iku madhoroti ing atase bapak biyung iro lan kurobat iro, neksenono siro kelawan haq lan kelawan adil lamun ono masyhu>d ‘alaih iku sugi utowo fekir meko sekseni kelawan adil. Mengko ojo manut siro kabeh ing hawa niro ing dalem olehe siro nekseni kelawan yento demen siro ing goni krono ridone lan demene g}ani maring siro, utowo krono alas siro ing fekir. Mulane den cegah siro arang anut bahwa niro krono supoyo ngaja nyimpang lan memo saking haq.

Ayat memberi intruksi untuk berbuat adil tanpa memandang latar belakang seseorang, semua harus diperlakukan secara adil dengan memenuhi hak-hak mereka. Perbuatan adil tersebut baik kepada diri sendiri, kedua orang tua, maupun kerabat. Sholeh Darat menganggap ayat ini masih ada kaitannya dengan masalah nusyuz antara suami istri.

Maksud adil di sini seseorang memutuskan sesuatu bukan atas dasar dari hawa nafsunya dan ditunaikan sesuai dengan proporsinya tanpa memandang suku, agama, kedudukan, dan sebagainya yang dapat menghalangi penyampaian keadilan serta keadilan yang merata tanpa adanya sistem tebang pilih orang.

3. Prinsip menghormati diri sendiri

Prinsip dari moralitas yang ketiga tertulis dalam QS. Ali Imran (3): 30 sebagai berikut:

“Setuhune menungsa kabeh besuk ing dalem dina kiamat iku padha nemu walѐse ngamale ingkang wus den lakoni ing dalem dina kelawan ngamal hasanah ing hale den temu ora kurang lan ora luwih lan hale bagus bungahaken ing atine wong iku kabeh. Utawi menungsa kabeh nalikane ningali ngamale ingkang ala den tingali hale wus hadir kelawan rupa ingkang ala ingkang nusahaken ing atine wong iku kabeh, meka ngarep-ngarep lan ngalap-ngalap muga-muga diadohaken antarane ingsung lan antarane ngamal ingsun (al-Samarani, Jilid II, 1903:56).

Penuturan di atas memberikan kesan tentang amal perbuatan yang telah diperbuat seseorang. Jika dia berbuat baik, dia akan mendapatkan balasan baik. Sedangkan orang yang berperilaku sebailknya (berbuat jelek), dia akan menerima sesuai apa yang dia kerjakan di dunia. Sesengguhnya orang yang berbuat baik, dia telah membuat dirinya mencapai kebahagian baik di dunia maupun di akhirat. Adapun orang yang yang mengerjakan amal tidak baik, pada hakikatnya dia telah menabung kesusahan dan kesedihan di akhirat kelak.

Sholeh Darat memberikan penjelasan lebih seperti yang tercantum dalam makna isyari ayat di atas:

“Setuhune dina kiamat iku dinane padha nemu menungsa kabeh ing saben-saben ngamal kan wus den lakoni den temu hale wus hadir labehete iku ngamal ana ing dalem dzate menungsane lan hadir dhohir ing dalem sifate menungsa ingkang wus padha ngelakoni (al-Samarani, Jilid II, 1903:57).

Penjelasan ini mengingatkan pada kita bahwa setiap amal yang dikerjakan baik berupa kebajikan maupun kejelakan, semua itu akan membekas dan mengendap dalam diri manusia itu sendiri. Setelah mengendap, terciptalah dalam bentuk perilaku manusia yang telah lama menyatu dengan sifat manusia.

Sholeh Darat memberikan keterangan lain menambahkan bahwa orang yang berbuat baik kelak di akhirat dia mempunyai wajah yang bersinar sebab mendapatkan nur ilahi, sedangkan orang yang jahat wajahnya tidak memancarkan sinar sebaliknya wajahnya akan dipenuhi dengan gelap gulita.

 Post details 

 Leave a comment 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


 © 2019 - Pusat Studi Al-Qur'an dan Hadis