Translasi Makna Jihad dalam Kitab Al-Ibris

Translasi Makna Jihad dalam Kitab al-Ibris

Oleh Rina Dewi Umayah

“(Mulo sira sabaro) Siro ojo nuruti wong kafir, lan wong-wong iku perangono sarono Alquran (wacakno ayat-ayat kang nyebut larangan-larangan lan ancaman-ancaman), (perangono) sarono perang kang gedhe(ateges sarono hujjah-hujjah).”

Begitulah kiranya bunyi al-Ibris yang menggema di bumi nusantara. Mufassir Nusantara memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan makna ayat Alquran. Inilah salah satu alasan yang melatarbelakangi penulisan kitab al-Ibris. Dalam menterjemahkan dan menafsirkan Alquran, al-Ibriz memilih bahasa Jawa sebagai bahasa alternatifnya. Selain banyak dikuasai sebagian besar penduduk nusantara, bahasa Jawa dinilai mudah dalam memahami makna ayat Alquran.

Fenomena ini merupakan salah satu contoh bagian dari Tren Studi Quran di Indonesia. Translasi atau yang biasa dipahami dengan penterjemahan Alquran dari bahasa Arab ke dalam bahasa-bahasa yang ada di dunia termasuk bahasa Indonesia (Saputro 2011, hlm 11) bukanlah sutu perkara yang mudah. Ketika makna Alquran ditranslasikan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lokal, maka rawan mengalami penyalahan dalam pembacaan teks.

Agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca teks, pemilihan diksi yang tepat sangat diperlukan dalam melakukan translasi. Dimana diksi-diksi bahasa lokal harus memiliki makna yang berdekatan dengan diksi Alquran. Hal ini dilakukan karena kata-kata lokal terkadang tidak memiliki padanan kata yang sama dengan Alquran.

Translasi Makna Jihad

KBBI mengartikan kata jihad dengan beberapa arti; 1. Usaha dengan melakukan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; 2. Upaya dalam membela agama dengan mengorbankan harta dan nyawa; 3. Perang suci dalam rangka melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam (bahasa 2008, hlm 637). Sedangkan Lisanul Arab mengartikan kata Jihad dengan الجهد (perkara sungguh-sungguh yang dimiliki manusia dari sakit ataupun perintah yang sulit), المشقة(usaha, jerih payah, kesukaran), الطاقة(kemampuan).

Ayat tentang Jihad yang pertama kali turun adalah QS. Al-Furqon (25) : 52 :

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرً

Artinya : Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Alquran) dengan (semangat) perjuangan yang besar.

Kata Jihad diterjemahkan Kemenag RI dengan diksi berjuang sedangkan pada tafsir al-Ibriz kata ini menggunakan diksi perang. Didalam KBBI berjuang lebih cocok dimaknai dengan berusaha sekuat tenaga. Sedangkan perang merupakan pertempuran besar bersenjata antara dua pasukan. Pada ayat ini translasi terhadap makna jihad ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa memiliki diksi yang kurang tepat.

Jika dipahami secara tekstual kedua makna diatas memiliki perbedaan dengan makna Jihad secara historisitas. Secara kontekstual turunnya ayat, jihad yang dimaksud pada ayat ini bermakna berdakwah. Hal itu karena umat Islam periode Makkah masih belum memiliki sesuatu yang harus dipertahankan dengan perang. Sehingga pemaknaan jihad menggunakan pedang pada ayat ini dirasa kurang tepat.

Sebaliknya, seruan Jihad dengan Alquran pada periode Makkah mengindikasikan bahwa sejak awal periode Islam perintah mengenai peningkatan kualitas diri dengan Alquran ditanamkan kuat-kuat. Sehingga Alquran menjadi senjata yang ampuh bagi orang Islam dalam menghadapi masyarakat Quraisy.

Sekali lagi, pemilihan diksi yang dilakukan oleh KH Bisri Mustofa didalam kitab al-Ibriz tidak mewakili makna kata Alquran ditinjau dari segi historisnya. Hal ini juga sering kali dilakukan oleh para mufassir nusantara ketika melakukan translasi ayat Alquran ke dalam bahasa lokal. Meski demikian, adakalanya pemilihan diksi bisa dilakukan terpisah dari konteks historisnya namun juga adakalanya bisa mengaitkan keduanya.20190729_081515

 Post details 

Categories: Kajian Tafsir
Tags: No Tags
Published on: July 29, 2019

 Leave a comment 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


 © 2019 - Pusat Studi Al-Qur'an dan Hadis